"Mama! Mama! Mama!" tiga kali panggilan, itu artinya Kyuhyun berada di suatu keadaan yang ia anggap 'terdesak'. Heechul mendesah letih ketika mendengar suara cempreng Kyuhyun—si bungsu keluarga Kim yang selalu suka membuat keributan itu melangkahkan kaki mungilnya menuruni anak tangga demi anak tangga rumahnya. Dia sedikit bersungut karena anak tangganya sangat landai, dia harus menghabiskan dua langkah untuk satu anak tangga.

Heechul menegakkan tubuhnya yang sedang bersandar mesra pada sang suami—Kim Leeteuk. Laki laki yang menjadi kepala rumah tangga Kim sekaligus lelaki idaman Heechul itu hanya tersenyum maklum. Fokusnya yang tadi mengarah pada TV beralih pada si bungsu Kim yang membawa tas sekolahnya. Tas sekolah barunya.

Besok adalah hari pertama si kembar memasuki taman kanak kanak. Tentu saja itu hal yang sangat membuat Kyuhyun gugup. Hingga ia takut dirinya meninggalkan buku, pensil atau penghapusnya. Kyuhyun itu seseorang yang suka kesempurnaan. Dia akan berusaha memberikan kesan baik untuk gurunya nanti—kata ibunya anak baik dan pintar itu yang berkesan baik pada guru.

"Ada apa Kyuhyun?" Tanya Heechul. Dia melirik jam dinding di ruangan TV, mendesah karena bocah nakal bernama Kyuhyun itu belum tidur meski jarum pendek sudah menunjuk ke angka sepuluh. Kyuhyun harus tidur dan tak mengganggu adegan bermesraannya dengan sang suami.

Si bocah berpipi gembil dengan rambut acak acakan kecoklatannya serta piyama biru di tubuhnya tampak merengut. "Dimana buku mewarnaiku? Apakah aku harus membawanya?" lihatkan, dia mempertanyakan sesuatu yang tidak penting. Kalau dia mau tinggal bawa, jika tidak mau, ya tidak usah.

Heechul mungkin tipe yang kadang tidak sabaran dalam mendidik anak tapi Leeteuk adalah tipe ayah pengertian. Dia selalu menjaga keadaan mental anaknya agar siap menjadi anak yang cerdas di era globalisasi. "Kau boleh membawanya, Kyuhyun." Ucap Leeteuk dengan senyum di wajahnya. "Tapi kalau tasmu menjadi berat, kau boleh meninggalkannya di rumah, gurumu akan memberikan buku bergambar lain"

Kyuhyun mengangguk mengerti. Wajahnya terlihat serius menanggapi perkataan ayahnya. Dia buru buru menyimpan buku bergambarnya di dalam tas, dia rasa tasnya masih ringan ringan saja. Tas yang bergambar tokoh kartun kesukaannya. Gambar Shiro—anjing milik Shinosuke pada serial Shinchan. Tokoh ibu dalam serial itu mengingatkannya pada Heechul. Rambut Heechul yang hitam ikal sebahu dan sifatnya yang mengerikan menjadi panutan Kyuhyun untuk menyamakan ibunya itu dengan tokoh Misae.

"Kalau begitu tidurlah, Kyuhyun!" perintah Heechul. "Ini sudah jam sepuluh malam!" katanya yang membuat Kyuhyun buru buru menaiki tangga dan masuk ke kamarnya bersama Kibum. Kyuhyun belum berani tidur sendiri, jadinya dia menumpang kamar Kibum dulu. Kalau Kibum sih, dia sepertinya tidak sadar jika ada yang tidur di sampingnya.

Membuka pintu kamar perlahan. Kyuhyun takut membangunkan Kibum yang sepertinya sudah sangat lelap. Lagipula bocah itu—tidak pernah tidak lelap. Dia tampak tidur dengan pose berantakan, memeluk selimut dan bantal gulingnya yang sudah jatuh ke lantai. Kyuhyun memungut bantal guling itu, meletakkannya diantara tubuhnya dan Kibum. Kyuhyun merabahkan tubuhnya, ibunya menyiapkan selimut yang lain, Kyuhyun sudah sering protes tentang Kibum yang punya kebiasaan memeluk selimut ketika tidur, dia memakai selimut kebanggaannya.

Dia menatap langit langit kamarnya. Ada gambar bintang bintang di sana, dan jika lampu dimatikan gambar bintang bintang itu akan menyala. Kyuhyun takut gelap, Kibum suka tidur dalam gelap—kenyataannya Kibum bisa tidur dalam kondisi apapun kecuali sangat panas. Karena Kyuhyun sedang menumpang di kamar Kibum, dia meminta ayahnya untuk menempel stiker, siapa tahu Kibum mengigau dan mematikan lampu ketika dia tidur di samping Kibum.

Tapi jika lampu menyala, bintang bintang itu berubah fungsi.

Menjadi sesuatu yang harus di hitung Kyuhyun agar ia terlelap tidur.

"Satu, dua, tiga, empat—" dia terus menghitung hingga dia yakin matanya tak bisa terpejam. Ia menatap yang lain, tentu saja ia akan menemukan wajah Kibum yang tengah terlelap. Kakaknya lelap sekali, dia jadi iri. Kyuhyun memajukan mulutnya, banyak orang bilang orang kembar itu mirip dalam segala hal. Wajah mereka tidak mirip, dan Kibum sepertinya menghianatinya. Kibum tidak merasakan hatinya yang sedang gundah memikirkan sekolah mereka besok.

PLOOOKK

Tamparan dari tangan mungil Kyuhyun sukses mendarat di wajah Kibum. Membuahkan gumaman dan Kibum terusik dari tidurnya.

Dan—

Kyuhyun kembali mengganggu Kibum. Dia menusuk pipi Kibum dan bocah itu akhirnya membuka matanya. Dia menatap Kyuhyun sayu—ogah ogahan membuka matanya. "Hm?" dia bergumam. Suaranya bahkan terdengar serak. Sepertinya otaknya belum terbangun sepenuhnya, tapi Kyuhyun memaksanya. Kibum tidak ingin mendapatkan jambakan.

"Aku tidak bisa tidur" Kibum hanya menatap Kyuhyun yang tengah mengadu. Kibum membenarkan posisi tidurnya, memiringkan tidurnya ke arah Kyuhyun. Meraih tangan Kyuhyun dengan jemari kecilnya, menggenggam tangan itu erat.

"Kibum, kalau seandainya aku tidak memiliki teman di sekolah, kau harus menemaniku terus ya!" Kibum pikir harusnya dia yang khawatir tentang tak memiliki teman. Dia bahkan malas untuk bergerak apalagi untuk bermain di taman kanak kanak nanti.

"Aku khawatir, ada yang tidak kubawa untuk besok" Kibum mendadak teringat bahwa ia lupa dimana ia meletakkan tasnya. Tapi itu akan ia urus besok, ibunya akan mengingatkan kalau tasnya tertinggal. Soal isi tas, ia percaya Kyuhyun. Kyuhyun akan membawa pensil, penghapus dan buku berlebih untuknya.

Kyuhyun menyingkirkan bantal guling diantara mereka. Dia merapatkan tubuhnya pada Kibum. Aroma tubuh Kibum itu membuatnya mengantuk. Menurutnya, Kibum itu bisa menularkan penyakit tidurnya pada siapapun yang memeluknya ketika tidur. Kyuhyun memutuskan, tidak ada yang boleh memeluk sang kakak, mereka nanti terkena virus penyakit mengantuk Kibum. Cukup Kyuhyun saja. Hanya Kyuhyun saja yang boleh tertular penyakit mengantuk itu.

Kibum sudah terlelap. Dia tak terlalu terganggu dengan kebiasaan Kyuhyun yang memeluknya ketika susah tidur.

Tak lama setelahnya. Kyuhyun pun terlelap.

Lullaby

.

Ika. Zordick

.

Hari pertama, Cita cita dan AC

.

"Good morning!" sapa Leeteuk melihat Kyuhyun membantu Kibum untuk menuruni satu per satu anak tangga. Ini pemandangan yang biasa di lihat. Kyuhyun mungil dan gembil yang selalu membantu kakaknya yang selalu malas membuka mata. Kibum lesu yang selalu bergantung pada orang lain tentang hidupnya.

"Pagi, Papa!" sahut Kyuhyun dengan senyuman cerah di bibirnya.

"Ohayoo" dan ini sapaan Kibum. Leeteuk rasa dia dan Heechul hanya mengajari kedua anak mereka berbahasa Inggris bukan bahasa Jepang. Dia menyeret langkahnya setelah sampai di anak tangga terdasar. Dia menujur meja makan, Kyuhyun sudah berlari terlebih dahulu dan mengambil tempat.

"Dari mana kau belajar kata itu, Kibum?" Tanya Leeteuk. Dia menatap Heechul dan istrinya itu menggeleng tanda ia juga tak tahu dari mana Kibum belajar.

Kibum memanjat ke atas kursi, mendudukkan dirinya. Leeteuk punya kebiasaan menjauhkan kopinya dari Kibum. Dia tak ingin kejadian Kibum mabuk kopi terulang lagi. Kibum menatap kosong meja makan, dia mencari susunya. Dia belum menemukannya dan ia menatap ayahnya. Tatapan sarat meminta penjelasan, dimana susunya.

"Kenapa kau menatapku begitu? Aku tidak mencuri susu milikmu" protes Leeteuk. Jika Kyuhyun suka sekali berdebat dengan Heechul maka Leeteuk sepertinya memiliki lawan imbang. Kibum dengan tatapan malasnya yang entah kenapa membuat Leeteuk selalu kesal.

Tertawa kecil. Heechul menyodorkan segelas susu pada Kibum. Kibum merespon baik, mengambil susu itu dan meminumnya. "Kibum, dari mana kau belajar kata itu?" Leeteuk kembali bertanya setelah Kibum meletakkan gelas susunya, sisi kanan wajahnya sudah ia rebahkan di meja makan.

"Dari film kartun papa" Kyuhyun mewakili Kibum menjawab. Leeteuk menatap takjub pada Kibum. Bocah itu sepertinya memiliki kelebihan juga di tengah kekurangajarannya dan sifat pemalasnya.

"Kosa kata apa lagi yang kalian pelajari?" Tanya Leeteuk antusias.

"Oyasumi" ujar Kyuhyun lantai mengangkat garpunya. Heechul bertepuk tangan, turut bangga dengan anak anaknya yang cerdas. "Artinya selamat tidur"

"Darimana kau tahu artinya itu, Kyuhyun?" Tanya Heechul mendudukkan dirinya, turut bergabung untuk sarapan bersama.

"Karena mereka mengucapkannya ketika hendak tidur" Kyuhyun nyengir. "Kemudian itadakimasu" Kyuhyun melahap telur mata sapinya.

Heechul dan Leeteuk berpandangan. Senyuman lebar terpatri di wajah mereka. Tangan Heechul terulur mengelus rambut Kyuhyun. "Lalu ada kata apa lagi?" Tanya Leeteuk lebih antusias.

"Aku tidak tahu lagi" ucap Kyuhyun. Dia akan mengulang lagi film animasi yang ia tonton di DVD kemarin.

"Bagaimana denganmu, Kibum?" Tanya Leeteuk.

Kibum membangkitkan tubuhnya. Menatap malas sang ayah. "Urusai" Leeteuk tak tahu kata itu, itu bukan kata umum.

"Artinya apa?" Tanya Leeteuk penasaran.

"Berisik" jawab Kibum enteng yang membuat Leeteuk melotot pada si sulung Kim.

Leeteuk kembali mengumpat dalam hatinya. Anaknya yang satu itu, belajar cepat soal kata kata umpatan untuknya. "Mama, potongkan ini untukku!" ucap Kibum menunjuk telur mata sapinya.

Ika. Zordick

Leeteuk menurunkan keduanya di depan kelas mereka, di pindah tangankan pada guru wali kelas mereka tanpa di temani di dalam kelas. Kyuhyun terlihat antusias dan Kibum—dia tak bergairah seperti dirinya yang seharusnya. Kyuhyun menatap seisi kelas, banyak anak seusianya dan Kibum di sana. Kyuhyun jadi tidak sabar untuk bermain nanti.

"Kibum, ayo duduk berdekatan" bagaimanapun Kyuhyun hanya kenal Kibum, berkenalan dengan anak lain itu membuatnya malu. Dia masih belum berani. Kibum membuka matanya, melihat sekelilingnya, dia tak suka tempat ramai. Dia melihat ke dinding, dan menemukan AC di sana.

Dia dan Kyuhyun harus duduk berdekatan. Meja di kelas mereka semuanya melingkar. Jadi Kyuhyun bisa duduk di kiri atau kanannya—yang penting dia di bawah AC. Tapi masalahnya—

Kursi di bawah AC itu kosong. Hanya saja di samping kiri atau kanannya sudah berisi. Kibum memandang kursi itu cukup lama. Dia mendadak galau. Dia kemudian menatap wajah Kyuhyun yang sedang melihat sekeliling mereka dengan senyuman antusiasnya. Dia kembali menatap kursi kosong di bawah AC. Kembali menatap Kyuhyun.

Kesenangannya.

Atau—

Adiknya?

Jika tidak di bawah AC, Kibum tidak yakin hidupnya akan bahagia. Tapi, jika ia berpisah dari Kyuhyun, Kyuhyun akan membencinya kemudian memecatnya menjadi kakak. Lalu Kyuhyun akan cari kakak baru. Kibum tidak mau!

Jadi yang mana?

Kibum mau kursi.

Kibum juga mau Kyuhyun.

"Kibum kita duduk di sana saja!" Kyuhyun menunjuk sebuah meja kosong tanpa ada siapapun yang mengisi keempat kursinya. Tapi tidak ada AC atau jendela. Ketika musim dingin, Kibum mungkin akan merasa hangat tapi jika musim panas, Kibum akan mati kepanasan.

Tidak tidak! Tidak boleh di sana.

"Di sana saja!" Kibum menunjuk bangku pujaan hatinya.

"Tapi sudah ada yang mendudukinya" Kyuhyun menyipitkan matanya pada Kibum. Dia sudah duga Kibum mungkin saja akan menghianatinya lagi demi tempat di dekat ACnya. "Aku tidak mau jika kita terpisah!" itu keputusan mutlaknya.

Percayalah Kibum itu bocah cerdas berusia lima tahun yang tidak biasa!

Dia menarik Kyuhyun, melangkahkan kakinya menuju kursi idamannya. Dia menatap datar pada seorang bocah yang pasti seusia dengannya yang duduk damai sambil celigukan. "Halo" anak itu mencoba mengucapkan salam. Senyumnya lebar hingga menunjukkan gusinya.

Kibum tak berbicara. Dia masih menatap si bocah. Mengusir secara halus—menurutnya. Bocah itu mengkeret takut. Teman barunya itu terlihat mengerikan.

"Pindah!" itu bukan permintaan, dia memerintah bocah itu untuk pindah.

"Kibum! Kenapa kau mengusirnya dari kursinya?" Kyuhyun rasa lebih baik mereka di tempat kosong pilihannya saja. Tapi Kibum masihlah Kibum serakah yang menginginkan kursi di bawah AC dan Kyuhyun dalam satu paket. "Maafkan Kibum!" Kyuhyun anak sopan—dia sudah di ajarkan ayahnya tentang sopan santun, Kibum juga. Tapi Kibum selalu tertidur.

"Pindah!" Kibum menunjuk di kursi lain di meja yang sama. "Kursi itu milik Kyuhyun" Kibum menunjukkan bakat menjadi boss sekarang.

Anak itu sudah menunjukkan tanda tanda menangis. Seluruh tatapan kini mengacu pada Kibum, Kyuhyun dan si bocah. Sepertinya konflik dalam kelas sudah kelihatan di hari pertama. Sang guru menghela nafas, dia menemukan bocah bermasalah. Pasti selalu ada satu di setiap tahun ajaran. Dan kini si bermasalah itu adalah yang mulia Kim Kibum.

"Jika kau menangis kau itu masih kecil" Kibum berbicara lagi, membuat si bocah tak jadi menangis. "Adikku ingin duduk di situ, kau harusnya mengalah, kau kan sudah besar" Kibum mengutip kata kata yang sering di ucapkan oleh ibunya, jika ia dan Kyuhyun berebut es krim.

Tak tahu kenapa, si kecil itu menatap kagum pada Kibum. Kibum terlihat keren dimatanya, dia kakak yang hebat yang melindungi Kyuhyun kecil—padahal tubuh mereka sama kecilnya. Bocah itu bangkit dari kursinya, dia berpindah di kursi yang di tunjuk oleh Kibum. "Silahkan duduk!" dia tersenyum pada Kyuhyun setelah mengelap matanya.

Kibum kemudian duduk di singgasananya. "Na—namaku Hyukjae" si bocah memperkenalkan dirinya. Kyuhyun menjabat tangan Hyukjae, menyebutkan namanya. Hyukjae memandang takut takut pada Kibum, dia ingin kenalan dengan Kibum kalau bisa menjadi teman baiknya atau menjadi adiknya. Kibum itu seperti superman dimatanya dalam versi mungil.

Dan—

BRUUK

Kibum tertidur sebelum sempat Hyukjae bertanya tentang nama.

Ika. Zordick

Perkenalan dimulai, guru di depan kelas menyuruh seluruh siswanya untuk duduk yang tegap. Dia mendapati Kibum yang tertidur bahkan sebelum kelas dimulai. Siswanya yang satu itu sepertinya susah di atur. Setelah sebelumnya Kibum membuat keributan dengan berbuat seenaknya pada anak lain.

Kibum cinta damai.

Motto hidup nomor satu Kibum.

Meski ia masih kecil, dia suka kedamaian. Kedamaian dirinya tentu saja. Tanpa rengekkan Kyuhyun dan tidur dengan sangat bahagia. Dan Kibum tidak suka dengan gurunya.

"Bagaimana jika Kibum saja yang jadi ketua kelas?" sang guru bertanya. Ini salah satu strategi, berdasarkan pengalaman bertahun tahun mengajar sang guru. Siswa yang nakal harus di beri tanggung jawab agar merasa dirinya harus melakukan hal yang benar.

Siswa yang berusia rata rata lima tahun pasti menolak untuk menjadikan diri mereka sebagai ketua kelas, meski di dalam hati mereka sangat menginginkannya. Ketua kelas terdengar hebat. Seperti seorang polisi yang menjaga ketertiban lalu lintas. Jika di tunjuk oleh sang guru, mereka pasti tidak akan menolak.

Kyuhyun melotot tidak percaya.

Ketua kelas?

Dia menggigit bibir bawahnya, dia menatap sang guru. Memberikan kode bahwa ia lebih menginginkan jabatan itu. Kakaknya itu tidak bisa diharapkan soal tanggung jawab. Ketika di suruh ibu mereka saja untuk membeli kecap di mini market sebelah rumah, Kibum hampir menabrak rak dan tertidur di dekat kulkas es krim.

Tapi Kyuhyun sedikit canggung untuk meminta.

Sementara Hyukjae, dia bertambah kagum. Sangat kagum pada sosok kakak impian yang mencoba menegakkan kepalanya. Dia mengintip dari buku yang ditegakkan di depan wajahnya. Dia tak sabar melihat respon Kibum yang akan menerima jabatan itu.

"Kibum, ibu guru memanggilmu" Kyuhyun berdesis. Menepuk paha Kibum yang menimbulkan dengusan tidak suka dari Kibum.

Dia menatap sang guru. Berkedip sesekali. Dia kemudian menguap.

Hening—

Kelakuan Kibum itu, tidak sopan. Tapi dia masih anak anak.

"Kibum, kau jadi ketua kelas, ok?" ulang sang guru, dengan perempatan imajiner di dahinya.

Kibum tampak menerawang. Dia sedang membayangkan melakukan hal hal merepotkan. Menjadi seseorang yang mencolok—Kibum ingin dia tidur dengan bahagia seperti di penitipan. Dia sebenarnya tidak ingin sekolah, dia sedang mengawasi Kyuhyun, menjaga sang adik agar tetap dalam kondisi baik baik saja. Tujuan Kibum sekolah adalah demi Kyuhyun.

Melirik ke arah Hyukjae. Bocah itu buru buru menundukkan wajahnya. Ia takut Kibum. Tapi ia kagum. Kibum rasa anak itu punya dendam dengannya, jadi dia bukan calon ketua kelas yang cocok.

Dia melihat seisi kelas yang menatap ke arahnya, mereka juga tidak Kibum kenal. Mungkin mereka ingin menjebak Kibum agar berlari dan bermain ayunan di luar. Kibum tidak mau, hal tersebut sampai terjadi.

Jadi siapa yang harus ia korbankan untuk memenuhi hasrat tidurnya?

Kibum melirik ke sampingnya, menemukan Kyuhyun yang menggigit bibir bawahnya.

Kibum itu kembaran Kyuhyun. Apa yang Kyuhyun rasakan Kibum tahu dengan baik. Tapi Kyuhyun itu bukan kembaran Kibum—menurut Kyuhyun karena mereka tidak mirip. Kyuhyun tidak tahu apa yang di pikirkan Kibum, tapi Kibum selalu mengantuk. Kibum menyimpulkan, Kyuhyun ingin menjadi ketua kelas. Dan Kibum rasa Kyuhyun pantas di korbankan untuk kebahagiaannya.

"Ku rasa, Kyuhyun lebih cocok." Dan kata kata penuh rasa tak bertanggung jawab seperti orang dewasa yang melimpahkan tuntutan pada orang lain membuat sang guru terdiam. Rasanya ia baru saja tersambar petir. Bertahun tahun pengalaman mengajarnya, dia mendapatkan siswa nakal yang tangguh yang susah di robohkan.

Si guru jadi dilemma.

Kibum memojokkannya. Jika si guru masih ngotot mengharuskan Kibum menjadi ketua kelas, hati siswanya yang lain akan terluka. Kyuhyun menatap sang guru berbinar. "Ba—baiklah, Kyuhyun yang jadi ketua kelas, semua setuju?"

"YAAAAA" teriak semua serempak.

Ika. Zordick

Melangkahkan kakinya menuju ruang tengah, Kibum terlihat lebih bersemangat dalam konteks dirinya setelah menyelesaikan ritual mandinya bersama Kyuhyun. Kembarannya berpipi gembil itu berlari dengan riang, masih dengan handuk yang membelit tubuhnya. Kibum sedang menatapinya pakaiannya yang tersedia di atas sofa. Mempelototinya seolah pakaiannya itu akan terpasang sendiri di tubuhnya.

"MAMAAAAAAA!" bukan Kibum yang berteriak, melainkan Kyuhyun. Mereka belum bisa memakai baju sendiri dengan benar. Mereka butuh bantuan ibu mereka yang dengan setia memasangkan pakaian mereka. Mengurus kedua anak lucunya terkadang membuat Heechul lelah, tapi terkadang ia merasa lelahnya terangkat. Kedua anaknya sangat manis mengobati segala rasa gundah dan letih.

"Hari ini kalian akan belajar memakai pakaian sendiri. Kemari, kalian berdua!" Leeteuk mengeluarkan perintah dengan gaya khas lembut pura pura tegasnya. Ia berdehem agar Kyuhyun mendengarnya, bocah itu masih sibuk mencari ibunya di daerah rumahnya. Kibum sudah berdiri di dekat Leeteuk yang duduk tegak di sofa ruang TV, melihat ke sekeliling rumah, mencoba mencari sosok Kyuhyun yang lari ke sana kemari. "KYUHYUN!" dia mencoba mengeraskan suaranya.

"Papa, aku tidak bisa menemukan mama!" adu Kyuhyun.

Leeteuk bersidekap. Dia menghela nafas kasar. "Mama sedang melakukan operasi sekarang, jadi dia sibuk" Leeteuk harus mengajarkan anaknya bahwa ibu mereka itu memiliki pekerjaan yang mulia dan sudah saatnya anak anaknya dapat mandiri. Mereka sudah masuk ke taman kanak kanak. Itu satu langkah menuju kedewasaan menurut Leeteuk. Meski ia tak rela anaknya menjadi besar.

"Operasi?" Kyuhyun menatap penuh minat pada sang ayah. Matanya berbinar, dia baru saja menemukan kata baru dalam sejarah hidupnya. "Operasi itu apa?"

Leeteuk tampak berpikir. "Membedah, seperti itulah" Leeteuk hanya dapat membayangkan istrinya sedang membedah tubuh orang.

"Membedah itu apa?" dan ia lupa anaknya itu juga tak tahu arti membedah.

Leeteuk melirik ke arah Kibum. Mata Kibum seolah menampakkan kekurangminatan. Kibum dan handuk terlihat sangat lucu. Dia mencoba menahan tawa. "Membedah itu seperti memperbaiki tubuh seseorang agar bisa sehat"

Kyuhyun mengangguk angguk mengerti. Ibunya sedang melakukan pekerjaan besar, memperbaiki tubuh seseorang. "Nah sekarang, bagaimana kalau belajar memakai pakaian sendiri?"

Dan Leeteuk sukses mendapatkan pandangan menusuk yang keji dari Kibum. Kibum suka di pakaikan pakaian, dia jadi bisa merenggangkan tubuhnya. Ibunya selalu menyuruhnya mengangkat tangan atau sejenisnya. "Jangan menatap ayahmu seperti itu, Kim Kibum!" Leeteuk kembali memperingatkan sang anak. Kibum kembali menatapi bajunya.

Kyuhyun cepat mengambil celana piyamanya. Dia tanpa malu melepaskan handuknya. Mencoba memasukkan satu kakinya ke dalam celana, kemudian—

BUGH—

Dia terjatuh.

Dia sulit menjaga keseimbangan ketika memasukkan kakinya sebelah lagi. "Papa! Ini susah!" dia mulai protes.

Leeteuk tertawa. "Kau bisa sambil duduk memasang celanamu, Kyuhyun!" Kyuhyun mencobanya dan dia berhasil. Dia berteriak senang. Dia menatap Kibum, bibirnya menyunggingkan senyuman miring. Seolah berkata "Kau payah"

Kibum membenci itu. Membenci kalau Kyuhyun menatapnya remeh. Dia kan kakaknya, harusnya Kyuhyun belajar banyak darinya. Dan jadilah persaingan kecil kedua Kim yang berujung Leeteuk harus membenarkan kembali kancing piyama mereka.

.

.

Lelah. Leeteuk merasa, memasang kancing baju saja kenapa rasanya susah sekali. Dia menatap si kembar yang sedang duduk berdua di sofa panjang. Kyuhyun terlihat serius menonton TV yang menayangkan acara kartun favoritnya. Sedangkan Kibum tampak merebah dan mengucek ngucek matanya, tapi dia masih focus melihat acara yang sedang di tonton Kyuhyun. Sepertinya ia menyukai film itu juga.

"Kibum, Kyuhyun" Leeteuk—ayah bersosok keibuan—ayahnya melebihi kelembutan sang ibu. "Apa cita cita kalian?"

Kyuhyun dan Kibum langsung melihat ke arah Leeteuk. Mereka mendengar kata kata aneh lagi. "Cita cita? Apa itu?" Tanya Kyuhyun.

Leeteuk kembali berpikir, mencari perwakilan kata yang pas untuk menjawab. "Jika kalian dewasa, kalian ingin jadi apa? Seperti itulah cita cita" membuat keduanya mengangguk serempak dan mulai berpikir. Kyuhyun meletakkan telunjuknya di dahi dan mulai memandang ke langit langit rumah sementara Kibum dahinya mengeriyit. Keduanya berpikir keras.

"Cita cita papa dan mama?" Kibum bertanya. Dia masih kurang jelas dengan pengertian cita cita yang sedang di bicarakan ayahnya.

"Mama ingin menjadi dokter dan dia sekarang melakukan pekerjaan sebagai seorang dokter. Dia mengobati orang sakit"

"Kalau papa?" Kyuhyun benar benar tak tertarik dengan kartunnya lagi. Dia menatap sang ayah.

"Papa ingin punya keluarga yang bahagia, ada Mama, Kibum dan Kyuhyun" Leeteuk bangkit dari single sofanya, mendudukkan dirinya diantara kedua anaknya. Ia mengacak rambut Kyuhyun gemas.

"Kalau begitu, aku ingin memiliki toko es krim yang besar" Kyuhyun membayangkan dia akan bisa makan es krim sebanyak yang ia mau. Leeteuk tertawa melihat wajah mendamba Kyuhyun.

"Sepertinya aku bertanya terlalu cepat" Leeteuk rasa Kibum juga pastilah memikirkan menjadi pemilik toko kasur agar dia bisa tidur sepanjang hari. Kedua anaknya masihlah sangat kecil untuk memikirkan cita cita. Mereka perlu lebih banyak bermain. "Baiklah, ayo kita makan malam"

.

.

Leeteuk menggendong Kibum yang sudah terlelap di pundaknya, tangannya yang bebas menuntun Kyuhyun menuju kamar mereka. Heechul yang baru saja pulang, membantu Leeteuk membuka pintu kamar Kibum, mengambil alih Kibum dari gendongan Leeteuk yang sedang membantu Kyuhyun untuk membenarkan selimutnya.

Leeteuk mengambil alih Kibum dan menidurkannya di sebelah Kyuhyun yang sepertinya sudah memejamkan mata. Sepertinya Kyuhyun kelelahan karena hari pertamanya sekolah.

"Papa" itu suara Kibum. Heechul bahkan sedikit terkejut karena ini kali pertama Kibum terganggu di tidurnya. Leeteuk berjongkok di sisi Kibum, mengelus rambut hitam Kibum.

"Tidurlah lagi, sayang!" ucap Heechul. Leeteuk tersenyum lembut, dia mencium dahi Kibum dan Heechul melakukan hal yang sama pada Kibum. Mereka kemudian melakukan hal yang sama pada Kyuhyun.

Tepat sebelum mereka akan meninggalkan kamar itu, kembali Kibum berbicara. "Aku punya cita cita" katanya, membuat langkah keduanya terhenti. Mereka menatap sang anak yang kini memandang yakin keduanya. "Aku ingin menjadi kakak yang baik untuk Kyuhyun"

Membuat keduanya berpandangan. Heechul tersenyum lebar, Leeteuk terharu mendengar pernyataan sang anak. Anak sulungnya sudah dewasa meski kerjanya hanya tidur.

"Selamat tidur, Kibum" keduanya meninggalkan kamar itu.

Kibum kembali memejamkan matanya. Mencoba mengulang mimpinya tentang dirinya menjadi kakak yang baik untuk Kyuhyun. Di dalam mimpinnya, ia sedang di puji oleh Kyuhyun dan senyuman terukir di bibir Kibum.

TBC

Ini Cuma genre slice of life, usia mereka akan bertambah seiring bertambahnya chapter. Hahahaha jadi jangan heran, kalau beberapa chapter lagi (sepertinya masih lama) keduanya sudah dewasa wakakakaka

Untuk ikemen, jangan harapkan sequel hahahaha xD

Untuk UNNAME, jangan khawatir, dalam proses pengerjaan. Sedang putus di tengah jalan, ka lupa alurnya karena di ajak keluar sama teman.