This is the 4th chapter.

Please, kindly read my notes I have something to say...

Yeayeaa.

.

.

.

Chanyeol mengernyit, membayangkan putus dari Baekhyun benar-benar bagai cerita horror, tapi ia bisa mengerti perkataan Kyuhyun itu, tentu temannya ingin adiknya bahagia. "Lalu yang kedua?" tanya Chanyeol.

"Tentu saja nikahi adikku secepatnya, dengan begitu kau bisa membawanya ke Jeju."

.

.

.

Keesokkan harinya Park Chanyeol menjalani hari dengan pikiran yang terpecah belah. Sebelumnya ia tidak bisa tidur sama sekali sepulangnya dari kediaman Byun. Perkataan Kyuhyun terus terngiang-ngiang dibenaknya dan pada akhirnya pula ia memutuskan untuk menemui kedua orang tuanya terlebih dahulu.

Saat makan siang, Chanyeol mencoba menghubungi penyebab hilangnya konsentrasi dan semangat bekerja pada dirinya, yaitu Byun Baekhyun. Ia menelpon wanita itu berharap ia akan menjawabnya karena ia tahu kalau saat ini adalah jam makan siang. Namun nihil, Baekhyun malah mematikan handphonenya. Serasa ditinju, Chanyeol melanjutkan makan siangnya dengan muka masam. Jadi, seperti ini kalau kekasihnya marah, ujarnya dalam hati kemudian berjanji sebisa mungkin tidak akan membuat Baekhyun marah dan kecewa padanya.

Kegiatan tidak mengangkat telepon terus Baekhyun lanjutkan sampai sore hari saat Chanyeol akan bersiap-siap pergi kerumah orang tuanya. Dengan pakaian santai ia kemudian masuk kedalam mobil dan menyempatkan diri untuk memberi pesan pada Baekhyun, mengatakan kalau dirinya khawatir dan berharap ia bisa bertemu dengan wanita itu secepatnya. Hal itu sedikit menampar Chanyeol. Baru sehari ia tidak bisa menghubungi Baekhyun, dirinya sudah merasa khawatir, bagaimana dengan kekasihnya yang waktu itu ia tinggal tanpa kabar? Sekarang Chanyeol mengerti bagaimana perasaan Baekhyun ketika itu, dan pertanyaan akan pantaskah dirinya untuk Baekhyun pun kembali datang padanya.

Saat Chanyeol sampai dirumah orang tuanya, ia langsung disambut oleh Yeri yang berlari-lari menghampirinya. Pria itu pun langsung mengangkat gadis kecil itu dan ia cium perutnya yang buncit.

"Paman! Nenek bilang kau akan menginap disini", ujar Yeri senang.

Chanyeol menggeleng, "Tidak, tidak Yeri-ya, aku hanya berkunjung sebentar untuk bicara dengan kakek dan nenek."

Yeri hanya menganggukkan kepalanya sambil cemberut karena sang paman kesayangan ternyata tidak menginap dirumah sang nenek dan kakek seperti yang ia lakukan.

"Apa Ibumu ada disini?" tanya Chanyeol sambil berjalan menuju ruang keluarga dimana kedua orang tuanya biasa menghabiskan waktu untuk menonton TV.

Yeri menggeleng dan Chanyeol langsung mengerti, pasti sang kakak harus pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan dan tidak bisa membawa Yeri bersamanya. Kasihan anak kecil itu, sering ditinggal kedua orang tuanya. Kelak Chanyeol berharap ia takkan seperti itu.

"Chanyeol-ah, kemari nak", suara sang ibu terdengar, mengajaknya duduk di sofa ruang keluarga. Kaki Chanyeol terasa hangat ketika menginjak karpet tebal kesayangan ibunya dan sengaja ditaruh di ruang keluarga karena terkadang Yeri suka tidur-tiduran sambil menonton TV.

Chanyeol pun duduk dekat ibunya, membiarkan Yeri duduk di karpet sambil memeluk kaleng biscuit. Sang ayah tersenyum melihat anak lelakinya, "Bagaimana kabarmu? Kudengar kau dipindah tugaskan ke pulau Jeju, benarkah itu?" tanya Park Jaesuk pada anaknya.

Chanyeol mengangguk, kemudian mulai menceritakan bagaimana ia bisa dipindahkan ke Jeju. Sang ibu memperhatikannya dengan serius sambil terkadang bertanya ini dan itu jika ia kurang paham maksud anaknya.

"Bukankah bagus kau pindah ke Jeju? Suasana pedesaan, udara disana yang sehat, dekat dengan pantai, sungguh bagus bukan?" ujar Park Jaesuk sambil menyeruput tehnya.

Istri dari mantan presiden itu kemudian mendelik tidak suka pada suaminya, "Bukan masalah ia harus pindah ke Jeju atau apa, tapi aku khawatir akan hubungannya dengan nona Baekhyun", jelasnya. Chanyeol mengangguk, berterimakasih pada ibunya karena ia sudah mengerti permasalahannya tanpa ia harus menjelaskan lagi.

"Mudah saja, kau hampiri Baekhyun dan jelaskan semuanya, kemudian kalian berdua harus bisa menyelesaikan masalah ini berdua. Sudah sama-sama dewasa, aku yakin pada akhirnya kalau kalian memang berjodoh pasti akan ketemu jalan keluarnya." Park Jaesuk memberi saran dan disetujui istrinya.

"Benar kata ayahmu, temui dulu Baekhyun. Keputusannya ada ditanganmu dan dia, kami sebagai orang tua hanya bisa mendukung." Suara lembut ibunya membuat Chanyeol tersenyum.

.

.

.

Besoknya Baekhyun masih tidak bisa dihubungi, Chanyeol hanya bisa menghela nafas dan melanjutkan sesi latihan menembak sore itu. Sudah beberapa kali sasarannya meleset, ia tak bisa berkonsentrasi. Kemarin setelah mengunjungi orang tuanya ia pun mendatangi rumah Baekhyun namun hanya disambut oleh bibi Kang yang menginformasikan kalau Baekhyun masih bekerja di rumah sakit. Tanpa pikir dua kali, Chanyeol segera melaju ke rumah sakit tempat Baekhyun bekerja. Malam itu Chanyeol menunggu selama 2 jam di parkiran depan rumah sakit karena ia tidak mau mengganggu pekerjaan kekasihnya. Ketika Baekhyun menampakkan wajahnya pria itu pun kemudian keluar dari mobilnya dan segera berjalan kea rah wanita itu, berniat untuk mengantarnya pulang karena Baekhyun terlihat sangat letih, mana mungkin Chanyeol tega untuk mengajaknya berbincang hal serius ketika kondisi wanitanya terlihat tidak baik.

Pada akhirnya Baekhyun menolak diantar pulang oleh Chanyeol, tentu saja sang prajurit bertanya kenapa, dan jawaban Baekhyun sukses membuat Chanyeol menelan ludah.

"Aku tidak mau waktumu terbuang hanya untuk mengantarku pulang." Ujarnya kala itu. Sarkastik dan menusuk.

Chanyeol tak mau membuat Baekhyun semakin marah, maka ia pun memberhentikan taxi untuk Baekhyun, tak lupa juga mengucapkan selamat malam padanya.

Saat ini ia mencoba untuk berkonsentrasi membidik sasaran, namun wajah Baekhyun malam itu tak sedikit pun mendukungnya. Wanita itu terlihat sedih, walau kata-kata yang keluar dari bibirnya begitu tajam, namun ekspresi wajahnya tampak sendu, bercampur dengan lelah. Chanyeol jadi tidak tega. Sebagian dari dirinya ingin Baekhyun bahagia walaupun bukan dengan dirinya, namun sisi egoisnya ingin Baekhyun tetap dalam dekapannya, bahagia karena dirinya.

DOR!

Kali ini tembakannya tepat pada sasaran. Semua karena pemikiran yang terlintas dibenaknya, yaitu Baekhyun yang bahagia karena dirinya.

.

.

.

Hari Sabtu malam, Chanyeol kembali mendatangi rumah Baekhyun. Ketika ia sampai, dilihatnya mobil Kyuhyun terparkir didepan rumah keluarga Byun dan Baekhyun baru turun dari sana. Mungkin Kyuhyun baru menjemput adiknya di rumah sakit, terlihat dari jas putih yang tersampir di lengan Baekhyun. Chanyeol pun segera turun dari mobil dan tersenyum kearah Kyuhyun yang melihatnya. Baekhyun ikut menoleh, mengikuti arah pandang kakaknya dan segera membalikkan badan menghadap sang kakak yang kemudian terlihat berbicara sesuatu padanya dan mengelus rambut sang adik lembut. Kyuhyun pun memberi kode kalau ia akan masuk kerumah terlebih dahulu, dan meninggalkan adiknya yang berdiri mematung menunggu Chanyeol menghampirinya.

"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Bolehkah?" tanya Chanyeol setelah ia sudah ada dihadapan Baekhyun.

Wanita itu mengangguk, kemudian mengikuti Chanyeol menuju mobilnya.

Chanyeol membawa Baekhyun kesebuah taman yang sepi tak jauh dari rumah Baekhyun. Keduanya duduk di sebuah ayunan kayu sama-sama menatap lurus kedepan.

"Aku minta maaf padamu karena telah membuatmu kecewa", ujar Chanyeol membuka perbincangan.

Baekhyun menggeleng, "Tidak usah minta maaf, aku yang salah tidak bisa mengerti pekerjaanmu", jawab wanita itu lembut. Angin malam yang lembut meniup-niup rambutnya, memberikan suasana tenang diantara keduanya.

Lihatlah, jelas-jelas disini Chanyeol lah yang membuat Baekhyun sedih namun wanita itu masih saja menyalahkan dirinya sendiri. Chanyeol jadi merasa bersalah karena Baekhyun adalah wanita yang terlalu sempurna untuk dirinya. Kekasihnya itu selalu memberikan lebih untuknya, ketika Chanyeol memberi Baekhyun bunga, wanita itu memberikan senyum dan pelukan hangatnya untuk Chanyeol seakan dirinya sedang ada dalam kehangatan rumah. Ketika Chanyeol hanya memberikan sedikit kata cinta pada wanita itu, maka Baekhyun memberikan perhatian penuh cinta yang Chanyeol sendiri merasa malu untuk menerima itu. Baekhyun selalu memberinya lebih. Apakah ia pantas untuknya? Begitu lah yang selalu jadi pertanyaan Chanyeol.

"Tidak, aku lah yang harusnya minta maaf karena sudah melanggar janji. Dan juga Baek, ada satu hal lagi yang ingin kubicarakan—"

"Apa itu tentang kepindahanmu ke Jeju?" tanya Baekhyun memotong perkataan Chanyeol.

Sang prajurit mengangguk, "Ya, kau sudah tahu?"

Baekhyun menghela nafas berat, "Ya, aku sudah tahu. Kyuhyun oppa menceritakannya padaku."

Dasar Kyuhyun, ingatkan Chanyeol untuk menjitak kepalanya jika mereka bertemu.

"A-aku tidak mau kita putus", bisik Baekhyun saat ini menatap Chanyeol. Mata biru laut wanita itu sudah berkaca-kaca diterpa rembulan. "Kita tidak akan putus 'kan?" tanya Baekhyun, suaranya bergetar seperti merengek pada Chanyeol.

Pria itu pun kemudian berjongkok didepan Baekhyun, meraih tangan wanita itu kemudian menatapnya penuh pengertian. "Aku tidak ingin membuatmu menunggu, aku tidak tega meninggalkanmu terus-terusan, aku hanya ingin kau bahagia." Ujar Chanyeol lembut.

Baekhyun menggelengkan kepalanya kuat, "A-aku ti-tidak mau", katanya tak kuasa menahan air mata. "A-aku tidak mau bahagia jika bukan bersamamu."

Hati pria itu menghangat, apa yang telah ia perbuat di masa lalu hingga ia bisa menemukan orang seperti Byun Baekhyun. Niatan untuk mengakhiri hubungannya dengan Baekhyun langsung sirna mendengar pengakuan wanita itu. Chanyeol ingin menjadi yang terbaik untuk Baekhyun. Ia ingin membuat wanita itu bahagia, bagaimana pun caranya. Chanyeol juga ingin menunjukkan kalau ia pantas untuk Baekhyun. Wanita ini adalah satu-satunya orang yang tahan berhubungan dengannya. Baekhyun itu berbeda.

"Baek?" panggil Chanyeol meminta perhatian wanita yang sedang menangis itu, dan ketika Baekhyun mengangkat wajahnya, ia pun menghapus air mata yang membasahi pipi merah Baekhyun. "Kalau begitu, mau kah kau menikah denganku? Menemani aku kemana pun aku pergi?" tanya Chanyeol, senyum yang menenangkan terhias diwajahnya.

"Huh?" Baekhyun menatap Chanyeol, seakan ia sudah salah dengar dan meminta Chanyeol mengulang perkataannya.

"Menikah denganku Baekhyun, menikah." Jelas Chanyeol sambil tertawa kecil.

"Oppa ingin menikah denganku?" Baekhyun malah bertanya balik. "T-tapi kupikir kau akan meninggalkanku sendiri disini." Katanya sambil tersedu.

"Dari awal tujuanku berhubungan denganmu kan memang untuk menikahimu Baekhyun. Jadi, hari ini aku kembali ke tujuan itu. Aku sadar kalau kau lah yang bisa tahan berhubungan denganku, kau yang paling mengerti."

Setetes air mata jatuh di pipi Baekhyun, namun kali ini ia tersenyum. "Ya, memang aku yang paling bisa mengerti."

.

.

.

Tiga hari setelah kejadian di taman itu, Chanyeol mengajak Baekhyun untuk bertemu dengan keluarganya. Chanyeol sudah melapor ke Byun Jongkook dan Kyuhyun tentang lamaran yang ia lakukan dan mendapat respon yang baik dari keduanya—walaupun mendapat sedikit ceramah disana sini dari Byun Jongkook—, Kyuhyun sangat senang pada akhirnya Chanyeol memilih untuk mengajak Baekhyun menikah. Ia tidak tega melihat adiknya selalu berpikir bahwa hubungannya dengan Chanyeol harus berakhir.

Baekhyun terlihat anggun malam itu, dengan gaun warna salem dan make up sederhana.

Mereka sampai di restaurant lebih dulu dari orang tua Chanyeol. Keduanya duduk di meja yang sudah dipesan oleh Yoora. Baekhyun terus saja meremas-remas tangan Chanyeol gugup dan hal itu malah membuat sang prajurit tertawa kecil.

"Ish, oppa kenapa tertawa sih?" omel Baekhyun setelah memukul lengan kekasihnya pelan. "Apa penampilanku baik-baik saja?" tanya Baekhyun lagi. Wanita itu sudah bertanya hal yang sama sebanyak tiga kali.

Chanyeol menaruh rambut Baekhyun dibelakang telinganya lalu tersenyum memandangi keindahan yang terpancar dari kekasihnya, mata biru gelapnya, bibirnya yang cemberut, semua terasa indah. "Kau indah."

Baekhyun tersenyum, bagaimana pun Chanyeol itu memang jago membuatnya malu.

Setelah sekitar 15 menit menunggu, akhirnya keluarga Park sampai di restaurant. Baekhyun menyapa Park Jaesuk sang mantan presiden dan juga calon mertuanya dengan hormat. Nyonya Park menyapa Baekhyun hangat, memeluknya sebentar kemudian memuji penampilannya yang terlihat cantik. Park Yoora yang datang dengan suaminya dan juga Yeri sama-sama menyapa Baekhyun dengan hangat. Wanita itu merasa senang dan juga merasa diterima ditengah-tengah keluarga Park.

"Wah, Baekhyun ternyata lebih cantik dari yang di foto yaa", ujar Nyonya Park sambil tersenyum lebar. "Chanyeol bisa saja mencari calon istri."

Baekhyun tersenyum malu bingung harus menjawab apa.

"Tentu saja, Chanyeol kan mengikuti jejakku, menikahi wanita cantik." Ujar Park Jaesuk bercanda, kemudian mengundang tawa di meja itu.

Setelah makan mereka berbincang-bincang tentang bagaimana pernikahan diantara keduanya akan dilaksanakan. Baekhyun dan Chanyeol sendiri belum tahu akan seperti apa pernikahan keduanya kelak. Yoora memberi saran untuk melakukan pernikahan di Jeju, mengingat Chanyeol harus sudah ada di sana bulan Januari mendatang yang artinya sebulan lagi.

"Bagaimana kalau menikah di Jeju saja, bukankah akan mudah?" ujar Yoora.

Nyonya Park mengangguk, "Benar, setelah itu kan kalian akan pindah ke rumah dinas disana, jadi akan mudah jika menurutku."

Chanyeol mengangguk, begitu juga Baekhyun. "Kami akan memikirkannya, terimakasih banyak sarannya", ujar Baekhyun sopan.

"Mengurusi pernikahan dan juga kepindahan pasti akan terasa sangat lelah. Kami akan siap membantu kalian, jangan khawatir." Kali ini Park Jaesuk yang bicara. Chanyeol mengangguk dan berterimakasih, satu bulan untuk menyiapkan segalanya. Pria itu sendiri tidak yakin jika hanya ia dan Baekhyun yang menyiapkannya. Syukurlah keluarganya mau membantu.

.

.

.

Bora dan Kyuhyun menemani Chanyeol dan Baekhyun untuk mencari baju pengantin di Seoul. Bora memiliki kerabat yang merupakan seorang designer baju pengantin. Dua minggu ini pasangan yang akan menikah itu benar-benar sangat sibuk, mengurusi kepindahan dan juga pernikahan benar-benar menguras tenaga, namun Baekhyun menikmati setiap detiknya. Ia adalah wanita paling bahagia yang pernah ada.

Walaupun baru sebentar, Baekhyun sudah berhenti dari pekerjaannya di rumah sakit dan fokus pada persiapan pernikahannya. Chanyeol jadi sedikit khawatir karena Baekhyun terlihat kurus, dengar-dengar juga ia jadi jarang makan. Bibi Kang sampai harus laporan pada Chanyeol dan ujung-ujungnya Baekhyun dimarahi oleh kekasihnya.

"Jangan lupa makan dan istirahat, Baek. Aku tidak mau kau sakit."

Begitulah, Chanyeol mengomel dengan suara tegasnya. Setiap hari ia jadi sangat protektif pada Baekhyun. Menyuruhnya makan dan istirahat bagaikan alarm otomatis. Pekerjaan Chanyeol benar-benar menyita waktu pria itu, ia jadi tidak bisa sepenuhnya turun tangan untuk menyiapkan pernikahannya sendiri. Yoora yang suaminya adalah pengusaha hotel, sudah mengurus tempat resepsi dan segala macamnya di pulau Jeju. Kakaknya berjanji untuk memberikan yang terbaik untuk pernikahan adik laki-lakinya itu.

Bora yang ditemani beberapa pegawai butik membantu Baekhyun mencoba beberapa gaun pengantin. Sedangkan Chanyeol dan Kyuhyun hanya bisa menunggu. Kedua laki-laki itu asyik mengobrol tentang pekerjaan mereka.

"Tada!", sahut Bora membuat kepala Chanyeol dan Kyuhyun menoleh kearah ruang ganti.

Baekhyun dibalut dengan gaun pengantin putih dengan detail biru muda yang menunjukkan lekuk badannya. Sepasang pita menghiasi bahunya. Gaun tak berlengan itu terasa cocok dipakai oleh Baekhyun. Detail gaun itu seakan mendukung wajah Baekhyun yang bersinar.

"Bagaimana? Bagaimana? Cocok 'kan?" tanya Bora semangat.

Kyuhyun tersenyum lembut, "Cocok, adikku tampak cantik. Benarkan Chanyeol?" tanya Kyuhyun sambil menyikut temannya.

Chanyeol mengangguk setuju, masih terpesona melihat kekasihnya yang manis. "Ya. Sungguh indah." Komentar Chanyeol.

Entah kenapa Chanyeol lebih suka mengatakan kalau Baekhyun itu indah dibandingkan cantik. Tak ada alasan spesial, bagi Chanyeol memang Baekhyun itu indah. Wanita cantik belum tentu seindah Baekhyun. Sang psikolog juga tak mau bertanya kenapa Chanyeol memanggilnya indah, dia pun tidak menolak dipanggil indah oleh kekasihnya, diam-diam justru sangat menyukai nama panggilan itu.

.

Seminggu sebelum keberangkatannya ke Jeju, Baekhyun sudah mulai membereskan barang-barangnya. Bibi Kang ikut membantu Baekhyun memasukkan baju-baju Baekhyun kedalam koper. Sang pengasuh menghela napas pelan dan hal itu membuat Baekhyun menoleh kepadanya dan tertawa kecil.

"Ada apa, Bibi Kang. Apa kau lelah?" tanya Baekhyun sambil melipat beberapa bajunya.

Bibi Kang menggeleng, "Tidak, bibi hanya sedih. Belum lama kau ada di Seoul sekarang kau harus sudah mengepak barang-barangmu lagi dan pergi dari rumah." Ujar Bibi Kang dengan nada sedih.

Baekhyun tersenyum kemudian duduk disebelah pengasuh kesayangannya, ia pun memeluk bibi Kang seperti ia memeluk ibunya sendiri. Hanya dari bibi Kang-lah ia bisa merasakan pelukan layaknya dari seorang ibu. Hangat.

"Aku akan berusaha untuk sering-sering ke Seoul. Bibi jangan khawatirkan aku." Ujar Baekhyun menenangkan.

Bibi Kang menangkup wajah Baekhyun, kemudian mengelus kedua pipinya dengan ibu jarinya yang sudah mulai keriput. "Asalkan nona bahagia, aku akan selalu mendukungmu."

"Terimakasih, Bibi Kang. Aku tidak tahu lagi jika tidak ada kau disisiku, aku akan sangat kesepian."

Walaupun tidak banyak barang yang akan dibawa Baekhyun ke Jeju, namun tetap saja wanita itu merasa lelah. Baekhyun memilih untuk mandi, menyegarkan diri dan beristirahat karena besok Bora akan mengajaknya pergi. Katanya sih ia ingin membawa Baekhyun senang-senang dan memanjakan diri. Ia hanya bisa menurut, namun sebenarnya masih banyak pikiran tentang pernikahan yang ada dibenaknya.

Baekhyun mengecek handphonenya, melihat list yang ia beri nama "Persiapan Untuk Menjadi Nyonya Park". Ia cekikikan membacanya, apalagi kalau mengingat Chanyeol yang selalu saja menggodanya akan hal itu.

Undangan. Cek.

Penginapan. Cek.

Venue. Cek.

Makanan. Cek.

Dan segala macam detail tak lolos dari list itu.

Mengenai undangan, Baekhyun sedikit gugup karena dari pihak Chanyeol, Park Jaesuk banyak mengundang pejabat negara serta orang-orang penting lainnya, mengingat ia adalah seorang mantan presiden. Chanyeol juga mengundang teman-teman tentaranya, entah itu seniornya ketika di akademi militer atau malah juniornya. Tak banyak memang—karena jatah undangan kebanyakan diambil oleh keluarganya—namun Baekhyun tetap saja gugup. Bertemu teman Chanyeol yang kemungkinan besar juga merupakan temannya Kyuhyun sang kakak. Namun ia berpikir positif kalau teman Chanyeol adalah temannya juga, walaupun beda umur yang cukup jauh. Baekhyun sendiri mengundang teman dekatnya ketika di Manchester, namun sayang hanya Natasha dan Robert yang akan hadir, sisanya tidak bisa karena kesibukkan yang mencekik. Oh Sehun dan keluarganya juga menjadi tamu undangan yang Baekhyun nantikan. Ditengah kesibukkannya, Sehun sudah berjanji akan datang dihari bahagia Baekhyun.

Hari bahagia...

Benar kata orang-orang, semakin mendekati D-Day, maka kecemasan-kecemasan yang sebenarnya tidak perlu, datang menghampiri Baekhyun. Entah takut acaranya gagal, atau makanannya tidak enak atau segala macam hal-hal kecil saja mampu membuat Baekhyun cemas. Chanyeol juga sebenarnya demikian, namun pria itu mencoba untuk tidak ikut cemas. Harus ada salah satu dari mereka yang cukup tenang menghadapinya, dan itu adalah dia.

Pria itu sudah berulang kali bilang pada Baekhyun kalau ia tak perlu khawatir dan itu menyulut amarah sang kekasih yang sedang sensitive menjelang hari pernikahan.

"Oppa sebenarnya niat menikah atau tidak sih?!" Chanyeol, alih-alih ikut serta dalam acara marah-marah Baekhyun, ia malah terkekeh. Wanita itu terlihat menggemaskan ketika marah bercampur cemas seperti itu. Chanyeol tahu sebenarnya Baekhyun hanya ingin segalanya berjalan dengan sempurna sesuai dengan rencana, Chanyeol menghargai itu.

Day-4 sebelum acara, Baekhyun dan keluarganya sudah ada di Jeju, begitu pula dengan keluarga Chanyeol. Tamu undangan akan datang sehari sebelum acara atau bahkan ada yang datang di hari acara berlangsung. Chanyeol belum bisa berangkat karena ada beberapa hal yang harus ia urus sebelum kepindahannya ke Jeju. Pria itu akan menyusul keesokkan harinya.

Malam hari itu, Bibi Kang yang secara khusus menemani Baekhyun di kamar hotelnya dilanda panik karena Baekhyun demam tinggi. Selama di pesawat Baekhyun memang terlihat lemas dan terus bersandar pada Bibi Kang yang duduk disebelahnya. Awalnya ia mengira kalau Baekhyun hanya mengantuk maka ia membiarkan wanita itu langsung pergi ke venue tempat pernikahan untuk memantau persiapan bersama dengan Yoora.

Kyuhyun dan Jongkook langsung mengunjungi Baekhyun yang tertidur. Keringat membasahi kening wanita itu, dahinya mengkerut seperti sedang mimpi buruk. Bibi Kang mengelap keringat di dahi Baekhyun dengan sayang membuat wanita itu sedikit rileks.

"Bagaimana tidak sakit, ia sungguh sibuk sebulan penuh ini." Ujar Jongkook sedih.

Kyuhyun mengangguk, "Ya, dia bahkan jadi lupa makan. Sampai Chanyeol harus memarahinya." Jawab Kyuhyun, suaranya benar-benar khawatir. "Apa Chanyeol sudah tahu Baekhyun sakit?"

Bibi Kang menggeleng, "Saya belum beri tahu, terlalu panik nona Baekhyun menggigil seperti tadi."

Kyuhyun mengangguk kemudian segera menghubungi sahabatnya, bagaimana pun Chanyeol harus tahu calon mempelainya sakit. Mendengar berita itu, Chanyeol langsung meminta Kyuhyun untuk menemani Baekhyun. Ia bilang urusannya sudah selesai dan akan mengambil penerbangan terakhir ke Jeju secepatnya. Kyuhyun tersenyum mendengar nada suara temannya yang khawatir. Setidaknya ia lega, ia bisa merasakan bagaimana perhatian Chanyeol pada sang adik kesayangannya, dalam hati ia bersyukur adiknya jatuh di pelukan Chanyeol.

Dini hari Chanyeol sampai di Jeju. Ia segera bergegas menuju hotel tempat tamu menginap. Kata Kyuhyun, kekasihnya sedang dalam perawatan bibi Kang di kamar 461. Hal pertama yang ia lakukan adalah mengetuk kamar itu untuk melihat keadaan Baekhyun.

Bibi Kang mempersilahkan Chanyeol masuk, ia bilang demam Baekhyun masih tinggi walaupun tidak menggigil. Hati Chanyeol terasa berat, kekasihnya itu benar-benar memberikan segalanya untuk pernikahan ini, termasuk kesehatannya. Jika dibilang Chanyeol tidak ingin menangis, itu tidak benar. Hatinya sudah bergetar. Selama 34 tahun hidupnya hanya Baekhyun yang bisa membuat hatinya bergetar seperti yang ia rasakan saat ini. Getaran yang berbeda dari pertama kali ia melihat Baekhyun, bertemu Baekhyun di Inggris. Getaran ini sungguh luar biasa, seperti ia diajak mengarungi ombak yang garang, namun disana ada Baekhyun yang menantinya, jadi ia semakin bersemangat, rela di cakar-cakar ombak itu. Demi Byun Baekhyun.

"Apa sudah memanggil dokter?" tanya Chanyeol pada bibi Kang setelah ia memegang dahi panas Baekhyun.

"Belum, Tuan. Rencananya tuan Kyuhyun akan memanggil dokter besok pagi." Jelas Bibi Kang.

Chanyeol melirik jam dinding, sudah hampir pukul tiga pagi mana ada dokter ynag beroperasi saat ini. Kecuali kalau ia ke rumah sakit sekarang juga. Chanyeol benar-benar khawatir karena demam Baekhyun sangat tinggi, takut ia terkena demam berdarah atau apa itu, jika tak segera di bawa ke dokter. "Bibi Kang, sekarang kita ke rumah sakit saja, aku takut Baekhyun terkena penyakit berbahaya."

Bibi Kang mengangguk kemudian Chanyeol pun menyentuh pipi Baekhyun, mencoba membangunkan wanita itu. Di usapnya pipi yang memerah itu, sambil berbisik memanggil nama Baekhyun.

Terusik, Baekhyun mencoba membuka matanya yang terasa begitu berat, dahinya berkerut karena pusing.

"Ayo kita kerumah sakit", ujar Chanyeol pelan sambil memegangi dahi Baekhyun lagi.

Baekhyun tak ada tenaga untuk menjawab, ia kemudian mengangguk. Chanyeol pun tersenyum kemudian mengangkat tubuh Baekhyun, sang wanita cantik itu pun langsung melingkarkan tangannya di leher Chanyeol, agar ia tidak jatuh.

"Oppa kapan sampai?" tanya Baekhyun lemas.

"Baru saampai, Baek." Jawab Chanyeol kemudian tersenyum.

Baekhyun pun ikut tersenyum walau hanya senyum tipis, ia pun kembali bersandar pada dada bidang kekasihnya.

Di lobby, supir pribadi Chanyeol yang sengaja ayahnya siapkan untuk menjemputnya dibandara sudah siap menunggu. Pria itu menyuruh supirnya untuk beristirahat dan memutuskan untuk membawa mobil sendiri ke rumah sakit. Bibi Kang juga ikut bersama Chanyeol. Setelah memasang seat belt untuk Baekhyun yang duduk disebelahnya, Chanyeol langsung tancap gas menuju rumah sakit daerah yang ada disana.

.

Ternyata Baekhyun mengalami kelelahan dan kurang cairan dalam tubuh. Dokter bilang, demamnya cukup parah, butuh istirahat dan penanganan dari dokter. Untung saja Chanyeol sigap mengantarkan kekasihnya, kalau tidak bisa-bisa Baekhyun makin parah.

Menjelang siang, Baekhyun sedang makan disuapi oleh bibi Kang, ada Bora dan Kyuhyun juga disana. Chanyeol baru saja kembali dari hotel untuk menyambut tamu dan bertemu dengan kedua orang tuanya. Yoora beserta suaminya sudah bersedia membantu Chanyeol di venue karena ia ingin berada dekat Baekhyun yang sakit.

Ketika ia masuk ke ruangan tempat Baekhyun dirawat, ia disambut cengiran tidak bersalah dari Baekhyun yang wajahnya masih sangat pucat.

"Oppa!" katanya sudah lebih bersemangat.

Chanyeol kemudian mencium puncak kepala Baekhyun dan mengambil mangkuk berisi bubur dari tangan bibi Kang, "Biar aku saja yang menyuapi," ujarnya membuat bibi Kang tersenyum lebar dan Baekhyun yang tersenyum malu.

Kyuhyun dan Bora kemudian pamit untuk mengurus tamu undangan yang datang, Baekhyun memeluk kakaknya dan mengucapkan terimakasih. Tak lupa ia juga menitipkan pesan agar Kyuhyun menyampaikan maaf pada tamunya karena ia tak bisa menyambut dengan baik. Bora kemudian memberi pesan pada Baekhyun kalau ia harus segera sembuh agar ketika pernikahan tiba, wajahnya tidak terlihat pucat. Mendengar itu Baekhyun langsung mengangguk cepat, ia tidak mau menjadi pengantin yang sakit.

"Bagaimana pun juga aku tidak mau terlihat pucat di album pernikahan kita, oppa!" rajuk Baekhyun.

Chanyeol terkekeh, "Kau sakit saja, aku sayang, Baek. Akan tetap kunikahi, jangan khawatir." Katanya mengumbar kata-kata manis yang diikuti suara tawa kecil dari Bibi Kang.

"Sebaiknya sih begitu, jika tidak kupukul kau, aku punya banyak sapu dirumah. Benarkan Bibi Kang?" tanya Baekhyun.

"Iya nona, banyak." Jawab Bibi Kang sambil tertawa.

.

Malam sebelum pernikahan dokter sudah mengijinkan Baekhyun untuk pulang. Dirawat 2 hari dirumah sakit membuat Baekhyun merasa lebih baik dari sebelumnya. Buktinya saat ini ia sedang berada di kolam renang hotel, duduk berdua bersama ayahnya di bangku yang ada di tepi kolam. Air yang hangat menggelitik kaki Baekhyun yang sedang berendam.

"Tidak kusangka kau akan menikah secepat ini, Baek." Ujar Ayahnya lembut sambil tersenyum dan melirik anaknya yang bersandar ke bahunya.

"Aku juga tak menyangka ayah bisa melepaskanku, apa ayah senang aku pada akhirnya menikah dengan seorang prajurit?" tanya Baekhyun.

"Ayah percaya Chanyeol akan menjagamu, dan kau juga sepertinya memang sangat mencintai dia daripada aku, jadi aku harus rela melepaskan putri kecilku yang manja ini," jawab Jongkook sambil mengelus rambut Baekhyun.

"Iiih, aku juga mencintaim, kemarin, sekarang dan esok aku akan tetap mencintaimu, ayah." Ujar Baekhyun penuh kasih. Mungkin malam ini adalah malam terakhir dimana ia akan memakai nama keluarga Byun, besok ia akan menjadi seorang Park Baekhyun. Dalam hati ia sedih harus meninggalkan nama yang sudah melekat padanya itu, namun bagaimanapun ia tetaplah putrid dari seorang Byun Jongkook.

"Kau juga akan selalu jadi putri kecilku."

.

.

.

Suara lonceng pernikahan terdengar pagi itu. Byun Jongkook pada akhirnya mengantarkan anak gadisnya tercinta ke altar, ke tangan pria yang sudah berjanji padanya akan menjaga dan mengasihi anak perempuannya sepenuh jiwa dengan apa yang ia punya. Itu adalah janji yang Park Chanyeol berikan padanya, janji antara seorang pria. Tak pernah ia sangka anak gadisnya yang selalu bergantung padanya, memanja dan merengek meminta dipeluk itu, sekarang sudah menemukan seorang pria yang akan ia cintai seumur hidupnya, dengan cinta putihnya yang masih polos tak tersentuh, anak gadisnya itu sekarang sudah tahu bagaimana rasanya ia berkorban, ya, berkorban demi cintanya. Cinta yang Baekhyun bilang adalah cinta sejatinya, tadi malam.

I, Chanyeol Park, commit myself to you, Baekhyun Byun, as husband to learn and grow with, to explore and adventure with, to respect you in everything as an equal partner, in the foreknowledge of joy and pain, strength, and weariness, direction and doubt, for all the risings and settings of the sun. We tie this knots to symbolize our connection to one another. They represent our trust in each other and our combined strength together.

Today, surrounded by people who love us, I choose you Chanyeol Park to be my partner. I am proud to be your wife and to join my life with yours. I vow to support you, push you, inspire you, and above all—Baekhyun menahan air mata bahagianya yang nyaris jatuh, ia tersenyum kearah Chanyeol yang memandangnya dengan tatapan lembut, seakan memberinya dukungan untuk melanjutkan—love you, for better or worse, in sickness and health, for richer or poorer, as long as we both shall live.

Saat itulah, Baekhyun sudah resmi menjadi milik Chanyeol. Dihadapan undangan yang hadir Chanyeol dengan lembut mengecup bibir Baekhyun. Sadarkah kalian kalau itu adalah ciuman pertama mereka? Katakan saja bahwa Chanyeol itu kolot, namun lelaki itu sudah berjanji hanya akan mencium bibir Baekhyun ketika wanita itu sudah resmi menjadi orang yang akan menemani hidupnya, selamanya, yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak dan menjadi orang yang akan selalu Chanyeol hargai keberadaannya, sesuai dengan janji yang ia sudah ucapkan.

Dalam hati Chanyeol terdapat sebuah kesombongan yang amat besar karena saat ini wanita cantik yang berhati lembut yang sedang ia kecup bibirnya sekarang adalah istrinya.

Baekhyun tersenyum ketika Chanyeol melepaskan ciuman mereka. Rona merah mewarnai pipi Baekhyun. Mata biru gelapnya menatap Chanyeol.

"I love you." Bisik Baekhyun.

"I love you, too." Jawab Chanyeol kemudian membawa Baekhyun kedalam pelukannya.

.

Resepsi pernikahan digelar sore hari karena Chanyeol dan Baekhyun sama-sama ingin menikmati resepsi sekalian menikmati matahari terbenam. Seharian itu, Baekhyun tak mau lepas dari Chanyeol. Wanita itu senantiasa menggamit lengan suaminya dan menyapa tamu yang hadir dengan senyum diwajahnya. Sebenarnya Chanyeol sendirilah yang menyuruh Baekhyun untuk tidak melepaskan dirinya dari sang prajurit karena pria itu tahu Baekhyun masih belum sepenuhnya sehat. Setelah mengucap janji pernikahan di gereja pagi tadi, Baekhyun langsung mengeluh pusing dan membuat Chanyeol jadi khawatir. Pria itu kemudian menyuruh Baekhyun untuk beristirahat sejenak, namun istrinya malah tidak bisa tidur karena selalu terpikir akan resepsi pernikahannya.

Di pesta itu, undangan cukup berbaur satu sama lain, banyak pria berseragam yang hadir, begitu juga dengan Chanyeol sendiri. Ia tampak begitu gagah memakai jas warna hijau gelap itu. Baekhyun sendiri memakai gaun putih panjang dengan pita hijau tua melingkari perutnya, tak lupa flower crown dikepalanya yang khusus di desain oleh Bora mengiasi rambutnya yang digulung tepat diatas tengkuknya, membuat sang pengantin wanita semakin anggun. Baekhyun tampak berkilau bersanding dengan Chanyeol yang gagah. Tak terlihat jika ia sedang sakit.

Selama acara berlangsung, teman-teman Baekhyun maupun Chanyeol bernyanyi lagu-lagu cinta, bergantian dan penuh suka ria. Byun Jongkook dan Park Jaesuk serta istrinya juga berbaur, mengobrol disuatu meja bundar bersama dengan beberapa orang penting. Mereka tampak bahagia.

"Baekhyun, perkenalkan ini Lee Kwangsoo dan istrinya Lee Sungkyung, mereka juga tinggal di Jeju." Ujar Chanyeol memperkenalkan temannya.

"Selamat untuk kalian berdua", ujar pria bertubuh tinggi yang melebihi Chanyeol.

Chanyeol tertawa, kemudian sedikit memukul dada Kwangsoo, "Ehey, terimakasih Kwangsoo. Oh ya, Baekhyun, Kwangsoo ini adalah temanku dan juga Kyuhyun, kita satu angkatan di akademi militer." Jelas Chanyeol, yang dijawab oleh senyuman dan anggukan dari istrinya.

"Oh, apa ia salah satu dari geng orang-orang tampan yang Kyuhyun oppa buat?" tanya Baekhyun menggoda Chanyeol dan temannya.

Kwangsoo dan Sungkyung tertawa.

"Ah! Kakakmu itu benar-benar memiliki kepercayaan diri yang tinggi." Ujar Kwangsoo.

"Sebenarnya ada satu lagi teman kita yang masuk dalam kelompok itu, namun ia sekarang sedang di China. Benarkan, Kwangsoo?" tanya Chanyeol tidak yakin.

Kwangsoo mengangguk, "Ya. Kalau yang kau maksud adalah si aneh Jongin. Maka kau benar. Kudengar ia juga sudah menikah dengan wanita desa yang waktu itu ia kejar, siapa namanya? Aku lupa."

"Do Kyungsoo." Jawab Sungkyung.

.

Oh Sehun yang jauh-jauh datang dari Manchester tak luput dari perhatian kedua pengantin baru itu. Baekhyun dengan senyum diwajahnya memperkenalkan Sehun pada Chanyeol secara formal.

"Oppa, ini Oh Sehun oppa, ia adalah tetanggaku dari kecil dan juga teman kecil Kyuhyun oppa. Ia tinggal di Manchester." Ujar Baekhyun ceria. Senyumnya berbinar-binar ketika kedua pria itu berjabat tangan. Baekhyun senang jika Sehun dan Chanyeol pada akhirnya bisa berteman dekat juga.

"Selamat atas pernikahan kalian yang indah ini, aku sangat menikmatinya." Ujar Sehun sopan kemudian tersenyum menggoda kepada Baekhyun, "Aku tak menyangka sekarang si anak manja sudah menikah, mendahului aku!" katanya berakting sedih.

Baekhyun kemudian mengerucutkan bibirnya, "Oppa sih, terlalu lama sibuk sendiri, jadi aku duluan yang menikah", omel Baekhyun. "Sana cepat cari istri, aku akan dengan senang hati membantumu jika kau butuh bantuan." Ujarnya dengan nada sombong.

Chanyeol terkekeh, "Terimakasih Sehun-ssi sudah datang, dan aku juga berterimakasih karena kau telah menjaga Baekhyun selama ia di Manchester", Chanyeol tersenyum, "Sekarang biarkan aku yang menjaga anak manja ini." Lanjutnya nakal.

"Benar, sebaiknya begitu karena Baekhyun itu penakut." Timpal Sehun, mengikuti permainan Chanyeol, menjahili Baekhyun.

Semakin malam, kondisi kesehatan Baekhyun makin menurun. Wanita itu berbisik pada Chanyeol yang sedang duduk disebelahnya kalau badannya lemas dan kepalanya kembali berdenyut pusing. Chanyeol pun mengangkat tangannya dan menyentuhkan punggung tangannya di dahi Baekhyun, dan benar saja dugaannya, demam yang sempat turun sekarang mulai naik lagi.

"Apa demamnya naik lagi?" tanya Nyonya Park yang saat itu duduk di dekat Chanyeol. Sontak perhatian di meja khusus keluarga itu tertuju pada Baekhyun yang bersandar pada Chanyeol.

Pria itu mengangguk, "Sepertinya Baekhyun harus segera beristirahat."

"Kalau begitu Kyuhyun, coba kau panggilkan bibi Kang dan minta bantuan untuk menyiapkan barang-barang Baekhyun." Ujar Byun Jongkook pada Kyuhyun, yang langsung ditanggapi dengan anggukkan.

Tak lama, Bibi Kang datang dan langsung membawa Baekhyun menuju kamarnya untuk berganti baju dan segala macam. Chanyeol bilang ia akan menyusul.

"Ayah, Ibu, sepertinya aku akan langsung membawa Baekhyun kerumah yang kami siapkan di Jeju."

Park Jaesuk mengangguk, "Ya, ya, sebaiknya begitu, disana jauh lebih tenang."

"Berhati-hatilah, kami akan mengurus segala sesuatunya disini. Jangan khawatir." Ujar Kyuhyun.

Chanyeol pun kemudian membungkuk tanda hormat dan segera meninggalkan tempat resepsi.

"Haduh, ada-ada saja, sakit dihari pernikahan sendiri..." ujar Nyonya Park, khawatir.

.

.

.

To be continued.

Hello, long time no see. Hanya ingin sekedar cerita, aku saat ini lagi dalam keadaan 'Aduh, ini mimpi atau bukan?' dalam keadaaan berharap kalau hidup yang tengah aku jalani ini adalah mimpi belaka. Selama aku hidup, ga pernah aku ngerasain rasa sedih, sesedih ini. Aku kehilangan terus aku ikutan ilang juga, gatau kemana, gatau harus mikir apa, gatau harus gimana. Jadi, aku sempetin posting untuk sekedar pengalihan dari masalah yang cukup memukul ini. Jujur aja, sebenernya aku berencana buat posting jauh jauh hari kebelakang tapi aku ga bisa, bahkan buka laptop aja aku bingung. Hari ini aku buka laptop, berencana nulis lebih panjang dari ini. TAPI gabisa! Otak aku udah kebelah, pusing segala sedih macem-macem.

Intinya, maafin aku ya tidak bisa professional update cepet, maafin, dan mohon pengertiannya. Terimakasih. Oh ya, maaf juga tiba-tiba curhat...

NB: Thanks yang udah reviews, likes, faves.

NB: Ada satu komen yang bilang semoga aku dapet jodoh tentara, dan aku harus jawab "Semoga engga:( Tapi makasih udah doain dapet jodoh." Hehehey.