The Dark Shadow Chapter 6 – Help!

Cast: Ino Yamanaka – Naruto Uzumaki – Menma Uzumaki.

Disclaimer: Masashi Kishimoto-Sensei. Naruto.

Warning: Typo, OOC, ABSURD. Dll.

.

.

.

Halo minna! Maaf, maaf, maaf. Atas keterlambataaaaaaaaannnnnnn ini. Beneran, ciusan, eneyan, reallian(?) maafkan aku readersku tersayang. Maafkanlah daku. Ini bener-bener diluar dugaan. Kan rencana awalnya begini, terus begini. Eh, gak tahunya begitu, terus begitu. Terus aku gak bisa balik ke begini lagi. Jadi aku harus menunggu sehari lagi, terus sehari lagi, terus sehari lagi, terus sehari lagi, terus sehari lagi, terus sehari lagi.

Ya, intinya seperti itu. Dan kalian gak harus paham kok. Karena aku sendiri tidak memahami arti kehidupan ini kecuali hanya bermalas-malasan. Plak!Plak!Plak!Plak!

Oke, aku rasa sudah cukup. Dan sekali pun aku minta maaf, satu lembar kertas pun tak akan mencukupi penyesalan ini. Jadi, sekali lagi... maaafff!

.

.

.

.

~*0*~

Ino berjalan pelan menyusuri trotoar, ia memutuskan untuk menunda kepulangannya. Dan memilih untuk menenangkan diri. Hatinya mendadak begitu marah. Ayolah siapa yang tidak marah saat kau menyangka orang yang menjadi cinta pertamamu mati, lalu hidup kembali? Manusia mana yang bisa percaya? Rasanya seperti ia begitu bodoh sampai bisa begitu mudah di perdaya.

"Serahkan uangmu!"

Ino tersentak, dan segera menghentikan langkah kakinya. Matanya melirik takut kearah sebuah gang yang hampir saja ia lalui, saat mendengar suara nyaring dari sana. Perlahan ia beringsut mundur dan menjauh dari gang itu.

Ino berbalik namun kepalanya justru menabrak tubuh seseorang hingga membuatnya tersentak.

"Well... sedang apa gadis cantik sepertimu di sini?" Ino menegang dan dengan ragu mendongakkan kepalanya. Matanya melebar saat melihat seorang pria berbadan besar berdiri dihadapannya.

"A-aku kebetulan lewat. Dan.. a-aku akan pergi." Ucap Ino kaku. Dan dengan segera berjalan melewatinya, namun, pria itu justru menarik tangan Ino.

"Mau ke mana? Jika kau pergi sekarang, kau akan ketinggalan pestanya."

"Ahaha.. t-terima kasih undangannya. Tapi aku harus pulang." Ucap Ino mencoba melepaskan tarikan tangan pria itu.

"Hanya sebentar." Pria itu menarik tangan Ino dan membawanya kearah gang yang coba Ino hindari tadi.

"Berhenti di sana!"

Ino dan pria itu sontak saja menoleh saat mendengar suara itu.

"P-paman Ibiki?" Ino membulatkan matanya saat melihat pria yang sudah menghilang bersama Menma sejak 10 tahun yang lalu itu kembali muncul dihadapannya.

"Heh, sedang apa pak tua sepertimu berada di sini?" bentak pemuda yang mencegat Ino itu.

"Aku ke sini untuk wanita itu."

"Hey, apa kau tidak lihat wajahmu, pak tua? Bagaimana bisa kau mengincar wanita muda? Sepertinya kau salah mencari korban. Oh ya, aku tadi melihat wanita tua di dekat pemakaman. Sepertinya kalian cocok." Ucap pria itu dengan santainya.

Ibiki menghela nafas. Sebelum kemudian merogoh kantongnya. Dan mengeluarkan sebuah kartu.

"Aku adalah kapten polisi. Jika kau tidak melepaskan gadis itu sekarang. Maka aku akan menyeretmu ke penjara."

Pria dengan rambut perak itu melotot. Dan sontak saja mendorong tubuh Ino menjauh darinya.

"Ini, ambil saja dia. Aku tidak membutuhkannya lagi." Ucapnya lalu segera pergi dengan panik.

Ino mengerjap heran kearah pria yang sudah lari pontang panting itu. Sebelum kemudian menatap kearah Ibiki.

"Sejak kapan paman jadi kapten polisi?"

"Sebelum aku menjadi pengawal pribadi Naruto... atau yang kau kenal sebagai Menma." Ino memejamkan mata saat mendengar Ibiki menyebut nama itu.

"Terima kasih sudah menolongku, paman. Aku harus pulang."

"Aku akan mengantarmu."

"Tidak perlu. Bukankah ada orang lain yang harus paman jaga sekarang ini?"

"Ino, ada yang ingin paman bicarakan." Ucap Ibiki tegas. Ino menghela nafas sebelum kemudian mengangguk lemah.

.

.

.

Kedai Ichiraku..

Ibiki dan Ino duduk bersebelahan di kedai ramen paling terkenal itu. Namun, karena ini sudah lumayan larut, jadi tidak terlalu ramai. Hanya ada Ino, Ibiki dan dua orang pembeli lain.

Ibiki menatap sekeliling kedai itu dan tersenyum. "Sudah lama aku tidak ke sini. Tapi, suasananya tidak pernah berubah.

"Itu karena paman terlalu sibuk bersembunyi." Ucap Ino datar. "Jadi... apa yang ingin paman bicarakan? Aku harap paman membawaku ke sini bukan untuk bernostalgia, dan mengingat-ingat betapa hebatnya paman dulu karena telah berhasil menipu gadis bodoh sepertiku. Karena aku tidak mengharapkan itu." Ucap Ino dengan nada skeptis. Entah kenapa sejak tahu fakta bahwa Menma masih hidup, rasanya Ino begitu terpuruk, dan beranggapan semua orang yang berhubungan dengan Menma adalah penipu.

"Sudah kuduga akan seperti inilah responmu." Ibiki mencoba maklum. "Jadi, siapa yang sudah kau temui? Naruto atau Menma?"

"Menma sudah mati." Ino menutup matanya dengan tangan terkepal.

Ibiki menatap Ino dengan tatapan sendu. "Ino... ada yang ingin paman katakan padamu tentang Menma."

"Apa?" tanya Ino tanpa ada niat untuk menatap lawan bicaranya.

"Menma belum mati. Aku... akulah yang membawanya pergi waktu itu."

"..." Ino terdiam, rasanya seperti sebuah palu jatuh menimpa kepalanya. Apa lagi ini?

"Karena Menma... tidak seharusnya ada."

"Paman salah,..." Ibiki menoleh dan menatap Ino yang kini duduk dengan wajah menatap lurus ke depan dengan pandangan datar, "bukan Menma yang tidak harus ada di dunia ini. Tapi aku. Paman pikir apa gunanya seorang wanita yang mudah dibodohi ini masih menetap di dunia?"

"Ino... kau tidak mengerti."

"Apa yang tidak aku mengerti?" tuntut Ino.

"Menma... dia adalah alter-ego, Naruto."

"..." Ino terdiam dengan mata membulat. "... apa?"

"Aku akan menceritakan sesuatu padamu. Jadi dengarkan aku.."

Ino mengernyit sebelum kemudian mengangguk ragu, memberi Izin pada Ibiki untuk memulai ceritanya.

"Ibu Naruto adalah wanita yang cantik, dan juga baik hati. Orang yang sangat periang dan ambisius. Namun, hidupnya hancur saat ayah Naruto menghamilinya. Tuan Namikaze sangat menyukai Kushina, tapi wanita itu sudah memiliki pria yang ia cintai. Namun, Tuan Namikaze tahu bahwa kekasih Kushina adalah orang yang jahat dan licik. Yang hanya memanfaatkan Kushina agar bisa mendapatkan kekayaan dari keluarga Kushina. Saking besar cinta Tuan Namikaze padanya, ia sampai melakukan berbagai cara agar Kushina dan pria itu berpisah. Segala cara, namun semua tak ada hasilnya. Hingga satu ide gila menjadi jalan keluarnya. Tuan Namikaze nekad menjebak kekasih Kushina dengan membuatnya masuk kesebuah kamar di mana ia sudah menyewa seorang wanita malam untuk dijadikannya sebagai umpan untuk kekasih Kushina itu. Dan sesuai dugaan, pria itu termakan jebakannya begitu cepat dan mudah. Dan saat itulah ia sengaja mengirim pesan sebagai Mikoto─teman dekat Kushina dan memberitahu bahwa kekasihnya tengah berselingkuh. Kushina sangat terpukul, dan dengan wajah merah dipenuhi emosi ia pergi begitu saja. Disitulah Tuan Namikaze memainkan perannya. Berpura-pura tak sengaja menabrak wanita itu lalu bersikap baik dan membiarkan Kushina mengeluarkan kesedihan dalam pelukannya. Kebetulan Tuan Namikaze dan Kushina sudah berteman di bangku Kuliah. Hingga saat Tuan Namikaze mengundangnya untuk keapartemennya itu pun, wanita itu tak menaruh curiga apapun padanya.

Aku tidak tahu apa yang terjadi diantara mereka diapartemen itu. Tapi yang pasti hal itu membuat Kushina sangat hancur.

Seminggu setelah itu, Tuan Namikaze memaksa Kushina untuk menikah dengannya menggunakan alasan ia akan bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan olehnya. Ditambah lagi dengan keadaan Kushina yang sedang mengandung. Membuat Tuan Namikaze bisa dengan mudah menjalankan rencananya.

Orangtua Kushina yang tidak mau keluarga mereka mendapatkan aib, setuju-setuju saja untuk menikahkan anak mereka dengan Tuan Namikaze. Terlebih lagi dia adalah pria sukses dengan latar belakang keluarga kaya dan mapan. Membuat mereka semakin yakin bahwa Tuan Namikaze bisa menjamin kehidupan yang layak bagi putri mereka.

Sejak pernikahan itu, sosok hangat dan riang Kushina telah hilang. Dan berganti dengan sosok dingin dan juga pemarah.

Bahkan saat mengandung, ia sempat ingin menggugurkan anak itu. Hingga membuat Tuan Namikaze harus menyewa bodyguard untuk mencegah kemungkinan hal buruk yang akan menimpa anaknya.

Naruto... anak itu. Ia berhasil dilindungi hingga bisa terlahir sempurna ke dunia. Tapi, Kushina justru tidak mau menganggapnya sebagai anak.

Saat Naruto lahir, kebencian dalam hati Kushina semakin besar. Ia tidak mau mengurus Naruto sama-sekali dan terus mengacuhkannya seolah Naruto tidak pernah ada. Semakin Naruto tumbuh, semakin kuat pula kebencian dalam hati Kushina padanya.

Bahkan Kushina tak segan-segan memukul Naruto. Naruto selalu jadi tempatnya melampiaskan kemarahan, saat kenangan-kenangan buruknya menghantui dirinya.

Dan tanpa sadar, semua siksaan itu memunculkan sosok lain dalam Naruto. Yang perlahan-lahan tumbuh, dan mulai menguasai tubuh anak itu.

Dan hari itu, hari kesekian kali Naruto selalu disiksa. Sosok itu menampakkan dirinya. Dan mengenalkan dirinya sebagai Menma." Ibiki menghela nafas. "Hingga saat ini, bayangan mata tajam Menma terus menghantuiku. Tatapan itu... itu seperti bukan tatapan manusia. Benar-benar kosong tapi tajam dan seolah mengintai seluruh pergerakan yang kita lakukan. Dan perasaan takut itu hampir menguasai seluruhnya dalam hatiku, saat sering menangkap basah Menma tengah mencincang hewan tanpa perasaan. Dan walau pun tertangkap basah, ia hanya akan diam dan menatapku. Lalu tetap melakukan apa yang ia kerjakan. Itu tanpa sadar selalu jadi mimpi burukku selama menjadi pengawalnya."

Ino terdiam. "Separah itu?"

"Ya. Menma begitu kuat hingga mampu menguasai tubuh Tuan Naruto hingga bertahun-tahun, dan tetap membuat Naruto tertidur. Tapi... saat di rumah sakit, sebuah keajaiban terjadi, tuan Naruto terbangun. Dan sepertinya terjadi sesuatu hingga membuat Tuan Naruto bangun. Aku tidak tahu kenapa. Hingga saat ini aku masih belum menemukan jawaban."

"Apa... ini?" Ino menarik nafas keras. "Apa maksud semua ini, paman? Kenapa? Kenapa semua orang begitu ingin melihatku terlihat bodoh? Kenapa? Apa wajahku ini kurang menyedihkan hingga kau berambisi membuatku terlihat seperti wanita gila dan bodoh?"

"Ino dengar dulu. Bukan seperti itu."

"Lalu apa?!"

"Kau harus membantuku Ino."

"Membantu?"

"Kau cinta pertama dan satu-satunya untuk Menma. Berada di dekatmu membuatnya kuat. Jadi, aku ingin kau menjauh."

Ino terdiam. Sebelum kemudian tertawa sinis.

"Memang. Memang itu yang akan aku lakukan. Terima kasih peringatannya."

"Tapi... Naruto juga menyukaimu."

"Apa?"

"Inilah yang jadi masalahnya sekarang. Naruto juga menyukaimu. Dan itu semakin memberatkan, dan semakin sulit untuk menolongnya. Ditambah lagi, Naruto belum lama ini kembali, dan itu membuatnya lemah. Dia masih belum kuat."

Ino mengusap wajahnya lelah.

Ya tuhan, dosa apa aku sampai dihadapkan dengan keadaan sulit seperti ini?

"Jadi, kau ingin aku melakukan apa?!" tuntut Ino dengan suara kesal campur lelah.

"Cintai Naruto."

"Paman bercanda? Dibandingkan Naruto, aku lebih menyukai Menma. Dan itu akan sulit untuk aku lakukan."

"Cobalah."

"Sebenarnya apa untungnya bagiku jika aku membantu kalian?"

"Aku tidak tahu. Aku akan lakukan apapun agar kau mau membantu Naruto. Kumohon."

"Dan menghilangkan Menma."

Ibiki terdiam. "Tapi... dia jahat."

"Tapi aku mencintainya. Bagaimana paman menjelaskan itu?"

"Ino..."

"Jika sudah selesai. Aku akan pergi." Ino bangun dan berniat pergi jika saja ucapan Ibiki tak membuatnya diam membeku.

"Bisakah kau anggap Naruto adalah pasienmu? Dokter Ino..."

Ino terdiam. Dengan tangan terkepal."Aku sudah lama pensiun."

"Kenapa tidak jadikan ini pensiunan mu yang terakhir." Ino menoleh dan menatap Ibiki yang tengah memberi tatapan memohon padanya.

"Tolong dia..." Ino berbalik dan segera pergi dari sana.

"Itu adalah hari, dimana Menma menguasai tubuh Tuan Naruto. Sampai ia bertemu denganmu, Menma semakin kuat, dan Naruto semakin tenggelam kedalam kegelapan yang Menma buat."

Itu artinya, aku turut andil dengan kekuatan Menma untuk terus menekan sosok asli tubuh itu?

"..." Ino berhenti berjalan namun tak berbalik.

"Kumohon bantu tuan Naruto... Ino.."

TBC

Stop! Tolong jangan pukul aku karena cerita yang pendek ini. maaaaffff, mentok men!

Gdbuk! Gubrak!Gubrak!Gubrak! Gubrak!

Tapi, ini jauh lebih baikkan? Pelan tapi, jalan. Hehe!

R: Pukul author lagi.

A: Stop! Plisss... ini udah benjol. Hiks huuuu.

Oke law. Aku sudah tidak punya kata-kata lain selain. Tetep suka ya. Aku gak maksa sih. Kalo, kalian mau minggat. No problemo. Aku rapopo. :{

Oke, bubye. Sampai jumpa minggu depan. ^_!