"Selamat siang!" Kyuhyun berteriak kencang. Dia melangkahkan kaki mungilnya, berjalan setengah berlari dan di sambut dengan senyuman para rekan kerja ibunya dan para pasien di rumah sakit Parker Smith—rumah sakit ternama di ibu kota. Dia membungkukkan tubuhnya, masih dengan tas bergambar kartun favoritnya dan baju kaos yang sama dengan milik kembarannya yang membalut tubuh mungilnya, si bungsu Kim tengah menunjukkan sopan santunnya.
"Manisnya~~" semua orang akan berpendapat untuk yang satu ini. Si bungsu Kim selalu memenangkan hati semua orang. Senyum cerahnya, tawa renyahnya, wajah imutnya dan tubuh mungilnya selalu mendapat sponsor dari berbagai gender dan usia. Kyuhyun mendapatkan banyak hadiah—dia sepertinya bisa membuka toko permen.
Kibum mengikuti langkah Kyuhyun, sesekali menabrak tiang pondasi rumah sakit. Heechul hanya menepuk kepalanya—tak percaya Kibum akan selalu setia menabrak tiang pondasi yang sama setiap berkunjung ke rumah sakit tempatnya bekerja. Kibum memajukan mulutnya, setelah dia membuka matanya untuk sesuatu yang ditabraknya baru saja. Seperti merutuk, tapi tak ada suara yang keluar dari sana. Heechul terkekeh.
Kibum kemudian melihat sekelilingnya. Matanya seperti mata robot yang waspada dan mencoba mencari targetnya. Ke kiri, ke kanan, ke atas kemudian ke bawah. Tak lama kemudian, Kibum sepertinya mendapati targetnya—tentu saja Heechul tahu itu Kyuhyun. Kibum tidak berlari seperti yang di lakukan Kyuhyun atau anak aktif umumnya. Dia akan kembali menyeret langkahnya setelah meyakinkan Kyuhyun baik baik saja.
Heechul rasa ia sangat mengerti tentang sang anak. Kibum itu memiliki kelemahan daya kantuk, kelesuan dan kemalasan tingkat tinggi. Tapi system kerja otaknya akan secara otomatis menjadi bergairah jika ada yang mengganggu sang adik. Mungkin Kibum terlahir di dunia ini untuk mengawal Kyuhyun.
Kibum adalah pengawal Kyuhyun.
Tapi bagi Heechul, Kibum itu seperti paket komplit yang diberikan oleh Tuhan untuk membuat keluarga kecilnya menjadi berwarna. Kyuhyun memang penuh warna tapi Kyuhyun tak punya warna abu abu, putih dan hitam yang dihasilkan oleh Kibum.
"Kibum beri salam pada yang lebih tua, tirulah Kyuhyun!" Apakah pantas menyuruh seorang kakak untuk meniru sang adik? Entahlah, tapi Heechul jelas tahu, ketika Kibum telah memastikan Kyuhyun baik baik saja, dia akan mencari tempat terbaik untuk mulai kegiatan rutinnya—tidur. Kibum yang sudah hendak membelokkan kakinya ke barisan kursi yang terletak tak jauh dari mereka, terpaksa kembali meluruskan langkahnya.
Membungkuk Sembilan puluh derajat. "Selamat siang!" ucap Kibum. Dia menegakkan tubuhnya, menghadap sang ibu dan membuat Heechul mau tak mau harus tersenyum. Kibum sedang meminta izin pada ibunya agar dia diperbolehkan mendapatkan tempat yang baik untuk tidur.
"Tampannya~" dan ini komentar untuk Kibum meski dengan segala tindak tanduk kemalasannya.
"Ke ruang mama saja, bawa Kyuhyun bersamamu!" Heechul tak ingin kegiatan bekerjanya dan para rekannya harus terganggu karena keberadaan dua anaknya. Lebih dari itu, ia juga takut Kibum dan Kyuhyun terkena penyakit dari pasien yang tidak sehat. Mengingat, keduanya sudah seperti asupan vitamin yang selalu di gemari di rumah sakit ini.
Kibum mengangguk, dia menarik tangan Kyuhyun. "Kyuhyun, kata mama kita harus ke ruangannya" ucap Kibum. Dia menggandeng tangan sang adik, berjaga jaga agar dia tak menabrak sesuatu lagi di sepanjang perjalanan.
Lullaby
.
.
Ika. Zordick
Permintaan Maaf dan Kucing
"Kemana ayah kalian?" itu suara dari seorang pria berpenampilan menarik yang menjadi rekan kerja Heechul. Tubuhnya tegap tinggi dan senyumnya menawan. Namanya Siwon—Kyuhyun pernah berkenalan dengannya tapi Kibum lupa lupa ingat, jadi dia selalu memanggil dengan sebutan paman. Kibum menaiki kursi putar empuk ibunya, menempatkan dirinya dengan santai dan mulai menikmati hawa AC yang membuatnya semakin mengantuk.
Kyuhyun memilih duduk di kursi lain di hadapan meja Heechul. "Papa bekerja" ucap Kyuhyun. Dia sedang mengingat ingat perkataan ibunya ketika dia menanyakan pertanyaan yang sama, maka dia mengkopi jawaban Heechul. Siwon mengangguk mengerti.
Siwon jelas tahu pekerjaan Leeteuk, dia selalu mencari tahu. Dia kalah cepat dari pria yang bekerja sebagai PNS tersebut. Dia masih suka Heechul, sangat suka meski wanita itu sudah beranak dua. Dia hanya suka, sadar bahwa jika wanita itu sudah dimiliki oleh orang lain—menghasilkan anak anak yang lucu seperti Kibum dan Kyuhyun.
"Biasanya Papa kalian yang menjemput" Siwon sedang melancarkan aksi PDKT terhadap calon anak anaknya. Dia bahkan suka sekali pada Kibum dan Kyuhyun.
Mengangguk. "Papa sedang sibuk" Kyuhyun tak perlu di ajarkan untuk menjelaskan bahwa ayahnya sedang tak punya waktu menjemputnya. Leeteuk sedang melakukan tugas Negara—itulah yang dikatakan ayahnya ketika ayahnya ditanya olehnya tentang 'apa itu sibuk?'
Siwon manggut manggut. "Bermain dengan paman saja, bagaimana?" tawarnya. Kyuhyun tersenyum lebar. Tentu saja ia senang memperoleh teman untuk bermain—ia melirik membunuh pada Kibum yang sudah terlelap di kursi kerja ibunya. Menikmati masa tidurnya yang bahagia.
"Bukankah paman sedang bekerja?" Siwon mencoba menimbang. Tapi dia kembali tersenyum.
"Tidak tidak, paman tidak sedang ada operasi" Kyuhyun mengerti. Dia kemudian menyambut Siwon. Bermain dengan Siwon adalah harapannya untuk tidak bosan di dalam ruangan itu.
Ika. Zordick
Heechul melirik Kyuhyun yang duduk di kursi samping kemudi, mereka baru saja selesai makan bersama Siwon—rekan kerjanya yang ramah. "Kau senang sekali Kyuhyun" Kyuhyun mengangguk kemudian tersenyum lebar. "Apa Paman Siwon sangat baik?"
"Iya, Ma. Paman Siwon bermain terus dengan Kyuhyun dan memberikan Kyuhyun es krim. Dia juga membersihkan mulutku" Kibum mengerang dari jok belakang mobil. Dia juga senang paman itu menyuapinya dan selalu berbicara untuk mengunyah makanannya. Dia jadi tidak tersedak.
"Dia paman yang baik" kata Kibum. Kyuhyun mengiyakan. "Paman apa tadi namanya?" dan Heechul tak bisa kalau tidak tertawa. Kibum terlalu memaksakan dirinya ingin mengingat ingat nama Siwon di tengah pemujiannya. Siwon pun pasti tak merasa senang jika tahu tentang kenyataan ini.
Ika. Zordick
Hari ini ada yang aneh. Masih pagi yang cerah, masih dengan Kibum yang mengantuk, masih dengan Kyuhyun yang berisik. Si bungsu Kim sedang berlari ke sana kemari, mencoba mencari di mana gerangan keberadaan sepatunya. Sepatunya yang mirip milik Kibum tidak ada di rak sepatu di sebelah sepatu milik Kibum. Aneh sekali.
"MAMAAAAAA" Kyuhyun berteriak. Berlari menghampiri ibunya yang sedang menghidangkan susu, telur mata sapi dengan beberapa potong sosis di atas piring. "Sepatuku mana? Dia menghilang!" kata Kyuhyun.
"Dimana kau meletakkannya?" Leeteuklah yang bertanya pada si anak. Heechul memilih diam, wajahnya keruh dan senyuman serta kemarahan yang ditujukannya pada si bungsu juga menghilang pagi ini.
Ada apa?
Kyuhyun jadi takut kalau alien datang, mengambil sepatunya dan juga menukar ibunya. Dia hampir ingin menangis. Ekspresinya sudah berubah keruh, bibirnya sudah melengkung ke bawah. Kibum sendiri masih betah menatapi gelas susunya. Dia terlalu malas meniup susunya, kalau di pelototi juga dingin sendiri.
"Mama" memang dasarnya Kyuhyun anak manja, dia lebih memilih mengadu pada ibunya. Leeteuk memang selalu membelanya tapi kalau tidak ada teman ribut pagi hari, kan tidak seru. Dia memeluk kaki Heechul. "Mama mama mama" menggoyang goyangkan tubuh kecilnya.
"Jangan nakal Kyuhyun!" Ayahnya kembali memperingatkan dengan senyuman yang bertengger di wajahnya. Tidak ada respon berarti dari Heechul, dia kan ingin di marahi ibunya. Tapi ibunya masih betah dengan diamnya. Ibunya benar benar sedang marah dan Kyuhyun yakin mungkin itu salahnya. Apa dia ngompol lagi di tempat tidur?
"Mama, aku tidak ngompol. Kibum yang ngompol!" kata Kyuhyun. Biar saja Kibum yang dimarahi, asalkan dia tidak. Kibum yang merasa namanya di sebut, menoleh pada Kyuhyun. Dia mencoba mengingat, dia tak pernah ngompol sejak dia tak pakai popok lagi. Kyuhyun yang sering ngompol dan pagi harinya Kibum ikutan bau. Tapi Kibum tak pernah marah, karena Kyuhyun adiknya. Hanya saja kali ini Kibum tak terima kalau dia yang tertuduh mengompol.
"Aku tidak" Kibum membela diri. Pembelaan diri pertamanya seumur hidupnya. Kyuhyun menatap Kibum, matanya sudah melelehkan bulir bening. Heechul masih diam. Heechul pasti benar benar marah.
"KAU JAHAT KIBUM!" dan dia persis melempar Kibum dengan miniatur mobil miliknya. Tidak kena ke arah Kibum. "Aku mau sekolah!" katanya pada Leeteuk. Dia tak mau menunggu Kibum.
"Aku akan mengantar Kyuhyun, bisakah kau mengantar Kibum setelahnya?" Tanya Leeteuk. Tapi Heechul mengambil tas kerjanya, dia menyalip Leeteuk, mengambil kunci mobil dan dia memutuskan untuk mengantar Kyuhyun tanpa berpamitan pada Leeteuk dan Kibum.
Leeteuk mendesah frustasi, dia bahkan menggosok wajahnya tepat ketika suara bantingan pintu depan terdengar menggema. Heechul sudah pergi bersama Kyuhyun, tinggallah dia dengan si sulung. "Kau baik baik saja?" suara Kibum. Leeteuk melirik pada sang anak. "Mama terlihat marah" Kibum cukup peka mengetahui ibunya yang tak seperti biasanya. Tapi ia juga yakin itu bukan salahnya, jadi dia tak mau bertanya atau memancing kemarahan ibunya lebih seperti yang Kyuhyun lakukan.
Ika. Zordick
Melirik ke arah Kibum, kali ini Kibum tidak duduk di jok belakang mobil seperti biasanya. Dia duduk di samping Leeteuk. Melihat ke arah jalanan di luar jendela mobil di sampingnya. "Kau baik baik saja? Biasanya kau tertidur" Leeteuk bingung, anaknya itu biasanya memilih tidur dalam berbagai kesempatan. Kini mata Kibum terbuka, menatap jalanan dan diam. Kibum itu lesu, tapi kali ini lebih lesu hanya saja tak memejamkan mata.
Kibum mendesahkan nafas. Terdengar seperti banyak sekali bebannya—sepertinya dia meniru helaan nafas Leeteuk tadi. "Hidup ini berat, papa" Kibum berbicara persis seperti orang tua. Leeteuk tertawa renyah. Kibum ini sedang menyindir, mengejek atau sedang menceritakan keresahan hidupnya. Kibum itu tahun ini berusia lima tahun mana mungkin memiliki keresahan hidup. "Kyuhyun marah padaku"
"Karena kau tak menerima dia mengatai dirimu mengompol?" Kibum mengangguk. Dia merasa lebih baik dia mengiyakan saja ketika Kyuhyun menuduhnya mengompol. Rasanya Kibum tak bertenaga kalau tak berangkat bersama Kyuhyun. Kenyataannya, dia memiliki banyak tenaga untuk membuka mata karena terlalu resah tentang Kyuhyun yang marah.
"Kau membuat mama marah?" rasanya aneh juga curhat dan bertukar pikiran sama anak berusia belia seperti Kibum. Tapi bukankah Kibum itu anaknya, Leeteuk rasa anak laki laki dan ayahnya memang harus sering berdiskusi tentang masalah hidup. Anak laki laki memang paling bisa mengerti penderitaan ayah. Kyuhyun juga anak laki laki, tapi lebih laki laki Kibum seperitnya. Kyuhyun itu mirip istrinya.
Leeteuk bergumam mengiyakan. "Mamamu marah karena aku pulang telat semalam"
Kibum tersenyum miring, kemudian menghembuskan nafasnya. Matanya bahkan enggan melirik pada Leeteuk. Seolah mengatakan 'dasar kau payah'. "Hei hei, apa apaan gesture tubuhmu itu?" Leeteuk lupa si sulung Kim itu selalu mengoloknya. "Tapi menurutku, lebih baik aku menurutinya saja. Aku takut mamamu kabur dari rumah"
Kibum manggut manggut. Ia setuju. Ibunya itu kekanakan, dia pasti menginap di rumah sakit kalau sedang marah pada papanya. Kemudian Leeteuk akan berkata pada mereka kalau Heechul ada operasi. Kejadian ini jarang terjadi tapi pernah. "Akan lebih gawat kalau dia pergi bersama Kyuhyun" membuat Kibum langsung melotot pada Leeteuk.
"Apa yang harus ku lakukan?" niat sekali bocah ini, pikir Leeteuk. Kyuhyun sedang marah pada Kibum. Heechul sedang marah pada Leeteuk. Kemungkinan yang terjadi pasti ibunya itu membawa Kyuhyun pergi jauh dari keduanya. Kibum mana bisa hidup tanpa Kyuhyun. Nanti yang membantu dia berjalan dan mewakili dia menjawab pertanyaan siapa kalau bukan Kyuhyun.
"Kau harus berbaikan dengan Kyuhyun" ujar Leeteuk seolah hal itu mudah di lakukan. Dia juga bingung bagaimana cara berbaikan dengan Heechul.
Kibum menatap Leeteuk. Matanya seolah mengadili Leeteuk. Coba kalau Leeteuk tak membuat Heechul marah, Kibum takkan mendapat musibah seperti ini. Ini salah ayahnya yang tak becus. "Kenapa kau menatapku seperti itu, kau kan juga salah karena tak menerima tuduhan Kyuhyun"
Benar juga.
Kibum mencoba berpikir, tangannya bersidekap di depan dada, memasang pose berpikir keras dengan memajamkan matanya. "Awas otakmu meledak" kata Leeteuk. Sedikit gemas dengan sikap Kibum yang lebih lucu dari biasanya. Si bocah sulung Kim itu biasanya akan memilih tidur dari pada berpikir.
Ika. Zordick
"Pagi Kibum!" itu Hyukjae—bocah yang ngefans pada Kibum. Dia bahkan selalu menggambar orang orangan—yang seperti benang kusut dan berkata bahwa itu adalah Kibum. Kibum hanya melirik, dia berjalan sempoyongan, energinya habis karena berpikir di sepanjang perjalanan. Dia mendudukkan dirinya di tempatnya, mencoba mencari keberadaan Kyuhyun.
Kembarannya itu terlihat sekali sedang menjauhinya. Dia bahkan berkumpul dengan Changmin—bocah periang yang membuat kelas mereka terbagi menjadi dua kubu. Kubu anak baik yang di pimpin oleh Changmin dan kubu anak nakal yang di pimpin oleh Kibum. Kibum sendiri tak pernah tahu prihal perkubuan.
Yang jelas satu yang Kibum tahu.
Dia tak suka Changmin. Changmin itu suka merebut adiknya. Changmin mungkin ingin menjadikan Kyuhyun sebagai kembarannya. Kibum tak terima.
"Kibum, Kyuhyun bilang kau jahat padanya" ini Ryeowook. Anak sok tahu yang suka memberikan informasi berlebihan dan selalu berada di pihak Kibum. Menurutnya, dia itu tangan kanan Kibum. Dia akan mengatakan yang ia tahu untuk Kibum. Kibum paling percaya padanya.
Kenyataannya—
Kibum bahkan tak ingat siapa bocah kecil dengan surai seperti mangkok yang kini berdiri di sampingnya dengan senyuman imut. "Dia bilang apa?" Kibum perlu tahu apa yang Kyuhyun mau darinya. Kalau Kyuhyun mau Kibum mengakui bahwa ia mengompol, akan Kibum lakukan demi Kyuhyun.
"Dia tak berkata apapun. Hanya mengatakan kau jahat dan tak ingin menjadi adikmu lagi. Dia mau bersama Changmin saja"
Kibum tersulut emosi. Siapa Changmin hingga ingin bersama adiknya.
Kibum bangkit dari tempat duduknya. Kaki mungilnya melangkah, menghampiri Kyuhyun dan Changmin yang sedang tertawa tawa. Dia jadi semakin marah. "Kyuhyun, ayo duduk di sampingku!" kata Kibum. Nadanya datar, tidak pakai intonasi, wajahnya juga terkesan menyeramkan.
Kyuhyun menggembungkan pipinya. Menolehkan wajahnya ke arah lain. "Tidak mau!" katanya. "Aku mau bersama Changmin"
Hening—
Kyuhyun kini kembali tertawa tawa bersama Changmin. Keberadaan Kibum menghilang, dia seperti tak pernah ada. Apa sebenarnya Changmin yang kembaran Kyuhyun? Seperti di film film drama yang di tonton ibunya setelah matahari tenggelam. Kibum sakit hati.
Kibum mengambil penghapus dari antek antek Changmin—kenyataannya Kibum bahkan tak tahu siapa antek anteknya. Dia melempar penghapus ke kepala Changmin. "Aduh!" Changmin mengadu.
"KIBUM, APA YANG KAU LAKUKAN?" teriak Kyuhyun. Dia mengelus kepala Changmin. Membuat Kibum semakin marah saja.
Dan—
Kibum menjitak kepala Changmin. Changmin tak bisa diam saja, dia membalas.
Berakhir dengan perkelahian.
Ika. Zordick
"Kau tahu apa salahmu, Kibum?" Heechul berkacak pinggang. Dia sedang melakukan prosesi memarahi Kibum di rumah mereka. Dia menyuruh Kibum berdiri menatapnya. Kibum diam saja. Sedikit tak menyangka, Kibum yang malas bisa berkelahi juga. Dia kira akan mendapat laporan kenakalan dari Kyuhyun karena anaknya yang satu itu tak bisa diam.
Kibum tak menjawab. Dia menunduk, tentu saja takut pada tatapan ibunya. Dia jelas tahu kalau memukul orang itu perbuatan tercela. Ayah dan ibunya sudah sering menjelaskan hal itu tapi Kibum masih melakukannya.
Demi Kyuhyun.
Changmin mengambil Kyuhyun makanya Kibum kilaf memukul Changmin.
"Kibum!" Heechul menaikkan nada bicara. Kibum tersentak, dia tak pernah dimarahi—jelas saja karena dia tak pernah nakal dan selalu mengalah. Dia sedikit kaget.
Dia melihat wajah ibunya. Wajah ibunya masih cantik tapi matanya melotot seperti menakuti Kibum. "Kibum!" ibunya memanggil lagi dengan intonasi yang lebih tinggi.
Bahu Kibum bergetar dan—
Bocah kecil itu menangis. Pipinya yang berwarna putih lembut itu merona kemerahan sampai ke telinga, matanya mulai mengeluarkan cairan bening. Kibum menggigit bibir bawahnya, agar isakkan tak terdengar dari bibirnya. Dia kan seorang kakak, kakak itu tak boleh menangis. Tapi dia sudah menangis, berhenti juga dia tak tahu caranya.
"Kibum~" Heechul jadi ikutan bingung. Dia sering menghadapi Kyuhyun yang menangis—dengan alas an tak jelas. Tapi Kibum tak pernah menangis dan kini menangis karena suaranya. Heechul jadi merasa bersalah.
"Maafkan aku, mama!" Kibum berbicara suara isakkannya terdengar keras di sela suara yang menggumamkan kata maaf. "Kibum salah" dia mengakui kesalahannya.
Heechul tak tega. Anak sulungnya itu pasti punya alasan berkelahi tapi berkelahi tetap saja tindakan salah. "Kibum memukul Changmin, Kyuhyun membelanya. Kibum tak suka" Kibum menyebutkan namanya dalam setiap kalimat. Hal itu cukup membuktikan dia sangat menyesal. "Kibum salah" Heechul memeluk bocah kecil itu. Menggendongnya dalam rengkuhannya.
"Maafkan mama juga, mama tak sengaja membentakmu" Heechul menepuk nepuk bahu Kibum.
Ika. Zordick
Leeteuk pulang sebelum makan malam. Menatap pada Kibum yang masih terisak isak sambil menatapi isi piringnya. Ada apa dengan bocah kecil itu? Biasanya Kyuhyun yang menangis. Meski tak membentak atau melakukan suatu hal anarkis seperti Kyuhyun. Kibum sepertinya menangis cukup lama.
"A—" Leeteuk ingin bertanya pada Heechul tapi istrinya itu masih marah padanya. Terbukti dari Heechul yang bahkan tak mau melepaskan jas kerjanya ketika sampai rumah. Leeteuk mendesah maklum saja. Leeteuk menoleh pada Kyuhyun. Anak bungsunya itu sepertinya sedang merajuk, bibirnya maju dan tak mau melihat ke arah Kibum. Kalau dia bertanya, Kyuhyun pasti akan menjerit lalu menangis. Leeteuk rasa dia diam saja.
Hingga malam menjemput. Leeteuk berdecak saat mendapati bantal dan selimut di sofa. Dia jelas tahu maksud Heechul. Tega sekali istrinya itu. Anak anak mereka bahkan belum tidur. "Kibum, Kyuhyun, kalian tidak masuk ke kamar?" Leeteuk tak boleh membiarkan anaknya melihat pertengkaran tak bermanfaat antara orang tua.
"Aku tak mau sekamar dengan Kibum!" Kyuhyun berucap. Dia menaiki tangga dan menghempas pintu kamar. Kibum menatap memelas pada Leeteuk—sangat memelas. Leeteuk rasanya ingin tertawa kemudian mengejek anaknya dan berkata 'kita senasib'. Tapi ada yang salah, bukankah kamar yang sedang di tempati Kyuhyun itu kamar Kibum.
"Kau tidur di kamar Kyuhyun saja" kata Leeteuk. Kibum mengangguk. Dia kemudian melangkahkan kakinya naik ke lantai dua. Tapi diam diam dia mengintip apa yang di lakukan oleh ayahnya. Dia butuh referensi untuk membuat Kyuhyun tak marah lagi padanya.
Leeteuk beranjak mengambil tas kantornya, mengambil sebuah kotak. Dia mengetuk pintu kamarnya dan Heechul. Berkata lembut. "Sayang, buka pintunya. Ada yang mau aku bicarakan!" berkali kali mengetuk dan berakhir Heechul keluar dari sana.
Leeteuk memberikan sebuah kotak seperti kado pada Heechul. "Maafkan aku sayang, aku tak sengaja tak mengabari kau ketika lembur. Aku mencari uang juga demi dirimu dan anak anak kita. Jangan marah lagi ya!" suara Leeteuk terdengar mendayu. Mencoba merayu.
Heechul bergeming. Dia mengambil kado itu, menemukan sebuah kartu di dalamnya. Itu kartu kredit. "Belanjalah sesukamu!" itu lampu hijau untuk menghambur hamburkan uang sang suami. "Lagi pula aku mencari uang untukmu" katanya ketika Heechul menatapnya dengan berbinar.
Leeteuk kemudian memeluk Heechul. "Maafkan aku ya"
Heechul mengangguk malu malu. Leeteuk mengecup pipi Heechul dan kemudian mereka masuk ke dalam kamar. Kibum menerawang. Kenapa ayahnya tak pernah mengatakan ada cara bagus seperti itu untuk membuat Kyuhyun kembali padanya.
Ika. Zordick
Baru saja datang. Kibum lagi lagi berbeda angkutan dengan sang kembaran. Kyuhyun masih marah padanya, tak ingin duduk di meja yang sama dengan Kibum dan tak ingin diantar dengan mobil yang sama dengan Kibum. Jadilah, Kyuhyun yang berangkat terlebih dahulu.
Kibum berjalan sempoyongan. Dia butuh tidur, jam tidurnya banyak berkurang karena Kyuhyun dan ia tak bisa tidur kalau tak ada Kyuhyun. Anak kelasnya dan beberapa kelas lain berkumpul di halaman sekolah, mengelilingi sebuah pohon.
Mengeriyit sebentar. Ah, dia tak peduli. Tapi ketika matanya melihat diantara koloni itu ada Kyuhyun, Kibum melangkah mendekat.
"Ada apa?"
"Ada anak kucing di atas itu, Kibum. Dia ketakutan dan tak bisa turun" informan Kibum—Ryeowook berbicara. Hyukjae sebenarnya ingin menjelaskan juga—hitung hitung kesempatan berbicara pada sang idola.
"Kasihan sekali" ini suara Kyuhyun meski semua bocah di sana berbicara tentang hal yang sama. Otak Kibum yang memang cerdas namun jarang beroperasi itu memiliki sebuah ide. Dia menghampiri Kyuhyun.
"Apa kau ingin kucing kecil itu?" tanyanya. Kyuhyun tentu saja mengangguk. Dia sejenak lupa kalau dia marah pada Kibum karena terlalu khawatir dengan kucingnya.
"Kucing itu milik Kyuhyun" ucap Kibum. Inilah alasan kenapa dia di nobatkan sebagai boss di kalangan anak nakal di kelas mereka. Dia berbicara seolah semuanya perintah. Seluruh kelas bahkan anak kelas lain mengangguk menyetujuinya.
Kibum mengeluarkan sebuah kursi dari kelas. Meletakkannya di bawah pohon. Dia naik di atas. Ah belum sampai. Dia masih terlalu pendek. Dia melirik pada Hyukjae, Ryeowook dan Sungmin—teman mereka bergigi kelinci dan bertenaga besar. Dia pernah menggendong anak lain. "Bantu aku angkat meja!" titah Kibum. Ketiganya mengangguk dan membawa meja bundar besar dari kelas mereka. Meletakkannya di bawah pohon. Guru mereka hanya melihat, mau tak mau dia mengakui bahwa Kibum memiliki jiwa kepemimpinan dan anak itu sungguh pintar.
Kibum meletakkan kursi di atasnya. Dia kemudian mulai memanjat ke atas. Anak anak lain menatap khawatir padanya. Kibum juga anak pemberani.
Demi Kyuhyun!
Dia itu seorang kakak, dia harus mendapatkan kucing itu agar Kyuhyun memaafkannya.
Kibum dapat meraih kucing itu, dia mengangkatnya. Menggendongnya dalam dekapannya. Tapi keseimbangannya goyah. Si guru langsung berlari untuk menyelamatkan Kibum.
Namun—
BRUUUKK
Si kecil yang menjadi pahlawan di mata teman temannya itu jatuh. Kibum tak mengaduh apalagi menangis. Sepertinya bentakan Heechul lebih menyakitkan daripada jatuh dari ketinggian. Lutut Kibum berdarah, sikunya juga, tapi dia memeluk si anak kucing hingga kucingnya tak terluka. Seluruh kelas bersorak padanya.
Kibum mencoba berdiri. Dia berjalan terpincang, kakinya perih. Dia mengulurkan kucingnya pada Kyuhyun. "Untukmu, jangan marah lagi padaku. Aku minta maaf" Bukan Kibum yang menangis tapi Kyuhyun. Dia menangis sangat keras berteriak bahwa Kibum terluka dan berdarah. Tapi ia menerima kucing itu.
Pasukan Kibum bertambah hari ini.
Ika. Zordick
Leeteuk menatap Heechul yang sedang mengobati luka Kibum. Istrinnya itu terlihat sexy ketika sedang mengobati seseorang. Karena itulah Leeteuk jatuh cinta pada sang dokter.
"Dia berkelahi lagi?" Tanya Leeteuk. Kali ini dia yang akan menasihati Kibum, jika hal itu terulang.
Heechul menggeleng. Senyumannya terlihat lebar, seperti bangga akan suatu hal. "Kibum menyelamatkan kucing dan semuanya berkata dia sangat hebat. Kibum sangat keren" katanya menjelaskan tentang perkataan guru ketika ia menjemput si kembar.
"Wah, kau sangat hebat Kibum!" Leeteuk mengacak rambut Kibum. Kibum hanya mengangguk.
"JANGAN LAKUKAN ITU LAGI!" teriak Kyuhyun. Masih dengan anak kucing di tangannya. Dia menurunkan anak kucing itu. Menghampiri Kibum. "Jangan terluka lagi Kibum!" dia kembali terisak. Memeluk Kibum erat tapi berhati hati agar tak mengenai luka Kibum.
Kibum diam saja. "Aku minta maaf, jangan marah lagi!" itulah kata kata yang diucapkan Kibum ketika Kyuhyun menangis meraung.
"Aku tidak marah, tapi jangan luka!" kata Kyuhyun.
Kibum mengangguk. Dia membalas memeluk Kyuhyun kemudian mengecup pipi sang adik. "Ayo ke kamar!"
Loading…
Heechul berasa de javu dengan adegan ini. Dia menatap horror pada Leeteuk. Leeteuk balas menatap sang istri. Kibum tak melihat sampai mereka di dalam kamar kan?
Anak itu pasti mengkopi yang di lakukan Leeteuk sebelumnya. Tangan kedua bocah kembar itu saling bertaut. Tapi Kyuhyun melepas dan berbalik ketika ia melupakan kucingnya. "Aku melupakan kucing!" Dia menggendong kucingnya dan kembali mengenggam tangan Kibum sambil tersenyum.
Manis sekali.
"HATCHIIM" Leeteuk bersin.
Heechul yang tadi merasa horror dengan Kibum kini menatap Leeteuk sama horornya. "Mereka tidak akan memelihara kucing itu kan?" Tanya Leeteuk.
"Tentu saja mereka akan. Kau bayangkan saja kalau Kibum sampai marah dan Kyuhyun mengamuk karena kau membuang kucing symbol perdamaian mereka"
Hening—
"Heechul" Leeteuk berbicara.
"Aku tahu kau alergi kucing. Aku akan mengambil resep untuk itu"
"Kau tega sekali padaku! Kau menyuruhku meminum obat setiap hari?" Kali ini Leeteuk yang merengek.
TBC
