sekali lagi, aku bilang ini fan fict buatan temen, sinthia Rahmanita. bukan buatan aku.
happy reading guys ;)
My Guardian
Chapter 3
Niall POV
Pagi itu aku, Lou, dan Paman Jon bergegas ke sebuah perusahaan label music terkemuka di britania raya, tak sabar rasanya ingin bekerja sama dengan perusahaan itu, berharap aku dan lou akan segera jadi tenar. Hahaha
Sesampainya disana aku disambut baik oleh sang direktur utama. Mr. malik, tapi sebelum ia berbincang dengan kami, ia menyuruh sekretarisnya untuk memanggil sang GM yang juga adiknya, entahlah untuk apa, tentunya kami juga tidak terlalu peduli.
Seorang gadis muncul tepat di balik pintu ruangan . Shine Malik. cantik. Bermata coklat. Rambut ikal nya yang tebal terurai sangat indah. Yatuhan, aku terpesona. Dan kali ini aku peduli mengapa mr. Malik memanggilnya.
Semenjak ia muncul sampai ia ikut berbincang dengan kami aku terus saja memperhatikannya, tapi kurasa ia tidak menghiraukan ku, dan kadang aku menundukan kepalaku karena malu ternyata mr. malik menyadari bahwa diam-diam aku sedang memperhatikan adiknya.
Benar saja sampai akhir pembicaraan kami dia masih tak menghiraukanku, kurasa ia sadar, tetapi yasudahlah, terserah dia saja.
Keluar dari gedung perusahaan itu aku dan lou serta paman jonn segera berangkat menuju kantor management kami, tentunya masih ada beberapa hal yang harus dikerjakan.
di dalam mobil aku hanya terdiam dan masih terbayang wajah gadis cantik itu hingga seseorang menjitak kepalaku. Louis.
"kau kenapa? Kenapa diam saja? Kau lapar?" ucap lou menggodaku kemudian ia tertawa
Ya aku memang tukang makan, tapi kalau aku lapar aku tidak akan terdiam seperti ini dan malah melakukan hal sebaliknya. Lou tau akan hal ini tapi sepertinya dia hanya menggodaku.
"diam kau lou, lagipula kenapa kau menjitak kepalaku. Sakit bodoh" ucapku sambil meringis. Paman jonn hanya tersenyum melihat tingkah kami
"kau sedang memikirkannya kan? ms. Shine Malik? " aku diam. Skak mat. Louis tertawa, mungkin raut muka ku sudah berubah sekarang
"bicara apa kau lou" aku mencoba menepis tebakan lou
"sudahlah, jangan berbohong padaku, kau menyukai nya kan? Jujur saja mate" lou melanjutkan perkataannya
"hmmm.. ya baiklah aku mengaku. Aku menyukai nya Lou. Lagipula siapa yang tidak tertarik dengan gadis secantik dia " jawabku gugup
"apa kau tidak tertarik?" aku bertanya pada lou, kuharap jawabannya sesuai dengan keinginanku. Tidak.
"hah benar kan! Aku? Tertarik? Hmm tentu saja niall" dia terkekeh, kemudian ia segera melanjutkan kata2 nya mungkin karena melihat kini tanganku sudah mengepal
"hahaha tenang saja, aku sudah punya Elena, dia segalanya untukku, Shine milikmu mate. berjuanglah" dia tersenyum, dan ya baguslah kurasa aku tidak perlu bersaing dengan sahabatku sendiri. Aku membalas senyumnya
Dari jok depan paman jonn ikut bersuara "apa kau yakin nak? kurasa tadi dia sama sekali tidak meghiraukanmu, jika cinta mu bertepuk sebelah tangan jangan coba untuk bunuh diri ya, kasihan lou jika menyanyi sendiri tak ada teman" kemudian terdengar tawa paman jonn dan lou memenuhi seisi mobil ini. Aku hanya mendengus kesal.
"oh ya lusa kalian sudah bisa rekaman, tadi menelpon ku" ucap paman jonn
"yihaaa" aku dan lou berteriak kegirangan.
Shine POV
Pagi itu aku dan zayn duduk di meja makan bersama untuk sarapan. Aku tidak terlambat lagi kali ini. Benar kan apa kataku, yang kemarin itu untuk pertama dan terakhir kalinya.
"Shine, apa kemarin kau menyadari sesuatu?" zayn memulai percakapan pagi itu
"sadar? Akan apa? Akan kepintaranmu bekerja sama dengan grup duo? Oh tentu saja!" aku berbicara dengan nada sarkasme
"bukan bukan itu adikkuuuuuu" zayn menggeleng dan kemudian ia tersenyum
"sadarkah kau sejak kemarin ada seseorang yang memperhatikanmu, sepertinya dia terpesona padamu" zayn tertawa
"pagi-pagi seperti ini kau sudah mengeluarkan lelucon yang tak lucu zayn" sebenarnya aku tau siapa orangnya. Tapi aku harus memastikan terlebih dahulu supaya tidak salah sangka, dan membuatku malu.
"ini bukan lelucon shine, dasar kau, benar2 ya kau ini gadis paling cuek yang pernah aku temui dimuka bumi " kata zayn meledekku
"oh ya? Apa salahku kalau aku tak menyadari gerak-gerik seseorang yang diam2 memperhatikanku? Salah nya sendiri kenapa mesti diam-diam" ucapku santai
"mungkin dia masih malu shine" kata zayn
"ya mungkin saja. Memang siapa yang memperhatikanku?" aku mencoba memastikannya pada zayn
"niall, cowok blonde bermata biru itu shine. Kau ingat? Kuharap kau mengingatnya walaupun sebenarnya kan kau ini punya ingatan 5 detik" zayn memicingkan matanya dan tertawa kepadaku
"tentu saja aku ingat zayn! Hey siapa bilang aku punya ingatan seperti itu, aku hanya tak bisa mengingat hal2 yang menurutku tak penting" aku menanggapi kata2 zayn dengan sedikit kesal
"ya ya maafkan aku, just kidding sis" dia tersenyum
"ayo berangkat, kita tak ingin terlambat kan" zayn melanjutkan kata2nya
"baik" aku tersenyum dan kami berdua bergegas pergi kekantor dengan masih ada baying-bayang wajah cowok blonde itu dipikiranku
'kurasa dia cukup charming' ucapku dalam hati, aku tersenyum. Tapi kurasa zayn tidak tau apa yang sedang aku pikirkan, dia hanya tersenyum balik melihatku.
Niall POV
Hari ini aku dan lou akan berangkat ke studio rekaman, yaa senang sekali rasanya, aku merasa ini adalah awal yang baru dalam hidup ku, setelah sekian lama hanya bernyayi dari kafe ke kafe kini aku dan Louis akan mempunyai album sendiri. Pagi itu seperti biasa kami berangkat ber 4, aku, lou, paman jonn, dan ben supir kami. Kami berangkat sebisa mungkin agar tidak terlambat. Karena ini merupakan pengalaman pertama bagiku dan lou.
Sesampainya di studio, aku sudah disambut oleh Davis, dia adalah orang kepercayaan mr. zayn. Dia langsung mempersilahkan kami masuk dan menjelaskan hal apa saja yang harus kami lakukan.
Davis pergi sebentar untuk mengangkat telpon, sepertinya penting. Tapi tak lama ia kembali
"mr dan ms. Malik akan kesini. Dia bilang ingin melihat kalian rekaman" ucap davis
"ya tentu saja, wah aku jadi gugup" ucap lou kemudian ia menyiku lenganku
Aku hanya menanggapi dengan senyuman terpaksa, kurasa aku benar benar benar gugup. ms. Shine akan kesini? Yatuhan semoga suara ku tidak tiba-tiba menghilang
"kau kenapa?" Tanya lou
"kau sakit?" sepertinya lou khawatir padaku
Aku menggeleng pelan
"tenang saja niall, kau tak usah seperti itu, mr dan memang selalu datang ke studio jika ada artis baru yang akan rekaman" ucap davis, sepertinya ia mengetahui kalo aku memang sedang gugup
"kurasa anak itu sedang tidak baik2 saja. Benar niall?" ucap paman jonn. Mereka tertawa melihat tingkah ku pagi ini.
Zayn POV
"pagi ini kita ke studio dulu ya shine, seperti biasa" kataku santai, aku tau pasti shine sudah mengerti. Aku dan shine memang selalu datang ke studio untuk melihat penyanyi yang pertama kali rekaman.
"baik, ayo berangkat" ucap shine bersemangat. Entahlah aku tak mengerti apa yang membuatnya pagi ini begitu senang. 'Apa dia senang akan bertemu niall? Bukankah kemarin dia tidak menghiraukan laki2 itu' batinku tak percaya
Hanya 30 menit waktu yang kami butuhkan untuk sampai di studio. Dan di depan gedung studio ini sudah terparkir sebuah mobil sedan. Kurasa itu mobil . mereka benar2 tepat waktu. Aku senang bekerja sama dengan orang yang on time seperti mereka.
Aku dan shine langsung memasuki studio, dan benar saja didalam sudah ada mr jonn, niall dan louis juga davis, org yg tadi ku telpon.
"Selamat pagi semuanya" aku menghampiri mereka dan mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan
"Pagi " ucap mr jonn dan davis berbarengan
"Kalian sudah siap untuk rekaman hari ini niall,louis?" Tanyaku pada dua org pemuda yang sejak tadi hanya terdiam. Oh tidak untuk niall mungkin dia terdiam sambil memperhatikan adikku. Shine.
"Tentu saja mr" louis yg menjawab, niall tersenyum. Aku paham apa yg sedang terjadi padanya.
"Baiklah kalian bisa memulainya, waktunya tidak terlalu pagi untuk rekaman bukan?" Godaku pada mereka berdua
"Tidak tentunya mr, kami sudah sangat siap" kali ini niall yang menjawab. Kelihatannya dia sangat bersemangat. Dan kembali menoleh kepada shine.
Aku menoleh ke samping, menatap adikku, dan shine sedang tersenyum sambil menatap niall. Kali ini shine menghiraukan tatapan pemuda blonde itu. Kukira tidak akan ada yang bunuh diri karena patah hati.
"Kalau begitu aku permisi ya semuanya,aku masih ada pekerjaan dikantor" kata mr jonn, kemudian ia berpamitan pada kami.
"Shine"
"Ya, ada apa?" Jawabnya, kemudian ia kembali menyesap teh dari cangkir yg sejak tadi ia pegang
"Kau mau pindah ke suasana baru emm.. Maksudku pindah tempat kerja?" Ucapku sedikit ragu
"Maksudmu aku tdk sekantor lagi denganmu? Mutasi? Oh kau memutasi adikmu sendiri zayn, sungguh kaka yang baik" ucapnya sarkastis
"Ya terimakasih atas pujianmu shine" aku terkekeh
"Begini kupikir kau emmmh... Akan lebih bahagia jika pindah ke studio" lanjutku
"Apa yang membuat kau berpikir seperti itu zayn?" Shine menyimpan cangkirnya dimeja. Lalu ia melanjutkan perkataannya
"Apa kau sudah bosan sekantor denganku? Atau bagaimana?" Tanyanya
"Begini shine, lusa akan pensiun, dia merasa sudah cukup tua untuk bekerja disini, sebenarnya aku tidak terlalu setuju karena dia adalah salah satu org kepercayaanku, mom dan dad juga tentunya". Aku menyesap teh ku dan melanjutkan kalimatku
"Ya kupikir daripada aku pusing mencari org baru,lebih baik kau saja, lagi pula aku tau kau akan senang disini" ucapku sedikit menggodanya
"Muncul darimana pikiran itu? Lagipula kenapa tidak davis saja yang kau pilih" sarannya
"Dapat kulihat dari wajahmu, kau terlihat sangat senang disini" kali ini aku tertawa. Raut muka shine berubah, sepertinya dia sudah paham kemana obrolan ini mengarah
"Aku tidak memilih davis karena dia sudah tepat dijabatannya yg sekarang, aku sudah sangat percaya padanya untuk mengisi pekerjaan nya" lanjutku
"Ya baiklah jika itu perintahmu, kapan aku mulai kerja?" Dia bertanya padaku. sepertinya shine setuju, atau mungkin sebenernya dia setuju dari tadi tapi dia malu mengakuinya. Aku tersenyum
"3 hari lagi. Lusa william masih bekerja disini" kataku
"Baiklah" jawabnya. shine dan aku tersenyum
"Permisi , ms. Shine mau ikut denganku melihat mereka berdua rekaman?" Tiba2 suara davis terdengar dari balik pintu, hanya kepalanya saja yang menyembul.
"Boleh" jawab shine.
"Aku tak ikut ya, ada beberapa berkas yang harus kuperiksa" jawabku. Shine mengangguk pelan.
"Aku pergi dulu zayn" ia menatap ku dan aku hanya mengangguk mengiyakan. Kemudian ia tersenyum.
Sepertinya aku tau adikku kali ini sedang tertarik pada seorang laki2, aku tak pernah melihat raut muka nya seceria ini sebelumnya. Walaupun aku tau dia memang punya sahabat laki2 yg sangat dekat dengannya. Tapi sekali lagi aku tak pernah melihat wajah seceria itu ketika ia bersama sahabatnya.
"Kringggggg" "ponselmu bunyi shine" aku membuka pintu dan berteriak pada Shine yang sedang bersama davis memperhatikan louis dan niall rekaman. sepertinya dia tidak mendengarku, dia sangat serius memperhatikan niall dan louis. Atau niall saja lebih tepatnya. lagipula ponselnya juga tidak bunyi lagi. Biarkan sajalah.
Tak lama shine muncul bersama davis, niall, dan louis menghampiriku.
"Ya ini dia artis pendatang baru kita sudah datang" godaku. Niall dan lou tersenyum sumringah. Shine dan davis juga.
"How? Rekamannya lancar?" Lanjutku
"Tanpa hambatan mr" jawab lou bersemangat
"Bagus! Oh iya shine tadi ponselmu bunyi, ada yg menelpon" kataku pada shine
"Oh ya? Kenapa kau tak memanggilku tadi mr?" Dia melirik sebal padaku dan berjalan ke arah tasnya
"Aku sudah berteriak padamu hey! Kau saja mungkin yg tadi sedang terpesona menatap seseorang sampai kau tak mendengarku" aku tertawa. Shine sontak saja berbalik menghadapku. Dia melotot. Mukanya memerah. Aku menoleh pada Niall, dia hanya tersenyum padaku. Davis dan louis sedang mengobrol. Mungkin mereka tidak menyadari kata2ku tadi.
"James! Astaga! Dia menelponku!" Pekik shine senang. James. Aku tau pemuda itu. Dia adalah sahabat shine sejak SMP. Shine sempat menyukai pemuda itu. Aku juga tak tau bagaimana sekarang perasaan shine terhadap james. Dan memang sudah lama mereka tidak bertemu, sejak lulus SMA kurasa. James tak pernah main ke rumah lagi sejak itu. Shine segera bergegas pergi keluar ruangan yg kami tempati. Aku kembali menoleh pada niall, dan kulihat raut mukanya berubah. Cemburu?
"Emm permisi mr, sepertinya ada yg tertinggal di tempat rekaman" kata niall dengan muka datar.
"Kau mau kesana? Oke. Oh kita seumuran kan? Panggil saja aku zayn. Berasa seperti bapak2 kau memanggil ku dgn mr" kekehku
"Iya baiklah, zayn. Permisi kalau begitu" aku mengangguk padanya, dan dia bergegas pergi. 'mungkin niall hanya alasan mau kembali ke ruang rekaman, padahal ia ingin menghampiri adikku. Ah sudahlah. Itu kan masalah mereka berdua'batinku
Tak lama mereka pergi aku sudah terlibat obrolan yang serius dengan davis dan lou.
Niall POV
Sungguh hari ini adalah hari yang paling menyenangkan bagiku. Hari pertama rekaman dan ada nona cantik yang sedang memperhatikanku memainkan gitar dan bernyanyi.
Kali ini entahlah aku merasa sepertinya ia menanggapi tatapanku, tidak seperti 2 hari yang lalu, sangat jutek, tapi dia tetap saja manis, apalagi sekarang ditambah dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Kurasa aku benar-benar jatuh cinta padanya. Dan kuharap dia juga merasakan hal yang sama denganku
Selesai rekaman kami kembali keruangan yg sebelumnya kami singgahi. Ada mr zayn didalam, dia sedang sibuk dengan beberapa berkas diatas meja.
"Ya ini dia artis pendatang baru kita sudah datang" mr zayn berkata dengan nada menggoda kepada kami. Kepadaku dan louis tepatnya
"How? Rekamannya lancar?" Tanya zayn
"Tanpa hambatan mr" jawab lou bersemangat
"Bagus! Oh iya shine tadi ponselmu bunyi, ada yg menelpon" katanya
"Oh ya? Kenapa kau tak memanggilku tadi mr?" Shine menanggapi kata2 kakaknya dengan ketus.
"Aku sudah berteriak padamu hey! Kau saja mungkin yg tadi sedang terpesona menatap seseorang sampai kau tak mendengarku" zayn tertawa. Shine sontak saja berbalik menghadapnya. Dia menatapnya dengan tatapan intimidasi. melotot lebih tepatnya. Kulihat Muka shine memerah. Mr. Zayn menoleh pada ku, kami berdua tersenyum. Davis dan louis sedang mengobrol. Mungkin mereka tidak menyadari apa yg dikatakan tadi. Dan aku merasa aku bertambah yakin dengan perasaan ini.
"James! Astaga! Dia menelponku!" Shine berteriak senang.
'James? Siapa dia? Shine begitu senang mendapat telpon darinya? Pacarnya? Ternyata dia sudah punya pacar' seketika aku jadi tidak bersemangat.
Shine bergegas pergi keluar ruangan, sepertinya dia akan menelpon org itu. Aku pamit kepada zayn karena kurasa ponselku tertinggal di ruang rekaman. Tapi zayn menatapku ragu kurasa dia sedang berpikir bahwa aku hanya berbohong padanya karena aku ingin menyusul adiknya. Tapi aku tak menghiraukan pandangan itu dan segera pergi ke ruang rekaman.
Di dekat pintu ruang rekaman itu ternyata ada shine yg sedang menelpon, aku samar2 mendengar suaranya karena studio hari ini cukup sibuk dan shine juga berbicara tidak terlalu keras. Aku hanya mendengar beberapa kata yang membuatku sungguh ingin cepat2 pergi dari tempat ini.
"aku sangat merindukanmu, kemana saja kau." Ucap shine, benar2 rasanya entahlah aku tak mengerti. Kesal dan rasanya ingin sekali aku menonjok pintu ruangan itu, tapi kuurungkan niat tsb karena pasti shine akan tau bahwa aku sejak tadi menguping. Aku berjalan cepat menuju ruangan tadi. 'Bodoh sekali bodoh, lagipula harusnya aku tau gadis secantik shine pasti sudah punya pacar, aku saja yang kegeeran' aku merutuk diriku dalam hati. Perasaanku benar-benar tak karuan kali ini.
Sebelum aku masuk ke ruangan aku melihat layar ponselku, satu pesan diterima. Dari liam. Dia adalah sepupuku yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Semenjak kedua org tuaku meninggal. Sejak usia 10. Kedua org tua liam lah yang merawatku. Sampai aku selesai lulus sma, barulah aku pindah dan tinggal bersama nenek. Liam meminta aku menjemputnya dibandara malam ini. Aku harus segera pulang.
Saat aku masuk ke ruangan, mr. Zayn, lou dan davis sedang berdiskusi, cukup serius sepertinya. Tapi obrolan mereka terhenti setelah aku meminta izin pulang pada zayn.
"Zayn, boleh aku pulang sekarang? Aku harus menjemput sepupuku dan orang tuanya dibandara" kataku
"Oh tentu saja niall, tak menunggu shine dulu?" Tanyanya. Dia tersenyum
"Hmm, sepertinya tidak, salam saja untuknya" jawabku
" 2 " kata zayn
"Aku temani mate?" Kata lou. Aku mengangguk.
"Baiklah kami permisi" aku menatap mr zayn dan davis
Aku dan lou bergegas pergi. Kami menaiki taksi untuk pulang ke rumahku. Mengambil mobil dulu sebelum berangkat ke bandara.
Shine POV
Aku dan zayn berangkat ke studio. Aku merasa aku sangat senang. Entahlah kenapa. Niall? Ah cowok blonde itu. Aku kembali tersenyum mengingatnya.
Aku masuk. Mereka ternyata sudah lebih dulu sampai dibanding aku dan zayn. Aku tersenyum pada niall.. Aku tak banyak berbicara pagi itu. Mau bicara apa? Sepertinya tak ada hal yg perlu aku katakan. Mr jonn segera pamit pulang setelah zayn mempersilahkan niall dan lou untuk keruang rekaman. Mr jonn bilang dia masih ada keperluan dikantornya.
Dan seperti mengetahui aku senang berada di studio untuk kali ini, zayn meminta ku untuk pindah ke studio dan menjadi org yg mengatur segalanya disini.
"Shine"
"Ya, ada apa?" Jawabku, kemudian aku kembali menyesap teh dari cangkir yg sejak tadi ku pegang
"Kau mau pindah ke suasana baru emm.. Maksudku pindah tempat kerja?" Ucapnya sedikit ragu
"Maksudmu aku tdk sekantor lagi denganmu? Mutasi? Oh kau memutasi adikmu sendiri zayn, sungguh kaka yang baik" ucapku sarkastis. Aku belum tau jika zayn akan memindahkanku ke studio.
"Ya terimakasih atas pujianmu shine" zayn terkekeh
"Begini kupikir kau emmmh... Akan lebih bahagia jika pindah ke studio" lanjutnya
"Apa yang membuat kau berpikir seperti itu zayn?" Aku tetap berusaha menolak, walaupun sebenarnya aku pasti akan menerimanya. Kalau zayn yang tidak menawarkan, besoknya juga pasti aku yang minta mutasi.
"Apa kau sudah bosan sekantor denganku? Atau bagaimana?" Tanyaku
"Begini shine, lusa akan pensiun, dia merasa sudah cukup tua untuk bekerja disini, sebenarnya aku tidak terlalu setuju karena dia adalah salah satu org kepercayaanku, mom dan dad juga tentunya". Zayn menjelaskan. 'Baiklah alasan yang masuk akal' batinku
"Ya kupikir daripada aku pusing mencari org baru,lebih baik kau saja, lagi pula aku tau kau akan senang disini" ucap zayn sedikit menggodaku
"Muncul darimana pikiran itu? Lagipula kenapa tidak davis saja yang kau pilih" aku masih terus bersikap seakan akan ada penolakan, supaya tidak terlalu terlihat apa yg sebenarnya aku rasakan, malas sekali jika zayn sudah tau. Dia pasti menggodaku habis2an.
"Dapat kulihat dari wajahmu, lagipula kau terlihat sangat senang disini" kali ini dia tertawa. Dapat kurasakan wajahku memanas, sudah berubah warna kurasa. Tidak bisa disembunyikan lagi.
"Aku tidak memilih davis karena dia sudah tepat dijabatannya yg sekarang, aku sudah sangat percaya padanya untuk mengisi pekerjaan nya" lanjut zayn
"Ya baiklah jika itu perintahmu. Kapan aku mulai bekerja?" Tanyaku. aku setuju. Berusaha bersikap normal2 saja. Tapi tetap saja sepertinya raut muka senang ku tak dapat disembunyikan.. Zayn tersenyum
"3 hari lagi. Lusa william masi bekerja disini" katanya
"Baiklah" jawabku singkat. Zayn dan aku tersenyum
Aku menemani niall dan lou rekaman, davis yang mengajakku tadi, tapi aku juga tak menolak, karena ya memang aku ingin melihat mereka berdua rekaman. Melihat niall tepatnya.
Rekaman selesai. Kami berempat kembali ke ruang tempat kami menyimpan barang tadi, diruangan masih ada zayn.
"Ya ini dia artis pendatang baru kita sudah datang" goda zayn ketika kami menghampirinya. Niall dan lou tersenyum sumringah. Aku dan davis juga.
"How? Rekamannya lancar?" Tanya zayn
"Tanpa hambatan mr" jawab lou bersemangat
"Bagus! Oh iya shine tadi ponselmu bunyi, ada yg menelpon" katanya
"Oh ya? Kenapa kau tak memanggilku tadi mr?" Kataku sebal. 'Padahal kan ruangan ini dengan tempat rekaman tak begitu jauh'batinku
"Aku sudah berteriak padamu hey! Kau saja mungkin yg tadi sedang terpesona menatap seseorang sampai kau tak mendengarku" zayn tertawa. Aku sontak saja berbalik menghadapnya. Aku menatapnya dengan tatapan intimidasi. melotot lebih tepatnya. Mukaku memerah. panas kurasa. Zayn menoleh pada Niall, mereka berdua tersenyum. Davis dan louis sedang mengobrol. Mungkin mereka tidak menyadari apa yg dikatakan zayn tadi.
"James! Astaga! Dia menelponku!" Teriakku senang, aku tak menghiraukan org2 yg ada diruangan aku bergegas pergi untuk kembali menelpon james. 'Sudah lama sekali. Kupikir dia sudah lupa padaku' ucapku dalam hati.
"Hallo ms. shine shabrina malik" terdengar suara seorang laki2 diujung sana. James.
"Hallo james payne" balasku
"Apa kabar kau sekarang? Aku sangat merindukanmu shab, sudah 2 tahun kita tidak bertemu! Kau pasti merindukan ku juga kan" kekehnya
"Tentu saja idiot! aku sangat merindukanmu, kemana saja kau. Segitu sibuknya membantu ayahmu sampai2 lupa padaku hah?" Kataku, kemudian aku melihat bayangan seseorang berlari ke ruangan. Aku tak menghiraukannya paling hanya salah satu karyawanku
"Pagi ini aku akan berangkat ke London. Besok kita bertemu ditempat biasa ya nona" godanya
"Oh yaa!" Teriakku senang
"Baik kita bertemu besok, jangan membuatku menunggu oke!" Lanjutku
"Baik tuan putri. Kalau begitu sudah dulu ya. Bye!"
"Okee" kataku. sambungan terputus.
Aku kembali ke ruangan dan aku hanya mendapati zayn dan davis yg sedang mengobrol. Niall dan louis?
"Zayn, kalian hanya berdua?" Ucapku ragu. Padahal tentu saja sebenarnya aku ingin mengatakan "niall dan louis mana?" Atau lebih tepatnya "niall kemana?" Tapi ku urungkan. Aku tak ingin zayn meledekku. Lagipula kemana dia. Padahal aku baru saja ingin mengobrol dengannya.
"Ya tentu saja sis, apa kau melihat org lain disini?" Dia terkekeh
"Oh ya, tadi niall dan louis pamit duluan, niall bilang dia mau menjemput sepupunya dibandara, louis juga menemaninya" jelasnya
"niall juga tadi menitipkan salam untukmu" zayn menatapku dengan tatapan menggoda dan dia tersenyum
"Hmm.. Iya" jawabku singkat. Aku membalas senyumnya. Niall menitipkan salam untukku. Pikiranku kembali dipenuhi oleh pemuda blonde itu.
"Baiklah kalau begitu sepertinya kerja hari ini sudah selesai. Terimakasih davis" zayn menepuk bahu davis
"Ya sama sama mr, kalau begitu aku akan kembali keruanganku, ada sesuatu yang harus diselesaikan sore ini" kata davis tersenyum, zayn mengangguk padanya. dia menuju ruangannya.
"Shine, aku ada janji dengan Lily sore ini. Kau pulang dengan Austin ya. Aku tadi sudah menelponnya untuk menjemputmu" zayn mengusap kepalaku
"Baiklah. Semoga pertemuan mu sore ini menyenangkan,kak!" Aku menggodanya
"Pastinya aku sudah lama tidak bertemu dengannya, dan sudah 2 bulan kami lost contact. pasti dia sudah rindu padakku" ucap zayn pede, kemudian dia bergegas pergi
"Hati-hati" teriakuu
"Okee" jawabnya
Sore itu aku pulang bersama austin. Supir pribadi ku selain josh dan nathan.
