Elsword belong to KoG

시간을 달려서 (Rough) by 여자친구(GFriend)

This story is mine

Warning : OOCness, AU, songfic(?), typos, alur kecepetan, dll.

Job Classes :

- Elsword (Calm,Dark,Fractious!Rune Slayer)

- Aisha (Elemental Master)

- Elesis (Blazing Heart)

- Rena (Wind Sneaker)

- Raven (Blade Master)

- Eve (Code Nemesis)

- Chung (Deadly Chaser)

- Add (Diabolic Esper)

- Ara (Yama Raja)

- Lu/Ciel (Noblesse / Royal Guard)

.

.

.

Happy Reading~


Pagi yang suram, seperti biasanya. Dan kegiatan pagi Elsword biasanya diawali dengan mandi, menyiapkan sarapan untuk kakaknya dan membuat setangkup roti untuknya sendiri lalu naik lagi ke kamarnya untuk bersih-bersih –kalau bisa menyempatkan diri untuk mencuci bajunya sendiri–. Dan berangkat sekolah setelah meninggalkan secarik kertas berisikan reminder untuk dikerjakan sang kakak. Tapi tunggu dulu? Mungkin nyawanya yang belum terkumpul menjadi salah satu faktor ia mengalami delusional.

Apa yang dilakukan Elesis di atas tempat tidurnya? Tidur meringkuk menghadapnya, dan memeluk guling kesayangan Elsword. Dan apa itu?! Jejak-jejak mirip peta tercetak di bantalnya!

Seketika itu juga Elsword berdiri, namun terhenti ketika merasa ada sesuatu yang merosot dari bahunya. Diambilnya selimut itu, dipandanginya sebentar, dan manik ruby itu kembali menatap kakaknya yang masih ngorok di kasurnya. Ruby yang sama dengannya itu juga masih tersembunyi dalam kelopak mata yang tertutup erat. Tersenyum singkat, ia berjalan menuju Elesis dan menyelimutinya. Setelahnya Elsword berjongkok di sisi tempat tidur sambil menyangga dagu.

"What the hell are you doing in my room? Yaaah sepertinya aku harus menunda acara cuci-cuciku hari ini. Tapi terima kasih untuk kemarin malam, kak."

.

.

Hari itu hari Senin, hari sial bagi sebagian kaum Elrios Gakuen. Upacara, pemeriksaan rambut dan kelengkapan atribut, dan lain-lainnya. Beruntung Elsword ingat, jadi ia mengenakan blazernya hari ini. Surai merah mencoloknya yang dikucir tipis itu dimasukkan dalam kerah –menjiplak sahabatnya– dan tertutupi dengan sempurna. Namun salah satu sensei yang mengingatnya sebagai anak-biang-kerok seingat ia selalu makan tiga kali sehari, menghampirinya.

"Sieghart."

Elsword yang santai saja –seperti sudah tahu ini akan terjadi cepat atau lambat– hanya menjawab pendek dengan kedua tangan dalam saku. Chung yang berdiri di belakang Elsword menelan ludah, takut-takut jika Elsword ikut menyeretnya dalam masalah-rambut-panjang-berkucir.

"Ya, Vanessa-sensei?"

"Kapan kau akan merapikan rambutmu itu?" Vanessa-sensei tetap memandangi surai merah Elsword tanpa berkedip, mencoba mengintimidasi.

"Kan sudah pernah kubilang sensei, aku akan memotong rambutku satu mili setiap hari. Kalau mau menunggu rambutku rapi ya tunggu saja sampai hari kelulusan kelas 3. Dipastikan rambutku akan serapi Raven." jawab Elsword sambil memejamkan mata dan mengangkat bahu. Bersikap bodo-amat.

"Aku serius, Sieghart."

"Maa, aku juga serius lho, sensei."

Terjadi adu tatap diantara kedua orang itu, seakan dari sepasang mata keduanya mengeluarkan listrik merah dan biru. Tidak ada yang berhenti menatap, Chung melerai mereka berdua.

"Ano, sensei. Nanti aku yang akan mengingatkan Sieghart untuk memotong rambutnya. Apa itu cukup?"

"Kau tidak hanya harus mengingatkannya, Seiker, kalau bisa kau pangkas saja rambutnya sekalian. Kau bebas hari ini, Sieghart." tukas sensei bohai bersurai biru muda itu ketus sambil berbalik meninggalkan barisan Elsword dan Chung.

"Kau tidak harus membantuku, monsieur, aku bisa menyelesaikannya sendiri." ujar Elsword dengan suara rendah.

"Well, terima kasih kembali, Sieghart." balas Chung sarkastik sambil menepuk bahu sahabat merahnya. Empu bahu hanya tersenyum miring sebagai balasannya.

.

.

Tanpa diketahui Elsword, Chung selama ini mencari-cari sebab-akibat anak bungsu keluarga Sieghart itu berubah, namun nihil. Ia tidak menemukan sebabnya, sobatnya itu selalu diam tutup mulut dan nyengir lebar ketika pertanyaan seputar perubahannya itu dilayangkan. Chung sampai bertanya pada Elesis, namun gadis bermanik sama dengan Elsword itu hanya menggelengkan kepala, pertanda tidak tahu. Chung hampir menyerah, ia hampir membiarkan sahabatnya itu memiliki dua personalisasi. Elsword yang ceria dan konyol pada saat berkumpul ramai-ramai, dan Elsword yang muram ketika ia sedang sendirian. Memang ada perubahan yang positif, namun yang negatif akan selalu mengiringi.

Chung sedang menulis sesuatu di dalam buku saku coklat yang selalu dibawanya kemana-mana ketika manik hijau kebiruannya menangkap sobatnya sedang berdiri dengan wajah kaget memandang keluar jendela, sebulir keringat sebesar biji jagung nampak turun dari dahinya, dan manik rubynya membeliak lebar. Seakan kurang jelas apa yang dipandanginya, Elsword berlari keluar kelas tanpa menghiraukan panggilan dari Chung.

.

.

Even if I wander through the time

I know we will meet someday


Matanya tidak mungkin salah melihat, ia tidak punya riwayat penyakit mata satupun. Surai ungu itu, senyum itu, sosok gadis yang selalu hadir dalam mimpinya, menerornya dengan kebahagiaan yang semu, gadis yang selalu berada dalam dekapnya kala ia memimpikannya. Gadis ceriwis itu, pengganggu itu, gadis yang mencintaiku itu...

Ini tidak mungkin mimpi, kan, Aisha...?

Elsword terus berlari menuju lapangan, dimana ia sempat melihat gadis itu tersenyum pada pria berambut ungu tua, namun ketika sampai disana ia tidak menemukan siapapun. Menghilang seperti ilusi-ilusi yang selalu menemaninya. Terengah-engah, ia pun jatuh berlutut, menyangga tubuh dengan kedua tangan dan lututnya. Mata terpejam, keringat menetes-netes dari dahi, hidung, dan dagunya. Atau bahkan mungkin air matanya juga ikut menetes.

Lalu Elsword meringis.

'Akan sampai seperti apa kau ingin membuatku begini, Aisha? Tolong maafkan aku...'

.

.

Raven yang berpapasan dengan pangeran Hamel itu terheran, pasalnya ini tidak wajar. Chung terkenal keonarannya hanya ketika ia bersama Elsword. Tapi sekarang pemuda pirang itu sendirian, berlari tidak jelas menuju pintu utama sekolah, dan lagi ia tidak menyapa Raven padahal Chung terkenal murah senyum apalagi pada orang yang dikenalnya. Tidak ada ajakan atau apa, Raven memutuskan untuk membuntuti sang pangeran pirang.

Sesampainya di lapangan, Chung terlihat celingukan seperti mencari seseorang, kemudian ia meneriakkan satu nama yang sangat familiar di telinga Raven.

"Elsword?!"

Sebelum ia menghampiri Chung, manik emasnya menangkap siluet seseorang sedang duduk diatas dahan pohon, menyembunyikan wajah diantara kedua kakinya yang ditekuk. Ketika yakin bahwa siluet itu adalah orang yang dicari Chung, Raven memanggilnya pelan.

"Chung."

"Raven-senpai?! Kau melihat Elsw–" kata-katanya terhenti setelah menangkap isyarat seniornya itu untuk tutup mulut. Dan mengikuti insyarat berikutnya untuk mendekat ke Raven.

"Kurasa ia sedang butuh sendiri." ungkap Raven sambil menunjuk siluet Elsword di pohon itu dengan jempolnya.

"Tapi tadi Elsword seperti kesetanan, ia seperti melihat jin atau apalah itu– pokoknya aneh senpai! Kalau dibiarkan sendiri nanti dia bisa bunuh diri!" Chung mulai paranoid.

"Tidak perlu sampai berpikir kesana, pangeran kecil. Aku yakin Elsword hanya butuh menenangkan diri." jelas Raven sambil menoyor dahi Chung dan tersenyum tipis.

"Senpai berani jamin apa? Kalau Elsword mati tangan kananmu yang ku'ambil' ya?!"

"Whoa whoaa santai dulu monsieur, aku akan memberikan informasi paling penting dari Altera region."

"Aku tidak butuh! Aku butuh sahabatku kembali!"

"Kembali kemana?"

Kedua orang beda tinggi itu menoleh kaget, subjek yang di debatkan sudah turun rupanya. Dan hadir menimpali obrolan. Meski dapat Chung dan Raven lihat, kedua matanya sedikit merah dan juga suaranya serak. Namun tatapan tajam dari manik ruby yang biasanya jenaka itu seketika membuat mereka berdua membisu.

"Kembali ke kelas, maksudnya. Sudah sana kalian berdua, aku mau mengurus ini dulu." Raven yang paling cepat mengendalikan diri, segera menjawab pertanyaan Elsword dengan tenang sambil mengacungkan beberapa lembar kertas yang dari tadi digenggamnya, dan berlalu begitu saja.

"Kembali ke kelas, kan? Ayo kalau begitu." tanpa repot-repot menoleh ke arah Chung, Elsword menyuarakan ajakannya dan memimpin berjalan. Namun langkahnya berhenti ketika ia merasa ditimpuk oleh benda yang cukup keras dari belakang. Mengusap belakang kepalanya, Elsword menolehkan kepala dengan geram dan siap mengomeli. Tapi apa yang dilihatnya membuatnya diam seribu bahasa.

Chung dengan wajah memerah menahan amarah, mata tertutup poni, dan kedua tangan yang mengepal erat disamping tubuhnya. Terlihat tubuh yang tidak jauh lebih tinggi darinya itu bergetar. Dan selanjutnya Elsword tidak ingat lagi, hal terakhir yang diingatnya adalah kata-kata Chung yang menyerukan, "Kau bilang aku sahabatmu?!" dan hantaman pada pelipisnya begitu keras hingga ia kehilangan kesadarannya.

.

.

Dua jam lamanya Chung menunggu di samping salah satu tempat tidur UKS, menunggui seseorang berambut merah yang terpejam sepenuhnya dengan wajah babak belur dan plester disana-sini. Kata Rena –gadis manis berambut hijau itu kebetulan sedang piket– Elsword kurang tidur, karena banyak pikiran.

"Padahal ia selalu mengoceh dan tertawa keras ketika bersama kita." Rena masih tetap mengobati luka di wajah Elsword sambil sesekali melihat punggung pemuda pirang yang sudah 15 menit yang lalu berdiri di depan wastafel, terus-terusan membasuh muka. Tangannya masih tetap mengepal, sudah gatal menonjok kaca yang ada di hadapannya.

"Jangan coba-coba menghantam kaca itu, sir, kalau tidak ingin kulaporkan ke guru kedisiplinan."

Setelahnya Chung tenang.

Mengusap pelan dahinya sendiri, Chung bergumam, "sebenarnya apa yang terjadi padamu, Els? Sudah tiga tahun seperti ini, kalau aku tidak salah menghitung."

Helaan napas panjang terdengar.

Sadar bukan ia yang menghela napas, Chung membuka matanya dan melihat pemuda merah itu membuka mata, namun matanya berair, seakan air asin itu siap tumpah kapanpun.

"Kau mau mendengar cerita panjangku, hei pangeran Hamel yang emosional?"

.

.

Keluar dari UKS, dengan maksud memberi waktu sobat onarnya itu untuk tidur dan berpikir jernih, Chung menghela napas lelah lalu mengusap wajahnya kasar. Ia tidak menyangka ternyata Elsword terjebak dalam masalah seperti ini. Pangeran pirang ini merasa ia gagal menjadi sahabat, ia tidak bisa memberi solusi apapun, paling tidak advice yang membantu. Tapi tidak, Chung hanya diam, menyimak sampai akhir cerita, dan berucap, "Suatu saat, Els. Bersabarlah."

Apanya yang suatu saat? Sudah berapa lama Elsword bersabar?

Dasar bodoh.

"Seiker-kun?"

Gadis yang menyapanya membuatnya bisu –sekaligus malu karena kepergok memukul dahi sendiri lalu mengusap-usapnya sendiri–, Chung berpikir ia pasti dianggap sakit oleh gadis itu.

"I–iya? Ara-sa– ah maksudku, senpai?"

"Kau sedang apa? Mencari obat?" tanya Ara penasaran. Sama sekali tidak ada seraut meragukan atau mengganggapnya gila di wajah polos putih bersih itu.

"Ti–tidak kok, ehehe. Elsword sedang ada di dalam. Aku habis menengok keadaannya." kekehnya gugup.

"Oh ya? Els sedang sakit?"

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Chung mengulas satu senyum menenangkan.

"Begitu? Syukurlah." Ara ikut lega mendengarnya. Satu senyum tulus dilempar kembali, membuat pangeran pirang ini merona dibuatnya.

Memalingkan wajah, Chung berujar, "Kukira sudah saatnya aku masuk kelas, Ara-senpai."

"Ah baiklah kalau begitu,"

Saling senyum untuk yang terakhir, dan mereka berpisah.

.

.

Di dalam UKS, masih terbaring, Elsword merenung. Mengulas kembali dalam ingatan apa yang ia lihat tadi siang di lapangan. Tidak mungkin salah, itu pasti gadis ceriwis masa kecilnya. Gadisnya.

Demi raja Nasod. Pikiran Elsword sudah tak lagi normal.

Pintu UKS terbuka, menampakkan Add Kim dan si Emotionless Queen. Elsword tidak peduli, ia kembali memalingkan wajah ke posisi semula. Add yang heran tidak sadar berceletuk, "Ditolak gadis, eh?" yang tanpa sadar membuat Elsword berjengit. Lalu hening.

Eve yang telah selesai mengobati lengan Add berkata dengan datar, "Jangan mulai disini, Add." sambil berjalan menuju wastafel dimana dari sana, Eve bisa melihat dengan jelas mata merah Elsword. Manik emas itu bergulir, menatap pemuda beriris ungu dengan black-sclera tanpa diketahui maksudnya. Add mengangkat salah satu alisnya seolah bertanya. Dan tanpa perlu jawaban Eve, kedua muda-mudi bersurai senada itu dengan mengerti meninggalkan UKS tanpa banyak tanya.

"Aku ingin sendiri, Add, Eve-senpai."

.

.

Di koridor depan kelasnya, sedang heboh. Ada pria (kalau bisa disebut pria, sih) yang menggandeng gadis– salah, ini seperti adegan penculikan lebih tepatnya. Si pria sedikit menarik paksa tangan gadis bersurai ungu dikucir dua itu. Chung yang baru akan membuka pintu kelasnya terhenti sejenak. Termangu menatap gadis cantik dengan sepasang iris amethyst, antara ragu dan –sudah sangat jelas– kaget. Seingatnya, dulu ia pernah bertemu dengan gadis yang mempunyai ciri-ciri sama seperti dia. Saat ia pertama kali bertemu dengannya, jelas gadis itu mempunyai aura yang cukup galak, sehingga menjadi susah didekati. Chung yang dulu sempat menjadi fotografer dadakan sampai lupa menanyakan namanya, dan Elsword juga tidak memberita–

Tunggu dulu...

ITU KAN GADIS YANG TADI DICERITAKAN ELSWORD?!

Panik, Chung tanpa sadar sudah berada di depan si pria, menghentikan langkah mereka, dan bertanya dengan sedikit meninggikan suaranya.

"Kau kan gadis yang menyukai Elsword waktu masih kecil?!"

Hening. Si pria lalu histeris, memegang kepalanya dan berteriak. Sontak Chung mundur karena kaget, tapi tidak bagi gadis itu. Dia malah menenangkan si pria dengan mengusap lembut kedua bahunya dari belakang sambil tersenyum manis. Si pria telah tenang, dan diajak duduk di bangku terdekat oleh si gadis sebelum ia menghampiri Chung dan bertanya dengan nada rendah.

"Siapa Elsword?" pancaran matanya mencerminkan bahwa ia benar-benar tidak tahu siapa yang dimaksud Chung.

Si pirang pun membeliakkan matanya, tidak percaya.

"Elsword! Kau pernah menyebutnya cebol! Anak laki-laki pendek berambut dan beriris merah! Dia dulu selalu main denganmu dan kau menempel padanya terus seperti perangko!"

Iris amethyst itu tetap terarah pada sepasang hijau kebiruan di depannya. Tetap datar, dan tetap penasaran. Dan tetap hening.

'Bagaimana Elsword akan menghadapinya kalau seperti ini kondisinya?'

.

.

"Ne~ ne, Aisha-chan, bagaimana kau bisa pindah sementara semester awal kelas 3 sudah akan berakhir?"

"Karena ada masalah, aku menolak meneruskan pelajaran di sekolah yang lama, kupikir jika pindah aku bisa menyelesaikan pendidikanku dengan baik."

"Heee apa kau korban bully di sekolahmu yang lama?" celetuk ngawur salah satu siswi kelas 3-B. Gadis cilik bersurai putih panjang sambil berkacak pinggang di sebelah kanan meja Aisha.

"Lu, jangan membuatnya merasa tidak nyaman disini." nada memperingatkan yang terlontar dari pemuda keren bertubuh tegap yang duduk di belakang meja Aisha terdengar.

"Ah tidak apa-apa, jangan dipikirkan– ano..."

"Ciel."

"...Ciel-kun."

"Tolong Ciel saja! Aku tidak sudi membagi 'pria'ku!" teriak Luciela, tangan kecilnya langsung terlempar mengelilingi leher pemuda tenang bersurai biru itu. Ciel hanya menghela napas lelah.

"Gomenasai Lu-san." sesal Aisha sambil memandang kedua sejoli itu tidak enak.

"Tidak perlu terlalu formal begitu, Aisha. Kau bisa panggil kami dengan nama saja." ujar gadis cantik bersurai hitam legam yang langsung duduk di kursi sebelah kiri meja Aisha.

"Baiklah, douzo yoroshiku, minna-san."

.

.

"Aku benar-benar minta maaf, Els. Aku kelepasan tadi." Chung menundukkan kepalanya begitu Elsword masuk kelas, dirasanya sudah sanggup bangun untuk mengikuti pelajaran berikutnya.

"Sudahlah, tidak menjadi masalah lagi kok." cengir kepala merah itu sambil duduk di bangkunya, setelahnya ia meringis.

"Jangan kebanyakan ekspresi, nanti lukanya terbuka lagi bagaimana?!"

"Kau kira luka tusukan?" Elsword langsung pasang tampang poker face.

Chung hanya nyengir. Sebenarnya ia ingin sekali buka mulut tentang gadis yang pada pertengahan jam pelajaran tadi ditemuinya. Hanya saja, untuk mengeluarkan suara rasanya ada yang mengganjal di tenggorokannya. Lagipula, apa ia tega melihat Elsword dalam keadaan kacau seperti tadi pagi?

Belum habis ia berpikir, suara gaduh terdengar dari luar kelasnya. Dan berikutnya pintu kelas mereka menjeblak terbuka, menampakkan gadis bersurai hijau dengan wajah panik, bingung –tapi juga senang– dan si Emotionless Queen yang ditakuti Elsword muncul sambil berteriak,

"Els, kau tidak ingin melihat Aisha?!"

Elsword terdiam, mencerna sesuatu.

Tidak ingin...

Melihat... Aisha?

Loading...

"Apa?!" Elsword melompat berdiri sambil menggebrak meja, seakan tidak punya malu dan luka apapun ia berlari menuju pintu, menghampiri dua gadis itu. "Antarkan aku!"

Chung tidak tahu ia harus senang atau malah sebaliknya. "Yah semoga kau baik-baik saja, Elsword."

Ketiga orang dengan warna rambut mencolok itu setengah berlari menyusuri koridor menuju kelas 3-B, dimana kabarnya Aisha ditempatkan sebagai murid baru disana. Yang melihatnya pertama kali adalah Eve. Gadis yang selalu memasang wajah datar itu melihat sekelebat bayangan rambut ungu masuk ke ruang guru. Bahkan Ratu tanpa Emosi itu punya pikiran untuk menguping, dan benar saja, ternyata sekelebat bayangan seseorang berambut ungu tidak asing itu adalah salah satu 'teman'nya yang menghilang di hari upacara kelulusan. Yang membuat Rena uring-uringan seharian itu, dan entah apa sebabnya hatinya juga merasa hampa.

Tanpa pikir panjang, ia merasa harus memberitahu Rena. Dan disinilah mereka sekarang, entah benar atau tidak kabar yang dibawa Eve. Elsword dengan tidak sabar membuka pintu kelas 3-B, yang beruntungnya sekarang masih jeda pergantian pelajaran.

Pintu terbuka paksa.

Para siswa 3-B terkejut dan memprotes.

Tapi Elsword tidak peduli.

Kala ruby dan amethyst itu bertemu, ia tahu bahwa gadisnya sudah kembali.

Namun ia tidak sama lagi.

Matanya berkedip lucu, sebelum menatapnya penuh tanda tanya.

Senyum tiga jari di wajah Elsword pun lenyap, begitu juga kedua gadis di belakangnya. Mereka mengerti bahwa Aisha adalah orang sama seperti dulu, namun dengan –entah apa– yang berbeda.

Luciela, Ciel, Ara, dan Aisha menatap mereka bertiga heran. Dan Lu yang menemukan suara pertama kali.

"Ada apa dengan kalian? Main dobrak-dobrak begitu! Hei berandalan merah, bisa kau–"

"Aisha..." lirih Elsword memanggil nama sang gadis ungu, menghiraukan semua ucapan salah satu senior yang paling ditakutinya itu. Seketika semuanya diam, hening. Seakan memberi kesempatan bagi mereka berdua berinteraksi.

"Y–ya?" jawab Aisha gugup. Entah mengapa, ada kelegaan dan perasaan senang menjalar dalam hatinya. Padahal ia tak mengingat apapun tentang pemuda yang memanggil namanya itu. Rasanya, ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya.

Sudah kukatakan bukan bahwa Elsword itu tidak bodoh, namun ia cepat menyadari sesuatu? Ya, sama seperti saat ini. Elsword merasakan sesuatu yang janggal pada Aisha. Balasan dari Aisha melenceng jauh dari bayangan Elsword. Pemuda merah inipun mengambil satu kesimpulan.

'Setelah kecelakaan itu, apakah Aisha mengalami–... amnesia?'

.

.

Hari-hari berikutnya setelah kejadian di kelas 3-B, Elsword tidak pernah mau meninggalkan kelas. Datang, duduk, mengikuti pelajaran, ketika istirahat ia tidur bertopang kedua lengannya yang dilipat, kalau ia lapar tinggal minta tolong pada sahabat pirangnya untuk membelikannya sesuatu, lalu mengikuti pelajaran lagi sampai jam sekolah usai dan pulang. Ia seperti menghindari sesuatu, batin Chung merasa ada yang tidak beres setelah memperhatikan gerak-gerik sahabatnya beberapa hari ini.

Tapi apa? Apa Aisha-senpai? Tebaknya dalam hati. Saat ini sedang istirahat, dan pangeran muda itu sedang dalam perjalanan menuju kantin dalam rangka mengisi perut dan memenuhi pesanan sobat merahnya, yakisoba ukuran jumbo dan harus beli dari kantin kelas 3.

Kau kira aku siapamu? Helaan napas lelah terlepas.

Sepasang iris hijau kebiruan itu mendapati meja yang biasanya dihuni oleh senpai-senpainya sedang penuh, dan kelihatannya mereka khusyuk sekali membicarakan sesuatu. Karena penasaran –dan juga lapar–, Chung cepat-cepat melangkah menuju konter untuk membeli makanan –tidak lupa yakisoba-jumbo-dagangan-kantin-kelas-3-pesanan-Elsword– lalu melesat ke meja senpai-senpainya. Sontak mereka bertujuh terkejut melihat Chung langsung duduk di bangku kosong sebelah kanan Ara Haan, bangku kosong milik Elsword.

"Sedang membicarakan apa?" tanyanya sebelum sesuap nasi masuk ke mulutnya.

"Ah Seiker-kun, kukira kau sudah tahu hal ini." jawab Ara tidak jelas. Kunyahan pangeran pirang itu berhenti, memilih menelan makanannya, dan bertanya kembali. "Tahu tentang apa, senpai?"

"Tentang murid baru yang masuk ke kelas Haan, Seiker." jelas pemuda bermarga Kim itu sambil menyangga dagu dan memandang langit lewat jendela di seberangnya.

"Ah dia? Ya, aku sudah tahu sedikit banyak dari Elsword tentangnya."

"Apakah Elsword terguncang? Ah maksudku– yah sudah pasti ia terguncang ya." cemas Rena.

"Sebegitu berpengaruhnya kah murid baru itu bagi Elsword?" heran Raven, yang dengan segera diamini Lu, Ciel, dan Ara. Add kembali menolehkan kepalanya kepada Chung, tanda ia juga penasaran akan jawabannya.

"Kau juga ingin tahu jawabannya, kan, tuan Kim?" sarkas Eve yang duduk di sebelah kanan Add sambil memicingkan sebelah matanya.

"Tidak, hanya saja sepi jika Sieghart tidak berulah."

'Alasan.' batin yang lainnya.

"Yah mungkin ini bisa menjadi dongeng sebelum senpai-senpai masuk kelas. Kalian mau mendengarnya?" kekeh Chung sedikit tidak ikhlas sambil meletakkan sendok, merasa nafsu makannya hilang seketika, dan juga ada rasa berat hati membeberkan kisah menyedihkan sahabat dekatnya.

Dua puluh menit Chung menghabiskan napasnya untuk bercerita, dan dua puluh menit Elsword menahan bunyi-bunyian aneh yang berasal dari perutnya supaya tidak terdengar ke telinga teman-temannya.

'Pangeran Hamel mini sialan! Beli yakisoba butuh antri berapa menit sih?!' Elsword, asal ingat saja, si sialan itu yang akan menyelamatkan nasib perutmu nanti.

.

.

Kembalinya Chung disambut galak oleh Elsword, dimulai dari umpatan sampai teriakan berisi kalimat-kalimat yang bikin-telinga-sakit. Seluruh teman sekelasnya hanya menggelengkan kepala, seolah kejadian itu sudah biasa terjadi. Dan sebelum seorang sensei masuk ke kelas 1-B, sepertinya ada yang menghalangi sensei tersebut masuk ke dalam kelas. Seorang siswi melongok keluar pintu dan jejeritan heboh setelahnya.

"Add Kim! Ada Add-senpai diluar! Kyaa~!"

"Add Kim?!" seru yang lain, termasuk Chung meski suaranya masih terhitung cukup rendah. Elsword yang cuek hanya meneruskan kegiatannya, meng-rape yakisoba –tolong jangan salah paham, maksudnya ia sedang memakan yakisobanya dengan ganas–.

"Oi, Seiker, Sieghart! Bisa kalian keluar sebentar?" pinta Add –dengan agak tidak sopan– sembari memunculkan kepalanya ke dalam kelas.

Chung mematung, ada apa gerangan senpainya yang terhitung emosional itu memanggilnya, terlebih sampai memanggil Elsword yang notabene adalah musuh tidak langsungnya. Masih bengong, ia menunjuk dirinya sendiri dan Elsword– oh dan jangan lupakan bocah merah itu yang sekarang sudah berdiri dari bangkunya. Masih menyimpan tanda tanya besar di kepala pirangnya, pangeran Hamel itu mengikuti si merah ke luar kelas.

"Ada apa tiba-tiba, Add?" sudah dipastikan bahwa nada tidak sopan ini keluar dari mulut milik bungsu Sieghart.

"Sepulang sekolah bisa kau datang ke atap?" ujar Add tanpa basa-basi sambil berdiri menyandar tembok dan melipat kedua tangannya. Pose ganteng yang sangat dinikmati siswi-siswi berseliweran di koridor, akibatnya, suara cekikikan dimana-mana.

Add menutup kedua matanya, menunggu jawaban. Chung dengan cemas memandang bergantian Add dan Elsword. Elsword sendiri untuk menjawab "ya" saja butuh beberapa pertimbangan. Terjadi beberapa pergulatan batin yang memakan waktu beberapa menit.

Empat siku-siku perlahan menonjol keluar dari pelipis pemuda bermarga Kim itu. Ia sangat tidak suka membuang-buang waktu. Dan ia juga heran mengapa mau saja diutus si hijau dan juga nona muda dari keluarga Haan, Eve juga ikut-ikutan. Kenapa tidak si gagak atau Sourcream dan butlernya, huh? Gerutunya kesal dalam hati.

"Hei–"

"Ya aku akan datang."

Add terkesiap, lalu menyeringai. Dan telunjuk panjangnya menuding si pirang yang berdiri di sebelah si merah.

"Dan tugasmu memastikan si Sieghart ini datang tepat waktu, Seiker. Aku sungguh kesal disuruh membuang waktu seperti ini!"

"I–iya, siap la–laksanakan, Add-senpai!" Chung berjengit kaget dibuatnya, sampai membuat tubuhnya refleks berdiri tegak dengan kedua tangan disamping badan.

Add melangkah menjauh, diikuti pandangan datar Elsword pada punggungnya.

'Apa-apaan?' batin si merah.

'Senpatachi menyusun sebuah rencana dibelakangku? Setelah semua cerita itu? Semoga tidak terlalu berlebihan.'

.

.

"Elsword belum datang?" tanya Rena sambil terengah-engah. Dibelakangnya ada Raven yang dengan tenang menghirup udara banyak-banyak.

"Belum. Tapi Seiker sudah disini." jelas Eve.

"Kenapa bisa kau meninggalkan Sieghart sementara kau seorang diri datang kemari?! Sudah kubilang tugasmu memastikan anak itu datang kesini!" geram Add. Kesabarannya memang pendek sekali bila menyangkut kedua bocah hampir sama tinggi itu. Pangeran muda Hamel itu hanya menundukkan kepala sebagai respon, mana bisa ia bilang alasan Elsword berpisah dengannya hanya karena bocah merah itu ingin mempersiapkan diri dahulu?

"Ara dan Lu sedang berusaha mengajak Aisha kemari." lapor Ciel menenangkan keadaan, setelah membaca pesan yang masuk ke ponselnya, membuat semua kepala yang ada disana menoleh padanya.

"Tsk, cepat tuntaskan ini supaya aku bisa kembali melakukan penelitian." kesal pemuda dengan black-sclera itu, setengah menggumam.

"Semoga ini berhasil membuat Aisha mengingat anak itu." perkataan Eve hampir tersamarkan suara angin, namun sang gagak yang berdiri di sebelahnya tidak bisa menghiraukan kalimat itu begitu saja. Maka sahutan dari Raven juga terdengar, "Ya, semoga." yang diamini dengan cara masing-masing oleh muda-mudi yang berkumpul di atap. Permintaan mereka yang terucap samar itu ikut dibawa sang angin.

Tidak lama kemudian terdengar pintu terbuka, menampakkan Elsword dengan cengiran lebarnya berjalan ke arah mereka sambil berkata, "Maaf terlambat! Dan," manik rubynya beralih pada pemuda bersurai putih yang duduk di pojok sambil memandang tajam kearahnya. "Add, meski terlambat aku tetap hadir, kan?"

"Terserah." Add kembali menutup mata, menikmati alunan lagu yang keluar dari headphonenya.

Hening sejenak sebelum pintu atap dibuka untuk yang kedua kalinya, kali ini tiga gadis dengan surai mencolok berjalan menuju ke tujuh orang yang sedang menunggu kedatangan gadis-gadis itu. Chung dan Rena yang sebelumnya sudah antisipasi akan tingkah Elsword, terdiam. Pasalnya, Elsword sendiri hanya menolehkan kepala ke arah Aisha lalu kembali memandang ke depan, seakan sudah tidak peduli lagi.

'Apa-apaan reaksinya itu?' batin mereka berdua bersamaan.

"Kami datang membawa target sesuai dengan permintaan!" Luciela dengan ceria mendorong Aisha yang kebingungan sampai tepat di belakang Elsword. "Cepat perjelas ini semua, bocah tengil!" serunya sambil menggeplak punggung lebar si kepala merah.

Add, Eve, dan Ciel bangkit berdiri. Elsword pun membalikkan tubuhnya menghadap sang gadis ungu dan tanpa bertele-tele langsung menanyakan...

"Kau benar-benar lupa padaku, Aisha?"

... dengan lirih.

.

.

.

TBC (again)


AN :

Tolong jangan minta saya untuk melanjutkannya di chapter ini, saya takut readers bosan :') karena kepanjangan, yg harusnya jadi 1 chapter saya pecah deh jadi 2 chapter xD mungkin besok atau lusa saya baru publish ending-chap nya :v #dihajar massa

Saya sadar Elsword OOC sangat disini, dan karakter2 yg lain mungkin juga T_T apa karena saya maksain semua karakter favorit saya ngecast disini kali yak? Jadi ga fit sama kepribadian aslinya hiks. Padahal rune slayer itu ceria dan baddas, tapi disini kesannya cengeng ya? Aduh maafkeun #sungkem . dan saya nyadar kok di cerita ini scenenya banyak lompat2 (skip time) kek kancil T_T

Mungkin saya perlu perjelas beberapa hal disini ya? Dimulai dari kelas. Ara, LuCiel, sama Aisha itu satu kelas, 3-B. Add, Eve, Rena, Raven di kelas 3-A. Sedangkan duo cebol ada di kelas 1-B :3 #diStormBlade

Maafkan segala kekurangan, berminatkah untuk meninggalkan review? :3