"BEDEVIL"
Disclaimer : This all Story is MINE.
Summary : Jatuh cinta memang tak selamanya berjalan mulus. Seorang Kim Kibum malah ingin menjadikan orang yang di sukainya membenci dirinya. / boyslove. Yaoi. / Kim Kibum X Cho Kyuhyun.
Warning : Diharapkan makan yang manis-manis sambil baca chapter ini biar feelnya lebih berasa xD . Typos.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya, Kibum memasuki kelasnya dengan wajah bahagia. Cake dari toko Sapphire Blue Cake itu benar-benar ia habiskan sambil membayangkan wajah si pegawai toko itu tentunya.
Tetapi moodnya langsung berubah buruk saat jam pertama di mulai dan ia melihat si pegawai toko kemarin yang ia sukai, kini berada di kelasnya dan memperkenalkan dirinya sebagai guru matematika baru sekaligus sebagai wali kelasnya.
Apa yang akan dikatakan orang itu jika melihat keburukan dirinya setiap hari? Orang yang disukainya itu pasti akan langsung membencinya begitu tahu siapa itu Kim Kibum. Sehingga sebelum Cho Kyuhyun mendengar seperti apa Kim Kibum dari orang lain, akan lebih baik ia memperlihatkan dirinya yang sebenarnya di hadapan orang yang disukainya itu.
"Sonsaengnim, bolehkah aku bertanya?" Kibum mengangkat tangannya ke atas sehingga membuat seluruh siswa di kelas itu mendadak terpacu cepat jantungnya dan di penuhi rasa was-was. Mereka juga takut akan menjadi bulan-bulanan Kibum berikutnya.
"Ya. Silahkan."
"Siswa di barisan nomor dua dari pintu masuk di bagian paling depan, adalah siswa yang sangat pintar di pelajaran ini. Bolehkah kita semua menyerahkan sisanya kepadanya? Lagipula kita akan membayarnya dengan memberikan kenikmatan pada tubuhnya itu. Benarkan chingudeul?"
"..."tak ada satupun yang berani menjawab Kibum. Mereka semua takut.
"Cepat jawab!" Gertak Kibum seraya menggebrak mejanya.
"N-ne. Kau benar Kim Kibum." Jawab mereka satu persatu dengan nada ragu dan takut.
Kyuhyun dengan langkah panjang dan cepatnya menuju ke arah dimana Kibum duduk dan langsung melayangkan tamparannya begitu saja.
"Jaga mulutmu jika tidak ingin semua orang membencimu."
"Ouh. Ini sangat sakit sekali sonsaengnim. Geurae. Silahkan saja Anda membenciku. Haah kurasa sudah lebih dari lima belas menit aku disini. Sampai jumpa lagi sonsaengnim." Jawab Kibum santai atas tamparan Kyuhyun dan melenggang begitu saja keluar kelas.
Diluar kelas, Kibum mengepalkan tangannya dan pergi entah kemana.
"Ini sudah benar. Ya. Beginilah seharusnya. Semua orang harus membenciku. Termasuk orang yang kusukai sekalipun." Yakin Kibum dalam hati meski ia menanggung sendiri akibatnya dengan merasakan hatinya yang tersayat.
.
.
.
"Cho sonsaeng, Anda di panggil oleh kepala sekolah di ruangannya."
"Oh. Begitu. Baiklah. Aku akan segera kesana. Terimakasih Choi sonsaeng."
"Chogi, apa boleh kutemani?"
"Tidak. Terimakasih atas penawarannya Choi sonsaeng." Kyuhyun tersenyum ke arah guru olahraga bernama Choi Siwon. Ia adalah guru pertama yang menyambut kedatangannya dengan baik. Choi Siwon memandang punggung Kyuhyun dengan sendu. Ia sudah mendengar kabar dari beberapa siswa bahwa Kyuhyun telah menampar salah satu siswa yang sangat di jaga di sekolah ini. Kim Kibum. Sudah bisa di pastikan bahwa Kyuhyun akan menerima teguran dari kepala sekolah secara langsung.
"Oh. Silahkan masuk." Jawab suara dari dalam mempersilahkan masuk.
"Apa Anda memanggil saya Kim sonsaengnim?"
"Ya. Silahkan duduk." Kyuhyun menarik kursi di depan meja kepala sekolah dan menyamankan duduknya.
"Sebenarnya saya tidak suka basa-basi, jadi saya akan langsung saja."
"Ye. Algeseumnida."
"Saya mendengar dari beberapa guru bahwa Anda telah menyakiti salah satu siswa kemarin. Apakah itu benar?"
"Ya. Berita itu benar adanya."
"Saya menunggu alasan Anda Cho sonsaeng."
"Namanya Kim Kibum. Ia telah menjatuhkan harga diri seseorang dengan menyakitinya dengan kata-kata. Saya rasa saya pantas memberi hukuman seperti itu padanya."
"Cho sonsaeng, sebelum Anda bekerja disini seharusnya saya memberikan peringatan terlebih dahulu kepada Anda. Bahwa siswa bernama Kim Kibum itu sangat spesial. Anda malah semakin menyakiti hatinya dengan memberikan hukuman seperti itu. Sebaiknya Anda segera meminta maaf padanya."
"Kenapa Anda begitu memberikan posisi khusus seperti itu untuk anak nakal macam dia? Tidak. Keputusan saya sudah benar dengan menghukumnya seperti itu."
"Saya mohon sekali Cho sonsaeng, dia adalah anak yang dididik tanpa seorang Ayah, makanya ia seperti itu. Lagipula ibunya sendiri juga sudah menyerahkan hak didiknya sepenuhnya kepada sekolah ini. Jadi saya rasa Anda mengerti."
"Bagaimana bisa seperti itu? Tidak. Saya tidak akan menuruti apa kata Anda untuk meminta maaf kepada anak nakal macam itu. Sebagai gantinya saya akan mendidiknya dengan cara saya sendiri."
"Cho sonsaeng. Saya mengerti atas simpati Anda. Tetapi apa masalahnya jika hanya meminta maaf dan selesai."
"Masalahnya tidak akan selesai jika hanya meminta maaf. Anak kurang kasih sayang seperti itu akan semakin bertindak semena-mena atas dasar kemauannya sendiri jika tidak di didik dengan sungguh-sungguh. Saya rasa Anda mengerti."
"Baiklah. Saya menyerahkan tanggung jawab itu pada Anda jika Anda tetap bersikeras. Tetapi jika terjadi apa-apa, Anda akan menanggung sendiri akibatnya tanpa melibatkan nama sekolah."
"Bagaimana bisa seperti itu? Itu tidak adil."
"Karena sebelumnya sekolah juga menanggungnya dan itu tidaklah mudah. Disini sudah ada Anda yang menjamin, jadi pihak sekolah akan melepas tanggung jawab itu. Berbeda jika Anda menyerah dalam tiga bulan ini, sekolah akan kembali menerima tanggung jawab itu. Bagaimana? Saya sarankan sebaiknya Anda menyerah saja.
"Tidak. Saya akan memanfaatkan waktu tiga bulan itu untuk merubahnya. Dan saya tidak akan menyerah begitu saja."
"Baiklah. Akan kupegang kata-katamu itu Cho sonsaeng."
"Baiklah. Kalau begitu saya permisi." Kyuhyun menutup kembali pintu ruangan kepala sekolah.
"Kim Kibum. Aku tak akan menyerah padamu little brat." Gumam Kyuhyun dengan sorot keyakinan di matanya.
.
.
.
.
Hari ini, di mulailah hari-hari terberat Cho Kyuhyun sebagai seorang guru. Mungkin dari awal ia pikir menaklukan Kibum itu semudah mengiming-imingi seorang anak kecil dengan permen, ia tak berpikir bahwa akan sesulit ini.
Kibum yang di temuinya hari ini sudah berkali-kali membuatnya naik pitam dengan mulut dan perkataannya yang busuk itu. Tetapi ia mencoba bersabar karena inilah resikonya berani menerima tantangan dari sang kepala sekolah.
Di hari pertamanya saja (setelah menerima tantangan itu), bocah kurang ajar itu sudah berani mencium bibirnya di depan semua orang dan menampilkan smirk menyebalkannya. Harga dirinya sebagai seorang guru telah benar-benar jatuh karena seorang bocah nakal itu.
Entah dengan cara apa Kyuhyun bisa mendudukkan bocah itu bersamanya dan bicara untuk membuat Kibum berubah.
"Baiklah. Jika dalam lima menit kau tak datang ke ruang konseling, Saya tidak akan menganggapmu ada di sekolah ini." Ancam Kyuhyun dan pergi begitu saja dengan perasaan tak yakin. Memangnya Kyuhyun itu siapa? Akankah Kibum termakan oleh ancamannya? Entahlah. Kyuhyun mengecek pergelangan tangannya dimana jam tangan melingkar disana.
Sudah lima menit berlalu. Kyuhyun menghembuskan napasnya lelah. Ancaman ecek-ecek seperti itu tidak akan berpengaruh apa-apa. Pupus sudah harapannya, Kyuhyun beranjak dari duduknya. Ia berniat keluar dari ruangan itu tetapi betapa terkejutnya ia saat mendapati Kibum sudah berada di depan pintu. Kyuhyun tersenyum meski Kibum membuang muka ke arah lain. Kyuhyun membuka pintu lebih lebar untuk mempersilahkan Kibum masuk.
"Kau akhirnya datang juga."
"Aku datang bukan karena kau Cho sonsaeng."
"Araseo. Saya sudah senang kau berani datang. Jadi apapun alasannya tak menjadi masalah." Kibum diam-diam tersenyum di belakang punggung Kyuhyun. Orang baik seperti itu menyeramkan.
.
"Jadi? Apa tujuanmu melecehkan gurumu sendiri di hadapan semua orang?" Kyuhyun menunggu jawaban Kibum dengan mengetuk-ngetukkan jarinya di meja pertanda ia bosan menunggu.
Sungguh Kyuhyun melihat jam di tangannya telah berlalu lima menit. Kibum tetap saja bungkam. Hey, ini bukan kondisi dimana Kibum harus mengakui siapa pelaku selanjutnya selain dia di kantor polisi.
Mungkin Kyuhyun terlalu kaku. Kyuhyun kemudian menurunkan bahunya dan menghela napas. Ia beranjak dari duduknya dan menggeser bangkunya sehingga sejajar dengan bangku yang Kibum duduki. Bahkan sampai menempel di bangku Kibum. Setelahnya, Kyuhyun duduk dengan santai di sebelah Kibum dengan tangan melingkar di pundak remaja itu. Ia pikir tak apa mencoba untuk akrab dengan murid nakal satu ini meski selalu membuatnya sakit kepala seharian ini.
Tak tahukah engkau wahai Cho Kyuhyun. Berada satu ruangan dengan guru yang disukainya saja sudah menyesakkan dadanya, apalagi ini? Di rangkul oleh Kyuhyun sendiri? Kibum sangsi bahwa detak jantungnya akan terdengar biasa saja di telinga Kyuhyun.
"Bagaimana kalau setelah mengutarakan alasanmu, Sonsaeng akan melepaskanmu untuk hari ini? Hmm?" Kyuhyun merapatkan tubuh Kibum ke arahnya dan menatap dengan sorot bersahabat ke arah Kibum. Kibum rasanya sudah tak tahan lagi, berada di dekat Kyuhyun bahkan sangat dekat. Kibum bahkan bisa mencium dengan jelas aroma tubuh Kyuhyun yang lembut dan juga bisa mendengar suara Kyuhyun yang ternyata lebih sexy jika di dengar dari dekat.
Siapapun, tolong selamatkan remaja labil itu dari maut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Eh kyknya ini bakal jadi berchapter-chapter dink hahahha
Maafkan Fi yg tak konsisten ini wkwkwk
