The Bride and Me
Chapter 4 : Serendipity...
2 Februari 2016
Taeyong pernah berjanji pada Johnny akan selalu menjaga dirinya dengan baik, menjaga kepercayaan dan masa depan Johnny. Johnny pun berjanji akan selalu menjaga dan melindunginya. Mereka selalu berdoa untuk keselamatan dan kebahagiaan satu sama lain. Taeyong juga berjanji tak akan pernah meninggalkan Johnny apapun yang terjadi. Bahkan saat ia tau bagaimana diam-diam Johnny mengkhianatinya, mengikis kepercayaannya, dan merobek hatinya, Taeyong tetap bertahan. Tapi tidak untuk saat ini, saat dimana pria itu malah menghinanya, menghancurkan semangat hidupnya dan meninggalkannya di tepi jurang yang gelap, sendirian, tak bisa bernafas dan putus asa. Maka saat ini, detik ini juga, ia memutuskan untuk melompat saja, mengakhiri semua kepahitan hidupnya, tapi ia tetap akan selalu mengingat nama pria itu, pria yang telah menghancurkan hidupnya, mimpinya, sekaligus menjadi pemilik hatinya, Jung Jaehyun.
Disclaimer:
NCT milik SM Entertainment
Cuma pinjam nama dan delusi wajah kikiikii
Cast :
Lee Taeyong (GS)
Jung Jaehyun
Seo Johnny
Ten (GS)
Ji Hansol (GS)
Kim Do Young
NCT member & other cast
Main cast : Jaehyun X Taeyong
Slight : Temukan didalamnya
Warning : Genderswitch, Rated M
/DLDR/Broken Pair
Hope you like it ^^
.
Seoul, 2014
Ten melangkahkan kakinya lunglai melewati bangsal rumah sakit mewah itu. Sembari meregangkan kedua tangannya, ia menghembuskan nafasnya ringan. Ten merasa badannya sangat letih. Punggungnya serasa remuk dan tak bertulang. Ia hanya butuh secangkir coffe manis dan semangkuk muffin untuk mengembalikan moodnya yang hilang. Bayangkan, lima jam ia melakukan operasi besar, dan ia berdiri dalam tugas beratnya itu. Itu risiko profesinya juga sih.
Ini baru jam delapan pagi tapi koridor ini sudah ramai begini. Ahh tentu saja, mereka pasti kebanyakan keluarga pasien korban kecelakaan yang baru ia dan timnya tangani semalam.
"Ten.."-Ten menghentikan langkahnya saat mendengar seseorang memanggil namanya. Ia menolehkan kepalanya dan melihat sosok itu, berdiri melipat tangannya didepan lift sana.
"Johnny oppa?" seru Ten. Ia mengernyitkan keningnya heran, sedang apa pria itu berdiri manis disana sepagi ini. Dengan pakaian formal dan juga senyum rupawannya. "Kau memanggilku?" pastinya kemudian.
Johnny tersenyum tipis, lalu menghampiri Ten yang berdiri kebingungan diujung koridor.
Johnny lantas berseru dengan senyum manisnya, "Memang siapa lagi disini yang namanya Ten hemm, apa kau harus kupanggil Chitta begitu?" sembari mengacak rambut hitam sebahu Ten. Yang diperlakukan begitu mencebilkan bibirnya, sok marah.
"Kalau kau masih ingat, aku ini seorang dokter, tuan Seo." tegur Ten kemudian.
"Kekekkek.."-Johnny terkekeh dibuatnya, "Iya, aku belum tua nona galak, jadi aku pasti mengingatnya. Kau si dokter genit."
"Yakk.." tanpa perasaan, Ten mencubit lengan kekar Johnny.
"Auww.." mengaduh sambil mengelus lengan berbalut kemejanya, Johnny menatap sebal Ten. "Galaknya..kau itu pantas jomblo terus, mana ada yang mau dengan dokter seganas ini, kecuali si pendek Yuta." dan jangan lupakan juga mulut pedas Johnny.
"Sialan, kau benar."
.
"Hahahahaha..." lantas mereka tertawa tak jelas.
.
"Untuk apa oppa kesini?" pertanyaan Ten menghentikan tawa Johnny.
"Ehm ehmm." berdehem membenarkan letak dasinya yang masih normal, "Tentu saja menjemput kekasih eh calon istriku terkasih."-Johnny nyengir sambil menyandarkan tubuh tingginya ketembok.
"Uhh manisnya...ehh tunggu..bukankah semalam Taeyongie pergi denganmu?" tanya Ten heran, "Dia bahkan mangkir dari tugasnya tanpa kabar sampai sekarang." lanjutnya lagi.
"Ani.."-Johnny tersentak, menatap Ten heran, "Kupikir dia ada tugas tadi malam, makannya melalaikan janjinya. Dan kalau dia bersamaku, untuk apa aku kemari hemm."
"Mwo..dia bahkan tak membalas pesanku, dan tak kemari bahkan sampai pagi ini. Makannya kukira dia itu denganmu?"-Ten mulai curiga, ia menatap Johnny takut-takut, "Kalian bertengkar?"
"Bukan itu pointnya."-Johnny mengabaikan pertanyaan Ten, mengambil ponselnya yang bergetar dan mulai menyibukkan diri.
"Hahh..Taeyongie memang manja dan kekanakan Oppa, bersabarlah nee."-Ten menepuk pundak Johnny pelan, sok prihatin. Sejurus kemudian ia tersadar, lalu memasang wajah cemas.
"Lalu dia dimana, tumben tak ada kabar?" tanyanya kemudian.
Johnny masih sibuk dengan ponselnya, "Aku tak tau." menjawabnya acuh.
"Aku harus pergi." putusnya kemudian lalu mengantongi ponselnya lagi.
"Ehh ada apa, kenapa tiba-tiba?" heran Ten melihat perubahan mimik wajah Johnny.
"Tuan Kang ternyata mengirimiku pesan, dia bilang pihak kepolisian menemukan mobil Taeyong, kosong. Oke nanti saja bertanyanya ya!" dan Johnny berbalik sembari melambaikan tangannya, berlari menjauhi Ten.
"Yakk oppa, tunggu, aku ikut..." maka gagallah rencana –mari ngopi- Ten.
.
.
.
KLEKK
.
Doyoung melangkah keluar menutup pintu berkayu mahoni itu. Berjalan tak sabaran membawa kotak P3K dan meletakkannya dengan kasar dimeja. Mengejutkan sosok lain disana.
"Kita butuh paracetamol, acetaminophen atau benorylate, terserah yang pasti sejenis itu, kau pasti paham, sana pergilah."-Doyoung berujar dengan nada memerintah. Ia lalu mendudukkan tubuh kurusnya, memandang kesal pria Jung didepannya, lantas mengacak rambutnya kasar.
"Kenapa diam saja, sana pergi, bertanggung jawablah. Jangan jadi pengecut!" ucapnya lagi, kali ini setengah marah.
.
"Seulgi akan kemari."-Jaehyun bersuara parau. Ia masih menunduk menatap meja, meremas erat kedua tangannya, seperti orang frustasi. "Aku mengiriminya pesan, dengan nomormu."
"Kau gila, kau fikir apa yang akan dia lakukan nanti hah, kau..."
"Seulgi lebih tau, percayalah padanya."-Jaehyun memotong ucapan Doyoung, masih menunduk, tak bisa ditebak.
"Arggg..aku bisa gila, dan itu karenamu Woojae." meletakkan kepalanya kasar kemeja, Doyoung sudah frustasi dibuatnya, semua karena Jung Jaehyun.
.
.
"Kenapa kau membiarkannya?"ucap Jaehyun tiba-tiba. Mendongakkan kepalanya, matanya nanar menatap Doyoung, ekspresi wajahnya tak terbaca. "Kau tak mencegahku, kau bisa melakukannya bukan?"
"Kau menyalahkanku?"-Doyoung tak terima, menegakkan kepalanya dan menatap Jaehyun remeh. "Kau selalu menyalahkanku dan tak mau bertanggungjawab atas perbuatanmu, selalu begitu, kau memang pria brengsek Jae."
"Aku tak akan begini kalau aku tau yang sebenarnya." bela Jaehyun.
"Kau selalu bilang begitu Jae, tak mau disalahkan, lalu menyalahkan yang lain." timpal Doyoung kesal.
Jaehyun terkekeh, menatap Doyoung datar, "Lalu kau sendiri bagaimana?" menyeringai, "Apa ini juga rencanamu, Kim Dongyoung-sii." memanggil nama kecil Doyoung.
"Kalau iya bagaimana, apa maumu?"-Doyoung beranjak dari kursinya, berjalan tenang kearah pintu. Ia mendengar suara mobil berhenti didepan pekarangan sana, ia yakin itu Seulgi.
"Aku bisa mencegahnya memang, tapi aku tidak yakin kau akan percaya. Jika kau tak mengetahuinya sendiri Jae. Sama seperti apa yang telah kau lakukan pada Seulgi, klise memang. Tapi dengan begini, aku bisa melihat wajah ketakutanmu yang langka itu -karena aku ingin kau jatuh Jae-." tuturnya panjang lebar sembari membuka gagang pintu lalu memasang senyum termanisnya. Ia bersiap menyambut gadis diluar sana.
.
"Akhirnya kau datang Seulgi-sii."-Doyoung menyambut ramah gadis berkucir kuda didepannya. Merangkulnya hangat.
"Kau menghubungiku jika ada perlu saja kan oppa."-Seulgi menebak.
"Haha..kau tau saja, kajja kita buru-buru, ini darurat."-Doyoung menarik tangan mulus Seulgi, tapi gadis itu menahan langkahnya didepan pintu, lantas berbisik pelan padanya, "Tu-tunggu, kau sendirian kan, s-siapa yang harus kutangani." tanyanya takut-takut.
"Sudah masuk dulu nanti kau akan tau, kajja."
Doyoung dan Seulgi melangkah masuk kedalam, awalnya biasa saja, tapi bahu gadis itu tiba-tiba menegang kala melihat sosok tampan yang ada dihadapannya, menyambutnya dengan senyum manisnya. Seakan tau keadaan Seulgi, Jaehyun lantas menyapanya ramah.
.
"Selamat datang Seulgi-sii. Tak apa, jangan tegang begitu, aku akan pergi, Bye."-Jaehyun melangkah keluar setelah melambaikan tangannya dan tersenyum ramah pada gadis itu.
Doyoung melihat Seulgi yang masih memasang ekspresi takut-takut. Ia kasian juga pada gadis itu. "Jja, kita mulai saja, kumohon selamatkan dia." menunjuk ke dalam kamar, "Aku sangat mengharapkanmu, pliss." bujuknya sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.
"Kau pikir aku Tuhan apa?"-Seulgi terkekeh mendengarnya, "Aku bahkan belum resmi jadi suster, tapi tunggu, siapa yang ada didalam memangnya, perempuankah?" tanya Seulgi lagi, masih penasaran, "Atau jangan-jangan, pria?"
"Haha, sudah sudah, percaya saja padaku, nanti kau akan tau sendiri, ppali ppali kita tak bisa lama-lama."
"N-ne.." dan Seulgi terus melangkah, memasuki kamar dengan bau khas itu, bau yang ia kenali betul.
.
.
.
"Posisinya ada di komplek taman Seonyudo, tepatnya dibawah fly over."
"Kosong?"
"Ya, tapi pintunya terbuka. Barang-barang didalamnya masih utuh. Dokumen, laptop, tas kerja, handphone, dan barang-barang lainnya masih utuh. Tidak ada tanda-tanda perampokan."
Johnny mendengarkan dengan seksama penjelasan dua polisi dihadapannya. Ia dan Ten kini berada di Kepolisian sektor Seonyudo. Jaraknya hanya 5 km dari tempat mereka berada tadi, rumah sakit st marry.
"Apakah ada jejak lain?"
"Ani, tapi kami menemukan ini." Polisi itu menunjukkan tanda pengenal milik Taeyong.
"Kami menemukannya didekat trotoar, hanya dua meter dari mobil tunangan anda." terang si polisi.
"Benar, ini tanda pengenal Taeyongie."-Ten menggenggam erat benda persegi berwarna putih bertuliskan Lee Taeyong tersebut. Entah kenapa perasaannya benar-benar gelisah sekarang.
"Oppa, bagaimana?"-Ten menatap Johnny, bertatapan dengan wajah Johnny yang berubah pucat.
"Tenanglah!"-Johnny meremas pundak Ten, menyalurkan rasa ketenangan pada gadis mungil itu. Padahal ia sendiri sudah gelisah setengah mati. Mengkhawatirkan tunangannya yang tiba-tiba menghilang, dan yang tertinggal hanya mobil dan tanda pengenal ini.
"Sejujurnya kami belum bisa menyimpulkan apapun." Polisi botak itu mengambil alih atensi mereka. "Karena kami tidak memiliki bukti apapun, juga tidak ada laporan apapun dari pihak Lee Taeyong-sii. Selain itu, waktu hilangnya Lee Taeyong-sii belum dapat dipastikan. Jadi kami masih belum bisa bertindak apapun."
"Lalu kami harus menunggu sampai terjadi hal buruk begitu?"-Ten tak kuasa menahan emosinya, menatap polisi itu nyalang.
"Shutt..jangan begitu. Mereka benar. Kita belum tau apa yang sebenarnya terjadi pada Taeyongie sekarang. Jadi tindakan apapun akan sulit dilakukan."-Johnny menerangkan dengan sabar.
"Astaga oppa...Taeyongie menghilang dengan aneh, dari semalam tak bisa dihubungi, yang tersisa hanya barang-barangnya, dan sekarang kau yakin ia baik-baik saja hah."-Ten mulai tak tahan. Ia beranjak dari tempatnya, "Aku akan meminta tolong pada Yuta saja, kau dan kalian semua tak bisa diharapkan." maka dengan itu Ten berlalu pergi dengan gusar.
"Hahh.. maafkan temanku. Dia pasti sangat kawatir pada teman baiknya yang tiba-tiba menghilang. Tapi aku mohon, tetap selidiki hal ini, kumohon, aku dan dia akan segera menikah. Aku tidak ingin terjadi hal buruk padanya."-Johnny mengiba.
"Ya, itu sudah menjadi tugas kami, kami akan terus meneliti kebenarannya."
"Terimakasih, kalau begitu, saya undur pamit."-Johnny mengakhiri percakapan itu setelah kedua polisi itu mengangguk, beranjak dari tempat itu, tapi baru berjalan beberapa langkah, ia berbalik lagi, memanggil kedua polisi yang sudah akan kembali menyibukkan dirinya.
.
"Maaf pak, sebelumnya aku ingin memastikan satu hal lagi."
"Yee.."polisi itu menatap heran Johnny.
"Apa disana ada CCTV, kita bisa melihatnya dari sana bukan, semua kejadian tadi malam."Ide Johnny menghasilkan senyum kecut kedua polisi tadi.
"Sejujurnya jika kami bisa melakukannya dari awal, kami pasti sudah mengatakan bukti lain pada kalian daritadi." si polisi botak mendesahkan nafasnya lemah. "Tapi sayangnya, semua CCTV di sekitar lokasi dimatikan, rusak lebih tepatnya." terangnya.
"Rusak?Bagaimana bisa?"-Johnny tak terima dengan semua ini. Rusak? Ini Korea di tahun 2014 dan CCTV rusak.
"Bukan apa-apa. Karena renovasi besar-besaran kemarin, beberapa CCTV sengaja dimatikan. Sebagian lagi mengalami kerusakan fatal. Jadi tindakan itu diambil. Tapi kita masih memiliki harapan." si polisi satunya lagi menerangkan, seolah memberi harapan.
"Benarkah?"-Johnny seperti memiliki harapan baru.
"Ya, dari arah jarum jam pukul 9, tepatnya sebelah utara tempat mobil kekasih anda ditemukan, terdapat garden flower yang sudah tak beroperasi. Disana ada tiga CCTV yang aktif, kita bisa menggunakannya sebagai penelitian. Tapi kita harus menunggu sekitar delapan jam lagi untuk bisa menggunakannya. Anda pasti paham sistem kerja CCTV bukan tuan?"
"Yaa..aku mengerti."-Johnny menghela nafasnya. Tersenyum lega. Sejujurnya, tanpa bantuan polisi-polisi ini ia bisa menyewa detektif terbaik kepercayaan keluarganya. Tapi jika ia melakukan itu, kedua orangtuanya yang begitu mengasihi Taeyong pasti akan curiga dan ini akan menjadi malah besar bagi mereka, maka ia berusaha untuk bersabar dan bersikap wajar seperti biasa.
Dan dibalik itu semua, ia berharap tak ada hal buruk yang menimpa kekasihnya. Tapi bukankah kemungkinan buruk selalu bisa terjadi. Maka ia memutuskan untuk tetap berfikir positif, walaupun jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, ia merasakan sakit tanpa sebab. Sakit yang menciptakan keresahan dan kegelisahan, ia tak tau itu apa.
.
.
.
Krieet...
.
Seulgi berjalan keluar, tepatnya kearah meja kayu dimana Doyoung kini berada, menunggunya seperti terdakwa. Meletakkan baskom berisi air dingin yang sudah berubah warna menjadi merah. Mengusap dahinya yang mulai berpeluh.
"Aku butuh amoxilin lagi, kau bisa belikan untukku. Ahh air infus juga, lalu plester penurun demam dan alprazolam. Aku tidak membawanya di tas ternyata, ohh pikunnya aku ini."-Seulgi menjelaskan pada Doyoung tanpa jeda, merutuki kepikunannya tadi. Pergi terburu-buru tanpa persiapan. Doyoung mengangguk-angguk mengerti, lantas beranjak sambil masih mencoba mengingat-ingat pesanan Seulgi tadi.
"Tunggu.." suara Seulgi menghentikan langkah tergesa Doyoung. "Katakan pada Jaehyun, setelah ini aku perlu bicara padanya." nada suara serius Seulgi ini adalah yang pertama kalinya ia dengar. Seulgi si gadis manis dan ceria yang berubah menjadi pendiam dan tertutup.
"Nee, akan kusampaikan, aku pergi dulu, ehh apa tadi amoxi.."
"Kau keterlaluan kalau sampai lupa Doyoung-sii kekkeke.." memotong ucapan Doyoung, Seulgi terkekeh meremehkannya.
Doyoung merona malu, menggaruk-garuk tengkuknya salah tingkah, "Aye aye suster Seulgi." dan melesat pergi meninggalkan rumah itu.
.
.
Seulgi menggeleng- gelengkan kepalanya lucu, terheran-heran dengan tingkah Doyoung tadi. "Padahal dia dulu calon dokter kan, kekeeke..lucu." kekehnya kemudian.
Seulgi membuang isi baskom yang sudah tak terpakai itu, lantas menggantinya dengan air hangat yang baru. Berjalan kembali kedalam kamar dan meletakkan baskom kecil itu keatas meja nakas pelan pelan.
Ia kembali memandang sosok yang tengah terbaring lemah di atas kasur lapuk itu. Memandangi seorang gadis dengan kondisinya yang menyedihkan. Gadis itu, yang bernama Lee Taeyong, tengah terbaring lemah dengan rambut tergerainya yang tampak kusut dan lepek. Peluh membanjiri tubuh pucatnya. Peluh itu, lebih tepatnya keringat dingin yang tidak sinkron dengan kulit panasnya. Demi Tuhan, gadis ini tengah demam tinggi, suhu tubuhnya mencapai 43 derajat celcius. Tapi anehnya, peluh peluh itu terasa dingin saat disentuh. Lihat, bibir gadis itu berwarna biru, ada bekas darah kering diujung bibirnya. Kantung matanya terlihat cekung, dan warna kulitnya berubah biru.
"Astaga.."-Seulgi tersadar dari lamunannya. Mulai memeras kembali kain pel didalam baskom hati hati. Airnya masih agak panas, tapi ini lebih baik.
.
Seulgi menyeka kulit wajah gadis itu hati hati, seakan-akan itu barang antik yang rapuh. Gadis ini, terlepas dari kondisi mengenaskannya, wajahnya benar-benar cantik dan anggun. Kulitnya sangat halus. Tekstur wajahnya sangat sempurna. Seulgi sangat iri padanya, pantas saja si brengsek itu tergila-gila pada gadis ini.
"Engg.." lenguhan lemah gadis itu mengagetkannya. Tapi hanya sedetik, gadis itu kembali terdiam lagi, tak meringis merasa kesakitan seperti tadi. Sepertinya ia pingsan lagi.
Seulgi meringis jika mengingatnya. Ia bahkan tanpa sadar menangis melihat kondisi gadis ini. Apalagi saat ia tau siapa gadis ini. Ia tenyata seorang dokter. Dokter muda yang bekerja di rumah sakit yang ia kagumi. Tempat impiannya bekerja, tapi mustahil untuk ia masuk kesana. Selain tes yang sulit dan standartnya yang tinggi, ia tak punya link untuk melobbynya.
Seulgi jadi teringat satu jam yang lalu, saat Doyoung membawanya kemari, masuk kedalam kamar ini. Ia langsung mencium bau aneh yang ia kenal apa itu, amis dan anyir. Ia pernah berada dikamar ini, dalam situasi yang hampir sama, beberapa bulan yang lalu.
Saat Doyoung memberitahu siapa yang harus ia tangani, ia tak sanggup berkata-kata lagi. Mulutnya menganga lebar, karena yang ia lihat, disana, diatas kasur yang sama, seorang gadis tengah terbaring lemah, rambut hitamnya tergerai awut-awutan. Tubuh mungilnya hanya terbalut selimut tipis yang hanya mampu menutupi bagian dada sampai lututnya. Gadis itu berwajah sangat pucat, seperti orang mati, tubuhnya membiru, seakan tak ada darah yang mengalir disana.
Saat Seulgi membuka kain penutup itu, ia seharusnya tau, kalau sang gadis tengah naked. Tanpa sehelai benangpun. Dan ya Tuhan, tubuh mulusnya dipenuhi kissmark dan memar yang sudah membiru. Keningnya bahkan sudah benjol, begitu juga pipinya yang lebam. Ia mengutuk sang pelaku biadap ini.
Saat matanya beralih kebagian bawah sigadis, ia melihatnya, darah membanjiri paha dalam gadis itu. Mengotori sprei dibawahnya. Bercampur dengan cairan putih yang sudah mengering. Tak hanya itu, pergelangan tangannya juga membengkak, membiru dan itu pasti sakit sekali. Ia pernah merasakan apa yang gadis ini rasakan, tapi tak separah gadis ini, bahkan bukan apa-apa jika dibandingkan dengan ini, dan ia sudah sangat kesakitan saat itu. Jika gadis ini tak segera ditangani dengan baik, mungkin ia tak akan mampu bertahan lama.
.
.
Air mata Seulgi tanpa sadar mengalir menuruni pipi mulusnya. Ia menangis bukan karena mengingat masa lalunya, tapi melihat kondisi gadis ini. Saat ia memeriksa gadis ini, meski ia bukanlah seorang dokter, ia tau apa yang terjadi. Ia mengalami kejang perut yang hebat, juga pendarahan dalam yang parah. Semua itu kerena obat asing yang meracuni sistem pencernaanya, membuat sistem kerja otot perutnya terganggu, dan memaksa bekerja untuk lebih ekstrim. Juga kegiatan seks kasar yang didapatnya. Ia yakin, gadis ini masih virgin. Maka ia bisa mengalami hal ini. Ia merasa heran, gadis rapuh ini kuat juga mampu bertahan sampai detik ini. Meski keadaanya kritis, ia benar-benar tangguh dibalik tubuh rapuhnya.
"Kau harus ditangani dengan baik, tidak seperti ini." bisik Seulgi tanpa sadar. Ia memperbaiki letak kaus yang kebesaran di badan kurus Taeyong. Kaus besar itu menutupi sebagian badannya sampai diatas lutut. Mengelus pipinya lembut, ia menangis lagi. "Kau pasti gadis yang terhormat, cerdas dan kaya, juga banyak yang menyayangimu. Aku yakin itu, tapi kau harus mengalami hal ini. Aku berjanji, setelah ini akan melindungimu."-Seulgi menatap wajah Taeyong."Aku tidak pernah mengenalmu sebelumnya, tapi aku berjanji padamu, sungguh." mengecup pipi tirus itu ringan.
.
.
"Wahhh kau baik sekali Seulgi-sii."suara Jaehyun menghentikan aksi Seulgi. Ia beralih menatap Jaehyun nyalang, kali ini ia sudah tak takut lagi. Pria brengsek sepertinya tak pantas untuk ditakuti.
"Ya, setidaknya aku masih punya hati nurani, tidak seperti hewan liar."-Seulgi bahkan berani menyeringai. Ia seakan mendapat kekuatan setelah mengecup pipi gadis itu.
"Jangan bilang kau juga suka padanya, bukankah kau dan Doyoung species sejenis."-Jaehyun masih bersedekap ditepi pintu, melontarkan kata ejekan pada gadis pirang didepannya, "Apa perbuatanku belum mampu merubah orientasimu kembali, Seulgi-sii, ohh usaha kakakmu sia-sia saja kalau begitu, ckckc kasihan." ujar Jaehyun sambil tersenyum remeh pada Seulgi.
"Diamlah, kau dan mulut busukmu itu tak pantas menghakimiku."-Seulgi berjalan santai kearah Jaehyun, lalu membuka mulutnya lagi, "Itu artinya kau yang gagal memuaskanku brengsek, kau dan junior loyomu itu, tak menggairahkan sama sekali, dasar bajingan kecil." kata-kata Seulgi benar-benar menyinggung Jaehyun. Ia benar-benar merasa diremehkan.
"Kau wanita jalang, ka.." sebelum mengucapkan kemarahannya, Seulgi sudah memotong ucapan Jaehyun, "Kau tau, setelah apa yang kau lakukan padaku waktu itu, itu bukanlah yang terakhir untukku."-Seulgi berbalik menuju Taeyong terbaring, mendudukkan tubuh rampingnya di tepi kasur, lalu membelai rambut gadis lemah itu, "Bahkan setelahnya aku mengulanginya lagi dengan Yuri unnie, dan kau tau apa yang kurasakan?" terus mengoceh, dan kini memangku kaki kanannya dengan elegant, "Ternyata kau tak ada apa-apanya bila dibandingkannya, kau tau apa artinya, kau kalah dari seorang wanita, hahaa...kau kalah dari mantan pacarmu Jung Yoon Oh, hahaahaa.."-Seulgi tertawa tak waras, sudut matanya sampai mengeluarkan airmata, ia lantas berhenti dan menatap Jaehyun dengan bangga, "Jung Jaehyun-sii, kau fikir kau yang terhebat." berjalan menuju Jaehyun yang berdiri kaku didepan pintu, melewatinya angkuh, "Aku bahkan bisa melakukannya dengan Taeyong saat ini juga, didepan matamu, disini." bersmirk ria lalu menepuk pundak Jaehyun. "Atau kau mau threesome tuan Jung, ayo sini buktikan kehebatanmu, kau dan penis kecilmu itu."
"Kau wanita gila.."menatap Seulgi murka, "Kau tidak akan bisa menyentuhnya, tidak akan pernah!"
"Kenapa memangnya, kau siapanya hah, kau takut aku benar-benar melakukannya. Aku biseks dan aku akan dengan senang hati melakukannya. Dia sangat cantik dan sempurna, dia tak pantas untukmu. Kau hanya pemerkosa gila."
"Tau apa kau hah, kau fikir kau siapa." raung Jaehyun murka.
.
BRAKK
Memukul pintu keras, Jaehyun benar-benar tak terkontrol.
"Lihatlah, kau hanya bisa marah, marah dan marah, mengamuk lantas tak bisa mempertanggung jawabkan semuanya. Kau itu tak bisa apa-apa tuan Jung yang terhormat, just loser." Seulgi meremehkan lagi.
Jaehyun berjalan mendekati Seulgi yang berdiri menantangnya disamping meja, Jaehyun tak tahan lagi pada gadis ini, "Kau..." tapi ia hanya bisa menatap gadis itu nyalang. Ia tak bisa berlaku kasar pada seorang wanita, tepatnya dulu, tetapi, kini ia dikenal sebagai si temperament dan kasar. Maka, memukul wanita bukanlah dosa untuknya, itu kebahagiannya. Tapi harus kau tau, dosa akan terwujud karena suatu alasan. Dan itulah yang terjadi pada Jaehyun, ia sangat membenci wanita. Terutama wanita cantik.
"Dengar tuan Jung, sekalipun gadis disana itu memang benar Han Taeri, kau tidak berhak melakukan hal bejat itu padanya. Apalagi bila ternyata dia seorang gadis seperti itu."-Seulgi menunjuk Taeyong.
"Kau dan penyakit gilamu itu, aku mengutuknya." dan berlalu dari hadapan Jaehyun.
.
.
Jaehyun masih terpaku menatap udara hampa didepannya. Sampai suara langkah Doyoung mengejutkannya.
"Hahh..hahh..aku dapat. Seulgi ahh, ini ini aku dapat.." Doyoung melangkah lebar lebar menghampiri Seulgi, tak menghiraukan Jaehyun. Mereka lantas tergesa masuk kedalam kamar.
.
BLAMM
Dan pintu tertutup keras.
.
"Hehh.." Jaehyun mendengus melihat kelakuan keduanya. Mereka fikir mereka siapa, berani meremehkannya begitu. Lantas ia mendudukkan tubuh lelahnya kesofa beludru yang telah lapuk disamping pintu masuk. Menerawang kelangit-langit atap. Bayangan gadis itu benar benar mengganggunya. Tatapan mata ketakutannya, ekspresi kesakitannya, ekspresi penolakannya, suara kesakitan dan tangisannya, semuanya memenuhi benak Jaehyun. Ia seorang yang dingin, tak berperasaan dan kasar. Ia bahkan membenci wanita. Tetapi jika mengingat bagaimana ia melukai gadis itu sejauh ini, ia merasa ikut kesakitan.
Jaehyun benar-benar tak paham, bagaimana mungkin didunia ini ada orang yang sangat mirip, bentuk fisiknya, Taeri dan Taeyong. Seharusnya dari awal ia paham, curiga dan mencari tau semuanya, tapi ini tidak. Hasratnya malah semakin memuncak saat melihat gadis itu terkungkung tak berdaya dibawah kuasanya. Mengatakan bahwa ia salah orang dan terus melakukan pemberontakan. Ia benar-benar terpesona pada sosok yang ia sangka Han Taeri itu. Pada saat itu, ia malah sempat bersyukur memiliki Han Taeri sepenuhnya. Ia juga menyesal, kenapa baru menyadarinya saat itu juga. Terpesona pada sosok yang sangat dibencinya, Han Taeri, yang dicicipinya saat itu juga. Tapi ternyata itu adalah Lee Taeyong, gadis yang bahkan tak pernah ia bayangkan ada sebelumnya. Jaehyun merasa semua kebetulan ini benar-benar mencekiknya. Apa yang menimpanya kini adalah sebuah kejutan besar yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Waktu itu, saat gadis binal itu menghilang, selama tiga hari ia berkelana. Tapi tidak, ia tidak pernah berusaha sungguh-sungguh mencari gadis itu. Ia malah berharap gadis itu mati saja dan menghilang dari kehidupannya. Tapi dasar sial atau memang jodoh, ia malah menemukan gadis itu tanpa usaha sia-sia, didalam mobil mewah itu, suatu kebetulan yang indah bukan. Yang kemudian mampu mengubah paradigmanya agar tak perlu bersusah-susah jika ingin mendapatkan sesuatu, cukup hisap rokokmu dan beronanilah sendiri dengan bahagia, tapi ia salah. Suatu kebetulan tak pernah sekalipun menyenangkan, cukup baginya saja.
.
Sesungguhnya, jikalau ini semua menimpa Han Taeri, ia akan sangat bahagia. Tapi tidak pada gadis itu. Untuk menatap dan melihat kondisinya yang kini terbaring lemah saja ia tak sanggup, apalagi menyentuhnya lagi, ia takut melukainya lagi. Ia bahkan tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah gadis itu sadar, ia kini berharap gadis itu tak pernah bangun saja. Daripada ia membangunkan mimpi indahnya.
.
"Hahh..apa yang sudah kau lakukan padaku, Lee Taeyong."
.
Jadi ini semua bukan hanya mimpi buruk bagi Taeyong. Tapi inilah mimpi terindah sekaligus mimpi terburuk Jung Jaehyun, yang akan mengubah kembali hidupnya, hidup berantakannya. Jaehyun telah terjatuh pada pesona gadis itu, Lee Taeyong. Ia ingin mengubah semuanya, semua persepsi buruk tentangnya, hanya demi menebus dosanya pada gadis itu, itu jika ia masih diberi kesempatan kedua. Maka ia memantapkan hati.
.
.
.
.
Pernahkah kau mendengar istilah, kejutan atau kebetulan yang menyenangkan yang terjadi dalam hidup kita. Saat kita bertemu dengan seseorang yang kita pikirkan, tanpa kita berusaha untuk mencarinya. Atau kita mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, tanpa kita harus berusaha untuk mendapatkannya. Bukankah ini sering terjadi dalam hidup kita? Maka pernahkah kau mengalaminya?Aku rasa pernah tapi kau lantas melupakannya, karena bagimu itu sesuatu yang lumrah. Tanpa kau sadari, itu mengubah hidupmu. Itulah-Serendipity.
.
.
.
TBC
Pemirsahh...
.
.
.
Maafkan aku jika ternyata fanficnya bertele-tele nee, berasa sinetron banget ya, lebih alay dari sinetron duyung atau sinetron balapan nggak sih, hehe..Bayangkan aja ya ini sinetron cast nya JaeYong dan anak-anak NCT lainnya, kan seru tu kekeke..
Oke, karena aku suka baca ff YunJae yg lawas2 dan GS, banyak banget yg plotnya lambat dan susah ditebak, apalagi bagian NC dan ena enanya, itu banyak yg detail, lambat, kadang tersirat (mana puas hehe) tapi kadang tu penjabaran banget, pokoknya eksplisit ehh implisit lah...
Nah karena itu aku jd terbawa arus role fanfic yang begitu, serius, kalau enggak dijabarin jd ngerasa aneh sendiri, edan kan, masa nc dijabarin gt hehe,uhh tak kuat saye..
Jadi maaf ya kalau NC-nya kemarin mungkin bertele tele, bikin boring, bikin ngantuk, bikin nguap nguap eaaaa..
Sejujurnya aku ngerasa jahat banget di chap kemaren, aku menistakan Tiwai dan Jaehyun, huwee mian oppa oppaku sayang hukkss. Aku lumayan suka baca ff bdsm/abaikan, baca manga bdsm juga/abaikan lagi, tak patut dicontoh, tapi silahkan kalau ngeyel-, mau bikin kayak gitu tapi gatega sumpah kalo tokohnya itu JaeYong, karena buat aku, mereka tu masih polos, unyu, lugu/ini meragukan, apalagi Woojae, dan kalau dah pada aegyo, matek matek adek bang..padahal Jaehyun mah emang yadong yaa..kekeke
Makanya aku gajadi bikin ff tema itu, nanti kena flame lagi, kan sedih, masih newbie dibash hehe.. Aku juga masih kecil –mengakui-, maka yang tercipta ya NC alay itu..yoaa
.
Oke sekali lagi maafin aku kalo kurang berkenan ya fanficnya, semoga lebih baik lagi..
Nb : Aku bukan wikipedia, jadi miann gak cantumin arti kata diatas, pokoknya itu semua ada di pelajaranku wkwk
Dan thanks buat yg udah fav, follow juga review yg gabisa kubalas dan tulis dimari, takut kebanyakan word yuhuuuu, pokoknya kalian semangatku..
Akhir kata, RNR nee..siders-sii, kalian luar biasa,
^,^/
