Angel or Demond?

Author : Dragneel Sedeeng

Disclaimer : Saya cuman Author baru yang berani-beraninya minjem karakter milik Masashi Kishimoto-Sensei

OOC, mohon maaf atas banyaknya typo

Genre : Family, Mistery (maybe)

Rate aman dibaca kok ( T ) yang penting gak nyampe M

Pair : [NaruHina] Neji Hyuuga

Warning: Mungkin 80% jalan cerita yang kalian tebak itu salah XD

Chapter 5

.

.

.

.

Pada akhirnya, hanya dentingan jam yang terdengar. Detakannya beraturan, juga lembut. Udara sejuk menyapa Neji melalui jendela; tempatnya menerawang. Dalam ruangan sunyi itu, Ia melihat sejenak makanan yang tersaji di atas meja. Adiknya tidak memakannya, bahkan menyentuhnya.

"Setidaknya kau memakannya walau hanya sesuap."

Dan akhirnya lagi, Neji yang memulai pembicaraan.

Hinata tidak merespon. Selimut tebal itu masih setia menutupnya; erat. Setidaknya, Ia tidak harus mengurung diri di kamar selama dua hari. Setidaknya, Ia harus membuka selimut yang menutupinya agar Neji bisa lebih dalam berbicara padanya. Setidaknya lagi, Ia harus tahu; cuaca hari ini sangat cerah. Setidaknya, dan setidaknya lagi.. begitulah pikir Neji.

Sejenak, Hyuuga sulung itu melihat jam duduk kecil di atas meja yang terus berputar; berdetak teratur. Menunjukkan waktu yang telah lama mereka habiskan. Dan selanjutnya Ia mengamatinya. Jam itu berbentuk persegi, berwarna violet dan bermotifkan pohon oak. Terdapat ukiran unik di pinggirannya.

"Wanita itu.. dia ada disini.. seharusnya aku bertanya padanya... tapi aku.. tidak bisa.. aku begitu takut!"

Dan kesunyianpun terpecah.

Neji menoleh kearahnya, adiknya; Hinatanya. Selimut tebal bermotif bunga lavender itu telah tersingkap. Hinata sudah duduk dengan memeluk lututnya sendiri.

Sang kakak menghampirinya, "Tenanglah, Hinata." Ia duduk di sebelahnya.

Manik bulan itu terlihat redup. Air matanya menggenang, seolah membentuk bingkai transparan di kedua kelopaknya. Ia menggigit keras bibir bawahnya, "Bagaimana bisa tenang... bagaimana bisa, Kak Neji setenang ini?" ucapnya bergetar.

Neji menunduk dalam. Ia mengepal erat tangannya sendiri, "Apa kau pikir, aku setenang itu?! Apa kau pikir, aku tidak melakukan apa-apa?! apa kau pikir..." dan Neji menggantung kalimatnya.

Hinata tersentak akan kalimat Neji yang setiap katanya penuh dengan penekanan. Ia sadar, bahwa bukan dirinya seorang yang terluka. Bahwa bukan dirinya seorang yang merasakan sakit seperti itu.

Neji mengambil nafas dalam, "Hinata," ucapnya lembut. "Apa kau yakin, orang itu..." lanjutnya sedikit ragu. Perasaanya kalut, ada kebimbangan di benaknya.

"Aku tidak akan melupakan tangan yang sudah menghancurkan semuanya." Hinata menyahut. Kali ini emosi Hinata memuncak. Ketakutan yang Ia rasakan tadi hilang begitu saja. Selanjutnya Ia menatap kosong kakaknya. Ingatan apa yang telah menimpa mereka baru saja terputar.

Ingatan akan wanita kejam itu, wanita yang telah membunuh ayah tersayangnya; juga membuat kakak satu-satunya menderita. Waktu itu Hinata masih kecil, dan hanya bisa terdiam; bertindak seolah tidak mengerti apa-apa. Hal itu yang sangat Ia sesali hingga saat ini. Ia malah berlari sambil menangis menuju kamarnya, bersembunyi dibawah ranjang empuknya. Sangat pengecut, bukan?

Hinata memejamkan matanya, menyadari sesuatu. Menyadari bahwa dirinya belum berubah sama sekali sejak delapan tahun lalu. Mengingatkan jika dirinya begitu lemah dan pengecut. Namun kali ini Ia mengambil tekat dalam, bahwa hal yang diputuskannya kali ini tidak akan pernah Ia sesali. Ia tidak akan lemah.

Neji menatap nanar adiknya, "Hei.. bisakah kita ke taman? Hari ini begitu cerah."

Neji tahu, bahwa apa yang dikatakannya begitu menyimpang dari pembicaraan.

Hinata menoleh, "Sebenarnya, apa yang Kakak pikirkan?" berhenti sejenak, "Apakah.. kakak sudah melupakan semuanya?" lanjutnya. Ia semakin dalam memeluk lututnya sendiri.

Neji mengacak pelan rambut adiknya, "Aku tidak akan melupakan orang yang membuat adikku menangis." ucapnya, tersenyum lembut.

"Tapi, bisakah kau menyerahkan semuanya pada kakak?" Neji menatap dalam adiknya. Ia tidak ingin adiknya terjebak lebih dalam dengan kebencian itu. Biarlah, cukup Neji saja yang merasakan hal itu dan melakukan; membereskan semuanya.

"Baiklah, cepat ganti bajumu dan ikut aku, anak nakal." Neji berdiri sambil bersidekap. Raut mukanya kembali seperti biasanya. Seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

.

.

.

Neji's Point of View

Tidak ku hitung berapa lama aku berdiri disini. Langit berwarnakan samudra dan pepohonan hijau telah berkabung. Desiran angin menghembus, menerpa pipiku. Kuputar mataku sejauh yang ku bisa. Banyak sekali orang yang berlalu lalang. Laki-laki dan Perempuan. Kakek dan Nenek. Orang tua dan anaknya. Ada juga seorang Ibu dan.. anaknya. Mereka semua tampak bahagia.

Sedikit pikiran mengingatkanku, bahwa waktu yang ku lalui semakin berhenti. Menyisakan sebuah kenangan tanpa adanya bukti. Begitu pula seorang yang berdiri di sebelahku saat ini. Seseorang yang begitu ku sayangi. Ia tersenyum lembut, sesaat membantuku melupakan sesak yang mencengkeram. Senyuman itu, aku ingin selalu...

"Bahagia.."

Kusipitkan mataku. Ia masih tersenyum melihat orang-orang itu, " Mereka terlihat sangat bahagia." ulangnya memperjelas kalimat pertamanya.

Kupanggil namanya pelan, hingga menoleh kearahku. Iris serupa lavendernya berhiaskan liquid bening. Ia menggigit bibirnya, menyedihkan memang. Namun inilah jalan hidup yang kami lalui. Terombang-ambing oleh takdir dan tenggelam oleh... kebencian.

Cahaya kecil menerobos melalui celah dedaunan dari pohon yang kami singgahi. Kembali desiran angin menerpa, menyapu lembut surai panjangnya; tak beraturan. Ia bergumam akan sesuatu. Bergumam dengan suara yang serak. Suara yang pelan tapi dalam. Suara yang membuatku merasa dingin dan kosong.

Aku memejamkan mata. Bayangan masa lalu menyeruak masuk dalam ingatanku. Mereka, dan bersama mereka aku akhirnya keluar. Dari sekian banyaknya, hanya kami; yang tersisa. Saat itu pula, aku melukiskan jejak kaki di atas sebuah dunia yang lain. Tidak ada sedikitpun kebimbangan dalam diriku. Waktu itu. Tapi... perasaan apa yang sedang kurasakan saat ini? Bimbang? Apakah aku ragu dengan keputusan ini? Apakah saat ini aku meragukan jalan yang kupilih?

Kegelapan mulai menyelimutiku. Aku mulai sadar. Bahwa jalan yang kami pilih hanya akan berakhir dengan kepedihan. Aku tahu itu. Aku tahu bahwa semua ini akan membawa akhir yang pahit. Ketakutan ini...

"Kakak.."

Dan semuanya menghilang. Suara itu menghapusnya. Suara yang bisa membuatku bertahan dari semua kepiluan ini. Tidak.. mungkin Ia juga menahan semua sakit ini. Untuk itu, aku selalu berusaha tersenyum di depannya seolah semua baik-baik saja. Hei, bukankah aku mengajaknya kesini untuk membuatnya tersenyum?

Aku membuka mataku, dan menatap langsung manik serupa lavender itu. "Ada apa?" lanjutnya. Ia menatapku dengan seksama. Alisnya naik, menunggu jawaban dariku.

"Hmm," aku menggeleng pelan dan menatapnya lagi, "Tidak apa-apa. Aku hanya... sangat mengantuk." aku berbohong.

Dia tertawa cekikikan; geli. "Dasar, jika kau mengantuk kenapa memaksa untuk mengajakku kesini?" dia berusaha tertawa; terpaksa. Aku tahu itu.

Aku mengerutkan bibirku, "Memangnya siapa yang membuatku berfikir untuk memaksamu ke tempat ini?" aku bersidekap, "Dan lagi, kau membuatku tidak bisa tidur selama dua hari ini." lanjutku, bermaksud membuat sedikit lelucon. Tapi sepertinya aku gagal.

Dia diam sejenak, "Iya juga, ya. Maaf.."

Sepintas, aku seperti melihat masa lalu. Hari dimana aku melihat raut muka penuh ketakutan, penyesalan, dan penderitaan pada delapan tahun lalu. Hari dimana.. dimulainya takdir kami yang sesungguhnya.

"Kenapa.. takdir mempermainkan kita?" lanjutnya. Ia menerawang jauh. Pandangannya kelam. Jemari lentiknya menggenggam erat tanganku, gemetar. Lagi-lagi aku melihatnya.

"Wanita licik itu... mengambil semuanya. Menjual kita dan menghilang begitu saja. Lalu.. saat ini setelah 8 tahun, kita menemukannya dengan identitas yang berbeda. Benar-benar licik." Ia berkata lagi.

Aku tahu, tapi tidak berdaya. Aku mengerang tertahan, merasakan penyesalan dan benci. Aku tidak bisa menahannya lagi. Kelopak mataku bergetar, namun tidak bisa menitikkan air mata. Sesuatu datang seperti menekan dadaku, membuatku sulit sekali bernafas. Untuk kedua kalinya, aku ingin diselamatkan oleh seseorang...

Lagi-lagi.. masa lalu menghantuiku. Aku mengingatnya, perasaan ini.. sama seperti waktu itu; saat aku belum genap berusia 10 tahun. Waktu dimana kami melarikan diri dari tempat buruk itu. hingga Hinata kecilku terkena demam. Aku menggendongnya kesana kemari; di bawah langit berwarna abu-abu gelap, mencari bantuan.

Aku begitu takut. Mereka semua mengacuhkan kami, seolah kami adalah sampah. Aku merasa berjalan di kelilingi 'orang-orang mati'. Hingga rintik hujan membasahi tanah yang tadinya kering. Lambat laun, guyuran itu semakin deras. Suhu tubuhnya semakin meningkat. Beruntung, aku menemukan tempat berteduh; di bangunan rumah tua, di sebuah gang sempit.

Ia tidak bergerak. Wajahnya semakin pucat; pasi. Yang bisa kulakukan pada waktu itu hanya menangis. Untuk pertama kalinya... aku ingin di selamatkan oleh seseorang. Tapi aku sadar, bahwa tidak akan ada seseorang yang akan menolong kami, kecuali diriku sendiri. Bahwa hidup ini begitu kejam. Keluarga yang kami miliki, hilang dalam sekejap dalam api besar itu. Dan wanita yang sangat kami percayai, menjual kami di tempat hiburan malam; menjadikan kami seorang budak. Di mataku, hidup ini begitu.. menyakitkan.

Akhirnya, genggaman tangan halus Hinata menyadarkanku dari kenangan buruk itu. Aku balas menggenggamnya, erat. Aku bersyukur masih bisa menggenggam tangan yang menurutku masih sama seperti dulu, tak jauh berbeda. Satu-satunya harta berharga di dunia ini. Satu-satunya keluarga yang kumiliki.

"Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja." aku tersenyum, mengacak pelan surai panjangnya. Tidak apa-apa. Selama kita bersama, semuanya akan baik-baik saja.

Ia terdiam. Sesaat, dia tampak ingin mengatakan sesuatu. Bibirnya terkatup rapat. Akhirnya, setelah beberapa saat yang singkat, dengan pelan bibir ranum itu tertarik ke atas; tersenyum. Hingga Ia menarik nafas dalam-dalam. "Kak Neji juga," Ia memegang erat tanganku yang mengacak rambut indigo lembutnya.

"Kak Neji juga... jangan tanggung semua beban ini sendirian! Jangan bersikap seolah-olah itu baik-baik saja! karena.. ini bukanlah beban yang bisa kau tanggung sendiri! Jangan menahannya... jika kau ingin menangis, menangislah! Jika ingin tertawa, tertawalah! Kau tidak sendiri, karena... beban ini bukanlah milikmu seorang! Bukankah kak Neji sendiri yang mengajarkan hal itu kepadaku?!" Ia menaikkan oktaf suaranya, tanpa memberi jeda.

Bibirku terkatup rapat. Hujan seakan menyelimuti batinku. Lagi-lagi kelopak mataku bergetar, dan kali ini agak mengabur. Aku tidak bisa merasakan apa-apa.

Tes.. Tes.. Tes..

Sekejap, semuanya terasa berhenti. Rasa sakit itu datang, dan mengalir begitu saja. Sejak kapan aku menjadi lemah seperti ini?

Aku memeluknya terisak. Seolah jika aku melepaskannya, ia akan pergi.. meninggalkanku; sendirian. Aku tidak tahu, wajah apa yang ia perlihatkan saat ini. Aku merasa jika dia juga menangis, namun menahannya. Mungkin saja.

'Tidak apa-apa... selama kita bersama, semuanya akan baik-baik saja.'

"Maaf... " hanya kalimat itu yang bisa kuucapkan, walau sedikit bergetar.

Dedaunan yang menguning, hanyut terbawa angin. Jika diibaratkan itu adalah aku, bisakah.. aku bertahan untuk tidak terjatuh; terseret angin?

.

.

.

To Be Continued

.

.

Or

Discontinued?

Hemm.. ane bosen ngomong formal.. uppssss

Ya uda ane LAGI-LAGI bingung ini mau ane lanjut apa kagak... rasanya males ..pengen bikin chapter laen. Tapi kalo gak dilanjutin kok brasa gimana gitu..

slaen itu ane juga minder, banyak author jago..

Lagi galau :v . Btw, Neji kok kayak kalem gt ya disini. ah sudahlah...

Sebenernya ini yang scene neji's point of view mau ane buat judul tersendiri n oneshoot. Tapi daripada fict yang ini terbengkalai, ya ane masukin chapter 5 aja.

Thanks temen2 buat yang uda review, fav and follow. Saya sangat berterimakasih...

Ane heran, padahal ada banyak fict lain yang lebih bagus dari punya saya. Tapi kok masih ada yang nge fav n follow n review fict saya. Wkwkwkwkwkkkkkk tapi makasih banget temen-temen :D

#BUNGKUK HORMAT SEDALAM-DALAMNYA

O ya.. ane kemaren salah ngomong. Bahwa di fict ini Hinata gak jatuh cinta ama Naruto. Itu salah ketik aja. Yang bener : Hinata belum jatuh cinta. Gitu maksud saya :D

Btw alurnya sengaja ane loncat2 (emang). jadi temen2 kalo bingung, gini ane jelasin : khusus chapter 3 itu alurnya mundur. yang laen Normal.. ;D

NEXT CHAPTER bisa update bulan depan, tahun depan, mungkin lama depan

Thanks

Dragneel Sedeeng