The Bride and Me
Chapter 2 : Gadis berambut hitam ?
Disclaimer:
NCT milik SM Entertainment
Cuma pinjam nama dan delusi wajah kikiikii
Cast :
Lee Taeyong (GS)
Jung Jaehyun
Seo Johnny
Ten (GS)
Ji Hansol (GS)
NCT (SM Rookies) member
Main cast :
Jaehyun X Taeyong
Slight :
Temukan didalamnya..
Rated M (Mature Content)...Rape!/DLDR/
Broken Pair
Hope you like it ^^
Gangnam, 1998
Taeyong hanya gadis kecil berusia 9 tahun saat ia pertama kali melihat gaun pengantin terindah buatan bibinya yang tercantik. Gaun bernuansa autumn dengan gaya pigeot and victory mampu membuat mata bulat gadis kecil itu terpikat. Bibinya memang luar biasa, idola nomor satunya selain sang ayah yang serba bisa. Bibinya baru berusia 18 tahun saat itu. Ia gadis tercantik yang pernah Taeyong liat.
Bibinya, gadis bermata bulat, bersuara lembut, bertubuh kecil dan berambut hitam panjang sepinggul adalah impian tiap pria di lingkungannya. Taeyong masih kecil, tapi ia sudah tau apa itu cinta. Semua karena bibinya ini, Kim Jaejoong, putri bungsu dari keluarga Kim atau adik bungsu sang ibu yang selalu mencekokinya dengan cerita cerita princess sejak taeyong masih balita.
"Kau tau Tae baby hanya kita berdua yang punya mata paling indah dirumah ini."
Taeyong mengangguk.
"Ani ani, Heechul unnie juga, tapi dia sekarang menjadi sipit karena terlalu lama mengetik buku tidak pentingnya."
Taeyong setuju.
"Dan hanya kita yang punya rambut sehitam dan sepanjang ini disini."
Taeyong tambah setuju.
"Heyy, baby, kau ini hanya mengangguk saja, nah sekarang paham kan?" bibinya berjongkok dan meletakkan tangan halusnya kepundaknya. Mensejajarkan tinggi mereka. Ia duduk di kursi sedang bibinya berdiri, kini mereka sejajar.
"Apa?"
Taeyong tak paham, memiringkan kepala kecilnya. Bibirnya poutty kedepan. Ughh imut sekali.
"Kita ini princess, jadi harus dapat prince." bibinya tersenyum, manis sekali.
"Pangeran Johnny?" Taeyong menegakkan kepalanya ceria, ia hanya tau Johnny oppa-nya yang paling tampan.
"Yakk, cari yang seperti Yunho oppa, kulitnya tan dan seorang prajurit, jangan si Johnny pendek tukang makan itu." Jaejoong mencebilkan bibirnya, taeyong pun tak setuju. Ia tak suka pria berkulit hitam. Baginya Yunho tidak tampan.
"Andwaee..." Taeyong berteriak. Drama Queen sekali anak ini. Tapi ia hanya sebal pada bibi bonekanya. "Yunho oppa itu terlalu galak, menakutkan, kenapa bibi mau padanya?" heran Taeyong kecil.
"Karena dia selalu berkata halus padaku, memperlakukanku dengan lembut, tidak pernah menyakitiku, dia tidak galak, dia tegas karena ia merasa benar, dan satu lagi, dia selalu melindungiku. Kau harus cari pria yang seperti itu kelak baby." bibinya tersenyum.
Benar kata bibinya, meski Yunho oppa, tunangan bibinya itu galak pada anak laki-laki yang suka bermain padanya dan suka menggangu gilberto si anjing siberia pemalu, ia selalu berlaku lembut dan memperlakukan bibinya bagai princess.
"Nee, aku paham." menganggukkan kepala mungilnya, taeyong pun tersenyum, bibinya memang kembarannya. Bibinya jjang.
"Yaksok nee baby.."
" Yaksok."
.
.
.
Tapi bibinya tidak bisa melihat Taeyong mewujudkan janji masa kecilnya itu. Karena bibinya harus meninggal empat tahun kemudian karena tumor otak yang dideritanya. Rambut panjang nan indah bibinya yang terakhir dilihat Taeyong tergerai indah menutupi lehernya yang jenjang harus lenyap. Tetapi rambut itu tidak musnah begitu saja. Tidak sama sekali, karena Yunho yang lalu menjadi oppa idolanya menyimpannya dalam sebuah kotak kaca nan indah. Bersama dengan gaun sang bibi yang kini Taeyong lanjutkan, sang pigeot victory, untuk melengkapi pernikahan impiannya.
^,^/
.
.
.
Seoul 2014
Pukul 22.15
"Kau masih menunggunya?" Johnny tersentak. Ia menengok kebelakang. Ia hafal betul suara itu tapi ia terkejut, bagaimana perempuan ini bisa masuk kemari.
"tchh..oppa benar-benar pria idaman." perempuan itu sudah sampai didepan Johnny, mengerlingkan matanya. Ia memakai gaun burberry royal extended 2014 berwarna putih mengetat diatas lutut. Mendudukkan tubuh semampainya dihadapannya, dikursi special untuk sang terkasih.
"Jangan duduk disitu!" Johnny masih memasang wajah tanpa ekspresinya, tak bergeming. Suaranya yang dingin tanpa intonasi berlebih. Tapi wanita didepannya ini paham betul bagaimana perasaan pria ini.
"Dia pasti sedang berpesta dimeja operasi, lupakan itu dan kita nikmati saja!" ia menyeringai tipis, mengambil marta wine marsovin berwarna purple pekat, menegaknya dengan elegant.
"Kau tau, dia terlalu naif untuk melupakanmu, dia dan profesi dokternya itu, cihh, gadis polos."
Johnny muak, lantas beranjak dari tempat duduknya, malas menanggapi ini ia berjalan kedepan melewati kursi didepannya. Alunan lagu I cant help falling in love with you-Elvis Parsley mengiringi langkah jenjangnya. Hey, ia tidak ingat pernah memesan lagu ini diruang VIP A golden nya ini, ia hanya tau You are so beautiful-joe cocker sebagai kesukaan Taeyong.
Ia lantas paham, tersenyum remeh dan berbalik menatap wanita itu, dia yang masih duduk dengan memegang champagne flute dengan nyanyian kecil menggerakkan kepalanya kekanan dan kekiri, sok asyik sendiri. Rambut pirang sebahunya tertarik kesamping kanan, memperlihatkan leher dan tatto luxury cambridge di leher kirinya, benar-benar sexy.
"Nikmatilah, aku sudah membayarnya." Berjalan kedepan Johnny seperti tak memperdulikan sekitarnya yang telah sepi.
"Sejak kapan Taeyong menyukai ini semua, seo john?. Bukankah dia buruk dalam ini." –menggoyangkan gelasnya-, meminumnya dan tersenyum manis, "...dan dalam urusan.." wanita itu beranjak, berdiri di samping Johnny, menahan tangan lawan bicaranya, lalu mencerukkan kepalanya keleher pria itu, mengendus pelan sebelum mendapat dorongan keras.
"heyy..Sex, haha.." tertawa setelah terdorong kekursi dibelakangnya "Aku baru mau bilang itu tapi kau kasar sekali baby." mencebilkan bibir berlipstik merah Rouge pur couture YSL.
"Dia sepuluh kali lebih hebat dan menawan dari dirimu." Johnny beranjak pergi. Kali ini tak menghiraukan teriakan wanita dibelakangnya.
"Hey,oppa.", wanita itu berseru-lagi- "...kau yakin pernah mendengar desahannya, mendesahkan namamu seperti aku dulu, ughh kau be-n.."
TAP
TAP
TAP
"Aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu kepada wanita sepertinya. Dia terlalu berharga." berbalik dan menyeringai, "Kau tau, pria tidak suka barang bekas yang lembek. Ji Hansol ssi.."beranjak pergi dengan senyuman tipisnya, tak memperdulikan teriakan Hansol, wanita itu dibelakangnya.
.
.
"Kau bilang aku bekas, haha, kita lihat apa yang akan kau dapatkan nanti, baby.."
^_^/
.
.
.
Jeolla Utara
Pukul 23:25
Melewati beberpa Bukchon hanok di pojok perkampungan itu, jeep willys keluaran 1957 berwarna golden black melaju gagah dengan pelan. Si pengemudi sepertinya paham dimana ia berada. Ia hanya harus menikmati jalanan desa itu dengan santai, lurus membelah kebun lobak dan melewati peternakan sapi, di tikungan itu, tepatnya disamping kanannya, rumah kuno dengan halaman luas dan memiliki garasi besar bercat coklat, disitulah dia akan berhenti dan selesai sudah tugasnya hari ini.
"tskk..merepotkan." berdecak sambil menoleh kesamping kiri bangku penumpang. Hey, ini bukan mobil buatan Korea-ini mobil Rusia-jadi ia tidak perlu repot repot menoleh ke kanan bukan?.
Disampingnya, tergolek gadis -ia tidak mau menyebutnya gadis karena ia yakin,ia bukan gadis- yang tadi sore sempat menggigit tangan kanannya. Ia harus membalasnya nanti. Menggigit buah dada kenyalnya yang sebelah kanan sampai merah dan membengkak ia rasa cukup setimpal. Dasar kucing binal.
"Kau tau berapa uang yang kulewatkan untuk jalang kecil sepertimu, tcekk, bahkan kakakmu yang brengsek itu tidak akan mampu mencicilnya. Membusuklah dia di neraka." bermonolog sendiri, ia tak habis pikir, kenapa ia jadi tambah seperti orang gila.
BLAMM
Sepuluh menit kemudian, setelah pintu gerbang reotnya terbuka, mobil gagah itu telah terpakir rapi. Lampunya masih menyala pertanda mesinnya belum dimatikan.
TAP
TAP
"Kau mendapatkannya, Jay?" sesosok laki-laki bertumbuh tinggi berperawakan jangkung keluar, membawa semangkuk jajangmyeon pekat ditangan kanannya. Sebungkus onigiri tuna ditangan satunya tinggal separuh, demi Tuhan, pria ini, kuman baginya ini, seenaknya makan dan dia kelelahan mengangkut kira-kira 45 kg daging ditangannya tadi. Belum lagi gigitan mautnya itu, ia ingin mengahajarnya saja -diranjang nanti-.
"Kenapa?marah?come on Jay, untuk urusanmu satu itu, aku tak ikut-ikut. Sudah baik aku memberi makan hewan-hewan liarmu itu." menunjuk kandang anjing dibelakang yang tak terlihat, pria itu, Kim Do Young, tersenyum sok manis.
Jay tak perduli, terus berlalu dan membuka pintu kemudi kiri mobilnya. Ternyata gadis itu, tertidur –atau pingsan- dengan pulasnya. Kepalanya terkulai di sandaran kursi. Rambutnya dibiarkan tergerai, dan baju kedokterannya terlihat kusut. Wajahnya terlihat pucat, dengan riasan wajahnya yang sudah berlepotan. Tapi ia tak akan perduli.
Menarik tangan gadis itu dan menegakkannya kedepannya, lalu menopangnya dan settt... ia sudah ada dipundaknya. Seperti membawa sepuluh kilo karung lobak, tidak, dia jauh lebih ringan dari terakhir kali ia membanting gadis ini.
"Hey tunggu." Jay tetap berjalan. Laki-laki jangkung itu-doyoung-menguntit dibelakangnya. Menutup pintu dan mengamati gadis dipundak Jay lagi
PUK
"Dia pakai baju apa ini." memegang pundak gadis itu yang menjuntai kebawah.
.
BRUGG
Jay melempar gadis itu ke kasur lapuknya, kasur kapas yang sudah sesak untuk tidur berdua. Meninggalkannya tanpa membetulkan posisi tidur gadis ini ditepi kasur.
"Jay, ini baju dokter kan, apakah dia menyamar lagi? " duduk ditepi kasur, "kali ini dokter?" mengamati gadis itu lalu membetulkan badan si gadis yang hampir merosot kebawah.
" Ini gila, seragamnya bertuliskan st marry." Doyoung terlonjak, kaget, membelalakkan matanya.
"Dasar kau gadis binal nakal, pergi sejauh itu dan mencuri ini." Ia menunjuk nunjuk gadis yang pingsan-atau tidur- dan berteriak heboh.
"Diamlah!" suara bentakan itu menyadarkannya.
"Jangan gila, buatkan aku makan, aku lapar sekali." keluar dari kamar mandi, Jay mengenakan pakaian yang lebih santai. Celana training selutut dan kaos keteknya -begitu kata doyoung- berwarna putih, terlihat ingin menikmati angin malam setelah petualangan menyebalkannya tiga hari ini.
"Aku heran, selama itu kau baru menemukannya Jay, rekor baru." Doyoung mulai membuka plastik penutup di jajangmyeon yang baru. Meletakkannya di microwave, dan memasak air panas. Ini sudah hampir tengah malam, tapi bagi mereka, ini masih sore hari.
"Dia bahkan naik BMW 320." Jay duduk dan mengambil jjajangmyeon-nya.
"Mwo.."
KLOTAK
Gelas plastik berisi coffe instant tumpah.
"Apa kau bilang,BMW 320?" Doyoung terkejut, " ...gila, dia mencurinya?lagi?"
"Aku tidak tau, tanyakan saja padanya nanti, siram saja dengan air cucian kalau terlalu lama bangun." Jay mencampur mienya.
"Lalu dimana sekarang mobil itu?" Doyoung meletakkan gelas baru, "Ini kopimu, yang terakhir sudah tumpah tadi." ia lantas duduk, turut memakan mienya yang tinggal separuh.
"Di Seoul"
"Kau gila." terkejut lagi, mulutnya penuh tapi ia tak perduli.
"Pabbo Jay."
"Kau yang pabbo, kalau bukan karena mu, dia tidak akan kabur, merepotkan."
"ishh..aku sibuk, Taeil kemari, aku bisa apa?" bersikukuh dan masih memakan jajangmyeonnya. Kesal juga lama-lama Doyoung disalahkan terus.
"Hentikan kegilaanmu dan hubungan homomu itu, atau.."
"Atau apa hah?"
Doyoung menegakkan kepalanya, menatap pria didepannya lancang, dia pikir dia siapa, sampai melarangnya dan membatasi hubungan homo -tidak ia tidak suka kata ini-, hubungan uniknya lebih tepatnya.
"hahh.." menghela nafas, Jay meletakkan sumpit dimeja, melipat kedua tangannya kedada, "...atau kau nanti tiba-tiba menyerangku hyung."
"Yakk, kau pikir aku doyan." Doyoung benar-benar jijik melihatnya. Kalaupun ia dimasuki, ia tak mau dengan si arrogant penyuka vanilla ini.
"Sudahlah, aku capek, mau tidur." Jay beranjak dari meja makan seenaknya, "Aku tidur dikasurmu." Berjalan cuek dan masuk kekamar disamping dapur mini.
"Yayaaya, tidur sana dikamarmu!" balas doyoung tak kalah keras.
"Aku malas, atau kau mau tidur denganku?" tawar Jay.
Doyoung berdiri, mematikan lampu didapur lantas menjawab, "boleh.."
"Dan besok pagi kau akan bangun dengan sperma memenuhi mulutmu, hahaaha." berlalu tetap tertawa keras dan hina.
"Yakk kau manusia biadab, awas kau.." Doyoung mengejarnya, namun terhenti didepan pintu kamarnya. Kayu mahoni itu sudah terteutup rapat. Menghela nafas, ia bisa apa kalau sudah begini. Menghadapi manusia kacrut itu, harus extra sabar. Jika tidak, ia benar-benar bisa dibobol –itupun jika Jay mau-.
"Aku akan tidur dengannya, ya itu lebih baik." Ia berbisik sendiri dan berjalan menuju kamar sebelumnya, dimana si gadis berambut hitam tengah terlelap. Tunggu dulu, hitam?, sejak kapan berubah?... Ahh Doyoung tak perduli, ngantuk.
^,^/
.
.
.
Seoul City, Pukul 00:47
Sadarkan Johnny akan ilusi ini. Ia merasa melihat baby nya di counter bar dapur memakai kemeja peach yang begitu pas ditubuh mungil itu. Menghadap kekompor, memasak apple tea dengan bau sedap menggoda.
Rambutnya dibiarkan tergerai indah, memanggilnya untuk menyentuh dan memanjakannya. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi tiba-tiba berbalik. Ia seperti bidadari, dan Johnny harus bersyukur memiliki pujaan sesempurna ini.
Lalu Taeyong, sang baby yang telah berbalik menatapnya marah, yang malah menjadi kiyowo dimata sipit Johnny. Gadis itu, menpoutkan bibir pinknya, mendekat ke counter bar dan menyingsikan mata bulatnya. Bersedekap sok galak.
"Oppa, aku menunggumu dari tadi." mencebilkan bibir pinknya, imutnya.
"Oppa pembohong." Ohh merajuk terus.
Johnny melangkah maju dengan santai, merentangkan kedua tangannya keatas, seakan akan menyambut sang gadis untuk memeluknya, dan ia tersenyum tampan. "Chaggiya, kajja peluk oppa." semakin mendekat ke counter bar. Kini ia dan sang baby berhadapan.
Sang baby enggan menatapnya, menolehkan kepalanya kekanan, ooh masih ngambek rupanya. "Baby, kau semakin cantik kalau marah, imut sekali sayangku ini.." Johnny berjalan mendekati Taeyong, memutari bar. Dan sang terkasih masih enggan menatapnya.
"Heyy, bukannya seharusnya aku yang marah baby, kau yang ingkar janji." memegang tangan mungilnya, tapi ditepis dengan lembut oleh si wanita.
" Aku menunggumu sesuai janji kita tadi, dan kau tak datang jua." menarik sang terkasih menghadapnya.
"Hahh.." Johnny menghela nafas, pura pura lelah. "Tapi Oppa tidak marah kan baby, sekarang malah baby yang marah, bagaimana ini?" menggelengkan kepala, berpura-pura sedih.
Johnny menyentuh pipi sang baby, dengan lembut dielusnya pipi tirus itu. "Kau tau, kalau kau marah, lebih baik aku mati saja, baby."
Taeyong menoleh, membelalakkan mata doe nya, "Yakkk, Oppa kenapa berkata seperti itu?" mencebilkan bibirnya, ia tidak suka Johnny begini.
"Dasar Seo John nakal, sebelum kau mati, aku yang akan mati dulu." memasang wajah sedih, ia tak mau ditinggal sang terkasih yang berharga.
"Makannya, jangan seperti ini, ayo cium seo john mu sayang ini." Johnny tersenyum manis, merayu gadisnya seperti buaya darat yang tengah dimabuk asmara, lalu memiringkan kepalanya, hendak mencium wajah mulus sang baby.
"Come one baby, aku tak sabar lagi." Johnny terkejut, menarik kepalanya. Ini bukan suara baby nya. Ia tak pernah memanggilnya baby. Itu panggilan sayang dari dirinya, lalu...
"Wae? Surprissse..." si gadis pirang sebahu, dengan gaun hitam –ia sudah berganti- berdiri dihadapannya. Memasang wajah manis dan minta ditiduri.
"Ha haaa haaa..aku baru tau kalau kau benar-benar tergila-gila pada gadis kecil itu, hahaa, baby?..haha.." wanita pirang itu, Ji Hansol tertawa keras, meremehkan pria didepannya. Berputar ke sisi counter lainnya. Mengerlingkan matanya genit, "pria bodoh.." berdecak pelan dan menatap pria didepannya makin erotis –ia hanya ingin meremehkannya-.
Johnny tersadar dari keterkejutannya, "Bagaimana kau bisa disini, wanita gila."
Johnny tak habis pikir, baru beberapa jam yang lalu ia bertemu dengannya, mengganggu makan malam romantisnya dan sekarang berdiri disini. Johnny ingin mati saja.
"Bagaimana? Kau tanya aku bagaimana?" Hansol mendekatkan wajahnya di depan Johnny, "Bahkan kau masih memakai tanggal lahirku sebagai paswordmu, Johnny seo." Tersenyum remeh dan memutar tubuhnya merapat ke kitchen set.
"Aku penasaran, bagaimana perasaan Taeyong soal ini." wanita itu tersenyum remeh.
"Itu bukan masalah." Johnny menimpalinya.
"Ia juga tau tanggal lahirku, Johnny Seo." tapi Hansol lebih mampu berkilah.
"Ia bahkan tak perduli soal itu." Johnny berbalik, menatap jendela kaca apartementnya. Pemandangan disana jauh lebih baik daripada wanita dibelakangnya.
"Dia gadis yang naif, dia pasti merasa terkhianati."
"Seharusnya kau sadar pada dirimu sendiri, nona." berbalik menatap hansol. Menampilkan seringaian yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Terutama untuk baby tercintanya, "..kau yang terkhianati, bukan Taeyong."
"Cihh, aku? Dia bahkan mendapat bekasku." Hansol tak terima. Ia mulai menaikkan sedikit intonasi suaranya.
"Kalau begitu jangan menjadi pemulung untuk kedua kalinya." suara tajam Johnny, menghentikan keangkuhan Hansol.
"Kau kakak terbaik untuknya, jangan menyakiti diri sendiri ataupun Taeyong, hentikan semuanya, Ji Hansol ssi." Johnny menatap wanita itu dengan kasihan. Ia hanya berharap gadis ini paham. Ditatapnya wajah gadis ini lebih seksama. Hansol wanita 29 tahun yang sangat cantik dan matang. Wajah dewasa nya mampu memikat siapa saja, bahkan ayahnya sempat jatuh cinta padanya. Tubuhnya juga proporsional, membentuk S line dengan sempurna. Ia seorang professor di usia muda. Hansol adalah wanita luar biasa. Tapi satu kekurangannya, tak pernah merelakan apapun yang pernah dimilikinya menghilang, tentunya setelah ia membuangnya.
"Kakak, haha..bahkan aku hanya berpura-pura untuknya. Dia gadis yang sangat bodoh." Hansol memutar bola matanya. Softlens ungunya menambah kecantikannya.
Hahh..Johnny menghela napas lagi, putus asa. Ia lantas berujar "dia tulus padamu, dia menyayangimu. Dia hanya pernah kehilangan bibinya, dan ia menganggap kau bibi keduanya."
"Kau pikir aku sudi jadi bibinya yang penyakitan dan mati itu, jangan bermimpi."
"Kau seperti ini karena mimpi kan."
"Ahh ya, lalu bagaimana ya kalau aku menghancurkan mimpinya juga, baby mu itu." tersenyum iblis menarik sudut bibirnya keatas, manis dan menipu.
Cukup sampai disini kesabaran Johnny. Ia sudah berbaik hati pada gadis ini, maju selangkah, lalu mencengkeram lengan gadis itu kencang.
"Jangan pernah menyentuhnya. Jangan pernah macam-macam atau kau tidak akan bisa melihatku lagi." Johnny mengeluarkan seringai menakutkannya.
Tapi Hansol tetap meremehkan semua, "Kau mengancamku?"
"Bukan, aku akan membunuhmu."
"Hahaaa.." Hansol tertawa. Cengkeraman di lengannya sudah lepas. Berjalan mengambil hand bag channel nya dan menimpali pria itu "Lihatlah, inilah kau yang sesungguhnya, Johnny Seo. Monster." berjalan menuju pintu.
Johnny mendudukkan tubuhnya di sofa merah marun itu, menyilangkan kaki kanannya keatas kaki satunya, lantas menyatukan kedua telapak tangannya kedepan dagu, membentuk kepalan, "Kau mulai takut, Nona Ji Hansol?"
Suara Johnny mulai berubah, bergema seperti Light Yagami.
Hansol berhenti sebelum membuka pintu, menekan gagang stainless, dan masih bersikap angkuh.
"Sebelum kau lakukan itu padaku," berbalik menatap Johnny, "...aku akan menghancurkanmu."
BLAMMM
.
.
" Ya, lakukanlah jika kau mampu, Ji Hansol."
.
.
.
.
PUK PUK
PUK PUK
Tangan itu terus mengelus rambutnya dengan halus. Taeyong rasa ummanya tambah menyebalkan. Tidak bisa apa melihat ia bahagia hanya dengan tidur.
"Eungg.." lenguhan manja gadis itu mulai terdengar. Nyawanya benar-benar belum terkumpul jika dilihat dari mata doe nya yang masih terpejam.
"Eunggggg..hwaaa.." menguap dan lenguhan khas bangun tidur taeyong benar-benar nyaring. Ia membuka kedua matanya meski sulit, menaikkan kedua tangannya keatas, lantas menarik kepalanya kekanan dan kekiri –agar berbunyi seperti biasa-. Lantas ia terduduk sambil merentangkan kedua tangannya, benar-benar gadis yang imut.
KUCEK KUCEK
KUCEK KUCEK
HOAMMM...
Ehh tapi tunggu, tangan siapa ini diperutnya, tadi sudah meng-puk puk kepalanya, sekarang sudah melingkar di perut rampingnya, erat sekali.
Taeyong menurunkan kepalanya, menoleh kesamping kiri, matanya masih lima watt, tapi tunggu, badannya kok pegal semua, ada apa ini?
Mulai membuka kedua matanya lebar dan ia sudah berharap bahwa itu Markie-nya tapi sosok ini..
KEDIP
KEDIP
.."_"..
KEDIP
KEDIP
.."_"..
.
.
"YAHHHHH, kau siapa?" teriakan cemprengnya benar-benar.
"Eummm, tiffany baby, wae geurae?" sosok ini masih menjadikan perutnya guling.
"Yaa kau ini siapa, bocah tengik menyingkir dariku"
Brukk
"Aduhh.." sukses, sosok itu, Doyoung terguling kelantai baunya dengan keras.
"Rasakan!" Taeyong tersenyum menang. Tanpa ia tahu doyoung sudah berdiri dan melemparkan sandalnya.
PUK
"Aww.." poor kepala cantik Taeyong.
"Gadis binal gila, kau ini mau kuperkosa hah." dia benar-benar murka.
Apa katanya tadi, memperkosa, Taeyong tersadar, "A-apa maksudmu, yakk kau gila. Kau siapa?" Taeyong beranjak dari kasur itu. Menarik tubuh kecilnya ke sudut dinding. Merapat dan melotot menakutkan, bukan tapi ketakutan. Dan kini, dia benar-benar ketakutan.
"Hah, mulai gila. Tiga hari pergi lalu amnesia, mati saja kau!"
"Apa maksudmu? Aku dimana?" Taeyong mulai sadar, meneliti sekelilingnya. Ini bukan kamar apartement mewahnya, ini mirip...gudang.
"Kau ini benar-benar.." Doyoung melangkah maju, menyeringai kecil.
"Jangan main-main atau kulaporkan pada polisi" Taeyong masih waspada. Doyoung berjalan ke arah pintu, membuka pintu, ia sudah akan membuka mulutnya lagi sebelum..
.
"Kau akan mati sebelum itu terjadi, b*tch." Jay sudah berdiri disini. Ia sudah wangi. Rambutnya masih sedikit basah. Kemeja coklat dan baju armany nya begitu manis membungkus tubuh atletisnya. Ia naikka tangan kanannya ke tiang pintu. Gesturenya benar-benar sexy.
"Keluarlah hyung, aku butuh bicara pada jalang ini!" ultimatum Jay.
"Ya ya sana, aku bisa gila lama-lama disini, selesaikanlah." Doyoung tak perduli, lantas berjalan keluar. Lebih baik ia membuat sereal. Memberi makan cacing-cacing imutnya yang sudah tak sabaran.
"I'm coming, sayang-sayangku." Sudahkah aku berkata bahwa Doyoung itu peternak cacing?.
^,^/
.
.
.
Taeyong masih dengan pandangan waspadanya dipojok dinding kini semakin terpojok. Kedua matanya membola, kedua tanganya melindungi dadanya-hanya ini yang ia pikirkan-. Seakan waktu berhenti, pria itu, yang bernama Jay berjalan pelan nan pasti. Mendekatinya sembari menyeringai.
TUK TUK TUK
"Kau masih ingat perbuatanmu kemarin, mau membunuhku lagi, mari selesaikan sekarang, my lovely." seringainya muncul lagi, kali ini lebih jelas. Ia bahkan seakan mengejek dan menagih janji.
"Jangan maju lagi, atau.."
"Atau apa lovely, atau lubangmu mau kubuat kendur, hahaaa..." pria itu tertawa. Tampan sekali, tidak-tidak, maksudnya mengerikan sekali. Berjalan semakin kedepan, semakin memperlambat tempo, seakan-akan sengaja memainkan perasaan taeyong.
"Ayo selesaikan disini, sekarang juga, jalangku sayang."
Dan mulut kotor pria itu terlalu menakutkan bagi Taeyong. Ia bahkan tak pernah berkata kasar –kecuali tadi-. Apalagi orang-orang disekitarnya. Mereka memperlakukannya bak putri mahkota. Tapi pria ini, pria yang baru dikenalnya beberapa menit yang lalu –ia bahkan tak mau kenal-, mengatainya dengan kata-kata tak pantas. Dia pikir dia ini siapa sih.
"Kau mau apa hah.." Taeyong jadi gemetaran sekarang.
Pria itu semakin mendekat, bau vanilla nya mendominasi. Ahh, Taeyong ingat, pria ini, pria yang tiba-tiba muncul dan meneriakinya, lantas membawanya kemarin. Pria tampan berkulit putih, berperawakan tinggi seperti pangeran idamannya. Tapi mulutnya kotor. Taeyong ingat semua dan ia marah sekali.
"Kau..siapa kau bajingan busuk. Apa maumu hah?" Ia memberanikan diri, menegakkan badan dan menurunkan tangannya kebawah.
"D-dan kenapa kau mebawaku kesini hah." Taeyong benar-benar tak tahan. Pria ini mengacaukan semuanya. Seharusnya kan semalam dia sudah pergi menemui tunangannya, atau berkutat dengan pasien-pasiennya.
"Aku? Kau bertanya siapa aku?"
Sekarang Jay hanya berjarak satu meter dari hadapannya, dan ia benar-benar tampan –seseorang sadarkan Taeyong, kumohon-. Ia bahkan sampai tak berkedip melihatnya, dan tiba-tiba pria itu sudah berada dihadapannya –lagi-.
Menarik tangan rampingnya dan membuatnya masuk kedekapan hangat pria itu. Tak berkedip, Taeyong hanya diam saat tubuh mungilnya sudah ada dipelukan pria ini. Wangi vanilla benar-benar memabukkannya –lagi-.
"Kau.." Taeyong terpana, tubuhnya lemas dan pria itu mulai memeluknya lebih dalam. Membelai pipi halusnya, menuju ke rambut panjangnya yang tergerai. Lalu menyisipkan rambutnya ke kuping kirinya.
"Siapa..?"
Ini benar-benar memabukkan Taeyong. Semua seperti hampa, dan kosong. Dan tiba-tiba ia tak mampu merasakan apapun. Sampai pria itu menarik kepalanya, mencerukkan kepalanya keleher Taeyong,menjilatnya pelan, lalu membisikkan kalimat ambigu ditelinganya.
.
.
"Aku kekasihmu my lovely, Jung Jaehyun. I'm yours.."
.
.
Tcipok Bang Chanwo
^,^/
Eiyeyeyeye..hands up if you feeling the vibe's now
Anyyeong sunbaenim,
Hwaa finnaly ini chap yang lumayan panjang dengan words yang menurutku lumayan bikin capek, tapi bikin nagih si ngetiknya. Karena ide harus terus dan cepat dituangkan, sebelum lupa hehe..
Oke makasih sebelumnya buat yang review, yang follow dan fav ff gaje ini, aku terharu subaenim semuanya hehe..
Sejujurnya ff ini agak berat si buat aku, karena aku ngetiknya disamping kesibukanku sebagai Maba di kedokteran gigi, dan itu jadwalnya sok ribet banget ngett, so..baru pertamanya masuk aku udah harus hard banget ngejar jadwal dan kejar billing sks /eaa curhat, dan gilanya, anak-anak di kelas aku, bersyukurlahh.. mereka KPOPERS juga hahaaa, dan mereka lagi demen sama NCT, eyaaaaiii..NCT in your area/pinjem ya gb tetangga...
Jadi walau sibuk aku dapat vitamin deh heehee..oke hentikan saya disini.
Dan aku pengen ngasih teka-teki si sama kalian sebelumnya, tapi gajadi si, soalnya udah terungkap dikit-dikit disini hehe..
Buat adegan Ncnya, hehe ditunggu chap depan nee, sorry agak lambat, tp sudah aku planning kayak gini si, mian nee semua, tunggu chap depan, biar tiwai elerlelre duluu sama Jae, jan ngintip pliss /sungkem
And thanks to : mybestbaetae, Sekar310, maya han, llia94, Minorin91, chennie21, nana nct, Ryuu Sakamaki, Ichaa846, Jeonkim12, restiana dan miann yang nggak kesebut yaa. Pokoknya yang sudah fav, follow, review sama ngasih masukan kece buat fanfic abal dan gaje ini..
Psttt..saya updatenya molor yee.. REVIEWW PLISS KEKEKE
