The Dark Shadow

Chapter 4 – Ramen

Cast: Ino Yamanaka, Naruto Uzumaki, Menma Uzumaki.

Disclaimer: Masashi Kishimoto, Naruto.

.

.

.

.

"Kenapa canggung begitu. Anggap saja yang tadi itu awal dari hubungan kita."

"H-hubungan?"

"Ya."

"Maksudnya?" tanya Ino.

"Kau tidak harus mengerti sekarang."

Ino diam saat mendengar nada suara Naruto yang datar. Entah kenapa, ia menjadi merasa asing dengan sosok di sampingnya ini. Perubahan hatinya terlalu siknifikan.

Setelah mereka sampai di bawah. Menma dengan tanpa sepatah kata langsung pergi meninggalkannya. Sementara Ino sendiri hanya mampu terdiam. Perlahan kepalanya ia tolehkan, dan mengedarkan pandangannya sebelum sebuah tepukan dilengannya mengejutkannya.

Senyum Ino terkembang saat melihat siapa yang ada di sampingnya.

"Sai? Di mana yang lain?"

"Ino-chan kita harus pulang."

"Eh, kenapa?"

"Suigetsu dan Yahiko mabuk. Dan mereka mulai meracau yang aneh-aneh."

"Astaga. Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo cepat sebelum ada pesta yang rusak karena mereka."

.

.

.

.

Keesokan paginya Ino terlihat tengah sibuk di dapurnya. Semalam ia tidak sempat sama sekali mengabari Naruto mengenai kepulangannya yang mendadak. Dikarenakan keadaan rekan-rekannya yang sudah mulai parah. Akhinya Ino memutuskan pulang tanpa berpamitan.

Ino mulai menata mangkuk dan makanan-makanan yang sudah ia siapkan keatas meja makan. Sebelum kemudian memanggil ayahnya untuk makan.

"Ino-chan, kau mau kemana?" tanya Inoichi saat melihat anaknya tengah menata rantang makanan.

"Kerumah Yahiko-nii, dan Suigetsu. Mereka semalam kan mabuk berat. Pasti sekarang kepala mereka terasa seperti dibenturkan ketembok." Ucap Ino.

Inoichi tersenyum mendengarnya.

"Perhatian sekali."

"Jika tidak begini, sama seperti aku merelakan pegawaiku untuk mencuri waktu libur."

"Astaga..."

.

.

.

Ino berjalan pelan menyusuri jalanan di desanya. Sesekali ia menunduk dan tersenyum saat ada beberapa orang yang menyapanya. Ia baru saja kembali dari rumah kedua pengawainya itu. Setelah memberi makan, dan mengomeli mereka habis-habisan karena lalai dengan meminum banyak sekali anggur.

Ino berjalan sembari menatap jejeran toko yang ia lewati. Sembari mengintip ke dalam toko melalui etalase. Mungkin ada sesuatu yang menarik disalah satu toko itu, yang bisa ia beli.

Tin! Tin!

Ino terhenyak dan sontak saja menoleh saat mendengar suara klakson dari arah belakangnya.

Saat ia berbalik yang ia lihat adalah sebuah mobil sport berwarna silver yang terlihat sangat mewah. Untuk beberapa saat Ino hanya menatap kagum mobil tersebut. Sebelum kemudian ia kembali dibuat terhenyak saat melihat sosok yang baru saja keluar dari mobil itu.

"Uzumaki-sama?"

Naruto melepas kacamata hitamnya. Dan kemudian berjalan kearah Ino.

"Ohayou!" sapa Naruto dengan ramahnya.

"O-ohayou. Sedang apa anda disini?"

"Kau masih saja formal padaku. Bukankah kita sudah selesai dengan bisnisnya? Jadi, mulai sekarang panggil aku Naruto."

"B-baiklah. Jadi... sedang apa kau disini?"

"Mengunjungimu, dan memastikan kau tidak apa-apa."

"Eh? Aku baik-baik saja."

"Ya. Aku melihatnya. Tapi, jangan salahkan aku jika aku berpikir terjadi sesuatu yang buruk padamu. Itu semua karena kau pergi meninggalkan pestaku, tanpa berpamitan padaku." Ucap Naruto dengan salah satu alis yang terangkat.

Ino meringis. Dan menggaruk tengkuknya. "Maafkan aku soal itu. Tadi malam rekanku mabuk berat."

"Oh... lalu bagaimana cara kalian pulang tadi malam?"

"Kami naik taksi."

"Kenapa tidak minta supirku untuk mengantar."

"Kau gila? Aku tidak bisa semudah itu meminta pertolongan orang. Terlebih lagi yang tidak aku kenal."

"Baiklah-baiklah. Aku mengerti."

"Jadi kau datang hanya untuk itu? Astaga, kau buang-buang waktu sekali. Kau seharusnya tidak usah repot-repot begitu."

"Aku datang bukan hanya karena itu."

"Lalu?"

"Aku ingin kau menemaniku pergi ke toko buku."

"Apa?"

"Kau tidak dengar?"

"B-bukan. Maksudku... kenapa? Kenapa aku?"

"Entahlah. Saat pertama kali keluar rumah. Kau yang terlintas di otakku."

Blush!

Ino menutupi kedua pipinya, dan menatap Naruto heran.

"Astaga... apa-apaan itu?"

"Kenapa? Kau tidak mau, ya?"

"Bukannya aku tidak mau. Hanya saja. Aku sedang dalam keadaan tidak siap pergi kemanapun."

"Aku akan mengantarmu pulang. Menunggumu berdandan. Dan setelah itu kita jalan."

"Kau kan bisa minta orang lain menemanimu."

"Aku tidak mau."

"Astaga pria ini," Ino menggeleng. Sementara Naruto hanya memberinya tatapan polos. "Baiklah. Aku mau."

"Bagus."

.

.

.

.

Ino menatap pantulan tubuhnya di cermin. Yang memperlihatkan tubuhnya yang dibalut jeans hitam dan atasan berupa kaos biru dengan tulisan hitam yang jika dibaca akan terdengar seperti 'I'ts All About Me' yang dilapisi kemeja kotak-kotak berwarna merah. Sementara rambut pirang panjangnya, ia ikat ponytail.Dia terlihat sangat funky.

Ino berjalan kearah meja belajarnya. Meraih tas selempang hitam bergambar panda. Ino memasukan ponselnya, sebuah buku Novel, buku catatan dan pulpen, dan tidak lupa dompet biru dengan gambar beruang coklat kesayangannya.

Setelah siap, Ino segera berjalan keluar. Saat berjalan turun, Ino bisa melihat Naruto dan Ayahnya tengah berbincang. Namun, saat mendengar suara langkah kakinya. Keduanya sontak menoleh.

Untuk beberapa saat Naruto hanya bisa terdiam menatap Ino. Sebelum kemudian tersadar saat Ino berbicara dengan ayahnya.

"Aku tidak akan lama. Ayah jangan kemana-mana, ya?"

"Ino... ayah bukan anak-anak."

"Aku tahu, aku tahu. Baiklah, aku pergi dulu ayah."

"Paman, kami pergi dulu."

"Iya, hati-hati."

"Sampai nanti ayah!"

"Sampai nanti."

.

.

.

Ino dan Naruto berjalan beriringan menyusuri rak-rak buku dengan berbagai judul, namun memiliki tema yang sama. Bisnis.

"Kau mencari buku yang bagaimana?"

"Buku bisnis. Tentu saja."

Ino memutar bola mata.

Ini akan sangaaaatttttt... membosankan.

"Kau bisa memilih buku yang kau suka. Aku yang akan membayarnya." Ucap Naruto tiba-tiba.

"Ah, tidak, tidak. Tidak perlu. Aku tidak terlalu suka membaca." Ucap Ino. "Tapi, mungkin aku bisa menunggumu di sana." Ucap Ino dengan menunjuk sebuah kursi yang mengelilingi sebuah tiang.

Naruto mengangguk mengiyakan.

Setelah menghabiskan waktu setengah jam, Naruto berjalan kearah Ino dengan dua buah buku berada dalam genggamannya. Ino hampir saja menerjang Naruto dan mengunyah buku yang pria itu bawa saking kesalnya. Yang benar saja, setengah jam, dan pria itu hanya memilih dua buku. Sialan!

Namun, Ino memilih tetap memasang wajah ramahnya.

"Aku harap, aku tak membuatmu kesal karena menungguku."

"Ah, tidak sama sekali."

Kau akan mati, Uzumaki!

Naruto tersenyum, sebelum kemudian meraih tangan Ino dan membawa si pemilik untuk berjalan bersamanya kearah kasir.

Sembari menunggu si kasir menghitung totalnya. Ino terdiam dengan tangan yang setia berada digenggaman Naruto. Pria itu nampaknya tidak merasa risih sama sekali.

Tak sampai berapa lama, si kasir memberitahu totalnya, dan Naruto segera memberikan uangnya.

Setelah selesai dengan berbelanja buku. Naruto membawa Ino kesebuah restoran Sushi di Mall besar tersebut.

.

.

.

.

Ino terdiam dibawah naungan halte bus. Sudah sepuluh menit ia menunggu sendiri dihalte itu. menunggu hingga hujan reda, dan membuatnya bisa melangkah pulang. Namun, tampaknya dewa hujan, tengah pada puncak kesedihannya, hingga tak memberi jeda untuk tangis derasnya.

Ino menghela nafas, sebelum kemudian kembali duduk dikursi halte. Meraih Novel yang tergeletak disampingnya. Novel karya Stefany Mayer, Twilight. Yang baru saja ia tandaskan. Dan sekarang ia mulai bosan. Dalam hati, Ino juga merutuk. Kenapa ia bisa terjebak dibawah guyuran hujan saat novelnya sudah hampir mencapai ending? Membuatnya dengan cepat kehabisan bacaan, dan terjebak dalam keheningan. Dan hanya ditemani gemuruh hujan yang berlomba-lomba menabrakan diri dengan aspal, atap halte, dan apapun yang berada di atas bumi ini.

Hingga kemudian suara klakson menyadarkannya. Ino mengernyit saat melihat sebuah ferarri kuning-hitam, yang nyaris persis dengan wujud mobil Bumblebee dari film Transformers kini berhenti di depan halte yang tengah jadi tempatnya bernaung tersebut.

Ino makin mengernyit saat melihat seseorang keluar dengan sebuah payung plastik transparan, dan berjalan memutari mobil itu, dan mendekati Ino yang masih duduk mematung di bangku halte.

Pria itu menurunkan payung, dan kini Ino semakin mengernyit dengan sosok di depannya kini.

Mata sebiru saphire itu tertutup kacamata hitam. Rambut kuningnya nampak urakan seperti biasa. Kemeja hitamnya, dan kaos putih polos yang menjadi dalamannya itu begitu pas, hingga membentuk perut sixpeck pemuda tersebut. Dan jangan lupakan tiga garis tipis layaknya kumis kucing itu. Dan sebuah senyum menawan.

Wow! Berapa banyak mobil yang pria ini miliki?

"Syukurlah kau masih di sini."

Untuk beberapa saat Ino membeku. Sebelum kemudian kesadaran menamparnya.

"Na-Naruto?" Ino diam sesaat. "Kenapa kau di sini? Bukankah harusnya kau sudah di rumahmu?"

"Aku khawatir padamu,"

"Apa?"

"Aku kembali dan mencarimu saat melihat awan mulai menggelap. Aku khawatir, ditambah lagi mengingat jika jam seperti ini bis mulai sedikit yang beroperasi. Membuatku terus memikirkanmu dengan perasaan cemas."

Apa... ini?

"Maafkan aku... Naruto."

"Kenapa? Harusnya aku yang minta maaf. Aku yang memintamu menemaniku untuk mencari buku. Dan harusnya aku mengantarmu sebagai ucapan terima kasih. Dan sekarang sepertinya sudah terlambat."

"Kau tidak terlambat. Kau bisa mengantarku sekarang jika tak keberatan." Ucap Ino. Masa bodoh dengan jual mahal. Ino benar-benar sudah tidak tahan sendirian di sana. Yang ia mau hanya pulang, mandi air hangat, minum coklat panas. Dan melilitkan selimut ungunya guna menghangatkan tubuhnya yang mulai menggigil, ditambah lagi, bajunya sedikit lembab akibat ia yang memaksa menerobos hujan tadi untuk mencapai halte.

"Baiklah. Ayo." Ucap Naruto, lalu mulai memayungi Ino dan menarik tangan gadis itu untuk berdiri disampingnya dan mengikuti langkahnya.

Deg!

Ino sedikit salah tingkah saat itu. Namun, segera mengendalikannya agar Naruto tak bisa sempat untuk menyadari itu.

Naruto membuka pintu mobil mewahnya. Lalu, menyuruh Ino masuk.

Setelah memastikan wanita itu masuk, ia menutup pintunya. Dan berjalan ke sisi mobil yang lain.

.

.

.

.

"Kenapa kita ke sini?" tanya Ino saat Naruto baru saja menghentikan mobilnya di basemant sebuah bangunan apartemen elite.

"Kau harus berganti baju, Ino. Aku tidak mungkin membawamu pulang dalam keadaan berantakan seperti ini." Ucap Naruto, lalu keluar dari mobil. Dan berjalan untuk membukakan pintu untuk Ino.

Naruto membawanya ke salah satu kamar di apartement itu, yang ternyata adalah apartement pribadi Naruto. Saat memasukinya, Ino sempat dibuat kagum melihat interior bangunanya. Begitu lembut, nyaman namun tetap maskulin. Dinding dengan cat putih bersih, dengan sebuah sofa berwarna merah maroon, dan meja berwarna coklat yang berbahan kayu menempati bagian tengah ruangan itu. Dan sebuah Tv ukuran 60 inch itu berwarna hitam, dan berdiri di sebuah lemari, dengan sisi-sisi berbentuk seperti rak buku. Berisi begitu banyak buku, dan map-map perusahaan.

"Buatlah dirimu senyaman mungkin disini. Cepat ganti bajumu, dan mandilah. Kau tentu tidak ingin sakit kan?"

"Tapi,"

"Kamar mandi ada dikamarku. Kamarku ada di atas. Ah, ya, dikamarku ada dua pintu. Masuklah ke pintu warna coklat, dan kau akan menemukan kamar mandi di sana. Aku akan masak untukmu."

Belum sempat membalas. Naruto sudah lebih dulu melenggang. Ino pasrah, dan hanya mengikuti apa yang Naruto instruksikan.

.

.

.

Saat Ino baru selesai mandi. Ia memutuskan keluar, dengan menggunakan handuk yang ia lilit untuk menutupi sebagian tubuhnya. Ia ingin menanyakan perihal pakaian pada Naruto. Dengan cara berteriak dari dalam kamar. Tidak sopan memang. Namun, lebih tidak sopan lagi jika dia berhadapan dengan Naruto dalam keadaan seperti itu.

Namun, niat Ino urung saat melihat sebuah sweater berwarna biru muda, dan sebuah legging berwarna hitam sudah terlipat rapi di atas tempat tidur berseprei putih itu. Ino mendekat dan memperhatikannya. Terdapat gambar kelinci berwarna pink di sweater itu. Sangat tidak mungkin jika Naruto yang memilikinya. Hingga mata Ino tertuju pada sebuah memo yang tertindih oleh legging hitam dibawahnya. Diraihnya memo berwarna baby blue itu, dan membaca tulisannya.

'Ini baju untukmu. Tadi aku memesannya dari sebuah pusat perbelanjaan di lantai satu apartemen. Aku harap kau menyukainya. Ini bisa menghangatkanmu.'

Ino tersenyum. Lalu membawa sepasang pakaian itu kekamar mandi.

Setelah selesai dengan itu. Ino berjalan keluar dari kamar Naruto. Rambutnya sengaja ia gerai, agar lebih cepat kering. Langkah Ino terhenti saat hidungnya mencium aroma lezat dari arah samping kanannya. Ia berjalan mengikuti aroma itu, dan entah sejak kapan, perutnya mulai berdemo minta diisi.

Ino berhenti tepat di meja counter, dimana Naruto kini tengah memunggunginya, dan tengah sibuk dengan sesuatu.

"Naruto?" Naruto sedikit tersentak. Dan refleks berpaling.

Mata Naruto terpaku saat melihat sosok wanita di depannya kini. Dengan sweater yang sedikit kebesaran ditubuhnya, dan celana legging hitam yang begitu pas dikakinya. Dan jangan lupakan rambut pirang basah yang kini tergerai itu, semakin membuat Naruto terpesona.

Cantik.

"Naruto?" lagi-lagi Ino memanggilnya. Merasa risih dipandangi begitu dalam seperti itu.

Naruto tersadar dan segera berdehem guna menormalkan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu.

"K-kau sudah selesai? Baguslah. Karena makanannya juga sudah siap. Baru saja aku akan memanggilmu." Ucap Naruto mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba canggung. Baginya.

"Benarkah?"

"Ya. Duduklah. Aku akan hidangkan sekarang."

Naruto mengambil sebuah sendok, dan sumpit. Lalu membawa nampan dengan mangkuk berisi makanan itu ke meja counter, yang disebrangnya kini sudah ada seorang Yamanaka Ino yang tampak duduk tenang.

Naruto meletakan nampan tersebut dan sedikit mendorongnya, agar berada tepat dihadapan Ino. Dahi Naruto mengerut kala dilihat wajah heran Ino.

"Ada apa?" tanya Naruto. Ino tidak mendongak, dan menatapnya, melainkan tetap tertunduk dan menatap mangkuk itu.

"Ramen?" Ino bertanya dengan mata masih terpusat pada mangkuk berisi adonan tepung memanjang yang sudah direbus, dan di masak dengan berbagai rempah itu dengan bingung.

"Kenapa? Kau tidak suka?" tanya Naruto merasa heran.

Apa ada yang salah?

"Tidak," Ino menjeda. Dan mulai mendongak dan menatap wajah rupawan Naruto yang kini nampak manis dengan alis yang hampir bertaut tersebut. "hanya saja, ramen," Ino tergelak untuk sepersekian detik. Dan itu mau tak mau menambah jumlah kerutan di dahi Naruto. "ya, maksudku. Kau adalah seorang CEO muda yang bahkan bisa makan dengan hidangan mewah sehari tiga kali tanpa khawatir uangmu akan habis. Tapi, pilihanmu justru jatuh pada, ramen?"

"Apa itu salah? Ramen tak kalah enaknya dengan masakan restoran." Kini Naruto mulai menormalkan wajahnya. Dan menggerakkan satu tangannya untuk menarik kursi yang berhadapan dengan Ino.

"Tidak salah. Hanya saja, ini sangat 'wow' bagiku. Aku membayangkan kau akan menghidangkan, yeah... sup cream dengan roti keras ala paris misalnya? Atau Rissoto? Atau mungkin Steak. Tapi... ahaha, sudahlah. Terima kasih, Uzumaki-san." Saking sibuknya tertawa. Ino sampai tidak sadar ia kembali memanggil Naruto dengan formal.

"Oh, ayolah. Berapa kali aku harus katakan, untuk tak usah memanggilku secara formal seperti itu? Kau justru terdengar seperti klien yang sedang aku ajak makan malam. Dan bukannya seorang teman yang sedang menumpang makan dirumah temannya."

"Aku tidak menumpang makan, kau yang menawariku." Ucap Ino merasa tak terima.

"Oh, Ino."

Ada getar aneh, saat telinganya menangkap suara Naruto yang mendesah kala menyebut namanya.

Ada apa denganku?

"Ekhm," Ino berdehem singkat, guna mencoba menghilangkan perasaan aneh yang baru saja hinggap dihatinya. Sebelum kemudian meraih sendok yang─entah kapan─sudah tersodor kearahnya. Ino mengangguk pelan sebagai ucapan 'terima kasih' sebelum kemudian mulai menyendok kuah ramen yang baru saja Naruto buat untuknya.

Sudah jadi kebiasaan Ino mencicipi kuahnya terlebih dahulu, sebelum kemudian menimang-nimang. Adakah bumbu yang kurang, dan perlu ia tambahkan?

Namun, Ino dibuat tertegun saat sesendok cairan berwarna merah kecoklatan itu masuk ke dalam mulutnya, dan menyapa indra pengecapnya.

Sempurna. Tidak ada kurang apapun. Benarkah ini dibuat oleh tangan seorang CEO perusahan yang sangat kaya raya? Sulit dipercaya.

"Bagaimana?" Naruto harap-harap cemas melihat reaksi gadis di depannya ini. Bagaimana jika seleranya tidak sesuai dengan gadis itu? Bagaimana jika ada yang kurang dari ramen buatannya itu? Walau pun dalam hati, Naruto sudah membanggakan diri. Pasalnya bagi Naruto, hanya ramen racikannya lah yang terbaik. Yang nomor tiga. Karena posisi pertama sudah ditempati oleh buatan ibunya, dan yang kedua sudah ditempati oleh Teuchi-Obaasan. Pemilik kedai ramen Ichiraku.

Tapi, dalam hati Naruto juga bertanya-tanya. Bagaimana bisa ia membuatkan Ino ramen, dan berdebar-debar menunggu jawaban gadis itu atas masakan yang ia buat? Padahal memberi seseorang makanan hasil racikannya sendiri termasuk 'tidak pernah ia lakukan'. Bahkan saat Sasuke─sahabatnya sejak di sekolah dasar, meminta makan di apartemennya. Naruto justru memesan makanan cepat saji. Dan enggan membagi ramen yang memang saat itu baru saja selesai ia buat, dan baru akan ia santap jika saja bungsu Uchiha itu tidak muncul dan menghancurkan paginya.

"Ini... enak sekali." Ucap Ino dengan senyum tulusnya. Yang mampu membuat semburat merah kecil muncul di wajah Uzumaki itu. tak bisa ia pungkiri, ia begitu senang mendengarnya. Bahkan lebih senang daripada saat ia memenangkan tender yang besar. "Kau sangat berbakat, Uzu─Na-Naruto." Ino membenarkan ucapannya. Sebelum mendengar nada tak suka dari Naruto lagi tentang panggilannya yang begitu terkesan kaku dan formal.

"Ah, biasa saja. Ini 'kan hanya mie instant."

"Tapi, bumbunya kau yang membuatnya sendiri 'kan? Ini sama saja, masakan aslimu."

"B-bagaimana kau bisa tahu aku membuat bumbunya sendiri?" tanya Naruto sedikit bingung. Pasalnya, saat ia memasak, ia begitu yakin saat itu hanya ada dirinya di dapur. Sementara Ino sedang mengganti pakaian dikamarnya. Dan baru muncul tepat setelah ia selesai membuatkan makanan hangat itu untuknya.

"Itu," Ino menunjuk kearah belakang Naruto. Tepatnya, kearah wastafel.

Naruto berpaling, dan segera menyadari kecerobohannya, kala mata saphire itu menemukan beberapa bungkus bumbu mie instant yang belum terbuka.

Naruto berbalik. Dan memberikan senyum canggung kearah Ino.

"Yeah... bagaimanapun, tuan rumah harus melayani tamu dengan baikkan? Sungguh buruk, jika aku menyuguhimu makanan yang 'benar-benar' instant."

"Aku tidak ada masalah dengan itu," Ino tersenyum. Setelah itu kembali melanjutkan makannya. Namun, lagi-lagi ia berhenti. Dan menyadari bahwa sejak tadi Naruto hanya duduk di depannya. Dan menatapnya yang sedang makan.

Apa pria ini tidak makan?

"Apa kau tidak makan juga, Naruto?"

"Ah, tidak. Aku tidak lapar." Ungkap pria dengan tiga garis hitam tipis yang lebih menyerupai kumis kucing itu, dengan cengiran lebar.

Namun, didetik berikutnya kedua manusia itu terdiam dengan ekspresi dari salah satunya heran, dan yang lain membeku.

Yeah, penyebabnya adalah suara gemuruh dari perut Naruto.

Naruto tersenyum kecil. Geli, dan malu. Sementara Ino sedikit terkekeh. Sebelum kemudian memajukan mangkuk yang penuh dengan ramen itu.

"Makanlah bersamaku," tawar Ino.

"Ah, mana bisa. Aku seorang tuan rumah. Baga─"

"Naruto, makan saja bersamaku. Lagipula, rasanya aku tidak mungkin sanggup memakan seporsi mangkuk penuh ramen ini." Ucap Ino lagi. dan kali ini Naruto tak bisa membantahnya lagi. Naruto mengangguk sebelum kemudian beranjak untuk mengambil satu sendok dan sumpit lagi.

Keadaan berubah hening ketika keduanya larut dengan makanan yang tengah mereka santap. Dan entah sadar atau tidak. Mereka selalu melakukan hal sama. Saat Naruto tengah menyendok kuah dan menyeruputnya. Hal serupa juga tengah Ino lakukan. Dan saat mereka melahap mienya. Keduanya juga melakukan hal yang sama.

Ino mengernyit saat melihat salah satu helai mienya tertarik, Ino membeku saat melihat salah satu helai mie itu, tepatnya ujung lainnya kini telah masuk kemulut Naruto.

Naruto yang menyadarinya sontak membeku. Sebelum kemudian kembali menarik kesadaran dirinya kembali. dan menggerakan sumpitnya diantara wajahnya dan Ino. Lalu memotong mie panjang itu dengan sumpitnya. Lalu kembali menyeruput mienya. Ino yang semula masih terdiam. Sontak ikut menyeruput mienya dengan pelan.

.

.

.

.

Ino kini tengah berdiri disamping jendela apartement Naruto, yang menjadi pembatas ruang tamu dan balkon. Memperhatikan langit Tokyo yang masih setia mendung, dan menjatuhkan bulir-bulir airnya menabrak bumi, dan membuat banyak orang harus menghentikan aktifitas outdoornya. Ino menghela nafas.

Hujannya tak menunjukkan tanda akan berhenti. Padahal hari sudah mulai senja. Ayah pasti akan sangat khawatir padaku.

"Ino-chan. Ada apa?"

Ino menoleh, dan menatap Naruto yang kini berdiri tepat disampingnya. Ikut menatap keluar jendela.

"Tidak ada. Hanya saja aku khawatir. Hujannya terlihat tidak akan berhenti untuk beberapa jam ke depan. Dan aku takut ayah mengkhawatirkanku."

"Jadi itu? Kenapa tidak bilang dari tadi?" Ino menoleh, dan mengernyit saat Naruto tiba-tiba menyodorkan ponselnya pada Ino.

"Hubungi Ayahmu. Dan katakan kau akan pulang terlambat. Saat hujan sudah reda, aku akan mengantarmu pulang."

"Sungguh? Apa tidak apa-apa, Naruto? Hari ini aku sudah begitu banyak merepotkanmu." Ucap Ino lesu. Oh, ayolah. Sekonyong-konyongnya Ino. Ia tetaplah gadis biasa yang tidak ingin merepotkan orang lain. Terlebih lagi 'mantan' kliennya. Oh, tidak-tidak. Akan terlihat seperti apa dirinya di mata Naruto nanti. Tapi, jika dipikir-pikir tak ada salahnya juga. Toh, pria itu sendiri yang menawarkan. Jadi, apa masalahnya.

"Tidak apa-apa, Ino. Aku akan buat coklat panas, dan memberimu waktu untuk bicara pada ayahmu."

"Sekali lagi, terima kasih, Naruto." Naruto yang sudah berlalu ke dapur itu hanya mengangkat salah satu tangannya, dan mengacungkan jempolnya.

Ino mulai menyalakan ponsel Naruto, dan membuka papan tombol, mengetik beberapa digit nomor, dan menyentuh tombol hijau sebelum kemudian menempelkan benda kota itu ketelinganya.

Untuk beberapa saat Ino hanya mendengar 'tuut...tuut...tuut' hingga kemudian suara membosankan itu berganti menjadi suara seorang pria tua, tidak benar-benar tua.

'Halo?'

"Halo, Ayah. Ini, Ino."

"Ino? Kau menganti nomormu?"

"Bukan. Ini nomor temanku. Handphoneku sedang lowbat. Dan sekarang masih proses charging. Ayah, sepertinya Ino tidak bisa pulang cepat hari ini. Hujannya sangat lebat diluar sana, dan sekarang Ino sedang menumpang dirumah teman."

'Siapa? Sakura? Hinata? Karin? Atau Ten-ten?'

Ino mendengus mendengar rentetan nama teman-teman yang baru saja ayahnya sebutkan itu.

Ugh, ayah tak pernah bisa membuatku benar-benar memiliki ruang privasi.

Lagi-lagi, bayangan tentang isi kontak di handphone ayahnya terngiang. Bayangkan saja. hampir semua nama-nama itu ia kenal. Di kontak ayahnya tertera nama yang pernah memiliki ikatan dengan Ino. Entah itu mantannya, orang yang baru dekat dengannya. Sahabatnya. Itu hampir sama persis dengan isi kontak diponselnya. Oh, tidak. Bukan hampir sama. Itu adalah Copy-annya.

"Naruto,"

"Naruto? Oh... baiklah tidak apa-apa."

"Terima kasih, ayah. Aku menyayangimu!" ucap Ino lalu mengakhiri panggilannya.

Saat Ino berbalik dan berniat menyusul Naruto ke dapur, dan menggembalikan ponsel pemuda itu. Ino sudah dibuat serangan jantung saat Naruto sudah berada tepat dibelakangnya.

"Na-Naruto? S-sejak kapan?"

"Baru saja. Maaf membuatmu kaget. Ini coklat panasnya." Ucap Menma yang kini telah menguasai tubuh Naruto.

"Aah? Terima kasih, Naruto. Dan, Ini ponselmu. Maaf jika aku menggunakannya terlalu lama."

"Tidak apa-apa."

"Eum... Naruto, bolehkah aku tanya?"

"Tanyakan saja."

"Kenapa... kenapa kau begitu baik padaku?"

"Karena aku menyukaimu."

"Apa?"

"Ino, bolehkan besok aku dan keluargaku datang menemui ayahmu?"

"Untuk apa?"

"Aku ingin melamarmu, dan menjadikanmu ibu bagi anak-anakku."

"..."

"Aku mencintaimu Ino. Sejak kita bertemu di Tk dulu. Dan seperti janjiku dulu, 'jika pasangan lain mengaitkan cinta dengan benang merah. Maka cinta kita di karenakan benang kuning. Dan aku berjanji jika apa yang aku katakan itu benar. Aku akan menikahimu.' Dan sekarang adalah saat bagiku untuk menepatinya."

"Menma?" mata Ino terbelalak. "Tidak mungkin..."

Menma tersenyum menyeringai. "Merindukanku, Rapunzel?"

TBC