As usual, please kindly read my after notes .
.
.
.
Suasana musim dingin mulai menghiasi kota Manchester, jalanan mulai ditutupi salju dan carol song mulai terdengar. Hati Baekhyun berdegup kencang ketika Chanyeol mengiriminya foto tiket pesawat dari Korea ke Inggris. Lelaki itu benar-benar akan datang menemuinya. Wanita itu tidak tahu apa yang harus ia lakukan dalam tiga hari kunjungan Chanyeol ke Inggris. Ternyata ia akan ke Inggris sehari setelah natal karena ia ada acara di kesatuannya.
Jadi, kau benar-benar akan datang, Chanyeol-ssi?
Tak lama balasan datang.
Ya, tentu saja aku serius. Tiket sudah ada ditanganku, tinggal menunggu satu minggu lagi sebelum aku bisa menemuimu.
Baekhyun kemudian menggigit bibirnya, tiba-tiba jadi panik.
Apa aku perlu membuatkanmu sesuatu?
Tak perlu repot-repot, Baekhyun-ssi. Aku hanya perlu kau menjemputku di bandara dan kemudian menjadi tour guide pribadiku selama aku disana, bagaimana?
Baiklah kalau begitu. aku akan menjadi tour guidemu selama kau disini.
Tinggal tiga hari lagi sebelum Chanyeol datang, Baekhyun menjadi cemas akan penampilannya, ia juga semakin rajin untuk membersihkan apartemennya-takut jika Chanyeol akan berkunjung ke apartemennya.
Diana terus saja menggodanya tentang kunjungan 'pacar' Baekhyun, padahal wanita itu sudah menjelaskan kalau prajurit itu bukanlah kekasihnya. Baekhyun sendiri belum memastikan hubungan apa yang sedang ia jalani bersama Chanyeol.
"You are always blushing when I talk about that guy. Now your face looks red! Tomato girl", canda Diana.
"Oh, stop, please. My face's red 'cause the weather's so cold you know!", Baekhyun pun mengalihkan pandangannya kearah jalanan, pikirannya melayang jauh dan mulai berimajinasi dengan apa yang akan ia lakukan ketika Chanyeol ada di Inggris.
Apa ia harus membawa Chanyeol ke perpustakaan? Atau hanya sekedar ke cafe?
Haruskah ia mengajak lelaki itu ke apartemennya untuk makan malam?
.
Sedangkan Chanyeol sudah mulai menyiapkan segala kebutuhannya untuk ke Manchester. Saat ini ia sedang berada dirumah orang tuanya, koper berukuran sedang sudah terisi setengahnya ketika Yoora masuk ke kamar Chanyeol.
"Segalanya sudah siap?"
"Belum, aku tak tahu harus membawa apa lagi", jawab Chanyeol sembari mengedarkan pandangannya kearah lemari.
"Kau disana hanya tiga hari, belum lagi kau sedang sakit, apa kau yakin?" ujar Yoora cemas.
Chanyeol sebenarnya sedang demam dan flu karena ia ceroboh tak memakai pakaian hangat di cuaca sedingin Desember. Kemarin Chanyeol pulang dengan wajah pucat dan gemetar, langsung saja sang ibu merawatnya karena semua orang tahu tak ada yang bisa merawat Chanyeol jika ia dirumahnya sendiri.
"Aku sudah janji akan datang, mana mungkin aku batalkan", ujar Chanyeol kemudian ia melempar cengirannya pada Yoora yang hanya menatapnya datar.
"Aku tak yakin kau akan sehat-sehat saja disana, yang ada kau malah merepotkan Baekhyun kalau sampai demam lagi", komentar Yoora kemudian ia membantu Chanyeol melipat kemeja putih yang rencananya akan Chanyeol pakai.
Chanyeol menggelengkan kepalanya, "Kalau aku demam lagi, bukankah aku beruntung kalau Baekhyun bisa merawatku?" katanya sambil tertawa, Yoora kemudian melemparkan sandal rumahnya pada sang adik.
"Dasar ada maunya", hardik Yoora.
.
.
.
Hari pertemuan itu pun tiba.
Baekhyun sudah menunggu Chanyeol sejak 15 menit yang lalu. Saat ini ia sedang berada di bandara karena tugas seorang tour guide akan ia mulai dari bandara. Udara dingin seakan mencubit-cubit kulit Baekhyun, pipinya kini memerah karena frostbite, begitu juga hidungnya.
Byun Baekhyun dan musim dingin memang tak bisa berteman.
Wanita itu berdiri dengan sabar dan mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia tak menyangka bahwa Chanyeol akan benar-benar menemuinya di Inggris. Semalam Kyuhyun menelponnya dan menceramahi adiknya agar tak melakukan hal yang tidak-tidak selama temannya disana.
Baekhyun tersenyum mengingat perkataan yang dituturkan oleh kakaknya. Kyuhyun sungguh berlebihan. Lelaki itu selalu takut ketika adik kesayangannya ada rencana berkencan, namun untuk kasus Chanyeol yang memutuskan untuk menemuinya itu, Baekhyun agak sedikit heran. Tumben Kyuhyun tidak repot-repot ikut dengan Chanyeol, biasanya saja ia selalu mengikuti kencan-kencan yang dilakukan Baekhyun dan membuat wanita itu kesal setengah mati. Apa mungkin karena Chanyeol itu temannya?
Baekhyun mendecih, kakaknya terlalu pilih kasih bukan?
Jujur saja ia amat merindukan kakaknya yang menyebalkan itu, juga ayahnya yang selalu keras namun memanjakannya secara diam-diam. Ia juga merindukan ibunya yang sekarang ada di Jerman, beristirahat dengan tenang dalam damai. Baekhyun bahkan belum pernah bertemu dengan ibunya, namun Kyuhyun bilang kalau ia sangat mirip dengan sang ibu.
Setetes air mata membasahi pipi Baekhyun yang memerah, hari ini suasana hati Baekhyun memang sedikit suram. Itu semua berkat perbincangannya dengan sang ayah setelah ia mendapat ceramah dari Kyuhyun. Ayahnya sangat jarang menghubungi dirinya, ia tahu kalau ayahnya itu selalu meminta Kyuhyun untuk menghubunginya jika sang jendral mulai merasa rindu atau khawatir, namun semalam sangat berbeda. Ayahnya berbicara banyak tentang masa kecilnya. Mendengar suara sang ayah yang tampak bahagia ketika bercerita membuat perasaan rindunya membuncah, ia juga jadi ingin pergi ke Jerman untuk menemui sang ibunda.
Baekhyun pun buru-buru menghapus jejak air mata di pipinya ketika ada seseorang yang menepuk pundaknya. Ia jadi malu sendiri karena telah menangis di bandara seperti anak kecil.
"Baekhyun?", sapa orang itu.
"Yes?" jawab Baekhyun kemudian membalikkan badannya dan dipertemukan dengan sepasang mata coklat milik laki-laki yang Baekhyun yakini adalah Chanyeol. Lelaki itu memandanginya khawatir dan membuat wnita itu jadi salah tingkah ditatapi seperti itu. "Chanyeol-ssi?" tanya Baekhyun pelan.
Yang dipanggil hanya diam, kemudian menaruh koper yang ia pegang di sebelahnya.
"Kau tidak apa-apa, Baekhyun-ssi?"
Baekhyun dengan cepat mengangguk, tak ingin merusak suasana. "Ya, ya, aku baik-baik saja," katanya kemudian memberi senyuman terbaiknya pada Chanyeol. "Umm, selamat datang di Manchester!" ujar Baekhyun mencoba sebaik mungkin agar terdengar ceria.
Chanyeol kemudian tersenyum, "Terimakasih karena sudah menjemputku di bandara, padahal kau tak perlu melakukannya, Baekhyun-ssi"
Baekhyun jadi salah tingkah, apakah ia terlalu berlebihan jika sampai harus menjemput Chanyeol ke bandara? Lelaki itu pasti mengira kalau dirinya sangat bersemangat untuk pertemuan ini, pikir Baekhyun.
Wanita itu kemudian tersenyum kaku, "Uh, kupikir tour guide harus menjemput pelanggannya di bandara, ternyata tidak ya?" Baekhyun beralasan.
Sang prajurit kemudian tertawa, "Ahh, kau benar-benar tour guide yang baik kalau begitu," goda Chanyeol, "Kalau begitu, kita akan kemana?"
Malu-malu Baekhyun kemudian memberanikan diri untuk menatap Chanyeol, "Aku yakin kau lelah, untuk hari ini akan aku antar kau ke hotel tempat kau menginap dan mari kita makan malam lebih cepat agar kau bisa beristirahat, bagaimana?"
"Baiklah, ayo!"
.
.
.
Baekhyun mengajak Chanyeol makan di Platine Road, yaitu di Alexandros Greek Restaurant, salah satu tempat makan yang sering ia kunjungi ketika ia bersama teman-temannya atau dengan Sehun.
Saat mereka masuk, suasana restaurant tidak terlalu ramai. Terlihat beberapa pasangan juga sekelompok orang yang sedang mengobrol heboh.
Mereka berdua duduk didekat jendela agar bisa menikmati suasana malam dan menyibukkan diri dengan pikirannya masing-masing. Selama perjalanan mereka tak banyak bicara, hanya Baekhyun sesekali memberitahu Chanyeol tentang jalan dan hal-hal kecil lainnya.
"Aku suka suasananya," komentar Chanyeol untuk membuka percakapan karena ia sedikit tidak nyaman dengan kecanggungan yang terjadi diantara mereka.
Baekhyun kemudian mengalihkan perhatiannya pada Chanyeol, "Benarkah? Baguslah kalau begitu, aku jadi lega," katanya sambil tersenyum. "Aku lumayan sering kesini dan aku langsung suka makanan yang dijual disini, semoga kau juga suka."
"Beruntungnya kau bisa makan makanan enak setiap saat."
"Memangnya kenapa?"
Akhirnya mata biru itu menatapnya lagi. Di bandara tadi Chanyeol tak bisa dengan jelas menatap mata biru itu, diperjalanan juga begitu karena Baekhyun selalu mengalihkan pandangannya ke lain arah. Baekhyun sangat cantik walaupun hanya diterangi lampu yang tidak begitu terang. Pipinya yang memerah karena dingin terlihat menggemaskan namun yang paling membuat Chanyeol bahagia adalah jemari Baekhyun yang dihiasi oleh cincin pemberiannya.
"Cincin sederhana itu terlihat mewah saat kau yang pakai, Baekhyun-ssi", ujar Chanyeol mengalihkan pembicaraan.
Baekhyun kemudian menyembunyikan tangannya dibawah meja, pipinya semakin memerah karena perkataan Chanyeol.
"Ah, kenapa kau mengalihkan pembicaraan." Protes Baekhyun kemudian ia cemberut.
Chanyeol senang karena ia bisa mencairkan suasana, ia senang ketika melihat ekspresi Baekhyun yang marah atau kesal, makan malam pun terasa lebih hangat dengan celotehan Baekhyun yang malu-malu namun tak henti berkicau.
Chanyeol belajar bahwa Baekhyun harus diberi suatu penyengat agar ia bisa melepas kecanggungannya.
.
.
Mereka tengah berjalan kearah apartemen Baekhyun yang tak jauh dari restauran tempat mereka makan malam. Chanyeol bersikeras ingin mengantar Baekhyun pulang karena sudah terlalu malam.
Berdampingan mereka berjalan dengan jarak yang aman. Keduanya memasukkan tangan mereka kedalam saku mantel tebal yang tengah mereka pakai. Sang prajurit sebenarnya ingin memegang tangan Baekhyun namun ia tak mau terburu-buru untuk itu, ia ingin semua berjalan apa adanya dan ia juga tak mau membuat wanita itu tak nyaman.
"Hanya tiga hari di Inggris, apa setelah itu ada pekerjaan yang menunggumu?" tanya Baekhyun.
"Ya, ada, aku harus pergi ke perbatasan untuk beberapa minggu. Kenapa?"
Baekhyun tersenyum, ia sudah biasa mendengar hal-hal seperti itu. "Berarti setelah kau kembali ke Korea kau tak bisa menghubungiku?" tanya Baekhyun tanpa dosa, tidak sadar perkataannya itu sukses membuat Chanyeol ingin menggoda dia lagi.
Chanyeol kemudian tersenyum jahil, "Oooo, memangnya kau ingin aku menghubungimu terus? Setiap jam?" goda Chanyeol.
Baekhyun kemudian memukul lengan Chanyeol pelan, "Lupakan! Kau terus saja menggodaku, entah apa karena kau tertular kakakku atau kakakku yang tertular darimu, yang pasti kalian sama saja."
Chanyeol kemudian terkekeh, "Kyuhyun yang menulariku, percayalah."
Wanita itu kemudian mendecih, mereka berdua sudah sampai didepan gerbang apartemen dan kemudian Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan seorang ibu yang khawatir akan kenakalan anaknya. "Kalian berdua berhentilah bermain-main dan menggoda wanita-wanita, itu lah kenapa kalian tak cepat-cepat punya pendamping hidup," ujar Baekhyun.
Chanyeol kemudian menaikkan sebelah alisnya mendengar perkataan wanita yang pipinya memerah karena dingin dihadapannya itu. "Permisi, tapi aku sudah dapat calon pendamping hidup," katanya dengan nada sombong.
Baekhyun jadi salah tingkah. Apa yang dimaksud Chanyeol adalah dirinya? Jadi, Chanyeol menganggapnya sebagai tunangan atau apa? Baekhyun butuh kepastian sekarang juga karena ia sudah sangat penasaran sejak tiga bulan yang lalu. "Jadi..." katanya pelan, "Jadi, kau dan aku adalah...", Baekhyun menggantung kalimatnya karena ia ingin Chanyeol yang meneruskan.
Chanyeol hanya terkekeh, ia tahu sebenarnya maksud Baekhyun namun ia hanya tertawa pelan. "Sudah malam dan kau kedinginan, cepat masuk."
Baekhyun kemudian menatap Chanyeol kesal karena lelaki itu tak memberi kejelasan. "Menyebalkan." Gerutu Baekhyun kemudian berjalan cepat menuju apartemennya dan meninggalkan Chanyeol yang hanya bisa tertawa.
"Selamat natal, Baekhyun" bisik Chanyeol kemudian ketika Baekhyun sudah tak terlihat.
.
Keesokkan harinya cuaca benar-benar tak mendukung mereka untuk pergi berjalan-jalan keluar. Akhirnya Baekhyun mengundang Chanyeol untuk datang ke apartemennya karena Chanyeol tak mengizinkan Baekhyun untuk keluar.
"Uh, bagaimana kalau hari ini kita pergi ke—"
"Jangan, cuaca hari ini sedang tidak baik," potong Chanyeol diseberang telepon.
"Lalu bagaimana? Aku tak ingin kau hanya berdiam diri di hotel," ujar Baekhyun sedih. "Aku kan sudah janji mau mengajakmu jalan-jalan."
"Terlalu berbahaya jika hari inikita pergi jal—"
"Ah! Kalau kau tak memperbolehkanku pergi kau saja yang datang kesini, bagaimana?"
"Maksudmu ke apartemenmu?" tanya Chanyeol sedikit terkejut dan jauh dalam benaknya ia teringat Kyuhyun yang pasti akan marah jika ia mengunjungi apartemen adiknya.
"Ya, aku akan memasakkan makan siang untukmu," ujar Baekhyun senang, namun Chanyeol tak menjawabnya. "Chanyeol-ssi? Bagaimana?"
"B-Baiklah, aku akan kesana."
.
.
.
Baekhyun sedang memotong-motong sayuran untuk makan siang ketika Chanyeol sampai. Ia buru-buru membuka pintu apartemennya dan menyuruh lelaki itu masuk.
"Aduh, maafkan aku, kau pasti kesulitan untuk sampai kesini ya." Ujar Baekhyun panik kemudian ia buru-buru menyuruh Chanyeol duduk dan mengambil teh hangat didapur. "Ayo, cepat diminum. Aku tak ingin kau sakit." Baekhyun pun kemudian berdiri lagi dan mengambil selimut bercorak zebra dilemari dan memberikannya pada Chanyeol.
Sang prajurit hanya tersenyum karena ia merasa baik-baik saja namun Baekhyun begitu khawatir padanya.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Baekhyun tak suka.
Chanyeol menggeleng, "Aku tidak apa-apa, Baekhyun-ssi, jangan terlalu khawatir." Jelas Chanyeol.
"Tidak apa-apa? Kau pucat, apa tak terpikir olehmu untuk membeli payung?" tanya Baekhyun kesal.
"Kupikir aku tak akan sampai sebasah ini," elak Chanyeol padahal ia sendiri baru terpikir akan hal itu.
Baekhyun kemudian menghela nafasnya. "See, inilah kenapa aku lebih suka musim panas dibanding musim dingin." Ujar Baekhyun kemudian ia membantu Chanyeol melepaskan mantelnya yang basah dan membawanya untuk dikeringkan dan melanjutkan acara masak-masaknya.
Chanyeol melihat kesekelilingnya, apartemen Baekhyun sangat rapi, wangi dan juga hangat. Foto-foto dirinya dan teman-temannya terpajang di suatu papan seperti majalah dinding. Chanyeol berdiri untuk melihat papan yang berisi sticky notes dan foto-foto itu. Senyum lembut menghiasi wajahnya melihat isi dari memo-memo yang Baekhyun tulis. Foto-foto yang ia tempel juga kebanyakan adalah foto ketika ia dan teman-temannya berlibur, Baekhyun terlihat sangat bahagia dan berpose konyol sampai Chanyeol harus meyakinkan diri kalau itu benar-benar Baekhyun yang ia tahu. Lalu ada satu foto dimana Baekhyun sedang bersama dengan seorang laki-laki yang kelihatannya dekat dengan wanita itu. Terlihat Baekhyun ada di punggung lelaki itu dan berpose menunjukkan senyumnya yang manis dan tanda 'V' ditangannya.
Chanyeol mengerutkan keningnya, penasaran dengan siapa yang ada difoto itu.
"Baekhyun-ssi?" panggil Chanyeol.
Baekhyun yang sedang meneruskan kegiatan memasaknya hanya bergumam, "Hm?"
"Kalau aku boleh bertanya, siapa laki-laki di foto ini?" tanya Chanyeol.
"Yang mana?" ujar Baekhyun lagi, masih berkonsentrasi dengan masakannya.
"Yang menggendongmu di punggungnya," Chanyeol mencoba mendeskripsikan.
Baekhyun tersenyum, "Itu Kak Sehun, teman kakakku dan juga temanku pastinya. Dia juga tetanggaku di Korea," jelas Baekhyun lalu ia mengalihkan perhatiannya pada Chanyeol yang masih memandangi memonya. "Kenapa?"
Chanyeol menggeleng kemudian menghampiri Baekhyun didapur, dengan selimut yang Baekhyun berikan padanya tentunya.
Ia duduk di meja makan untuk empat orang milik Baekhyun dan memperhatikan si cantik memasak. Chanyeol heran, bahkan tanpa make up dan tatanan rambut Baekhyun masih terlihat menarik dimatanya. Dengan sweater pink dan celana jeans semata kaki saja Baekhyun tampak menawan. Rambutnya diikat keatas, suatu kelemahan Chanyeol ketika Baekhyun melakukannya.
"Kau suka memasak ya?" tanya Chanyeol tiba-tiba.
Baekhyun tertawa kemudian mengaduk sup yang ia buat, "Tidak juga, lebih karena tuntutan makanya aku setidaknya tahu cara memasak." Jelas Baekhyun kemudian mematikan kompor dan mengambil mangkuk untuk sup.
"Tuntutan?" tanya Chanyeol lagi.
"Ya, tuntutan. Aku tinggal di Inggris sudah dua tahun dan belum pulang ke Korea karena aku selalu mengambil semester pendek agar aku cepat menyelesaikan kuliahku, makanya aku harus belajar memasak untuk diriku sendiri, kalau aku terus-terusan membeli makanan diluar tentu merugikan kesehatan, makanya aku belajar memasak." Jawab Baekhyun dan menaruh mangkuk sup di meja makan.
Lalu ia kembali kedapur dan sibuk menyiapkan makanan lain yang sudah ia siapkan.
"Padahal aku sama sekali tidak bisa masak saat aku di Korea. Betapa menyesalnya aku ketika aku tahu kalau memasak itu menyenangkan." Baekhyun kemudian tersneyum dan membuka celemeknya yang lucu dan bergambar strawberry kemudian duduk dihadapan Chanyeol.
"Ayo makan, selagi hangat," ajaknya.
Chanyeol kemudian mencicipi sup buatan Baekhyun dan sang wanita memperhatikannya dengan gugup. "Bagaimana?" tanya Baekhyun.
Chanyeol kemudian menatap Baekhyun dengan tatapan meminta maaf dan membuat wanita itu resah.
"Asin..." katanya jujur kemudian meminum air putih yang sudah Baekhyun siapkan.
Baekhyun kemudian menaruh sendok yang sedang ia pegang dan menutupi wajahnya karena malu. "Ah, memalukan sekali," katanya sambil menutupi pipinya yang memerah. Wanita itu pun segera berdiri, dan mencoba mengambil mangkuk sup yang ada di hadapan Chanyeol namun lelaki itu tak mengizinkannya.
"Mau dibawa kemana makananku?" tanya Chanyeol.
Baekhyun berkedip, "Dibuang?" katanya ragu.
"No, aku akan memakannya. Aku pernah makan makanan yang lebih asin dari ini," ujar Chanyeol kemudian menyeringai menyebalkan dimata Baekhyun. Ya, Chanyeol pernah merasakan yang lebih asin, yaitu berenang di laut.
Dengan lemas Baekhyun pun duduk kembali dan memakan makanan lain. Sesekali ia memperhatikan Chanyeol berjuang dengan supnya yang asin dan dalam hati Baekhyun meleleh karena perilaku lelaki itu.
Selesai makan, mereka duduk di sofa ruang tengah dan berencana untuk menonton film superhero dari komik Marvel. Ternyata mereka berdua menyukai film yang diangkat dari komik tersebut.
"Aku suka ketika Tony Stark sedang berkonsentrasi membuat penemuan-penemuannya." Ujar Baekhyun ketika ia kembali dari dapur untuk mengambil kue dan teh hangat.
"Aku justru lebih suka Captain America," komentar Chanyeol.
Baekhyun kemudian tertawa, "Apa karena kau tentara?" tanya Baekhyun kemudian ia duduk di samping Chanyeol dengan jarak yang aman tentunya.
Chanyeol terkekeh, "Mungkin, namun sepertinya lebih dari itu," jawab Chanyeol dan kemudian ia bersin-bersin.
Sejak tadi Chanyeol jadi bersin-bersin terus, Baekhyun jadi khawatir dan meminta Chanyeol untuk memimum obat, namun lelaki itu tak mau.
"Kau yakin tidak mau minum obat, karena sepertinya kau flu," tanya Baekhyun lagi.
Chanyeol menggeleng dan melanjutkan menonton film.
Ditengah-tengah Baekhyun menengok kearah Chanyeol yang memijat-mijat pelipisnya. Dalam benak Baekhyun ia yakin kalau Chanyeol itu sakit. Ia jadi merasa bersalah karena mengundang Chanyeol ke apartemennya di cuaca seperti hari ini. Ia khawatir namun Chanyeol akan selalu bilang ia tidak apa-apa kalau Baekhyun menawarinya obat.
Setelah film selesai Chanyeol sudah tertidur. Kakinya yang panjang menjulur di sofa -yang bisa dijadikan tempat tidur- tempat mereka duduk berdampingan. Kepalanya terkulai lemah kesamping dengan selimut menutupi leher sampai perutnya.
Perlahan Baekhyun mendekati Chanyeol, memegang dahinya dan benar dugaannya, lelaki itu memang sakit. Sejak ia melihat Chanyeol dibandara memang lelaki itu terlihat tidak sehat juga ketika makan malam di Alexandros Greek, lelaki itu terlihat kurang nafsu makan.
Apa semua tentara selalu menutup-nutupi keadaannya? Kyuhyun juga selalu bilang ia tidak apa-apa padahal Baekhyun tahu kalau kakaknya itu sedang sakit, baru ketika sudah parah dan drop, kakaknya hanya bisa diam mendengarkan omelan Baekhyun tentang menjaga kesehatan.
Chanyeol tak bergerak sedikit pun ketika Baekhyun memegang dahinya. Segera wanita itu memberikan selimut yang ia pakai untuk menutupi tubuh besar Chanyeol dan mengambil kompres penurun panas serta obat yang ia punya.
Pengalaman merawat ayah dan kakaknya ketika mereka demam memang berguna.
Lelaki itu membuka matanya ketika Baekhyun baru saja akan menempelkan kompres ke dahinya yang panas. "Baekhyun-ssi..." bisik Chanyeol.
"Ssssh, kau demam. Apa kau sedang sakit ketika kau datang kesini?" tanya Baekhyun sambil menyiapkan obat yang harus Chanyeol minum.
Chanyeol mengangguk pelan kemudian nyengir lemah, "Aku baru sembuh," akhirnya lelaki itu mengakui.
Baekhyun menghela nafas, "Pantas saja. Jet lag, lalu sengaja keluar saat salju turun lebat, tentu saja kau sakit lagi," katanya kemudian memberikan obat pada Chanyeol.
Chanyeol tak punya pilihan selain meminum obat dan menuruti perkataan Baekhyun untuk istirahat. "Aku akan membangunkanmu ketika makan malam nanti, sekarang kau harus tidur." Katanya lembut sembari merapikan selimut yang Chanyeol pakai.
.
.
Baekhyun memperhatikan Chanyeol yang tertidur pulas. Saat seperti ini ia jadi semakin merindukan kakak dan ayahnya di Korea. Ketika Kyuhyun sakit kakaknya itu akan berubah menjadi sangat manja bahkan terkadang membuat Baekhyun kesal.
Wanita itu kemudian melanjutkan membaca jurnal yang sedang ia teliti untuk bahan referensi tugasnya namun ia tak bisa karena ia terus saja memikirkan Korea. Apa mungkin karena ia melihat seorang yang baru datang dari Korea dan lusa akan kembali lagi ia jadi merindukan Korea, Baekhyun tak tahu. Ia rindu segalanya yang ada disana. Ia ingin berjalan-jalan di Hongdae dan bersepeda di tepi sungai Han. Ia pun ingin pergi ke Jeju dan memetik buah jeruk secara langsung dan membawanya pulang untuk ia makan sendiri. Rindu itu tak bisa terpuaskan dengan hanya melihat foto-foto saja. Ia rindu suasana makan malam bersama ayah dan kakaknya dengan masakan bibi Kang yang sangat menggugah selera.
Baekhyun ingin pulang...
Terlarut dalam lamunan, sang calon psikolog itu baru sadar ada panggilan masuk.
Itu dari Kyuhyun.
Ia pun segera mengangkat teleponnya dan berjalan menuju dapur agar ia tak mengganggu tidur pasien dadakannya.
"Halo"
"Baek! Bagaimana keadaanmu?" tanya Kyuhyun.
Baekhyun menyeringai, kakaknya ini pasti ingin mengetahui soal Chanyeol bukan tentangnya.
"Aku baik-baik saja, Kak!" jawab Baekhyun ceria.
"Syukurlah. Apa kau sedang bersama Chanyeol? Apa yang kalian lakukan sekarang?"
BINGO, benarkan tebakan Baekhyun.
"Ya, Chanyeol-ssi sedang bersamaku. Ia sedang tidur di apartemenku sekarang"
"Apa?! Baek, aku kan sudah bilang jangan membawa dia ke apartemenmu"
Baekhyun kemudian mencoba memberi pengertian kepada kakaknya yang kelewat kaget dan pada akhirnya Kyuhyun mengerti. "Jadi, jangan salahkan Chanyeol-ssi kalau ia sakit dan salju turun dengan lebat diluar."
"Ya, aku mengerti, tolong jaga dirimu baik-baik dan juga jaga temanku yang lemah itu." Ujar Kyuhyun dengan nada bercanda.
"Siap, boss!"
.
.
.
Baekhyun membuatkan bubur untuk Chanyeol untuk makan malam. Demamnya sudah sedikit turun, dan wanita itu lega karenanya.
Chanyeol memakan bubur itu dengan perlahan namun Baekhyun jadi gemas sendiri melihatnya dan memutuskan untuk menyuapi yang sedang sakit.
"Aku penasaran, apakah ketika kau dinas di luar negeri atau di luar kota ada yang bisa merawatmu ketika sakit? Karena kulihat kau tidak bisa merawat diri sendiri ketika sakit." Tanya Baekhyun.
"Ada, tentu saja ketika aku bertugas di luar, ada tenaga medis yang siap siaga merawat, dan biasanya mereka sangat cantik," ujar Chanyeol tanpa dosa.
Baekhyun mendecih kemudian kembali menyuapi Chanyeol, "Kau ini."
Chanyeol tersenyum karena berhasil menggoda Baekhyun lagi. "Oh ya, besok aku ingin ke London, maukah kau mengantarku kesana?" tanya Chanyeol.
Baekhyun mengangkat alisnya, "London? Eiy, sembuh saja belum kau mau memintaku mengantarmu ke London?" ejeknya.
"Aku yakin kalau kau yang merawat, besok aku akan sembuh."
Pipi Baekhyun memerah, lelaki ini memang pandai berkata-kata dan cengirannya itu membuat Baekhyun kesal. Kesal dalam artian yang bagus.
"Kita bisa naik kereta atau bus untuk pergi ke London." Jelas Baekhyun mengalihkan pembicaraan.
"Mana yang lebih cepat?" tanya Chanyeol basa-basi.
"Tentu saja kereta, hanya perlu 2 jam untuk sampai ke London dengan kereta."
"Benarkah? Kalau dengan bus?"
"Umm, bisa 5-6 jam baru bisa sampai ke London."
Chanyeol mengangguk, "Kalau begitu kita pakai kereta saja"
.
.
.
Chanyeol sudah baikkan keesokkan harinya dan ia pamit untuk kembali ke hotel untuk mandi.
Baekhyun memberinya payung agar ia tak sakit lagi dan akan menunggu Chanyeol menjemputnya untuk pergi ke London.
"Bersiap-siaplah, karena hari ini adalah kencan kita yang pertama" ujar Chanyeol tadi sebelum ia meninggalkan apartemennya.
Setelah lelaki itu pergi, Baekhyun buru-buru menyiapkan air hangat untuk ia mandi. Bagaimana pun juga hari ini adalah hari terakhir Chanyeol ada di Inggris, dan juga 'kencan' yang pertama untuk mereka.
.
Chanyeol baru saja selesai membereskan barang-barangnya yang ada di hotel karena ia mengambil penerbangan pertama untuk kembali ke Korea. Dalam hati ia masih ingin tetap di Inggris, menghabiskan waktu dengan Baekhyun dan menjadi lebih dekat dengannya.
Mengingat kemarin Baekhyun sudah merawatnya, perasaan sayang itu makin bertambah dan berkumpul dihatinya yang sudah lama tak berpenghuni. Sentuhan Baekhyun sangatlah lembut. Cara ia memberi perhatian padanya juga membuat dirinya hangat. Ia tahu sekarang kalau Baekhyun tipikal orang yang cepat khawatir akan banyak hal.
Contohnya ketika ia batuk, wanita itu akan langsung mengalihkan perhatiannya pada Chanyeol dan menanyakan keadaannya. Lalu ketika makan, Baekhyun khawatir jika makanannya terlalu panas padahal tidak.
Ia segera menuju kamar mandi karena hari sudah siang, ia tak mau menghabiskan banyak waktu agar ia bisa segera pergi ke London bersama Baekhyun.
Dengan kemeja putih dan long coat hitam, Chanyeol pun kemudian meninggalkan hotel untuk menjemput 'kekasihnya' untuk kencan pertama di bulan Desember yang dingin.
Baekhyun baru saja mandi dan dengan segera memakai pakaiannya yang ia pilih. Udara terlalu dingin maka ia memutuskan untuk menggunakan turtle neck hitam serta maxi dress warna cream diatas mata kaki dan long coat hitam untuk melindunginya dari dingin. Ia juga dengan sengaja merias wajahnya, tak berlebihan namun sedikit berbeda dari Baekhyun yang biasanya.
"Apa aku harus memakai lipstick merah ini?" bisik Baekhyun pada dirinya sendiri. Dengan helaan nafas, ia pun memutuskan untuk memakai lipstick merah yang ia punya namun tak pernah ia pakai itu.
Sudah jam 2 siang, Baekhyun sudah siap dengan rencana kencan mereka itu. Ia melihat pantulan wajahnya di cermin kemudian cemberut karena bibirnya yang merah terlihat berlebihan. "Ah, aku harus menghapus ini." Putusnya.
Baru saja ia mau mengambil tissue untuk menghapus lipstick merahnya, ia dikejutkan dengan seseorang yang menyalakan bel dan itu adalah Chanyeol.
Ketika Baekhyun membuka pintu, ia terpesona melihat Chanyeol yang terlihat lebih tampan dari hari-hari kemarin. Tissue yang tadinya akan ia pakai untuk menghapus riasan bibirnya, kini ia remas karena Chanyeol.
"Sudah siap untuk kencan, Nona?" tanya Chanyeol penuh canda.
Baekhyun kemudian tersenyum, menuruti permainan Chanyeol. "Tentu saja, tunggu sebentar aku akan mengambil tasku."
.
.
Ketika mereka sampai di stasiun, Chanyeol membeli dua tiket menuju London.
"Kereta akan berangkat 5 menit lagi, untung saja kita sampai disini sekarang," ujar Chanyeol lega.
Baekhyun tersenyum, "Kalau kita kehabisan tiket kereta, kan bisa menunggu untuk keberangkatan selanjutnya."
Chanyeol kemudian menggeleng, "...atau kita bisa naik bus saja, ya kan? 5 jam perjalanan pasti akan menyenangkan."
Didalam kereta mereka duduk berdampingan. Baekhyun duduk didekat jendela karena ia ingin menikmati pemandangan. Siapalah Chanyeol, ia hanya bisa menuruti kemauan wanita itu. Keduanya duduk di tempat duduk paling berlakang gerbong.
Baekhyun memaksa Chanyeol untuk mendengarkan musik bersamanya, kemudian mereka menyanyi dengan pelan bersama-sama. Wanita itu memang penuh dengan energi, dan ia juga bisa menyumbangkan energi itu pada orang yang ada disekitarnya. Baekhyun dengan senang menggerak-gerakkan tangannya seakan-akan ia adalah seorang penyanyi yang sedang mengadakan konser.
"I got all I need when I got you and I," Baekhyun menanyikan lirik lagu itu kemudian Chanyeol tersenyum lebar melihat wanita itu terlihat begitu menghayati konsernya. "I look around me and see sweet life¬!"
Chanyeol terkekeh pelan kemudian mengambil kamera yang ia bawa. Ketika lensa kamera itu dihadapkan pada Baekhyun, wanita itu kemudian berpose lucu dengan memejamkan matanya erat-erat dan menaruh kedua tangannya dipipi.
Bukannya mengambil foto, dibalik lensa Chanyeol terdiam dan mencoba menenangkan dirinya sendiri agar ia tak mencubit Baekhyun saat itu juga.
Lagu-lagu berikutnya Baekhyun masih bersenandung pelan sambil memperhatikan pemandangan diluar. Chanyeol menoleh kearah Baekhyun dan membiarkan dirinya terpesona oleh wajah Baekhyun walaupun dari samping. Bulu matanya yang lentik menambah keindahan mata biru laut itu. Pipinya juga tembam menggemaskan dan bibirnya yang memang merah ditegaskan dengan lipstick merah.
Terdengar Aerosmith dengan I Don't Wanna Miss A Thing terputar.
I don't wanna close my eyes
I don't wanna fall asleep
Cause I'll miss you babe
And I don't wanna miss a thing
Dalam hati Chanyeol setuju dengan lirik itu, kenapa begitu pas dengan keadaannya saat ini.
Mulai sekarang lagu itu akan menjadi favoritenya, terimakasih Baekhyun, putus Chanyeol.
Setengah perjalanan, Baekhyun meminta izin untuk melihat-lihat foto yang sudah Chanyeol ambil. Hatinya tertegun ketika isi dari kameranya itu semua adalah wajah dirinya. Dalam satu pose, lelaki itu mengambil banyak gambar. Ada satu foto dimana ia sedang menatap lurus kedepan kamera dengan ekspresi polosnya dan Baekhyun jadi malu akan hal itu.
"Duh, wajahku." Komentar Baekhyun.
Chanyeol kemudian melihat foto yang dimaksud Baekhyun dan tertawa, "Kenapa? Kupikir yang itu lucu. Lihat pipimu sedikit offside –gemuk-, seperti hamster."
Baekhyun kemudian memukul lengan Chanyeol pelan. "Jahat! Padahal aku sudah diet namun aku tak bisa merubah pipi ini." Keluh Baekhyun.
Chanyeol kemudian mengerutkan keningnya, tidak suka jika Baekhyun diet. "Kenapa diet? Kau cantik dengan pipi itu."
Baekhyun jadi malu sendiri dipuji seperti itu kemudian menyembunyikan itu dengan iseng mengambil foto Chanyeol.
.
.
.
Setelah sampai di London, mereka memutuskan untuk pergi ke London Eye. Baekhyun belum pernah kesana, ia takut ketinggian.
"Wah, indah sekali," komentar Baekhyun dengan tangan gemetaran. Chanyeol mengetahui itu dan meraih tangan Baekhyun. Memegangnya erat dan wanita itu sedikit lega dan malu karena akhirnya lelaki itu memegang tangannya untuk pertama kali.
Mereka pun bertukar senyum. Seakan Baekhyun mengucapkan terimakasih dan Chanyeol bilang sama-sama.
Setelah itu mereka pergi ke Tower Bridge dan Chanyeol banyak mengambil foto Baekhyun lagi.
"Chanyeol-ssi! Kau kan bukan fotografer, berhenti mengambil fotoku tanpa izin," canda Baekhyun. "Berikan kamera itu padaku, sekarang giliranku untuk menjadi fotografer" katanya riang.
Baekhyun dengan senang mengambil beberapa gambar Chanyeol dan meminta pengunjung untuk mengambil foto untuk mereka berdua. Masih tampak kaku, Chanyeol melingkarkan tangannya di pinggang Baekhyun dan wanita itu tak kalah kakunya menyandarkan kepalanya di dada bidang sang prajurit. Setelah selesai, mereka pun buru-buru melepaskan diri dari yang lain. Kemudian mengecek foto tersebut dan tertawa melihat ekspresi kaku keduanya.
Hari mulai malam, dan Chanyeol mengajak Baekhyun berjalan-jalan disekitaran sungai Thames dan memutuskan makan malam disana karena ia hampir lupa jika keduanya belum makan.
Tanpa mempedulikan 'diet'nya Baekhyun makan dengan lahap, membuat Chanyeol tersenyum kemudian jadi ikut bernafsu makan melihat Baekhyun seperti itu. Baekhyun banyak bercerita tentang pengalamannya ketika menjadi relawan saat ia di Korea.
"Pernah aku menemukan seorang anak yang masih muda tapi sudah harus membiayai kehidupan keluarganya, tentu saja banyak sekali tekanan yang ia rasakan. Bahkan ia tak bisa bersekolah." Ujar Baekhyun sedih.
"Ada juga anak-anak kesepian karena orangtuanya sangat sibuk sampai-sampai ia mencari kesenangan lain diluar dan itu cukup menyedihkan karena ia memilih untuk mabuk sebagai jalan keluarnya."
Chanyeol hanya mendengarkan Baekhyun bercerita, wanita itu memang bawel namun Chanyeol suka mendengarkan suara Baekhyun. Bagai seorang ibu yang sedang mendogeng.
Sayup-sayup terdengar lagu All Of Me yang diputar oleh pemilik restaurant tempat mereka makan.
Kenapa lagu-lagu cinta yang ia dengar hari ini terasa begitu pas. Semua seakan menjelaskan keadaannya saat ini ketika ia tergila-gila akan Baekhyun.
Pada awalnya Chanyeol pikir ia tertarik pada Baekhyun karena rupanya yang menawan namun tiga hari bersama wanita itu sudah merubah segalanya. Ia mencintai Baekhyun lebih dari karena itu.
Lagu cinta mana lagi yang akan ia dengar dan tiba-tiba menjadi favoritenya.
Setelah makan malam, mereka pun berjalan-jalan di pinggir sungai Thames. Lampu-lampu malam yang indah menerangi jalanan dan keduanya berjalan berdampingan dengan tangan masing-masing ada di samping, terkadang bersentuhan dan membuat keduanya gugup.
Chanyeol memberanikan diri untuk menggandeng tangan Baekhyun dan berbagi kehangatan bersama. Baekhyun dengan ragu juga ikut menggenggam tangan lelaki itu dan diam-diam tersenyum.
"Apa kau mengambil psikologi klinis saat ini?" tanya Chanyeol memecah kecanggungan.
"Ya, aku mengambil psikologi klinis, jadi aku bisa bekerja dirumah sakit dan membantu dokter."
Chanyeol mengangguk mengerti, " Uh, berapa lama lagi kau akan menyelesaikan kuliahmu?" tanya Chanyeol, ia pun berhenti dan mengajak Baekhyun untuk bersandar kesalah satu pembatas antara tempat pejalan kaki dan sungai Thames.
"Satu tahun lagi, jika semua berjalan lancar." Jawab Baekhyun.
Chanyeol tersenyum, "Jadi satu tahun lagi kita harus menjalin hubungan jarak jauh."
Baekhyun kemudian menatap Chanyeol, "Memangnya hubungan seperti apa yang sedang kita jalani sekarang?" tanya Baekhyun lagi untuk kedua kalinya tentang hubungan mereka.
Chanyeol kemudian meraih jemari Baekhyun yang terhias cincin pemberiannya dan perlahan melepas cincin itu membuat Baekhyun ingin menangis karena ia tak mau cincin itu lepas dari jemarinya.
"Memangnya Nona Baekhyun ini ingin kita menjadi apa?" tanya Chanyeol dengan senyuman nakalnya.
Baekhyun kemudian cemberut, "Kau datang pada ayahku, melamar aku dan memberi aku cincin. Secara teknis kalau begitu aku ini tunanganmu bukan?" tanya Baekhyun ragu. "Tapi, aku belum pernah berkencann seperti orang kebanyakan, dimana lelaki datang padaku kemudian menyatakan perasaannya padaku dan akhirnya kita menjadi sepasang kekasih." Keluh Baekhyun. "Terakhir kali aku nyaris punya kekasih, Kyuhyun menghalanginya."
Chanyeol kemudian terkekeh dan membuat Baekhyun sebal. "Kalau begitu, apa Byun Baekhyun mau menjadi kekasih Park Chanyeol?" tanya Chanyeol sambil menatap wanita dihadapannya yang hanya bisa menatapnya balik.
Baekhyun tersenyum kemudian mengangguk malu.
Chanyeol tersenyum lembut dan kembali berkata, "Sekarang kau sudah menjadi kekasihku selama dua detik," katanya kemudian menunjukkan cincin yang tadi ia ambil dari jemari Baekhyun. "Dan sekarang aku ingin memintamu menjadi istriku seperti apa yang aku minta pada ayahmu. Apa kau menerimaku Baekhyun?"
Dalam hati Baekhyun ingin tertawa pasrah karena baru dua detik Chanyeol menjadi kekasihnya sekarang ia sudah melamarnya seperti apa yang ia lakukan pada ayahnya. Lelaki itu tak bisa lebih romantis lagi dari ini bukan?
Baekhyun membutuhkan waktu yang lama untuk menjawab pertanyaan itu sehingga Chanyeol meneruskan.
"Tapi Byun Baekhyun harus menyelesaikan kuliahnya dahulu, dan juga ia harus mengenal Park Chanyeol dahulu bukan?" lanjut Chanyeol, "Dan yang paling penting, Byun Baekhyun ingin merasakan memiliki seorang kekasih, maka Park Chanyeol akan menurutinya." Ujar Chanyeol kemudian memakaikan cincin itu kembali pada jemari yang indah itu.
"Chanyeol-ssi..." bisik Baekhyun. Wanita itu sungguh bahagia, lelaki dihadapannya ini ternyata mengerti betul bahwa ia butuh waktu, ia ingin lebih mengenal siapa Chanyeol dan apa yang ia lakukan.
Namun sekarang, Baekhyun yakin akan satu hal yaitu ia tak akan menyesal menerima Chanyeol dalam hidupnya.
"Satu tahun lagi, Baekhyun, satu tahun."
Baekhyun mengangguk dan tersenyum, "Aku akan berusaha keras untuk segera lulus dan kembali ke Korea."
Chanyeol tersenyum lebar, "Oh ya, karena sekarang kita sudah 'jelas', bagaimana jika mulai sekarang kau memanggilku dengan panggilan yang lebih nyaman?"
Baekhyun berkedip, "Kak Chanyeol?" katanya pelan.
Chanyeol kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya senang. "Ya, ya, ya, panggil aku kakak karena aku sudah lelah mendengar kau memanggilku dengan sapaan formal." Keluh Chanyeol.
"Lalu kau akan memanggilku apa?" tanya Baekhyun.
"Baek..."
.
Mereka pulang ke Manchester hampir tengah malam. Chanyeol mengantar Baekhyun ke apartemennya karena ia juga harus mengambil barangnya yang tertinggal.
"Kakak besok kembali ke Korea pukul berapa?" tanya Baekhyun sambil melepas coatnya dan sedikit aneh dengan sapaan barunya terhadap Chanyeol.
"Aku harus berangkat pagi," jawab Chanyeol.
"Baiklah, aku akan mengantarmu ke bandara kalau begitu," Baekhyun pun kemudian berjalan untuk mengantar Chanyeol ke pintu.
Chanyeol kemudian menggeleng, "Kau tidak usah mengantarku ke bandara, aku yakin kau lelah."
Baekhyun hanya diam dan memperhatikan Chanyeol yang sedang memakai sepatunya. Jadi, ia akan sendirian lagi di Inggris setelah Chanyeol pergi. Baekhyun benci perpisahan, ia tak suka sendirian lagi. Ia jadi ingat pada kakak dan ayahnya lagi.
"Tapi aku ingin ke bandara," ujar Baekhyun sedih, suaranya bergetar.
Chanyeol kemudian menatap Baekhyun, mata biru itu berkaca-kaca dan memohon padanya. "Ah, Baek, kau tidak apa-apa?"
Ditanya seperti itu akhirnya Baekhyun menangis didepan Chanyeol, seperti anak kecil sampai-sampai Chanyeol harus membawa wanita itu masuk dan memeluknya. "Baek, kalau kau mengantarku nanti siapa yang akan mengantarmu pulang? Ssh..."
"Aku ingin ikut ke Korea, aku rindu ayah dan kakakku," adu Baekhyun sedih. Sudah sejak Chanyeol datang, perasaan rindunya kian menjadi.
"Sebentar lagi, satu tahun lagi kau bisa pulang, hanya sebentar," ujar Chanyeol sambil mengelus rambut Baekhyun.
Wanita itu hanya kembali menangis sampai ia tertidur.
.
.
.
Heheh, pusing pala aku nih.
Sorry updatenya lama udah gitu gajelas lagi update-annya
Well, well ternyata antara nulis dan nugas itu tak bisa sinkron yaa, hehehe dan diriku sudah liburan semesteran hehehe
Di chapter ini keliatan Baekhyunnya lebih bawel dan aktif ya disbanding Chanyeol whaha. Oh ya, untuk chap ini sama mungkin chap kedepan bakal pake fast pace :") hehe
Hope u forgive me.
DON'T BASH OR USE A HARSH LANGUAGE HERE
/karena aku suka kelembutan seperti lembutnya Baekhyun/
Btw, ada yg komen nanya nanya tentang diriku hmm, bingung balesnya dimana, kalian bisa PM ajaa
