The Dark Shadow
Chapter 2 β A Job
Cast: Ino Yamanaka β Uzumaki Naruto β Uzumaki Menma.
Disclaimer: Masashi Kishimoto, Naruto.
.
.
.
Ino dan seluruh rekannya kini tengah berdiri terpaku melihat gedung pencakar langit yang benar-benar sangat tinggi. Terdapat tulisan besar di gedung itu, yang jika dibaca akan menjadi. UZUMAKI CORP.
"Ino-chan, apa ini alamat yang benar?" tanya ayahnya.
"Menurut yang tertulis di kartu namanya benar. Kalau begitu ayo kitβ"
TIN .. TIN.
Ino beserta rekannya dibuat tersentak oleh suara klakson dari arah belakang mereka, dan itu membuat mereka seketika berbalik. Mobil itu berjalan ke sisi kelima orang itu, dan perlahan kaca bagian penumpang terbuka.
"Uzumaki-sama." Seru Ino dengan wajah terkejutnya.
"Kau datang tepat waktu, Ino. Dan tolong jangan terlalu formal padaku, panggil saja Naruto."
"W-wakarimashita. Mm ... ettoo .. sepertinya aku kurang banyak membawa bantuan." Ucap Ino pelan. Naruto melirik kepada kelima orang yang berdiri dibelakang Ino lalu tersenyum.
"Jangan khawatir. Aku dan teman-temanku akan membantu."
"A-apa?"
"Jangan terkejut seperti itu. Teman-temanku ramah. Dan jikalau mereka berbuat atau mengatakan sesuatu yang kurang mengenakan, kau bisa langsung mengadu padaku."
"Oh tolonglah. Aku bukan seorang pengadu." Ucap Ino merasa tersinggung.
Naruto keluar dari mobil lalu berdiri tepat di depan Ino. "Aku bisa lihat itu. Baiklah, bagaimana jika sekarang kalian masuk?" Ucap Naruto yang langsung diangguki oleh keenam orang itu. Naruto berbalik dan mengatakan sesuatu pada sopirnya.
"Hayate, aku akan berjalan kaki dari sini. Kau pergilah lebih dulu."
"Baik, Uzumaki-sama." Setelah mobil itu pergi. Naruto kembali berbalik menatap keenam orang itu.
"Yosh. Aku yang akan mengantar kalian langsung ke dalam gedung yang akan dijadikan tempat penyelenggaraan." Ucap Naruto ramah, lalu meminta Ino dan para rekannya untuk berjalan mengikutinya.
"Ino ... jika pria ini kelak akan menjadi suamimu. Maka ayah akan dengan senang hati merestuinya." Ino menoleh dengan wajah cengo kearah ayahnya.
"Ayah. Kami hanya rekan bisnis."
"Ayah tidak melihat hal itu. Sepertinya pemuda itu menyukaimu."
"Oh ayolah ayah. Jangan berkata yang tidak-tidak. Lebih baik kita fokus untuk bekerja sekarang."
Inoichi mengangkat bahu acuh, lalu berjalan melewati Ino. Sementara Ino sendiri sekarang tengah membuang nafas kesal.
"Kakak!"
Ino menoleh dan menunjukkan ekspresi bertanya pada sosok pria kecil di depannya. Namanya Konohamaru. Dia adalah pekerja paling muda di tokonya.
"Ada apa, Konohamaru?"
"Apa benar orang itu menyukai Kakak?" Ino menganga, dan menatap Konohamaru dengan pandangan melotot.
"Berhentilah mempertanyakan itu!" Konohamaru berjengit kaget, dan sontak saja berlari menjauh dari Ino yang sudah siap dengan tangan terkepal.
.
.
.
.
.
"Suigetsu! Letakkan karangan bunga itu dengan benar! Kau harus sesuaikan letaknya!" teriak Ino pada seorang pemuda dengan surai putih, dan selalu terlihat ceria.
"Beres Ino-chan!" jawab pemuda itu semangat, dan langsung melakukan apa yang Ino perintahkan.
"Yahiko-nii! Berhentilah berputar-putar mengelilingi gedung! Cepat pasang pita-pitanya!"
Pria bersurai orange nyentrik yang Ino panggil Yahiko itu terkejut dan sontak saja berlari kearah kardus-kardus berisi bahan-bahan hiasannya. Dan segera melakukan apa yang Co-managernya itu perintahkan.
Ino berpaling lagi, dan keningnya kembali berkendut saat melihat Konohamaru dan Sai tengah sibuk menggambar.
"Heh! Kalian berdua!" Sai dan Konohamaru tersentak dan sontak saja menoleh kearah Ino yang kini terlihat sangat berapi-api. "Aku membawa kalian ke sini untuk bekerja, bukannya bersantai dan menggambar! Cepat bantu yang lainnya mendekorasi!" gertak Ino. Sai dan Konohamaru langsung berdiri dari acara duduk dilantai, dan segera membantu yang lainnya.
"Ino-chan, jangan terlalu keras seperti itu. Kau juga harus memperhatikan dirimu. Banyak marah bisa membuatmu cepat tua, nak." Tegur ayahnya.
"Aku tidak akan marah jika saja mereka melakukan sesuai intruksiku." Ucap Ino dengan tatapan yang sibuk melihat daftar yang tertulis dibuku catatannya. "Astaga, masih banyak yang harus diatur." Gumam Ino. Inoichi menggeleng. Namun, juga merasa geli dan terharu melihat putrinya itu benar-benar bersemangat menjalankan bisnis keluarga. Inoichi kemudian berjalan meninggalkan Ino yang masih sibuk dengan dunianya.
Ino menggelengkan kepalanya lelah. Dan juga mulai memijat pelipisnya guna mengurangi rasa sakit di kepalanya. Dan tepat saat ia membuka mata, sebuah botol minum tersodor di hadapannya. Ino meraih botol itu tanpa melihat terlebih dahulu pada orang yang menyodorkannya.
"Terima kasih." Ucap Ino sebelum kemudian meneguk air itu. Namun, saat ia mendongak, ia justru tersedak saat melihat siapa orang yang kini ada di hadapannya.
Untuk beberapa saat Ino terbatuk. Hingga kemudian Ino mulai bisa mengendalikannya,
"O-o-oh... Uzumaki-sama! Anda mengejutkan saya." Ucap Ino dengan sedikit semburat merah di pipinya. Jelas saja ia tengah malu sekarang.
"Maaf, Ino. Aku tidak bermaksud."
"Ehehe, tidak apa-apa." Ino memaklumi. "Jadi, apa alasan anda berada di sini?" tanya Ino.
"Ah, itu. Eum, seperti kataku tadi, aku akan membantumu." Ucap Naruto sedikit gugup. Bola matanya tak fokus, dan jari telunjuknya bergerak menggaruk pipinya dengan kaku.
Ino melongo. "Anda... serius ingin membantu saya? Ma-maksud saya, kami?" ucap Ino dengan nada tak percaya.
"Bukan hanya aku, tapi juga teman-temanku."
Ucap Naruto dengan jari menunjuk kearah belakangnya. Dan muncul lima orang pemuda yang tak kalah tampan dengan Naruto. Kelima pria dengan warna rambut berbeda berjalan dengan penuh gaya, dan terlihat luar biasa keren.
Membuat Ino dan kelima rekan-rekannya terpana melihatnya.
Apa ini? Apa aku sedang melihat drama?
Tepat saat kelima orang itu berdiri di samping Naruto, Ino dengan cepat tersadar.
"Semuanya, kenalkan kelima temanku. Yang di ujung Kiba Inuzuka."
"Halo!" pria dengan surai coklat acak-acakan itu mengangkat tangan dengan senyum lebar.
"Di samping Kiba, ada Sabaku no Gaara,"
"..."
"Lalu Uchiha Sasuke, Shikamaru Nara, dan Hyuga Neji."
"Hn..."
"Mendokusei."
"..."
Ino tersenyum kaku kearah lima orang pemuda itu.
"H-halo, aku... Ya-Yamanaka Ino. M-mohon bantuannya." Ucap Ino sesopan mungkin, walau dalam hatinya ia sangat ingin berlari menjauh dari ruangan itu, lebih tepatnya menjauh dari keenam pemuda itu sebelum mereka melihat darah merembes dari hidung Ino.
"Jadi, apa yang bisa kami bantu?" tanya Naruto. Ino tersentak dan mulai menoleh ke sekelilingnya. Kelima rekannya masih terdiam.
"Eum... kalian bisa... bisa membantu teman-teman saya. Eum..." Ino menggaruk pipinya merasa bingung dengan pekerjaan apa yang harus ia serahkan pada kelima teman Naruto. Ia tidak ingin memberikan pekerjaan yang terlalu sulit, mengingat mereka adalah teman dari kliennya. Dan juga, ada rasa sungkan dalam diri Ino untuk menyuruh-nyuruh lima orang pemuda tampan itu. "Begini saja, jika ada dari kalian yang merasa paling tinggi, bisa membantu Yahiko-nii memasang pita. Dan sisanya membantu memasang dekorasi." Usul Ino.
"Baiklah, kalau begitu, Sasuke, Shikamaru, Neji, tolong bantu memasang pitanya, ya?" Ucap Naruto. Ketiga orang itu tanpa menjawab segera berjalan kearah Yahiko.
"Gaara, Kiba, kalian tolong bantu dengan dekorasi bunganya, ya?"
"Yosh!" seru pemuda dengan rambut coklat jabrik itu. Sementara Gaara tidak memberi respon, dan hanya berjalan mengikuti Kiba.
"Uzumaki-sama?" panggil Ino. Naruto sontak saja menoleh dan memberi pandangan bertanya kearahnya. "Apakah ini tidak masalah? Ini memang sudah pekerjaan kami. Dan biasanya kami tidak memerlukan bantuan tambahan lagi."
"Tidak apa-apa, Ino. Kau jangan sungkan begitu. Lagi pula temanku membantu atas keinginan mereka sendiri, dan melakukannya dengan sukarela." Ucap Naruto.
Awas kau Dobe! Aku akan membunuhmu karena sudah memaksa seorang Uchiha sepertiku melakukan pekerjaan menyebalkan ini!
Heh.. Mendokusei kenapa aku harus melakukan pekerjaan melelahkan ini, huh? Naruto sialan itu!
Naruto-baka! Bisa-bisanya ia berdalih ini untuk bisnis! Memangnya dia pikir aku pembantunya?! Awas kau. Kau sudah salah langkah dengan mempermainkan seorang Hyuga sepertiku!
Jika kau bukan temanku, aku sudah akan menguburmu hidup-hidup di gurun pasir, Naruto!
Sialan kau Naruto! Kau mengorbankan kami, hanya karena ingin terlihat baik di depan wanita cantik itu. Huh! Dan sekarang dia malah mengobrol dengannya. Kau akan mendapat pelajaran dariku karena itu semua, Naruto!
"Jadi, Ino. Apa yang bisa aku bantu?" tanya Naruto.
"Anda mungkin bisa membantu saya untuk pemilihan makanannya. Anda ingin makanan apa untuk pesta nanti?"
Naruto terlihat berpikir.
"Aku berpikir, mungkin semacam makanan kecil saja. Kau tahu, seperti roti atau macaron, oh, atau mungkin juga kue, dengan berbagai rasa jadi para tamu tidak merasa bosan. Dan, untuk minumnya aku ingin Anggur, dan Wine."
"Pilihan bagus, Uzumaki-sama."
"Eh, Ino!"
"Ya?" tanya Ino.
"Mungkin kau benar-benar harus hilangkan aksen formal itu. Panggil aku, Naruto, Ino." Ucap Naruto dengan sedikit penegasan.
"Tidak bisa, Uzumaki-sama. Anda klien saya. Dan saya sedang dalam kontrak pekerjaan sekarang. Kesan formal harus saya pertahankan untuk profesionalitas pekerjaan. Oke? Jadi, jangan paksa saya memanggil anda dengan aksen non-formal."
"Baiklah, baiklah."
Akhirnya, Naruto memilih untuk mengalah. Dan kembali bertanya mengenai pekerjaan apa yang bisa ia bantu lagi.
.
.
.
.
Hari kini sudah beranjak sore, dan dekorasi sudah siap. Dan yang perlu di urus hanya masalah makanan untuk pesta keesokan harinya. Ino dan para rekannya sudah mulai merapikan semua peralatan untuk dibawa pulang.
Saat Ino tengah memeriksa semuanya, Naruto datang dari arah belakangnya.
"Ino?" panggilnya.
Ino berbalik, dan bertanya. "Ada apa?"
"Bagaimana dengan makanannya?" tanya Naruto. Ino tersenyum.
"Tenang. Saya tahu di mana bisa mendapat kudapan kecil yang enak. Anda jangan khawatir, Uzumaki-sama. Besok siang saya akan kirim beberapa sample untuk anda cicipi, jadi anda bisa menilainya sendiri."
"Kenapa kau sampai repot-repot begitu? Beritahu saja alamatnya, dan aku akan datang langsung ke sana."
"Memangnya anda tidak sibuk?"
"Tidak. Aku meliburkan karyawan besok, agar mereka bisa datang dengan performa terbaik mereka. Dan mereka bisa menikmati pestanya dengan baik. Jadi, intinya. Besok aku bebas."
"Baiklah, jika anda memaksa. Toko itu ada di seberang toko bunga Yamanaka."
"Wow, kau mempromosikan toko saingan?"
"Bibi Haori bukan saingan saya, Uzumaki-sama. Tapi, keluarga. Lagipula, kue-kue dan roti-roti dari toko bibi Haori terkenal paling enak di daerah Konoha."
"Baiklah kalau begitu. Aku akan datang besok. Eum... menurutmu, kapan waktu yang tepat untuk datang ke toko itu?"
"Kalau saran saya, sebaiknya anda datang jam tujuh, itu adalah jam buka toko itu. Dan anda pasti akan suka suasananya, karena tepat di saat itu, semua roti dan kue keluar dari panggangan, dan menguarkan aroma sedap. Dan biasanya toko akan tutup jam 10, karena selalu dipenuhi pengunjung, dan biasanya juga, saat kue baru diletakkan, pengunjung sudah antri."
"Wow... sepertinya roti dan kue di sana sangat enak."
"Ya. Enak dan harganya ramah dikantong." Ucap Ino dengan cengiran. Ino lalu melirik jam tangannya lalu beralih pada rekan-rekannya yang kini sudah selesai berbenah. "Eum.. Uzumaki-sama, sepertinya saya sudah harus kembali. Terima kasih atas bantuan anda dan teman-teman anda. Itu sangat membantu saya, dan juga terima kasih karena sudah memesan layanan dekorasi Yamanaka Florist. Terima kasih banyak."
"Sama-sama, Ino. Baiklah, kalau begitu sampai jumpa." Ucap Naruto. Ino mengangguk lalu segera berjalan kearah rekan-rekannya.
.
.
.
.
"Kenapa kau bangun?" ia menatap cermin itu dengan tajam. Cermin yang harusnya menampakkan pantulan wajahnya, kini justru menampakan sosok yang walau serupa dengannya, tapi dia berbeda. Tatapan itu, dan juga seringainya. Mencerminkan sesuatu yang menakutkan dan kelam.
"Aku merasakan energi seseorang, dan itu membuatku merasa kuat. Dan aku bangun untuk melihatnya," pria di dalam cermin itu semakin melebarkan seringainya. "Dan... wow, dia sexy sekali. Bisakah kau mendapatkannya untukku?"
"Kau tidak akan bisa memilikinya, meski pun aku mau mendapatkannya untukmu." Naruto menghentikan ucapannya sebentar. Dan menatap sosok di depannya dengan tatapan dingin. "Karena kau... tidaklah nyata, Menma." Ucap Naruto mengakhiri perbincangan itu.
Namun, pria dengan surai hitam legam itu hanya tersenyum licik.
"Itu menurutmu, Naruto. Tapi, aku tak selemah dalam pikiranmu. Lagipula, aku adalah bagian dari dirimu, aku tahu apa yang kau rasakan terhadap wanita itu. Apa itu namanya... cinta?" Menma menatap Naruto layaknya seorang pemenang permainan kartu. "ahaha... dan itu berarti, kau tidak mungkin, tidak berusaha mendekatinya, dan berusaha memilikinya. Kau pasti akan melakukannya. Dan aku akan dengan segera mengambil alih... semuanya. Kau tahu kenapa? Karena wanita itulah alasanku terbangun. Aku merasakan sesuatu yang kuat mengalir kedalam tubuhku. Sangat kuat. Hingga aku yakin bisa menendangmu keluar dari tubuh ini."
Naruto terdiam mendengar penuturan Menma. Dan perlahan, perasaan khawatir itu mulai menguasainya. Namun, dengan sisa keyakinan, dan keberanian yang ia punya, ia membalas tatapan Menma dengan tajam.
"Jika kau bisa," Naruto terdiam. "coba saja."
Menma menyeringai.
"Dengan satu syarat," alis Menma terangkat.
"Apa itu?"
"Jika kau bisa membuatnya jatuh cinta padamu. Maka aku akan menghilang dari tubuh ini dengan sukarela. Asalkan kau mau berjanji untuk melindunginya."
Menma kembali melebarkan seringainya. "Menarik... baiklah, aku setuju. Tapi, aku ingin kau untuk mengundang wanita itu ke pesta besok malam, dan kau harus mau berbagi tubuhmu."
"Baiklah, aku akan mengatur waktu untuk kita berbagi tubuh. Sekarang biarkan aku beristirahat. Pekerjaan hari ini begitu melelahkan."
"Baiklah, baiklah. Sampai jumpa, Naru." Menma tertawa jahat, setelah itu menghilang, berganti dengan bayangan wajah Naruto yang kini terlihat sangat lelah. Matanya menatap pantulan wajahnya dengan sendu.
"Ibu..."
.
.
.
.
Keesokan harinya, Ino pergi menuju bukit untuk memetik beberapa jenis bunga liar yang stoknya hampir habis. Bukannya Ino tidak punya kebun bunga. Dia memilikinya tepat di belakang toko, kebun di belakang tokonya lumayan luas, dan banyak jenis bunga di tanam di sana. Namun, ada beberapa bunga yang memang tak bisa tumbuh di kebunnya, melainkan tumbuh di alam terbuka.
Tapi, Ino tak pernah mengeluhkannya. Dia suka berjalan-jalan, dan menikmati aroma rumput dan bunga liar.
Saat Ino sudah dekat dengan tokonya, kakinya berhenti melangkah dan dahinya mengernyit saat melihat kerumunan orang di depan toko roti bibi Haori. Kebanyakan dari kerumunan itu adalah wanita paruh baya, dan wanita seumurannya.
Ada apa ini?
Ino berjalan mendekat, dan matanya sedikit melebar saat melihat rambut kuning berada di antara kerumunan itu.
"Uzumaki-sama?" panggil Ino terkejut. Naruto yang sedang menebar senyum ramah itu sontak saja menoleh. Dan senyumnya semakin melebar dan terlihat menawan, membuat kerumunan wanita itu berteriak histeris. Ino hanya mampu berdiri diam dengan wajah heran.
Naruto mencoba keluar dari kerumunan itu dan berjalan mendekat kearah Ino.
"Ohayou, Ino,"
"Ohayou... kenapa anda datang pagi sekali?"
"Ya... aku hanya tidak ingin terlambat." Ucap Naruto polos. Ino terkekeh mendengarnya. "Apa kau ingin beli roti juga, Ino?"
"Ya. Tapi, aku ingin meletakkan bunga ini dulu ke toko."
"Biar aku temani. Sepertinya tokonya masih belum akan buka hingga sepuluh menit ke depan." Ucap Naruto. Para wanita yang mendengar ucapan Naruto sontak saja mendesah kecewa.
Ino tersenyum geli melihatnya, sebelum kemudian berbalik dan berjalan kearah tokonya.
"Aku tak menyangka antriannya akan sebegitu banyaknya. Ternyata kau benar tentang toko roti itu. Tahu begini aku akan menunggu di tokomu." Ucap Naruto.
"Percuma saja. Saya tadi tidak sedang ada di toko."
"Kau kemana?"
"Saya tadi sedang memetik bunga di bukit, untuk persediaan."
"Oh... apa setiap hari?"
"Tidak. Hanya jika stoknya habis."
"Oh."
Ino membuka pintu tokonya dan berseru. "Tadaima!" yang langsung dibalas oleh seruan seorang pria paruh baya.
"Okaeri, masuklah Ino-chan, ayah sedang masak di dapur."
"Ayo masuk, Uzumaki-sama."
"Terima kasih. Eum.. apa ayahmu yang selalu masak?"
"Tidak. Ayah masak, hanya jika aku sedang mengambil persediaan bunga atau aku sedang sakit."
"Menarik sekali."
"Anda mau makan, Uzumaki-sama?"
"Ah, tidak, terima kasih."
"Ino-chan kau bicara dengan siapa?" tanya Inoichi dari arah dapur.
"Pelanggan!"
"..."
"Pelanggan?"
"Iya, andakan pelanggan saya."
"Oh..."
Ino berjalan kearah meja kasir dan meletakkan keranjang bunganya di atasnya. Lalu berjalan kearah Naruto yang masih berdiri diam di dekat pintu masuk.
"Ayah! Aku mau ke toko bibi Haori dulu! Apa ayah ingin aku belikan roti?"
"Boleh saja, ayah ingin roti isi coklat!"
"Baiklah. Ayo Uzumaki-sama."
"Oke."
Naruto dan Ino berjalan beriringan kearah toko yang kini sudah ada papan bertuliskan 'open' di pintunya.
Tepat saat Naruto membuka pintu, bunyi bel pintu langsung menyambutnya. Semua orang yang tengah mengantri sontak saja berpaling untuk melihat siapa yang datang.
Dan sontak saja teriakan itu terdengar lagi. Naruto hanya mampu tersenyum canggung.
"Haah... kau tampan sekali anak muda, jadilah menantuku. Ya? Ya? Ya?" ucap seorang wanita paruh baya dengan tangan yang mengapit lengan Naruto.
"Tidak! Dia harus jadi menantuku! Dia tidak akan mau dengan anakmu." Balas wanita yang lainnya.
"Hey! Sadarlah, dia tidak mungkin mau dengan anak-anak kalian. Baru melihat saja dia pasti sudah lari terbirit-birit. Dia mau dengan wanita yang ia lihat langsung. Sepertiku." Ucap wanita dengan surai pink itu. "Hai, tampan. Namaku Sakura. Siapa namamu?"
"Naruto." Jawab Naruto sopan.
Ino yang melihat itu hanya mampu geleng-geleng kepala. Ino mengedarkan pandangannya, dan baru sadar bahwa antriannya terpecah karena kehadiran Naruto.
Ino tersenyum miring, lalu segera berjalan mendekat kearah lemari kaca yang kini menampilkan banyak jenis roti.
"Tolong roti coklatnya tiga, dan roti isi selai kacangnya dua."
"Kau membeli banyak roti pagi ini, Ino-chan." Ino menoleh kearah suara itu. Lalu tersenyum saat tahu jika yang mengajaknya bicara itu adalah Haori.
"Bibi. Ohayou."
"Ohayou. Jadi, untuk siapa roti-roti itu?"
"Dia." Ino menunjuk kearah Naruto yang masih sibuk dengan ibu-ibu itu.
"Pacarmu ya, Ino-chan?"
"Bukan. Dia seorang klien. Dialah yang memesan roti untuk pesta itu. Dan dia datang untuk memastikan bahwa pilihannya tak salah."
"Oh. Tapi, sepertinya ia sangat sibuk sekarang." Ucap Haori sedikit tertawa. Ino ikut tertawa melihatnya.
"Ini pesananmu Ino-chan." Ino menoleh kearah pramusaji itu dan tersenyum manis.
"Terima kasih, Rin-nee."
"Uzumaki-sama, rotinya sudah kubeli. Ayo!" ajak Ino yang sudah berjalan kearah pintu keluar.
"E-e-eh, tunggu aku." Naruto mencoba keluar, dan akhirnya berhasil.
"Wah... Ino-chan beruntung sekali ya, bisa mendapatkan pria setampan itu. Dan aku yakin, dia dari keluarga yang kaya. Ck, ck."
.
.
.
Naruto yang sudah berjalan beriringan dengan Ino itu menghela nafas. "Kenapa mereka begitu brutal?" gumam Naruto.
"Anda terlalu tampan." Ucap Ino spontan.
"Apa?" tanya Naruto. Bukannya dia tak mendengar, hanya saja, dia ingin memastikan apa pendengarannya masih baik-baik saja. Atau wanita itu benar-benar memuji dirinya?
Wajah Ino memerah saat ingat apa yang baru saja ia katakan. Ino tersenyum kikuk dan mengibaskan tangannya di depan wajah. "Tidak ada... hehe."
Ino menggaruk tengkuknya. Sebelum kemudian hening menjadi teman perjalanan mereka menuju ke toko.
'drrrt... drrrt... drrrt..'
Naruto berhenti berjalan, dan segera merogoh kantong jeansnya.
"Halo?"
"..."
"Baiklah." Naruto mengakhiri pembicaraannya. Dan segera berjalan kearah Ino.
"Ino, aku harus kembali. Ada urusan mendadak."
"Oh... baiklah." Ino mengangguk maklum. Naruto tersenyum sebelum kemudian berbalik untuk pergi ke tempatnya memarkirkan mobil sport silvernya.
Ino memandang pundak Naruto sendu. Entah kenapa hati kecilnya merasa sedih saat melihat punggung Naruto yang berjalan menjauh darinya. Ino menggeleng sebelum kemudian pandangannya jatuh pada kantong kertas berisi roti. Ino menepuk dahinya saat mengingat ia belum menyerahkan roti yang sengaja ia beli untuk Naruto.
"Uzumaki-sama, rotinya." Naruto yang masih berada tak jauh dengannya itu sontak saja menoleh.
Ino berlari kearahnya dan menyerahkan bungkus rotinya.
"Apa ini?"
"Roti. Kau datang ke sini untuk membeli rotinya 'kan?"
"Oh, iya. Aku sampai lupa. Jadi.. berapa aku harus membayar?"
"Gratis."
"Apa?"
"Anggap saja sebuah bonus." Ucap Ino dengan senyum.
"Terima kasih." Balas Naruto dengan senyum yang sangat lebar.
"Sama-sama. Kalau begitu sampai jumpa." Ucap Ino dengan tangan yang melambai. Lalu berbalik.
Undang dia ke pesta, Naru-baka! Kau tidak mencoba untuk lari dari janjimu 'kan?
Naruto tersentak. Dan segera memanggil Ino.
"Em... Ino,"
"Ya?"
"Datanglah ke pestaku."
"Datang... ke pesta anda?"
"I... ya."
"Tapi,"
"Kau akan jadi tamu special di pestaku."
"A...pa?"
"Datang, ya? Aku akan menjemputmu nanti malam. Jaa!" ucap Naruto lalu segera berlari sebelum Ino sempat melontarkan protesnya.
"Tapi... ish!"
TBC
