masih panjang loh ceritanya ._.

Sinthia, you rock!


My Guardian

Chapter 5


Niall POV

"Hei aku sudah di depan kantormu. Kau sudah siap nona?" Kekehku

"Tentu, tunggu sebentar yaa tuan" katanya. 'Dia sudah mulai bisa bergurau padaku. Keren!' Batinku berbicara riang

Tak lama shine muncul, aku melambaikan tanganku padanya dan dia menghampiriku

"Hei, aku tidak terlambat menjemputmu kan?" Tanyaku menggodanya

"Tentu tidak" dia tersenyum padaku

Aku membukakan pintu mobil untuknya. Sekali lagi senyum itu menghiasi wajahnya. Cantik sekali.

Wally's

"Kemarin kenapa tak ikut ke studio?" Tanyaku memulai pembicaraan

"Kemarin ada urusan. Bertemu sahabatku" jawabnya sambil terus memakan ice cream nya

"Hmm begitu" aku mengangguk pelan

"Bagaimana rekamannya kemarin? Lancar?" Tanyanya

"Lancar sekali, tapi kemarin serasa ada yang kurang" kekehku

"Apa?" Tanya shine heran

"Tak ada kau yang memperhatikanku" kataku sambil menatap matanya. Dia kemudian menunduk. Dia malu? Atau mungkin hanya perasaanku saja.

"Hmm begitu ya" jawabnya seraya mengangkat kepalanya yang tadi menunduk.

"Besok aku akan mulai bekerja di studio. Jadi aku bisa memperhatikan mu lagi besok dan seterusnya" dia tertawa

"Really? Can't wait for tomorrow" teriakku senang

"Berarti aku bisa bertemu denganmu setiap hari ya shine" kataku bersemangat

"Tentu tidak niall, memang kau pikir kerjaan mu hanya di studio saja. Kau kan penyanyi. Kalau sudah tenar kau pasti sibuk, interview sana sini, show dari acara satu ke acara yang lainnya, dan kau akan jarang ke studio, jika hanya ada rekaman lagu saja kau bisa kesana lebih tepatnya" ucapnya panjang lebar. Aku masih tetap memperhatikannya sambil melahap eskrim ku.

"Ini" dia menyodorkan tisu padaku

"Hah?" Aku bingung kenapa dia tiba2 mengeluarkan tisu. Perasaan aku tidak berkeringat. Atau aku berkeringat karena gugup memperhatikannya? Sambil berpikir aku terus menatap kearahnya yang tersenyum simpul

"Kau ini" lanjutnya. Lalu dia mengelap pinggir bibirku yang ternyata ada eskrimnya. Ternyata aku makan berantakan. Aku merasakan sesuatu yang aneh saat tangannya menyentuh wajahku. Malu sekaligus senang bercampur jadi satu.

Aku memegang tangannya yang masih mengelap sisa eskrim "terimakasih" ucapku sambil tersenyum. "Iya" jawabnya singkat.

"Terimakasih untuk hari ini ya" kataku sambil mengantarnya ke depan pintu rumahnya.

"Terimakasih juga" jawabnya

"Tak ingin mampir dulu?"

"Lain kali saja sepertinya. Aku ada urusan dengan mr jonn dan lou" jawabku kecewa. Kesal sekali kenapa di sore hari seperti ini tiba2 paman jonn mengirimi ku pesan bahwa aku harus ke kantor management sekarang.

"Baiklah. Hati-hati di jalan ya" katanya sambil tersenyum padaku

"Okee" aku melambaikan tangan padanya dan bergegas pergi ke kantor management untuk bertemu paman jonn dan louis.

Normal POV

Sudah 3 minggu shine pindah ke studio. Dan hanya seminggu 3 kali ia bertemu niall. Karena benar saja, the mofos kini semakin terkenal. Jadi kedua penyanyi itu sedang sibuk dengan jadwal yang telah disepakati oleh mereka berdua dan managernya. George. Walaupun seperti itu, niall tetap tidak pernah absen untuk menelpon atau mengirim pesan pada shine setiap hari, sekedar menanyakan kabar atau membicarakan hal lainnya. Tapi status mereka? Belum diputuskan sampai saat ini.

Sudah 3 minggu juga james tidak mengabari shine. Mungkin dia merasa shine masih marah padanya. Padahal shine tidak akan lama jika marah pada pemuda itu. Paling sehari dua hari. Harusnya james tau hal itu karena mereka berdua bersahabat. Tapi entahlah. Sepertinya semua itu kini merenggang karena masalah perasaan.

Zayn masih mencoba melupakan sakit hatinya kerena Lily. Dia menyibukkan diri di ruang kerjanya, dan kadang mampir ke studio untuk mengunjungi shine atau mengajaknya pulang bersama. Dia senang karena adiknya sekarang terlihat lebih ceria dari biasanya. Walaupun ia disibukkan dengan segala urusan yang ada di studio. Semua ini pasti karena niall.

Liam POV

Aku baru saja tiba di rumah setelah seharian mengantar mom berbelanja. Biasanya ada niall yang membantuku. Tapi kali ini tidak. Dalam waktu 3 minggu cukup merubah segalanya. Kini dia jadi lumayan sibuk. Pulang ke rumah saja selalu larut malam. Apalagi jika weekend. Tapi kami sekeluarga paham akan keadaannya saat ini. Grupnya kan sedang naik daun, wajar saja jika dia sibuk. Ini minggu ke 3 ku di london. Dad bilang dia tidak bisa menyusul karena pekerjaannya masih belum selesai. Bertambah banyak malah. Minggu depan dad menyuruhku untuk kembali ke Dubai. Sepertinya dad butuh bantuan.

Cukup lelah hari ini. Aku membaringkan badan ku di sofa di ruang keluarga. Aku melirik ke ponselku yang kuletakkan di meja. Tiba2 aku teringat seseorang. Shabrina. Sudah 3 minggu aku dan dia tidak mengabari satu sama lain. Jangankan telpon mengirim pesan saja tidak. Ini semua gara2 saat kami pertama bertemu aku langsung membahas masalah perasaan itu. 'Kenapa aku mesti terburu-buru membahasnya. Seharusnya kan tidak seperti ini. Dasar bodoh. Liam bodoh' aku mengata-ngatai diriku sendiri dalam hati.

Aku akan menelponnya, mungkin dia sudah lupa akan hal itu.

"Hai" sapaku

"Ya, kenapa james?" Dari nada bicara nya seperti nya dia sedang tidak santai

"Tidak. Hanya ingin tau bagaimana kabarmu shab. Kau apa kabar?"

"Aku baik2 saja, tapi kurasa sekarang aku cukup sibuk" jawabnya. Aku mendengar ada sesuatu jatuh dan shabrina mendengus kesal.

"Maaf aku mengganggumu. Aku minta maaf shab. Maukah kau memaafkanku?" Kataku pelan

"Sudahlah james, lupakan saja hal itu. Aku sudah memaafkanmu dari kemarin2 kok" jawabnya

"Benarkah? Bisakah kita bertemu? " Tanyaku senang.

"Tentu saja. Emm entahlah james, beberapa hari kedepan aku sibuk jadi paling kita bisa bertemu hari minggu ya" jawabnya cepat

"Baiklah kalau begitu. Hari senin aku akan kembali ke dubai shab" kataku datar

"Cepat sekali. Baiklah hari minggu kita bertemu ya" 'sepertinya shab tak sadar bahwa hampir sebulan aku disini. Atau dia memang sudah tak peduli' batinku. Aku terdiam sesaat.

"James? Hallo, kau masih disana? Sudah dulu ya aku sedang banyak kerjaan" ucapnya

"Oke. Sampai ketemu ya shab" jawabku. Dan sambungan telepon terputus.

Aku tersenyum lega. Hari minggu aku akan bertemu dengannya. Sepertinya dia akan selalu menganggapku sebagai sehabatnya. Tapi tak apalah, setidaknya dia sudah memaafkanku, dan kuharap aku bisa memperbaiki hubungan persahabatan kami. Aku tersenyum dan menghela nafas. Sofa terasa begitu nyaman, mungkin karena aku cukup lelah, tak lama kemudian aku tertidur.

Shine POV

Jam setengah 8 malam dan aku masih berada di studio, masih cukup ramai tentunya suasana disini. Masih ada davis dan beberapa karyawanku yang masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. bekerja di studio ternyata lebih melelahkan ketimbang di kantor. Atau hanya perasaanku saja. Ah sudahlah. Lagipula berkas2 nya sudah kuperiksa semua. Sudah selesai.

Tadi sore james menelpon ku, sudah lama sekali sejak pertemuan kami 3 minggu yang lalu, dia bilang dia akan kembali ke dubai. Dia mengajakku bertemu di tempat biasa, mau mentraktir ku eskrim sebagai permintaan maafnya. Aku mengiyakan. Ya kupikir ada baiknya juga kami bertemu sebelum dia meninggalkan london. Walaupun hanya sekedar untuk memperbaiki hubungan persahabatan kami.

Setelah pekerjaan ku selesai aku tak buru2 pulang ke rumah, masih lelah kurasa. Jadi aku memutuskan untuk beristirahat sejenak di ruang istirahat di studio ini.

Aku menyandarkan badan ku disofa. Tiba2 kudengar suara pintu diketuk

"Ya,masuk" kataku

"Maaf mengganggu ms. Apa kau ingin dibuatkan sesuatu?" Tanya office boy yg bekerja di studio

"Tak usah, aku hanya ingin beristirahat sebentar, tak lama lagi juga aku pulang" jawabku sambil tersenyum. Office boy itu membalas senyumku dan mengangguk mengiyakan, kemudian ia menghilang dari balik pintu.

Aku memejamkan mataku. Aku mendengar pintu ruangan terbuka. Tapi ketika aku membuka mata ternyata pintu itu sudah tertutup kembali. Hanya perasaanku saja mungkin. Aku kembali bersandar disofa dan kurasakan ada tangan seseorang yang menutup kedua mataku. Sontak saja aku kaget. Dan berusah melepaskan tangan itu

"Kau siapa" ucapku setengah berteriak

Tangan itu tak melawan ku, dan seketika melepasnya. Saat mata ku terbuka aku melihat sekotak eskrim kesukaanku tepat dihadapanku. Aku menoleh dan ternyata org yang tadi menutup kedua mataku adalah Niall. Aku diam dan memang tak pernah kuduga. Speechless. 'Untuk apa dia berada disini' batinku. Sampai akhirnya niall mengaburkan pikiranku saat dia berbicara padaku.

"Cukup lelah hari ini nona?" Katanya menggodaku. Aku masih menatapnya. Diam.

"Makan eskrim ini dulu, mungkin bisa membuatmu rileks" dia terkekeh

"Baiklah. Terimakasih" jawabku sambil tersenyum padanya.

Aku membuka tutup eskrimnya dan tiba-tiba niall menariknya sambil memegang sendok eskrim yang dia bawa

"Sini, biar aku saja" katanya. Aku mengangguk

"Buka mulutmu, aku suapi ya" kata niall lembut

"Tak usah aku bisa sendiri" jawabku menolak

"Tak apa" dia tersenyum padaku

"Baiklah, kau juga makan ya" kataku. aku mulai membuka mulut dan dia menyuapi ku eskrim. Dan dia juga memakannya bersamaku tentunya.

Selesai memakan eskrim aku bertanya padanya.

"Kenapa bisa ada disini? Bukankah kau bilang sedang ada jadwal show hari ini?" Tanyaku heran

"Sudah selesai shine, ternyata acaranya dipercepat jadi aku juga bisa pulang cepat" jawabnya sumringah

"Tadi saat ku telpon kau masih di studio kan, jadi aku memutuskan untuk kesini" lanjutnya

"Begitu rupanya" jawabku singkat

Niall tak menanggapi ucapanku. Kami terdiam beberapa saat. Hening.

"Shine" ucap niall membuyarkan keheningan diantara kami

"Iya" jawabku singkat

"Kurasa ini sudah waktunya" katanya pelan

"Apa?" Aku menanggapinya heran

"Langsung saja" dia menatap ku serius. Aku semakin memasang tampang heran, lagipula memang tidak jelas apa maksud kata katanya tadi. Dia menggenggam tanganku. Aku merasakan sesuatu yang berbeda saat tangannya menyentuh tanganku. Hmm jantungku berdegup cepat.

"Aku mencintaimu, sejak pertama kita bertemu kurasa aku jatuh cinta padamu" tanpa basa-basi niall langsung mengucapkan kalimat yang membuatku hampir tak bisa bernafas untuk beberapa saat. Aku masih menatap mata birunya.

"Kau mau jadi kekasihku?" Ucapnya agak gugup. Lagi2 aku speechless, yatuhan aku benar2 tak bisa berkata apa2.

"Shine?"

"Hmm iya aku ... Aku mmhh" sial aku gugup lagi.

"Tak apa kalau kau tak punya perasaan yang sama denganku" ucapnya lirih. Lalu ia menunduk.

"Bukan bukan itu" aku menggeleng

"Lalu?" Dia sepertinya benar2 menunggu jawabanku

"Iya aku mau" jawabku pelan.

"Apa?" Sepertinya niall masih belum menyadari jawabanku

"Iya aku mau jadi kekasihmu. Aku juga mencintaimu niall" jawabku. Aku tersenyum padanya. Dan dia langsung memelukku. Aku pun membalas pelukannya.

"Maaf ya jika aku terlalu to the point, bahkan aku samasekali tak romantis padamu karena aku hanya membawa eskrim" ucapnya pelan sambil melepaskan pelukannya padaku

"Tak apa, dengan kau berada disini saja aku sudah merasa senang" aku tersenyum padanya.

Dan ya kurasa ini adalah malam terbaik bagiku. Walaupun hari ini aku benar2 disibukkan dengan tumpukan berkas yang harus diperiksa. James minta maaf dan niall malam ini resmi jadi pacarku. Aku senang urusan cinta dan persahabatanku berjalan sangat mulus.

Niall mengantar ku pulang setelah kami makan malam di sebuah restoran di london. Sebelumnya aku tentu menelpon zayn untuk meminta izin dan supaya dia tidak menunggu ku untuk makan malam bersama. Zayn mengizinkan.

Niall mengantarku sampai pintu rumah. Kali ini dia menolak untuk mampir karena memang sudah malam. Aku menyruhnya mengabariku jika dia sampai di rumahnya. Jam 10 p.m aku baru tiba di rumah, tapi aku sama sekali tidak merasa lelah, malah sebaliknya. Aku senang sekali malam ini.

Zayn sedang duduk santai di sofa sambil menonton tv saat aku masuk ke rumah.

"Selamat malam Zayyyyyyyn" teriakku sumringah

"Malam adik kecil, oh ya bisakah kau tak berteriak seperti itu? Kurasa malam ini suasana rumah tidak cukup ramai" ucapnya sarkastis.

Aku membanting tubuhku di sofa, tepat di samping zayn. Dan masih tersenyum bahagia membayangkan apa yang baru saja terjadi di studio.

"Kau kenapa? Aneh sekali" zayn terkekeh. Aku masih tersenyum dan diam sambil melirik zayn.

"Niall membelikan mu makan apa sih sampai kau jadi seperti ini?" Ucap zayn menggodaku

"Bicara apa kau ini, aku sedang senang tau" ucapku agak kesal karena dia bicara yg tidak2 soal niall.

"Ya ya baiklah. Bercerita?" Dia memicingkan matanya padaku sambil tersenyum.

Aku menceritakan semuanya pada zayn, dimulai dari james yang meminta maaf, niall menyatakan cinta padaku, mengajakku makan malam dan mengantarku pulang. Semuanya kuceritakan tanpa dilebihkan dan dikurangi.

"Selamat ya sis" zayn merangkulku dan tersenyum

"Terimakasih" aku memeluknya

"Sudah bercerita pada siapa saja? James? Austin?" Dia tertawa

"Hanya kau tau!" Aku mendengus kesal

"Austin tadi kusuruh pulang duluan, dan ya sepertinya nanti saja aku menceritakannya pada james" lanjutku

"Begitu rupanya" jawabnya sambil mengangguk pelan.

"Kau bagaimana?" Tanyaku sambil melepaskan pelukanku padanya

"Apanya yang bagaimana?" Dia malah balik bertanya. Tapi dari raut mukanya kurasa dia paham akan pertanyaanku. Tapi dia pura2 tidak mengerti.

"Sudah menemukan pengganti Lily?" Tanyaku sambil menatap matanya

Dia tersenyum tipis padaku.

"Belum" jawabnya singkat

"Mau aku bantu carikan?" Kataku dengan tampang polos

"Tak usah, lagipula aku sedang malas menjalin hubungan dengan seseorang" jawabnya datar

"Hmm. Baiklah. Cepat cari penggantinya kak"kataku sambil menatapnya.

"Akan ku usahakan sis. Sebaiknya kau segera istirahat. Ini sudah malam" dia berkata padaku tanpa menoleh padaku. Fokus pada acara yang dia tonton

"Oke, kau juga jangan tidur terlalu larut zayn" dia mengangguk dan tersenyum padaku. aku bergegas ke kamar.

Setelah membersihkan diri dan mengganti baju dengan piyama aku membanting badanku dia atas kasur yang terlihat sangat nyaman. Baru saja aku mau memejamkan mataku tiba-tiba ponselku berdering. Telpon. Aku berharap niall yang menelponku, tapi ternyata bukan.

"James" bisikku

Untuk apa dia menelpon malam malam, memang nya tak bisa besok? Gerutu ku dalam hati.

"Hallo" ucapku datar

"Shab, kau sudah tidur ya?" Tanyanya

"Hampir saja" jawabku

"Maaf mengganggu, aku hanya ingin memastikan bahwa hari minggu kita akan bertemu" kata james

"Oke. Aku pasti datang. Sudah kutulis di jadwal" kataku. Tiba2 aku teringat niall. Aku ingin memperkenalkannya pada james

"James bolehkah aku mengajak seseorang?" Tanyaku sebelum dia menanggapi kalimatku yang sebelumnya.

"Seseorang? Pacarmu?" Tanyanya pelan

"Ya seperti itulah" aku terkekeh

"Boleh?" Tanyaku memastikan

"Tentu, ajak saja. Kalau begitu aku juga akan mengajak sepupuku ya, untuk teman ngobrol, siapa tau saja kau tidak menghiraukanku" terdengar suara james tertawa

"Lagipula sebenarnya waktu itu dia juga mau berkenalan denganmu, tapi sayang nya dia ada urusan mendadak" lanjutnya

"Baiklah kalau begitu. Sudah dulu ya james, aku mengantuk"

"Oke. Sampai bertemu hari minggu shab, selamat tidur" ucap james.

"Ya selamat tidur" jawabku. Sambungan telpon terputus. Kurasa niall belum sampai rumah jadi dia belum memberi ku kabar. Ponsel kumatikan, dan aku mulai terlelap.

Zayn POV

Aku baru saja keluar dari gedung kantor saat shine menelponku, dia bilang aku tak usah menjemputnya dan menunggunya untuk makan malam bersama. Alasannya karena dia akan makan malam bersama niall. Dari nada bicara shine saat menelponku kedengarannya dia sangat senang. Aku mengizinkan nya pergi dengan catatan jangan pulang lewat tengah malam.

Jam dinding di ruang keluarga baru menunjukan pukul 10 pm, tiba2 saja pintu rumah terbuka dan seseorang meneriakkan namaku

"Selamat malam Zayyyyyyyn" shine berteriak dengan nada ceria.

Aku hanya menggeleng pelan melihat tingkahnya.

"Malam adik kecil, oh ya bisakah kau tak berteriak seperti itu? Kurasa malam ini suasana rumah tidak cukup ramai" ucapku sarkastis.

Dia membanting tubuhnya di sofa, tepat di samping ku. Dan kurasa dia sedang memikirkan sesuatu yang menyenangkan. Senyam senyum sendiri membuatku merasa aneh.

"Kau kenapa? Aneh sekali" aku terkekeh. Shine masih tersenyum dan diam sambil melirik ku.

"Niall membelikan mu makan apa sih sampai kau jadi seperti ini?" Tanyaku menggodanya

"Bicara apa kau ini, aku sedang senang tau" dia menanggapi kalimatku dengan sedikit kesal, kurasa karena aku bicara yg tidak2 soal niall.

"Ya ya baiklah. Bercerita?" Aku memicingkan mata dan tersenyum padanya.

Shine menceritakan semuanya pada ku, dimulai dari james yang meminta maaf, niall menyatakan cinta padanya, mengajaknya makan malam dan mengantarkan nya pulang. Semuanya Dia ceritakan dan kurasa ceritanya sama seperti apa yang dia alami.

"Selamat ya sis" aku merangkulnya dan tersenyum

"Terimakasih" dia memelukku

"Sudah bercerita pada siapa saja? James? Austin?" Aku tertawa karena kulihat kini wajahnya berubah ekspresi. Kesal kurasa.

"Hanya kau tau!" Dia mendengus

"Austin tadi kusuruh pulang duluan, dan ya sepertinya nanti saja aku menceritakannya pada james" jelasnya

"Begitu rupanya" jawabku sambil mengangguk pelan.

"Kau bagaimana?" Tanyanya sambil melepaskan pelukannya padaku.

Sedikit bingungg tapi kurasa aku mengerti kemana obrolan ini akan mengarah.

"Apanya yang bagaimana?" Tanyaku datar

"Sudah menemukan pengganti Lily?" Dia bertanya sambil menatap mataku.

Benar saja, dia membahas masalah ini. Aku menanggapinya dengan agak malas. Aku tersenyum tipis padanya.

"Belum" jawabku singkat

"Mau aku bantu carikan?" Tanyanya dengan tampang polos

"Tak usah, lagipula aku sedang malas menjalin hubungan dengan seseorang" aku mencoba menolak bantuannya. Lagipula sepertinya aku tak perlu dibantu. Seperti aku tak bisa sendiri saja.

"Hmm. Baiklah. Cepat cari penggantinya kak" dia menatapku dengan tatapan iba

"Akan ku usahakan. Sebaiknya kau segera istirahat. Ini sudah malam" asal saja aku menjawab. aku menyuruhnya untuk segera pergi ke kamarnya agar dia tidak semakin dalam membahas masalahku ini. Sungguh aku sedang sangat amat malas membicarakan hal ini.

"Oke, kau juga jangan tidur terlalu larut zayn" ucapnya. Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Dia bergegas ke kamar.

Acara tv selesai. Aku menggapai remote di meja dan mematikan tv. Hening. Dan pikiranku kini kembali mengingat saat lily memperkenalkan harry padaku. Entahlah. Sakit sekali rasanya. Ku lihat sepertinya harry bukan pemuda baik-baik. Atau ini memang karena aku membencinya jadi aku berpikiran seperti ini.

Aku memutar-mutar remote tv dan masih bersandar di sofa. Kulihat jam sudah lewat tengah malam 01 am. Aku menutup mata dan menghela nafas mencoba melupakan kejadian menyesakkan di restoran itu. Mungkin shine benar. Aku harus segera mencari pengganti Lily. Aku melempar remote ke sisi kosong sofa tempat ku duduk dan bergegas ke kamar untuk istirahat. Kurasa tidur adalah salah satu obat yang paling manjur supaya aku bisa lupa. Lagipula badanku sepertinya sudah sangat lelah.


Reviewnya ya guuuys