"BEDEVIL"
Summary : Jatuh cinta memang tak selamanya berjalan mulus. Seorang Kim Kibum malah ingin menjadikan orang yang di sukainya membenci dirinya. / boyslove. Yaoi. / Kim Kibum X Cho Kyuhyun.
Warning : Typos dll.
.
.
.
.
.
Menuruni tangga yang menuju lantai satu rumahnya, Kibum berniat mengambil tas sekolahnya yang ia lemparkan ke arah sofa ruang tengah sepulang sekolah tadi. Secara tidak sengaja ia mendengar dering handphone yang entah milik siapa. Karena rasa penasarannya, Kibum mencari darimana asal suara itu, setelah menemukannya, Kibum segera mengangkat telepon itu tetapi ia hanya diam. Tak ada tanda-tanda mulutnya terbuka dan mengatakan sesuatu. Setelah orang di seberang telepon sana berhenti berbicara sejenak, Kibum dengan sengaja menggeser tombol mengakhiri panggilan. Dengan santai, Kibum melempar smartphone yang ia yakini milik ibunya yang tertinggal itu ke arah bangku sofa.
"Semua orang itu sama. Berpikir untuk mengisolasi diri sendiri dari orang lain sama saja tindakan bodoh. Perutku sungguh sakit mendengarkan panggilan menjijikkan itu." Kibum kembali berjalan ke arah kamarnya yang berada di lantai dua rumah besar itu setelah menyelesaikan urusannya.
"Dari awal, memang tidak ada namanya cinta. Berharap dan ditinggalkan. Kurasa aku terlalu melankolis akhir-akhir ini." Gumam Kibum dalam hati sambil meniti anak tangga. Meski pikirannya menolak, tetapi memikirkan wajah guru barunya itu sekilas saja, jantungnya merespon cepat di balik pandangannya yang berubah dingin. Perutnya terasa dililit oleh ribuan kupu-kupu sehingga rasanya seperti dilambungkan keatas. Berbeda dengan raut dinginnya yang kini mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya. Kilasan memori suara Kyuhyun yang terdengar indah jika di dengar lebih dekat, bahkan helaan napasnya, kini kembali terputar di otaknya.
"Ternyata benar. Aku harus jauh-jauh darinya." Tekad Kibum bulat memutuskan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
Jatuh cinta. Kibum kini akan menolak jauh-jauh anggapan itu. Bahkan sebelum memerjuangkan jatuh cintanya itu. Telepon tadi, rupanya cukup mengganggu pikiran Kibum dan memengaruhinya.
Kibum membuka pintu balkon kamarnya. Angin sore langsung menyapanya begitu ia membuka pintu balkon itu. Ia menyandarkan tubuhnya menumpu pada pagar pembatas balkon. Dari sana, ia bisa melihat pemandangan sunset yang indah meski tak secara keseluruhan karena tertutupi oleh gedung-gedung pencakar langit. Sendiri lagi. Tetapi kali ini Kibum sangat menikmatinya. Ia sampai memejamkan matanya menikmati angin sore yang membelai rambutnya lembut. Ia rasa dirinya membutuhkan sesuatu yang membuatnya terpacu andrenalinnya sehingga ia dapat melupakan sedikit masalah hatinya. Memikirkan hal itu, Siswa High school yang masih mengenyam tahun keduanya di sekolah itu kini berlari ke arah komputernya meninggalkan pintu balkon yang terbuka dan memberi celah angin di luar untuk masuk.
Kibum melakukan log in pada salah satu game online yang sudah sebulan ini tak ia kunjungi. Kemudian Ia membuka notifikasi yang masuk pada akunnya dan menemukan akun teman di dunia mayanya telah mengiriminya pesan balasan tepat sebulan yang lalu.
"Apa kau baik-baik saja? Tolong segera balas pesanku jika kau melihat pesan ini." Tulis akun bernama "Gaemgyu" itu.
"Hari ini tepat sebulan aku tak lagi memainkan game ini. Apa kau merindukanku? Aku terlalu banyak bersenang-senang di kehidupanku. Banyak hal yang terjadi padaku. Kau pernah mengatakan apapun masalah yang kau hadapi, jalani dan nikmati saja. Dan kurasa aku memerankannya dengan baik. Bisakah kau menemaniku bermain malam ini? Bantu aku melupakan sedikit masalahku." Tulis Kibum di dalam akun "SnowKaeboom" miliknya itu dan ia begitu senang saat beberapa saat menunggu, ia langsung mendapat balasan dari Gaemgyu.
"Oh! Kau datang. Kupikir kau menghilang ditelan bumi. Baiklah. Mari kita melupakan masalah kita masing-masing dengan memainkannya sampai pagi! Kajja!" Dimulailah permainan pemacu andrenalin menurut Kibum malam ini.
.
.
.
Mengantuk. Adalah hasil dari ronda malamnya di depan komputer. Mereka benar-benar memainkannya hingga jam tiga pagi. Kibum kini lebih memilih tidur di kelas dengan merebut paksa kamus tebal milik salah seorang siswa yang ia temui di koridor menuju kelasnya tadi dan di jadikannya bantal kamus itu. Benar-benar ide yang bagus. Dibanding tidur di ruang kesehatan yang pasti membosankan meski tak terganggu oleh siapapun, lebih baik tidak.
Jam pelajaran pertama usai. Kibum samar-samar mendengar Gurunya menyuruh ketua kelas untuk membantu membawakan buku tugas yang telah di kumpulkan sebelum perlahan ia mencapai kesadarannya dan bangun dari tidurnya. Lumayan tiga jam bermanfaat.
"Park Chanyeol-ssi, tolong bantu bawakan buku teman-temanmu ini ke ruangan saya." Titah Jung sonsaeng dan di angguki oleh sang ketua kelas.
Kibum yang melihat sang ketua kelas sedang menata buku di meja depan sebelum di angkutnya, buru-buru ia beranjak bangun dan melangkah cepat mengejar ketua kelas yang telah keluar dari kelas. Ini kesempatannya.
"Park Chanyeol-ssi." Panggil Kibum memanggil nama lengkap seseorang yang sebenarnya sangat tidak penting baginya dan mengganggunya. Itu pun ia ingat namanya karena tadi samar-samar gurunya menyebutkan namanya.
"Ye?" Tanya ketua kelas itu seraya menoleh ke belakang. Tubuhnya tiba-tiba menegang mengetahui siapa orang yang memanggilnya itu.
"Boleh kubantu? Kelihatannya sangat berat untukmu." Tawar Kibum dengan senyum tampan. Jika Kibum sering-sering tersenyum seperti ini, bukan tidak banyak lagi penggemarnya, tetapi bejibun.
"Ah, tidak. I-ini aku bisa sendiri. Sebaiknya kau kembali ke kelas saja."
"Heee? Berani-beraninya ketua kelas menyuruh kejahatan seperti itu. Sedangkan seorang ketua kelas saat ini sedang berkeliaran di tengah jam pelajaran seperti ini. Bukankah terasa tidak adil?" Kibum tersenyum lagi sambil tangannya menengadah ke arah orang yang di ajaknya bicara.
"Ba-baiklah. Ini." Kibum menerima separuh dari buku-buku yang di bawa oleh ketua kelas itu.
"Kurasa aku bisa membawanya semuanya sepertimu. Sini biar kucoba dulu. Apa memang benar-benar terasa berat ya?" Kibum langsung merebut seluruh buku itu dan menimbang-nimbangnya.
"Memang benar. Buku-buku ini sangat berat. Ini, ambillah lagi." Bukannya Kibum mengembalikannya ke tangan orang yang di percayai oleh guru untuk membawanya, Kibum malah membuangnya ke luar dan jatuh berhamburan lalu masuk dan tenggelam ke dalam kolam renang outdoor di lantai satu. Sedangkan kelas mereka berada di lantai tiga.
"Wah. Mereka melayang seperti burung." Kibum memandangi buku-buku yang di buangnya dengan wajah tanpa dosa. Setelah puas, senyum palsu yang tadi ia pasang, kini di gantikan oleh seringai kejam dan menatap remeh orang di hadapannya yang diam saja dengan gestur dendam ke arahnya.
"Hey. Tunggu apalagi kau disini?" Dengan tanpa ragu, Kibum meludahi muka orang di hadapannya.
"Dengar. Aku sangat membencimu. Juga kelima temanmu. Kau pasti bertanya, apa kesalahanmu padaku bukan. Tidak ada. Kau tak memiliki kesalahan padaku kurasa. Kau kira aku tak melihat saat kau memeras, memperbudak bahkan memanfaatkan orang terpintar di kelas untuk menjadi bulan-bulanan kalian? Pecundang. Orang-orang sepertimu lebih baik mati saja. Katanya setelah ini ada rapat panitia hmm apa ya? Akan kusampaikan pesanmu ke Jung sonsaeng kalau buku-bukunya sangat menganggumu. Bye." Sepeninggalnya Kibum menuju ruang guru, ia bisa mendengar langkah kaki berlari tergesa-gesa menjauh. Dari ujung koridor yang masih bisa melihat pemandangan kolam renang outdoor, Kibum berhenti dan menunggu orang bodoh yang menjadi pemandangan menyenangkan untuknya. Lebih menyenangkan jika ia tak melihatnya sendirian bukan?
"Sonsaengnim, maaf mengganggu. Ada penjahat kelamin di kolam renang outdoor. Sepertinya siswa sekolah ini." Kibum memasuki kelas seniornya dan dengan beracting heboh, ia melaporkan kejadian yang dilihatnya.
"Benarkah?" Buru-buru sonsaeng yang sedang mengajar di kelasnya dan juga seluruh penghuni kelas yang merasa penasaran, berlari berbondong-bondong keluar kelas. Mendengar keributan di luar kelas, mau tidak mau hal itu mengundang perhatian kelas-kelas yang lain di lantai tiga itu.
"Benarkan? Melihat kembang api ramai-ramai itu sangat menyenangkan." Seringai Kibum kemudian ia meninggalkan kerumunan yang menyoraki dan melempari orang bodoh itu dengan apapun, dengan langkah santai. Saatnya mencari tempat untuk menyambung tidurnya.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
.
.
.
.
Entah kenapa... chapter ini beda ahahahaha kalian berharap ada moment KiHyun yang so sweet di chapter ini? Maaf ya. Sengaja tidak sesuai ekspektasi kaliaaan...
