Sudah lima belas menit. Buku catatannya juga sudah penuh satu lembar. Saatnya pergi keluar. Itulah yang sedang dilakukan Kibum setelah menghabiskan duduk diamnya di dalam kelas. Bosan. Adalah sebuah alasan klasik untuk orang sepertinya. Tidak ada satupun sifat yang patut untuk diteladani dari Kibum. Melalui pintu belakang kelas, Kibum melenggang pergi saat gurunya masih sibuk memberikan catatan di depan kelas. Teman-temannya yang sudah biasa melihat Kibum seperti itu hanya menganggap angin lalu. Hal seperti itu lebih baik ketimbang Kibum mengajak orang lain dari dalam kelas lalu dibulinya di suatu tempat. Alasannya untuk membunuh kebosanannya.
Kibum berjalan santai melewati kelas-kelas yang sedang dalam kegiatan belajar-mengajar. Saat di depan kelas juniornya, kebetulan ia bertemu dengan seorang namja manis yang tengah kesulitan membawa buku-buku tebal yang akan dibawanya ke suatu tempat. Kibum melihat ke dalam kelas mereka. Tidak ada satupun yang mempedulikan namja itu membawa buku-buku berat itu. Karena Kibum merasa kasihan dengan namja itu, maka ia bantu membawa separuh dari tumpukan buku yang dibawanya. Tanpa berkata-kata, Kibum berjalan mendahului namja itu di depannya.
"Gamsahamnida Kibum sunbaenim." Kibum menghentikan langkahnya, membalikkan tubuhnya dan menunggu namja itu untuk berjalan bersamanya.
"Kau tahu namaku?" Namja itu mengangguk.
"Kau sangat terkenal sunbae. Teman-temanku sering membicarakan tentangmu."
"Geurae? Membicarakanku dari segi yang mana?"
"Itu... ah, lupakan saja sunbaenim. Ngomong-ngomong kau akan kemana sunbae?"
"Apa perlu kujawab?" Namja itu menggeleng. Tanpa keduanya sadari, mereka sedang dibuntuti oleh seseorang. Lebih tepatnya namja yang bersama Kibum yang sedang dibuntuti.
"Sejak kapan Kim Kibum berjalan bersama seseorang di sampingnya? Lihat itu!" Seseorang dari kelas berbeda yang satu angkatan dengan Kibum menyenggol teman di sampingnya agar mengalihkan atensi pada Kibum yang melewati kelas mereka.
"Molla. Sudahlah jangan membicarakannya. Aku tidak ingin bernasib sama dengan teman-teman sekelasnya."
"Gamsahamnida sunbaenim. Aku pasti akan membalas kebaikanmu suatu hari nanti." Kibum mengangkat bahu berlaku acuh tak acuh. Ini pertama kalinya ia berbuat baik secara terang-terangan. Dibalik sisi buruk seseorang, pastilah ia memiliki sisi baik yang tersembunyi. Orang-orang terlanjur menjudge Kibum sebagai bad boy, karena itulah apapun hal benar yang dilakukan Kibum selalu dianggap salah di mata orang lain. Setelah berpisah dengan namja yang dibantunya, Kibum pergi ke ruang konseling untuk tidur. Bukan pergi ke ruang kesehatan yang pastinya akan ada petugas berjaga disana. Dia ingin menunggu Kyuhyun. Pasti guru itu akan mencarinya disana.
.
.
"Katakan! Ini kau bukan?"
"Ne. Kau siapa? Kenapa kau memiliki fotoku bersama yeojaku?"
"Yeojamu? Dia adalah yeojachingumu? Huh! Jadi namja seperti ini yang merebutnya dariku?"
"Apa maksudmu? Siapa yang merebut siapa? Kami sudah berpacaran selama dua tahun."
"Oh... menyedihkan sekali hidupmu. Ternyata dialah yang bermain dibelakangmu."
"Kau!"
"Apa? Ingin memukulku? Dengar. Lee Taemin-ssi, sebaiknya kau lepaskan saja wanita itu. Lagipula dia tidak lagi mencintaimu." Lee Taemin, namja manis yang tadi di bantu oleh Kibum dibawakan buku-bukunya. Di seret ke atas atap sekolah oleh orang yang membuntutinya sejak namja itu keluar kelas tadi.
"Kau siapa? Apa urusannya denganmu mengurusi urusan orang lain?!" Namja itu terjatuh membentur tumpukan kotak terbengkalai yang tak sempat dipindahkan ke dalam gudang sekolah akibat dorongan Taemin. Mendengar suara gaduh, seseorang di sisi lain atap itu terbangun dari tidurnya. Membolos kelas untuk tidur tenang di tempat sepi, gagal sudah. Penasaran dengan kegaduhan apa yang sedang terjadi, namja berperawakan tinggi yang membolos itu menyembunyikan tubuhnya dan memotret beberapa foto mengenai kegaduhan yang dilihatnya. Tak ingin ikut terlibat dalam perkelahian, namja itu pergi dari atap sekolah dan memilih mencari tempat tenang untuk melanjutkan tidurnya, yakni ruang kesehatan.
Dorongan Taemin rupanya memicu emosi namja yang bersamanya. Mereka akhirnya saling mendorong seraya mengeluarkan umpatan kotor yang semakin menyulut emosi keduanya. Hingga accident itu terjadi, Taemin kehilangan keseimbangan setelah di dorong oleh namja yang mengaku adalah pacar kekasihnya. Tubuhnya melayang dan terjun bebas dari atas lantai lima gedung sekolahnya.
"Aaaaaaaaaakh!" Terdengar sebuah teriakan dari bawah sana yang mengundang beberapa orang membentuk kerumunan untuk tahu apa yang sedang terjadi.
"A-aku tidak-" namja yang mendorong Taemin segera berlari darisana, meninggalkan keheningan dengan semilir angin yang menyaksikan.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Bagaimana ia bisa terjatuh? Siapa yang terakhir kali bersamanya?" Bisik-bisik dari para siswa yang berkumpul untuk menyaksikan apa yang terjadi, terdengar riuh. Sirene ambulan akhirnya memecahkan keramaian itu. Jenazah Lee Taemin segera di bawa kerumah sakit. Sedikit demi sedikit kerumunan itu bubar. Polisi akan menangani kecelakaan ini lebih lanjut.
"Namja yang jatuh dari atap bukannya yang berjalan bersama Kim Kibum?"
"Eoh? Kau melihatnya?"
"Ya, kami berdua melihatnya saat pelajaran ketiga." Kini desas-desus mengenai Kibumlah si pembunuh Lee Taemin semakin menyebar hingga terdengar ke telinga Kyuhyun.
Sebagai guru yang bertanggung jawab atas tingkah laku Kibum di sekolah, Kyuhyun tentu saja sangat gelisah. Ada rasa tak percaya yang terselip di benaknya atas rumour itu. Tetapi mengingat kelakuan nakal Kibum yang sudah umum itu, bukan tak mungkin Kibum yang melakukannya. Tetapi senakal-nakalnya Kibum, Kyuhyun masih bisa melihat sorot kesepian di matanya jadi mana mungkin orang macam Kibum yang hanya ingin diperhatikan itu melakukan hal yang lebih jauh seperti sebuah pembunuhan. Lebih baik ia mencari keberadaan Kibum dan menanyakan apa yang terjadi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc.
