Disclaimer : Semua cast milik Tuhan YME dan orang tua mereka, tapi ff ini asli dari pemikiran saya
Warning : Typo(s), EYD yang berantakan, gaje, judul yang gak nyambung dengan isinya, bad summary, dan BL! BxB
.
.
.
.
.
.
.
.
*Mingyu POV*
Bingung, itulah yang terjadi padaku saat ini. Entah apa harus aku lakukan pada nomor ponsel milik Wonwoo sunbae ini. Aku berjalan kesana-kemari memikirkan apa yang harus aku lakukan. Setelah dipikir-pikir apa aku perlu memberinya pesan dengan alih-alih salah kirim? Ah, aku tidak mau, itu terlalu mainstream bagiku. Apa aku langsung memberinya pesan dan mengatakan bahwa aku menyukainya? Tapi jelas ini juga tidak mungkin, tentu saja bahkan mengobrol bersamanya secara langsung saja belum pernah. Aku menggelengkan kepalaku, cukup pusing untuk memikirkannya.
"Arghhh... lalu aku harus bagaimana?!"erangku di tengah malam yang sunyi kala itu. Namun, tak lama setelah itu terdengar suara ketukan pintu kamarku dan terbuka yang menampilkan Jun hyung-sepupuku melengok ke dalam kamarku.
"Kau sedang apa? Jangan berisik kau mengganggu tidurku"ujar Jun hyung yang memang terlihat mengantuk sekali.
"Hhehe.. mianhae telah mengganggumu hyung"ujarku sebenarnya di dalam hatiku juga merasa bersalah karena telah mengganggunya.
"Baiklah, setelah ini kau harus tidur sudah larut malam. Jangan sampai bangun terlambat"ujarnya
"Ne hyung" setelah itu pintu pun ditutup kembali oleh Jun hyung. Aku hanya menghela napas frustasi. Namun, tiba-tiba sebuah ide melintas begitu saja di kepalaku.
'Bagaimana jika aku langsung menelponnya saja? Ah, tapi bagaimana jika di mengangkatnya? Aku harus bilang apa?'batinku berperang
Aku berpikir sejenak, namun aku lebih memutuskan untuk menelponnya saja, masa bodoh jika dia mengangkatnya itu bisa dipikirkan nanti. Kemudian, aku menghubunginya. Lama teleponnya tidak diangkat aku jadi sedikit ragu jika dia sudah tidur, hampir saja teleponnya akan aku putuskan, namun...
'Yoboseoyo?' Suara itu mengagetkanku dan seketika membuatku panik
'Ya tuhan apa yang harus aku katakan?'batinku. Aku berpikir cukup lama dan tak lama setelah itu orang diseberang sana kembali bersuara
'Yoboseoyo?'
Dengan menguatkan mentalku akupun memutuskan untuk menjawabnya dan berkenalan
"Ak-tut-tut-tut ..." naasnya telepon malah ditutup dan itu membuatku semakin frustasi.
"Aish... Kim Mingyu pabbo! Pabbo! Kenapa kau tidak menjawabnya langsung?!"gumamku kesal pada diriku sendiri dengan mengacak-acak rambutku.
Dengan kesal, aku membaringkan tubuhku di atas ranjang dan tak sengaja melihat jam yang sudah hampir menunjukkan pukul 1. Lalu, aku memutuskan untuk segera tidur dan melupakan kejadian tersebut.
*Mingyu POV END*
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hey Minggu, ireona"ujar Jun dengan menggoncang-goncangkan tubuh Mingyu
"Ngh... beberapa menit lagi hyung"ujar Minggu dengan membalik membelakangi Jun.
"Aishh… anak ini. Hey, kau mau aku tinggal? Hari ini aku akan membawa motor"ujar Jun namun tidak ada respon dari yang dibangunkannya.
"Hey Mingyu, ya sudah kalau kau mau berangkat sendiri"ujar Jun dan akan melangkahkan kakinya.
"Ya ya aku bangun"ujar Minggu sambil bangun dengan mata sedikit tertutup dan berjalan menuju kamar mandi, namun, karena matanya yang belum sepenuhnya terbuka ia malah terantuk pintu kamar mandi yang masih tertutup yang ia kira sudah terbuka.
"Aduh"keluh Mingyu dengan mengusap kepalanya yang sakit.
"Ahaha... makanya kalau mau jalan lihat-lihat"ujar Jun terkekeh, Mingyu hanya mendengus kesal dan masuk ke dalam kamar mandi guna membersihkan tubuhnya. Setelah melihat Mingyu yang sudah menghilang ke dalam kamar mandi, Jun pun melenggang pergi keluar kamar Mingyu dengan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sepupunya itu.
.
.
.
.
.
.
.
"Bagaimana gyu? Semalam kau sudah menghubunginya?"tanya Jun penasaran saat mereka sedang dalam perjalanan menuju ke sekolahan.
"Buruk sekali"jawab Minggu lesu yang membuat Jun mengernyitkan dahinya heran.
"Aku tidak bisa berkata apapun karena aku bingung apa yang harus aku ucapkan"
"Tidak biasanya kau seperti itu. Bukannya kau biasanya memiliki ide-ide yang nyerempet ke jahil?"
"Yak hyung! Aku tidak jahil, tapi... aku juga tidak tau kenapa"
"Hey, kenapa kau tidak mencoba bertemu secara langsung dengannya saja?"
"Lalu, aku harus bagaimana? Mengatakan aku menyukainya? Itu tidak mungkin hyung"
"Ya bukan langsung menyatakannya pabbo, pertama ya kau berkenalan saja dulu, dasar"ujar Jun kesal, Mingyu hanya nyengir kuda
"Oh ya hyung, bagaimana caranya kau mendekati si Minghao itu dan jadian dengannya?"
"Itu sih mudah, karena kami berasal dari negara yang sama jadi kami mudah akrab dan ya begitulah dia juga anak yang polos"ujar Jun yang membuat Mingyu ber o ria.
"Baiklah, sudah sampai. Sudah sana masuk dulu aku mau ke tempat parkiran"
"Ne, duluan ya hyung"ujar Minggu seraya turun dari motor dan setelah itu Jun melajukan motornya menuju tempat parkir. Saat Minggu hendak membalikkan badannya secara tidak sengaja ia menabrak seseorang dan keduanya jatuh terduduk.
"Aduh"keluh orang yang ditabrak oleh Mingyu saat bokongnya mendarat dengan sempurna di tanah.
"Hey! Kalau jalan lihat-lihat dong, sakit tau! "Ujarnya kesal dengan mengerucutkan bibirnya dan mengusap-usap bokongnya yang sakit seraya berdiri. Namun, yang dimarahi bukannya merespon malah dia membeku di tempatnya.
"Hey! Kau baik-baik saja? Kenapa malah diam? Tidak mungkin kan kau gegar otak?"tanyanya bertubi-tubi
"A-ah ya a-aku t-ti-tidak apa-apa, ya aku tidak apa-apa"ujar Mingyu. Persetan kenapa ia menjadi gugup seperti ini?
"Apa kau perlu bantuan?"tanyanya seraya mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Mingyu.
"Mmm... kamsahamnida"ujar Mingyu seraya membungkuk.
"Ah iya sama-sama, kalau begitu aku pergi dulu"ujarnya dengan melambaikan tangannya ke arah Mingyu. Dengan kaku, Mingyu membalas lambaiannya.
'Bukankah dia...
.
.
"Pagi Wonwoo"sapa Soonyoung
"Hm"jawab Wonwoo singkat yang membuat Jihoon mengernyitkan dahinya.
"Apa kau baik-baik saja Wonwoo-ya?"tanya Jihoon heran saat Wonwoo sudah duduk di bangkunya.
"Tidak ada, aku baik-baik saja "jawab Wonwoo sambil menelungkupkan kepalanya ke meja.
"Kau yakin? Kau terlihat lesu hari ini "ujar Soonyoung.
"Iya, aku tidak apa-apa. Aku hanya kurang tidur dan secara tidak sengaja seorang hoobae menabrakku tadi"
"Kau pasti mengerjakan tugas dari Kim saem kan?"tebak Jihoon
"Tentu saja, aku tidak ingin mati karena hanya tidak mengerjakan tugasnya bisa-bisa aku menjadi kelinci percobaan pada bahan-bahan kimianya itu"ujar Wonwoo seraya mendongakkan kepalanya.
"Lalu, kenapa kemarin kau tidak sekalian saja ke perpustakaan bersamaku? Kita kan bisa mengerjakannya bersama-sama"ujar Jihoon sedikit kesal karena permintaannya untuk ke perpustakaan bersama ditolak oleh Wonwoo.
"Hei memangnya Jihoonie kemarin mengerjakan-aww sakit Jihoonie"keluh Soonyoung sambil memegang kakinya yang diinjak oleh Jihoon. Bukannya meminta maaf ia malah menjulurkan lidahnya. Wonwoo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat duo sahabatnya itu.
"Tapi, kau benar-benar tidak apa-apa kan? Jika kau sakit aku bisa mengantarnya"ujar Soonyoung yang disetujui oleh Jihoon dengan anggukan.
"Sungguh aku tidak apa-apa, kenapa kalian begitu khawatir padaku sih?"tanya Wonwoo yang begitu risih ditanya apa dirinya baik-baik saja.
"Hei, masih untung kita khawatir padamu daripada kami cuek padamu"ujar Jihoon bersungut-sungut. Soonyoung yang melihatnya hanya tersenyum sedangkan Wonwoo malah nyengir.
"Iya iya deh, aku minta maaf. Tapi kan aku juga risih Jihoon ditanyai seperti itu terus"ujar Wonwoo wajah tanpa dosa.
"Mmm... Jihoonie Wonwoo-ah, sepertinya aku harus ke kelas dulu beberapa menit lagi bel"
"Oh baiklah sampai bertemu nanti Soonyoungie"ujar Jihoon tersenyum.
"Cha aku pergi dulu"
Setelah melihat Soonyoung pergi, membuat Wonwoo teringat tentang apa yang ingin dia tanyakan pada Jihoon.
"Jihoon-ah, apa semalam kau menelponku?"tanya Wonwoo sedikit ragu
"Tidak, aku tidak menelpon semalam ponselku mati. Memangnya ada apa Wonwoo-ya?"tanya Jihoon penasaran.
"Begini semalamkan...
FLASHBACK
"Huah... soalnya membuatku mengantuk"ujar Wonwoo dengan sesekali menguap.
"Aku harus mengerjakannya dengan cepat supaya aku bisa segera tidur"
Saat Wonwoo sedang menyelesaikan tugasnya yang kurang dari satu nomor, tiba-tiba ponselnya berbunyi dengan nyaring yang membuat Wonwoo berjengit kaget.
'Huh! Bikin kaget saja'
Dengan melangkah sedikit terpaksa Wonwoo berjalan menuju ranjangnya mengambil ponselnya yang tergeletak di sana dan dilihatnya yang menunjukkan nomor tidak dikenal. Wonwoo mengernyitkan dahinya namun, ia tidak peduli dan mengangkatnya.
"Yoboseoyo?"
Wonwoo jadi bingung pasalnya tidak ada jawaban dari orang yang menelponnya, kemudian Wonwoo melihat ponselnya lagi siapa tau ternyata teleponnya diputuskan namun, ternyata belum, lalu Wonwoo bertanya kembali.
"Yoboseoyo?"
Karena tidak dijawab-jawab, membuat Wonwoo kesal karena merasa dipermainkan dan akhirnya memutuskan sambungannya.
"Mengganggu saja"ujar Wonwoo kesal dan melempar ponselnya kembali ke atas ranjangnya yang untungnya tidak jatuh ke lantai. Dengan sedikit menghentakkan kakinya Wonwoo berjalan menuju meja belajarnya untuk melanjutkan tugas yang sempat tertunda tadi.
Flashback end
.
"Seperti itu Jihoon-ah, apakah kau tau siapa orangnya mungkin?"tanya Wonwoo diakhir ceritanya.
"Mm... tidak tau"ujar Jihoon
"Ya sudahlah jika kau tidak tau"ujar Wonwoo pasrah.
Tepat saat Wonwoo menyelesaikan kalimatnya bel berbunyi menandakan pelajaran akan dimulai dan saem mereka sudah datang. Namun, konsentrasi Wonwoo tidak pada pelajaran pikirannya melayang tentang siapa yang mengganggu belajarnya semalam. Hingga berakhir dengan Jihoon yang selalu mengingatkan Wonwoo supaya dia tetap fokus pada pelajaran yang mereka terima supaya dia tidak terkena hukuman dari saem mereka karena Wonwoo yang sering melamun dalam pelajarannya. Beruntung Wonwoo memiliki sahabat yang perhatian padanya seperti Jihoon.
.
"Ya ampun Wonwoo apa yang kau pikirkan sih? Kau membuatku sebal tau, selama pelajaran kau sering melamun"ujar Jihoon cemberut melihat Wonwoo yang kini melamun lagi saat mereka sedang berada di kantin.
"Oh, benarkah? Biasanya kau akan serius jika itu mengenai pelajaran sama seperti Jihoonie"ujar Soonyoung dengan membawa nampan berisi makanannya dan duduk di sebelah Jihoon.
"Aku masih memikirkan orang itu Jihoon"
"Orang itu? Siapa?"tanya Soonyoung bingung
"Jihoon, nanti kau yang ceritakan pada Soonyoung"
"Loh? Kok aku?"ujar Jihoon tidak terima.
"Aku sedang tidak mood Jihoon"ujar Wonwoo sedikit memelas pada Jihoon.
"Baiklah"ujar Jihoon pasrah
"Kau punya hutang untuk bercerita padaku Jihoonie"ujar Soonyoung senang
"Iya iya"ujar Jihoon malas.
"Oh ya, memang seberepa pentingnya orang itu sampai kau jadi melamun?"tanya Soonyoung penasaran.
"Hey! Itu penting bagiku, bagaimana jika orang itu gangster? Pembunuh? Kan bisa berbahaya "ujar Wonwoo bersungut-sungut
"Wow wow calm down dong, aku bertanya dengan baik-baik, oke?"ujar Soonyoung. Wonwoo hanya memutar matanya jengah.
"Oh ya, Wonwoo apa kau masih menyimpan nomor itu? Siapa tau aku tau siapa pemilik nomor itu"ujar Jihoon menghentikan pertengkaran yang mungkin akan dimulai oleh keduanya. Mendengar itu Wonwoo langsung menyetujuinya, dengan segera Wonwoo mengambil ponselnya yang ada di dalam sakunya membukanya sebentar dan memberikannya pada Jihoon. Dengan senang hati Jihoon menerimanya dan mulai mencari nomor tersebut.
"Kau yakin memiliki nomor itu Jihoonie?"tanya Soonyoung.
"Mm.. entahlah aku juga sedikit ragu"ujar Jihoon saat Jihoon menoleh menghadap ke arah Soonyoung. Jihoon terkejut karena wajah mereka sangat dekat bahkan hidung mereka saja hampir menempel. Jihoon tidak tau jika Soonyoung mendekat ia kira Soonyoung sedang menyantap makanannya. Seringai terlihat jelas di wajah Soonyoung yang membuat wajah Jihoon seketika merah padam. Wonwoo yang melihatnya memutar matanya malas.
"Kalian tidak akan melakukannya di sini, bukan?"tanya Wonwoo jengah.
"Tentu saja tidak"sangkal Jihoon dengan menyingkirkan wajahnya menghadap ponselnya kembali malu. Soonyoung terkekeh melihat wajah Jihoon yang memerah
"Bagaimana Jihoon-ah?"
"Nihil, dikontakku tidak ada yang memiliki nomor itu"ujar Jihoon seraya mengembalikkan ponsel milik Wonwoo.
"Sudahlah, lebih baik kita masuk kelas"ujar Wonwoo sambil menghela napas.
"Eh, tapi makananmu belum habis"ujar Soonyoung menghentikan Wonwoo yang akan melangkahkan kakinya.
"Aku sedang tidak nafsu makan, kalau mau kau saja yang makan"ujar Wonwoo malas.
"Enak saja! Lalu jika aku memakannya kalian akan meninggalkanku begitu?"tanya Soonyoung
"Tepat sekali"ujar Jihoon kali ini seraya berdiri dari tempat duduknya.
"Teganya Jihoonie"ujar Soonyoung dengan wajah yang dibuat-buat sedih. Jihoon hanya memutar matanya.
"Sudah cepat mau aku tinggal?"tanya Wonwoo yang sudah jauh berada di depan sana.
"Iya iya sebentar"ujar Soonyoung seraya berdiri dan menggenggam tangan Jihoon.
"Eh?! Kenapa pegang tanganku? Lepaskan!"ujar Jihoon bingung.
"Sudahlah Jihoonie ayo cepat "ujar Soonyoung dan menarik Jihoon keluar kantin. Jihoon hanya menundukkan kepalanya malu.
.
.
Bel pulang pun berbunyi dan semua siswa berhamburan keluar kelas mereka. Tak terkecuali dengan Wonwoo dan Jihoon.
"Jihoon-ah, dimana Soonyoungmu itu?" tanya Wonwoo celingukan saat mereka sudah keluar dari kelas dan tidak mendapati Soonyoung di dalam kelasnya.
"Entahlah biasanya dia sudah keluar" ujar Jihoon dengan mengedikkan bahunya.
"Jihoonie! Wonwoo!" panggil Soonyoung dari koridor yang membuat Jihoon dan Wonwoo menoleh.
"Maaf membuat kalian menunggu, aku habis dari ruang guru tadi. Sebentar ya aku akan mengemas buku-bukuku dulu" ujar Soonyoung seraya masuk ke kelasnya.
"Ya sudah sana cepetan, jangan kelamaan" ujar Jihoon ketus
"Ya ya" ujar Soonyoung.
Setelah Soonyoung selesai mengemasi barangnya, mereka bertiga pun pulang bersama karena kebetulan salah satu dari mereka sedang tidak ada kesibukan. Kemudian mereka duduk di bangku halte menunggu kedatangan bus sambil berbincang-bincang dengan sesekali bersenda gurau. Saat bus sudah datang mereka kemudian segera masuk, ternyata tempat duduk yang kosong hanya dua dan salah satunya sudah duduki oleh Wonwoo.
"Jihoonie, kau saja yang duduk. Biar aku saja yang berdiri" ujar Soonyoung lembut
"Kau yakin?" tanya Jihoon ragu yang dibalas anggukan oleh Soonyoung. Tak beberapa lama bis pun melaju, hampir lebih dari setengah perjalanan Soonyoung mengeluh kakinya pegal.
"Jihoonie, kakiku pegal" keluh Soonyoung memelas
"Lalu?"
"Bagaimana jika aku duduk di bangkumu lalu kau duduk di atasku, bagaimana?" tanya Soonyoung dengan menaik-turunkan alisnya.
"Tidak mau! Bukannya kau sendiri kan yang bilang kau saja yang berdiri" tolak Jihoon yang membuat Soonyoung menekuk wajahnya. Wonwoo terkekeh melihat kelakuan keduanya.
Setelah itu, bis berhenti dan mereka pun turun dari bis dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Ketiganya berbincang-bincang kembali tentang guru mereka yang galak,pelajaran yang membingungkan, dan bahkan pr yang menumpuk. Namun, salah satu dari mereka-Jihoon lebih banyak diam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Jihoonie, kau saja yang duduk. Biar aku saja yang berdiri" ujar Soonyoung lembut
"Kau yakin?" tanya Jihoon ragu yang dibalas anggukan oleh Soonyoung. Tak beberapa lama bis pun melaju, hampir lebih dari setengah perjalanan Soonyoung mengeluh kakinya pegal.
"Jihoonie, kakiku pegal" keluh Soonyoung memelas
"Lalu?"
"Bagaimana jika aku duduk di bangkumu lalu kau duduk di atasku, bagaimana?" tanya Soonyoung dengan menaik-turunkan alisnya.
"Tidak mau! Bukannya kau sendiri kan yang bilang kau saja yang berdiri" tolak Jihoon yang membuat Soonyoung menekuk wajahnya. Wonwoo terkekeh melihat kelakuan keduanya.
Setelah itu, bis berhenti dan mereka pun turun dari bis dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Ketiganya berbincang-bincang kembali tentang guru mereka yang galak,pelajaran yang membingungkan, dan bahkan pr yang menumpuk. Namun, salah satu dari mereka-Jihoon lebih banyak diam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Jihoon-ah, ada apa?" tanya Wonwoo yang menyadari Jihoon yang dari tadi diam.
"Sepertinya aku ingat" ujar Jihoon yang membuat Soonyoung dan Wonwoo mengernyitkan dahinya.
"Ingat apa, Jihoonie?" tanya Soonyoung penasaran.
"Aku ingat saat di perpustakaan waktu itu ada seseorang yang meminta nomor ponsel milik Wonwoo dan aku memberikannya"ujar Jihoon yang masih mengingat-ingat kejadian itu.
"Jangan-jangan dia yang menelponmu, Wonwoo" ujar Soonyoung menyimpulkan.
"Tapi, kenapa kau memberikannya Jihoon?"tanya Wonwoo sedikit kesal.
"Entahlah, aku juga tidak tau mengapa aku memberikannya dengan mudahnya" ujar Jihoon seraya nyengir, Wonwoo hanya memutar matanya jengah.
"Ngomong-ngomong, apa kau ingat wajahnya Jihoon? Atau mungkin namanya?" tanya Wonwoo tidak sabaran karena saking penasarannya.
"Ah, aku lupa dengan wajahnya, tapi jika namanya... Siapa ya? Waktu itu aku pernah menanyakannya" ujar Jihoon dengan berpikir keras. Wonwoo menunggu jawaban dari Jihoon dengan berharap.
"Kim…kim…kim siapa ya?"
"Kim?" ujar Soonyoung dan Wonwoo berbarengan.
"Kau yakin tidak salah dengar?" ujar Wonwoo ragu.
"Iya Kim, marganya Kim tapi aku lupa dengan namanya. Coba aku ingat-ingat lagi"ujar Jihoon seraya berpikir keras mengingat-ingat namanya.
"Kim?" gumam Wonwoo dengan melamun
"Sudahlah, jangan dipikirkan terus itu bisa membuatmu pusing. Mungkin siapa tau saat kau sampai di rumah kau bisa mengingatnya"tutur Soonyoung pada Jihoon.
"Hey Jeon Wonwoo apa kau tidak mau pulang? Kita sudah sampai di depan rumahmu"ujar Soonyoung membuyarkan lamunan Wonwoo.
"Oh iya hehe. Baiklah aku masuk dulu, kalian mau mampir sebentar?" tawar Wonwoo.
"Tidak terima kasih ,kami pergi dulu" ujar Jihoon seraya tersenyum manis yang hanya akan dia tunjukkan pada orang-orang terdekatnya termasuk Wonwoo dan Soonyoung.
"Baiklah, hati-hati di jalan. Hey Soonyoung! Jaga baik-baik Jihoon-ah untukku" teriak Wonwoo dengan melambaikan tangannya.
"Tidak disuruh pun aku akan melakukannya" ujar Soonyoung yang membuat Jihoon bersemu dengan merangkul pundak Jihoon. Wonwoo terkekeh mendengarnya dan masuk ke dalam rumahnya.
.
.
.
Setelah makan malam bersama Jeonghan dan selesai mengerjakan tugasnya, kini Wonwoo sedang berbaring di atas ranjangnya berusaha untuk tidur. Namun, ia teringat kembali percakapannya dengan Jihoon dan Soonyoung tadi saat mereka sedang berjalan pulang.
"Kim? Siapa ya? Apa itu Taehyung? Namjoon hyung? Atau Seokjin hyung?" gumam Wonwoo seraya mengingat-ingat nama-nama teman terdekatnya.
"Ah sudahlah, sebaiknya aku segera tidur saja" ujar Wonwoo dan tidur terlelap.
.
.
.
.
.
.
TBC
Balasan review ~~
17MissCarat : Terima kasih atas pemberian semangatnya^^, maaf karena lanjutnya lama banget T^T dan meanienya audah ada qalaupun segitu doangXD Mianhae ya... Ku harap chapter ini gak mengecewakan:)
Bsion : ini udah aku usahain buat panjang, gimana? Maaf sebelumnya karena aku gak bisa buat yang panjang. Mungkin Jihoonnya lagi khilaf tiba-tiba jadi baik gitu:v Oh ya,btw ff kaka(boleh?) yang miskin kapan apdet/lah?
Whirlwinds Meanie : terima kasih udah mau review ^^, maaf jika apdetnya kelamaan
KimJi17Carat : oh... Jun itu sebenernya cuma temen sekelasnya Soonyoung doang, maaf memang aku gak begitu menjelaskan, lah emang gak kasian sama Wonwoonya?XD, kalo mau manggil kaka sih itu terserah kamu:) dan terima kasih udah nyemangatin aku^^, maaf ya apdetnya kelamaan T^T
monwii : elah ribet amat-_-, tapi gpp sih yanh penting udah mau review aku udah seneng:v, maaf atas keterlambatan(banget) ffnya :D
hanbinnuna : iya, ini udah dilanjut maaf apdetnya lama pake banget, makasih udah ngasih semangat^^
Park Mitsuki : iya gpp yang penting aku udah nepatin janji kan?:v orang ketiga ya? Aku belum mikirin itu banget mungkin bisa, elah mentang-mentang biasnya mas Joshua jadi pengennya Joshua gitu?lol mm... Siapa ya?/kenavirusnyajihoon:v. Taulah kamu siapa orang biasa ketemu:v, banyak cuap cuapnya juga gpp, karena aku seneng bacanya kok:v. Duh, kok jadi banyak ya? Udah deh, kamu juga semangat baca dan reviewnya yaXD
(1) Hai/lambai-lambai akhirnya aku selesai UN dan aku kembali lagiXD/jogetmanse.
(2) Maaf banget karena apdet terlalu lama, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku/bow berkali-kali. Pasti banyak yang lupa sama ff ini:v. Maaf jika jadinya gaje T^T atau kurang memuaskan
(3) Sebenernya aku mau apdet setelah SVT comeback tapi apalah daya, tiba-tiba otak ngadet dan berakhir melas buat ngelanjutin lagi-_-. Aku minta maaaaaf banget. Dan gomawo atas semua reader yang udah mau review dan baca ff abal-abal ini dan yang udah nyemangatin aku, aku jadi terharu T^T/peluksatu2
(4) sebenernya sih boleh aja manggil aku senpai atau kaka, tapi entah mengapa disisi lain aki merasa udah tua/?/atau emang iya?/entahlah. Dan aku baru mau masuk SMA/SMK, do'akan aku ya semoga bisa masuk ke SMA yang aku inginkan dan mendapat nilai UN yang memuaskan/kalo ada yang mauXD
DON'T BE SILENT READER! AND DON'T BE PLAGIATOR!
At lastly, review please?
