Angel or Demond?

Author : Dragneel Sedeeng

Disclaimer : Saya cuman Author baru yang berani-beraninya minjem karakter milik Masashi Kishimoto-Sensei

OOC, banyak typo

Genre : Family, Mistery (maybe)

Rate aman dibaca kok ( T ) yang penting gak nyampe M

Pair : [NaruHina] Neji Hyuuga

Chapter 3

.

.

.


Sesuatu yang sulit dirubah...

Sesuatu yang terus bergulir diatas penderitaan..

Sesuatu itu.. datang dan pergi dengan menyisakan air mata..

Rentetan gigi putih itu bergemelatuk keras, menimbulkan suara yang mungkin membuat orang lain mengira gigi itu akan patah dibuatnya. Matanya memerah mewakili perasaan kalut, seperti ada sesuatu yang menyayat ulu hatinya dari dalam. Menghela nafas panjang Pemuda itu mendekati sosok yang sudah dua hari ini hanya menghabiskan waktunya didalam kamar; sosok yang sudah dua hari ini membuat Neji keluar-masuk kamar dengan gusar.

"Berhentilah seperti ini, Hinata." ujar Neji pada akhirnya. Nada suaranya tertahan, menyamarkan getaran yang mungkin ditimbulkan suara paraunya. Matanya hanya berfokus pada saudarinya yang meringkuk di atas ranjang dengan selimut tebal yang menutup seluruh bagian tubuhnya. Neji tahu apa yang dirasakan Hinata saat ini. Neji tahu akan hal itu. Perasaan itu... Dia..

"Aku tahu...Padahal hanya bertanya saja kan? Kenapa..."

Hanya mendengar jawaban saja Neji sudah hafal benar bagaimana ekspresi sang adik meskipun selimut sialan itu masih setia menutup erat tubuhnya. Neji tahu bahwa Hinata menahan luapan sakit hatinya di bawah selimut sialan itu. Neji juga tahu bahwa Hinata menahan air matanya mati-matian di bawah selimut yang 'lagi' di bilang sialan itu.

"Kenapa... begitu berat.."

Nada suara yang menyiratkan kekosongan itu berhasil ditangkap telinga Neji, lagi. Si Hyuuga sulung saat ini hanya bisa mematung mendengar penuturan Hinata.

Hening.

Tidak ada lagi suara yang menginterupsi satu sama lain. Tidak ada lagi sang Kakak yang selalu cerewet memberikan omelan dan komentar. Tidak ada lagi sang Adik yang selalu berkelit dengan seribu alasan. Tidak ada lagi...

.

.

.

.

" Kak Neji~ "

Berulang kali bibir ranum itu memanggil nama sang Kakak dengan nada yang dibuat-buat. Berulang kali juga sang Kakak membalas kalimat si Bungsu hanya dengan gelengan tegas.

"Ayolah~ " lagi, Hinata merajuk.

Kali ini Hinata memperlihatkan senyum manis: benar-benar manis untuk membujuk sang Kakak. Di dekatkannya paras cantik itu ke wajah si Sulung, Ia semakin melebarkan senyumnya hingga kedua matanya menyipit. Manis. Gadis bermata bak Lavender itu berusaha membuat senyum yang semanis mungkin. Ia semakin yakin kali ini Neji akan menuruti permintaannya.

Skakmat

Batin Neji mengumpat keras melihat ekspresi Hinata yang menurutnya 'sangat manis' itu. Ingin sekali Ia mengangguk cepat, tak sanggup menolak permintaan Hinata. Ia sudah tidak tahan untuk memeluk Hinata dan mencium pipi gembilnya. Oh ayolah Neji, jangan sampai pertahananmu runtuh hanya karena senyum manis adikmu.

"Tidak."

Hyuuga sulung menggelengkan kepala, isyarat penolakan terhadap keinginan Hinata. Namun yang membedakan kali ini gelengan itu terlihat lemah, seolah bertolak belakang dengan apa yang di ucapkannya. Bukan Neji namanya jika Ia tidak bersikap 'sok tenang' di depan Hinata.

Merasa usahanya sia-sia Hinata menghela nafas kasar, " Aku bukan anak kecil lagi yang bisa kau kawal kemana-mana, Tuan Hyuuga." satu kalimat yang ditahan Hinata sejak kemarin akhirnya bisa terungkapkan. Wajahnya tertekuk kusut akibat penolakan Neji.

Benar saja, sejak kemarin Neji menjadi lebih protektif dengan Hinata. Selalu mengekori adiknya kemana-mana. Mulai dari pulang sekolah bersama, belanja bahan makanan bersama, membeli buku pelajaran bersama, bahkan tidur bersama. Keesokan paginya'pun berangkat sekolah bersama ( biasanya berangkat dan pulang sekolah sendiri-sendiri). Di Sekolahpun Neji mengawal Hinata, bahkan saat ini Neji masih mengekori Hinata ke toilet putri Sekolah. Okey, untuk yang satu ini masih 'hampir terjadi' jika Hinata tidak menahannya di koridor dekat toilet Sekolah.

"Mengertilah, Hinata. Aku tidak ingin kejadian kemarin terulang." Neji menyangkal, tangannya menepuk pelan pundak Hinata. Sungguh Ia tidak rela jika adiknya diperlakukan mesum oleh Naruto. Pikiran Neji melayang mengingat bahwa ciuman pertama Hinata di ambil oleh pemuda jabrik itu. Sungguh! Ia benar-benar tidak rela jika ada yang mencium Hinata selain dirinya!

Bukannya Neji juga ingin mencium bibir Hinata, bukan. Oh ayolah, Neji hanya mencium bagian kening atau pipi Hinata saja dan itu hanya sebuah ciuman kasih sayang kakak ke adik, tidak lebih. Neji selalu merasa bahwa Hinata adalah miliknya dan Ia begitu tidak rela jika ada yang mencium Hinata selain dirinya. Hyuuga sulung tersebut akan benar-benar menghakimi seseorang yang berani mencuri ciuman sang adik. Ditambah kemarin telinganya menangkap kalimat yang meluncur dari bibir Hinata sendiri bahwa ada yang mencium paksa bibir adiknya itu. Kejadian ini benar-benar membuat Neji geram.

"Tapi tidak untuk ke toilet perempuan, Kak Neji!" si bungsu Hyuuga kini menaikkan nada bicaranya. Sungguh, Ia sangat menyesal membohongi sang Kakak demi ide gilanya kemarin. Menghela nafas sejenak, "Psst.. Kak Neji, apa kau mau mengintip para gadis yang hanya mengenakan celana dalam super seksi di dalam toilet?" bisiknya jahil. Mungkin dengan cara ini Kakaknya akan pergi dan berhenti mengikutinya.

Bletakk

Neji memukul keras kepala Hinata meskipun ada rasa bersalah menyelubungi batinnya. Wajahnya memerah mendengar perkataan Hinata yang dirasa cukup frontal, " Aku tidak semesum itu." Ucap Neji masih dengan nada 'sok tenangnya'.

Mengusap kepalanya pelan, "Sakit." Hinata mengerucutkan bibirnya yang membuat Neji gemas akan paras imut sang adik.

Menghela nafas kasar Hinata melanjutkan, "Kak Neji tidak perlu cemas, aku bisa menjaga diriku sendiri. Sebenarnya aku bisa saja menghajar si mesum itu kemarin, tapi entah kenapa_" ucapan Hinata berhenti mendadak. Bukannya ada yang menyela perkataannya, hanya saja..

"Entah kenapa?" alis Neji terangkat sebelah menanti lanjutan kalimat Hinata yang dirasa cukup ganjil. Membuat Hinata membungkam erat bibir mungilnya. Tatapan Neji semakin menyelidik ke arah Hinata yang saat ini terlihat gugup di buatnya.

"Lihat ke arahku, anak nakal." protes Neji dengan alis yang sudah bertaut, menimbulkan kerutan di dahinya. Tangannya bersidekap menghakimi sang adik.

'Sialan! Aku salah bicara!' begitulah batin Hinata yang saat ini hanya bisa menepuk jidatnya sangat keras, sengaja memang.

"Jangan-jangan kau memang tidak berniat melawan?" desak Neji masih tak terima. Matanya sudah mendelik tajam ke arah Hinata.

"Eh.. Bukan begitu, hanya saja_"

" Ternyata benar apa kata Ten ten." Neji memotong kalimat Hinata. Ia terlihat frustasi, menunjukkan wajah lesu, dengan nada bicara yang lebih pelan dari biasanya. Ia melangkah gontai meninggalkan sang adik sendirian di koridor Sekolah.

Benar saja. Ten ten. Mendengar nama Ten ten yang disebut-sebut membuat kepala Hinata berdenyut sakit mengingat mulut ember gadis bercepol dua itu.

'Sialan kau, Ten ten!' lagi-lagi Hinata mengumpat dalam hati.

.

.

.

"Sudahlah ibu, tidak perlu berlebihan seperti itu! Aku.. tidak apa-apa."

Wanita berperawakan dewasa nan tegas yang di panggil ibu tersebut hanya menimpalinya dingin. Meskipun berusia paruh baya tapi wanita itu masih terlihat muda dengan kondisi tubuh yang terawat, menampilkan kesan tersendiri bagi yang melihatnya.

"Apanya yang 'tidak apa-apa', Shion? dengan luka lebam seperti itu_"

"Ibu! Aku tidak apa-apa! dan jika ibu melakukannya, 'gadis itu' mungkin akan mengolokku sebagai tukang adu!"

Suara keras Shion saat ini membuat bungkam seluruh penghuni yang barada di ruang guru. Mereka menutup rapat mulutnya dan berpura-pura sibuk sendiri-sendiri. Bahkan Kepala Sekolah yang kebetulan berada di ruangan itu juga menutup rapat mulutnya. Bayangkan saja, anak dari donatur terbesar Konoha High School mengalami kekerasan dan saat ini Ibunya yang baru saja menjabat sebagai salah satu guru disini sedang meminta keadilan. Ini merupakan momok tersendiri bagi Kepala Sekolah.

Merasa tidak ada respon dari wanita yang mempunyai rambut yang hampir sama dengannya, Shion melanjutkan,"Lagipula ini hari pertama Ibu mengajar disini, jadi aku tidak mau semua siswa salah sangka jika ibu mengajar disini karena alasan 'itu'."

"Ibu berjanji tidak akan ada yang mengolokmu," Satu kalimat tegas yang meluncur dari bibir ranum ibunya membuat Shion bungkam. Menghela nafas sejenak Wanita itu melanjutkan, " Kepala Sekolah, siapa nama gadis itu?"

"Hinata."

Bukan.

Bukan Kepala Sekolah yang baru saja menjawab pertanyaannya. Hampir semua pasang mata di ruangan itu mendelik tajam, tertuju ke sumber suara yang menampilkan sosok pirang (lagi) namun kali ini seorang laki-laki dengan seragam khas Konoha High School. Kepala Sekolah sudah naik pitam melihat kelakuan pemuda yang di anggapnya sangat tidak sopan itu tiba-tiba masuk ke ruang guru dan menyela pembicaraannya.

"Oh, Naruto," lagi, Kepala Sekolah kalah start, namun kali ini dengan istri dari Donatur terbesar Sekolahnya. Kepala Sekolah hanya bisa menghela nafas panjang, merasa kehadirannya saat ini terlupakan.

" Jadi, apa kau mengenal gadis itu?" lanjutnya.

"Lebih tepatnya 'hanya sekedar tahu'." jawab Naruto sembari bersidekap. Bibirnya tersenyum kecil mengingat gadis Hyuuga yang baru ditemuinya kemarin.

"Hinata, ya? Antarkan aku menemuinya." wanita berambut pirang yang diikat rapi itu berjalan tegas, seolah tidak sabar ingin menerkam gadis yang melukai anak tercintanya.

.

.

.

Hinata Hyuuga, kelas 1-5 yang menjadi trend topic saat ini melangkah mantap menuju kelasnya. Ia bernafas lega karena sang Kakak sudah tidak mengekorinya lagi. Meskipun beberapa pasang mata memperhatikannya, gadis bermarga Hyuuga itu sudah tidak peduli dan berlalu begitu saja. Sembari melangkah tangannya sibuk mengikat rambutnya asal dengan ikat rambut berwarna merah, nampak terlihat kontras dengan warna rambut indigonya. Ia terlihat lebih manis dengan menyisakan poni yang menutupi dahinya.

"Psstt.. Aku dengar akan ada 'Guru baru' di Sekolah ini."

Deg

Hinata melambatkan langkahnya, tidak sengaja mendengar percakapan salah satu dari segrombolan siswa laki-laki yang berjalan di depannya.

"Benar juga. Aku penasaran seperti apa wajahnya."

Dengan pasti, Hinata masih mengikuti gerombolan siswa di depannya dengan langkah pelan. Langkahnya semakin berat, mendengar pembicaraan dari rekan sekelasnya itu.

"Tentu saja cantik, aku sudah melihat fotonya yang beredar."

"Keh. Percuma cantik jika tidak menyukai anjing."

"Kau ini bicara apa, Kiba. Ah.. dengar-dengar ini hari pertamanya mengajar sejak delapan tahun terakhir."

Kaki jenjang Hinata berhenti melangkah tiba-tiba. Pandangannya kosong, seolah jiwa yang ada dalam raganya menghilang. Nafasnya tercekat untuk kesekian kali, menahan ribuan jarum yang sudah delapan tahun ini menancap erat dalam hatinya. Sudah delapan tahun juga Ia mencari sesuatu yang disebut obat untuk mencabut duri tersebut. Kali ini, untuk pertama kali Hinata merasa bahwa rasa sakit yang dilaluinya selama ini akan segera hilang.

Selang beberapa saat Hyuuga bungsu itu mengambil langkah ragu, menyusul segerombolan siswa laki-laki yang sudah berada jauh di depannya. Deru nafasnya semakin memburu bersamaan langkah kakinya yang lambat laun semakin cepat.

Tap Tap Tap

Derap langkahnya semakin cepat hingga berhasil menyusul segerombol siswa laki-laki tadi. Setelah cukup dekat, Hinata menarik kasar kerah belakang salah satu siswa di hadapannya.

"Hei! Apa yang kau...!" sang korban terpaksa menghentikan aksi protesnya setelah mengetahui siapa tersangka yang telah menariknya kasar dari belakang. Siswa yang lain hanya diam tanpa berani berkomentar apapun.

"Jelaskan." hanya sepatah kata yang meluncur dari bibir ranum Hinata, membuat semuanya bertanya-tanya akan maksud dari gadis bermatakan lavender ini.

"Eh, apa mak-maksudmu..ah tidak, maksudku.. eh, mak-maksudnya_" laki-laki pecinta anjing tersebut bingung harus menjawab apa. Takut jika jawabannya akan mengancam keselamatan jiwanya.

"Jelaskan tentang Guru baru itu, Kiba Inuzuka." pinta Hinata lebih jelas. Sorot matanya terlihat tegas menandakan keseriusan. Tangannya masih mencengkeram erat kerah belakang seragam Kiba. Hal ini membuat Kiba segera menjawab kalimat yang berisi perintah dari Hinata tanpa pikir panjang. Baginya saat ini adalah 'lebih cepat lebih baik'.

"Hinata!"

Gadis yang selalu bercepol dua tersebut berhasil menghentikan kalimat yang hampir saja meluncur dari bibir Kiba, membuat Hinata berdecak kesal. Batinnya mengumpat keras pada Ten ten hingga bayangan untuk menjahit mulutnya terlintas di benak Hinata. Di lain sisi Kiba bisa bernafas lega karena Hinata sudah melepaskan cengkeramannya.

"Kau mengganggu saja, Ten ten!" teriak Hinata kesal.

"Simpan rasa kesalmu nanti, saat ini ada Wanita pirang yang mencari dan menunggumu di kelas." Ten ten menyikapi teriakan Hinata dengan tenang.

"Wanita pirang?" ulang Hinata, emosinya menghilang seketika. Batinnya bertanya-tanya tentang siapa wanita pirang yang mencarinya di kelas.

Ten ten mengangguk mantap, "Kelihatannya Ibu dari Shion." ucapnya berpendapat.

"Cih, pecundang itu." Hinata memutar matanya bosan akan berita yang di dengarnya. Tentu Hinata gadis yang cerdas mengetahui apa yang sebenarnya terjadi tanpa penjelasan lebih banyak dari Ten ten. Oh ayolah, kenapa harus dicari di kelas dan tidak dipanggil ke ruang Kepala Sekolah saja. 'Bodoh', begitulah batin Hinata sekarang. Bukannya takut, Hinata malah semakin tertantang akan apa yang ingin derencanakan Shion kali ini.

.

.

.

Matahari begitu terik siang ini, membuat Neji menenggak habis soda yang di genggamnya kemudian membuang kaleng kosong tersebut ke sembarang arah. Bukannya di Sekolah ini tidak ada aturan untuk 'membuang sampah ke tempatnya' ataupun 'hukuman' bagi siapa saja yang melanggar aturan tersebut, hanya saja saat ini Neji sedang berada di belakang gedung tua Sekolahnya yang notabene jarang sekali dijamah oleh para siswa. Penjaga Sekolahpun hanya berada di tempat itu untuk sekedar bersih-bersih pada waktu pagi hari saja, sehingga Neji lebih memilih tempat tersebut untuk menenangkan kegundahan hatinya. Hei! Kau sedang tidak patah hati kan, Neji?

Kedua alis Neji bertaut, memperlihatkan beberapa garis kerutan di dahinya. Jemari kekarnya mengurut keras pelipisnya yang dirasa berdenyut sakit. Bukan. Neji mengurut pelipisnya bukan karena sakit, hanya saja Ia merasa frustasi dengan apa yang diketahuinya beberapa menit lalu. Saat ini Hyuuga sulung tersebut benar-benar percaya bahwa apa yang dikatakan Ten ten itu benar adanya.

"Benarkah.. Hinata penasaran bagaimana rasanya 'berciuman' itu?!" gumamnya pelan. Ia sama sekali tidak tahu bahwa adik kecilnya yang polos dulu kini sudah mengerti tentang 'berciuman' dalam arti yang lebih serius. Neji berfikir bahwa harus lebih mengawasi adiknya, apalagi mengetahui fakta bahwa Hinata enggan melawan perlakuan mesum Naruto kemarin.

Detik berikutnya pikiran Hyuuga sulung tersebut melayang, membayangkan sebuah adegan dimana Hinata dengan Naruto sedang melakukan hal yang sangat-sangat tidak disukai olehnya,

"Na.. Naruto-kun."

"Hinata."

"..."

STOP!

Neji membenturkan kepalanya sendiri ke batang pohon besar yang ada di depannya, tidak bisa membayangkan bagaimana sang adik dengan sukarela berciuman di bawah sinar rembulan dengan Laki-laki yang sudah mempunyai pacar. Sungguh! Neji benar-benar tidak rela jika Hinata sampai melakukannya dengan Laki-laki seperti Naruto. Baginya Naruto bukanlah orang yang pas untuk sang adik yang amat sangat disayanginya tersebut. Neji sudah mempertimbangkan orang yang pas untuk Hinata adalah tipikal Laki-laki yang tampan, jenius, selalu bersifat tenang, berambut coklat dan terawat, menguasai tehnik bela diri dan terkesan cool. Hei! Bukankah itu lebih menjerumus ciri-ciri darimu, Neji?

Berhenti membenturkan kepalanya Neji sunyum-senyum sendiri sembari mengangguk-anggukkan kepalanya dengan tangan yang bersidekap, membayangkan tipikal Laki-laki yang akan dinikahi adiknya suatu hari nanti.

"Kak Neji tidak perlu cemas, Aku bisa menjaga diriku sendiri. Sebenarnya aku bisa saja menghajar si mesum itu kemarin, tapi entah kenapa_"

Senyum Neji memudar bersamaan ingatan akan kalimat adiknya yang memang membuatnya terganggu. Neji bukanlah Kakak yang bodoh akan bagaimana logat sang adik yang memang sudah di hafalnya. Detik selanjutnya mimik tampan itu kembali terlihat frustasi sembari menjambak rambutnya sendiri.

"Sialan kau Naruto! Aku tidak akan pernah membiarkanmu membawa Hinata terbang ke langit dan menciumnya di bawah sinar rembulan!" Tanpa sadar Neji berteriak histeris, masih dalam kondisi menjambak rambutnya sendiri. Oh tidak, sepertinya Neji terjebak dalam imajinasi tinggi yang dibuatnya sendiri.

.

.

.

Para siswa berkerumun di depan kelas 1-5, membuat Hinata susah payah menerobos masuk ke dalamnya. Tanpa bertanyapun Hinata sudah tahu akan apa yang terjadi. Entah kenapa jantungnya berdetak tanpa ritme yang teratur saat ini. Tubuhnya terus berdesakan dengan siswa lain, berusaha mencari celah kosong untuk menemui sosok yang mungkin sudah menunggunya. Detik selanjutnya manik Lavender itu berhasil menangkap dua sosok perempuan pirang dan seorang pria paruh baya yang diketahuinya sebagai Kepala Sekolah. Mereka tampak membincangkan sesuatu dengan serius.

'Apakah itu ibu Shion?' begitulah batin Hinata saat ini, berdiri mengamati di antara para siswa yang sebagian masih menutupi jalannya. Kakinya menjinjit untuk melihat lebih jelas lagi.

"Ada apa, Hinata? tidak berani menemuinya?" emosi Hinata tersulut mendengar kalimat yang terlontar sangat dekat di telinganya. Kepalanya menoleh, mencari tahu siapa pelaku yang sudah menyindirnya halus.

"Apa maksudmu, pirang mesum?!" cerca Hinata tak terima setelah mengetahui siapa orang tersebut.

Laki-laki pirang yang di panggil mesum itu hanya tersenyum kecil tanpa berkomentar apapun. Ia semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Hinata hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja, "Panggil aku.. Naruto-kun." ucapnya sembari mengelus bibir ranum Hinata.

"Ma.. mati kau, mesum!" bersamaan dengan teriakannya Hinata memukul keras wajah Naruto hingga tersungkur ke lantai. Bukan hanya Naruto saja yang tersungkur, tapi juga beberapa siswa lain yang berada di dekat Naruto juga terkena imbasnya : tertabrak tubuh Naruto. Saat ini Naruto hanya bisa mengerang kesakitan.

"Rasakan itu, dasar me_"

"Apa kau yang bernama Hinata?" wanita pirang tersebut menyela perkataan Hinata dan menghampirinya. Kedua alis Hinata berkerut setelah melihat dari dekat wajah wanita pirang yang Ia tebak adalah Ibu Shion. Entah kenapa Ia merasa familiar dengan wanita paruh baya yang ada di hadapannya saat ini.

"Yah.."

Hinata merasa kikuk dengan apa yang terjadi. Pasalnya semua pasang mata kini hanya tertuju padanya dan wanita paruh baya tersebut. Ruangan kelas begitu hening, hingga Ia menggaruk kepalanya sendiri yang tidak gatal. Sesaat kemudian maniknya tidak sengaja menangkap sebuah adegan dimana Shion membantu Naruto untuk berdiri. Hal ini membuat Hinata memutar bola matanya bosan, yang entah kenapa Ia ingin sekali memukul pasangan sok manis itu.

"Begitu ya. Kau mengingatkanku pada seseorang," satu kalimat dari wanita paruh baya tadi berhasil menyadarkan Hinata untuk kembali ke dunia nyata.

"Tapi bukan berarti aku tidak akan menuntutmu atas apa yang terjadi." lanjutnya.

Hinata mengernyit; tidak mengerti apa yang dimaksud dari wanita ini. Oh ayolah, Hinata gadis yang cerdas dalam mengamati situasi. Ia tahu bahwa wanita yang ada di hadapannya saat ini adalah Ibu dari Shion, dilihat dari pakaiannya yang terlihat dewasa dan warna rambut pirangnya meskipun sedikit berbeda.

"Sebaiknya anda mengatakannya langsung, tidak perlu berbelit-belit seperti itu." Hinata menjawab tegas sesuai apa yang ingin dikatakan kata hatinya. Semuanya tercekat dengan ucapan Hinata yang lagi di luar dugaan ini.

"Ja..jaga cara bicaramu!" Kepala Sekolah menyela.

Wanita paruh baya tersebut menepuk pelan pundak Kepala Sekolah, seakan memberinya isyarat untuk tidak ikut campur.

"Seharusnya kau sadar akan posisimu saat ini, Hinata." terang wanita itu.

"Saya sadar. Bahkan sangat-sangat sadar bahwa saya hanyalah siswa yang mendapat beasiswa gratis di Sekolah ini."

"Justru itu. Jika sadar, kau harus menjaga sikapmu di Sekolah ini."

Perdebatan mulai terjadi antar keduanya, membuat berpasang-pasang mata yang melihatnya tertegun. Keduanya saling bertatapan intens dengan ekspresi yang sama pula.

"Saya hanya melakukan hal yang menurut saya benar." lagi, Hinata tidak mau kalah untuk menjawab. Sorot matanya terpancar akan kepercayaan diri yang luar biasa, tanpa adanya rasa takut sedikitpun mengahadapi seorang Istri dari donatur terbesar Sekolahnya.

Emosi mulai menyelimuti benak wanita pirang yang berstatus sebagai Ibu Shion tersebut, " Dengan memukuli putriku? Hal seperti itu.. kau anggap benar?! Itu adalah sebuah kejahatan!" setiap kata yang di ucapkannya penuh dengan penekanan, menahan emosi yang sudah melandanya.

"Benarkah? Lalu bagaimana dengan putri anda sendiri?" Hinata menatap tajam Shion yang berdiri tak jauh darinya. Kaki jenjangnya melangkah menghampiri Shion kemudian menarik kasar tangan gadis pirang itu dan menyeretnya ke hadapan Ibunya.

"Kenapa kau tidak sekalian menceritakan semuanya, Shion? Bukankah ini bagus? Di hadapan ibumu, Kepala Sekolah, dan.. para siswa?" ujar Hinata yang disetiap katanya penuh dengan intimidasi, membuat Shion membungkam mulutnya rapat-rapat.

"Aku sangat menyayangkan etikamu itu, Hinata. Aku sudah menolerir tindakanmu dengan tidak mencabut beasiswamu dan menuntut untuk mengeluarkanmu dari sekolah, karena.." wanita itu mengurut pelipisnya keras dan mengambil nafas sejenak, terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya.

Deg

Jantung Hinata terasa terhantam batu besar.

"Karena.. kau yatim piatu dan tidak ada kerabat yang mengurusmu." lanjutnya.

Tanpa sadar Hinata semakin kuat mencengkeram pergelangan tangan Shion, disertai dengan erangan sakit yang meluncur dari bibir gadis pirang tersebut.

Srett

Dengan cepat wanita itu menarik tangan Hinata, melepaskan putrinya dari cengkraman gadis berambutkan indigo tersebut,

"Sekarang minta maaflah kepada Shion dan akuilah kesalahanmu di depan semuanya." ujarnya tegas, masih dengan mencengkeram tangan Hinata.

Tidak ada respon sama sekali dari Hinata. Ia terdiam. Diam, merasakan ulu hatinya saat ini tengah dicacah oleh ribuan pisau tumpul. Nafasnya tercekat, sekuat tenaga Ia menahan rasa sakit itu hingga Ia lupa bagaimana bernafas. Ia menggigit bibirnya sendiri dengan kuat, berharap jika rasa sakit itu akan hilang.

"Kau.. Binatang.. berwujud Manusia." ucap Hinata pada akhirnya setelah Ia menepis kasar cengkraman dari tangan wanita paruh baya tersebut.

Semua pasang telinga yang mendengarnya pasti akan menangkap bahwa nada kalimat yang dilontarkan Hinata penuh dengan getaran dan emosi yang tertahan. Hal ini membuat wanita pirang itu semakin geram. Ia sudah ingin menampar gadis dihadapannya yang menurutnya tidak tahu aturan dan perlu adanya bimbingan khusus.

Keadaan semakin rumit sekarang. Semua siswa yang melihat ikut merasakan hal yang sama; tegang. Beberapa siswa mundur, tidak mau ikut terlibat. Beberapa juga ada yang semakin mendekat, ingin lebih tahu lagi apa yang akan terjadi.

"Sudah cukup! Tindakanmu terhadap Nyonya Tsunade sudah tidak bisa di maafkan! Kau akan ku keluarkan dari Sekolah ini!" kepala Sekolah akhirnya angkat bicara, membuat wanita berstatus sebagai Ibu Shion itu mengurungkan niatnya.

Mendengar kalimat berisi bentakan dari Kepala Sekolah, Hinata semakin kuat menggigit bibirnya sendiri. Air matanya sudah menggenang di pelupuk manik Lavender jernih itu. Tangannya mengepal erat hingga jemari lentiknya terlihat pucat.

Naruto yang dari tadi mengamati hanya terdiam, menatap aneh pada diri gadis Hyuuga yang berdiri tak jauh darinya. Ia berusaha mencairkan suasana, " Eh.. bukankah masalah ini lebih baik di selesaikan di Ruang_"

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, mata Naruto terbelalak. Semuanya tampak syock akan apa yang terjadi, tak kecuali dengan Kepala Sekolah. Naruto tak habis pikir dengan tindakan nekad gadis berambut indigo itu saat ini.

"Bahkan.. kau.." Hinata bergumam pelan meskipun masih cukup terdengar oleh yang lain. Tangannya saat ini mencengkeram kasar kerah baju wanita bernamakan Tsunade tersebut, bahkan hampir mencekiknya. Setiap katanya penuh dengan kebencian, sorot matanya kini terlihat tajam meskipun ada sedikit liquid bening yang mengaburkannya. Nafasnya tercekat, hingga Ia bersusah payah untuk melanjutkan kalimat yang akan dilontarkannya. Namun hal itu percuma, sekuat apapun Hinata tidak bisa melanjutkan kalimat itu. Seperti ada sesuatu yang menahannya dari dalam. Sesuatu yang.. menyakitkan.

Sakit. Hatinya sangat sakit. Itu yang dirasa Hinata saat ini. Ia sudah tidak bisa membendung air matanya lagi. Butiran kristal bening itu mengalir begitu saja di pipi mulusnya. Cengkramannya perlahan melemah, seolah kehilangan daya untuk menopang tubuhnya sendiri.

Naruto hanya diam mengamati. Begitu pula dengan Shion. Netranya menangkap ada yang aneh dari gerak gerik dan raut muka Hinata, hingga..

Brukk

Shion mendorong keras tubuh Hinata hingga tersungkur, "Singkirkan tanganmu dari Ibuku, jalang! Apa kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan?!" ucapnya penuh emosi. Ia tidak terima melihat Ibunya diperlakukan kasar oleh enemy'nya.

Tidak ada respon dari Hinata. Ia menunduk dalam, kedua tangannya membungkam mulutnya sendiri. Gadis itu terisak. Menahan isakannya yang terdengar pahit.

Hal ini membuat Naruto lagi-lagi tak bergeming. Di fikirannya Naruto sudah menebak bahwa Hinata akan maju menyerang Shion dengan brutal, Naruto yakin akan hal itu. Namun ekspektasinya salah untuk yang kesekian kali. Gadis seperti apakah Hinata itu? Ia benar-benar sulit untuk di tebak. Namun ada satu hal yang benar-benar Naruto sadari saat ini; itu bukanlah air mata palsu. Karena pemuda pirang itu terus mengamati Hinata dan mencerna semua yang terjadi dari awal tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun.

Detik selanjutnya Hinata perlahan berdiri tanpa mempedulikan omelan Kepala Sekolah yang sudah tertangkap indra pendengarannya bertubi-tubi. Namun itu hanya angin lewat semata bagi Hinata, begitu pula bisikan-bisikan samar dari siswa lain. Dirasa cukup mempunyai tenaga untuk berdiri, wajah yang tadi terlihat menyedihkan kini hilang entah kemana. Sorot matanya kini kembali terlihat tegas namun kosong.

"Aku tahu.. bahkan sangat tahu wanita seperti apa Ibumu itu." ucapnya, sembari meninggalkan ruang kelas tanpa menoleh sedikitpun. Para siswa yang menghalangi jalannya segera menyisih untuk memberian jalan untuk Hinata, tanpa aba-aba.

'Aku mengerti..' batin Naruto. Kakinya melangkah menyusul Hinata.

.

.

.

.

To be continued..

Yak akhirnya chapter 3 SELESAI!

Ini hasil pengetikan menggunakan Sistem Kebut Semalam jadi maaf kalau feel'nya gak dapet dan hasilnya mengecewakan :/

Saya sudah berusaha dan maaf lagi update'nya lama karena terlalu sibuk dengan berbagai macam tugas di tambah masalah kerja paruh waktu saya yang begitu banyak deadline. (curhat XD)

Oh ya.. sebenarnya chapter ini masih panjang tapi karena takut kepanjangan n membosankan jadi yang saya masukin cerita yang menjurus ke konflik utama aja. Ini cerita saya buat alur mundur. Kalo gak ngerti di baca dua kali juga gakpapa, sebagai bonus nanti saya kasih hadiah piring cantik di toko terdekat :D

Chapter 4 akan saya ambil dari sudut pandang Naruto dan mengungkap apa yang terjadi dengan Hyuuga sibling XD dan mungkin banyak NaruHina Scene.

Next chapter saya akan buat Hidden Chapter part 2. Tapi chapter 4 mungkin saya akan publish habis lebaran karena ni laptop mau saya sekolahin dulu, biar dapat tittle S.peg.

Terima kasih atas reviewnya.. dan kali ini Author akan siap bila ada yang mengkritik :D

Kritikan pedas juga gakpapa kok, tapi mungkin Author langsung Hiatus. Geheeee XD

sekali lagi makasih banget buat Temen2 yang ngereview.. dan makasih juga buat dukungannya...

oh ya.. selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan..

sekalian juga minal aidzin wal faidzin..

sampai ketemu habis lebaran... :D

Dragneel Sedeeng