Beautiful Disaster

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Original Story © Cielle Arinadne

Warning : cerita ini bukan milik saya tapi milik Cielle Ariadne dengan judul yang sama. Saya hanya mentranslatenya. Jika ada kata-kata yang di rasa tidak pas, terjemahannya tidak tepat atau typo yang bertebaran harap dimaklumi.

Saya berharap agar mau membaca fic aslinya silahkan cari "Beautiful Disaster" by Cielle Ariadne

Selamat membaca

Chapter 2 : Reminiscence

Chapter One

Reminiscence

"If you go,

If you go your way and I go mine

Are we so?

Are we so helpless against the tide.

Maybe every dog on the street.

Know that we're in love with defeat.

Are you ready to be swept off our feet.

And stop chasing

Every breaking wave."

-U2 (Every breaking Wave)

Akashi Seijuurou merasa waktu berhenti. Dia bahkan tidak bisa merasakan apapun kecuali detak jantungnya. Ini yang kedua kalinya dia mengalami hal seperti ini dan mengingatkannya pada hal yang dia pikir telah dilupakannya. Hal yang dia coba untuk hindari. Memori yang tidak ingin dia ingat karena sakit yang selalu dirasakannya setiap memori itu muncul ke permukaan.

Dia fikir dia tidak akan pernah melihatnya lagi dan dia telah mempersiapkan dirinya untuk itu. Namun di sinilah dia sekarang, menatap orang yang dia pikir telah pergi dari hidupnya. Dia masih terlihat sama walaupun sudah bertahun-tahun terlewati. Rambutnya masih biru lembut, matanya masih berwarna biru yang memukau, dan bibir pink yang selalu datang dalam mimpinya. Menghantuinya setiap malam, membangunkan dirinya tengah malam dengan nafas yang terengah-engah dan pakaian yang basah. Dia tidak begitu ingat apa yang diimpikannya namun cukup untuk membuatnya termenung menunggu mimpi itu hilang dari pikirannya.

Tetapi, walaupun penampilannya tidak berubah, dia sadar bahwa Tetsuya terlihat lebih kurus dan kulit indahnya terlihat lebih pucat dari pada sebelumnya. Hal itu mungkin tidak di sadari oleh orang lain, namun dia adalah Akashi Seijuurou dan dia adalah tipe seorang pengamat yang baik. Dia bisa menganalisis seseorang hanya dengan melihatnya. Selain itu dia juga tahu seperti apa Tetsuya di masa lalu dan gambaran Tetsuya tercetak jelas dalam pikirannya.

Dia tahu bahwa Tetsuya telah kehilangan beberapa berberat badannya dan dia pasti telah melakukan sesuatu di masa lalu yang membuatnya jadi seperti ini. Dengan mengesampingkan semua itu, hanya dengan berfikir bahwa Kuroko Tetsuya ada di depannya, membuat Akashi tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

"Tetsuya..." Ucapnya pada akhirnya. Akashi tidak tahu apa yang akan dia ucapkan. Otaknya masih tidak bisa memproses bahwa Tetsuya ada di depannya, bukan bagian dari imajinasinya. Tetapi Tetsuya yang nyata ada di depannya. Namun Akashi merasa seolah drinya sedang dipermainkan. Setelah bertahun-tahun menghilang, ketika dia berfikir kalau dia telah move on, Kuroko Tetsuya kembali muncul di hadapannya.

"Seijuurou-kun." Ucap tetsuya menatap mata Akashi. Dia sadar ada yang berubah dari Akashi. Si Redhead terlihat lebih dewasa dari pada sebelumnya, walaupun dia masih sama tampannya dengan yang dulu. Rambut memerahnya di sisir ke belakang, kaca mata berbingkai hitam dan setelan jas berwarna hitam terpasang di tubuhnya, memberikan kesan superior pada dirinya, membuat Kuroko berfikir kalau Akashi benar-benar CEO di perusahaan ini. Dia tidak terlihat seperti bocah berambut merah yang dulu dia kencani. Semua tentang Akashi telah berubah dan itu membuat Tetsuya sadar betapa jauh berbedanya dunia mereka sekarang.

Saat dia menatap mata tak sewarna itu, Tetsuya tahu bahwa Akashi belum siap untuk bertemu denganya. Ekspresi yang di tampilkannya mengatakan semuanya. Cara mata itu menatapnya membuat dirinya merasa seolah dirinya adalah alien.

Bukan hanya perubahan fisik Akashi yang Kuroko sadari. Seperti yang dikatakan Murasakibara sebelumnya, Akashi telah berubah. Tidak hanya tampilannya namun juga aura disekitarnya berbeda dari sebelumnya. Akashi yang sekarang di kelilingi oleh aura yang berbahaya, membuat sesuatu dalam dirinya berteriak untuk lari dan membuat orang lain pergi menjauh darinya. Namun Kuroko bisa melihat kesedihan di mata itu. Dia bahkan hampir merasa kalau Akashi yang ada di hadapannya sekarang ini bukanlah Akashi yang selalu di cintainya dan itu menyakitkan bagi Kuroko. Dia tahu dialah yang menyebabkan Akashi berubah. Dia yang pergi meninggalkan Akashi.

Tetsuya melihat Akashi berdiri dan berjalan ke arahnya. Tanpa aba-aba Akashi memukul pipi Tetsuya, membuatnya terjatuh ke lantai. Tetsuya terkejut akan tindakan Akashi tersebut dan dia bisa merasakan pipinya berdarah. Pipinya terasa sakit, namun tidak sebanding dengan sakit di rasakan hatinya. Tetsuya tidak membalasnya. Dia tahu Akashi akan marah dan terluka dan dia pantas melakukannya. Bagaimanapun dirinya pergi meninggalkan Akashi sendirian dan menghancurkan janji mereka.

"Apakah kau senang menyiksaku Tetsuya?" Ucap Akashi marah yang semakin menggoreskan luka di hati Tetsuya. Namun, walaupun suara itu terdengar marah, dia bisa merasakan si Redhead hancur di dalam. "Apakah kau menikmatinya? Melukaiku? Apa kau puas sekarang?" Akashi tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, membiarkan kemarahan mengalahkan pikiran rasionalnya.

Tetsuya tidak menjawab. Apa yang harus dia katakan? Tidak akan ada maaf atas apa yang telah dilakukannya.

"Semua yang aku lakukan adalah mencintaimu Tetsuya, namun kau gantung diriku. Aku akan menyerahkan apapun hanya untuk dirimu, namun kau pergi meninggalkanku." Tetsuya tahu semua itu dan itu adalah salah satu alasan mengapa dia pergi. Dia tidak ingin Akashi menyerah hanya untuk dirinya. Dia tidak ingin Akashi melepaskan apa yang memang pantas didapatkan Akashi hanya karena dirinya. Tetsuya tahu bahwa dia tidak pantas untuk Akashi. Akashi pantas untuk mendapatkan orang yang lebih baik dari dirinya. Orang yang selalu ada untuknya, dan Tetsuya bukanlah orang tersebut.

Akshi berbalik memunggungi Tetsuya. "Aku tidak ingin melihatmu sekarang Tetsuya atau aku akan menyesalinya. Katakan pada sekretarisku untuk mengatur ulang interview itu." Dia kembali duduk di kursinya, kemudian sekali lagi melihat pada Tetsuya. "Aku ingin Aida-san yang menginterviewku. Tutup pintu saat kau keluar."

Tetsuya tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Yang dia ingat, dia pergi meninggalkan bangunan itu menuju mobilnya. Setibanya di sana, air matanya tidak berhenti mengalir.

Apakah kau senang menyiksaku Tetsuya? Semua yang aku lakukan adalah mencintaimu.

Dia sadar akan kenyataan bahwa Akashi akan marah padanya. Dia tahu itu, tapi... melihat Akashi putus asa seperti itu melukainya lebih dari sebelumnya. Dia pergi bukan hanya karena alasan kecil. Dia harus pergi karena tidak bisa menghiraukan situasi yang dihadapinya.

Dia tahu, dia tidak akan bisa mengulang apa yang terjadi di masa lalu, tetapi betapa dia ingin memutar waktu dan kembali ke masa lalu dimana dia masih naif berfikir bahwa mereka bisa bersama selamanya.

...

10 tahun yang lalu

Tetsuya mengingat hari itu dengan sangat jelas. Hari itu adalah hari pertama mereka di kelas tiga SMP saatsemuanya terjadi. Saat itu musim semi di bulan April dan bunga sakura di pekarangan sekolah mereka bermekaran sangat indah. Hari yang sempurna, langit berwarna biru, angin berhembus pelan membelai pohon. Benar-benar hari yang sempurna dan baginya tidak ada yang lebih sempurna selain hari itu.

Tetsuya melangkahkan kakinya menuju atap setelah salah satu teman sekelasnya mengatakan bahwa ada seseorang yang ingin bertemu dengannya di atap. Dia tidak tahu siapa yang memanggilnya dan dia juga tidak tahu mengapa orang itu ingin berbicara padanya di sana. Saat dia membuka pintu menuju atap, dia melihat seseorang berdiri di sana. Dia tidak bisa menebak siapa orang itu, namun saat dia mulai mendekat, dia sadar orang itu adalah Akashi Seijuurou. Tiba-tiba dia jadi merasa gugup. "apa yang Akashi-kun inginkan dariku?" pikir Tetsuya.

Akashi Seijuurou adalah kapten dari tim basket dan merupakan murid terpintar di sekolah mereka. Orang yang selalu Tetsuya sukai sejak mereka kelas satu. Awalnya dia pikir Akashi adalah orang yang suka memerintah dan ingin segala sesuatu yang menghalangi jalannya pergi menjauh, namun setelah bertemu dengannya beberapa kali di perpustakaan dan sedikit berbincang-bincang dengannya, dia mengetahui kalau Akashi tidaklah seburuk itu. Malah Akashi sangat baik padanya yang Tetsuya pikir itu aneh.

"Akashi-kun?" Panggil Tetsuya.

"Oh Tetsuya, itu kamu." Kata Akashi. Tetsuya masih tidak terbiasa dengan Akashi yang selalu memanggilnya dengan nama kecilnya. Akashi sudah memanggilnya seperti itu sejak pertemuan pertama mereka, namun tetap saja dia tidak terbiasa dengan panggilan itu.

"Apakah kau yang memanggilku ke sini Akashi-kun?" Tanya Tetsuya memastikan. Dia tidak ingin dipermalukan jika dia tahu bahwa bukan Akashilah yang memanggilnya.

"Ya, aku yang memanggilmu." Dia bisa mendengar ucapan Akashi. Untuk beberapa alasan, dia merasa Akashi sedikit berbeda. Sekarang dia terlihat... gugup? Hal itu membuat Tetsuya berfikir mengapa Akashi harus gugup? Namun dia tidak menemukan satu jawabanpun. Kecuali... TIDAK! Rasanya ingin Tetsuya memukul dirinya sendiri karena berfikir Akashi mungkin akan menyatakan cinta padanya. Dia jadi malu karena memikirkan hal konyol seperti itu. Namun, jika itulah yang akan terjadi, Tetsuya tidak akan keberatan. Malahan dia akan sangat senang. Bagaimanapun dia selalu menyukai Akashi dan jika itulah yang terjadi, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

"Jadi mengapa kau memanggilku ke sini? Apakah ada yang salah?" Tanya Tetsuya pada Akashi. Sedangkan yang ditanyai hanya menatapnya. Saat Kuroko mengamati tingkah si Redhead, dia bisa melihat kalau Akashi benar-benar gugup. Dia terkejut melihat hal itu dari kapten klub basket.

"Tetsuya." Akashi menatapnya sambil menarik nafas dalam. "Aku tahu kalau kita berdua adalah laki-laki, tapi aku tidak ingin kau menghakimiku atau... aku... aku tidak berfkikir aku bisa melakukannya." Tetsuya tertawa kecil melihat Akashi Seijuurou yang terkenal itu kehilangan kata-katanya. Akashi sadar kalau Tetsuya menertawainya. "Apa kau tertawa? Kau tahu itu tidak sopan Tetsuya." Omel Akashi.

"Aku bukannya tidak sopan Akashi-kun. Jadi, apa yang ingin kau katakan padaku?" Akashi kembali menatap mata biru Tetsuya dalam. Dia masih tidak tahu mengapa, tetapi dia selalu terpesona setiap kali dia melihat mata itu. Mendorongnya untuk memiliki Tetsuya, menjadikan Tetsuya sebagai pelengkap dirinya. Dia tidak akan membiarkan orang lain melihat Tetsuya.

"Lihat Tetsuya, aku tidak berfikir kau akan mengerti hanya dengan perkataanku saja... itulah mengapa..." Akashi memegang tangan Tetsuya dan kemudian menariknya ke dalam sebuah ciuman. Tetsuya tidak tahu apa yang terjadi, namun dia bisa merasakan dadanya seakan meledak. Jantungnya berdetak sangat cepat saat bibir mereka bertemu. Sebelum Kuroko bereaksi, Akashi langsung melepaskan ciuman mereka dan menatap mata Tetsuya dalam.

"Tetsuya... aku menyukaimu."

"Akashi-kun." Ucap Tetsuya.

"Tidak, aku mencintaimu Tetsuya... dan aku tahu kau juga merasakan hal yang sama dengaku." Saat dia mendengar perkataan Akashi tersebut, Tetsuya merasa seolah waktu berhenti. Dia tidak percaya bahwa Akashi Seijuurou menyatakan perasaannya pada dirinya. Akashi yang selalu terlihat jauh, yang selalu dikaguminya, berharap apa yang terjadi seperti sekarang ini akan menjadi nyata. Namun dia tahu bahwa ini adalah nyata dan kenyataan itu adalah sesuatu yang keras. Walaupun jika mereka merasakan hal yang sama pasti banyak rintangan yang akan menghadang mereka. Karena mereka berdua adalah laki-laki salah satunya.

"Tapi Akashi-kun... kita bedua lak-laki." Ucapnya. Dia tahu Akashi juga mengkhawatirkan masalah itu. Jika mereka akan bersama, itu membuktikan kalau mereka gay. Akashi yang berasal dari keluarga terpandang tentu hal seperti itu akan membuat dirinya di hina. Tetsuya mengkhawatirkan itu, jika mereka tetap bersama, tentu seseorang akan datang menghalangi mereka.

Akashi menggenggam tangan Tetsuya erat. "Aku tidak peduli. Aku tidak akan membiarkan sesuatu menghalangi kita Tetsuya. Aku akan melindungimu, tidak peduli apapun yang terjadi." Kemudian dia mencium tangan dingin Kuroko sebelum bertanya, "... Jadi jawabanmu?"

"Aku juga menyukai Akashi-kun, tapi..." Dia memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Akashi.

"Tapi apa Tetsuya?"

"Tapi... aku tidak berfikir kalau aku pantas untuk Akashi-kun." Ucap Tetsuya pelan.

"Jangan pernah sekalipun kau berfikir seperti itu Tetsuya. Akulah orang yang tidak pantas untukmu." Ucap Akashi saat dia dengan lembut menyentuh dagu Tetsuya dan menengadahkannya sehingga mereka bisa saling bertatapan.

"Tapi Akashi-kun populer dan aku tidak begitu dikenali... aku..."

"Jangan fikirkan tentang hal itu, selama kita saling mencintai hal seperti itu bukanlah masalah. Jangan biarkan hal itu mengganggumu Tetsuya." Jawab Akashi meyakinkannya. "Aku akan menghalau semua penghalang itu menjauh."

"Akashi-kun..." Tetsuya masih tidak percaya pada apa yang terjadi sekarang.

"Jadi itu artinya... kalau kita sekarang pacaran?" Senyum lembut tersemat di bibir Akashi.

"Huh?" Tetsuya menatap Akashi bingung.

"Maksudku... kau sekarang milikku." Ucap Akashi menyeringai.

Wajah Tetsuya memerah mendengarkan ucapan Akashi itu. "I-Itu..."

"Apa Tetsuya?"

"Aku rasa aku tidak kuat menerimanya... aku sangat senang sampai aku bisa mati karenanya." Ucapnya pelan sambil menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya.

Akashi memegang tangan Tetsuya, menggenggam tangan itu erat saat dia menatap pada mata biru itu. "Berjanjilah padaku Tetsuya, bahwa kau tidak akan pernah meninggalkanku." Ucap Akashi dengan nada suara yang sangat serius.

Tetsuya tidak ingin berjanji, namun saat dia menatap mata heterochromatic Akashi, ada sesuatu yang membuatnya ingin mengatakan iya. "Mengapa aku akan meninggalkan Akashi-kun?" Tanyanya. Baginya, dia tidak akan pernah meninggalkan Akashi.

"Jika kau pergi dari hidupku, aku tidak berfikir aku bisa menerimanya." Balasnya saat dengan lembut ia menarik Kuroko mendekat. Menyatukan dahi mereka. "Jika kau pergi entah apa yang akan aku lakukan... Aku mencintaimu Tetsuya."

Tetsuya mencoba menenangkan Akashi dengan tersenyum dan berjanji. "Aku tidak akan pernah meninggalkan Akashi-kun."

...

Jam pelajaran sudah berakhir satu jam yang lalu dan seperti biasa Tetsuya sekarang berada di perpustakaan. Dia akhirnya memutuskan untuk pulang setelah penjaga perpustakaan memberitahunya untuk segera pulang. Saat di luar, dia melihat Akashi berdiri di gerbang terlihat seperti sedang menunggu seseorang. Tetsuya tidak tahu mengapa tapi setiap kali dia melihat Akashi, dia tidak bisa memikirkan apapun. Dia tidak tahu tapi betapa sempurnanya Akashilah yang selalu memenuhi pikirannya.

Hampir tidak ada orang lain di sekolah, Tetsuya jadi penasaran siapa yang sedang di tunggu Akashi.

"Akashi-kun." Panggil Tetsuya. Saat Akashi mendengar seseorang memanggilnya, dia berbalik dan melihat Tetsuya.

"Dari mana saja kau?" Tanya Akashi. Da terlihat sedang marah.

"Di perpustakan." Jawab Tetsuya. Tiba-tiba Akashi memeluk Tetsuya erat. Saat itulah Tetsuya sadar kalau dirinyalah yang sedang di tunggu Akashi.

"Akashi-kun. Apakah aku yang sedang kau tunggu?" Akashi tidak menjawab pertanyaannya hanya menggenggam erat tangan Tetsuya. "Kau tidak perlu melakukan itu."

"Aku hanya ingin mengantar Tetsuya pulang." Jawab Akashi.

"Mengapa kau ingin mengantarku pulang?" Tanya Kuroko lagi. Biasanya jam segini Akashi sudah pulang karena dia selalu di jemput oleh supir pribadinya dan itu membuat Tetsuya heran mengapa Akashi mau menunggunya.

"Bukankah itu adalah hal yang selalu di lakukan orang pacaran?" Balasnya.

Mendengar itu membuat muka Kuroko memerah malu. "I-Itu..." Dia tidak siap untuk mendengar balasan seperti itu dan dia tidak berfikir kalau Akashi akan menyebutkannya se gamblang itu.

"Mengapa Tetsuya? Kau tidak terbiasa bukan?" Akashi menyeringai melihat reaksi Tetsuya. Dia tahu kalau Tetsuya tidak terbiasa dengan hal-hal yang berbau pacaran.

"...Ya." Dia bisa mendengar Tetsuya bergumam menjawab perkataannya. Tidak ingin menyia-nyiakan keimutan kekasihnya, Akashi langsung menarik Tetsuya dan menciumnya. Tetsuya yang terkejut akan ciuman mendadak itu mencoba meronta. "Akashi...-kun.. kita sedang... di luar." Ucap Tetsuya di sela-sela ciuman mereka.

Akashi tidak menjawab, malah semakin memperdalam ciuman mereka. Manis pikir Akashi saat lidahnya bergulat dengan milik Tetsuya. Tetsuya tidak percaya bahwa ciuman pertamanya dengan Akashi. Jantungnya berdetak sangat cepat yang bisa saja sewaktu-waktu akan meledak. Dia bisa merasakan lidah Akashi dalam mulutnya, menjelajahi setiap inci mulutnya. Dia tidak menyangka kalau Akashi akan sehebat ini dalam berciuman. Memikirkan hal itu membuat hatinya sakit kemudian dia mendorong Akashi.

"Ada apa?" Tanya Akashi sedikit terkejut akan penolakan yang di berikan Tetsuya.

"Tidak ada." Balas Kuroko kemudian melangkah meninggalkan Akashi.

Akashi memegang tangan Kuroko, mencoba menghentikannya. "Kau berbohong Tetsuya, beritahu aku ada apa."

Akashi menatap Tetsuya yang memalingkan wajahnya, tidak mau menatap mata Akashi. Akashi tidak tahu apa yang salah dan dia cukup yakin kalau ciumannya tidaklah buruk. Tetapi kata-kata yang diucapkan Tetsuya selanjutnya membuat Akashi terkejut. " Tidak... hanya saja... aku terkejut Akashi-kun sangat ahli dalam berciuman."

Saat itulah Akashi sadar bahwa Tetsuya mungkin berfikir kalau dirinya pernah melakukan hal itu sebelumnya dengan orang lain. Dia tidak percaya kalau kekasihnya ini sangat imut. "Apa kau cemburu Tetsuya?"

"Tidak... hanya saja.. aku pikir kau..."

"Yang tadi itu adalah ciuman pertamaku." Akhirnya Tetsuya menghadapnya setelah mendengar perkataannya.

"Pembohong." Gumam Tetsuya pelan.

"Mengapa? Kau tidak percaya padaku?" Tanya Akashi.

"Tidak, aku..."

"Kau satu-satunya orang yang bisa membuatku merasakan ini Tetsuya..." dia genggam tangan Tetsuya kemudian di letakkannya diatas dadanya. Tetsuya bisa merasakan jantung Akashi berdetak cepat di balik dadanya. Hal itu sontak membuat Tetsuya malu. "Aku selalu merasakan ini setiap kali aku bersamamu."

"Akashi-kun..."

"Tidak ada orang lain, hanya kamu." Kemudian Akashi mencium dahi Tetsuya. "Ayo pergi." Ucapnya sambil menggenggam tangan Tetsuya. Tetsuya tersenyum dan mengangguk.

Mereka berjalan bersama dalam diam dengan tangan mereka saling menggenggam satu sama lain. Tetsuya masih tidak percaya bahwa Akashi mengantarnya pulang. Dia merasa kalau sekarang dia sedang bermimpi. Tidak, ini bahkan lebih indah dari pada mimpi. Dia masih bisa mendengar detak jantungnya yang berdetak sangat cepat saat mereka jalan bersama. Tetsuya mencoba mencuri pandang kearah Akashi. Dia tidak tahu kalau Akashi juga sedang melihat padanya dan saat mata mereka bertemu pandang, dia merasa tertangkap basah telah mencuri pandang langsung mengalihkan pandangannya.

Akashi terkekeh pelan melihat tingkah Tetsuya. Ia terlihat seperti anak kecil yang ketahuan berbuat salah. "Ada apa Tetsuya?"

Dia bisa melihat muka Tetsuya yang memerah. "Ti-Tidak ada..."

"Kau tidak ahli dalam berbohong, Tetsuya."

"Hanya... aku masih tidak percaya kalau kita pacaran."

"kau tidak harus percaya. Karena kita memang pacaran."

"Aku tahu... tapi aku merasa ini seperti mimpi."

"kau tidak sedang bermimpi." Ucap Akashi mencoba meyakinkan Tetsuya dengan menggenggam tangannya erat.

Mereka kembali melanjutkan perjalan mereka dalam diam dengan tangan yang saling menggenggam erat. Tidak ada satupun dari mereka yang ingin melepaskan tangannya. Tangan mereka terasa pas seperti potongan puzzle, mereka tidak tahu mengapa tetapi hanya dengan berjalan beriringan seperti ini membuat mereka merasa begitu sempurna. Akashi melingkarkan tangan Tetsuya pada tangannya membuat jarak diantara mereka semakin dekat. Tetsuya terkekeh akan tingkah Akashi tersebut. Dia berfikir kalau Akashi ternyata juga bisa bertingkah imut. Dia masih tidak percaya kalau mereka pacaran, ini seperti mimpi yang tidak terduga.

Ketika mereka telah sampai di depan rumah Tetsuya, tidak ada satupun dari mereka yang mau bergerak. Mereka tidak percaya betapa singkatnya waktu mereka. Mereka masih ingin bersama-sama. "Jadi sampai di sini saja." Ucap Akashi. Namun dia masih tidak melepaskan rangkulan Tetsuya.

"Terima kasih telah mengantarku pulang Akashi-kun." Ucap Tetsuya. Kali ini Akashi melepaskan rangkulan Tetsuya namun masih menggenggam tangannya.

"Tidak apa-apa." Balas Akashi.

"Sampai jumpa besok Akashi-kun." Balas Tetsuya tapi dia masih menggenggam tangan Akashi, tidak ingin melepasnya.

"Ya, sampai jumpa." Kata Akashi. Dia sadar kalau Tetsuya tidak ingin melepaskan tangannya. "Kau bisa melepaskannya sekarang Tetsuya atau aku tidak akan bisa pulang."

Ketika dia mendengar perkataan Akashitersebut dia tidak bisa menahan rona merah yang muncul di kedua pipinya. Tapi pada saat dia melepas genggaman tangan itu, perasaan kosong tiba-tiba memenuhi dadanya. Dia merasa tidak ingin melepaskan tangan itu. Dia merasakan perih dalam dadanya. Begitupun dengan Akashi.

"Sampai jumpa besok..." Ucap Akashi, kemudian dia mengecup kilat bibir Tetsuya untuk yang terakhir kalinya. Walaupun hanya ciuman singkat, namun cukup untuk membuat pipi Tetsuya merona.

"Ya," Jawabnya pelan.

"Aku pergi dulu." Setelah itu Akashi berbalik dan melangkah pergi. Tetsuya menatap punggung Akashi yang mulai menjauh. Dia tidak tahu mengapa tetapi hari ini dia sangat senang. Dia berharap kebahagiaan ini akan terus berlanjut selamanya.

Namun, dia tidak tahu bahwa badai besar akan menghadang mereka.

...

Beberapa hari kemudian

Tetsuya duduk di salah satu bangku taman memakan eskrim yang dibelinya sambil menunggu kedatangan Akashi. Beberapa hari yang lalu Akashi mengajaknya pergi kencan. Ini merupakan kencan pertama mereka. Tetsuya merasa gugup. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia telah membaca buku tentang orang kencan, namun dia tidak bisa membayangkan dirinya sedang berkencan apalagi dengan Akashi. Dia berharap kalau dia tidak melakukan hal bodoh yang akan membuat Akashi membencinya.

Dia begitu larut dalam pikirannya sehingga dia tidak sadar akan kedatangan Akashi. "Tetsuya."

Tetsuya sedikt terperanjat mendengar Akashi memanggilnya. Saat dia berbalik menghadap Akashi, dia terkejut melihat betapa tampannya Akashi dengan pakaian kasual. Dia terlihat sangat tampan membuat Tetsuya merasa malu mengingat dirinya hanya menggunakan pakaian yang biasa dia gunakan. "Kau telah datang Akashi-kun." Ucapnya.

"Ya, dan kau sepertinya sedang melamun." Ucap Akashi melihat tatapan Tetsuya yang kosong.

"Ah tidak... aku hanya berfikir." Ucapnya pelan.

"Memangnya apa yang kau fikirkan Tetsuya?"
"Ti-Tidak, aku tidak memikirkan apapun." Dustanya.

Akashi mendelik kearah Tetsuya. "Kau berbohong lagi. Beri tahu aku apa yang kau pikirkan Tetsuya."

Awalnya Tetsuya ragu untuk menjawabnya, namun saat dia melihat Akashi, dia bisa melihat tatapan tajamnya memohon pada Kuroko untuk menjawabnya, membuat Kuroko tidak bisa mengatakan tidak. "Hanya... ini pertama kali bagiku pergi kencan, apalagi dengan Akashi-kun. Aku benar-benar gugup." Aku Tetsuya. Mendengar itu, sebuah senyuman tersemat di bibir Akashi. Melihat senyuman itu, jantung Tetsuya berdetak cepat. Dia tidak sanggup menerima fakta bahwa Akashi di depannya, terlihat sangat tampan dan sedang tersenyum padanya, sedangkan dirinya terlihat biasa dan membosankan.

"Kau tidak perlu gugup. Ini hanya aku." Ucap Akashi.

"Tidak... itu karena kau aku jadi gugup... dan selain itu aku berfikir... aku tidak pantas untuk Akashi-kun." Ucap Tetsuya. Akashi mendengus mendengar hal seperti itu lagi.

"Tetsuya, kau-"

"Bahkan sekarang, aku terlihat membosankan sedangkan Akashi-kun sangat tampan. Aku benar-benar tidak cocok untuk Akashi-kun."

"Ya, kau tidak cocok untukku... Bagaimanapun aku ini adalah Akashi Seijuurou, orang yang akan menjadi pemimpin keluarga Akashi. Aku pintar dan ahli dalam hal apapun dan aku tidak pernah kalah." Ucap Akashi. Tetsuya terkejut mendengar hal itu dan langsung menatap Akashi. Namun perkataan Akashi selanjutnya membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.

"Namun, meskipun begitu, aku jatuh cinta pada orang yang membosankan, yang hawa keberadaannya tipis membuatnya hampir sama dengan invisible man. Dunia kita mungkin berbeda tetapi itu tidak mengubah fakta bahwa kaulah satu-satunya untukku." Tetsuya sangat malu mendengar perkataan Akashi.

Akashi menyeringai kemudian mencubit pipi Tetsuya. "Ouch! Sakit Akashi-kun."

"Tetsuyaku yang paling imut." Saat Akashi berkata seperti itu, tidak hanya wajah Tetsuya yang memerah tapi telinganya juga ikut memerah. "Aku tidak imut." Gumamnya.

Akashi mencoba menahan tawanya. "Ya, kau imut. Sekarang ayo kita pergi."

"Ya." Tetsuya berdiri dari bangku taman dan berjalan di samping Akashi.

TBC

Hallo minna-san, maaf kalau sekarang saya tidak membalas reviewnya, karena sekarang saya lagi sibuk. Chapter depan saya akan balas reviewnya ya. Dan terima kasih telah mau membaca, memfaforit, memfollow dan mereview ff ini.