Dark Shadow Chapter 7 – I'm Gonna... help you.
Cast: Ino Yamanaka – Naruto Uzumaki – Menma Uzumaki.
Disclaimer: Masashi Kishimoto-Sensei. Naruto.
Warning: OOC. Typo. Dan warning-warning lainnya.
Happy Reading..
.
.
.
~*0*~
Pagi ini, Ino terlihat tengah duduk sambil memeluk kakinya di bukit tempat biasa ia mencari bunga. Wajahnya sendu, juga nampak lelah. Sementara mata Aquamarine-nya menatap kosong ke arah mata hari terbit.
Ia menghela nafas, dan secara perlahan menurunkan wajahnya ke arah paha. Lalu menyembunyikannya di sana.
"Aku harus bagaimana?" gumamnya pada diri sendiri. Tanpa sadar air mata jatuh dari pelupuknya. Kelebatan bayangan saat ia bersama Naruto muncul. Naruto terlihat sangat baik, polos dan begitu lugu. Lalu bayangan itu berganti dengan bayangan saat ia bersama Menma. Pria berambisi yang bahkan tak memiliki belas kasihan sedikit pun dalam dirinya.
Ino merasa begitu malu. Selama lima tahun, Ino menjadi seorang psikiater. Walau hanya mengatasi pasien dengan tingkat masalah mental yang rendah. Ia selalu bisa mengatasinya. Dia adalah orang yang peka, itu yang selalu orang-orang di sekitarnya katakan tentang dirinya. Namun, mengetahui fakta bahwa ia telah membantu seorang alter untuk mendapatkan tubuh yang bukan miliknya, terasa bagai tamparan baginya. Walau pun itu diluar kehendaknya. Tapi, ia tetap merasa buruk.
"Huh! Peka apanya?" Ino menggumam kesal, namun, air matanya ikut mengalir deras.
Dadanya sesak. Sesak akan rasa bersalah. Rasa bersalah itu seolah merubah wujud menjadi hantu, lalu menghantuinya dengan terus menggumamkan kata 'kau bersalah'
Walau pun Ino tahu itu bukan salahnya, dan hatinya terus meneguhkan dirinya bahwa ia memang tidak bersalah. Tapi, tetap saja. Perasaan Ino yang selalu menginginkan kepuasan saat ia berhasil mencapai sesuatu, kini sedang goyah. Karena menemukan satu fakta, yang harusnya sudah sejak dulu ia ketahui. Namun, nyatanya ia terlambat. Terlambat menyadari bahwa orang yang paling dekat dan ia cintai justru tak pernah ia sadari bukanlah sosok yang seharusnya ada di dunia.
"Tenangkan diri," Ino tersentak dan mengangkat wajahnya. Ino menghapus jejak air mata di pipinya. Lalu menoleh kebelakang.
"Ayah..."
Inoichi yang tengah berdiri di belakang Ino tersenyum. Lalu berjalan kearah putrinya itu, dan duduk di sampingnya. Ino terus menatap Inoichi yang tengah duduk dan menghela nafas. "Hari ini kita libur saja.." ucap Inoichi tiba-tiba.
"Apa? Mana bisa seperti itu?" protes Ino.
"Ino, jangan memaksakan diri. Ayah tahu kau sedang banyak pikiran."
"Tapi, tidak harus menutup toko."
"Ino... ini untuk kebaikanmu. Lagipula, jika kau menerima pelanggan dengan wajah murung seperti itu. Bisa di pastikan mereka akan batal membeli bunganya, karena bunga-bunga yang akan mereka beli ikut layu melihat si penjual yang murung."
Ino menunduk dan tertawa kecil. "Bicaramu tidak masuk akal, ayah... tapi, baiklah. Libur sehari sepertinya tidak masalah."
"Jadi, apa yang berputar di kepalamu saat ini?" tanya Inoichi.
Ino terdiam dan memainkan jarinya pada rumput yang bergoyang diterpa angin.
"Apa yang sedang kau pikirkan adalah... Menma?" tanya Inoichi ragu-ragu.
Ino menghela nafas panjang. Lalu mengangguk. "Ino, Menma sudah lama pergi. Apa kau belum bisa melupakannya?"
"Tidak. Aku sudah lama melupakannya. Tapi, sesuatu terjadi, dan memaksaku untuk kembali mengingat Menma." Ino bergumam pelan. Inoichi menghela nafas mendengarnya.
"Apa ini karena Uzumaki itu?" Ino mengernyit dan menatap ayahnya. "Sudah kuduga."
"Apa ayah tahu sesuatu?"
"Ayah baru menyadarinya saat di pesta yang ia selenggarakan waktu itu. Sejak awal Ayah memang sudah merasa familiar dengan wajahnya. Tapi... ayah tidak bisa langsung menyimpulkannya. Ditambah lagi, sikapnya tidak seperti Menma. Dia terdengar lebih sopan dan tertata. Dia juga terlihat sangat polos dan lugu. Dan selalu ingin melakukan yang terbaik, karena tidak ingin mengecewakan... entahlah, dirinya sendiri atau orang lain.
Awalnya ayah sempat berpikir, mungkin dia memang Menma, dan dia berubah karena dia sudah lebih dewasa sekarang. Ditambah lagi dia direktur disana. Tapi, tetap saja, ada yang aneh. Karena sikapnya yang seolah tak mengenal kita. Aku bertanya-tanya tentang apa yang sudah orang tuanya lakukan pada Menma selama ia menghilang dari kita."
Itu bukan Menma... ayah.
"Ditambah lagi, rambutnya. Rambutnya kembali seperti semula. Sepertinya Menma mengecat ulang rambutnya seperti warna asalnya. Seperti saat ia Tk. Aku rasa ayahnya sudah menanamkan tata krama dan kerapihan dalam diri Menma. Atau mungkin orang tuanya menekannya hingga ia lupa ingatan. Lalu mengisi ingatannya yang kosong dengan pelajaran konglomerat yang terkenal disiplin."
"Jika orang tuanya melakukan hal itu, itu pasti karena ada alasannya. Menma adalah satu-satunya anak mereka. Siapa lagi yang akan mewarisi kekayaannya kalau bukan Menma? Sudahlah ayah. Orang yang bahkan tak memiliki tempat dalam diri Menma seperti kita ini, ada baiknya diam saja, dan jangan mencampuri urusannya."
"Ino..." Inoichi menatap Ino dengan pandangan sendu. Sebelum kemudian membuang nafas, dan tersenyum maklum. "Hmmm... kau benar. Jika Menma saja sudah bisa melupakan kita, kenapa kita tidak?" ucap Inoichi.
"..." Ino terdiam dan menatap kearah matahari yang kini semakin naik. "Apa ayah datang ke sini hanya untuk itu?"
"Tidak. Ayah ingin mengatakan, bahwa ayah berencana pergi ke Kyoto, dan mengunjungi makam ibumu."
"Apa aku boleh ikut?"
"Tidak sekarang. Ingat, ibumu ingin kau ke sana saat kau sudah menikah? Jadi, sampai itu terjadi, kau tidak akan bisa ke sana."
"Ck... ayah keterlaluan."
"Itu permintaan ibumu, Ino."
"Hmm... baiklah." Ino mengalah. "Berapa lama ayah pergi?"
"Mungkin dua atau tiga hari. Dan selama ayah pergi, kau bertanggung jawab pada toko."
"Ya." Ino mengangguk. "Kapan berangkat?"
"Jam sepuluh."
"Oh. Kalau begitu ayo pulang, aku akan masakkan makanan untuk jadi bekal ayah di jalan."
"Ide bagus."
.
.
.
12:31
Ino kini tengah merebahkan tubuhnya di kamar dengan sebuah buku dalam genggamannya. Matanya tak fokus sama sekali. Sejak pembicaraannya dengan ayahnya tadi pagi.
"Kenapa aku seperti ini?! Menyebalkan." Ino melempar bukunya asal. Lalu menutup wajahnya dengan bantal. Hingga kemudian satu ide terlintas dikepalanya. "Mungkin aku bisa pergi berbelanja. Aku akan minta Ten-ten menemaniku."
Ino melirik kearah nakasnya dan tak menemukan ponsel miliknya. Ia dengan segera bangun dan berjalan kearah tas pandanya yang tergantung di belakang pintu. Ia mengobrak-abrik tasnya namun tak kunjung menemukan ponsel miliknya.
"Di mana ponselku?"
Ponselku lowbat, bolehkah aku mengisinya di sini?
"Ah sial! Ponselku tertinggal di apartemen orang itu!" Ino mengacak rambutnya lalu mendesah.
"Terserah. Tanpa teman pun aku bisa pergi... tapi ponselku... aih!" Ino segera berjalan kearah lemari pakaiannya. Lalu mengambil pakaian yang bisa ia kenakan.
.
.
.
Krek!
Ino menutup pintu rumahnya lalu menguncinya.
Saat Ino berbalik, langkahnya terhenti saat melihat sosok entah Menma atau Naruto tengah berdiri di depannya.
Tuan Naruto tidak tahu kau kenal dengan Menma. Jadi, jika kau bertemu dengannya berpura-puralah seolah kau tak tahu apa-apa. Hingga waktu yang tepat, tuan Naruto tidak boleh tahu kau adalah cinta pertama tuan Menma. Atau dia akan terpuruk.
"Ino..." Ino menatap sosok yang sepertinya adalah Naruto itu dalam diam. "A-aku... aku ke sini untuk mengantarkan ini, ponselmu tertinggal di rumahku. Ino menatap ponsel yang Naruto sodorkan itu lalu meraihnya.
"Hm... sankyu.."
"Omong-omong... b-bagaimana kau pulang tadi malam?"
Aku harus beri jawaban apa?
"Mmm... kau yang mengantarku. Apa kau tidak ingat?" tanya Ino dengan keringat yang mengalir di pelipisnya.
"B-benarkah?" tanya Naruto dengan wajah terkejut. Dan entah kenapa terlihat sangat polos dan alami bagi Ino.
Tanpa sadar Ino tersenyum sedih. Namun, Ino cepat-cepat merubah ekspresinya lalu mengangguk. "Mungkin kau lupa, karena sebelum mengantarku kita sempat minum bersama."
"Oh... begitu..." Naruto terdiam kemudian. Lalu pandangannya tertuju pada Ino yang kini terlihat rapi. "Kau mau pergi?"
"Ya." Jawab Ino pelan. Sambil tangannya sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.
Setelah itu kembali hening. Tidak salah satu dari keduanya yang bicara.
"Ino... ada yang ingin aku katakan padamu." Ino mendongak dan menatap Naruto, dengan tangannya yang bergerak untuk menyimpan ponselnya dalam tas.
"... apa itu?" tanya Ino mencoba memberikan senyum kecilnya.
"Mulai sekarang... bersikaplah seolah kau tak mengenalku. Dan jika aku datang padamu dengan sikap kasar dan sebagainya, segera larilah dariku, menjauh sebisamu. Dan jika aku menahanmu, pukul saja aku. Karena... karena itu... itu berarti... a-a-aku sedang mabuk."
Ino terdiam. Sebelum kemudian tertawa. Melihat ekspresi Naruto yang nampak kaku dan terbata-bata itu tanpa sadar terlihat begitu menggemaskan.
"Bicara apa kau? Kenapa aku harus lakukan itu?" tanya Ino dengan mengibas-ngibaskan tangannya.
Grep!
"Hk?"
"Aku serius!" Ino membelalak saat dengan tiba-tiba Naruto mencengkeram kedua bahunya dan mengguncangnya. "Aku serius dengan yang aku katakan. Menjauhlah dariku... atau... kau akan terluka." Ino menatap mata Shapire milik Naruto, menatap ke balik iris yang terlihat sayu itu, dan mencoba mencari kebohongan di dalamnya. Namun, sekali pun begitu, Ino tetap tak menemukan kebohongan di dalamnya. Pria ini benar-benar dalam kondisi putus asa.
Seberapa kejam Menma menekanmu? Kau begitu ingin melindungi orang-orang yang bahkan belum tentu kau kenal baik. Sementara Menma begitu ingin menyakiti semua orang.
Ino mendengus. Apa aku harus menyerah... dan mencoba membantunya?
Ino kembali menatap Naruto. Lalu secara perlahan ia menepis kedua tangan Naruto dari bahunya. "Bagaimana jika aku tidak mau?" ucap Ino dengan tatapan datar dan suara yang ikut berubah.
"Ino.."
"Kau harus berikan aku alasan kuat untuk bisa meyakinkanku agar menjauh darimu." Ucap Ino dengan tatapan menantang.
Naruto menundukkan wajahnya. "Kau tidak akan percaya dengan yang aku katakan."
"Kenapa kau berpikir seperti itu? Atau jangan-jangan kau tidak punya alasan bagus untuk itu?" ucap Ino dengan nada meremehkan.
"..."
"Dengar, aku tidak akan mau mendengarkan perintah orang yang tidak jelas maksudnya. Jadi, maaf saja, aku tidak akan mau menjauh darimu. Selesai. Sekarang menyingkirlah, karena aku ada urusan. Tapi... kita akan bertemu lagi." Ucap Ino lalu pergi meninggalkan Naruto.
Namun, Naruto lebih dulu menahan tangan Ino. Dan menariknya untuk kembali berdiri di hadapannya.
"Aww! Sakit." Naruto terbelalak. Dan segera melepas genggamannya.
"M-m-maaf, s-s-s-sakitkah?" tanya Naruto dengan wajah panik.
Ino menatap Naruto lalu menggeleng. "Tidak apa-apa, tidak terlalu sakit." Jawab Ino mencoba menenangkan Naruto.
"Maaf, aku tidak bermaksud." Naruto menggaruk pipinya. "Tapi, Ino, kenapa kau bersikap seperti ini?"
"Karena kau pasienku."
"Pasien? Apa kau seorang dokter." Ino melirik Naruto yang kini tengah memasang wajah bertanya.
"Bukan. Aku adalah seorang.. teman." Ucap Ino lalu menepuk bahu Naruto.
"Teman?"
"Setelah aku selesai dengan urusanku, aku akan datang kerumahmu. Dan kita akan bermain bersama. Kau tidak sibuk kan? Tapi, jika sibuk tidak apa-apa. Aku akan menunggumu."
"Kau akan menungguku untuk bermain?"
"Dan kita akan saling mengenal satu sama lain."
"Ino... kita ti─"
"Ah, aku dapat ide. Kita akan memasak bersama. Itu terapi yang bagus untuk menghilangkan stress, daripada minum-minum. Dan mungkin kita juga bisa makan ramen bersama, seperti waktu itu. Dan aku akan bawa Ice Cream coklat untuk dessertnya. Kau setuju kan?" Ucap dan tanya Ino semangat.
"Ino!" Ino yang tengah menunggu jawaban Naruto itu sontak melihat kearah belakang Naruto dan menemukan sosok wanita berambut coklat yang di cepol dua.
"Ten-ten!" ucap Ino senang. Lalu segera berjalan kearah wanita itu.
"Kita jadikan ke Mall?" tanya Ten-ten sambil melirik kearah Naruto yang nampak diam. "Tapi, sepertinya kau sedang kedatangan tamu."
"Ah, tidak apa-apa, dia hanya mampir sebentar. Dia juga akan pergi setelah ini." Ucap Ino sambil menepuk bahu Ten-ten. Lalu Ino berbalik untuk menatap Naruto. "Oke, sampai nanti, Naruto-kun. Ayo Ten!" ucap Ino dengan menarik tangan Ten-ten meninggalkan rumahnya.
"Yosh! Ayo!"
Naruto masih berdiri diam di depan rumah Ino. Dengan mata yang menatap kearah perginya dua gadis itu. Naruto terus menatap punggung Ino yang semakin menjauh. Lalu tertunduk.
Tuan... kau harus bisa membuka dirimu. Jadikan kesempatan ini, untuk menyingkirkan Menma. Jika kau terus membiarkannya menang, maka kau tidak akan memiliki tempat dalam dirimu sendiri.
Naruto menutup matanya lalu menghela nafas. "Apa aku bisa?"
.
.
.
23:59
Naruto berjalan kearah apartemennya. Wajahnya sangat lelah dikarenakan ia harus mengurus kontrak dengan Infestor asal Prancis yang harusnya berjalan mulus di pesta. Namun, karena Menma tiba-tiba mengambil alih tubuhnya, dan mengacaukannya. Itu semua menjadi berantakkan. Dan membuatnya harus menyusun ulang.
Namun, untunglah ia bisa mendapatkan kembali Infestor itu setelah memberinya penjelasan tentang malam pesta itu. Dan mengatakan bahwa ia mabuk berat dan tak mengingat apapun.
Naruto merasa ini sangat tidak adil. Saat ia bangun, Menma juga tetap bangun dan mengawasinya dari dalam. Bahkan terkadang Menma terus menyumpah-serapahinya, dan mentertawakannya. Hingga membuatnya harus berusaha keras mengabaikan suara itu. Sementara saat Menma mengambil alih tubuhnya, ia akan terus tertidur dan tak tahu apa yang sudah Menma lakukan. Dan hanya bangun, dan membereskannya.
Bip, bip, bip, bip, bip, bip. Clik!
Naruto memutar knop pintunya, dan berjalan memasuki apartemennya.
"Tadaima..." ucap Naruto pelan.
"Okaeri!" Naruto tersentak dan sontak saja mendongak dan menatap heran kearah apartemennya yang kini lampunya tengah menyala. Dan ia semakin terkejut saat menemukan sosok wanita yang tengah berdiri dengan wajah senang di depannya.
"Ino... apa ya─"
Setelah urusanku selesai, aku akan mengunjungimu.
"Sudah ingat kenapa aku disini?" tanya Ino seolah tahu apa yang baru saja melintas di kepala Naruto.
"Aku pikir kau bercanda." Ucap Naruto polos.
Ino tertawa, lalu menggeleng. "Seorang Yamanaka tidak pernah mengenal kata bercanda." Ucap Ino dengan menepuk dada bangga. "Ayo masuk. Aku sudah masak banyak makanan." Ucap Ino dengan menarik tangan Naruto. Dan membawa pria itu kearah dapur.
"Taaraaa!" Ino merentangkan kedua tangannya, dan membanggakan sajian makanan yang telah ia buat sendiri tadi sudah tertata rapi di meja makan.
Ada sayur-sayuran rebus, seafood, sup sapi, telur gulung dan tempura. Naruto mengalihkan pandangannya dari berbagai jenis makanan itu, lalu menatap Ino yang tengah nyengir dan menggaruk kepalanya.
"Ahahaha... ini pasti terlihat seperti kita tengah mengadakan pesta, ya?" ucap Ino. "Tapi, aku yakin kau bisa menghabiskannya." Ucap Ino. Lalu berjalan kearah Naruto, dan menarik sebuah kursi, lalu memaksa pria itu untuk duduk di sana.
Ino menyendok nasi pada mangkuk milik Naruto lalu menyodorkan pada pemuda itu. Lalu ia sendiri menyendok nasi untuk dirinya sendiri.
"Itadaikimasu!" seru Ino lalu menyuap nasi kedalam mulutnya.
Naruto menatap Ino yang sedang makan dengan lahap. Lalu tatapannya beralih pada nasi dihadapannya. Ia meraih sumpit di samping mangkuknya, lalu mulai menyumpit nasi miliknya dan memasukkannya kedalam mulut.
Ino yang tengah asyik makan itu menyempatkan diri untuk melirik kearah Naruto dan menemukan pria itu hanya makan nasi saja.
"Kenapa kau hanya memakan nasinya, coba juga lauknya." Ucap Ino sambil menyumpit tempura lalu menyodorkannya dihadapan Naruto. "Buka mulutmu." Perintah Ino. Naruto menatapnya ragu, lalu setelah itu membuka mulut. Dan dengan tanpa perasaan menyuapkan tempura itu sekaligus, hingga membuat Naruto tersedak. Naruto mengunyah tempura itu sambil menatap Ino yang tengah menahan tawa.
Saat tempura yang lumayan besar itu telah tertelan sempurna. Naruto segera meraih gelas air di sampingnya dan minum.
"Kenapa kau melakukannya? A-apa kau berniat membunuhku?" tanya Naruto.
Ino memutar bola mata, dan menatap Naruto. "Kau pikir aku akan menyuapimu dengan pelan dan wajah penuh kasih sayang seperti adegan drama?" tanya Ino. Yang diangguki Naruto. Membuat wajah Ino sontak Sweatdrop dibuatnya. "Aku bukan tipe gadis seperti itu. Dan kau tidak akan pernah melihatku melakukan itu, tanpa membuat orang yang ku suapi terhindar dari masuk ruang UGD."
"K-kenapa mereka sampai masuk ruang UGD?"
"Karena aku menyuapi mereka dengan Sup Ayam beserta tulang-tulangnya. Aku juga pernah menyuapi Yahiko-nii dengan Sushi yang tidak kupotong, dan langsung menyuapkannya secara utuh."
"Kau lebih terdengar seperti berniat membunuh orang, daripada menyenangkan mereka dengan masakanmu." Ucap Naruto dengan polosnya.
Ino tertawa. Lalu kembali memakan-makannya.
"Umm... ini enak. Sayang aku harus memuntahkannya."
"Kenapa kau memuntahkannya?"
"Aku tidak boleh membiarkan ada lemak dalam tubuhku. Biasanya aku sangat jarang makan malam seperti ini. Terlebih di jam yang sangat larut seperti ini."
"Apa dengan sekali makan kau akan langsung gemuk?"
"Lemak itu tertimbun perlahan-lahan, bahkan saat kau mengunyah permen."
"Jangan dimuntahkan." Ino berhenti mengunyah dan menatap Naruto. "Dibanding Ino yang kurus kering. Aku sepertinya akan lebih menyukai Ino yang sedikit berisi."
"Dan membuatku diledek sebagai babi."
"Tidak akan ada yang meledekmu seperti itu."
"Jika ada bagaimana?"
"... aku akan menyemangatimu." Ucap Naruto kemudian.
"Kau sangat lucu. Tapi... menakutkan saat mabuk." Ucap Ino sengaja memancing reaksi Naruto. Namun, Ino dibuat menyesal saat melihat wajah Naruto nampak berubah.
"Apapun yang terjadi pada kita saat aku mabuk... aku mohon maafkan aku." Ucap Naruto.
Ino mengibaskan tangannya, lalu tersenyum. "Jangan dipikirkan, lagipula saat kau mabuk kau hanya menciu─" Ino terdiam, dan secara perlahan wajahnya menghangat. Ino segera mengibas-ngibaskan tangannya dan memekik dengan suara kecil. Ia bahkan terlihat heboh sendiri. "Lupakan saja." Ucap Ino cepat, lalu kembali makan dengan 'dipaksa' lahap.
.
.
.
Ino memakai tasnya, lalu berjalan kearah Naruto yang sejak tadi menatapnya. "Aku akan pulang. Maaf ya, aku janjinya kita akan makan ramen dan Ice Cream. Tapi, aku tidak bisa membuatkannya. Karena takut masakanku tidak cocok dengan lidahmu. Mmmm... mungkin aku bisa mengunjungimu di akhir pekan. Nanti, kau yang masak ramen. Lalu kita akan memakannya sambil menonton film. Oke? Sampai jumpa. Selamat malam." Ucap Ino menepuk pundak Naruto. Lalu segera berlalu.
"Ino..." panggil Naruto. Ino menoleh dan menaikkan alisnya.
"Ya?"
"Ini sudah malam... menginaplah dulu. Besok aku akan mengantarmu."
"Eh?"
Menginap? Dengan Naruto? Tapi... bagaimana jika Menma muncul? Ah... itu sepertinya bagus. Aku bisa berusaha menjinakkannya. Tapi... ah!
"Bagaimana?" tanya Naruto yang memecah lamunan Ino.
"Mmm... baiklah. Lagipula, aku sendiri dirumah. Itu pasti akan menakutkan."
Naruto tersenyum.
"Aku akan tunjukkan kamarmu." Ucap Naruto dengan menggenggam tangan Ino lalu membawanya kearah sebuah kamar di samping kamarnya.
"Kau bisa menempati kamar ini untuk semalam."
"Wah.. terima kasih." Ino tersenyum dan berniat masuk. Namun, Naruto menahannya.
"Berjanjilah padaku..."
"Apa?"
"Jangan pernah biarkan kamar ini tertutup tanpa di kunci. Dan jangan keluar, sekali pun kau mendengar suara ketukan."
"Kenapa? Apa itu hantu? Apa di apartemen ini ada hantu?" tanya Ino dengan mata melebar. Naruto mengerjap. Namun kemudian mengangguk cepat.
"Y-ya. Itu hantu. Dan kau tidak akan suka jika melihatnya."
"Baiklah. Aku mengerti. Terima kasih, selamat malam." Ucap Ino lalu masuk dan segera menutup pintunya, dan menguncinya.
Naruto menatap pintu yang baru saja tertutup itu. Lalu menunduk. Dan berjalan pelan kearah kamarnya.
.
.
.
Klik!
Srashhh!
Dinding kaca itu menguap seiring dengan air hangat yang jatuh deras dari shower. Naruto memejamkan matanya, dan menikmati air hangat yang mengalir, membasahi seluruh tubuhnya.
Tubuhnya perlahan terasa ringan dan rileks. Dan rasa penat, dan lelahnya perlahan terangkat.
Tidakkah kau ingin membawa gadis itu kemari, dan mandi bersamamu? Bisakah kau bayangkan itu? Bisik Menma.
Mata Naruto yang semula terpejam, sontak saja terbuka saat mendengar ucapan Menma. Naruto mengacuhkannya. Dan segera mematikan air. Sepertinya ritual mandinya harus ia hentikan sekarang.
Tik.. tik... tik...
Naruto keluar dari bilik kaca yang di khususkan untuk mandi itu. Dan berjalan kearah wastafel dan meraih baju handuk yang tergantung di dekatnya, lalu memakainya ditubuh kekarnya yang masih meneteskan air.
Naruto meraih sikat gigi dan odol, lalu menyikat giginya dengan cepat. Setelah selesai, ia segera membilas sikat gigi itu, lalu berkumur-kumur.
Saat Naruto mendongak. Ia menemukan sosok bayangan di cerminnya tengah memasang ekspresi jahat. Naruto menarik nafas, lalu memasang wajah tenang.
"Kau mengacuhkanku?" Menma menyeringai, dan menatap Naruto tajam.
"Sekali pun kau tahu, kau tetap tidak bisa menutup mulutmu." Ucap Naruto mencoba datar.
"Tidakkah kau sadar, kau adalah orang yang sangat lemah dan naif? Aku tahu kau menginginkan gadis─aah.. wanita itu, maksudku."
"Ya. Tentu, aku memang menginginkannya. Tapi, aku menginginkannya untuk diriku, hanya diriku seorang. Dan aku tidak akan sudi membaginya, terlebih lagi denganmu."
Seringai Menma lenyap, berganti dengan tatapan tajam dan wajah yang sedikit menegang. Namun, ia segera merubah ekspresinya.
"Bagaimana bisa kau seyakin itu, bahwa dia akan menyukaimu? Sepertinya, dia lebih menyukai pria sensual sepertiku."
"Percaya diri sekali." Ucap Naruto. Lalu ia mendengus. "Asal kau tahu, aku bukan lagi Naruto yang lemah. Tidak lama lagi, aku akan bisa menyingkirkanmu."
"Aku tidak sabar untuk menyaksikan dirimu yang berusaha... lalu gagal." Ucap Menma dengan seringai.
"Kali ini... aku tidak akan gagal."
Menma menyeringai semakin lebar. "Kalau begitu aku hanya bisa mengatakan... Ganbatte-nee, Naruto-chan." Ucap Menma, sebelum kemudian menghilang. Menyisakan Naruto yang memandang bayangan dirinya dengan kosong.
"Aku... tidak akan gagal."
.
.
Tengah malam, Ino terbangun karena haus. Ia menatap kesekelilingnya, dan ingat bahwa ia tengah menginap di rumah Naruto.
Ino segera bangun, dan berjalan kearah pintu, dan membukanya. Ino berjalan pelan kearah dapur. Ia meraih gelas lalu menuang air kedalamnya.
"Ino..."
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Ino terbatuk, dan sontak saja berpaling. "M-m-maaf, aku tahu kau sudah memperingatkanku, tapi, tapi aku haus." Ucap Ino dengan wajah panik.
"Ino."
"Eh?" Ino mendongak dan sontak diam membeku saat melihat Naruto yang kini berdiri dibalik bayang-bayang.
Ini Naruto... atau hantu yang ia ceritakan?
"N-Naruto?"
"Menma... aku Menma." Ino terbelalak. Namun, setelah itu ia menatap datar kearah Menma. Lalu dengan segera meletakkan gelasnya. Dan berniat pergi.
Namun, tangannya lebih dulu di cekal. "Kenapa kau seperti ini?" tanya Menma dengan suara yang seperti menahan kemarahan.
"Seperti apa?" tanya Ino skeptis.
"Kau sangat bahagia, bahkan kau bersikap sangat baik pada Naruto. Tapi, kau bersikap jahat padaku. Kenapa kau seperti ini?! Bagaimana bisa kau bersikap tidak adil seperti ini?! Aku adalah pemilik asli tubuh ini. Apa kau sudah terpengaruh oleh sosok lain yang munafik itu? Apa kau justru berniat menghilangkanku dan tubuh asliku?!" tanya Menma dengan kemarahan yang tak bisa ia tahan lagi.
"Itu karena sisi dirimu yang lain, jauh lebih baik. Dan lebih pantas untuk bertahan. Itulah alasanku. Dan jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan. Aku mau tidur." Ucap Ino menepis tangan Menma.
"Kenapa kau lakukan ini padaku?" tanya Menma kembali mencengkeram tangan Ino.
"Lepaskan tanganku. Dan jangan pernah muncul dihadapanku lagi. Saat ini, orang yang selalu membayangi dan selalu ingin kutemui adalah Naruto." Ucap Ino lagi. Ino kembali menghempaskannya. Lalu pergi meninggalkan Menma.
Ino yang semula sudah berada cukup jauh dari Menma, sontak terdiam saat telinganya mendengar suara barang pecah.
"Kau ingin, agar aku tidak pernah muncul lagi dihadapanmu?" tubuh Ino menegang saat mendengar nada suara itu dari belakangnya. "Kalau begitu... baiklah. Aku akan pergi. Tapi, aku akan membawa Naruto pergi bersamaku." Ino menoleh dan menemukan Menma menggenggam sebuah pecahan kaca hingga telapak tangannya mengucurkan darah.
Ino berlari kearah Menma, dan menarik tangan pria itu. "Apa yang kau lakukan? Kau akan melukai Naruto." Ucap Ino, dan mencoba membuat Menma melepas pecahan itu. Menma mendorong tubuh Ino, hingga membuat wanita itu jatuh membentur meja counter. Ino meringis, dan dengan tubuh gemetar kembali berdiri dan berjalan kearah Menma. Ino menarik tangan Menma, sambil memukul-mukul tubuh pria itu.
"Naruto! Aku tahu kau mendengarku, bangun! Bangun sekarang! Kumohon!"
"Jangan sebut nama itu!"
"Aku tidak akan berhenti! Naruto!"
"Argh!" Menma mendorong tubuh Ino, dan membuat wanita itu kembali jatuh membentur meja, namun kali ini lebih keras, hingga membuat Ino hampir tak sadarkan diri. Namun, di sisa-sisa kesadarannya ia mencoba memanggil Naruto. Sebelum kemudian benar-benar jatuh pingsan.
"Argh!" Menma mencengkram kepalanya. "Kenapa? Aku baru saja bermain dengan tubuh ini. Berhentilah memaksa untuk keluar." Geram Menma. "Arrrggggg!" namun pada kenyataannya ia mulai kalah dengan perlawanan Naruto.
"Ah! Haahh... haah... haah..." Naruto membuka matanya dengan nafas terengah. Tangannya bergerak untuk menyentuh kepalanya. Namun, saat melihat Ino tengah tak sadarkan diri, ia segera berlari kearah Ino.
"Ino! Ino bangun! Ino..."
...
08:46
"Engh!"
"Ino...? Kau sudah sadar?" tanya Naruto. Ino menghela nafas dan membuka matanya. Ia menoleh, namun tak lama dahinya mengernyit menatap Naruto.
Mata itu... tatapan itu...
"Naruto...?"
"Syukurlah. Aku sangat cemas."
"Me─" Ino tersentak dan hampir menyebut nama Menma. Sementara Naruto terlihat diam menunggu Ino melanjutkan kata-katanya. "A-apa yang terjadi?"
"K-kau terpeleset." Ucap Naruto kikuk. Dengan mata yang enggan menatap Ino.
Pembohong yang buruk.
"Benar... kah?"
"I-iya... k-k-kau meng-mengira aku hantu, j-j-jadi kau... lari... d-d-dan terpeleset." Ucap Naruto semakin kikuk.
Ino menutup mulutnya, menahan tawa. Namun, rasa ingin tertawa itu sontak hilang saat melihat tangan Naruto yang masih berlumuran darah.
"Naruto... tanganmu." Naruto menatap Ino. Sebelum kemudian menatap tangannya.
"Ah.. ini... aku terkena pecahan kaca." Ucap Naruto pelan.
Ino menatap Naruto dengan pandangan sendu.
Aku tidak akan pernah memaafkanmu... Menma.
Ino segera bangun, lalu menarik tangan Naruto kepangkuannya. "Kau tidak boleh membiarkan sebuah luka menetap lama tanpa kau bersihkan. Atau kau akan terinfeksi." Ucap Ino pelan. Lalu segera bangun, dan menarik Naruto, membawa pria itu keluar dari kamar.
Ino menyuruh Naruto untuk berdiri disamping wastafel, sementara ia sendiri pergi kearah kotak P3K yang berada di atas tabung pemadam api.
Lalu membawanya kearah meja, dan meletakkannya di sana. Sementara Ia sendiri berjalan kembali kearah Naruto dengan obat antiseptik di tangannya.
Ino meraih sebuah mangkok, lalu mengisinya dengan air, yang ia beri antiseptik. Lalu membersihkan darah di tangan Naruto.
Ino terdiam saat melihat luka yang lumayan dalam di telapak tangan Naruto. Ino mendongak, dan memberikan Naruto senyum manis.
"Kau sangat hebat. Ini luka yang lumayan dalam, tapi, kau terlihat baik-baik saja." Ucap Ino.
Naruto yang mendengarnya sontak tersenyum dengan pipi yang sedikit bersemu. Melihat itu, Ino tak kuasa menahan senyum. Dan pada akhirnya ia tersenyum lebar kearah Naruto.
Jangan pernah mengira... badai sudah berlalu.
Naruto membeku saat mendengarnya. Dan perlahan matanya menyusuri seluruh tubuh Ino. Terdapat sebuah luka memar di tangan Ino, juga terdapat luka gores di betis dan pipinya. Dan yang paling membuat Naruto bersalah adalah pelipis wanita itu yang sedikit robek dan masih menyisakan noda darah.
Naruto meraih kapas, lalu mencelupkannya pada air antiseptik yang Ino buat untuk membasuh lukanya. Naruto mengulurkan tangannya, lalu mengusap luka di dahi Ino. Hingga membuat Wanita itu mendongak. Namun, Naruto tetap melakukan hal itu, lalu, ia menarik keluar tangannya dari genggaman Ino, padahal Ino tengah memakaikannya kain kasa, dan itu juga belum selesai. Naruto meraih sebuah plester. Lalu menempelkannya di dahi Ino.
Naruto, menurukan kedua tangannya, lalu meletakkannya pada kedua pipi Ino.
"Maafkan aku..."
"Naruto..."
"Aku akan mengantarmu pulang."
"Apa?" Naruto tidak bicara apapun, dan hanya menarik tangan Ino kearah ruang tamu, Naruto mengambil tas dan jaket Ino yang ditinggalkan gadis itu di sofa. Lalu menyerahkan pada Ino, dan kembali menarik wanita itu keluar.
Selama diperjalanan, Naruto hanya diam. Membuat Ino harus berpikir keras, kenapa Naruto berubah seperti ini.
Naruto menghentikan mobilnya tepat dipekarangan rumah Ino. Namun, ia tak kunjung berbicara. Merasa keadaan kurang mendukung. Ino memutuskan untuk segera keluar.
"Ino... kumohon... menjauhlah dariku."
"Buka─"
"Ini demi kebaikanmu."
Ino menggigit bibir bawahnya. Dan terdiam.
"Aku tidak mau." Ucap Ino bersikukuh. "Sekali lagi ku tegaskan padamu. Aku tidak mau menjauh darimu. Ingat, kita adalah teman. Teman tidak boleh saling menjauhi." Ino mendengus. Lalu keluar dari mobil.
TBC
