Beautiful Disaster

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Original Story © Cielle Arinadne

Warning : cerita ini bukan milik saya tapi milik Cielle Ariadne dengan judul yang sama. Saya hanya mentranslatenya. Jika ada kata-kata yang di rasa tidak pas, terjemahannya tidak tepat atau typo yang bertebaran harap dimaklumi.

Saya berharap agar mau membaca fic aslinya silahkan cari "Beautiful Disaster" by Cielle Ariadne

Selamat membaca

Chapter 3 : nostalgia

Chapter Two

Nostalgia

Losing him was BLUE like I've never known

Missing him is DARK GRAY all along

Forgetting him was like trying to know somebody you've never met

Losing him was RED

-Taylor Swiff (RED)

Dia tidak tahu bagaimana, tapi saat Tetsuya sadar dia telah sampai di apatemennya. Dia melihat lampu luar apartemennya hidup, itu artinya Kagami ada di rumah. Kagami Taiga adalah temannya sejak dia tinggal di Amerika. Dan sekarang mereka tinggal di apartemen yang sama karena dia tidak menemukan apartemen yang ingin dia tinggali. Dan hal itu tentu menguntungkan bagi Tetsuya karena Kagamilah yang paling sering melakukan pekerjaan rumah dan memasak. Dia juga ikut membayar setengah dari uang sewa apartemen.

Saat Tetsuya memutar kenop pintu, dia sadar kalau pintu apartemennya terkunci. Oleh karena itu dia mengambil kunci dari dalam tasnya dan membuka pintu. Saat dia masuk ke dalam, dia mengerutkan dahinya. Ia melihat beberapa pakaian berserakan di mana-mana dan itu tidak hanya pakaian Kagami saja. Jadi Aomine-kun ada di sini Pikir Tetsuya. Aomine adalah kekasih Kagami dan salah satu teman SMP Tetsuya. Kagami dan Aomine bertemu saat Tetsuya memperkenalkan mereka. Sebelum Tetsuya sadar, mereka menjadi sangat dekat walaupun memiliki sifat yang berbeda. Tetsuya pikir itu karena mereka memiliki kegemaran yang sama yaitu sama-sama menyukai basket. Mereka sering melakukan one on one dan Tetsuya dengar kalau tidak pernah sekalipun Kagami menang melawan Aomine. Meskipun begitu, suatu hari tiba-tiba Kagami mengaku kalau dia dan Aomine berpacaran. Awalnya Tetsuya terkejut mendengar mereka berdua pacaran, bukan karena mereka gay tapi karena sifat mereka yang bisa dikatakan bertolak belakang. Namun, Tetsuya sangat senang akan hal itu dan mendukung hubungan mereka. Dia tahu betapa sulitnya hubungan sesama laki-laki.

Saat dia melangkah menuju kamarnya, tiba-tiba dia merasakan sakit kepala. Dia pikir mungkin dia hanya kelelahan setelah kejadian tadi dan mungkin akan hilang jika di bawa tidur.

Ketika ia melewati kamar Kagami, dia mendengar desahan dan teriakan. Mendengar itu, dia hanya bisa menghela nafas. Tidak bisakah mereka mengecikan suaranya sedikit saja. Pikir Tetsuya. Well, setidaknya mereka senang.

Setibanya di kamar, Tetsuya langsung membaringkan tubuhnya di kasur. Dia masih tidak percaya atas apa yang terjadi hari ini. Setelah sepuluh tahun menghindari Akashi, dia akhirnya bisa melihatnya lagi. setelah beberapa saat, dia mendengar ponselnya berbunyi. Saat dia melihat layar ponselnya, nama Riko tertera di sana.

"Hello Riko-san." Jawabnya. Dia yakin kalau Riko menelponnya karena khawatir akan interview itu.

"Hello Tetsu, jadi bagaimana interviewnya?" Tanyanya.

"Ahh, tentang itu... dia membatalkannya." Balas Kuroko.

"Eh? Mengapa?" Riko terdengar terkejut, tapi Tetsuya tahu kalau Riko merasa jengkel.

"Katanya banyak hal yang harus dilakukannya." Bohong Tetsuya. Dia tidak bisa memberitahukan pada Riko alasan sebenarnya mengapa Akashi mengusirnya dan dilihat dari sifat Riko, dia pasti akan memaksanya tentang itu.

"Apa sesuatu terjadi?" Tanyanya.

"Dia hanya mengatakan jangan khawatir, dia akan mengatur ulang jadwal untuk interiew itu." Ucapnya meyakinkan Riko.

"Apa dia bilang kapan?"

"Tidak, tapi sekretarisnya akan menginformasikan kapan."

"Arghhh," Teriak Riko jengkel. Sudah sebulan dia menunggu untuk interview ini, dia memang tidak bisa berbuat banyak, tapi tetap saja ia merasa kecewa.

"Aku tidak percaya ini."

"Aku minta maaf Riko-san" Ucap Tetsuya. Dia tahu ini semua salahnya.

"Eh, Tetsu, ini bukan salahmu."

"Tidak, aku fikir ini salahku."

"Tentu saja bukan, Hmph, aku akan memaksa mereka lagi. Aku tidak akan berhenti sampai mereka menyerah." Ucap Riko.

"Kau benar-benar gigih Riko-san."

"Tentu saja... sekarang aku harus pergi Tetsu. Terima kasih."

"Tidak masalah Riko-san."

"Oke, Bye."

"Bye."

Tetsuya kembali membaringkan tubuhnya. Untuk beberapa alasan, walaupun hanya pertemuan singkat dia merasa sangat lelah. Tetapi dia masih tidak bisa melupakan sorot mata Akashi. Dia tahu kalau Akashi marah, namun tidak hanya itu. Ada sesuatu yang lain. Ada... kerinduan terpancar dalam mata heterochromatic itu. Meskipun hanya sebentar mereka bertemu, dia hampir mengetahui semua tentangnya dan dia cukup tahu akan ekspresi yang ada di balik mata itu. Mata tidak sewarna yang memukau itu selalu menatapnya penuh cinta, tapi sekarang tatapan itu penuh kebencian. Dia tahu Akashi membencinya sekarang.

Akashi membencinya sekarang... "Akashi-kun membenciku sekarang." Gumam Tetsuya. Tiba-tiba dadanya terasa sakit. Dia tidak bisa memikul semua ini, Akashi membencinya. Walaupun sudah sepuluh tahun terlewati, dia masih mencintainya, tidak pernah ada hari yang dia tidak memikirkan Akashi. Tidak pernah seharipun dia mencoba melupakan Akashi. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia tahu dia tidak akan bisa melupakan Akashi. Memori tentang mereka tersketsa begitu dalam di otaknya seolah semuanya diukir di atas batu yang tidak akan pernah bisa di hapus.

Dia berharap suatu hari nanti Akashi akan memaafkannya.

Dia tidak tahu bagaimana dia bisa tertidur, tapi semua yang dilihatnya berubah menjadi putih dan hanya satu orang yang ada dalam pikirannya. Semua yang dia pikirkan adalah merah.

...

Akashi Seijuurou kembali ke apartemennya lebih cepat dari yang dia perkirakan. Saat dia memasuki apartemennya, dia di sambut oleh kesunyian. Apartemennya besar dan semuanya di susun teratur sesuai dengan yang seharusnya. Tanpa menghidupkan lampu, dia melepaskan kacamatanya dan membaringkan tubuhnya di sofa dengan kepalanya dia tempatkan di tepian kursi tempat tangan di letakkan, kemudian dia kembali mengingat apa yang telah terjadi hari ini.

Hari ini dia melihat Tetsuya. Hal itulah yang sedang berputar dalam pikirannya. Dia tidak menyangka kalau emosinya akan meledak seperti bom waktu dan mengingat kalau dia bahkan melukai Tetsuya. Shit pikirnya, dia telah melukai Tetsuya. Dia mengepalkan tangannya erat berharap sampai mengoreskan luka di sana. Dia tidak ahu apa yang merasukinya tapi saat itu pikirannya kosong. Dari semua hal yang ingin dia lakukan ketika dia di beri kesempatan untuk bertemu dengan Tetsuya lagi, memukulnya tidak ada dalam pilihan itu. Dia tidak tahu tapi dia pasti sudah gila sampai melakukan hal tersebut.

Tiba-tiba dia mendengar gonggongan, saat dia duduk dia melihat seekor anjing mendekatinya. Dia memangku anjing itu dan menatap matanya. Sampai sekarang dia masih merasa aneh betapa miripnya mata anjing ini dengan mata Tetsuya. Dia ingat hari saat mereka menemukan anjing ini. Dia sedikit tidak senang saat Tetsuya memaksanya untuk merawat anjing ini. Namun melihat Tetsuya memohon padanya, dia tidak punya pilihan lain selain menerimanya. Semua itu terjadi di kencan pertama mereka.

...

"Lihat Akashi-kun." Panggil Tetsuya tiba-tiba. Dia melihat Tetsuya berjongkok dan mengambil sesuatu dari dalam kotak lusuh. Saat Tetsuya berbalik, ia bisa melihat Tetsuya memegang seekor anjing berwarna hitam putih. saat dia menatap anjing itu intens, dia tidak bisa untuk tidak terkejut. Anjing itu memiliki mata yang sama dengan Tetsuya membuatnya ingin tertawa.

"Apa yang kau tertawakan Akashi-kun?" Ucap Tetsuya sambil mengerucutkan bibirnya.

"Siapa bilang aku tertawa?" Ucapnya menahan tawa. Mereka benar-benar mirip, sangat aneh.

"Aku tahu kau tertawa, tidak perlu di sembunyikan."

"Dia benar-benar mirip denganmu Tetsuya."

Tetsuya mengeritkan dahinya. "Aku tidak mirip dengan anjing." Ucapnya.

"Ya kau mirip." Goda Akashi. Mau bagaimana lagi Tetsuya sangat imut setiap kali dia menggodanya.

"Ayo pergi Tetsuya." Ucap Akashi. Tetapi Tetsuya tidak bergerak sedikitpun dan hanya menatap Akashi. "Apa?" Tanyanya.

"Aku tidak bisa meninggalkannya di sini." Ucap Tetsuya.

"Mengapa tidak kau bawa saja dia ke rumahmu?" Usul Akashi.

"Tidak bisa, ayahku tidak ingin ada hewan di rumah." Balas Tetsuya. Ada kesedihan di dalam suaranya. Bukan berarti ayahnya membenci anjing, hanya saja ayahnya alergi bulu.

"Kalau begitu apa yang akan kau lakukan padanya? Kau sepertinya tertarik dengan anjing ini." Ucapnya.

"Bisakah kau yang mengadopsinya Akashi-kun?" Ucap Tetsuya. Akashi mengerutkan dahinya. Tidak mungkin dia mengurus anjing. Apalagi dia akan mengurus anjing yang dia temukan di jalanan. Dia yakin ayahnya pasti akan marah. Lagi pula biasanya binatang tidak menyukainya.

"Mengapa aku harus mengadopsinya?" Tanya Akashi.

"Please..." Mohon Tetsuya

"Ayahku akan marah." Ucapnya.

"Tidak bisakah kau melakukan sesuatu untuknya?" Tetsuya menatapnya dengan pandangan memohon dan saat dia melihat ke arah anjing itu, sepertinya ia juga sedang memohon padanya. Betapa anehnya situasi ini pikirnya. Kalau sudah seperti ini dia tidak akan bisa menolak. Itulah mengapa dia tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya.

"Baiklah, aku akan membawanya pulang." Ucapnya pada akhirnya, saat dia mengatakan itu dia melihat anjing itu menggonggong dan Tetsuya tersenyum. Melihat pemandangan itu, mau tidak mau dirinya juga ikut tersenyum. Dia tidak percaya kalau Tetsuya bisa mempengaruhinya segini besarnya.

"Terima kasih banyak Akashi-kun." Ucap Tetsuya padanya. Akashi hanya melihatnya saat ia memangku anjing itu di tangannya dan mengatakan pada anjing itu kalau dia akan memiliki rumah baru. Dia tidak tahu mengapa tapi dia benar-benar mencintai orang ini. Sangat, sampai dia berfikir dia akan melakukan apapun hanya untuk bersamanya. "Apa kau ingin memangkunya Akashi-kun?"

"Tidak, sekarang kau yang akan membawanya. Aku tidak ingin menyentuh anjing kotor." Tetsuya mengerutkan dahinya mendengar komentar Akashi.

"Ya." Balasnya.

"Jadi, akan kau beri dia nama apa?"

"Nama? Ya, aku masih belum memikirkannya."

"Bagaimana dengan Tetsuya? Mengingatnya mirip denganmu."

Tetsuya kembali mengerutkan dahinya. "Jangan bercanda Akashi-kun."

"Well, bagaimana dengan Tetsuya No.2, Nigou?" Usulnya.

"Nigou?"

"Ya."

Kemudian Tetsuya terlihat sedang berfikir keras dan setelah itu dia mendengar Tetsuya berkata, "Baiklah, namanya Nigou, karena aku tidak bisa bersama Akashi-kun sepanjang waktu. Oleh karena itu Nigou yang akan menggantikanku." Saat Akashi mendengar perkataan Tetsuya tersebut, dia menatap Tetsuya kemudian tersenyum. Dia benar-benar tidak bisa mengalahkan Tetsuya. Dia sangat imut, pikir Akashi.

Akashi tersenyum kemudian mengacak surai biru lembut Tetsuya. Hal itu membuat Tetsuya mengerutkan dahinya tanda tidak suka Akashi mengelus kepalanya. "Aku bukan anak kecil."

"Ya, Tetsuya memang anak kecil... kau benar-benar imut Tetsuya membuatku tidak tahu apa yang harus aku lakukan padamu."

...

Akashi menatap Nigou. Sudah sepuluh tahun sejak saat itu dan Nigou tidak lagi anjing imut yang mereka temukan di jalan. Dia sudah tua, tetapi dia masih memiliki mata biru yang mirip dengan Tetsuya. Setiap kali dia merindukan Tetsuya, dia selalu menggendong anjing itu.

"Kau tahu, hari ini aku melihat Tetsuya." Orang lain mungkin akan mengatakan bahwa dia sudah gila jika melihatnya berbicara pada anjing. Tapi bagi Akashi itu adalah hal yang wajar. Setiap kali ia ingat Tetsuya dia akan berbicara pada anjing itu yang sepertinya juga mengerti dengan ucapan Akashi. Saat anjing itu mendengar nama Tetsuya, dia mengibaskan ekornya senang. Sepertinya dia mengenali Tetsuya.

"Tetapi, hari ini aku melukainya. Dia mungkin membenciku sekarang."

Anjing itu menggonggong padanya. Dia fikir mungkin anjing itu mengatakan kalau dia itu bodoh. Dia hanya tersenyum dan melanjutkan ceritanya. "Ketika aku melihatnya hari ini, aku mengingat sesuatu..." Ucapnya menatap kosong anjing itu.

"Untuk pertama kalinya sejak sepuluh tahun... aku merasakan perasaan ini lagi... selama ini aku tidak bisa merasakan apapun lagi dan tidak tahu bagaimana rasa itu lagi. selama ini aku membeku seperti dinginnya musim dingin. Namun... saat aku melihat Tetsu... aku... merasa seolah semuanya mencair dan... semua perasaan itu kembali... dia membuatku merasakan kembali perasaan itu Nigou. Itulah mengapa kali ini aku tidak akan membiarkan Tetsuya menghilang lagi."

...

Tetsuya tidak tahu kalau dia tertidur, saat dia bangun dia sadar kalau di luar sudah gelap. Akhirnya dia memutuskan untuk berjalan keluar untuk makan malam. Dia yakin kalau Kagami sedang masak. Saat dia keluar, dia bisa mendengar beberapa teriakan dan tawa membuatnya ingat kalau Aomine ada di sini.

Saat dia memasuki ruang tengah, semuanya terlihat sudah bersih, pakaian yang beberapa saat lalu berserakan sudah tidak ada lagi. kemudian dia memasuki ruang makan, dia bisa melihat Aomine dan Kagami yang sedang pacaran tanpa mempedulikan keadaan sekitar. Melihat itu membuat dia kembali mengingat Akashi. Dia langsung merutuki dirinya yang selalu ingat Akashi. Dia tidak tahu mengapa tapi saat melihat pasangan di depannya ini membuat dadanya sakit. Apa yang akan terjadi jika dia dan Akashi tidak pernah berpisah. Dia bertaruh kalau mereka pasti akan seperti pasangan ini. Mengingat sifat Akashi, dia pasti akan melakukan apapun untuk mendapatkan yang dia inginkan tanpa menghiraukan dimanapun mereka berada.

"Hey Tetsu." Ucap Kagami saat dia menyadari keberadaan Kuroko. Mendengar Kagami menyapa Kuroko, Aomine membalikkan tubuhnya menghadap Kuroko. "Oi Tetsu, sejak kapan kau di sana?" Tanyanya.

"Aku baru saja masuk." Ucap Tetsuya.

"Apa kau tadi pulang cepat?" Tanya Kagami.

"Ya, kau tidak sadar karena kau sibuk dengan Aomine-kun." Ucapnya kemudian melangkah mendekat ke meja makan kemudian duduk di salah satu kursi di sana. Wajah Kagami merah merona mendengar komentar Tetsuya dan memutuskan untuk berpaling. Sedangkan Aomine terlihat tidak terganggu dengan komentar Tetsuya tidak seperti Kagami. Saat Aomine mengarahkan pandangannya pada Tetsuya dia menatap wajah Tetsuya dan mengerutkan dahinya.

"Oi Tetsu, apa yang terjadi pada wajahmu?" Tanya Aomine menyadari luka memar di wajah Tetsuya. Tetsuya kemudian berdiri dan pergi melihat wajahnya di cermin. Di pipi kanannya terdapat luka memar. Kagami yang awalnya memalingkan wajahnya, ikut melihat Tetsuya dan mengerutkan dahinya melihat wajah temannya itu.

"Oi, siapa yang melukai wajahmu?" Tanyanya marah. Dia tidak ingin temannya terluka. Terutama Tetsuya yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri.

"Tidak ada." Jawab Tetsuya kembali duduk.

"No shit!" Teriak Kagami. "Tidak mungkin luka itu tiba-tiba saja muncul di wajahmu. Sudah pasti seseorang memukul wajahmu dengan sangat keras."

"Tidak perlu di permasalahkan." Jawab Tetsuya, dia tidak ingin Kagami terganggu dengan ini.

"Beritahu kami siapa yang berani memukulmu Tetsu, aku akan menghajar orang itu." Ucap Aomine. Dia juga marah, dia adalah teman dekat Tetsu saat SMP.

"Kalian tidak perlu tahu." Melihat sifat kedua orang itu, mereka pasti akan melakukan sesuatu.

"Tetsuya." Ucap Kagami. Dia benar-benar ingin memaksa Tetsuya, namun semakin Tetsuya di paksa, akan semakin tidak ingin dia mengatakannya.

"Aku bilang jangan ikut campur." Teriak Tetsuya.

"Tetsu."

"Kalian tidak perlu ikut campur."

"Jangan ikut campur?" Ulang Kagami marah. "Seseorang melukaimu, bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padamu."

"Tidak perlu berlebihan Kagami-kun. Tidak ada hal yang buruk terjadi padaku."

"Oi, kalian berdua tenanglah. Bilang saja Tetsu... siapa yang melakukan ini padamu?"

Untuk beberapa saat Tetsu tidak menjawab. Namun mengingat sifat Kagami dia pasti akan terus memaksanya. "Itu... itu Sei- maksudku Akashi-kun." Mata Aomine melebar mendengar perkataan Tetsu.

"Kau bertemu Akashi?" Aomine terkejut mendengar itu. Terakhir kali dia dengar kalau Tetsu tidak ingin melihat Akashi lagi.

"Itu..."

"Tunggu, siapa itu Akashi?" tanya Kagami, Tetsuya tidak pernah menceritakan kepada Kagami tentang Akashi karena dia tidak ingin mengingatnya lagi.

"Akashi adalah..." Aomine mencoba menjelaskan pada Kagami namun ucapannya di potong oleh Tetsuya.

"Dia mantanku."

"Apa?" Kagami terkejut mendengar Tetsuya memiliki kekasih sebelumnya.

"Tunggu Tetsu, mengapa kalian berdua bisa bertemu? Aku cukup yakin kalau Akashi tidak tahu kalau kau ada di sini."

"Tidak, aku yang datang menemuinya."

"Mengapa kau melakukan hal itu?" Tanya Aomine.

"Riko-san memintaku."

"Dan kau tidak menolak?"

"Aku tidak punya pilihan lain."

"Tu-tunggu mengapa aku tidak tahu tentang hal ini... dan apa yang kau dan Akashi itu sepakati?" Tanya Kagami. Dia merasa tertinggal sendiri saat dua orang di depannya ini membicarakan Akashi.

"Well, dia adalah mantan Tetsuya, mereka pacaran saat SMP."

"Kemudian? Apa kau dicampakkannya Tetsuya?"

"tidak, akulah yang pergi."

"Dan apa masalahnya jika Tetsuya pergi menemuinya?"

"Kau tahu, orang itu sangat mencintai Tetsuya dan saat Tetsuya pergi meninggalkannya..." Aomine berhenti dan melihat Tetsuya yang menunduk. "Orang itu... mencoba bunuh diri."

"Apa?"

"Ya, walaupun dia selamat. Tapi setelah itu dia benar-benar berubah."

"Dasar psycho."

"Tapi aku terkejut dia hanya memukulmu." Ucap Aomine mengingat betapa kejamnya Akashi sejak Tetsuya pergi.

"Mungkin dia syok." Ucap Kagami.

"Siapa tahu." Tiba-tiba Aomine mencium bau sesuatu terbakar. "Hoy Kagami, bau apa ini?" Kagami mengutuk dirinya saat sadar masakannya hangus kemudian bergegas menuju dapur. Aomine kemudian menatap Tetsuya yang sedang menunduk.

"Apa kau baik-baik saja Tetsu?" Tanyanya.

"Aku tidak ingin berbohong Aomine-kun... tapi... saat aku melihatnya... aku pikir... aku..."

"Kamu apa?"

"Aku pikir... aku masih... aku masih mencintainya dan itu membuatku takut karena..."

"Kau akan baik-baik saja Tetsu."

"aku tidak mengkhawatirkan diriku, tapi aku mengkhawatirkan Akashi-kun. Kau tahu sendiri dia itu orangnya seperti apa."

"Ya, dia mungkin akan datang menemuimu."

"Semuanya akan baik-baik saja Tetsu."

"Ya, aku juga berharap begitu."

...

Akashi Seijuurou mendengar pintu apartemennya terbuka dan melihat seseorang masuk. Setelah semua yang terjadi hari ini, dia paling tidak ingin bertemu dengan orang ini. Dia melihat lampu di hidupkan dan terlihatlah seorang gadis berambut merah berdiri di depannya. Orang itu tidak lain adalah Akira, tunangannya. "Apa yang kau inginkan?" Tanyanya pada gadis itu dengan suara yang dingin. Namun dia tidak berbalik menghada gadis itu, dia tetap berbaring di sofa dengan punggungnya menghadap gadis itu.

"Tidak ada, aku hanya ingin mengganggumu." Ucapnya. Dia benar-benar tidak menyukai gadis ini. Tapi ayahnya ingin dia menikah dengan gadis ini.

"Keluar dari sini." Ucapnya. Gadis itu malah berjalan menuju kursi yang ada dihadapan Akashi dan duduk di sana.

"Aku melihat sesuatu yang menarik hari ini." Ucapnya.

"Aku tidak ingin melihatmu hari ini, pergi." Ucap Akashi. Dia benar-benar di buat jengkel oleh gadis ini.

"Aku melihat laki-laki berambut biru yang ada di foto framemu itu." Ucapnya menatap punggung Akashi, kemudian Akashi duduk menghadapnya. Saat Akashi menghadapnya, dia menatap garang gadis itu.

"Aku melihatnya di perusahaan kita hari ini. Dia terlihat sedang mencarimu. Jadi kalian berdua bertemu lagi? Apa happy ending?"

"Bukan urusanmu."

"Jadi kalian berdua benar-benar bertemu?"

"Keluar dari sini." Perintahnya, namun gadis itu tidak terlihat takut sedikitpun padanya.

"Hmm, dia terihat imut... bagaimana jika aku..." Dia menggantung ucapannya saat dia menatap balik Akashi.

"Kau akan apa?"

"Bagaimana jika aku sedikit bermain dengannya? Aku yakin dia akan mudah untuk dihancurkan." Ucapnya tersenyum evil. Saat dia mengatakan itu, mata Akashi terlihat ingin membunuh seseorang. Dia melihat gunting diatas meja dekat kursinya, langsung saja dia mengambil gunting itu dan melemparkannya pada gadis dihadapannya itu. Hanya beberapa milimeter lagi dari wajah gadis itu atau gunting itu akan meninggalkan luka yang sangat dalam di wajah gadis itu. Dia mendelik Akashi dan berkata, "Kau salah sasaran."

"Jika kau berani menyentuhkan tanganmu padanya, akan aku pastikan lain kali tidak akan meleset."

"Kau sangat mudah untuk di goda Seijuurou-kun." Ejeknya.

"Jangan kau coba-coba memanggilku seperti itu."

"Mengapa? Apakah itu mengingatkanmu pada sesuatu?"

Akashi medeliknya, "Keluar sekarang."

"Baiklah, tapi tidak peduli bagaimana kau mencoba untuk menolakku, pada akhirnya kau akan terikat denganku... kau akan jadi milikku Seijuurou-kun." Ucapnya kemudian melangkah pergi.

Akashi tidak tahu mengapa, tapi dia benar-benar membenci hidupnya yang sekarang. Dia benci semuanya. Dia telah kehilangan jati dirinya dan dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Andai saja Tetsu ada di sini. Andai saja dia ada di sini... "Andai dia ada di sini, aku tidak perlu melakukan semua ini." Ucapnya. Tanpa sadar, dia melangkah keluar apartemen. Dia harus melihat Tetsu sekarang.

Dia harus melihatnya atau dia akan kehilangan akal sehatnya.

...

Tetsuya menatap lampu kota dari balkon apartemennya. semua terlihat berkilauan, namun langit terlihat hampa. Tidak ada satu bintangpun di langit. Hanya ada bulan yang bersinar terang.

Dia masih memikirkan masa lalunya. Semua ini adalah salahnya, alasan mengapa semuanya menjadi seperti ini. Salahnya mengapa Akashi berubah. Salahnya mengapa Akashi mencoba bunuh diri, dan salahnya mengapa mereka begitu tersiksa.

Semuanya bermula hari itu. Hari di mana badai datang.

...

Tetsuya terbatuk beberapa kali saat mereka dalam perjalanan pulang. Akashi yang saat itu berjalan di samping Tetsuya terlihat khawatir. "Ada apa Tetsuya? Kau baik-baik saja?" Tanyanya.

"Mungkin aku sedikit demam." Balas Tetsuya. Kepalanya terasa sakit dan pusing, mungkin dia sedang demam. Namun tiba-tiba dia merasa kelelahan, Akashi yang melihat itu langsung memegang tangan Tetsuya erat dan sadar betapa dinginnya tangan Tetsuya.

"Kita harus pergi ke dokter." Usul Akashi, dia benar-benar mengkhawatirkan Tetsuya.

"Tidak, aku hanya kelelahan, aku bisa istirahat di rumah." Ucap Tetsuya. Dia mengatakan seperti itu karena dia ingin pergi ke rumah sakit. Dia tidak menyukai rumah sakit. Saat dia kecil, orang tuanya selalu berada di rumah sakit karena ibunya di rawat di sana. Dan setiap kali dia pergi ke sana dia selalu mencium bau obat-obatan yang membuat perutnya mual. Lagi pula rumah sakit selalu bisa membangkitkan kesedihan dalam dirinya.

"Apa kau yakin?" Tanya Akashi lagi, dia tersenyum melihat betapa Akashi mengkhawatirkannya.

"Tidak perlu khawatir Akashi-kun, aku baik-baik saja." Ucapnya meyakinkan Akashi. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka. Selama di perjalanan, Tetsuya menyandarkan kepalanya di bahu Akashi. Sedangkan Akashi tidak mengatakan apapun. Dia tahu betapa keras kepalanya Tetsuya.

"Kalau begitu kita harus cepat sampai di rumah dan besok kau tidak boleh pergi sekolah, kau harus istirahat." Ucapnya.

Tetsuya hanya tersenyum padanya, membuat Akashi mengerutkan dahinya. "Tidak seharusnya kau menganggap enteng segala sesuatu Tetsuya."

"Ya, aku tidak akan." Balasnya.

Tidak lama setelah itu mereka tiba di kediaman Kuroko. "Kau harus cukup tidur dan makan, istirahat yang cukup, jangan terlalu memaksakan diri dan jangan lupa minum obat."

Mendengar ceramah Akashi yang panjang itu membuat Tetsuya berfikir kalau Akashi lebih mirip seperti ibu-ibu yang sedang merawat anaknya. "Ya, Mama."

"Hey, jangan bercanda."

"Ya." Balas Tetsuya. Kemudian tiba-tiba Akashi mencium bibir Tetsuya kilat, sontak membuat pipi Tetsuya merah merona. Dia tidak menyangka Akashi akan menciumnya. "Sekarang masuk dan tolong jika kau sakit beritahu aku."

"Ya baiklah, sampai jumpa lagi Akashi-kun." Ucapnya.

"Ya."

Kemudian Tetsuya masuk ke dalam rumahnya. Saat dia tiba di dalam, dia tidak tahu mengapa tapi dia merasa benar-benar lelah dan penglihatannya sedikit demi sedikit menjadi buram. Dia tetap terus berjalan menuju kamarnya melewati ayahnya yang sedang membaca koran. Ayahnya yang melihat Tetsuya berjalan sempoyongan bertanya, "Oi, Tetsu, kau tidak apa-apa?" Tanyanya sedikit awas melihat tingkah Tetsuya.

Sebelum Tetsuya sempat menjawab pertanyaan ayahnya tiba-tiba dia pingsan. Yang di dengarnya setelah itu hanyalah teriakan dan panggilan sebelum semuanya berubah menjadi gelap.

...

Akashi tiba di tempat di mana sopir pribadinya selalu menungunya setelah dia mengantar Tetsuya pulang. Saat dia masuk, dia melihat ambulan melewati mobilnya. Hal itu membuatnya teringat Tetsuya yangterlihat tidak sehat hari ini. Dia terlihat lebih pucat dari pada biasanya, dia bahkan tidak menghabiskan makan siangnya hari ini. Dia benar-benar tidak dalam keadaan baik-baik saja. Mungkin dia akan mengunjungi Tetsuya besok.

Hal yang tidak di ketahui Akashi adalah Tetsuyalah yang berada dalam ambulan itu dengan tangannya yang di genggam erat oleh ayah Tetsuya. Kuroko Hikaru tidak tahu apa yang harus di lakukannya. Dia takut melihat apa yang terjadi pada Tetsu. Dia telah kehilangan istrinya dan dia tidak akan sanggup jika harus kehilangan anaknya juga.

Sesampainya mereka di rumah sakit, dia bisa melihat beberapa dokter berkumpul mengelilinginya. Dia mendengar dokter itu mendiskusikan sesuatu sebelum mereka membawa Tetsuya ke ruang emergensi.

Setelah menunggu cukup lama akhirnya salah satu dokter keluar dari ruangan itu.

"Apakah anda keluarga dari Kuroko Tetsuya?"

"Ya, saya ayahnya." Jawab Hikaru.

"Kami masih belum yakin, tapi kami menemukan sesuatu di anak anda."

"Apa itu dokter?" Tanyanya gugup.

"Kami belum sepenuhnya yakin tapi menurut kami anak anda mengidam sebuah penyakit lymphoma."

"lymphoma?"

"Ya," Kuroko Hikaru tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, dia tidak bisa mendengar ucapan dokter itu, tubuhnya telah mati rasa. Dia telah kehilangan istrinya dan juga harus kehilangan Tetsuya. Dia tidak akan membiarkan itu terjadi. "Kuroko-san?" panggilan dokter tersebut membuatnya sadar kembali.

"A-Apa?"

"Apakah ada seseorang di keluarga anda yang menderita penyakit lymphoma?"

"Ya." Balas Hikaru.

"kalau boleh tahu siapa itu?"

"Dia istriku... ibunya."

"Berarti ini keturunan." Ucap dokter tersebut kemudian menuliskannya ke dalam buku status.

Pikiran Hikaru menjadi kosong saat mendengar tentang penyakit itu. Dia tahu penyakit seperti apa itu karena penyakit itulah yang menyebabkan istrinya meninggal. Penyakit itu berasal dari sel darah putih yang di sebut lymphocytes. Walaupun ada beberapa tipe dari penyakit lymphoma, tetapi Hikaru tahu kalau Tetsuya mengidam penyakit yang sama dengan istrinya.

"Dokter, tolong beritahu aku apa yang anda pikirkan tentang anak saya. Beritahu saya akan dugaan sementara anda tentang penyakit ini."

"Kami masih belum yakin. Tapi kemungkinan ia menderita non hodgkin lymphoma."

"Tipe apa?"

"Melihat pembengkakan di dada dan tangannya, kemungkinan dia menderita SVC sindrom. Jika memang itulah yang terjadi saya sarankan anda untuk segera mengobatinya."

"Tolong dokter, tolong lakukan apapun untuk menyelamatkannya." Pinta Hikaru. "Saya tidak ingin kehilangannya juga." Dokter tersebut menatapnya dengan tatapan simpati.

"Kami akan berusaha semampu kami tuan, sebelum itu kami harus melakukan beberapa tes untuk memastikan lymphoma tipe apa yang di deritanya."

"Baiklah."

"Anda sudah bisa melihatnya sekarang jika anda ingin."

"Terima kasih." Ucapnya, kemudian dokter itu pergi sedangkan dirinya melangkah masuk ke ruangan Tetsuya. Saat dia masuk ke dalam, dia tidak bisa untuk tidak menangis. Tetsuya masih muda namun dia sudah harus menderita penyakit mematikan. Dia menatap Tetsuya yang tertidur pulas, Tetsuya benar-benar sangat mirip dengan ibunya membuat dadanya semakin sesak. Tetsuya bahkan mewarisi penyakitnya.

"Maafkan aku." Ucapnya sambil menggenggam tangan anaknya erat. "Aku tidak bisa melindungimu dari penyakit ini, maafkan aku Tetsuya."

...

Saat Tetsuya bangun, dia sadar kalau dia berada dalam ruangan yang berwarna putih, saat dia menatap sekelilingnya dia tahu kalau dia ada di rumah sakit. Dia mencoba untuk duduk, kemudian sadar bahwa ada sesuatu yang di pasangkan di tangan kirinya. Hal itu membuatnya yakin kalau tadi dia pingsan di ruang tengah rumahnya. Bunyi pintu terbuka membuatnya mengalihkan pandangannya pada pintu dan melihat ayahnya masuk.

"Kau sudah bangun Tetsuya?"

"Mengapa aku ada di sini?"

"Kau pingsan."

" Aku mengerti." Saat dia melihat ayahnya, dia melihat ada sesuatu yang salah. Mata ayahnya merah. "Apa yang terjadi ayah?"

Tiba-tiba ayahnya memeluknya erat. "Apa yang terjadi?"

"Maafkan aku." Dia merasakan ayahnya menangis.

"Mengapa? Apa ayah?" Tanyanya mencoba mencari tahu apa yang terjadi.

"Aku berjanji kali ini aku akan melakukan apapun agar kau sembuh."

"Ayah, beritahu aku apa yang terjadi?" Ayah Tetsuya melepaskan pelukannya. Tetsuya sadar, saat dia menatap mata biru ayahnya, mata itu penuh akan kesedihan.

"Kau mewaris penyakit ibumu." Ucap Hikaru.

Tetsuya tidak tahu apa yang terjadi, dia hanya mendengar bunyi deringan di telinganya. Dia bisa melihat ayahnya berbicara tapi tidak sedikitpun perkataan ayahnya terdengar olehnya. Yang ada dalam pikirannya sekarang hanyalah hari dimana ibunya meninggal. Dia melihat bagaimana ayahnya memanggil nama ibunya berulang kali, namun tidak ada sahutan yang didengarnya, yang dia lihat hanyalah tubuh kaku ibunya yang sudah tidak bernyawa.

Kemudian yang dilihatnya setelah itu adalah merah. Dia melihat seseorang berkepala merah, kemudian dia mengingat Akashi. Sontak air matanya jatuh, dia ingat tentang janji yang di buatnya dengan Akashi.

"Apa aku akan mati?" tanyanya.

"Kita masih belum tahu Tetsuya, kata dokter kau harus menjalani beberapa pemeriksaan terlebih dahulu."

"Kumohon ayah, aku tidak ingin mati sekarang." Mohonnya. Dia tidak ingin meninggalkan Akashi, tidak sekarang dan tidak untuk selamanya.

"Jangan khawatirkan tentang itu. Aku akan melakukan apapun... itulah mengapa kita akan pergi ke Amerika secepatnya." Saat dia mendengar perkataan ayahnya, dia merasa dunianya hancur.

"Huh?"

"Mereka memiliki pengobatan yang lebih lengkap di sana. Kau tidak akan menolak bukan?" Ucap ayahnya.

"Kapan kita akan pergi ke sana?" Tanya Tetsuya.

"Bulan depan setelah hasil pemeriksaan keluar. Aku pikir lebih baik kau di diagnosa di sana."

Tetsuya tidak tahu mengapa, tetapi dia merasa sesuatu akan hancur.

...

"Kau akan sakit jika berlama-lama di sini." Tetsuya mendengar suara Kagami yang juga sedang menyerahkan jaket padanya. Sekarang sudah musim dingin dan udara sudah mulai terasa dingin, namun sepertinya Tetsuya tidak peduli akan hal itu.

"..." Tetsuya tidak menjawab ucapan Kagami, ia hanya mengambil jaket itu.

"Aku tidak tahu dulu kau memiliki kekasih." Ucap Kagami.

"Ya, aku tidak pernah memberitahumu tentangnya." Ucap Tetsuya.

"Kau memang tidak memiliki alasan untuk memberitahukannya... jadi bagaimana pertemuannya?"

"Dia memukulku."

"Ya, aku bisa melihatnya."

"Dia marah, tentu saja." Ucap Tetsu dengan senyum tipis tersemat di bibirnya.

"Mengapa?"

"Aku meninggalkannya tanpa mengucapkan selamat tinggal secara langsung."

"Tidak heran kalau dia marah."

"Jadi mengapa kau meninggalkannya?"

"Bukankah sudah jelas."

"Oh, kau sakit. Tapi sekarang kau telah sembuh, mengapa kau tidak pergi menemuinya?" Tetsuya bahkan tidak tahu jawaban untuk pertanyaan itu.

"Mungkin karena aku tidak cukup berani."

"Benarkah?" Tanya Kagami.

"Tidak, aku... aku rasa... aku takut."

"Takut apa?"

"Aku bahkan tidak yakin tentang itu."

"Jadi kau masih mencintainya?"

Tetsuya diam menatap langit malam yang kelam. "Terkadang kau tidak bisa mendapatkan apa yang kau inginkan. Dan lagi pula sekarang dia terlalu jauh, kurasa aku tidak akan bisa menggapainya."

"Kau tidak menjawab pertanyaanku."

Tetsuya tersenyum sedih kemudian berkata, "Tidak pernah ada seharipun aku tidak mencintainya."

"Aku mengerti, tapi aku rasa penyakitmu bukanlah satu-satunya alasan mengapa kau pergi bukan?"

"Kau pintar juga Kagami-kun."

"Shut up, idiot."

"Kau benar, itu bukanlah satu-satunya alasan."

"Keberatan memberitahuku?"

"Tidak, aku tidak keberatan."

"Jadi, apa?"

"Ayahnya."

...

Tetsuya tiba di gerbang tepat waktu, namun dia tidak melihat keberadaan Akashi dimanapun. Padahal dia berfikir bahwa Akashi mungkin telah menunggunya di gerbang. Namun tidak sedikitpun bayangan Akashi terlihat. Dia hanya melihat dua orang pria menggunakan setelan jas hitam berjalan mendekatinya. Saat itu dia merasa takut namun juga penasaran siapa mereka.

"Apakah anda Kuroko Tetsuya?" Tanya salah satu pria tersebut.

"Ya, apa yang kau inginkan?" Jawabnya.

"Tolong ikuti kami."

"Tunggu, aku tidak tahu siapa kalian."

"Kau tidak perlu tahu siapa kami, Akashi-sama ingin bertemu denganmu."

"Akashi?"

"Ya, Akashi Akihiko-sama memanggilmu."

"Ayahnya Akashi-kun?"

"Ya, tolong ikuti kami."

Tetsuya tidak tahu mengapa tetapi dia tetap mengikuti dua orang pria berjas itu menuju sebuah mobil sedan hitam. Kedua pria itu duduk di depan, sedangkan dia sendiri duduk di belakang. Dia merasa tidak nyaman. Tak lama setelah itu dia mendengar ponselnya berbunyi dan saat dia membuka ponselnya dia melihat ada pesan dari Akashi.

From : Seijuurou-kun

Aku minta maaf Tetsuya, ada sesuatu yang harus aku kerjakan, jadi aku tidak bisa datang hari ini.

Dia kemudian membalas pesan itu dengan mengatakan tidak apa-apa namun dia tidak mengatakan kalau dia dibawa menghadap ayahnya.

Setelah beberapa saat mobil yang dinaikinya berhenti. Saat dia keluar, dia dibuat takjub akan apa yang dilihatnya. Dia melihat sebuah rumah besar yang terlihat seperti mansion. Ini kemungkinan rumah Akashi. Dia pernah mendengar kalau Akashi anak orang kaya, tetapi tidak pernah dia menyangka akan sekaya ini. Dia mendengar pria berjas itu menyuruhnya untuk mengikutinya, tanpa mengatakan apapun dia berjalan mengikuti pria itu. Saat dia melewati koridor panjang, dia merasa tidak akan pernah sampai di ujung koridor ini melihat betapa panjangnya koridor itu. Tidak hanya itu, rumah ini juga besar seolah dia berada dalam kastil atau semacamnya.

Tetapi walaupun rumah itu sangat besar dan mewah, dia merasa rumah ini hampa. Tidak seperti rumahnya yang kecil namun terasa nyaman, rumah ini terasa begitu mengintimidasi. Dia tidak tahu bagaimana biasa Akashi tinggal di rumah seperti ini. Pria berjas itu berhenti di depan pintu mahoni besar kemudian mengetuknya beberapa kali. Tidak lama setelah itu seseorang yang berada di dalam ruangan itu membukakan pintu untuk mereka. Saat dia masuk, dia sadar bahwa itu adalah ruang kerja dan di sana dia melihat seseorang berambut merah seperti Akashi, namun matanya tidak heterochromatic seperti Akashi tetapi sepasang iris merah delima dan dia terlihat sangat mirip dengan Akashi namun lebih tua.

Dia melihat salah satu pria berjas itu membisikkan sesuatu pada Akashi senior itu dan kemudian mengarahkan pandangan mereka padanya.

Dia kemudian mendengar Akashi senior itu memerintahkan pria berjas itu untuk meninggalkan ruangan yang langsung dipatuhi oleh pria berjas itu, meninggalkan mereka berdua dalam ruangan. "Jadi kau Kuroko Tetsuya?"

"Ya, dan anda?"

"Maaf atas kelancanganku, namaku Akashi Akihiko ayah dari Akashi Seijuurou." Tetsuya tahu bahwa dia ayah Akashi melihat betapa miripnya mereka berdua bahkan udara yang mengelilingi merekapun juga terasa sama. Mereka dikelilingi aura superior yang membuat tidak satu orangpun yang berani menolak perintahnya.

"Mengapa anda memanggil saya, Tuan?" Tanyanya. Orang itu menatap dirinya kemudian mulai berbicara.

"Pernahkah kau mendengar tentang Perusahaan Teiko, Kuroko-kun?" Tanyanya sambil berdiri dari kursi yang di dudukinya dan berjalan menuju jendela menatap pemandangan yang ada di luar jendela.

"Ya, saya tahu, perusahaan itu adalah pemilik saham terbesar di sekolah kami." Jawab Tetsuya. Dia telah mendengar banyak hal tentang perusahaan tu. Apalagi tentang bagaimana mereka mampu menjadi yang terbaik walaupun banyak hal yang terjadi.

"Ya, dan apa kau tahu bahwa perusahaan itu adalah perusahaan termasyur di dunia?"

"Ya."

"Dan apa kau tahu bahwa keluarga Akashi adalah pemilik perusahaan itu?" Tetsuya tidak terkejut saat tahu bahwa Akashi adalah pemilik perusahaan itu walaupun tidak pernah terfikir sebelumnya kalau Akashi adalah pemilik perusahaan itu.

"Saya rasa saya tidak tahu Tuan."

"Aku mengerti." Kemudian orang itu berbalik menatap Tetsuya sekali lagi. "Well, saat kau mendengar kami pemilik perusahaan Teiko dan itu adalah salah satu cabang perusahaan kami. Kami memiliki bisnis yang berbeda di dunia dan bisnis kami akan terus berkembang."

"Apa yang ingin anda katakan tuan?"

"Apa kau tahu berapa umur Seijuurou sekarang?"

"Umur kami sama, jadi saya rasa sekarang umurnya 15 tahun."

"Ya, kau benar dan apa kau tahu kalau dia telah menduduki posisi yang tinggi di perusahaan?" Tetsuya terkejut mendengarnya. Dia tidak tahu kalau Akashi telah bekerja walaupun masih muda. "Kau tahu Seijuurou telah menjadi wakil direktur dari perusahaan Teiko dan saat dia SMA nanti dia akan menjadi direktur perusahaan."

"Anda pasti bercanda, Akashi-kun..."

"Aku tahu dia masih muda. Tapi anakku itu seorang jenius, dia mengikuti filosofiku yaitu dia tidak terkalahkan. Aku bangga dengan semua hasil dari pekerjaannya, sampai..."

"Sampai?"

"Sampai dia memutuskan untuk menyerah."

"Mengapa Akashi-kun melakukan hal itu?"

"Anakku itu memutuskan untuk tidak mengikuti perintahku untuk pertama kalinya. Dan kau tahu alasannya?"

"Saya rasa saya tidak tahu tuan."

"Itu semua karena dirimu."

"Aku?"

"Tidak mungkin, dia tidak mungkin dia melakukan hal-"

"Dia tidak akan... tapi dia telah melakukannya, apa kau tahu kalau dia kabur hari ini?"

"Akashi-kun kabur?"

"Ya, hanya karena aku menyuruhnya untuk putus denganmu. Kemudian dia berkata kalau dia akan melakukan apapun hanya untukmu termasuk menyerah akan semuanya."

"Tidak, dia tidak harus melakukan itu."

"Ya, dia tidak seharusnya tapi dia telah melakukannya... aku tahu mungkin tidak pantas aku berkata seperti ini tapi aku mengetahui semua tentangmu."

"Apa maksudmu tuan?"

"Lymphoma bukan?" Mata Tetsuya melebar saat mendengar ucapan Akashi senior itu. Bagaimana bisa orang ini tahu tentang itu?

"Bagaimana bisa-"

"Aku tahu semua tentangmu Kuroko-kun. Bagaimana ibumu menderita penyakit itu dan dia bahkan kalah melawan penyakit itu. Bagaimana ayahmu hampir tidak bisa mengatasi rasa kehilangannya dan sekarang kau, kau orang yang akan menghadapi penyakit itu sekarang."

"Apa yang anda inginkan?"

"Aku ingin kau berhenti melihat Seijuurou... seperti yang kau ketahui anak itu memiliki masa depan yang cerah, tapi dia akan menyerah untuk meraih masa depan yang cemerlang itu hanya untukmu. Itulah mengapa aku meminta padamu Kuroko-kun... tolong putus dengannya."

"Tapi... aku"

"Aku tahu kau akan pergi sebulan lagi, aku akan menunggu jawabanmu Kuroko-kun. Pikirkan baik-baik masalah ini."

"Ya."

"Kau boleh pergi sekarang. Aku harap kau tidak mengecewakanku Kuroko-kun."

...

Akashi menggenggam stir mobilnya erat. Jika saja stir itu tidak keras, mungkin sudah hancur berkeping-keping. Dia tidak tahu mengapa tapi tiba-tiba dia sudah berada di mobilnya menuju apartemen Tetsuya dan saat dia tiba di sana, dia hanya bisa menatap kosong pada langit kelam. Dia akan melakukan apapun hanya untuk berada di samping Tetsuya namun tiba-tiba seorang laki-laki tinggi berambut merah keluar menuju balkon dan bergabung dengan Tetsuya.

Dia merasa dunianya telah hancur saat melihat Tetsuya bersama orang itu. Tentu saja dia telah bersama orang lain. Bagaimanapun sudah 10 tahun sejak saat itu. Apa yang dia harapkan? Apa dia kira Tetsuya tidak akan menemukan orang lain setelah10 tahun? Apa dia kira Tetsuya masih mencintainya? Dia merasa dirinya telah kalah. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Untuk terakhir kalinya dia kembali menatap Tetsuya. Dia bisa melihat Tetsuya tersenyum pada orang di sampingnya. Dadanya sakit melihat pemandangan itu. Dialah yang seharusnya ada di sampingnya, orang yang membuatnya tersenyum dan satu-satunya orang yang membuatnya menangis. Namun tempat itu telah dicuri oleh orang lain.

Semuanya telah di curi.

TBC

Hallo minna-san, terima kasih saya ucapkan karena telah mau membaca memfollow, memfaforit dan mereview FF ini dan juga FF "Akakuro Family AU".

Dan semoga anda menikmati FF ini. :)