The Bride and Me

Chapter 3 : Mari Bercinta!

Disclaimer:

NCT milik SM Entertainment

Cuma pinjam nama dan delusi wajah kikiikii

Cast :

Lee Taeyong (GS)

Jung Jaehyun

Seo Johnny

Ten (GS)

Ji Hansol

Kim Do Young

Main cast :

Jaehyun X Taeyong

Slight :

Temukan didalamnya

Warning:

NC21+

Rated M (Mature Content)...Rape!

/DLDR/

Broken Pair

Hope you like it ^^

Cuma mau ngingetin, chap ini 80% NC nee, GS. Jadi buat yang nggak suka, close aja nee. Aku nggak membatasi umur, karena aku sendiri masih dibawah umur, tapi udah bikin ff ini. So, aneh kalo aku membatasi pembaca. Cuma mengingatkan saja. Enjoy !

^,^/

"Kau.." Taeyong terpana, tubuhnya lemas dan pria itu mulai memeluknya lebih dalam. Membelai pipi halusnya, menuju ke rambut panjangnya yang tergerai. Lalu menyisipkan rambutnya ke kuping kirinya.

"Siapa..?"

Ini benar-benar memabukkan Taeyong. Semua seperti hampa, dan kosong. Dan tiba-tiba ia tak mampu merasakan apapun. Sampai pria itu menarik kepalanya, mencerukkan kepalanya keleher Taeyong, menjilatnya pelan, lalu membisikkan kalimat ambigu ditelinganya.

.

.

"Aku kekasihmu my lovely, Jung Jaehyun. I'm yours.."

.

.

*...*

.


Taeyong seakan mati rasa, lemas tak berdaya saat si pria vanilla, yang mengatakan miliknya itu membelai pipinya lembut. Mengendus wajahnya pelan dan hati-hati, seakan ia adalah porselein yang wajib dijaga. Taeyong mendengarnya tadi, saat pria itu menyebutkan namanya, dan mengatakan ia kekasihnya, ia masih bisa menggunakan indera pendengarannya, tapi tidak dengan tubuhnya yang kehilangan tenaga.

Pria itu, Jung Jaehyun menarik leher Taeyong, meletakkannya kebahu kekarnya. Tangan berototnya turun kebawah, menarik pinggang kecil Taeyong hati hati, lembut sekali perlakuannya. Memeluk Taeyong dalam sekejap saja, seakan-akan tubuhnya memang diciptakan khusus untuk didekapnya, pas sekali.

"Kau kemana saja, cintaku, jangan begitu lagi, membuatku bingung mencarimu kesana kemari." bisiknya parau sembari mengelus punggung Taeyong lembut.

Taeyong terkesiap, ia tak mengenal pria ini dan bagaimana bisa ia berkata begitu. Seakan sadar dari kebodohannya, Taeyong mendorong pria itu keras-keras, lantas menatapnya nanar.

"Kau siapa bajingan, berani-beraninya begini padaku, kau maniak hah?"

Kata-kata kasar Taeyong menyentak nurani Jaehyun. Apa katanya tadi, maniak dia bilang. Bhhaaah..siapa yang maniak disini, dia atau gadis binal ini.

"Siapa katamu?" mendecih pelan, menatap gadis itu tajam. Pandangan Jaehyun yang tadinya melembut berubah menjadi kejam lagi. "Jangan berpura-pura lagi, aku sudah muak denganmu." bentaknya keras.

Taeyong terpaku mendengar suara itu, ia mulai ketakutan lagi. Maka ia mundur kebelakang, menabrak tepi tempat tidur dan menggelengkan kepalanya kebingungan.

"Sungguh, ak-aku tidak mengenalmu. B-biarkan aku pulang." jawabnya dengan terbata-bata.

"Cihh, pulang katamu?" Jaehyun mengambil rokok disakunya, menghidupkan korek dan melesakkannya kemulutnya keren.

"Memangnya kau punya rumah lagi hah, kau itu hanya bisa menyusahkan saja, ayo selesaikan sekarang juga." ujarnya lagi, kali ini dengan nada tinggi.

Taeyong tak mengerti, menatap pria itu takut-takut. Ia baru sadar, pasti selama ini pria itu salah orang. "Aku paham sekarang." mulai berani bicara.

"Kau pasti salah orang, aku bukan kenalanmu itu." cicitnya takut-takut.

Pria ini seram juga lama-lama kalau dilihat. Meski wajahnya tampan, tapi ucapannya dengan intonasi keras itu menakuti Taeyong juga.

"Kau juga bilang seperti itu padaku saat di Chungnam bulan lalu, kau mau lari lagi hah." bentak si pria tambah keras. Apa maksudnya, Taeyong benar-benar tak paham. Ia bahkan baru satu kali bertemu pria ini, dan itu hari ini.

"Kau sudah melakukan ini padaku." Jaehyun membuka kaosnya cepat, menunjukkan luka di perut kanannya yang mulai mengering, tapi masih merah. Itu, bekas jahitan kecil kan. Taeyong membelalakkan matanya, menutup bibirnya dengan kedua tangan telapak tangannya.

"Kau harus ditangani dengan baik, aku bisa lakukan itu." ujar Taeyong spontan. Jiwa dokternya membara melihat luka goresan itu.

Jaehyun menyeringai, menatap wanita didepannya ini minat, berkacak pinggang dan menegakkan tubuhnya angkuh. "Cihh..kau mau membunuhku lagi begitu?" tuduhnya.

Taeyong tersentak, pria ini menuduhnya terus dengan hal buruk. Ia jengah juga lama-lama. "Kalau kau tak percaya yasudah, aku juga tak mau membuang tenaga dan waktuku ku hanya untuk hal bodoh sepertimu." Tanpa sadar mencebilkan bibirnya. Terhina sekali dia sebagai dokter profesional. Dituduh, dibentak-bentak, dihina dengan kata-kata kotor, apa maunya pria ini.

Jaehyun menyadari sesuatu."Kau oke juga dengan rambut hitam begitu." memicingkan mata sipitnya, tangannya menyentuh puncak kepala Taeyong, memutarnya tak sopan. "Jadi lebih.." Jaehyun memajukan wajahnya kearah Taeyong, berbisik didepan wajahnya."...sexy.." bisiknya menakutkan.

"A-apa maksudmu." jawab Taeyong gugup.

"Dari dulu rambutku begini, pria aneh." pungkasnya.

Jaehyun menegakkan tubuhnya, mengelus dagunya yang mulai ditumbuhi rambut tipis, jenggot seksinya. "Kau masih berhutang padaku, sebagai istri kau harus memenuhi kewajibannmu, tapi tidak, kau malah melakukan ini." menunjuk perutnya lagi."Dan kau tau bagaimana marahnya aku."

Apa katanya tadi, istri, pria ini semakin ngelantur saja. "Kau salah orang, benar-benar salah orang, biarkan aku pergi, minggir." Taeyong jengah sudah. Ia menerobos kedepan, dengan tujuan pergi dari tempat aneh ini, tapi dorongan pria ini membuatnya terjatuh kekasur lapuk. Taeyong yang terkejut menatap pria ini sebal, ia benar-benar muak.

"Apa maumu hah?" tantang Taeyong kemudian, berdiri dihadapan Jaehyun dengan pongah, berkacak pingang.

"Mengambil hakku." menjawab lantang dengan smirk setannya. Jaehyun maju mendekati Taeyong. "Puaskan aku dengan tubuh sexymu itu, seperti kemarin-kemarin saat kau jadi jalang penurutku."

CUIHH

.

.

Taeyong meludah, tepat mengenai mulut pria itu. Tinggi pria itu menyulitkan Taeyong, tapi ia tak kan gentar.

Jaehyun menatap kaget wanita yang tingginya dibawah pundaknya itu, masih dengan ekspresi bad boy nya."Kau memang jalangg.." teriaknya nyaring.

"Maka ayolah, jadi jalangku lagi, malam ini.." ujarnya kalap dan dibutakan emosi.

.

.

.

Doyoung membuka kotak serealnya. Uhh, masa setiap hari dia harus makan sereal, telur mata sapi, sereal lagi, telur lagi. Hahh..dia benar-benar rindu masakan rumahan.

Menatap mangkuknya yang sudah terisi sereal coklat, Doyoung jadi merindukan Taeil, kekasih prianya yang royal. Kalau ada Taeil, meja didepannya pasti penuh dengan makanan Korea yang lezat. Apa yang bisa ia harapkan disini selain kelaparan, dan menjadi busung lapar.

.

"Kau memang jalangg.."

.

Menolehkan kepalanya kearah pintu berkayu mahonni, Doyoung memutar bola matanya gusar. Dasar, mereka itu pasangan biadab, kalau sudah bertemu, mulutnya sama-sama kotor. Apa tidak bisa berlaku manis seperti ia dan Taeil.

.

"Maka ayolah, jadi jalangku lagi, malam ini.."

.

Bahkan ini masih pagi, dan Jaehyun minta nambah begitu. Ehh, ani. Mereka kan baru bertemu tadi, dan Jaehyun sudah hard begitu. Maklumlah mereka tak bertemu hampir empat hari ini. Apalagi Jaehyun kan maniak seks kalau dimusim semi begini. Dan gadis gadis simpanannya sudah kabur karena musim semi merubah segalanya.

"Ehh, susunya mana.." Doyoung celingak-celinguk menjamah kitchen set dapur reot itu. Ternyata susu untuk si sereal habis, botolnya sudah tandas tak tersisa.

"Hahh.." mendesah lelah. Mau makan saja susah sekali sih. "Aku tak suka susu murni, mau tak mau beli kekota, sabar sabar."

Maka ia berjalan lunglai kearah pintu keluar setelah mengambil kunci diatas bifet, menuju mobil Jeep tua Jaehyun, lantas membuka daun pintu mobil itu malas.

"Kalau begini, aku dikota saja terus. Masa bodoh umma marah-marah, yang penting aku tak kelaparan begini." memasukkan kunci mobil, mulai menstater sebelum..

"Ehh apa itu.." matanya terpana pada sebuah benda dengan bahan dasar kulit, teronggok di dekat persneleng.

"Dompet, punya siapa?" mengambilnya dan menimang-nimang.

"Apa mungkin Jaehyun, tapi girly sekali bentuknya." Mulai membuka pengait dompet itu dan menatap isinya satu persatu. Termasuk kartu pengenal di didalamnya.

"Ehh..apa ini. Inikan.."

.

.

.

.

Jaehyun mendorong keras tubuh ramping Taeyong kekasurnya. Langsung menindihnya dengan tubuh kekarnya tanpa aba-aba. Dilihatnya mata gadis itu yang membelalak ketakutan. Bola matanya yang besar jadi tambah besar. Lantas Jaehyun merasa menang. Gadis ini ketakutan, yang benar saja.

"Woww..woww, kau kenapa, takut?" mengenduskan kepalanya kehidung Taeyong. Menatapnya dengan jahat.

"Lepaskan aku..lepp-passhh..tolong..tolongg.." berontak Taeyong kemudian.

Jaehyun kalap juga akhirnya, maka sembari membekap mulut gadis itu dengan tangan kanannya, tangannya yang satunya menarik tangan gadis itu, menguncinya diatas kepala.

"Diam kau, shitt diamm kubilang." bentaknya.

"Ehmm ehmmm...bbmm.."

"Haha, apa kau bilang.."

"Ehmmm..ehmm.."

"Auww yakk.." dan tanpa perhitungan, gadis itu menggigit tangannya, menendang perutnya –yang tadi terluka dengan kasar-, duduk dan tersadar mulai akan berlari.

Tapi Jaehyun dua kali lebih cepat. Mengibaskan tangannya yang digigit dan meringis karena perutnya yang perih, ditariknya rambut hitam si gadis yang tergerai liar keras-keras. Taeyong yang tengah berdiri, hendak kabur lagi, mengaduh kesakitan.

Belum sempat berkata apa-apa, tubuhnya sudah dibanting lagi, kekasur keras tadi.

"Kau tak akan kulepaskan lagi. Mari, puaskan aku, desahkan namaku dan kita keluar bersama-sama." pria itu, yang kini tengkurap diatasnya, memerangkap tubuh mungilnya, menatapnya dengan pandangan buas.

Taeyong benar-benar ketakutan sekarang. Kepalanya bergerak kesana kemari, mencari pertolongan, lantas bergeleng keras dan menolak semua ini. Tapi tenaganya yang jauh lebih kecil dari tubuh atletis pria ini bisa apa, ia hanya wanita bertubuh mungil dan tak jago olahraga.

Jaehyun menarik tangan Taeyong lagi keatas hanya dengan satu tangan. Taeyong dibawahnya sudah meronta-ronta dan minta dilepaskan. Tapi ia sudah kalap, segala kesakitannya membutakan semua ini. Maka ego dan hasrat juga nafsunya bercampur jadi satu. Apalagi saat dilihatnya wajah ketakutan gadis dibawahnya, ia benar-benar bersemangat mengerjainya.

"Kumohon jangan...tolonggg..siapapun tolongg akuu..ughhh tolong.." Taeyong masih meronta-ronta. Ia mulai menangis sekarang, matanya berkaca-kaca dan butiran bening menghalangi pandangannnya.

Tapi dimata Jaehyun, itu malah terlihat menggairahkan. Saat wanitamu tak berdaya dengan rambutnya yang tengah kusut dan tergerai kemana-mana, itu menjadi penambah kekuatanmu yang sesungguhnya.

Tanpa Taeyong duga, Jaehyun melepas kaosnya cepat, lalu menggunakannya sebagai pengikat pergelangan tangannya. Kedua tangganya kini terikat erat diatas kepalanya. Bersatu dengan kayu penyangga yang masih kokoh.

Taeyong makin berteriak lantang, memberontak liar. Maka Jaehyun mengambil tissue di meja nakas samping tempat tidurnya, menyumpalnya ke mulut kecil Taeyong. Tak perduli jadi seperti apa nantinya.

Jaehyun membenarkan letak tidur Taeyong, menarik pinggangnya keatas, merapat ke senderan tempat tidur diatasnya. Kepala Taeyong seketika terantuk tembok diatasnya, pusing melandanya seketika. Tapi Jaehyun tak perduli.

Jaehyun beranjak dari atas tubuh Taeyong, menatap Taeyong yang kepayahan, dimana rasa pening tengah melandanya.

Menyunggingkan senyumnya nakal, Jaehyun beralih ke sepatu Taeyong. Melepasnya tak sabaran tak baralih menatap tubuh gadis itu. Gadis itu masih memakai jubah kedokterannya. Karena sebelum dibawa Jaehyun, ia memang tengah bersia-siap dengan tugas besarnya.

Ia memakai celana bahan berwarna abu-abu semata kaki. Nampak pas dan membentuk indah dikaki jenjangnya.

"Mari kita buka topengmu, sayangku." ujar Jaehyun lembut, namun menakutkan ditelinga Taeyong.

Saat atensi Taeyong kembali menatap Jaehyun, pria itu sudah berada di atasnya –lagi-. Menindih tubuh mungil Taeyong. Tangannya mulai bekerja, membuka jas kebanggaan Taeyong dengan tak sabaran. Taeyong menggerakkan tubuhnya brutal, tapi..

.

PLAKK

Tamparan itu mengenai pipi kanannya.

.

PLAKK

Yang ini pipi kirinya, lagi, dan ia benar-benar pusing sekarang. Pria ini berani melakukan ini padanya. Hal kasar dan bajingan ini. Ia bukan manusia.

"Kau terlalu merepotkan. Diamlah dan nikmati saja." ujar Jaehyun diatas sana.

"Bukankah kau suka yang kasar begini." menjambak rambut Taeyong keras. Menarik kepala Taeyong agar menatap kearahnya.

"Hay kau gadis masokis, mau diperlakukan sadism dan masochism seperti dulu, seperti pria-priamu yang lain itu, korban gilamu, maka ayo kita lakukan, dengan menyenangkan." ucapan pria itu, seakan merampas detakan jantung Taeyong saat itu juga. Ia tau apa arti itu semua. Maka saat itu yang ia ingat hanya dua hal, Appanya dan Johnny, kekasihnya disana.

.

.

.

Doyoung berjalan mondar-mandir didepan pintu kamar Jaehyun. Bagaimana ini, ia bingung sekarang.

Uhh..mengacak-acak rambut pirangnya, kembali menatap pintu besar itu. Pintu yang tengah terkunci rapat dari dalam. Doyoung harus apa sekarang.

Setelah melihat isi dompet tadi, maka Doyoung kini paham siapa yang sekarang berada didalam dengan si Yoon Oh itu.

Dia Lee Taeyong, yahh Lee Taeyong. Kartu kewarganegaraan dan kartu pegawai didalam dompet membuktikan segalanya. Ia seorang dokter, usianya baru genap 25 tahun, warga asli Seoul dan ada fotonya dengan seorang pria tampan juga didalamnya –Doyoung yang bilang tampan, ia tahu mana yang tampan dan tidak-.

Pantas saja dia merasa janggal dari awal.

Saat Jaehyun membawa gadis itu kemari. Memakai seragam kedokteran, oke biasanya tanpa logo rumah sakit, dan demi Tuhan, apa ia tak melihat namanya di jubah kedokteran itu. Apa matanya siwer. Lalu rambut sigadis itu, warnanya sejak kapan jadi hitam, bukan merah lagi. Sejak kapan cat rambut bisa merubah rambut seseorang jadi seindah itu.

Satu lagi, tubuhnya lebih ramping, mungil dan pinggangnya kecil. Heol, ini baru tiga hari sejak kepergiannya. Mana mungkin seseorang bisa kurus dan menyusut secepat itu.

Dan terakhir, suaranya yang lebih halus dan cempreng. Dimana mulut yang selalu mengeluarkan kata-kata kasar itu, dimana dia.

Lalu bagaimana ini, Lee Taeyong itu, didalam sana saat ini tengah dalam bahaya besar. Bahaya yang akan merusak masa depannya. Tapi Doyoung, ia tak akan bisa melawan kuasa Jaehyun, meski ia dongsaengnya sekalipun. Doyoung tak akan mampu.

.

.

.

Jaehyun berhasil menanggalkan jas berwarna putih gadis itu, menyampirkannya keatas, ikut membelit tangan Taeyong di atas sana. Jaehyun menarik celana dengan gesper kecil diatasnya dengan buru-buru. Membuat tubuh bagian bawah Taeyong kini naked.

Taeyong terkapar dengan ekspresi pasrah. Ia benar-benar pusing sekarang. Ia hanya bisa menggerakkan kepalanya lemah, menggeleng tanda penolakan.

"Diamlah, atau aku melakukan hal kasar lagi padamu!" perintah Jaehyun mutlak.

Celana itu sudah tanggal dari kaki jenjang Taeyong teronggok dilantai dingin sana.

.

Gluk..

Jaehyun menelan ludahnya kasar. Heoll..sejak kapan gadis ini menjadi semulus ini. Paha mungilnya yang putih bersih tanpa noda benar-benar menantangnya. Apa berada di Seoul sesingkat itu mengubah segalanya. Maka Jaehyun ingin pindah kesana saja nanti.

Jaehyun mengelus paha itu lembut. Taeyong terkejut dengan perlakuan itu. Ia memekik ngeri dan ketakutan sekali. Tapi ia tak bisa berteriak lebih keras, karena mulutnya kini tersumpal kain lebil tebal, ia bahkan kesulitan bernafas sekarang.

Pandangannya sudah berkunang-kunang, kepalanya pening bukan main dan tubuhnya lemas. Taeyong hanya bisa menangis dalam diam. Ia merasa hancur saat ini. Sebelum jauh melangkah, ia hanya ingin mati saja.

.

.

Jaehyun menatap gundukan mungil ditengah-tengah selangka gadis itu. Kemaluan si gadis yang masih tertutupi kain hitam bermotif bunga-bunga strimin. Bulu halusnya mengintip dari celah celah celana dalam itu.

Jaehyun mengelusnya lembut, menarik bulu halus itu main-main. Benar-benar menggairahkan. Jaehyun terus mengelusnya, sedangkan Taeyong diatas sana mulai menggerakkan badannya liar, enggan disentuh, malu dan ketakutan. Ohh, sudah pulih tenaganya sekarang ternyata.

Jaehyun tak ingin ini berjalan lama, sambil menduduki lutut si gadis agar tak bergerak kesana kemari –kakinya-, ia mulai melancarkan aksinya.

Hanya tinggal kemeja chiffon bermotif bunga bunga sebahu tanpa lengan itu, dan ia bisa memainkan tubuh mulus ini.

.

Krekk..krekk..krekk

Gunting itu membelah liar kemeja yang masih menutupi tubuh si gadis. Tak perlu bersusah susah bukan. Kedua sisinya terjuntai kebawah. Membuka akses Jaehyun yang kini bisa menatap buah dada si gadis. Masih tertutupi bra berwarna hitam, satu couple dengan celana dalamnya tadi.

.

Krekk

"Merepotkan.." ucap Jaehyun sambil memotong pengait bra tiba-tiba. Taeyong membelalakkan matanya ngeri. Menggelengkan kepalanya kesana kemari, ia menangis ketakutan.

"Cupp..cupp..jangan kawatir, ayo kita mulai, baby.."

.

"baby.."

.

.

Kata kata itu, Ya tuhan Johnnynya. Taeyong menangis. Hanya tinggal menunggu hari ia akan menikah dengan Johnny. Semua telah ia dan Johnny persiapkan. Ia dan Johnny sudah tersenyum bahagia, menyongsong hari yang sakral itu. Ia sudah mengerahkan tenaga dan pikirannya untuk pernikahan impiannya itu, bulan Februari nanti Tapi apa, ia mengalami ini, dengan bajingan ini, ditempat busuk ini. Ia diperkosa.

Taeyong menangis sesenggukan. Kepalanya bergerak liar. Dunianya hancur, mimpinya hancur. Harga dirinya sebagai wanita terhormat yang selalu dilindungi pria-pria disekitarnya, disanjung dan dipuji, hancur sudah. Juga masa depan indahnya, mimpinya sebagai pengantin terindah dengan Johnny oppanya, musnah sudah.

Taeyong terus menangis keras-keras dalam sumpalan kain itu dimulutnya, saat Jaehyun menciumi lehernya beringas. Menjilati leher, rahang wajahnya, naik ke pipinya dan menjilat matanya dalam-dalam. Menghapus air matanya yang mengalir , membentuk anak sungai nakal. Jaehyun tersadar, gadis didepannya ini sangat cantik, sangat. Kenapa ia baru menyadarinya selama ini. Lihatlah mata indahnya tadi, hidung mancungnya, alis indahnya, dagu runcingnya dan tubuh mulusnya. Kemana saja ia selama ini hah.

"Jangan menangis, aku akan memuaskanmu, aku yang mengambil alih kewajibanmu. Kita satu sama sekarang." ujar Jaehyun lembut kemudian, membisikkannya ketelinga Taeyong.

"Anggap saja ini sebagai balasan atas apa yang telah kakakmu lakukan. Mengerti." tutup Jaehyun.

.

.

.

Jaehyun mengarahkan lidahnya ke payudara Taeyong, menjilatnya liar. Beralih ke nipple merah mudanya, meggigitnya kecil-kecil, melumatnya seakan ia bayi yang minta meminta minum ibunya. Buah dada gadis ini sangat pas dengan kemauannya. Tidak besar tapi tidak juga kecil. Saat ia menangkupnya, sangat pas ditelapak tangannya.

Jaehyun meremas buah dada itu keras, menghasilkan pekikan diatas sana. Gadis itu memekik terdiam. Mulutnya yang tersumpal menghalau dawai nadanya mendesak keluar. Jaehyun yakin, si jalang ini pasti diam-diam menikmatinya.

Jaehyun melanjutkan aksinya, menjilat tubuh si gadis, lantas menggigitnya, menghisapnya dan meninggalkan bekas ruam-ruam kemerahan dikulit mulus gadis itu.

Dielusnya buah dada itu lembut, turun melewati tengah buah dadanya, memutari perut dan perut rampingnya. Jaehyun bersyukur punya si jalang ini, dan melakukan malam pertamanya seperti ini.

Jaehyun mengecupi pusar mungil itu turun kebawah, menatap kemaluan si pasangan yang masih tertutupi kain, lantas menariknya kasar. Membuat vagina si gadis terpampang nyata. Mulus, putih, kenyal dengan bulu-bulu halus tadi.

Diendusnya kemaluan itu dengan lembut, menggigitnya kecil dan menjilatnya, membasahi penuh gairah. Terus turun kebawah, menuju bagian pangkal vagina perawan itu. Menjilati liar klitoris si gadis yang minta dijamah.

Lalu melebarkan paha si gadis tak sabaran, dilihatnya bagian dalam vagina itu. Pink, segar dan sedikit berlendir.. Ohh, jadi inilah dirimu yang sebenarnya anak nakal.

.

.

.

Jaehyun menjilat bagian dalam paha Taeyong, melebarkan paha itu, dan mengecup manis vagina didalamnya. Jaehyun menepuk pantat Taeyong seperti bayi. Lantas menarik bokong itu naik keatas, memangkunya dipahanya dan membawa kaki kanan si gadis keatas pundaknya, disusul kaki kirinya, melebarkan kakinya lebih luas. Kini vagina si gadis tersaji didepan mulutnya.

Diciuminya paha bagian yang sudah terbuka lebar itu, meninggalkan jejak jejak biru disana. Menghisap vagina yang tersaji didepannya dalam dalam, seakan membuka akses gairah si gadis yang terpuruk.

.

"Eughh.." sukses, si gadis melenguh tanpa sadar. Memejamkan mata, Taeyong mengumpati dirinya sendiri yang tanpa sadar menikmati apa yang Jaehyun lakukan dibawah sana. Ia menangis lagi, merutuki kebodohannya. Lantas menggigit bibir bawahnya keras.

.

"Kau menikmatinya bukan." tanya Jaehyun sarkastik.

Diletakkannya pantat Taeyong, kembali kekasur. Ia merayap naik keatas tubuh Taeyong, lalu membuka penyumpal bibir Taeyong. Belum sampai Taeyong menghirup udara disekitarnya, ia melumatnya ganas. Memagutnya brutal, menghisap bibir pucat itu, lantas melesakkan lidahnya kedalam. Merajut lidah Taeyong didalamnya, bertautan dengannya.

Taeyong membelalak kaget. Kakinya menendang-nendang kesana kemari dalam pagutan lidah liar itu, tapi tangannya masih tertaut tali pati diatasnya, perih sekali pergelangan tangannya ini. Bunyi kecipak lidah mendominasi suasana panas itu.

.

DUGG

.

"Auww.."

Tanpa aba-aba ia menendang selangkangan Jaehyun. Pria itu berdiri spontan, memegangi kemaluannya yang luar biasa sakit. Melompat-lompat dan mengaduh seperti cacing tersiram perihnya garam.

.

"F*ck, kau gadis jalang.." melupakan tingkahnya, Jaehyun berjalan murka kearah lemari reot dipojok sana. Mengambil sesuatu yang tak pernah Taeyong bayangkan. Taeyong yang mulutnya sudah bebas, melancarkan aksinya lagi, berteriak minta tolong dan berontak melepaskan diri.

Jaehyun berbalik, membawa botol kecil berwarna coklat ditangan kanannya, tersenyum menakutkan pada Taeyong.

"Kajja, kita buat kau keranjingan dan terus mendesahkan namaku, Jaehyun.. Jaehyuunn..hahahaa.." Jaehyun berjalan bagai malaikat pencabut nyawa kearah Taeyong.

Maka yang Taeyong rasakan setelahnya yaitu, kepalanya ditarik keatas, mendongak dipaksa menelan cairan aneh ini. Ia memberontak, tapi rahangnya dicengkeram dengan keras, sakit sekali, membuatnya menjerit spontan, dan cairan itu sukses mengalir melewati tenggorokannya. Sensasinya yang dingin mengejutkannya.

Jaehyun tertawa puas melihat Taeyong kesusahan menelan satu botol kecil cairan itu. Perfect, obatnya sudah masuk dengan baik.

"Kau tau, itu barang mahal, limited edition, blue sea merknya, made in Aussie. Kau beruntung bisa merasakannya, maka, nikmatilah sayangku." suara pamer Jaehyun, tak didengarkan Taeyong dengan pasti. Ia sibuk menggesek-gesekkan pergelangan tangannya, perihnya bukan main. Kakinya bergerak liar kesana kemari. Menendang nendang apapun disekitarnya.

Ia kini naked, tanpa busana sehelai pun menutupi tubuh polosnya. Tangannya masih terikat diatas kayu senderan sana, posisinya benar-benar membuat horny. Dan dan hawa dingin itu mulai menyerangnya.

Tersadar akan itu semua, Taeyong menarik tubuhnya duduk tegak dengan kepayahan, merapatkan kakinya keperut menutupi kemaluannya, dan semakin merapatkan punggung polosnya ke sandaran tempat tidur. Tapi payudara mungilnya masih terekspose tanpa bisa ia lindungi. Ia malu setengah mati.

Ia tanpa busana, dan pria itu menjelajahi tubuhnya liar, penuh nafsu.

.

"Apa yang kau rasakan.."tanya Jaehyun tiba-tiba. "Sudah berefek kah?" Jaehyun memiringkan kepalanya, menduga-duga sendiri dengan ekspresi licik.

Apa maksudnya, Taeyong tak paham. Tapi apa yang Taeyong rasakan sejurus kemudian menghentaknya. Perutnya tiba-tiba panas, rasa panas itu menjalar naik sampai ketenggorokannya, mencekiknya disana. Hawa panas langsung menyelimutinya, membuat badannya pegal-pegal dan kepanasan. Vaginanya dibawah sana terasa panas. U spot nya berkedut-kedut entah kenapa. Berontak minta disentuh. Buah dadanya menegang. Ia melihat nipplenya menjadi tegak dan kaku. Lantas bulu bulu halus di sekitar payudaranya meremang, Taeyong kebingungan.

"Hahaa..ternyata sudah ya.." Jaehyun menyeringai dan terheran ditepi kasur. Menatap perubahan pada diri Taeyong, ia benar-benar bernafsu menjamahi wanita ini.

"Hanya tiga menit dan kau mulai hard.." tangan Jaehyun merayap, menyentuh paha luar kaki kanan Taeyong lembut.

.

"Eunghh.." mendongakkan kepalanya keatas sembari menggeliat, Taeyong tanpa sadar melenguh lagi. Jaehyun puas, maka ia menaikkan tubuhnya kekasur, menarik kaki Taeyong, membuatnya kembali rebahan lagi dengan terpaksa, dan tangannya yang masih terikat keatas.

Jaehyun melabarkan kaki Taeyong lagi. Lalu mendudukkan tubuhnya ditengah paha yang sudah melebar itu.

Kini gadis itu tengah menggeliat lebih liar. Kepalanya menoleh kesana kemari. Matanya tak fokus."P-Panaass.."ucapnya parau. Kepalanya semakin liar bergerak.

"Apa katamu sayang.." main-main Jaehyun. Ia duduk bersedekap diantar kedua kaki Taeyong yang menggelepar di sekitarnya. Menatap Taeyong angkuh, menyunggingkan bibirnya jahat.

"D-Dis-sini..panas.."Taeyong menggelepar lagi seperti ikan kepanasan. Kakinya bergerak gelisah. Naik turun mengacak-acak sprei bermotif burung kasuari.

"Dimana sayangku.." Jaehyun masih main-main. Mengelus perut ramping Taeyong, mencubitnya pelan.

"T-tak tau..t-tolong akuu..sa-sakittt.." ucap Taeyong terbata-bata. Ia sudah kehilangan akal sehatnya. Ia hanya ingin lepas dari semua ini.

"Ohh okee..karena aku baik, aku akan melepasmu, sayangku." Jaehyun beranjak dari posisinya. Tangannya terjulur kearah sandaran kayu, lebih tepatnya melepas ikatan kencang dipergelangan kedua tangan ikatan itu terlepas, kepalanya langsung terkulai bebas, Taeyong merasa lepas dari rasa perih ditangannya.

Ia lantas meletakkan kedua tangannya keatas kepalanya, meremas kepalanya keras. Pandangannya mulai buram. Kepalanya bergerak tak beraturan, kekanan kekiri, membuat buah dadanya ikut bergoyang liar.

"Woww..indahnya.." Jaehyun terpesona. Payudara Taeyong seperti memanggilnya minta diremas. Kaki Taeyong menendang nendang bebas. Membuka lebar dan menekuknya keatas, memperlihatkan vaginanya yang sudah basah akan keringat. Lubangnya yang bewarna pink masih tertutup rapat, tapi meminta untuk segera diisi.

Tanpa sehelai benang pun, gadis itu terbaring lemah dikasur lapuk, dengan tubuh bercucuran pelu, kulitnya memerah, tubuhnya dan payudaranya bergerak liat, dan melipat kakinya memperlihatkan lubang pink segarnya yang berkedut, minta diisi, tangan kirinya mulai terjuntai ketepian tempat tidur, lemah tak berdaya.

.

GLUPP

.

GLUPP

.

Jaehyun tak sabar lagi. Maka ia menarik tangan kanan Taeyong yang tadi meremas rambutnya kasar, meletakkannya lembut disamping kasur, menindihnya dengan lutut kaki kirinya. Jaehyun bergegas setengah berdiri, melepas celana jeans boncel selututnya, menyisakan celana dalam supremenya. Mendudui paha Taeyong tak sabaran dan mulai menjilati leher jenjang gadis itu.

Lalu dengan brutal mencium dan menghisap bibir si gadis yang sudah kemerahan, menghisapnya dalam-dalam, seakan ingin memakannya.

Plupp

.

Melepas tautan itu, mulutnya terampil turun kebawah, menuju payudara yang indah itu. Menghisap nipple tegangnya, mengemutnya seperti bayi. Melepaskannya lantas memelintirnya pelan.

"J-jangannn...s-sakitt.." protes Taeyong.

"Mana yang sakit," Jaehyun mengecup nipple pink itu lagi, menghisapnya keras.

"Auwwhh.." Taeyong mengaduh keenakan. Matanya terpejam erat, tangan kanannya meremas rambutnya yang tergerai, sedang tangan kirinya berpegangan pada punggung terbuka Jaehyun, mencakarnya pelan. Sumpah ini sangat nikmat, Taeyong sudah tak fokus lagi. Ia benar-benar tak sadar lagi.

Jaehyun menurunkan wajahnya, mengahadap vagina Taeyong yang sudah basah, lantas menjilatnya seduktif.

"Engghh..ahh.." Taeyong menikmati setiap sentuhan itu.

Jaehyun mengecup vagina itu, lantas melebarkan paha itu lembut. Memperlihatkan hole hawanya yang berkedut dan mulai basah. Merabanya dengan tangan sejenak. Menekannya dalam dalam dan menjelajahi bibir lubang itu sekejap.

"Ughh..ughh.." si wanita menikmatinya terus. Kedua tangganya beralih meremas pundak si pria.

"Ahh.."

Dalam sekejap, cairan bening itu membasahi telapak tangan Jaehyun. Orgasme ringan Taeyong. Dan Jaehyun bangga akan itu. Jaehyun menggunakan cairan itu sebagai pelumas dimulut lubang. Jari tengah Jaehyun mulai memasuki lubang itu perlahan. Hole ini masih perawan, Jaehyun tau itu, meski ia dan si jalang sudah tinggal serumah. Tapi ia tidak pernah sekalipun menyetubuhi gadis itu. Tidak setelah mereka menikah –hampir menikah- tiga hari yang lalu. Dan Jaehyun bahkan belum melakukan itu.

Jari Jaehyun sudah masuk kedalam, menerobos lubang sempit itu. Ia menambah jari satunya lagi, jari manisnya, lalu membentuk gerakan menggunting didalamnya. Menggerakkan jarinya liar didalam liang itu. Mengobrak abriknya tanpa ampun.

"Eghh..uhh..ughhh.." Taeyong merasa sakit sekaligus keenakan. Kedua tangganya mencenggkeram erat pundak Jaehyun. Kepalanya mendongak keatas, dan air liur mulai menetes turun kebibirnya, merasakan nikmat sesungguhnya.

"Uhh..jangan..s-sakitt."ucapnya tertahan.

"Diamlah, sebentar sakit kau akan merasakannya.." Jaehyun menimpali.

"Ehmmm..enghh..ap-apaaa.." Taeyong mengucapkan sambil menggigit bibirnya kuat, Oh Tuhan, Jaehyun mengaduk jarinya didalam sana semakin cepat, menaikkan tempo dan itu sangat sakit,sekaligus nikmat. Lantas bunyi kecipak dan becek disana membuktikan service hebat Jaehyun.

"Nikmat kan.." Jaehyun memasukkan Jarinya satunya lagi. Jari telunjuknya yang ini. Lubang sempit ini mulai terbuka lebar, berkedut menelan tiga jari lentik Jaehyun. Tapi belum apa-apa, Taeyong sudah orgasme lagi.

.

"Ehh..sudah tak sabaran ternyata.." Jaehyun menghentikan kegiatannya, menarik jarinya keluar. Ia mendengar Taeyong menghela nafas, seperti, kecewa atau lega, entah.

Jaehyun melepas celananya, menyibukkan dirinya sambil menatap Taeyong yang masih menggeliat dibawahnya. Kedua kaki gadis itu masih terbuka lebar, tangan kirinya terjuntai kebawah sana. Apa ia sudah lemas, baru begitu saja.

Jaehyun sudah naked, full naked, mengikuti jejak Taeyong. Ia meletakkan tangannya terarah ke miliknya, ukurannya cukup besar, dan bersih karena begitu-begitu Jaehyun selalu merawatnya.

Jaehyun mengocok miliknya cepat-cepat, membiarkan ukurannya bertambah dari sebelumnya. Dengan menatap ekspresi Taeyong saja, ia sudah tegang. Barangnya sudah mengacung tegak, menantang Taeyong. Tapi Taeyong tak memperhatikannya. Ia sibuk menikmati sensasi perangsang itu.

"Ini, orall dulu biar licin, maka kau tak akan kesakitan setelahnya." menyodorkan junior tegangnya ke mulut Taeyong.

Taeyong yang tak paham menatap heran benda itu, tapi sebelum bisa menjawab, benda kebanggaan Jaehyun sudah melesat kedalam mulut mungilnya, memaksa Taeyong untuk memanjakannya.

Jaeyong memegang kepala Taeyong kuat-kuat, memaksa gadis itu untuk meng-oral miliknya. Ia berada di atas leher Taeyong, melipat kakinya. Tangan yang satunya mengunci kedua tangan Taeyong keatas. Jaehyun memejamkan matanya saat Taeyong menghisap dan menelan miliknya kedalam mulut kecilnya.

"Ahh..ahh.." Jaehyun benar-benar menikmati service Taeyong, ia pemula yang hebat.

"Engg..emhh..enggg.."mulut kecil Taeyong masih mengemut benda itu. Junior Jaehyun mendesak tenggorokannya. Taeyong tersedak, terbatuk dan meraup udara rakus.

"Hahhh..hahh.." mata Taeyong terpejam sembari bernafas liar. Dimata Jaehyun, sangat menggairahkan. Ditariknya kepala Taeyong, lantas melesakkan miliknya lagi kedalam, menyodorkannya lebih dalam.

Taeyong kewalahan, benda didalamnya ini seperti berkedut-kedut. Mulutnya penuh dan ia merasa mual. Benda dengan bulu halus ini membutakan Taeyong. Ia mabuk akan seks gila ini.

"Ahh.." Jaehyun mendesah lega saat precumenya keluar membanjiri leher Taeyong. Gadis itu gelagapan saat milik Jaehyun ditarik tiba-tiba dan sesuatu yang kental membasahi lehernya. Matanya yang tinggal lima watt memincing, mencari tahu.

"Jja..kita mulai..kitty baby." Jaehyun mengucapkan riang sambil beranjak dari –mari berjongkok diatas leher Taeyong-. Turun kebawah, menekuk lututnya diantara dua paha Taeyong. Lantas menyibukkan diri dengan organ tubuh dibawah sana.

Jaehyun mengecek lubang itu lagi, lubang sempit yang pasti memabukkan. Ia benar-benar penasaran selama ini, apakah benar lubang gadis ini sudah lembek seperti yang sering si gadis itu katakan padanya sebelum menikah. Hahaha.. iya sadar sekarang, itu hanya untuk menakutinya saja, berpura-pura sudah tak perawan dan tidur dengan berbagai jenis pria. Skakk kau.

"Kau pembohong yang ulung, kittenku.."ucap Jaehyun sembari mengangkat kedua kaki Taeyong keatas pundaknya. Mengecup pahanya sekilas, lantas mempersiapkan juniornya didepan lubang virgin Taeyong. Meletakkannya diposisi yang benar, lantas melesakkanya kedalam, semakin dalam, merobek dinding vagina yang ketat itu.

"Ahhhh..." Taeyong melenguh hebattt. Rasanya sakit sekali. Seperti saat luka bakarmu disobek. Taeyong meremas sprei dikasur erat, menarik kepalanya keatas dan memejamkan matanya erat. Air liurnya semakin banyak mengalir, ia kepayahan, ia blank.

"Uhhh..uhhh...uhhh." Jaehyun dibawah sana sembari menyangga paha Taeyong, mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur. Kedua tangannya memegang erat pinggul Taeyong, memaksanya ikut maju dan mundur mengikuti temponya.

Jaehyun mendesah nikmat, miliknya sudah bersenggama didalam lubang sempit Taeyong, dicengkeram dengan kuat dan kencang, bukti gadis ini masih perawan.

"Uhhhh..hahhh.." Taeyong menggeliat liar dibawah Jaehyun. Kepalanya mendongak keatas, memperlihatkan leher mulusnya yang jenjang.

"Kau sangat sempit, sayangkuhh.."ucap Jaehyun kepayahan. Miliknya begitu liar didalam sana, enggan keluar lagi. Ia menaikkan tempo, semakin brutal menggenjot Taeyong. Mencengkeram pinggul kecil Taeyong lebih keras dan menghasilkan warna kemerahan di kulit putih itu.

Taeyong mencengkeram sprei dibawanya kuat kuat. Kulit telapak tangannya sampai kemerahan. Perutnya terasa penuh dan ingin meledak. Hawa panas itu semakin menjadi-jadi, mencengkeram leher dan kepalanya. Ia seakan akan mau meledak.

"Ahh.. jangan disanaa..ughh.."Taeyong mengerang, saat Jaehyun semakin kencang menggenjot miliknya, dan menemukan titik G spotnya didalamnya sana. Sumpah ini nikmat sekali.

Taeyong semakin keenakan, dadanya ia busungkan keatas, menyumbulkan buah dadanya yang tengah mengeras. Jaehyun tak tinggal diam, tangan kanannya maju meremas buah dada itu keras keras, memutar nipplenya dan memainkannya kurangajar. Sedang tangan kirinya merepas paha luar Taeyong, tak mau diam.

Jaehyun mencapai surganya, melepaskan precumenya didalam hole yang kini berdarah itu.

PLOPP

.

Kini mereka tak bertautan lagi. Jaehyun meraup udara terburu- buru, seakan tak ada hari esok. Sedang Taeyong masih menggeliat kepayahan, nafasnya tersengal—sengal, lubangnya sangat perih, dan perutnya penuh, tapi ia merasa tak rela pertautan itu lepas, ia seperti kehilangan. Cairan kental itu mengalir pelan dari holenya, mengalir kebawah, tercampur dengan darah segarnya.

.

Jaehyun membelai rambut Taeyong halus, mengecup bibir yang tengah basah itu, mengeluarkan air liur kenikmatannya, lantas dijilatnya tanpa jijik.

"Sebut namaku kalau kau sampai, my lovely, jangan diam saja.." bisik Jaehyun seduktif.

Taeyong masih menggeliat gelisah dibawahnya, kesadarannya belum kembali.

.

"Kau mau coba gaya lain?.."tawar Jaehyun sembari menjilat mata Taeyong yang terpejam erat.

"Enghhh.." Taeyong merasakan sakit luar biasa pada perutnya. Maka ia mencengkeram perutnya keras.

"Hey, sakit ya.." Jaehyun menyentuh perut Taeyong. "Itu efek perangsang tadi, makannya lepaskan saja semuanya, jangan ditahan didalam. Kau jadi orgasme kering kan," jelas Jaehyun.

"Cckkckck kau memang masochist..tsundere sekali, kalau begini kau yang kesakitan kan.." lanjutnya.

Dan Taeyong hanya menggeliat kepanasan. Memejamkan matanya erat. Kesakitan luar biasa.

.

"Ayo berbalik, dengan gaya ini, cairanmu akan keluar semua, jadi perutmu tak kembung begitu." inisiatif Jaehyun kemudian. Ditariknya kaki kanan Taeyong kesamping kanan, berguling lantas menjadi miring, dan benar, sisa cairan didalam perut Taeyong mengalir lagi, melalui lubangnya, membasahi sprei dibawahnya.

Taeyong sudah tengkurap sekarang, sebelum menarik pinggulnya keatas, Jaehyun menghirup aroma tubuh Taeyong yang manis. Mengecup kulit pantatnya, naik keatas punggung sampai kepundak. Mengecup dan menggigit kulitnya, mengklaim kepemilikannya. Jaehyun menjilati bahu Taeyong dengan lembut. Sedang Taeyong sudah tak berdaya dibawah sana. Matanya terpejam, tangannya tertindih perutnya, ia benar-benar pasrah, lemah dan lunglai, seperti boneka mainan.

.

Jaehyun berbaring diatas Taeyong, menindih tubuh kurusnya, membiarkan miliknya menempel di punggung polos Taeyong. Ia masih menjilati tulang selangka yang menonjol itu, dengan lembut, tetapi ia baru menyadari suatu hal.

Seharusnya dibahu mulus itu, ada bekas luka bakar, yang ia torehkan satu bulan yang lalu. Luka itu cukup lebar, membentuk oval dan memanjang kebawah. Luka itu yang selalu memunculkan rasa bahagia Jaehyun, dimana ia berhasil menorehkan luka di tubuh gadis nakal itu, gadis yang menghancurkan hidupnya.

Dan di bawah tulang selangka itu, tepat dipertengahan luka bakar tadi, seharusnya ada tatto ular cobra, tatto kebanggaan si gadis binal. Tapi kemana itu semua. Terakhir kali ia lihat saat gadis itu memakai tanktop, semua itu masih ada. Dan itu hanya tiga hari yang lalu. Lalu apakah bisa itu semua hilang begitu saja.

.

"Johnnyyy..op-pa,to-tolong ak-ku.." igauan terbata Taeyong dibawahnya mengambil atensi Jaehyun lagi. Ia seakan sadar, menatap punggung gadis dibawahnya.

"Apa katamu tadi." Jaehyun masih menatap Taeyong bingung.

"Op-pa..John-ny..ahhh..ahh..sa-sakitt." Taeyong mengucapkannya kepayahan.

Jaehyun menatap Taeyong ngeri, membelalakkan matanya lebar."Kau bilang siapa hah?" ia masih tak paham.

"To-tolong ak-akuh..uhh.."dan suara terakhir Taeyong menghentikan kebodohan Jaehyun.

Ia membalikkan badan lemah itu menarik pundaknya, lalu menyenderkannya didada."Kau siapa hah..kau siapa, jangan diam saja,bicaralah hey." Tapi Taeyong sudah tak sadar. Nafasnya tersengal-sengal, Jaehyun bisa melihat dada polos gadis itu naik turun lemah. Nafasnya juga panas. Matanya masih terpejam erat. Dan Jaehyun mulai ketakutan.

Jaehyun lalu meletakkan kepala lunglai Taeyong kepaha polosnya,"Heyy sadarlah." menepuk pipi basah Taeyong, membawa tubuhnya dalam dekapannya lagi.

"Tidak tidak, kau bukan Han Taeri kan, kau siapa, yakk kubilang bangun." Jaehyun berteriak frustasi. Menggoyang-goyangkan pundak dan badan gadis yang tengah tak berdaya itu. Cairan bening terlihat mengalir pelan dari pipi pucat gadis itu. Tangan lemah si gadis terkulai diatas kasur. Ia seakan tak bernyawa.

"Yakk kubilang bangun.."Jaehyun kalap dan ia tak tau harus bagaimana lagi setelahnya, ia baru sadar, sejauh ia bertindak, bahwa gadis ini bukanlah... Han Taeri, si gadis binal. Ia yakin itu.

.

.

.

Doyoung mendengar teriakan itu. Ia tersentak dan terbangun dari posisi duduknya dilantai, dan perasaanya tak enak. Doyoung bangkit dan berjalan menuju pintu. Hampir tiga jam ia menunggu disana. Mendengar semua hal gila didalam sana. Desahan, erangan, umpatan, penolakan dan tangisan, ia mendengar semuanya. Tanpa sadar Doyoung menangis, membayangkan keadaan gadis itu. Ia hanya berharap, gadis itu selamat, setelah hal menakutkan yang ia lalui.

Doyoung berbisik pelan, lebih tepatnya berbisik kepada pintu itu. Lantas berseru pelan, "Ia Lee Taeyong Jae, bukan Han Taeri." Dan ia menundukkan kepalanya, merasa bodoh, tak berguna, dan menyesal, lantas tersedu pelan.

.

.

.


Tettt...tettt biipp

Bunyi tanda bel pertanda ada tamu di apartment itu tak berhenti sejak setengah jam yang lalu. Ternyata sejak tadi Johnny berdiri tak bisa diam didepan pintu berpassword itu. Johnny, si pelaku, sudah setengah jam lebih berdiri didepan si benda mati bernama pintu. Ia mengutak atik password di kunci otomatis itu, sesekali memencet tombol bell dan menatap layar intercome. Berharap sosok yang dirindukannya menampakkan wajah cantiknya.

Tapi yang ia dapatkan hanya kegelapan dikotak kecil itu. Johnny tak akan seperti ini kalau Taeyong tidak iseng menganti password apartementnya. Padahal biasanya gadis jelitanya itu hanya memakai hari tanggal mereka jadian sebagai passwordnya. Tapi sekarang Johnny yakin, gadis genit itu menyembunyikan rahasia didalam sana. Johnny menebak itu hadiah ultahnya, hehe dia jadi geer sendiri.

Tapi entah kenapa perasaan Johnny tak enak dari tadi pagi, sejak ia membuka mata. Terlebih saat ia menghubungi ponsel tunangannya itu berulang kali. Handphonenya mati. Masih mending kalo direject –karena marah-, tapi ini nomornya tak aktif. Ia jadi gelisah setengah mati.

"Aku ke rumah sakit saja mungkin ya, siapa tau dia masih disana. Dasar gadis nakal penggila kerja." Johnny memutuskan pada akhirnya. Ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Tersenyum tipis membayangkan wajah ayu terkasihnya.

Ia berjalan santai sambil bersiul senang, mengambil kotak berwarna silver dari saku kemejanya, lantas menatapnya puas. Mengecup benda itu gila, dan berjalan dengan riangnya. Membayangkan gadisnya memekik kesenangan saat melihat benda itu, mengecup pipinya imut, dan mengatakan..

"Saranghae Oppa, hahahahh .." Johnny menirukan suara Taeyong, bersuara sok imut, lantas tertawa terbahak-bahak. Sungguh, ia tak sabar mengecupi wajah sok galak kekasihnya itu.

Tanpa ia ketahui, semua telah berubah.

.

.


TBC

Saudara saudara

.

.

Wahhhh apa ini, Ya Tuhan maafkan hambamu yang berdosa ini huwaaaa...Sumpah, aku merasa busuk sekali menulis chap ini, tapi semua itu sudah berjubel diotak mesumku, maka aku harus keluarkan..Huhuuu..

Awalnya aku bingung nulis NC... tapi aku berterimakasih pada Fanboynya Taeyong. K Oppa yang sudi baca dan ngasih masukan, dan sumpahh..dia muntah muntah ditempat. Katanya ga rela biasnya diginiin, dia mau gantiin posisi Jaehyun oppa wwkwkkw..gila-gila, dia gak rela Tiwai oppa digituin sama Jahe oppa cobak, kan dia mulai gilaa...

Tapi makasih Oppa kesayanganku, besok kalo udah jadi dokter jangan mesum ne, sama pasiennya, doakan aku juga begitu wkwk..

Ohh ya betewe dia itu reader yg suka pake pane name Mark Ooh, fanboy Tiwai garis keras, aku buka rahasia, dia pasti baca, rasain lu, makanya bikin akun resmi sana..

Dan miann buat Tiwai oppa sama Jaehyun oppaku, aku menistakan kalian, tapi sumpah, aku sayang kalian kok, banget malahh..

Dan kicauan gak pentingku ini, pada akhirnya aku cuma mau bilang, lanjut nggak nih, males juga ga ada progres hoho, tapi demi Jaeyong, apa sih yg egag..

Sorry sudah menjadi virus mesum disini

So, buat yg gak suka, diclose aja nee..jangan dibikin ribet..

RNR..dont be silent reader..hargai author sarap ini..masukannya neee

Thank buat yg kemaren follow, review, dan fav, masukannya terutama maap gabisa bales atu-atu..

Salam author yg belum punya KTP kekekeee

*,*/