The Dark Shadow

Chapter 3 – Party

.

.

.

Ino terlihat tengah mondar-mandir di kamarnya. Ia tengah bingung dengan apa yang harus ia kenakan untuk pergi ke pesta itu. Di lemarinya tak ada gaun bagus sama sekali. Bukan berarti tidak ada sama sekali. Ada satu, dress lengan pendek berwarna biru selutut. Tapi... dia sudah terlalu sering memakainya untuk pergi ke pesta.

"Oh, ayolah. Aku kan baru pertama kali pergi ke pesta seorang klien, kami juga baru kenal. Bagaimana dia bisa tahu jika itu gaun yang sering aku pakai? Haha, dia tidak akan tahu. Hm... aku rasa tidak masalah jika aku memakai ini kembali." Ino akhirnya memutuskan untuk membawa dress itu menuju kamar mandi. Tepat saat Ino akan membuka pintu, bunyi ketukan dari pintu kamarnya sudah menginterupsi.

"Ino-chan! Ada paket untukmu!" Ino mengernyitkan dahi.

Paket?

"Tunggu sebentar," akhirnya Ino memilih untuk segera melihatnya langsung.

Cklek!

Ino hampir dibuat berteriak histeris saat melihat ekspresi aneh ayahnya, yang sudah menyambutnya dibalik pintu. Inoichi menampakan senyum lebar dan tatapan yang menyiratkan sesuatu.

"Kenapa wajah ayah seperti itu?" tanya Ino heran, dengan tangan yang mencoba menarik paket itu dari cengkeraman ayahnya. "Ayah, lepas!"

"Ekhm... apa ini? Tadi undangan, sekarang Gaun? Mungkin apa yang ayah katakan akan jadi kenyataan."

"Apa, sih?" ucap Ino dengan pipi menggembung. "Cepat ayah, lepaskan paketnya!"

"Baik-baik." Ucap Inoichi mengalah.

Ino membuka kotak merah dengan pita kuning itu, dan menemukan sebuah gaun berwarna ungu tua berbahan sutra. Gaun itu terlihat simple namun tetap manis dan anggun.

"Astaga... apa-apaan ini?" Ino tersenyum senang. Antara senang dan tidak percaya. "Kira-kira siapa yang mengirimnya."

"Astaga, kau pura-pura tidak tahu, atau apa, sih, Ino-chan?"

Ino menoleh kearah ayahnya dengan dahi mengernyit.

"Apa maksud ayah? Aku memang tidak tahu."

"Itu dari Uzumaki-san."

"Eh? Uzumaki? Bagaimana ayah bisa tahu?"

"Ini," Inoichi menyerahkan sebuah kartu berwarna pink. Ino meraihnya dan segera membuka dan membacanya.

'Aku ingin kau memakai gaun ini di pestaku.

Aku sangat menantikan kehadiranmu.'

'Oh, ya, dan datanglah dengan rekan-rekanmu. Aku menunggumu.'

Naruto.

Tanpa sadar pipi Ino merona saat membacanya. Sebelum kemudian sadar bahwa ayahnya yang menyerahkan kartu itu, otomatis ayahnya juga sudah membacanya.

"Ayah membacanya?" tanya Ino menatap sang ayah.

"Ayah penasaran," jawab Inoichi seadanya.

"Haa.."

"Ayah sudah memberitahukannya pada yang lain, dan mereka akan segera datang."

Ino mengangguk paham.

"Baiklah, sepertinya ayah juga harus siap-siap sekarang." Ucap Inoichi dan segera berlalu pergi.

Ino menutup pintu kamarnya kembali. Dan segera berlari ke kamar mandi.

.

.

.

Kelima orang pria itu sudah siap di ruang tamu keluarga Yamanaka. Dan sekarang mereka tengah menunggu satu-satunya rekan wanita di antara mereka.

Tuk.. tuk... tuk...

Suara ketukan high hels itu berhasil mengalihkan perhatian kelima orang tersebut. Mereka semua dibuat terdiam saat melihat Ino turun dengan gaya anggun. Ino terlihat sangat cantik dengan gaun ungu berlengan pendek itu. Ditambah sepatu berwarna peach dan rambut pirangnya yang ia anyam dan poni yang biasa menutup mata bagian kanannya, kini ia jepit kesamping dengan jepitan berwarna merah.

Saat Ino sudah berada di antara mereka, barulah salah satu dari mereka memecah keheningan.

"Ino-chan, kau cantik sekali." Ucap Sai tulus. Senyumnya terlihat sangat manis dimata Ino. Membuat Ino tak kuasa menahan senyum.

"Terima kasih."

"Ino-nee! Kau sangat... wow!" ucap Konohamaru dengan jempol ia angkat.

"Sudahlah, jangan membuatku tersipu! Ayo kita berangkat!"

"Hey, Ino-chan, bagaimana jika nanti kita berdansa bersama?" tanya Suigetsu dengan senyum genitnya.

"Tidak mau."

"Kalau denganku, kau mau Ino-chan?" tanya Yahiko.

"Tidak mau!"

Yahiko pundung mendengarnya.

"Kalau denganku, Neesan mau?"

"Sadarlah, aku lebih tinggi darimu, Maru!" Konohamaru hanya mampu mengerucutkan bibir mendengarnya.

"Kalau begitu... denganku. Kau mau 'kan, Ino-chan?" tanya Sai kalem.

Ino terlihat berpikir. "Boleh."

"Yess!" Sai berseru pelan. Sai menoleh kearah orang-orang yang ditolak Ino. Dan memberikan senyum kemenangannya. "Maaf, ya teman-teman." Yang sontak membuat ketiga orang tersebut berseru kecewa.

"Yaaaahhhh!"

Sementara Inoichi yang sejak tadi hanya menyaksikan, tertawa melihat tingkah ketiga orang itu.

Tepat saat keenam orang itu keluar, sebuah mobil limosin sudah terparkir di depan rumah Ino.

"Mobil siapa ini?" tanya Konohamaru.

"Keterlaluan sekali, parkir tanpa izin!" ucap Suigetsu.

Keenam orang itu terdiam, saat melihat seseorang keluar dari kursi pengemudi. Pria dengan pakaian resmi, dan kacamata hitam itu berjalan kearah keenam orang yang masih terdiam tersebut.

Yahiko memukul pundak Suigetsu tepat setelah orang itu berhenti di depan mereka. Suigetsu bahkan tak bisa bicara lagi saking shocknya.

Apa yang aku lakukan tadi? Bagaimana jika aku akan dituntut nanti?

"Selamat malam. Saya supir yang dikirim oleh Uzumaki-sama untuk menjemput kalian. Masuklah." Ucap pria itu, sebelum kemudian pintu penumpang terbuka dengan sendirinya.

"Sugoi!" ucap Konohamaru dengan wajah noraknya.

"Apa? Kenapa sampai repot-repot seperti ini? Kami bisa pergi sendiri." Ucap Ino tidak enak.

"Tidak apa-apa. Ini sudah seharusnya dilakukan untuk para tamu special."

"Woah... kita tamu special." Ucap Suigetsu dengan mata berbinar-binar.

"Silahkan masuk." Ucap pria itu.

Ketiga pegawai Ino itu dengan semangat masuk ke dalam mobil tersebut. Menyisakan Ino, Inoichi dan Sai yang masih terdiam di luar.

"Sudahlah, Ino-chan, ayo kita masuk." Ucap Inoichi. Sembari berjalan masuk ke mobil. "Ayo, Sai." Ajak Inoichi pada pria pucat itu.

"Ha'i, jiisan." Patuh Sai, dan mengikuti langkah si bos.

Ino menghela nafas, dan akhirnya ikut masuk ke dalam mobil.

Selama perjalanan Ino hanya terdiam. Isi pikirannya berkecamuk. Hatinya mengatakan, ada yang aneh dengan semua ini. Tapi, ia sendiri tak tahu kenapa. Mungkin karena perubahan sikapnya sekarang. Jika dulu, Ino adalah seorang gadis yang ceriwis, genit dan sedikit... mata duitan. Tapi, semua sifat itu sudah ia buang jauh-jauh semenjak ia mulai membantu ayahnya bekerja. Ia mulai merasakan sulitnya mencari uang. Dan juga semenjak melihat bagaimana teman baiknya dulu, mati karena patah hati. Membuatnya mulai mewanti-wanti untuk mencari pasangan hidup. Sekarang bukan pria ber-uang, atau pun pria tampan lagi yang ia cari. Tetapi pria yang mau menerimanya apa adanya, dan selalu baik padanya. Mencintainya untuk selama-lamanya hingga mereka berpisah karena kematian.

Umur 22 tahun, bukanlah saat untuk bermain-main lagi. Tapi, untuk mulai serius. Hidup tak seramah yang kau lihat, itulah ucapan ayahnya yang selalu ia ingat, dan selalu menjadi alarmnya jika ia mulai berlebihan dalam bersenang-senang.

"Ino-chan?" Ino menoleh saat mendengar suara lembut ayahnya. "Apa yang kau pikirkan?" Ino tersadar bahwa ia sudah terlalu larut dalam lamunannya.

"Tidak ada, ayah. Aku hanya khawatir, kalau dekorasinya akan mengecewakan. Karena... ini kali pertamanya aku mendatangi pesta yang di dekorasi olehku. Aku sedikit cemas." Ucap Ino dengan menggigit jari. Suigetsu, Konohamaru, dan Yahiko yang semula bermain-main sontak terdiam mendengarnya. Entah kenapa, mereka tiba-tiba merasakan mulas diperut mereka.

"Kenapa tiba-tiba jantungku berdetak sangat kencang." Tanya Yahiko pada dirinya sendiri.

"Aduh, tiba-tiba aku berkeringat dingin seperti ini."

"Ino-nee... perutku terasa tidak enak." Ucap Konohamaru dan mulai menyandarkan tubuhnya disamping Ino yang kebetulan duduk disampingnya.

Ino tersenyum geli melihatnya.

"Sai.. apa kau tidak gugup?" tanya Suigetsu saat melihat rekan pucatnya itu hanya diam dengan buku berjudul 'Cara untuk menjadi orang yang menyenangkan.' Berada ditangannya. Dan mata lurus pada tulisan-tulisan di dalamnya.

"Tidak." Jawab Sai singkat.

"Bagaimana bisa?"

Sai menutup bukunya, dan menatap Ino yang duduk di depannya. Lalu tersenyum manis.

"Karena aku yakin, apa yang Ino-chan buat, 100% bagus." Ucap Sai. Yang langsung membuat Ino merona hebat.

"Ahhh... benar juga. Semua yang Ino-chan buat itu bagus. Bahkan, setiap pelanggan memuji cara kerja kita, dan pengaturan dekorasi Ino-chan. Membuat kita selalu mendapat bonus. Ha... lega jadinya."

"Kalian ini... sudahlah. Aku malu." Ucap Ino dengan tangan yang menutupi kedua pipinya.

Dan perjalanan yang semula dipenuhi ketegangan itu, perlahan mencair, dan menyenangkan.

Setibanya mereka di pesta. Naruto sudah menyambut mereka di pintu masuk.

"Selamat malam, dan selamat datang di pestaku." Ucap Naruto dengan tubuh membungkuk.

Keenam orang itu balas membungkuk.

Selesai melakukan hal formal itu. Naruto kembali menegakan tubuhnya.

"Ayo masuk."

Saat mereka memasuki ruangan pesta. Mereka dibuat terpana dengan banyaknya orang berlalu-lalang di dalamnya. Mereka semua terlihat menawan... dan mewah. Membuat mereka tanpa sadar merasa minder.

"Entah kenapa... aku merasa diriku yang paling kumel di pesta ini." Ucap Suigetsu.

"Iya... padahal ini pakaian yang baru saja aku beli. Tapi... aku merasa ini pakaian lama yang baru aku ambil dari laundry." Yahiko menimpali.

"Jangan berkata seperti itu. Kalian tetap luar biasa. Sudahlah... nikmati saja." Ucap Ino mencoba menyemangati.

"Hm... terima kasih Ino-chan." Ucap Suigetsu. Hingga kemudian kesedihannya teralih oleh aroma makanan yang sudah tertata rapi di meja panjang dalam ruangan tersebut.

"Yahiko. Lihat makanan-makanan itu!" ucap Suigetsu. "Ayo kita ke sana. Ino-chan aku ke sana dulu ya?" ucap Suigetsu yang langsung pergi dengan menarik tangan Yahiko dan Konohamaru. Menyisakan Ino, Sai, Inoichi dan Naruto.

"Eh?" Ino menganga. "Padahal tadi dia sedih..." ucap Ino pada akhirnya.

"Kalian juga. Nikmatilah pestanya. Aku ada urusan sebentar." Ucap Naruto menyadarkan ketiganya.

Ino, Sai dan Inoichi terdiam dengan canggung di dalam ruang pesta itu.

"Eum... bagaimana jika kita ketempat ke tiga bocah itu?" ucap Inoichi memecah kecanggungan itu.

"Boleh." Ucap Ino mengangguk. Sementara Sai hanya mengikuti saja.

"Kuenya sangat enak. Lembut dan penuh krim. Huft! Aku pikir seumur hidupku, aku tidak akan bisa merasakan kue mahal dari toko bibi Haori ini. Hooohh... Kami-sama, arigatou!" Ino tertawa mendengar ucapan polos Suigetsu.

"Ya... kau benar. Harga kue inikan seharga gaji dua bulan." Ucap Yahiko dengan mulut penuh krim.

"Hu'um... aku merasa seperti seorang anak paling beruntung di dunia." Ucap Konohamaru.

"Aish... kalian ini." Ucap Ino dengan kepala geleng-geleng.

Ino begitu sibuk dengan tingkah laku rekan-rekannya, hingga tak menyadari seseorang tengah menatapnya.

"Siapa dia?" perempuan dengan rambut hitam legam dan pakaian yang luar biasa sexy itu bertanya pada seorang wanita berambut orange gelap disampingnya.

"Saya tidak tahu, Shizuka-sama."

"Cari tahu tentang gadis itu. Dan... apa keistimewaannya hingga membuat Sai rela berpura-pura miskin seperti itu."

"Baik Shizuka-sama."

Cih... gadis kampungan seperti itu... bagaimana bisa? Dan sekarang, Naruto bahkan di buat terpesona padanya. Apa yang istimewa darinya? Apa?

Shizuka menghela nafas kesal. Dan meneguk minumannya dengan sekali teguk.

.

.

Naruto berjalan pelan kearah enam orang yang kini tengah sibuk sendiri. Sebuah senyum manis tersungging dibibirnya. Saat berdiri tepat dibelakang satu-satunya wanita diantara keenam orang itu. Ia menarik nafas.

"Ino," panggil Naruto pelan.

Ino yang semula sibuk mengomentari tingkah kekanakan beberapa rekannya itu, sontak saja berpaling

"Ya?" tanya Ino saat melihat Naruto berdiri dibelakangnya dengan menampilkan senyum manis nan menawan.

"Maukah kau berdansa denganku?" tawar Naruto langsung.

Ino terdiam dengan mata yang mengerjap tak percaya. Sementara kelima rekannya kini juga ikut terdiam.

"Eh? Aku?" tanya Ino kikuk setelah sadar dari rasa kagetnya.

"Terima saja, Ino-chan." Ucap Yahiko tiba-tiba.

"Eh... tapi─"

"Jangan membuat orang malu, Ino-chan!" ucap Inoichi yang langsung mendorong pundak anaknya itu pelan, agar Ino lebih dekat dengan Naruto.

Dalam hati, Ino merutuk mendapat tindakan semacam itu dari ayahnya. Sebelum kemudian meninggalkan rutukkannya, dan menatap Naruto. "Em... baiklah." Ucap Ino pada akhirnya.

Naruto membawa Ino ke tengah ruangan, yang sudah di sulap menjadi lantai dansa tersebut. Tangannya menggenggam erat tangan Ino, seolah takut sang empunya pergi.

Setibanya dilantai dansa. Naruto memalingkan tubuhnya kearah Ino. Menjadikan tubuh keduanya saling berhadapan. Tangan kanan Naruto masih menggenggam erat tangan Ino, sebelum kemudian ia menunduk sedikit, yang dibalas oleh Ino. Lalu, secara perlahan Naruto mulai mendekatkan tubuhnya dengan tubuh wanita penyuka Ungu tersebut.

Ino merasa seperti ada sengatan listrik, manakala tubuhnya kini saling menempel dengan tubuh Uzumaki muda itu.

Mereka menari secara perlahan mengikuti ritme musik yang kini tengah diputar. Mereka menari seperti sepasang angsa, diantara angsa-angsa lainnya. Walau pun orang-orang disekitar keduanya juga tengah melakukan hal yang sama. Tapi, tatapan mereka semua tertuju kearah keduanya.

Tapi, itu semua tak membuat fokus Ino teralih. Matanya tetap sibuk menatap Iris Shapire milik Naruto, mencoba menyelaminya, dan mengorek sesuatu. Entah apa itu. Isi hati pemuda itukah?

"Mau kuperlihatkan sesuatu?" tanya Naruto dengan bisikan halus ditelinganya.

Ino menautkan alisnya. "Apa itu?"

Naruto tak menjawab, melainkan membawa gadis itu untuk ikut dengannya kearah lift.

"Kau mau membawaku kemana?" tanya Ino sesaat setelah mereka berdiam di dalam lift.

Tak sampai berapa lama, lift tersebut berhenti dilantai teratas. Dan saat pintu lift terbuka Ino dikejutkan dengan sebuah ruangan besar, yang terlihat seperti ruang pribadi sudah menyambutnya. Terdapat sofa panjang berwarna coklat, serta meja kerja yang terlihat mewah, dan rak-rak buku dengan banyak buku tersusun rapi di dalamnya. Dan yang paling membuat Ino takjub adalah, semua dinding ruangan tersebut yang terbuat dari kaca. Membuat pemandangan kota Konoha dimalam hari terlihat begitu indah dan menakjubkan.

Ino berjalan dengan wajah tak percaya kearah balkon. "Ini... luar biasa. Ya tuhan.. cantik sekali."

"Kau suka?"

"Sangat." Ucap Ino tak mampu menutupi rasa senangnya.

Mereka saling terdiam disisi jendela, menatap keluar dalam hening.

Naruto perlahan menoleh kearah Ino yang tak henti-hentinya menatap kagum kearah kota Konoha yang kini berkelap-kelip layaknya bintang.

Perlahan senyum Naruto terkembang.
"Kau terlihat cantik malam ini, Ino." Ucap Naruto memecah keheningan diantara keduanya. Ino yang mendengarnya sontak saja tersadar dari keterkagumannya terhadap pemandangan yang tersuguh dihadapannya dan menoleh.

"T-terima kasih." Ucap Ino pelan.

"Apa kau suka pestanya?" tanya Naruto mencoba berbasa-basi.

"Ya..." lagi-lagi Ino menjawab seperlunya.

"Ino... apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya Naruto.

Ino terdiam sebentar. Sebelum kemudian mengangguk ragu.

"Siapa pria dengan rambut hitam yang pergi bersamamu itu?" tanya Naruto.

"Dia rekanku." Walau merasa aneh dengan pertanyaan Naruto. Toh, Ino tidak punya pilihan lain selain menjawab.

"Tidak ada yang lebih dari itu?" tanya Naruto lagi.

"Tidak ada."

"Apa kau tahu latar belakangnya?"

"Sedikit. Dan sebagian dari latar belakangnya yang aku tahu... dia adalah seorang anak yatim."

"Apa kau percaya?"

Oke, Ino mulai merasa pembicaraan ini terdengar aneh. "Ya... aku percaya."

"Hn," Naruto menanggapi dengan anggukan. Sebelum matanya kembali menatap ke luar.

Untuk beberapa saat hanya hening. Dan tiba-tiba Naruto berjalan ke rak besar diruangan itu yang berisi banyak susunan botol anggur. Ino masih tak menyadari bahwa Naruto sudah tidak ada disampingnya lantaran terlalu asyik memandangi mobil-mobil yang terlihat sangat kecil dibawah sana.

Plop!

Ino sadar dari keterkagumannya saat telinganya mendengar suara seperti penyumbat botol yang terbuka.

"Mau minum?" Ino berbalik dan melihat Naruto yang tengah menuangkan minuman berwarna merah gelap ke dalam sebuah gelas kristal. Sebelum kemudian menggeleng.

"Ah... aku tidak bisa minum." Ucap Ino pelan. Naruto tersenyum kecil. Sebelum kemudian berjalan dengan dua gelas kristal yang sudah berisi anggur.

"Bagaimana jika aku memaksa?" ucap Naruto menyodorkan salah satu gelas yang ia bawa tersebut. "Cobalah. Aku jamin kau akan menyesal seumur hidup jika menolak meminumnya. Ini anggur terbaik." Ucap Naruto menjelaskan. Ino terlihat berpikir, sebelum kemudian meraih gelas tersebut dengan ragu.

"Terima kasih." Naruto tersenyum puas sebelum kemudian meneguk minumannya sendiri.

Ino menatap minuman itu, sebelum kemudian menyesapnya sedikit. Saat cairan itu masuk, matanya terpejam dengan alis tertaut saat merasakan banyak rasa asing masuk kekerongkongannya.

Sebelum kemudian dengan paksa ia telan. Ino meletakkan gelas tersebut keatas lemari kecil didekatnya. Sebelum kemudian berdiri didekat jendela kembali.

Aku tidak bisa.

Ino melirik Naruto yang masih terlihat menghayati sesapannya terhadap anggur itu sebelum kemudian matanya kembali menatap ke depan.

Ino mengerutkan keningnya saat merasakan pandangannya memudar. Dan tiba-tiba ia merasa pusing.

"Ino?" Ino menoleh dan menatap Naruto dengan sisa kesadarannya.

"Y-ya?" Naruto tidak menjawab melainkan menatap ke dalam mata Ino. Warna mata yang nyaris serupa dengannya. Dan Naruto sangat menyukainya. Perlahan tangannya bergerak untuk memeluk pinggang Ino, dan menariknya untuk mendekat.

Ino nampaknya juga sudah mulai terlena dengan tatapan Naruto. Karena sadar atau tidak, wajahnya kini mulai bergerak maju. Dan perlahan matanya mulai tertutup saat merasakan terpaan udara hangat yang keluar dari celah bibir Naruto.

Dan entah bagaimana, Ino dan Naruto kini sudah saling menautkan bibir. Saling mengecup satu sama lain dengan ritme yang lembut namun memberikan sensasi menyengat bagi keduanya.

Lama mereka saling berpagutan, hingga kemudian Naruto menjauhkan wajahnya untuk memberikan Ino ruang untuk bernafas. Dahi mereka masih saling menempel. Naruto bisa melihat, mata Ino masih terpejam. Dan bibir gadis itu terbuka, dan mengeluarkan udara.

Time up!

"Tid─" Ino mengernyit saat mendengar suara tercekat dari Naruto, sebelum kemudian menjauhkan wajahnya.

Namun, Ino dibuat terbelalak saat dengan tiba-tiba wajahnya ditarik oleh sebuah tangan besar. Dan yang selanjutnya terjadi, adalah bibir seseorang yang kini mulai mengeliminasi miliknya.

"Engh!" Ino mendesah saat pemilik bibir itu menggigit bibir bawahnya. Membuatnya tanpa sadar membuka mulut yang langsung tak disia-siakan oleh si pelaku.

Menma yang kini sudah menguasai tubuh Naruto itu menghisap isi mulut Ino, seolah-olah tengah menghisap seluruh energi gadis tersebut. Mereka bercumbu begitu panas. Ditambah lagi dengan keadaan Ino yang kini mulai terpengaruh oleh anggur yang diminumnya tadi. Membuat kesadaran dan kewarasannya perlahan-lahan memudar.

"Ahh!" Ino semakin mendesah tatkala bibir panas Menma kini turun menyusuri lehernya.

Tangan Menma tak mau tinggal diam. Dengan perlahan ia menarik sisi lengan pakaian Ino, hingga tersampir dikedua lengan putihnya. Membuat kain dibagian dadanya ikut merosot memperlihatkan dada Ino yang kini tertutup bra berwarna hitam. Menma terus menjelajahkan bibirnya hingga kegaris dada Ino, membuat Ino semakin mendesah tak karuan.

Perlahan Menma mendorong tubuh Ino secara perlahan kearah sofa diruangan tersebut.

"Ah!" tubuh Ino terhempas ke atas sofa, dengan Menma berada di atas tubuhnya.

Dan lagi-lagi Menma menautkan bibirnya dengan milik Ino setelah sebelumnya sempat terlepas.

Menma menciumnya layaknya orang kelaparan. Begitu bersemangat dan bergairah.

Tangan Ino kini melingkari leher Menma dan sesekali meremas rambut pemuda itu. Perlahan Ino mengangkat kakinya untuk melingkari pinggang Menma, membuat rok gaunnya tersebut tersingkap hingga hampir memperlihatkan sisi perutnya.

Menma terus memagut bibir Ino, dan mengabsen tiap gigi-gigi rapi gadis itu.

Dan kemudian kembali menurukan bibirnya kearah leher Ino, terus hingga mencapai belahan dada Ino. Bibir Menma turun seiring dengan kedua tangannya yang ikut menarik lengan gaun Ino. Hingga kini, gaun sutra berwarna ungu itu sudah tersingkap hingga sebatas perutnya. Memperlihatkan dada Ino yang terlihat seperti akan tumpah dibalik bra hitam yang ukurannya lebih kecil dari ukuran dadanya tersebut.

Menma sudah hampir membuat bra itu terlepas jika saja sebuah ketukan dipintunya tak menginterupsi kegiatannya.

"Shit!"

Ino juga nampak terkejut, dan segera mengembalikan kesadarannya. Menma bangun dari posisinya, dan segera berjalan kearah pintu. Dalam hatinya ia ingin sekali memukul wajah orang dibalik pintu tersebut.

Ino yang sudah dalam posisi terduduk itu, sontak melebarkan matanya saat Menma berjalan kearah pintu. Dengan terburu-buru dirapikannya gaun yang tersingkap itu. lalu merapikan rambutnya yang kusut. Ino menepuk pipinya guna mengembalikan kesadarannya, sepenuhnya.

Cklek!

"Ada apa?" tanya Menma tanpa basa-basi kearah pria dengan surai coklat jabrik itu.

"Kenapa kau ketus sekali? Aku ke sini untuk memberi tahumu, ada infestor asal Prancis yang ingin bicara denganmu."

"Kenapa tidak kau saja?"

"Hei, ini perusahaanmu. Ada apa denganmu sebenarnya Naruto?"

"Jangan sebut nama itu dihadapanku, bangsat!" oke. Menma nampaknya sudah lupa diri, bahwa ia tengah memakai tubuh Naruto.

"Ya tuhan. Sudah berapa banyak kau minum, huh? Kau terdengar seperti orang lain."

Ino yang sejak tadi duduk, dan mendengarkan mereka hanya mampu terdiam.

Kiba mengernyit saat sadar keadaan Naruto yang terlihat berantakan, dengan rambut yang terlihat baru diacak-acak, dan kemeja yang kusut. Hingga kemudian Kiba mencuri pandang ke dalam kantor Naruto yang memang selalu remang-remang itu. matanya menyipit saat melihat sesuatu berwarna pirang bergerak di antara kegelapan ruangan itu. Dan saat itu juga, ingatan saat ia melihat Naruto membawa seorang wanita pirang kedalam lift, melintas di otaknya. Dan seringai itu terbentuk.

"Karena itukah kau terlihat resah, eoh? Karena itulah, jangan melakukannya saat acara masih berlangsung. Kau memiliki banyak waktu luang, tapi bukan sekarang. Sebaiknya kau cepat turun. Aku yakin wanitamu akan bersedia menunggu." Ucap Kiba dan langsung berjalan pergi.

Menma menatap kesal kearah Kiba. Sebelum kemudian berpaling. Ino yang semula duduk diam. Sontak saja berdiri dengan kaku. Ino tertunduk, dan berjalan pelan mendekati Menma yang kini menatap Ino tajam.

"U-Uzumaki-sama, s-saya permisi dulu." Ucap Ino dan hendak berjalan keluar. Namun, tangan Ino sudah lebih dulu dicekal oleh Menma.

"Mau kemana?" tanya Menma dingin.

"A-aku harus kembali ke bawah, jika tidak, teman-teman dan ayahku akan cemas."

"Kita pergi bersama-sama," ucap Menma, yang langsung menarik tangan Ino untuk berjalan keluar.

Ino berjalan dengan canggung disamping Menma. Kepalanya sejak tadi terus tertunduk. Bahkan hingga kini mereka berdua berada di dalam lift. Ino masih enggan mendongakkan kepalanya. Dalam hati ia terus merutuki dirinya yang terlena dengan sentuhan pria disampingnya ini. Dan juga merutuki dirinya yang lupa dengan siapa ia tengah bercumbu, dan justru ikut meresponnya.

Aduh, mau di taruh dimana mukaku ini?

TBC