Mereka terus mengahajar Dong Hee yang hanya bisa berdoa agar ia dapat bertahan
Taeyeon sesungguhnya cukup kaget melihat kejadian itu tapi hanya terkikik geli saat melihat wajah Dong Hee yang pasrah.
"Ada apa ini…"
Semua menoleh pada suara asing tersebut, takut bahwa itu adalah suara siswa anggota OSIS atau guru.
"Kakak…?" Ucap suara asing tadi saat melihat wajah yang terlihat sangat familiar olehnya dengan wajah kagetnya
"B-Baekhyun?!"
Muka Taeyeon pucat pasi.
THE ILJINS
twinkybuns
Sabtu, 29 Oktober 2016
Suasana airport hari ini entah mengapa terasa sangat ramai bagi lelaki dengan perawakan mungil itu, seakan-akan orang-orang yang berlalu lalang memperhatikan setiap gerak-gerik atau dengan sengaja berpasasan dengannya hanya untuk menatap wajahnya.
Hal tersebut membuat pemuda bernama Kim Baekhyun itu menundukkan kepalanya.
Setiap dia akan bertatapan dengan seseorang dia akan langsung membungkukkan badannya dan menatap lantai sepanjang jalannya.
Sempat terbesit dalam pikirannya apakah menggunakan sweater rajut berwarna caramel dan celana jeans ketat berwarna baby blue merupakan perpaduan yang aneh.
Ditambah dengan autumn boots berwarna coklat tua yang membungkus kaki rampingnya, sesungguhnya Baekhyun tampak luar biasa mempesona.
Tidak mengherankan jika sebagian orang-orang meluangkan beberapa detik untuk memperhatikan Baekhyun dengan seluruh kesempurnaan yang ada padanya.
Kulitnya putih bersih, rambutnya yang dicat berwarna light golden brown yang senada dengan warna pupil matanya membuatnya terlihat sangat innocent. Jangan lupakan dengan wajahnya yang feminine dengan tulang pipi yang tidak begitu menonjol dan garis wajah yang tampak halus.
Bentuk matanya turun kebawah seakan-akan selalu menatap objeknya dengan pandangan polos. Dan tentu saja hidungnya dalam bentuk pahatan sempurna dengan ukuran yang pas. Terakhir, bibir tipis berwarna kemerahan memperlengkap semua keindahannya.
Namun, karena sifat Baekhyun yang memang bukan pencari perhatian, dia akan selalu merasa kurang percaya diri.
Dia akan bertanya-tanya apa yang salah pada dirinya dan akan merutuki dirinya sendiri hingga ia akan melupakan hal tersebut.
Kejadian tersebut selalu terjadi setiap Baekhyun berada di tempat umum, disaat-saat orang akan memperhatikannya. Disaat itulah dia akan merasa malu pada dirinya.
Hal itu juga yang membuat Baekhyun sangat senang menghabiskan waktunya berada dikamarnya seharian hanya untuk mengcover lagu-lagu ballad kesukaannya.
Tenang, Baekhyun tidak mengidap penyakit mental apapun.
Dia hanya sangat pemalu.
.
.
.
.
Baekhyun sekarang berada di dalam sebuah taksi, dia merasa sangat bahagia hanya dengan memikirkan kembali wajah kaget sang kakak, Taeyeon.
Rencananya ia akan memberikan kejutan kepada Taeyeon dihari pertamanya sekolah. Ia sengaja menaiki taksi agar Taeyeon tidak curiga dan akan mengurung diri di rumah selama 2 hari hanya agar tidak bertatap muka dengan Taeyeon.
Benar, demi melihat ekspresi kaget dan bahagia sang kakak.
Baekhyun tersenyum manis sambil melihat jalanan menuju rumah lamanya dari jendela mobil.
.
.
.
.
Senin, 31 Oktober 2016
Lagi, dan lagi.
Baekhyun kembali ditatapi.
Kali ini, para murid baru yang sama dengannya untuk mengikuti ospek pertamanya.
Berbicara tentang ospek, sekolah elit ini tidak memiliki aturan dan atribut aneh yang akan menyusahkan para muridnya. Tentunya para murid yang rata-rata berasal dari kalangan keatas tidak akan sudi untuk disuruh melakukan hal aneh-aneh apalagi yang mempermalukan diri mereka.
Baekhyun merasa ia cukup berbaur dengan teman-teman sebayanya, tidak ada yang menonjol dari dirinya dan ia selalu berusaha untuk tidak terlihat dan diperhatikan.
Ia mengenakan seragam yang sama dengan yang lain, dan name tag yang tertera di dadanya.
'lucu sekali wajahnya, dia mengingatkanku pada penyanyi imut yang sangat terkenal itu, si Byun Baekhyun'
'Akan aku pastikan dia akan jadi pacarku dalam waktu sebulan ini.'
'Dikira dia mau dengan kau? Tentu saja dia akan memilih aku.;
'Teruslah kalian bermimpi, yang jelas kalian bukan levelnya. Orang sepertinya hanya akan melirik lelaki tampan dan kuat untuk jadi pendampingnya.'
Dan semakin banyak orang-orang berbisik sambil memperhatikannya. Baekhyun tidak tahu pasti apa yang mereka bicarakan, apakah mata mereka tidak sengaja melihat dia dan membicarakannya hal yang tidak berhubungan dengannya atau memang benar mereka membicarakan dirinya.
Akhirnya ia menunduk malu.
"Hey."
Ia bisa merasakan seseorang berbicara padanya, suaranya berat tapi tidak mengintimidasi.
Baekhyun mendongak.
"Iya?" Untuk kali ini Baekhyun berterimakasih karena tidak tergagap.
Orang itu tersenyum melihat wajah menggemaskan Baekhyun.
"Aku Kim Jongin, senang berkenalan denganmu." Ucapnya sambil mengarahkan tangannya kepada Baekhyun untuk berjabat.
Orang ini memiliki wajah yang tampan dengan rahang yang tegas dan bentuk alisnya yang terukir indah menandakan bahwa ia seseorang yang sangat jantan. Ia memiliki badan yang cukup tinggi dan tubuh yang sangat proposional. Baekhyun dapat melihat otot bisepnya yang terbalut dalam kemeja lengan pendeknya. Dan, kepala Baekhyun bahkan tidak sampai pada telinga lelaki tersebut.
"Aku Kim Baekhyun…senang berkenalan denganmu juga." Baekhyun pun dengan malu menjabat tangan tersebut dan tersenyum manis.
Yang menurut Jongin menggemaskan.
Saat tangan mereka saling menjabat, terlihat perbedaan kulit yang cukup kontras antara kulit putih Baekhyun dan kulit eksotis Jongin. Serta bagaimana halusnya kulit Baekhyun seperti bayi berbanding terbalik dengan Kai yang memiliki permukaan tangan yang kasar.
"Jari-jarimu..lentik sekali, bahkan untuk ukuran seorang perempuan sangat mustahil dapat memiliki jari seindah ini." Ucap Jongin sambil mengelus telapak tangan Baekhyun dengan jempolnya.
"A-apa, tidak kok, tidak." Baekhyun pun refleks melepaskan jabatan tangan mereka dan menutupi bagian pipinya karena malu.
"Lucu sekali saat malu." Ucap Jongin sambil menatap wajah Baekhyun intens.
Baekhyun memberanikan diri untuk menatap Jongin balik, ia pun kembali bergumam
"Mm, aku sebenarnya pemalu maaf kalau tadi terlihat tidak sopan…"
Sebenarnya Baekhyun bukan seorang yang pendiam, dia hanya malu. Apalagi saat dimana orang-orang memperhatikannya. Ia akan lebih nyaman untuk berbicara dengan beberapa orang dalam kelompok kecil. Ia akan tampak sangat berbeda saat ia telah nyaman dengan orang disekelilingnya.
"Tidak apa-apa, mumpung sekarang sedang istirahat bagaimana kalau kita ke kantin?"
"Boleh, Jongin. Apakah tidak apa jika ku panggil Jongin saja?"
"Tentu saja, senang rasanya kau yang menurunkan honorofic duluan." Goda Jongin sambil mengerling nakal padanya.
"Sudah, Jongin..ayo ke kantin." Rengek Baekhyun.
"Alright, Princess."
.
.
.
.
"Wah, Jongin hebat ya bisa tau tempat kantinnya dimana. Tanpa bertanya, lagi."
"Itu karena aku sudah sering kesini, Baekhyun."
Baehyun mengkerutkan keningnya pertanda bingung, "Lho, bukannya Jongin juga seangkatan denganku?"
Jongin terkekeh, "Iya, tapi semenjak lulus SMP aku menghabiskan liburanku untuk bermain-main. Ke SMA ini misalnya."
"Tapi kenapa, Jongin?"
"Benar-benar ingin tahu, hm?" Ucap Jongin sambil mencolek hidung Baekhyun.
"Yasudah kalau tidak mau."
Jongin tertawa kecil, "Nanti juga kau akan tahu."
"Huh, yasudah kalau begitu ayo makan dulu, aku sudah sangat lapar." Ya, Baekhyun belum makan dari tadi pagi karena sibuk menghindari Taeyeon dan menunggu nya pergi ke sekolah duluan.
Akhirnya Baekhyun pun jalan duluan.
'Akhhhh!'
'Sa…sakit.'
'A-aku…minta…maaf…'
'Rasakan!'
'Akhhhhhhh!'
Jalan Baekhyun pun berhenti, ia mendengar suara-suara aneh yang berasal dari belakang kantin.
Ia memandangi sekitaran kantin yang terlihat biasa saja, tidak ada murid-murid yang curiga seperti dirinya dan tetap fokus pada kegiatan mereka masing-masing.
"Ada apa, Baek?"
"Jongin sepertinya aku ingin ke toilet dulu, rasanya tidak enak ditahan." Dan dia pun langsung pergi tanpa mendengar jawaban Jongin.
Jongin melongo.
"Memangnya dia tahu toiletnya dimana?"
.
.
.
.
"Brengsek, tutup mulutmu! Bagaimana jika ada guru yang melihat!" Teriak Chanyeol murka saat tau Dong Hee meringis kesakitan dengan suara yang keras. Lalu ia pun kembali menendangkan perut Dong Hee sampai ia memuntahkan sedikit darah dari mulutnya.
"Hahaha, lihatlah dirimu. Sangat memprihatinkan!" Sehun pun ikut memukul dibagian tengkuk Dong Hee, "Nah, begitu! Kau harus tunduk kepada kami!" Ucap Sehun lagi saat Dong Hee menundukkan kepalanya sambil berlutut saat pukulan Sehun membuat kepalanya berkunang-kunang dan bagian tengkuknya merasakan sakit yang luat biasa.
Walaupun begitu, Dong Hee tetap tidak berani mengeluarkan suara. Meringis, memekik ataupun merintih tidak akan bisa ia keluarkan dari mulutnya karena Chanyeol akan marah kembali padanya.
Yang hanya bisa ia lakukan hanya memohon doa kepada Tuhan agar setelah ini ibunya akan tetap terjaga dan tidak bersedih saat melihat keadaan anaknya yang tidak berguna ini.
Disisi lain, Taeyeon hanya bisa mengernyit melihat kelakukan dua temannya dan tidak habis pikir betapa teganya mereka kepada seseorang hanya karena masalah sepele.
Taeyeon pun ingin bergegas kembali ke kelas dan tidak ingin ikut campur sebelum guru atau murid osis menemukannya tapi langkahnya berhenti.
Saat terlihat dari kejauhan seseorang berjalan kearah mereka.
"Hey! Hentikan, kita ketahuan!" Ucap Taeyeon kepada dua temannya yang masih sibuk dengan korban mereka.
"Biarkan saja! Paling hanya murid biasa, yang ada kalau mereka berani mengadu akan ku patahkan leher mereka!" Ucap Chanyeol sambil menjambak rambut Dong Hee.
Akhirnya Taeyeon pun kembali memperhatikan mereka sambil terkikik geli saat melihat wajah pasrah Dong Hee.
"Ada apa ini…."
Deg
Suara ini
Taeyeon sangat mengenalnya.
Ia pun membalikkan badannya dan menatap orang dari suara tadi dengan wajahnya yang telah pucat pasi.
Baekhyun pun sama kagetnya dengan Taeyeon, mulutnya menganga dan menatap kakak dan orang-orang yang masih menghajar Dong Hee dengan tidak percaya.
"Kakak?"
Taeyeon masih tetap diam. Seakan ketahuan oleh seorang guru bahwa ia telah mencuri uang kas kelas.
"Hey! Kalian, sudah hentikan!" Teriak Taeyeon panik setelah ia menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan yang fatal.
Akhirnya mereka pun berhenti, Dong Hee menghela nafas lega walaupun sekujur tubuhnya telah mati rasa akan rasa sakit yang diberikan kepadanya secara bertubi-tubi.
"Ada apa lagi hah?" Ucap Sehun mengontrol deru nafasnya setelah daritadi menghajar Dong Hee, ia pun menatap kearah Baekhyun.
Sehun mengangkat alisnya sambil memperhatikan Baekhyun.
"Wow." Komentar Sehun.
Sedangkan Chanyeol? Ia mengikuti arah pandang Sehun yang daritadi memperhatikan Baekhyun. Sambil bertanya-tanya apa yang membuat Taeyeon berteriak seperti melihat penampakan.
"Akan…ku adukan kepada guru dan bimbingan konseling." Ucap Baekhyun kecil sambil menatap kakaknya dengan pandangan terluka, tidak menyangka bahwa kakaknya menjadi orang sebejad itu. "Ya ampun, maafkan aku dating terlambat. Yang jelas kau sedang tidak baik-baik saja, ayo kuantar kau ke UKS." Baekhyun pun membopong tubuh Dong Hee dengan kesusahan.
Sebelumnya ia juga memberikan tatapan tajam kepada Chanyeol dan Sehun.
"Tunggu." Terdengar suara berat itu. Milik Chanyeol. Yang membuat Baekhyun berhenti berjalan.
"Mau kau kemanakan peliharaanku?" Ucapnya datar.
Mendengar kata 'peliharaan' Baekhyun pun kesal, ia membaringkan tubuh Dong Hee direrumputan dan kembali berjalan kearah Chanyeol lalu mendorong tubuhnya, walaupun hal tersebut tidak berpengaruh apapun terhadap Chanyeol.
"Apa kau bilang? Peliharaan? Orang yang seharusnya kau sebut binatang itu adalah dirimu dan temanmu itu yang telah memukuli seseorang secara brutal! Bahkan hewan masih memiliki hati daripada kau!"
"Kau cari mati? Ingin ku hajar sekarang juga? Kau tahu kalau sekarang ini aku sangat baik karena telah membuang-buang waktu untuk berbicara dengan tikus sepertimu?" Kepalan tangan Chanyeol pun terangkat untuk memukul wajah Baekhyun.
Namun sebelum hal itu terjadi Taeyeon telah memegang kuat tangan kanan Chanyeol dengan kedua tangannya, "Kalau kau menyakitinya, kau rugi besar, Chanyeol." Ucap Taeyeon tajam.
Chanyeol mendecih, "Oh, adik pelacurmu itu ya." lalu ia pun menyeringai "Baiklah kalau begitu, welcome to the family, baby boy. Silahkan angkat kembali barangmu, jika perlu bantuan katakan saja."
"Yang kau sebut barang adalah manusia! Ia masih punya keluarga, apa kau tidak memiliki rasa kasihan sama sekali?!" Ucap Baekhyun sambil terisak, sebenarnya ia tidak sanggup melihat keadaan lelaki yang dipukuli tadi tapi ia harus menuju ke UKS untuk memulihkannya.
"Baekhyun…" Taeyeon mendekat.
"Jangan mendekat!" Baekhyun refleks mundur, "Aku tidak suka." Lalu Baekhyun pun kembali membopong Dong Hee dan pergi mencari Kai untuk membantunya.
"Tch, pelacur yang jual mahal." Chanyeol berdecih, "Sehun kenapa kau diam saja."
"Itu adikmu ya, Taeyeon? Selamat sebentar lagi kau akan mendapatkan adik ipar yang tampan." Sehun yang masih melihat bayang-bayang Baekhyun yang menjauh hanya bisa terdiam. Karena kecantikan dan kesempurnaan seorang Byun Baekhyun.
"Bukan saatnya untuk mengatakan itu, Sehun."
Taeyeon menunduk. Terlihat matanya yang berair "Aku benar-benar mengecewakan"
"Hahahaha, sejak kapan seorang Kim Taeyeon murung seperti ini. Sudahlah, lagipula ia akan kembali dengan sendirinya. Dia bukan anak kecil lagi." Ucap Chanyeol. Sangat tumben ia berbicara panjang lebara seperti itu. Mungkin moodnya yang sedang baik.
Diam-diam Chanyeol menyeringai dengan menyeramkan.
"Lihat saja."
TBC
HEHEHE sorry guysss, btw ini draftnya udah lama beungeutss, semenjak dari aku liburan smpe masuk kuliah, mau ngepost ga sempet2 karena kuliah yg super sibuk, baru minggu pertama masuk udah ada 2 tugas dan 2 presentasi huffft #collegelife #curhat
Ok deh gitu aja dulu.
Komen yg banyak ya biar gue nya juga semangat lanjutin cerita disela2 kesibukan q huhuhu #soksibuk
