The Dark Shadow Chapter 5 – Do You Belive me?
Cast: Ino Yamanaka – Naruto Uzumaki – Menma Uzumaki.
Disclaimer: Masashi Kishimoto, Naruto.
.
.
.
Stoppp!
Aku minta perhatiannya dulu ya, sebelum membaca. Bagi, pengikut ff Dark Shadow. Aku ucapkan terima kasih, dan maaf karena harus menghentikan ff ini untuk sementara waktu, karena aku akan mengalami banyak kesibukan dibulan ini dan kemungkinan besar tidak akan bisa membagi waktu. Jadi, aku minta pengertian dari kalian, ya?
Tapi, jangan sedih. Ff ini hanya akan libur sampai Oktober mendatang.
#itumahlama!
Eheheh... gimana lagi, ya. Abisnya sebulan ini aku bakalan sibuk banget. Jadi, mohon maaf sekali.
Oke, sekian informasinya. Dan terima kasih atas perhatiannya. Salam hangat dariku, Ai Frost.
.
.
.
99% Flashback...
"Hei!" gadis kecil dengan rambut indigo itu menatap takut kearah anak laki-laki berwajah sangar di depannya. "Sedang apa kau disini? Apa kau tidak tahu ini daerah kami?" tanya salah satu dari tiga anak laki-laki itu.
"M-m-maaf.. aku hanya ingin menyerahkan ini pada Na-Naruto-kun."
"Cih! Merepotkan saja." Bentak anak laki-laki itu.
"Maafkan aku."
"Hentikan saja. Naruto tidak akan pernah mau menemuimu, apa lagi sampai menerima pemberian darimu. Pergi sana." Ucap anak laki-laki yang lain. Ia menatap anak perempuan itu dengan tatapan menusuk.
"T-tapi.. aku ingin berikan ini pada... Na-Naruto-kun." Ucap gadis itu tertunduk dan menatap kotak bekal dalam genggamannya.
"Haish! Baiklah aku akan serahkan padanya." Ucapnya lagi. Gadis kecil itu tersenyum senang, dan segera menyodorkannya.
Ia kemudian berjalan mendekati anak perempuan itu, yang kini tangannya sudah menyodorkan kotak makan itu. Namun, tiba-tiba anak laki-laki itu menyeringai, lalu dengan sekali sentak ia menepis kotak bekal milik anak perempuan itu. Hingga membuat kotak bekalnya terlempar, dengan isi yang berhamburan.
Anak perempuan itu tersentak dengan mata yang mulai berkaca-kaca, sementara anak laki-laki itu sudah tertawa terbahak-bahak.
"Heiiii!" kedua anak laki-laki dan si gadis perempuan itu menoleh saat mendengar teriakan itu.
Alis kiri anak laki-laki itu terangkat heran saat melihat anak perempuan berambut pirang berjalan kearahnya dengan wajah sangar.
"Huft... apalagi ini?" ucap anak laki-laki itu.
Bugh!
Si gadis kecil dan anak lelaki yang sejak tadi hanya menonton kenakalan temannnya itu menatap kaget kearah anak perempuan berambut pirang yang baru saja menonjok perut temannya itu, hingga ia terlempar cukup jauh.
"Jangan hanya berani pada perempuan. Dan jangan meremehkan kami. Dasar bodoh! Apa kau tidak tahu? Membuang makanan itu mubazir! Apa salah makanan itu sampai-sampai kau melemparnya? Hah?" bentak anak perempuan itu menggebu-gebu.
Anak laki-laki yang kini sudah tersungkur itu menatap ngeri pada sosok bocah di depannya, dan segera beringsut mundur, lalu berlari pergi mengejar temannya yang sudah lari lebih dulu.
"Hei! Kau belum minta maaf! Dasar bodoh! Aku akan menangkapmu!" teriak anak perempuan itu dan berniat mengejarnya.
"T-tunggu!" anak perempuan dengan rambut pirang yang semula ingin berlari mengejar anak laki-laki itu sontak berbalik. "T-terima kasih." Gadis kecil itu menatap heran. Sebelum kemudian tersenyum dan mengusap hidungnya. Dan ia mengurungkan niatnya untuk mengejar bocah-bocah nakal itu.
"Ahahaha, tidak masalah. Sebaiknya sekarang kau kembali ke kelasmu, dan tetaplah dekat dengan banyak orang, jadi mereka tidak akan berani mengganggumu." Ucap dan nasehatnya.
"T-terima kasih banyak." Gadis itu tersenyum sebelum kemudian memungut kotak bekalnya lalu berlari pergi.
Sementara si anak pirang tetap berdiri, sampai kemudian ia menepuk dahi lantaran dirinya yang lupa bertanya di mana kelasnya.
"Bodoh sekali aku ini."
Ia sudah berniat pergi dari taman belakang sekolah itu, jika saja sebuah suara mencurigakan tak menginterupsinya.
Srkk! Srkkk!
Gadis kecil itu mengernyit saat mendengar suara semak-semak. Ia menoleh kesegala arah, dan berjalan mengikuti suara itu.
Ia terus mengikuti suara itu sampai akhirnya ia berhenti dibelakang sebuah pohon besar, terdapat semak-semak lebat dibelakang pohon itu. Dengan rasa penasaran yang besar, ia berjalan semakin dekat.
Dahinya mengernyit saat melihat seorang anak tengah mencincang tubuh seekor anak kucing, tangannya yang tengah menggenggam belati itu berlumuran darah.
"Hei kau!" panggil anak perempuan itu. Anak laki-laki yang tengah membelakanginya itu sontak saja menoleh. Wajahnya tidak menunjukkan tanda panik, yang seharusnya ia tunjukkan saat tertangkap basah melakukan hal keji. Wajahnya justru terlihat datar.
Anak perempuan itu berjalan mendekat kearahnya dan berjongkok di samping anak laki-laki berambut kuning nyentrik itu.
"Apa yang kau lakukan pada anak kucing itu?" tanyanya polos.
"Dia sakit."
"Eh?"
"Aku membantunya menghilangkan rasa sakit."
"Oh..." balas gadis itu pelan. Matanya kemudian melirik kearah anak laki-laki itu. "Kau sudah selesai? Mau aku bantu mengubur?" tanya gadis itu lagi, masih merasa tidak ada yang aneh. Maklum saja, ia pernah tinggal bersama neneknya, yang seorang peternak ayam, dan sering melihat sang nenek memotong-motong ayam. Jadi, ia berpikir apa yang tengah anak laki-laki di depannya ini lakukan adalah hal biasa.
"Mengubur?"
"Ya. Anak kucing itu harus dikubur. Agar mereka bisa masuk surga. Itu yang ibuku katakan."
"Oh... baiklah." Anak perempuan dan laki-laki itu saling bekerja sama menggali lubang untuk mengubur anak kucing itu.
Setelah selesai, anak perempuan itu mengajak si anak lelaki kearah keran air. Untuk membasuh tangan mereka yang kotor.
Anak perempuan itu terus memperhatikan anak lelaki di depannya yang kini tengah membasuh tangannya. Hingga kemudian matanya melihat setetes darah berada dipipi anak laki-laki itu, dan dengan tiba-tiba ia menggerakkan tangannya ke pipi anak itu. Ia mengusap wajah anak laki-laki itu hingga membuat si empunya menoleh.
"Ada kotoran di pipimu." Ucap anak perempuan itu.
Anak laki-laki itu diam sebentar, lalu mengangguk. Dan kembali membasuh tangannya. Anak perempuan itu lagi-lagi memperhatikannya.
"Pipimu lembut, ya?" gumam gadis kecil itu pelan. Dengan mata terus memperhatikan tangannya yang baru saja ia gunakan untuk mengusap wajah anak laki-laki itu.
Sebelum kemudian beralih menatap anak itu lagi. Ia menampakan cengiran lucu, namun, anak laki-laki itu hanya diam menatapnya.
Merasa tidak enak. Anak perempuan itu mulai mengalihkan pandangannya, dengan melirik ke segala arah. Dan kali ini matanya menatap leher anak itu, dan menyadari ada sebuah luka cakaran dilehernya.
"Lehermu terluka," ucapnya. Anak laki-laki itu hanya diam. Dan tetap menatapnya. "Biar aku obati." Gadis itu meraih plester di kantongnya, lalu menempelkannya ke leher anak itu.
"Apa kau tidak takut padaku?" pertanyaan anak itu sontak membuatnya berhenti.
"Kenapa?" tanya gadis kecil itu pelan.
"Anak kucing itu... aku membunuhnya."
"Kau kan membantunya. Kenapa aku harus takut?" ucap anak perempuan itu santai, lalu kembali menempelkan plesternya.
"Begitu..." anak laki-laki itu tersenyum menyeringai. Namun, hanya sebentar sehingga anak perempuan itu tidak sempat menyadarinya. "Terima kasih." Ucap anak laki-laki itu tulus.
"Tidak masalah. Omong-omong, namaku Ino. Siapa namamu?"
"Panggil aku Menma."
"Menma? Hmmm... oke, sudah selesai. Kalau begitu aku permisi, ya." Ucap Ino, lalu berlalu pergi.
"Ino..."
"Ya?"
"Kelasmu di lorong kedua setelah pintu masuk." Ucap Menma masih dengan wajah datarnya.
"Woah, terima kasih. Sampai nanti." Ucap Ino senang. Ia berniat pergi, namun lagi-lagi terhenti. "Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Ino heran.
"Aku mendengar ucapanmu tadi."
"Oh. Baiklah. Terima kasih."
.
.
.
"Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Perkenalkan dirimu." Ucap guru itu dengan mata yang menatap kearah Ino.
Ino menarik nafas, sebelum kemudian kembali membuka matanya. Untuk beberapa saat, ia hanya diam. Sampai akhirnya ia menebarkan cengiran lebar.
"Halo! Namaku Yamanaka Ino. Salam kenal." Ucap Ino semangat. Namun, tiba-tiba wajahnya berubah saat melihat dua orang anak nakal yang salah satunya ia hajar tadi. Keduanya terlihat membuang muka darinya, namun sesekali melirik takut kearahnya. Tanpa sadar sebuah seringai mematikan terbentuk dibibirnya. "Dan aku harap, kalian tidak mencari masalah denganku." Ucap Ino lagi. Yang langsung membuat keduanya tertunduk.
"Percaya dirimu bagus, Ino-chan. Baiklah, sekarang kau boleh duduk... mmm di mana, ya?" guru cantik itu menoleh keseluruh kelas, hingga akhirnya matanya menatap kearah kursi kosong disamping seorang gadis kecil dengan rambut pendek berwarna indigo dan beriris lavender. "Duduklah di samping Hinata."
"Baiklah." Ucap Ino. Guru itu pun langsung berjalan kembali ke kursinya. Sementara Ino berjalan kearah kursi paling belakang.
Ino akhirnya duduk disamping Hinata. Ino mengerjap sebentar saat melihat sosok yang gurunya bilang bernama Hinata. Sebelum akhirnya senyumnya berubah lebar.
"Jadi kau Hinata?"
"I-iya, salam kenal Ino-chan."
"Wohoa... senang sekali bisa sekelas denganmu." Untuk ukuran gadis usia 7 tahun yang seharusnya pemalu, Ino tergolong sebagai anak dengan kadar malu yang rendah. Dia sangat percaya diri.
"A-aku juga."
"Bagaimana jika istirahat nanti, kau makan bersamaku?" tawar Ino.
"T-tidak perlu... aku tidak membawa bekal."
"Benar juga. Bekalmu kan dihancurkan anak-anak nakal itu... tapi.. tidak apa-apa, kau bisa makan denganku."
"Tapi..."
"Aku tidak suka penolakan."
"Ino-chan..."
"Ayo belajar!"
.
.
.
.
"Hinata, sudah saatnya istirahat. Ayo kita ke taman." Ajak Ino.
"Ino-chan, maaf, aku sudah berusaha mengatakan ini padamu sejak tadi. Tadi guru memintaku untuk keruangannya saat istirahat."
"Apakah lama?"
"Aku tidak tahu."
Ino mengerucutkan bibirnya.
"Ya, sudahlah aku sendirian saja. Tapi, kau hati-hati ya? Kalau anak nakal itu mengganggumu, teriakkan saja namaku. Aku akan datang, oke? Sampai nanti."
"Terima kasih Ino-chan. Sampai nanti."
Ino melambai kearah Hinata, dan segera berlari keluar.
.
.
Ino berhenti berjalan saat melihat seorang anak laki-laki, tengah berguling-guling di rumput taman itu. Ia menatap heran, sebelum kemudian berjalan mendekat.
"Menma?" anak laki-laki itu menghentikan perbuatannya dan menatap anak perempuan yang kini berdiri disampingnya. Secara perlahan ia mendudukan dirinya, dan Ino melakukan hal yang sama.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Ino.
"Bermain." Ucap Menma pelan.
"Kau tidak main dengan teman-teman lain?"
"Aku tidak punya teman." Ucap Menma seadanya.
Ino diam sebentar sebelum kemudian menawarinya makanan.
"Mau makan bersamaku?" tawar Ino. Menma menatap bekal yang Ino tunjukkan, lalu mengangguk. "Ayo duduk dibawah pohon." Ucap Ino lalu berdiri, dan membantu Menma berdiri. Ino terus menggenggam tangan Menma, dan membawanya kearah pohon tanpa melepaskan tangan anak laki-laki itu.
Keduanya mendudukkan tubuh masing-masing dibawah pohon besar ditaman belakang sekolah mereka. Lalu Ino mulai membuka bekalnya.
"Ayo makan." Ucap Ino dengan senyum lebarnya.
Keduanya kemudian makan secara bergantian.
"Ino... makanannya enak."
"Benarkah? Harusnya kau katakan itu pada ibuku. Dia pasti akan sangat senang mendengarnya."
"Ibu..." desis Menma.
"Kenapa?" tanya Ino. Menma menatapnya. Sebelum kemudian menggeleng.
"Tidak apa-apa." Ucap Menma pelan. "Besok aku akan bawa bekal juga. Dan kita bisa saling bertukar. Kau mau kan?" tanya Menma hati-hati.
"Tentu saja! Aku suka ide itu." Ucap Ino semangat. "Oh, ya. Aku lupa bertanya kelasmu di mana."
"Kelasku ada di lantai dua. Dekat dengan ruang Teater."
"Apa aku boleh mengunjungimu?" tanya Ino berharap.
"..." Menma terdiam. Lalu menggeleng. Membuat wajah berharap Ino sontak luntur.
"Kenapa?"
"Orang-orang dikelasku tidak ada yang ramah. Aku khawatir kau akan diganggu oleh mereka. Kita sebaiknya bertemu disini saja."
Ino mengerucutkan bibirnya, lalu mengangguk pelan.
Cup!
Mata aquamarine itu mengerjap saat merasakan sesuatu yang lembut dan basah menyentuh bibirnya secara singkat. Ino menyentuh bibirnya dan menatap Menma yang wajahnya tak terlalu jauh darinya.
Menma tersenyum kecil. "Berhasil."
"Apa?"
"Paman selalu melakukan itu jika bibi sedang marah. Dan itu selalu berhasil."
"O-oh..." Ino mengulum bibir mungilnya. Sebelum kemudian merapikan kotak makannya dengan tergesa. "A-a-aku harus kembali kekelas. S-sampai jumpa." Ucap Ino lalu segera berjalan dengan langkah cepat. Namun, tak lama ia justru berlari.
Menma terdiam sebentar sebelum kemudian menjilat bibirnya.
"Mm... manis." Gumamnya polos lalu segera berdiri, dan berjalan menjauh.
.
.
.
Ino tengah duduk dibawah rindangnya pohon ditaman belakang sekolahnya. Dengan kotak bekal ditangannya. Ia kini tengah menunggu Menma untuk makan siang bersamanya.
"Dia orangnya?" Ino tersentak dan sontak saja menoleh. Matanya menyipit saat melihat lima orang anak laki-laki berwajah sangar tengah menatapnya tajam. Salah satunya adalah orang yang ia hajar kemarin. Ino bangkit berdiri, dan berjalan kearah mereka. Kepalanya terangkat menantang.
"Jadi kau yang mengganggu adikku?"
"Tidak." Ucap Ino singkat masih dengan wajah datarnya.
"Dia bohong!"
"Aku tidak bohong. Dia yang mengganggu temanku lebih dulu. Aku hanya membantu."
Orang yang pertama kali menegur Ino, dan mengatakan bahwa ia adalah kakak dari orang yang dihajarnya itu menatap si adik dengan tatapan marah. Namun, ia kembali menoleh kearah Ino.
"Tapi, apa harus dengan memukulnya?"
"Owww... kau tidak terima?" tanya Ino.
"Tentu saja tidak."
"Lalu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Ino menantang.
Anak laki-laki itu berjalan mendekat. Dan dengan tiba-tiba saja menarik rambut pendek milik Ino. Ino meringis saat merasakan tarikan kencang pada rambutnya.
"L-lepaskan aku!"
"Sakit bukan? Aku bisa saja melakukan lebih dari ini. Tapi, sayang kau perempuan. Jadi, aku akan berikan keringanan." Anak laki-laki itu menarik rambut Ino, dan memaksa gadis itu mendekat. "Cepat minta maaf pada adikku. Dan aku akan melepaskanmu."
"Tidak mau!" ucap Ino bersikeras.
"Kau sangat keras kepala!"
"Lepaskan dia." Kelima orang plus Ino sontak menoleh saat mendengar suara datar nan dingin itu.
"Menma..."
"Sebaiknya orang tak normal sepertimu tidak usah ikut campur. Pergi sana!"
"Aku bilang lepaskan dia." Menma mengeluarkan belatinya dari saku seragamnya. Hingga membuat kelima orang pria itu menatapnya ngeri.
"H-hei! Kau tidak boleh bermain dengan senjata tajam seperti itu!"
"Siapa kau hingga bisa mengaturku? Apa kau ayahku?" tanya Menma, dengan kaki berjalan pelan mendekati mereka. "Lepaskan dia, atau aku akan membuat tanganmu terpisah dari tubuhmu."
Tangan pria itu mulai bergetar. Dan perlahan ia melepaskan rambut Ino. Lalu memerintahkan teman-temannya untuk pergi.
"Tapi, kakak!"
"Ayo cepat pergi!"
Ino segera berlari kearah Menma, lalu memeluknya.
"Terima kasih. Kau datang tepat waktu."
"Tidak. Jika aku datang lebih awal, kau pasti tidak akan kesakitan." Menma mengelus rambut Ino, dan perlahan merapikannya. "Sakitkah?"
"Aku baik-baik saja. Ayo kita makan." Ucap Ino lalu menarik tangan Menma.
Menma menatap Ino dari belakang, sebelum kemudian tangannya menyentuh dadanya.
Ino mendudukkan dirinya, disusul oleh Menma.
"Kau membawa bekalmu kan?"
"Tentu... tapi, aku tidak jadi menukarnya."
"Eh? Kenapa? Bukankah kau sudah berjanji?"
"Aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa tubuhmu."
"Apa yang kau bicarakan?"
Menma menyodorkan bekalnya, lalu membuka tutupnya. Mata Ino mengerjap saat melihat isi bekal Menma. Nasi putih, dengan lauk telur mata sapi yang gosong. Tanpa sadar Ino menelan ludah melihatnya.
"Ahaha... a-a-aku suka telur mata sapi." Ino sudah akan menyendoknya, jika saja Menma tidak segera menutup bekalnya.
"Aku tidak akan mengijinkanmu. Kau makan saja bekalmu. Aku akan makan bekalku."
Ino menatap Menma sedih. Sebelum kemudian dengan tiba-tiba merebut kotak bekalnya. Ino menuang setengah dari bekal Menma kedalam kotaknya. Lalu ia juga menuangkan setengah dari bekalnya sendiri kedalam kotak bekal milik Menma.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Menma.
"Kita memang tidak harus bertukar. Tapi, setidaknya kita bisa berbagi. Itu lebih baik. Ayo makan."
Ino meringis saat merasakan pahit dari telur yang ia makan. Namun, ia dengan segera menyuapkan banyak nasi untuk mengimbangi rasanya.
"Jangan paksakan dirimu, Ino."
"Tidak, tidak. Cepat makan bekalmu." Menma tersenyum kecil. Sebelum kemudian menyuapkan nasi kemulutnya.
Setelah selesai makan keduanya tetap duduk di sana, sembari menunggu lonceng berbunyi.
"Ino... ada yang ingin aku katakan padamu." Ucap Menma pelan.
"Apa?"
"Aku sudah menyusun kata-kata ini semalaman. Jadi, sebaiknya kau mendengarkan baik-baik."
"Oke."
"Jika pasangan lain mengaitkan cinta dengan benang merah. Maka cinta kita di karenakan benang kuning. Dan aku berjanji jika apa yang aku katakan itu benar, bahwa kita adalah jodoh, maka aku akan menikahimu." Ucap Menma dengan wajah serius.
Ino tidak mampu menahan tawanya, dan pada akhirnya tawa itu pecah juga.
"Kenapa kau tertawa?"
"Astaga Menma. Kau luar biasa. Sangat luar biasa. Bagaimana bisa kau memikirkan kata-kata seperti itu? Berapa usiamu? Huh?"
"Aku tidak main-main dengan ucapanku."
Teng! Teng!
Ino mendengar suara lonceng, lalu segera berdiri.
"Ya, terserah saja." Ucap Ino. "Sampai besok." Ucap Ino dengan melambaikan tangannya.
"Aku tegaskan Ino. Aku serius dengan apa yang aku katakan. Jadi, aku minta padamu jangan pernah meninggalkan aku."
"Kita teman Menma. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku janji." Ucap Ino tanpa berbalik.
.
.
"Hmmm... hmmm... hmmmm..." Ino bersenandung riang sembari berjalan menyusuri taman bermain dibelakang sekolah barunya kini, dengan sebuah kotak bekal dipelukannya.
Kini, ia telah menginjak masa remaja. Ino dengan rambut pendek dan tubuh rata sekarang sudah hilang. Yang ada hanya Ino si primadona sekolah. Dengan rambut pirang panjang, dan tubuh tinggi semampai. Dia benar-benar telah bermetamorfosis menjadi seekor kupu-kupu yang cantik.
Bugh! Bugh! Bugh!
"Akh!"
Ino berhenti melangkah saat telinganya tiba-tiba saja mendengar suara itu. Dengan hati-hati dan jantung berdebar, ia berjalan mengendap-endap. Dan mengintip dari balik tembok.
Matanya melebar saat melihat seorang laki-laki dengan rambut kuning tengah dipukul beberapa orang anak remaja berbadan tinggi dan memakai seragam sma.
"Menma..." desis Ino.
Menma mencoba untuk kembali berdiri, namun salah satu pemuda itu menginjak perutnya, dan terus menekannya hingga membuat Menma menjerit kesakitan. Ino menutup mulut ngeri melihatnya.
"Itulah akibatnya jika kau tidak menuruti kami! Hahaha... rasakan itu!"
"Ya tuhan aku harus bagaimana? Aku tidak bisa membantu Menma melawan manusia-manusia berbadan besar itu." Ino menggigit bibir bingung.
Ino adalah wanita pemberani. Dan berhati baik. Ino tidak boleh takut, selama itu Ino lakukan untuk membantu orang lain.
Ino membulatkan keberaniannya saat ucapan ibunya terngiang diotaknya. Lalu dengan segera ia berjalan maju, dan berteriak.
"Guru! Mereka disini!" teriak Ino berakting seolah ada beberapa guru yang tengah berlari kearahnya yang kini berdiri dengan tangan menunjuk kearah tiga orang itu.
Dua pemuda sma itu sontak panik. Dan berlari kearah pagar, dan meloncat pergi. Saat merasa kedua pemuda itu sudah benar-benar pergi. Ino segera berlari kearah Menma yang kini sudah terkapar itu.
"Ya ampun, ya ampun, ya ampun... kau tidak apa-apa?" Menma meringis dan menatap Ino dengan matanya yang sulit terbuka diakibatkan lebam di sana. Sepertinya bekas tonjokkan. Ino mencoba menyentuhnya, namun, tangan Menma lebih dulu menahan tangannya.
"Kau ingin membuatku menjerit?" tanyanya dengan mata yang menatap Ino tajam.
Glek!
Ino menelan ludahnya, dan mengerjap sebentar. Sebelum kemudian kembali menatapnya.
"Maafkan aku. Aku akan membantumu." Ucap Ino lalu mencoba membantu Menma berdiri, dan memapahnya kearah kursi yang berada dibawah pohon ditaman itu maple.
"Ah!" Ino mendudukkannya dikursi, dan Menma langsung menyandarkan dirinya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ino cemas melihat banyak tanda biru diwajah pemuda itu.
"Apa jika aku jawab ya. Kau akan percaya?" tanya Menma ketus.
Ino menggaruk kepalanya. Menyembunyikan rasa malu atas pertanyaannya.
"Ah... d-dimana yang sakit?" tanya Ino gugup.
"Seluruh tubuhku terasa sakit semua... kau tahu itu?" lagi-lagi Menma berujar dengan nada ketus. Ino menatap kesal kearah Menma. Dan tanpa sadar ia menepuk kepalanya.
"Aku bertanya baik-baik. Dasar bodoh! Kau pikir aku tidak bisa marah, kalau kau tanggapi dingin seperti itu? Aku mencoba membantumu disini!" teriak Ino marah. Nafasnya naik turun dengan brutal.
Menma meringis. Namun, setelah itu nyengir.
"Maaf, maaf. Ya ampun, pukulanmu tidak main-main ya?"
Ino memutar bola mata malas. Sebelum kemudian tatapannya jatuh pada wajah Menma yang memiliki banyak luka. Ada luka sobek di ujung bibir, dan pelipisnya. Juga ada satu robekan yang lumayan lebar dan mengalirkan banyak darah di alis kirinya.
"Ya, tuhan. Lihat semua luka itu... sakit 'kah?" tanya Ino kembali cemas. Menma mengernyit. Lalu menyentuh pelipisnya. Lalu ujung bibirnya.
Ia meringis. Namun, kemudian tersenyum dan menjauhkan tangannya. "Tidak apa-apa. Luka ini bukanlah apa-apa."
"Bodoh!" ucap Ino spontan. Yang sontak membuat Menma menoleh. "Bukan apa-apa kau bilang? Kau benar-benar bodoh! Itu semua luka. Luka, kau tahu?!" bentak Ino, namun juga di iringi air mata. Ino menunduk dan mengusap air matanya.
Menma terdiam mendengarnya. Sebelum kemudian tersenyum. "Aku baik-baik saja, Ino." Menma menegakkan tubuhnya, lalu mendekat pada Ino. Tangannya menyentuh dagu Ino, lalu menariknya untuk mendongak. Didekatkannya wajah gadis itu kearahnya, lalu mengecup bibirnya.
Menma memejamkan matanya, menikmati rasa manis dari bibir Ino.
Mereka bukanlah sepasang kekasih. Tapi, bagi Ino dan Menma yang hanya berstatus teman, ciuman adalah hal yang wajar. Bahkan, Menma pernah lebih dari sekadar mencium bibir Ino. Ia bahkan sudah pernah mencium bibir kedua gadis itu. Bahkan sering. Walau pun tak sampai saling memasuki tubuh masing-masing. Entah sejak kapan itu menjadi hal biasa bagi keduanya.
Namun, itu tetap tak menjadi sesuatu yang mengharuskan keduanya memiliki hubungan serius. Bagi mereka, hubungan sepasang kekasih hanya sebuah cap tanpa makna.
Menma dengan perlahan menggerakkan bibirnya di atas bibir Ino, menekannya lebih dalam. Namun, ia justru berjengit dan menjauh. Ia menyentuh ujung bibirnya yang terasa perih. Dan itu mau tak mau kembali membuat Ino cemas.
"M-mendekatlah." Suruh Ino. Menma tidak membantah dan langsung kembali mendekat kearah Ino. Ino merogoh kantong seragamnya, dan mengeluarkan beberapa plester bergambar princess.
Saat akan menempelkan ke wajah Menma, ia langsung menepisnya.
"Apa-apaan itu? Aku tidak mau memakainya." Ucap Menma protes.
"Kenapa?"
"Kau tidak lihat gambarnya? Itu untuk perempuan! Dan kau ingin menempelkannya di wajahku yang keren ini?" tanya Menma dengan wajah menantang.
Ino menaikkan alisnya kesal. "Keren? Wajahmu babak belur, bodoh. Itu tidak terlihat keren sama sekali, itu bahkan lebih buruk dari telur gosong yang selalu jadi bekalmu setiap hari."
"Enak saja!"
"Apa? Sudah diam!" Ino menarik wajah Menma mendekat, lalu menempelkan plesternya di sana.
Menma sesekali meringis saat Ino menekan plesternya tepat dipusat lukanya. Setelah selesai, Ino menjauhkan wajahnya dan tersenyum senang.
"Selesai."
"Huft, aku tidak akan mau masuk ke kelas dengan plester jelek ini menempel di wajahku."
"Berani kau lakukan itu, maka akan aku pastikan ada luka baru di wajahmu." Ucap Ino horror. "Sebenarnya apa yang terjadi padamu tadi?"
"Mereka memerasku."
"Memerasmu? Apa maksudmu?"
"Mereka ingin uangku."
"Astaga..." Ino menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apa menurutmu mereka akan kembali?"
"Mungkin saja." Ucap Menma lalu menyandarkan tubuhnya. "Omong-omong, terima kasih. Jika kau tidak datang... ah tidak-tidak, aku bisa mengatasinya. Aku hanya belum siap saja tadi." Alis kiri Ino berkendut mendengarnya. Namun tak lama sebuah seringai terbentuk diwajahnya.
"Akui saja, aku telah menyelamatkanmu. Kau ini, gengsi sekali." Ucap Ino dengan menyikut tulang rusuk pemuda itu.
"Kau hanya kebetulan saja tadi."
Ino menatap kesal Menma. Sebelum kemudian membuang nafas dengan kasar. "Terserah kau saja." Ucap Ino mengalah. Menma tersenyum, lalu ia menatap Ino dari atas kebawah.
"Kau semakin populer dikalangan pria sekarang. Entah apa aku harus ikut senang atau menyesal."
"Menyesal kenapa?"
"Tubuhmu jadi sexy seperti sekarang ini, adalah karena diriku. Dulu dadamu sangat rata, namun setelah mendapat pijatan rutin dariku, bentuknya menjadi sangat menggiurkan. Dulu kau juga sangat polos, tapi, sekarang kau sangat liar, terlebih lagi saat aku mencumbu bibir sensitivemu.
Ino menarik nafas dan menutup matanya saat merasakan bagian bawahnya menggelenyar. Menma menyeringai, dan dengan nakal tanganya bergerak menyelinap di antara paha Ino, dan menyentuh kemaluan gadis itu yang tertutup celana dalam. Menma menyelinapkan dua jarinya memasuki celana dalam Ino, lalu memasukkannya ke dalam lubang kenikmatan gadis itu.
"Me-Menma, hentikan!" Ucap Ino terengah, dan menarik keluar tangan Menma.
"Kenapa?"
"Kita bisa melakukannya, tapi tidak disini, dan tidak sekarang." Ucap Ino, lalu berdiri. Namun, tangan Menma lebih dulu menahannya.
Ino menoleh dan menatapnya heran. "Kau tidak akan pernah bisa meninggalkanku, Rapunzel,"
Ino tersenyum geli setiap kali Menma memanggilnya Rapunzel. Sejak memutuskan untuk memanjangkan rambutnya, Menma terus menerus memanggilnya Rapunzel.
"Kenapa?" tanya Ino heran.
"Karena hatimu ada padaku."
"Dasar pencuri." Ino menjitak kepala Menma lalu setelah itu berlalu pergi.
.
.
.
"Menma..." Ino menatap tubuh Menma yang terbaring dengan banyak alat medis ditubuhnya dengan sedih.
Ia tidak tahu bagaimana pemuda itu bisa ada di sana. Yang ia tahu hanya, seorang pria tua yang datang kerumah Ino, dan mengatakan Menma masuk rumah sakit. Dan memintanya untuk mengunjunginya, karena lelaki itu terus menggumamkan nama Ino dalam tidurnya.
"Keadaan tuan muda sangat parah."
"Sebenarnya apa yang terjadi padanya?" tanya ayah Ino yang sengaja ikut.
"Tuan muda terjatuh dari tangga, dan mengalami pendarahan hebat pada kepalanya."
"Dimana ayah dan ibunya?" tanya Inoichi lagi saat menyadari ketidak hadiran ibu Menma dan juga ayahnya.
Bukannya ia tidak tahu jika orang tua Menma adalah orang sibuk. Ibu Menma adalah seorang perancang gaun pengantin, sementara ayahnya adalah seorang pemimpin perusahan besar, yang bergerak di bidang electronik. Tapi, sesibuk apapun mereka, harusnya mereka datang saat mendengar anak mereka sedang jatuh sakit.
"Mereka sedang ada pekerjaan." Ucap pria tua bernama Hiruzen yang berstatus sebagai pengawal pribadi Menma itu.
"Ya tuhan!" Inoichi menggeram marah.
Dan, entah kenapa Ino merasa sakit mendengar apa yang Hiruzen katakan mengenai orang tua Menma.
Kenapa mereka begitu jahat?
Ino kembali menatap Menma melalui kaca, namun ia segera berlari saat melihat seorang dokter berjalan keluar dari ruangan Menma. Membuat Hiruzen dan Ayahnya berjalan mengikuti Ino.
"Dokter, bagaimana keadaanya?" tanya Ino cepat.
"Kalian ini siapanya?"
"Kami keluarganya." Ucap Inoichi.
"Hm... jujur, aku tidak tega mengatakan ini. Tapi, pemuda ini mengalami kurang gizi. Dan ada beberapa organ dalam tubuhnya rusak. Saat memeriksanya, aku terus bertanya-tanya bagaimana ia dirawat selama ini? Keadaannya bahkan lebih buruk dari anak-anak gelandangan yang aku rawat di klinikku. Dia benar-benar sakit. Dibeberapa tubuhnya juga terdapat memar, dan beberapa luka robek. Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan sebagai seorang ayah? Bagaimana bisa kau buat anakmu menderita seperti ini?" tanya dokter itu. Terlihat sekali ia tengah marah.
"Dokter... anda salah paham.." Hiruzen mencoba memberitahu.
"Maafkan saya." Ino dan Hiruzen menatap tak percaya kearah Inoichi yang tiba-tiba menunduk 90 derajat kearah dokter itu. "Aku telah gagal sebagai orangtua. Tolong maafkan aku. Tapi... selamatkanlah dia." Ucap Inoichi sungguh-sungguh.
"Ayah..."
"Inoichi..."
"Aku akan berusaha semampuku. Tapi.. untuk beberapa waktu ia harus tinggal dirumah sakit."
"Baiklah... terima kasih. Terima kasih banyak. Apakah kami boleh melihatnya sekarang?"
"Silahkan, tapi aku minta jangan berisik, pasien membutuhkan banyak istirahat. Kalau begitu aku permisi." Ucap dokter itu lalu melangkah pergi.
"Inoichi... kau tidak harus melakukan itu. Aku bisa memberitahukannya pada tuan."
Ino berhenti melangkah dan menatap Hiruzen, kemudian Inoichi. Inoichi tiba-tiba menoleh kearah Ino, dan memerintahkannya untuk masuk. Ino mengangguk paham dan segera masuk keruangan Menma.
"Jangan memikirkan hal lain. Yang harus jadi fokus utama sekarang adalah Menma."
"Tapi..."
Saat pintu tertutup, Ino tak lagi mendengar suara pembicaraan mereka. Ia berjalan pelan mendekati Menma, dan mendudukan tubuhnya di samping ranjang pemuda itu.
"Ino..."
Ino mencoba menahan isakannya saat mendengar namanya keluar dari mulut Menma. Mata shapire yang biasanya selalu cerah itu, kini tertutup. Bibir yang biasanya lembut dan hangat itu. Kini terlihat pucat dan benar-benar dingin.
"Menma... hiks."
.
.
Ino berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Ia baru saja kembali dari rumahnya untuk mengambil pakaian. Ia memutuskan untuk menjaga Menma, sampai pria itu kembali sehat.
Srek!
Ino terdiam saat melihat keadaan kamar inap Menma yang kosong. Tidak ada sosok Menma diatas ranjang. Ranjang itu rapi, seolah-olah tidak ada satu orangpun yang pernah menempatinya.
Tas yang ada dalam genggaman Ino, sontak saja jatuh. Dan dengan panik gadis itu berlari kedalam. Ia mengecek kamar mandi, dengan terus memanggil nama Menma. Setelah itu ia berlari keluar kearah suster yang kebetulan melewati koridor itu.
"Suster! D-dimana Menma?" tanya Ino.
"Maaf?"
"Pasien yang diruangan itu! Di mana dia?!"
"Apa anda tidak tahu? Dia sudah meninggal."
"Tidak mungkin. Jelas-jelas dia masih ada di kamar itu tadi. Aku hanya meninggalkannya 20 menit yang lalu. Bagaimana bisa kau katakan dia sudah meninggal?!" Ino kalap dan mengguncang tubuh suster itu.
"Tapi, Nona. Memang benar seperti itu, Tuan Namikaze dinyatakan meninggal 10 menit yang lalu, dan jasadnya sudah di ambil pihak keluarga."
"Bohong!" Ino mendorong tubuh suster itu, lalu segera berlari keluar. Namun, saat akan mendekati meja recepsionis, tubuhnya lebih dulu di tahan oleh Inoichi.
"Ino... tenanglah."
"Ayah.. itu tidak mungkin... Me-Menma belum... Menma belum meninggal. Hiks, ayah! katakan ini semua bohong, hiks. Menma..."
"Ino..." Inoichi memeluk tubuh anaknya erat. Dan mencoba memberinya kesabaran.
"Menma..."
.
.
.
"Aku sebenarnya belum meninggal. Orangtuaku meminta agar aku dipindahkan kerumah sakit di Amerika. Tapi, orangtuaku tidak ingin kau dan keluargamu tahu. Sehingga mereka memutuskan untuk memalsukan berita kematianku." Ucap Menma.
"Tidak.. itu tidak mungkin... Menma.. Menma sudah,"
"Aku masih hidup, Ino."
"Lalu, Naruto itu siapa?"
"Itu hanya nama samaran yang diberikan orangtuaku saat aku di Amerika." Ucap Menma. Ino menatap ragu kearah pria itu. Dan justru memalingkan wajahnya.
"Kau tidak percaya padaku?"
"..."
"Aku mengerti. Aku tidak akan memaksamu."
Ino mengalihkan wajahnya keluar, dan merasa lega saat melihat hujan yang semula lebat, kini mulai reda.
"H-hujannya sudah berhenti... aku rasa aku sudah bisa pulang sekarang." Ucap Ino kaku.
"Aku akan mengantarmu."
"Tidak!" tanpa sadar nada suara Ino naik. Namun, saat menyadarinya, Ino mulai menatap kearah lain dengan pandangan gelisah. "M-maksudku, kau tidak harus mengantarku. Aku akan pulang sendiri. Terima kasih." Ucap Ino enggan menatap mata Menma.
"Kau yakin tidak ingin aku antar?"
"Aku yakin." Ucap Ino mempertegas. Ia kemudian menunduk. "Terima kasih. Kalau begitu, aku permisi."
"Aku akan mengatarmu ke lift." Ucap Menma dengan suara dingin.
"Ak─"
"Aku memaksa." Ucap Menma.
.
.
.
Ino dan Menma berjalan beriringan menuju lift. Ino sejak tadi terus merasa gelisah. Apa yang dikatakan Menma benar-benar membuatnya syok. Ayolah, siapa yang tidak syok saat kau mengira orang yang kau cintai sudah mati, justru hidup kembali? Itu semua benar-benar menghantam mental Ino.
"Kau baik-baik saja?" tanya Menma.
Ino tersentak sebelum kemudian mengangguk cepat. "A-aku baik-baik saja."
"Jika kau sulit menerima ini, kau bisa anggap, apa yang aku katakan tadi, tidak pernah terjadi. Dan kau tetap bisa menganggapku sebagai Naruto."
"..." Ino tidak merespon apapun. Justru berjalan semakin cepat kearah lift, yang tinggal beberapa langkah di depannya.
Ino menekan tombol lift berkali-kali dengan tidak sabar. Hingga akhirnya lift itu terbuka, Ino dengan segera melangkah masuk. Namun, tangannya lebih dulu digenggam Menma. Namun, Ino menepisnya. Dan segera masuk. Ino berbalik dan kini ia dan Menma saling berhadapan.
"Ino..." Menma menggumamkan namanya.
Ino terdiam. Sebelum kemudian berucap, "Selamat tinggal."
TBC
