panjang banget kan kalau dibuat jadi 1 chapter ajaaa. hahahaa
My Guardian
Chapter 4
Zayn POV
Sore itu aku bertemu dengan kekasih ku Lily di restoran tempat biasa kami bertemu. Di dalam mobil aku terus saja tersenyum membayangkan wajah gadis itu kurasa dia sudah memaafkanku mengingat pertemuan kami 2 bulan yang lalu kurang mengenakan, lily marah padaku karena aku terlambat 1 jam bertemu dengannya. Aku lupa, jadwal meeting hari itu sangat padat.
Sesampainya di restoran aku langsung masuk dan mengedarkan pandanganku mencari lily. Dan ya dapat. Dia duduk di dekat jendela, dengan 2 gelas jus stroberi di mejanya. Kurasa yang satu itu untukku. Aku melambaikan tanganku padanya dan dia tersenyum. Aku menghampirinya.
"Apa aku terlambat?" Tanyaku menggodanya
"Ya, 5 menit zayn" ucapnya kurang bersemangat
"Ini untukku?" Aku menarik gelas itu dan tangan liliy menahanku
"Buk..." Belum sempat lili meyelesaikan kalimatnya seorang laki2 berambut ikal berbicara padanya.
"Tidak lama kan dear" ucapnya. Lalu ia mencium puncak kepala lily. Dan lily tersenyum padanya.
Aku kaget kulepaskan gelas itu dan kuletakan kedua tanganku kulipat di depan dada, menatap lily meminta penjelasan. Dia menatap ku lemah. Laki2 itu juga menatap lily tapi tatapan nya lembut, seakan meminta lily untuk menjelaskan segalanya padaku.
"Kenalkan zayn, ini Harry. Tunanganku" kata lily pelan. Harry, ya laki2 itu kini merangkulnya.
Mataku terbelalak kaget. Dan kemudian aku bersuara.
"Bagaimana bisa lil? Bukankah kita belum putus?" Protesku dengan nada sedikit membentak. Aku tak mempedulikan ekspresi harry. Bahkan aku tak menganggapnya ada disana. Masa bodoh. Peduli apa dengannya. Walaupun kelihatannya harry tenang2 saja.
"Kurasa kita tidak perlu kata2 itu zayn, sudah 3 tahun kita berpacaran. Dan selama itu kau sering sekali mengabaikanku, melupakanku dan terlalu serius pada pekerjaanmu, aku tak bisa terus2an seperti ini zayn. aku merasa seperti tidak punya kekasih, jadi aku memutuskan untuk mencari org lain yang dapat membuatku bahagia" jelas lily tegas. Dia menatapku, dan sepertinya raut muka ku sudah berubah. Aku kecewa. Benar2 kecewa.
"Kuharap kau mengerti zayn" kata lily lirih.
"Tolong mengerti keadaannya" harry ikut menimpali
"Baiklah, semoga kalian bahagia" setelah mengucapkan kata2 itu aku segera pergi meninggalkan restoran itu. Sakit sekali rasanya.
Kali ini di dalam mobil aku hanya diam. Josh menatapku dari kaca depan. Dia memberanikan dirinya untuk bertanya padaku
"Tuan tidak apa2?" Tanyanya pelan. Aku tau dia pasti bingung mengingat tadi ketika berangkat wajahku sangat ceria.
"Aku baik2 saja josh" jawabku sekenanya. Masih tidak percaya dengan apa yang terjadi sore ini. Putus dengan seorang gadis yang sudah 3 tahun lamanya kupacari. Cukup lama . Tapi kalau ketemuan sih masih bisa kuhitung dengan jari. Kurasa ini memang salahku.
"Sekarang kita mau kemana tuan?"
"Pulang saja josh. Kita ke rumah. Aku lelah" aku menyandarkan badanku ke jok dan berusaha se rileks mungkin.
Seorang asisten rumah tangga sudah membukakan pintu untukku, kemudian dia mengambil tas kerjaku dan jas yang sejak tadi kupegang. Aku langsung menuju kamarku dan mendapati shine sedang santai di depan tv. Aku melewatinya dan sama sekali tak menghiraukannya. Dia menatapku. Mungkin dia bingung melihatku tiba2 datang dengan wajah semuram ini.
Shine POV
Aku tak mengerti ekspresi zayn saat ia sampai di rumah. Ia terus saja berjalan menuju kamarnya, melewati aku yg sedang duduk santai di sofa. Zayn sama sekali tak menyapaku. Melihat padaku saja tidak. Kepalaku sampai berputar mengikuti arahnya berjalan. Dia tampak sangat muram.
Aku sudah duduk di kursi saat makan malam tiba, hannah asisten rumah tangga ku bilang bahwa zayn tak mau turun untuk makan dia bilang dia sudah kenyang. Aku mengangguk pelan, mungkin zayn sudah makan tadi saat bertemu lily. Aku pun melanjutkan makan malamku sendiri. Setelah ini aku akan ke kamar zayn untuk menanyakan beberapa hal.
Tok tok tok. "zayn kau di dalam?"
"Ya masuk saja shine"
Aku masuk dan duduk disamping tempat tidurnya, dia sedang berbaring dan berselimut.
"Kau sakit?" Aku memegang keningnya. Normal saja.
"Tidak, aku baik2 saja" katanya
"Kau sudah makan?"
"Belum" jawabnya singkat
Aku keluar sebentar memanggil hannah untuk membawakan zayn makan malam. Aku kembali masuk dan zayn masih tetap pada posisinya tadi. Tak lama hannah mengetuk pintu, dan aku menyuruhnya masuk. Ia menaruh nampan makanan dan kemudian bergegas pergi.
"Zayn, ayo makan dulu. Nanti kau sakit"
"Aku tidak lapar"
"Katanya kau belum makan, seingatku tadi siang kita hanya makan pizza di studio, dan itu tidak banyak" kataku
"Kau kenapa? Tak biasanya seperti ini. Jangan menyembunyikan sesuatu dariku"
Dia membalikkan badannya dan membelakangiku
"Zayn ayolaah! Ceritakan padaku!" Kali ini nada bicaraku menaik. Aku menarik selimutnya
"Oke oke" zayn bangun, ia menumpuk beberapa bantal agar ia bisa bersandar
"Sebenarnya aku malu menceritakannya, melankolis sekali. Memalukan"
"Apa? Ceritakan saja! Tak usah banyak intermezo"
"Aku putus dengan lily" ucapnya lemah. Mataku membelalak kaget.
"Bagaimana bisa? Bukan kah kalian sudah lama berpacaran? Semudah itu dia bilang putus zayn!" Protesku
"Lebih parah dari yang kau bayangkan sis, dia juga sudah bertunangan. Lagipula ini memang salahku" kata zayn. Kemudian ia menunduk
"Apaaaaaa?" Kali ini aku benar2 berteriak
"Kenapa kau bisa bilang ini salahmu?" Tanyaku
"Santai saja sis. Dia bilang aku terlalu sibuk dengan dunia kerjaku sampai2 aku sering mengabaikan dan melupakannya, jadi dia mencari seseorang yang dapat membuatnya bahagia, aku senang kalau ia senang" ia menjelaskan. Zayn tersenyum padaku.
"Baiklah kalau begitu zayn. Mungkin memang lily bukan gadis yang terbaik untukmu." Ucapku sesantai mungkin. 'Zayn saja yang mengalaminya bisa santai mengapa aku tidak' kataku dalam hati.
"Oh iya kau belum makan kan, itu makan malammu" kataku sambil menunjuk nampan dimejanya.
"Aku terlalu lemas untuk memegang sendok. Bisakah kau?" Dia menatapku seperti anak kecil yang meminta permen
"Hmm dasar kakak yang manja, baiklah karena kau sekarang sedang sedih aku akan melakukan apa saja untuk membuat wajahmu berubah ekspresi. Aku agak sedikit mual melihat wajahmu yang muram seperti ini" kataku. Zayn terkekeh pelan.
aku menyuapi nya, kuharap ia tidak terlalu lama larut dalam kesedihan ini. Benar2 menyedihkan keadaan org yang sedang patah hati.
"Shine"
"Ya"
"Bagaimana hubungan mu dengan niall?" Deg. Jantungku terasa berhenti ketika zayn mengucapkan nama itu.
"Hubungan apa? Aku tak mengerti" aku menjawab cepat. Kemudian aku menunduk.
"Sudahlah tak usah malu2,kau menyukainya kan? Bisa dilihat dari matamu saat menatapnya" kata zayn
"Begitukah? Entahlah zayn aku tak mengerti" kataku sambil mengerdikan bahu
"Apa kau masih mengharapkan sahabatmu itu shine? James?" Zayn terus menanyaiku
"Tidak!" Jawabku tegas
"Aku sudah tdk menyukainya lagi zayn, kau tau masa lalu biarkan saja jadi masa lalu. Aku tak mau merasakan perasaan itu lagi padanya. Cukup sekali saja. Lagipula dia sepertinya lebih pantas jadi sahabatku" jelasku
"Kau masih sakit hati ya gara2 dia waktu itu punya pacar?" Zayn tertawa pelan.
Aku menggeleng. Sebenarnya memang waktu itu aku sangat sakit hati. Bisa2 nya james memperkenalkan seorang gadis padaku yang diakui itu adalah pacarnya saat aku mempunyai perasaan padanya. Saat aku mengatakan suka padanya james bilang hanya menganggapku sebagai adiknya. Seiring waktu, sekarang aku sudah bisa melupakan perasaan itu dan tetap bersahabat dengan james.
"Kau tetap tidak mau dengannya walaupun dia meminta mu?" Zayn berkata dengan nada menggoda
"Tetap tidak! Ini prinsipku"
"Baiklah, kalau begitu berarti sekarang kau sedang menyukai niall ya?" Zayn terkekeh
"Kesimpulan macam apa itu?" Aku berkata sinis
"Yaa, kita lihat saja nanti"
Aku menggeleng pelan menatapnya. Sambil terus memikirkan kata2 zayn 'apa maksudnya lihat saja nanti?' Batinku
"Makananmu sudah habis, aku kembali ke kamarku ya. Kau jangan tidur terlalu larut. Jangan banyak pikiran" kataku. Lalu aku bergegas keluar dari kamar zayn
"Baik adik kecil" dia mengedipkan salah satu matanya padakku, aku hanya membalasnya dengan senyum dan kembali ke kamarku dengan pikiran ku dipenuhi wajah pemuda blonde itu.
Liam POV
Akhirnya. Sampai juga di london. Aku sangat merindukan kota ini. Bagaimana tidak sudah dua tahun aku tidak mengunjungi kota ini. Terlalu sibuk. Bukannya menyombongkan diri. Tapi aku memang sedang sangat sibuk membantu bisnis ayahku.
Niall. Sepupuku. Dia akan menjemputku dan mom. Dad tak bisa ikut pulang ke london karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikkan. Dad bilang dia akan menyusul. Tak lama berjalan sepertinya aku menemukan niall. Aku dapat melihatnya dari kejauhan, rambut blondenya cukup menarik perhatian. Tapi kelihatannya dia tidak sendiri
"Niaaaaalll" teriakku padanya. Dia dan kawannya segera berlari menghampiriku dan mom.
"Liaaam sudah lama tak berjumpa" dia memelukku. Aku membalas pelukannya dan tersenyum. Kemudian dia beralih ke mom.
"Hello aunt, apa kabar?" Mom dan niall berpelukan
"Baik tentu saja dear, kau bagaimana?" Tanya mom
"Kabarku sangat amat baik, aunt. Mana uncle?" niall tersenyum
"Uncle mu masih sibuk nak, dia bilang kalo pekerjaan nya sudah selesai ia akan segera menyusul" kata mom. Niall mengangguk pelan
"Oh ya perkenalkan ini louis sahabatku" niall menepuk bahu laki2 yang sejak tadi berdiri disampingnya tersenyum padaku dan mom
"Oh hai louis, senang berkenalan denganmu" aku dan mom menjabat tangan louis.
"Ya aku juga" dia tersenyum.
Kami langsung bergegas pulang ke rumah. Aku sudah sangat merindukan nenek.
Setelah makan malam, aku, mom, dan nenek sedang bersantai diruang keluarga. Hingga aku menyadari sesuatu. Kemana niall?
"Mom, apa kau melihat niall?"
"Sepertinya dia diluar, mom mendengar suara gitar dimainkan tadi, mom rasa itu niall" jawab mom
"Baiklah, aku keluar dulu ya" mom dan nenek mengangguk mengiyakan
Benar saja. Niall sedang memainkan gitarnya di beranda rumah. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.
"Ada yang kau pikirkan niall?" Kataku sambil menepuk bahunya. Tak ada jawaban.
"Kenapa kau diluar?" Tanyaku. Kemudian dia menoleh padaku. Aku duduk tepat disampingnya.
"Hah? Tidak ada liam. Hanya ingin menikmati malam saja" ucapnya.
"Baguslah kalau begitu" aku tersenyum. Niall masih memetik gitarnya. Mengalun pelan. Tapi kurasa niall memang sedang memikirkan sesuatu. Lain kali saja kutanyakan lagi.
Aku teringat akan janjiku besok bertemu dengan shabrina di tempat biasa. Aku sedang malas bawa mobil sendiri. Jadi aku memutuskan untuk mengajak niall
"Besok kau bisa mengantarku ke wally's niall?" Tanyaku
"Tentu saja Liam. Mau apa kau ke kedai eskrim itu?" Niall balik bertanya
"Bertemu seseorang, bertemu shabrina" aku tersenyum
"Oh ya aku mengerti" niall tertawa
"Pacarmu?" Tanyanya
"Ya kuharap, tapi sepertinya dia hanya akan jadi sahabatku untuk selamanya. Bodoh sekali waktu itu aku menolaknya dan hanya menganggapnya sebagai adik. Aku baru sadar sekarang ternyata aku menyayanginya lebih daripada sahabat, dan sayangnya sekarang dia tidak merasakan hal yang sama sepertiku" kataku pelan. Sungguh aku sangat menyesali apa yang kukatakan waktu itu dan lebih memilih Danela. Shabrina benar, danela hanya mempermainkanku, harusnya waktu itu aku percaya padanya. Aku terdiam sesaat.
"Mungkin dia bukan gadis yang terbaik untuk mu liam" kata niall sambil menepuk bahuku. Dia mengaburkan pikiranku.
"Ya mungkin. Kau mau ikut niall?" Tanyaku
"Boleh" jawab niall
Niall POV
Kurasa semalam liam sadar kalau aku sedang memikirkan sesuatu. Benar. Aku sedang memikirkan Shine dan James atau siapalah itu. 'Apa benar aku akan patah hati?' Tanyaku dalam hati. Liam terus bertanya padaku, tapi kurasa aku tak perlu meceritakan hal ini padanya. Jadi aku diam saja dan berpura-pura sedang tak memikirkan apapun, walau keliatan nya tak berhasil karena semalam liam menatapku dengan mendengar jawabanku.
Hari ini aku berjanji pada liam untuk mengantarnya ke wally's, dia akan bertemu shabrina sahabatnya dan dia mengajakku, ya tentu saja mengingat hari ini sepertinya aku tidak harus ke studio. Paman jonn tidak menyuruhku kesana hari ini.
"Kriiingggg" ponselku berbunyi
"Paman jonn?" Kataku pelan. Liam sepertinya tidak mendengar apa yang kukatakan. Dia sedang asik mendengarkan musik yang diputarkan sebuah radio di mobil.
"Liam, bisa kau kecilkan volumenya sebentar?" Kataku
"Tentu" liam kemudian memencet tombol volume untuk mengecilkan suaranya.
"Hallo paman, ada apa?"
"Cepat ke studio, davis bilang ada kekurangan mengenai rekaman kemarin, dan katanya kau juga harus rekaman untuk lagu kedua siang ini. aku sudah menghubungi lou dan dia sedang berangkat kesana, kuharap kau juga. Davis menunggumu" jelas paman jonn panjang lebar
"Secepat itukah?" Tanyaku heran
"Iya nak" kata paman jonn singkat
"Baiklah paman, aku segera kesana" sambungan terputus, aku kembali menyimpan ponselku ke tempat semula
"Liam, sepertinya aku tidak bisa menemanimu dan sahabatmu itu makan eskrim di wally's. Aku hanya bisa mengantarmu sampai depan wally's saja ya"
"Kenapa?" Tanya liam
"Ya aku ada urusan di studio, mungkin lain kali aku bisa berkenalan dengan sahabatmu itu" jelasku
"Oke baiklah" liam tersenyum
"Nah sudah sampai, selamat bersenang-senang brother" ucapku sambil melambaikan tangan padanya
"Tentu. Kau hati2" kata liam. Aku mengangguk dan kemudian bergegas pergi ke studio. Davis dan lou pasti sudah menunggu.
Benar saja. Lou sudah tiba di studio. Ketika aku masuk dia sedang berbincang dengan davis dan zayn. Zayn? Untuk apa dia disini? Oh iya ini kan miliknya. Suka2 dia datang kapan saja. Tapi kali ini dia sendiri. Kemana shine? Biasanya kakak beradik itu kemana-mana selalu bersama. Ah sudahlah. 'Jangan pikirkan gadis itu lagi jika kau tak mau mati gara2 patah hati niall' batinku berbicara
"Siang semuanya" sapaanku menghentikan percakapan mereka
"Siang niall" kata zayn
"Darimana saja kau?" Tanya lou. Davis hanya tersenyum
"Aku harus mengantar sepupuku dulu ke wally's dia ada urusan" jawabku
Aku menatap zayn "kau kesini juga zayn?"
"Ya, aku sedang bosan di kantor jadi aku main kesini" jawabnya
"Hmm oke" kataku sambil tersenyum padanya. Aku ingin menanyakan seseorang sebenarnya. Tapi kuurungkan.
Zayn memicingkan matanya dan tersenyum menatapku seolah-olah menemukan sesuatu yang aneh pada diriku. Tanpa kutanyakan dia menjelaskan nya sendiri padaku
"Aku sendiri saja kesini. Aku tadi mengajak shine, tapi dia ada janji dengan james sahabatnya, jadi dia tidak bisa ikut" jelas zayn. Jadi james itu sahabatnya? Syukurlah aku masih punya peluang. 'Jadi aku masih boleh kan memikirkannya, aku belum tentu mati karena sakit hati' ucapku pada batinku sendiri. Aku tersenyum memikirkan hal itu.
"Niall?" Lou menyenggol lenganku
"Ha.. Iya iya tak apa2" jawabku gugup
"Santai saja mate, baru juga sehari tak bertemu. kau rindu padanya ya?" louis menggodaku. Aku melotot pada louis .rasanya ingin kutendang dia keluar studio sekarang juga karena membuatku malu. Zayn dan davis tertawa melihat kegugupanku. Dan bisa kulihat zayn sepertinya tidak keberatan jika aku mendekati adiknya. Atau bahkan menjadikan adiknya kekasihku. Kali ini aku mulai berkhayal lagi.
"Baiklah ayo kita mulai rekamannya" kata davis. Aku dan louis mengangguk, kemudian kami berdua mengikuti davis ke ruang rekaman. Zayn juga bersama kami.
Setelah selesai rekaman kami berempat beristirahat di sebuah ruangan. Office boy di studio itu membawakan kami 4 cangkir moccacino. Kami hanya mengobrol santai di ruangan ini. Tapi tak berapa lama, lou izin pamit pulang duluan karena ada urusan dengan keluarganya. Davis pergi sebentar ke luar ruangan untuk mengambil beberapa berkas yang diminta zayn untuk diperiksa. Tinggal aku dan zayn diruangan itu. Kurasa aku harus bertanya sekarang.
"Zayn"
"Ya?" Jawabnya singkat. Dia menoleh padaku.
"Emh begini zayn.." Kataku ragu
"Ada apa niall? Katakan saja? Soal apa? Karirmu?" Tanya zayn
"Tidak hmm bukan, tidak ada urusannya dengan lagu dan menyanyi" kataku
"Lalu?" Dia heran
Aku masih memasang tampang gugupku. Belum sempat aku menjawab ternyata zayn sudah paham
"Shine?" Dia tersenyum padaku
"Ya. Emm maksudku. Iya tentang shine" kataku gugup
"Katakan saja niall. Ada apa dengan shine?" Tanyanya
"Begini. Kurasa kau sudah tau bahwa aku menyukainya kan zayn?" Aku terkekeh. Zayn hanya mengangguk pelan. Dia memasang wajah tertarik untuk mendengar apa yang akan kukatakan selanjutnya.
"Kau tidak keberatan jika aku mendekati adikmu zayn?" Tanyaku ragu padanya
Dia tertawa pelan "tentu saja tidak, aku membebaskan adikku untuk berteman dan dekat dengan siapa saja asal org itu membawa dampak baik bagi adikku" ucap zayn santai
"Jadi aku boleh mendekatinya?" Aku bertanya untuk meyakinkan hatiku
"Boleh, asal jangan coba kau untuk sedikitpun melukai perasaannya" dari nada bicaranya terdengar zayn sangat serius.
"Tentu! Tidak akan" kataku mantap.
Kerja hari ini selesai. Aku keluar studio bersama dengan zayn dan davis. Sebelum aku menghampiri mobilku zayn menepuk bahuku
"Good luck niall. Dan jangan lupakan kata2 ku tadi, dan ini sepertinya kau akan membutuhkannya" zayn menyodorkanku sebuah kartu nama bertuliskan "ms. Shine Malik" aku tersenyum.
"Terimakasih zayn" aku berteriak padanya. Dia menoleh kepadaku dan hanya mengangguk kemudian ia bergegas masuk kedalam mobilnya.
'Zayn sudah memberiku jalan untuk mendekati adiknya. Aku harus terus berusaha untuk mendapatkan hati shine' aku semakin sumringah saat mengingat bahwa james itu ternyata hanya sahabatnya.
Aku tiba di rumah tepat sebelum makan malam. Dan ternyata liam sudah di rumah, kupikir dia akan lama bertemu sahabatnya itu. Sebelum turun ke ruang makan, aku ingat sesuatu yg mesti kulakukan terlebih dahulu. Menelpon shine.
Menyenangkan sekali. Tidak sesulit yang kubayangkan. Aku mengajaknya bertemu di wally's besok siang, dan dia setuju. Aku turun ke ruang makan dengan perasaan senang. Sangat amat senang.
Setelah makan malam aunt mengajak nenek pergi ke studio broadway untuk menonton theater. Kurasa mereka rindu jalan2 bersama karena memang sudah lama tidak bertemu.
Aku kembali ke kamarku untuk menulis pesan pada shine. Aku tak sabar ingin bertemu dia besok. Aku mengambil gitar ku dan menuju ke beranda, ternyata sudah ada seseorang yg lebih dulu duduk disana. Liam. Dan tentunya dia hanya diam disana sambil memutar-mutar ponselnya dengan tatapan kecewa.
"Kau kenapa?"
"Tak apa" jawabnya singkat
"Apa pertemuan tadi menyenangkan?" Aku ingin tau apa yang terjadi tadi siang
"Ya lumayan" dia menghela nafas
"Lumayan?" Kataku heran
"Aku tadi membahas masalah perasaan dengan shab, tapi sepertinya dia tidak menyukainya, dan dia menyuruhku untuk melupakan semua perasaan itu. Dia bilang kami berdua memang sudah seharusnya hanya bersahabat" jelas nya
"Dan sepertinya dia juga masih enggan bertemu denganku. Besok dia tidak mau kuajak bertemu. Dia bilang dia sudah ada janji dengan seseorang." Liam menghela nafas diakhir kalimatnya.
Aku menepuk bahunya pelan "sabar brother, mungkin memang sudah seharusnya seperti ini. Mungkin dia bukan jodohmu, masih banyak gadis cantik diluar sana, kau tak boleh murung seperti ini" kataku mencoba menghibur liam
"Tentu saja" jawabnya dengan senyum dipaksakan.
"Kau akan terus memegang gitarmu itu tanpa memainkannya niall?" Ejeknya
"Mainkan lah, kita bernyanyi" kemudian ia tertawa. Aku mengangguk. Dan mulai memainkan gitarku. Memainkan lagu bersemangat. Kami bernyanyi bersama. Kuharap liam bisa segera melupakan sakit hatinya.
Zayn POV
Shine sudah berada dirumah ketika aku tiba. mobil yang tadi ia pakai sudah terparkir rapi. Sepertinya ia tidak terlalu lama bertemu dengan james.
"Hai sis" Ucapku sambil mengelus puncak kepalanya. Dia sedang membereskan berkas2 miliknya di ruang kelurga, dia terlihat sibuk memisahkan berkas2 tersebut sampai tidak menyadari kalau aku sudah tiba dirumah. Dan aku harus menegurnya dulu supaya dia mengetahui aku sedang berada di belakangnya.
"Zayn. Kau mengagetkanku. Tumben kau pulang satu jam sebelum makan malam? Biasanya juga mepet" shine terkekeh. Dia berhenti membereskan berkas2 kemudian bersandar di sofa. Sepertinya dia sudah lelah.
"Aku dikantor hanya setengah hari shine. Setelah kau izin pergi untuk bertemu james, aku juga memutuskan untuk pergi juga. Di kantor sedang membosankan,aku juga malas pulang ke rumah pasti tak ada kerjaan, jadi aku memutuskan untuk pergi saja ke studio" jelasku.
"Kau ke studio? Untuk apa?" Tanya shine
"Ya seperti kubilang hanya sekedar bermain" kekehku
"Oh iya tadi ada yang menanyakanmu padaku" aku menjatuhkan diriku di sofa, disamping shine duduk
"Siapa?" Tanyanya heran
"Tebak saja!" Kataku menggodanya
"Oh ayolah, bukankah studio tidak sibuk hari ini. Davis kah?" Shine menduga duga.
"Tentu saja bukan sis!" Aku mencubit pipinya
"Duh sakit" dia menepis tanganku
"Lagipula hari ini studio ramai, ada yang rekaman lagi" kataku santai
"Lagi? Davis bilang lusa baru akan ada rekaman lagi, dan itupun Alicia yang akan rekaman" dari nada bicara nya ia semakin heran. Aku tertawa
"Oh ayolah jangan bermain tebak2an seperti ini! Siapa orangnya?" Shine mulai kesal
"Dasar anak kecil, disuruh menebak saja sulit" ucapku. Shine memandangku dengan tatapan sebalnya.
"Baik baik" aku melanjutkan kata2 ku sebelum dia meledak
"Niall tadi menanyakanmu sis"
"Niall? Hari ini the mofos ke studio?" Shine kaget
"Iya untuk rekaman lagu kedua. Davis mempercepat jadwal mereka. Aku tak tau apa alasannya" aku mengerdikan bahuku
"Sepertinya dia merindukanmu" aku tertawa cukup keras karena kulihat ekspresi wajah shine berubah. Sepertinya dia malu. Shine hanya terdiam, tersenyum melihatku. Sepertinya kini pikirannya dipenuhi oleh pemuda blonde itu.
"Oh ya bagaimana pertemuan mu dengan james? Menyenangkan?" Tanyaku
"Yaa lumayan" tiba2 raut mukanya berubah. shine menjawab tidak bersemangat
"Lumayan?" Tanyaku heran
"Ya kau tau tadi james membahas lagi masalah perasaan kami masing2 saat SMA, aku sudah lama melupakan hal itu dan tak ingin mengungkitnya lagi. Mengerti kan maksudku. Bodoh sekali dia harusnya dia tak perlu membahas hal itu mengingat ini kan pertemuan pertamaku dengannya sejak 2 tahun yang lalu" shine mendengus kesal. aku mengangguk, menandakan aku mengerti apa yg dia bicarakan.
"Apa lagi yang dia katakan padamu?" Aku lanjut bertanya
"Dia bercerita bahwa danela itu sebenarnya hanya mempermainkannya, dan james hanya dijadikan bahan taruhan danela dan teman2 nya. dan dulu seharusnya dia percaya padaku. Dia menyesal karena dulu tidak mempercayaiku, dia juga menyesali kata2 nya yang waktu itu ia ucapkan padaku bahwa dia hanya menganggapku sebagai adiknya. Kemudian dia bertanya soal kesungguhanku mengungkapkan perasaanku padanya waktu itu apakah aku serius atau tidak" bebernya
"Lalu kau jawab apa?"
"Ya jelas saja aku senang mendengar bahwa danela memang bukan gadis manis baik baik seperti yang aku katakan waktu itu padanya. Berarti aku tidak berbohong padanya kan. Tapi untuk soal perasaan itu aku jawab aku sudah tidak ingat akan hal itu dan memang tak mau lagi mengingatnya. Biarkan saja itu jadi cerita lama, dan jangan pernah menengok lagi ke belakang" jelasnya.
"dan sepertinya sekarang aku... Emh sudah... menemukan yang baru" lanjutnya terbata-bata
"Kena kau!" Pekik ku senang
"Apa maksudmu zayn?" Dia menatap ku seolah tak mengerti
"Sesuatu yang baru kau bilang kan? Niall kah?" Aku menggodanya lagi kali ini
"Jangan tanyakan padaku mengenai hal yang belum aku mengerti zayn. Sudah. Lebih baik kau segera membersihkan badanmu sebelum makan malam" perintahnya. Aku tidak bergeming dan masih menyandarkan badanku di sofa.
Shine menggeleng dan melanjutkan pekerjaan nya membereskan berkas2 yang berantakan di meja. Beberapa menit kemudian tiba2 ponsel shine berdering. Tapi shine belum juga mengangkat telponnya.
"Siapa? Tak diangkat?" Tanyaku
"Malas. Tak ada namanya, hanya nomor" jawab shine
"Angkatlah, siapa tau penting" saranku. Kemudian shine mengangkat telponnya.
"Hallo" shine mulai berbicara. 'Kurasa itu niall' batinku. Aku lalu mengisyaratkan pada shine bahwa aku akan ke kamarku. Shine mengangguk.
Shine POV
"Apa benar ini ms. Shine malik?" Terdengar suara gugup seorang pemuda di seberang sana
"Ya benar. Kau siapa?" Tanyaku
"Kau tak bisa mengenaliku?" Dia balik bertanya
"Hah? Tentu tidak, tapi dari suara mu seperti nya aku sangat familiar" mencoba mengingat ngingat suara siapa ini. Dan. Dapat. Niall kah?
"Kau siapa?" Aku mencoba menanyakan lagi, aku tak berani menebak-nebak. Nanti kalau salah bisa malu aku.
"Ini niall, ms. Apa aku mengganggumu?" Kekehnya
"Oh niall, tentu tidak, aku sedang tidak sibuk. Oh iya panggil saja aku shine. Oke" benarkan apa kataku. Niall. Aku sangat mengenali suara itu. Eh kenal?
Kira-kira 15 menit dia menelponku, suara kami sama2 terdengar gugup. Ah entahlah, dan sebelum sambungan telpon terputus dia mengajakku untuk makan eskrim di wally's besok siang. Dan ya tentu saja aku mau. Lagipula besok aku santai. Tak ada janji dengan siapapun.
Saat makan malam zayn turun dari kamarnya, aku sudah duduk di tempatku saat dia tiba.
"Tadi siapa?" Tanya zayn tanpa basa basi. Ia tersenyum tipis. Atau menyeringai kurasa
"Hah? Itu emh niall" jawabku gugup. Lagi2 aku gugup. Yatuhan kenapa?
"Sudah kuduga" zayn tertawa dan menatapku dengan tatapan menggoda.
"Apa?" Kataku sebal
"Tidak apa2 sis, tak usah gugup seperti itu, dan itu wajahmu seperti udang rebus ini" kekehnya. Aku hanya bisa tersenyum. Aku memang tak bisa berbohong padanya. Ah masa bodoh lah, aku tak peduli dengan keadaan ku sekarang kurasa aku memang menyukai pemuda blonde itu.
Selesai makan aku kembali ke kamar, mengecek ponselku, siapa tau saja niall mengirimi ku pesan. Ya kali ini aku berharap.
Benar saja 2 pesan diterima, satunya dari niall dan satu lagi dari james.
Besok jangan lupa ya.
Aku jemput kau dikantormu
Selamat tidur shine x)
Niall
Tentu saja. Jangan terlambat ya
Aku menunggumu. Selamat tidur juga :)
Shine
Shab besok kita bisa bertemu? :)
James
Maaf, aku sudah ada janji
dengan seseorang.
Lain kali saja ya.
Shabrina.
Malas sekali rasanya membalas pesan james. Gara2 obrolan tadi siang di wally's. Huh untung saja niall sudah mengajakku terlebih dahulu. Jika tidak mana mungkin aku bisa menolak pergi dengan james. Aku besok santai dan aku memang tak bisa bohong padanya jika aku tak mau menerima ajakannya.
Aku tersenyum mengingat besok aku akan bertemu dengan niall dan lusa aku pasti akan sering bertemu dengannya karena aku pindah kerja ke studio. Ingin cepat2 besok, aku memutuskan untuk tidur saja.
