ini masih banyak looooh .-.


My Guardian

Chapter 6


Niall POV

Sudah 5 hari aku berpacaran dengan shine. Otakku terus mengingat beberapa hari yang lalu aku membawakan shine es krim dan aku langsung memintanya untuk jadi kekasihku. Terbayang bila saat itu dia menolakku, sepertinya aku akan mengambil tali dan menggantung leherku di pohon yang ada di depan studio seperti yang di khawatirkan paman jonn waktu itu. sambil menyandarkan badanku di sofa saat shooting untuk video klip selesai. aku tersenyum.

"Kau lelah?" Tanya lou yang kini duduk di samping ku sambil membawa beberapa snack. Dia menyodorkan nya padaku.

Aku menggeleng pelan

"Tidak, hanya sedang mengingat kejadian termanis dalam hidupku" jawabku tanpa menoleh padanya. Aku tersenyum dengan pandangan masih lurus ke depan.

"Orang yang sedang kasmaran itu mirip orang gila ya" ucap lou menggodaku. Aku bercerita padanya kalau aku dan shine sudah resmi berpacaran.

"Diam kau. Seperti kau tidak merasakan ini saja saat kau jadian dengan elena waktu sma dulu" kini aku balas meledeknya.

"Yaa memang seperti itulah. Aku saja masih ingat kejadian beberapa tahun yg lalu itu" kekehnya

"Makanya jangan seenaknya meledekku" kataku menonjok bahunya pelan

"Ya ya maaf. Semoga kau bisa langgeng seperti aku dan elena ya" ucapnya. Dia tersenyum.

"Amin. Semoga saja" aku membalas senyumnya.

Sudah hampir 4 tahun lou dan elena pacaran. Lou menyatakan cinta pada elena saat duduk di kelas 12 sma. Saat itu elena masih kelas 10. Elena teman sekelasku dan louis adalah sahabatku, jadi aku banyak tau ttg mereka. apalagi semenjak aku dan lou tau dia adalah putri dari paman jonn, paman sering menceritakan tentang elena pada kami. Pada lou lebih tepatnya.

Tak lama kemudian lou berdiri, ada seseorang di dekat pintu yang melambaikan tangan padanya, elena. Sepertinya dia akan mengajak lou untuk pulang bersama.

"Aku pulang duluan ya mate" dia tersenyum dan kemudian bergegas menghampiri elena.

"Kami duluan ya niall" ucap elena setengah berteriak padaku, ya jarak dari sofa ke pintu tidak terlalu dekat.

"Oke hati-hati ya kalian" aku melambaikan tangan pada mereka. Dan mereka membalasnya.

Aku mengambil ponselku yang tadi kuletakkan di samping tempat ku duduk, untung saja tadi lou tidak mendudukinya.

Aku membuka kontak mencari nama seseorang dan menelponnya

"Hai babe, masih sibuk?" Ucapku lembut

"Oh hai. Kurasa tidak, pekerjaanku baru saja selesai" jawab seorang gadis cantik diujung sana, dari nada bicaranya ia terdengar cukup lelah

"Sudah selesai shootingnya?" Tanya shine

"Sudah. Baru saja. Kau mau pulang? Kujemput ya." Ucapku

"Tak usah, kau pasti lelah seharian ini" dia menolakku lembut

"Tak apa, aku merindukanmu dear, sudah beberapa hari ini kita tidak bertemu" jawabku dengan nada sedikit menggoda. Benar saja apa kata shine dulu. Aku jadi jarang ke studio karena memang jadwal ku di luar sangat padat.

"Aku juga merindukanmu" kekehnya

"Baik tunggu aku ya, jangan pulang dulu sebelum aku datang, awas saja" kataku mengancam dengan nada bercanda

"Tentu saja babe" dia tertawa

Sambungan telpon terputus dan aku segera berangkat ke studio. Pamit pada beberapa kru dan george yang masih mengobrol.

Studio 07.15 p.m

Aku mengetuk pintu ruang kerja shine dan dia mempersilahkan ku masuk. Dia sedang bersandar di kursi kerjanya sambil memainkan pena.

Saat melihat kepalaku muncul dari balik pintu ia tersenyum, kemudian dia berdiri untuk menghampiriku, aku memeluknya. Baru beberapa hari saja tidak bertemu rasanya rindu sekali. Hahaha. Entahlah. Dia juga balas memelukku.

"Kau sudah makan?" Tanyaku padanya seraya melepaskan pelukan kami. Dia menggeleng pelan.

"Aku sedang malas bepergian hari ini" jawabnya singkat.

"Baiklah aku mengerti. Kita pesan makanan saja untuk diantar kesini. Bagaimana?" Saranku

"Ide bagus" dia tersenyum

"Oke" aku merogoh ponselku di saku celana untuk mengorder makanan, tak lupa aku memesan es krim juga. Shine suka sekali es krim.

Tak lama makanan dan eskrim yang kami pesan tiba. Di sela-sela makan kami mengobrol.

"Babe?" Kata shine memulai pembicaraan

"Ya" jawabku singkat

"Emm hari minggu siang james mengajakku bertemu di wally's, dia bilang aku boleh mengajak seseorang. Kau mau?" Tanyanya. James. Saat mendengar nama itu rasanya ekspresi ku langsung berubah, 'walaupun aku tau bahwa sebenarnya james adalah sahabatnya, tapi tetap saja' batinku gusar

"Niall?" Dia menggenggam tanganku.

"Emm.. Eh iya, jika kau yang mengajak tentu saja aku mau" aku tersenyum. 'Semoga saja ini akan jadi pertemuan yang menyenangkan' ucapku dalam hati

"Oke" shine membalas senyumku

"Tapi sepertinya aku tidak bisa berangkat bersamamu" kataku dengan nada kecewa

"Kenapa?" Dari tatapannya kulihat dia juga merasakan hal yang sama denganku

"Ada jadwal interview di radio dear" kataku sambil mengelus pipinya

"Kurasa aku akan terlambat sekitar 15 atau 20 menit" ucapku sambil tersenyum

"Iya tak apa, yang penting kau datang" jawabnya sambil menyentuh tanganku yang masih menempel di pipinya.

Cukup lama aku dan shine mengobrol di studio, kami membicarakan hal apapun sampai yang tidak penting saja dibicirakan. Hahaha. Pukul 10 pm aku mengantarnya pulang. Dan dia tampaknya terlihat sangat lelah. Aku menyuruhnya untuk segera masuk dan beristirahat. Tak lupa dia menyuruhku mengabarinya jika sudah sampai di rumah.

Pukul 11 aku baru tiba di rumah, setelah memarkir mobil aku langsung mengirim pesan pada shine bahwa aku sudah sampai. Aku langsung masuk rumah dan mendapati sepupuku liam masih terduduk santai di depan tv.

Sepertinya dia tidak menyadari aku masuk. Serius sekali memperhatikan acara tv yang dia tonton. Sampai akhirnya dia kaget karena aku tiba2 membanting kan diri di sofa, tepat disampingnya.

Dia menoleh padaku.

"Kau ini mengagetkan saja" ucapnya sambil mengelus dada. Muka nya konyol sekali,membuatku tak tahan untuk mentertawakannya

"Serius sekali heh?" Ledekku.

"Hhh tidak juga. Seharusnya drama picisan seperti ini tidak ditayangkan di tv. Melankolis sekali" jawabnya sambil tetap menatap tv

"Tapi tetap saja kau menontonnya. Berarti kau melankolis" aku mentertawakannya lagi

"Tentu saja tidak" dia mendengus. Aku hanya tertawa pelan menanggapinya

"Tumben kau sudah pulang?" Tanyanya heran

"Seharusnya aku yang bertanya. Tumben kau belum tidur?" Aku terkekeh. Lagipula kenapa dia mesti heran ini kan sudah pukul 11 malam.

Dia melirik ke jam dinding yang ada di ruangan ini, kemudian ia terkekeh melihatku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku menggeleng pelan melihatnya.

"Belum mengantuk, kurasa karena tadi tidur siangku terlalu lama" ucapnya.

"Ooh" Kemudian hening untuk beberapa saat.

"Niall?" Tanyanya

"Apa?"

"Menurutmu bagaimana jika kau tidak bisa mendapatkan gadis yang kau cintai dan ternyata gadis itu malah menyukai orang terdekatmu?" Tanya nya lirih

"Hah? Kenapa kau tiba tiba bertanya seperti itu?" Aku merasa heran.

"Gara2 drama tadi" dia tertawa

"Menurutmu bagaimana?" Tanyanya lagi

"Ya, kalau memang takdir seperti itu terima saja. Jika orang yang kita cintai tak bisa jadi milik kita, berarti dia bukan yang terbaik untuk kita, dan tuhan pasti sudah mempersiapkan gadis lain yang memang sudah ditakdirkan untuk menjadi jodoh kita, kau tak boleh stuck pada satu orang saja jika sudah seperti ini. Life must go on brother" ucapku santai

"Tak baik memaksakan cinta, kau akan merasakan sakit yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya" lanjutku sambil terkekeh

"Pujangga sekali ternyata sepupuku ini" dia menonjok bahuku pelan sambil tertawa.

"Bukankah cinta itu harus diperjuangkan?" Lanjutnya

"Kalau hanya kau sendiri yang berjuang itu namanya bukan cinta Liam, mungkin kau hanya terobsesi padanya" jawabku

"Seperti itukah?" Tanyanya mencoba memastikan jawabanku tadi.

"Hmm" aku mengangguk pelan

"Hari minggu aku akan bertemu lagi dengan shab, brother. Ya hitung2 pertemuan terakhirku sebelum kembali kedubai. Kau mau ikut?" Tanyanya

"Minggu? Kurasa aku tak bisa liam, aku sudah ada janji dengan seseorang" aku terkekeh

"Pacarmu? Hmm hmm hmm" liam berkata dengan nada menggoda.

"Yap" jawabku singkat.

"Wow gadis mana yang beruntung mendapatkan hatimu mate?" Dia terkekeh

"Menurutku bukan hanya dia yang beruntung, tapi aku juga" ucapku. Aku tersenyum.

"Kau sangat mencintainya ya?" Tanya liam dengan raut muka ingin taunya

"Sangat!" Ucapku mantap.

"Dia cinta pertama ku liam, dan aku tak akan membiarkan siapapun untuk merebutnya dariku" lanjutku. Aku menyeringai.

"Oke oke" dia berbicara dengan nada bercanda dan mengangkat ke dua tangannya.

"Jadi kau tak bisa pergi menemaniku besok?" Dia tertawa

"Sepertinya begitu" aku menampakan wajah pura-pura kecewa. Dia tertawa melihatku.

"Baiklah" kata liam sambil mengerdikan bahunya

"Sudah, aku tidur duluan ya liam" kataku sambil bangkit dari sofa dan menuju kamarku

"Oke" jawabnya. Kurasa anak itu benar2 belum mengantuk. Saat aku sampai di depan pintu kamarku dan menengok ke bawah ternyata dia masih sibuk dengan remote tv, mencari acara tv yang seru kukira.

Lelah sekali, aku membaringkan badanku di kasur dan mata ku belum terpejam. Lusa aku akan bertemu james. Oh baiklah, aku ingin melihat bagaimana tampang sahabat pacarku itu. 'Kurasa aku lebih tampan daripada dia' aku terkekeh pelan. Sesaat kemudian aku menguap. Ngantuk. Saatnya tidur.

Zayn POV

Jam baru menunjukan pukul 6 sore saat aku keluar dari kantor. Akhir2 ini aku sering tidak fokus bekerja, padahal keadaan perusahaan sangat sibuk sedang banyak kerjaan. Tak salah ya dad dan mom mendirikan perusahaan musik seperti ini. Tak pernah mati. Aku tak bisa bohong pikiranku masih dipenuhi dengan bayang2 lily yang secara tiba2 mengatakan putus padaku.

'Aku harus menemukan seseorang yang membuatku lupa akan Lily' Aku menghela napas sambil menyandarkan diri di jok. Tepat dibelakang Josh.

"Antar aku ke walmart ya josh" aku teringat untuk membeli sesuatu

"Baik tuan" aku melihat josh mengangguk dan tersenyum dari kaca depan.

Walmart

"Kau pulang duluan saja josh, nanti aku pulang naik taksi" kurasa aku akan main2 diluar sampai malam, mungkin akan sedikit merilekskan pikiranku.

"Baik tuan, kalau begitu saya permisi" josh pamit, aku hanya mengangguk dan segera masuk ke walmart.

Di dalam aku mulai mencari sesuatu yang aku butuhkan. Sebenarnya aku hanya ingin membeli beberapa softdrink dan snack. Aneh kan. Mungkin aku memang sedang aneh.

Saat aku sibuk mengambil beberapa barang, aku menyipitkan mataku ke arah 2 orang muda mudi yang terlihat sedang bersenda gurau sambil memilih-milih barang di ujung deretan rak2 tempat softdrink ini di tata. Dia merangkul gadis disampingnya. Kurasa aku mengenal pemuda itu, aku mendekat tapi tentunya dengan cara senormal mungkin. Benar saja, aku tak salah lihat. Ya itu pemuda yang bersama lily saat di restoran. Harry. Tidak salah lagi itu harry. Rambut ikal dan dimples yang nampak ketika dia tersenyum. Tapi tunggu dulu, gadis itu bukan Lily, iya tentu saja bukan. Aku sangat mengenal Lily mengingat aku kan pernah jadi pacarnya.

Entahlah muncul ide darimana aku menelpon Lily.

"Lil kau dimana?" Ucapku cepat

"Di rumah. Kenapa? Aku sudah tak punya urusan lagi denganmu!" Jawabnya ketus

"Santai saja lil, apa kau sedang bersama harry?" Tanyaku tanpa basa basi

"Tidak. Sudahlah zayn tak ada urusan denganmu" Lagi2 dia menjawab pertanyaanku dengan ketus

"Lil, aku hanya ingin tahu dia dimana" aku mendengus kesal.

"Dia sedang berada di kantornya. Aku baru saja menelponnya beberapa menit yang lalu" jawab lily datar

"Oke" aku langsung memutuskan sambungan telpon. Aku merasa ada sesuatu yang janggal.

'Sebaiknya aku ikuti saja gerak-gerik mereka' batinku

Aku mengikuti mereka dalam jarak ya tidak terlalu jauh, dan kurasa harry dan gadis itu tidak mengetahui bahwa aku mengikuti mereka. Keluar dari walmart mereka langsung menaiki mobil, aku segera memanggil taksi.

Harry menginjak gas mobilnya, aku meminta supir taksi untuk mengikuti mobil harry.

Mobil harry berhenti tepat di depan sebuah restoran. Mereka berdua turun, harry menggenggam tangan gadis itu.

'Dia dengan siapa? Segitu mesranya? Adiknya? Ah tapi tak mungkin se mesra itu , aku dan shine yang sangat dekat saja tidak segitunya' kataku dalam hati. Aku segera turun dari taksi dan masuk ke dalam restoran. Supaya aku tidak terlihat mengikuti mereka aku memesan makan malam juga. Ya kebetulan aku memang sudah lapar.

Sambil memakan hidanganku mataku terus memandang 2 orang itu. Dan mataku terbelalak sangat lebar, sangat amat lebar kurasa saat harry memberikan gadis itu kado, cincin sebuah cincin, harry memakaikan nya di jari manis gadis itu kemudian mencium kening sang gadis. Gila benar-benar gila!

Aku sekarang sedang benar-benar mengomel dalam hati ingin rasanya aku melemparkan piring yang masih berisi makanan ini ke muka harry, tapi kuurungkan. Memalukan sekali kalau dipikir-pikir. Aku tak membawa apapun saat menghampirinya. Dia dan gadis itu masih bertatapan sambil tersenyum saat aku menghampiri mereka. Harry masih menggenggam kedua tangan gadis itu.

"Harry" ucapku sinis. Dia menoleh padaku. Gadis itu menatapku penuh keheranan.

"Mana Lily?" Tanyaku sambil menatap keduanya

Ekspresi muka harry berubah saat aku mengucapkan nama Lily

"Lily? Siapa dia Har?" Tanya gadis itu . Kurasa kali ini dia benar2 bingung

"Hah? Bukan siapa2 Liz. Lagipula aku tak mengenal pemuda ini" jawab harry gugup. Dia melotot kepadaku.

"Tak kenal, bukankah 3 minggu lalu Lily mengenalkanmu kepadaku sebagai tunangannya?" Ucapku santai. Aku menyeringai. Harry terdiam. Mukanya terlihat panik. 'Kena kau' batinku bersorak

"Har..." Terlihat dari mata gadis itu dia hampir menangis.

"Aku...hmm aku bisa jelaskan semuanya Liz" ucap harry terbata-bata. Dia memegang kedua lengan gadis itu mencoba menenangkan. Tapi gadis itu menolak dan menepis tangan harry. Harry menatap dengan tatapan penuh amarah kearahku.

"Silahkan selesaikan urusanmu brengsek!" Ucapku sinis dan segera berlalu dari tempat mereka berdua, menuju meja kasir dan aku bergegas pergi dari restoran itu.

Jam setengah 9 malam. Aku tiba dirumah,langsung menuju kamarku, aku melewati ruang keluarga tapi tak terlihat batang hidung shine disini. Kurasa dia sedang dikamarnya atau mungkin dia belum pulang.

Aku membaringkan badanku di kasur. Pikiranku masih berkecamuk. 'Lily harus tau kalau harry itu brengsek. Dia harus tau. Tapi apa peduliku diakan bukan siapa2 ku lagi. Haruskah aku memberitahunya? atau membiarkan lily tidak tahu? Atau bagaimana?' Pertanyaan2 itu muncul di benakku.

"Arrrrgh" aku menggeram kesal. Mana bisa tidur dalam keadaan seperti ini.

Aku memutuskan untuk pergi ke lapangan basket di halaman belakang rumah. Berharap dengan bermain aku jadi lelah dan bisa tidur.

Aku menghentikan permainanku saat kudengar ada seseorang memanggilku. Shine. Masih dengan setelan kerjanya. Sepertinya dia baru tiba.

"Zayn" ucapnya heran

"Ya" kataku singkat. Aku kembali mendribble bola dan melemparkannya ke ring

"Sudah malam zayn, tak baik untuk berolahraga, sudah hentikan"

"Sebentar lagi" jawabku tanpa menoleh padanya

"Zayn!" Kali ini dia menyebut namaku dengan nada tinggi

"Apa?" Kataku datar. Bola sudah kupegang dan kini aku menatapnya

"Kau kenapa?" Tanyanya kesal

"Tak apa" aku melemparkan bola ke ujung lapangan dan menghampiri bangku taman yang posisinya tak jauh dariku. Aku terududuk dengan kepala ku menengadah ke atas, menatap bintang-bintang. 'Sepertinya malam tak peduli dengan suasana hatiku' ucapku dalam hati. Aku menyeringai.

Shine berdiri tepat dihadapanku dengan melipat kedua tangannya di depan dada

"Sekarang jelaskan padaku" ucapnya tegas. Aku menghela napas.

"Sini" aku menariknya pelan, sekarang dia sudah duduk disampingku.

Aku menceritakan kejadian tadi sore padanya. Selengkap-lengkapnya. Dia sangat serius mendengarkan ceritaku.

"Kau apakan dia tadi?" Tanya shine bersemangat. Kurasa dia berharap tadi aku baku hantam dengan pemuda brengsek itu

"Tak ada, hanya menyindir nya saja dan membuatnya panik karena tingkah gadis yang baru saja diberikan cincin olehnya" jawabku santai

"Kau ini, harusnya memberi pelajaran untuknya. Bogem mentahmu seperti nya cocok" kata shine mengompori.

"Tak usah sis, konglomerat seperti kita tak pantas melakukan hal itu, memalukan" aku terkekeh

"Lagipula aku tak mau mengotori tinjuku menyentuh pemuda sialan itu" lanjutku.

"Heemh benar juga" iya mengiyakan alasanku.

"Lalu aku harus bagaimana sekarang?" Tanyaku setelah selesai bercerita

"Beritahu Lil, zayn. Kasihan dia" jawab shine

"Tapi lil tak akan semudah itu percaya padaku shine" kataku putus asa

"Kau tak ada bukti ya?"

Aku menggeleng pelan

"Tak terpikir olehku untuk memfoto mereka berdua, bodoh sekali. Ini semua karena aku terpancing emosi" kataku penuh sesal.

"Lalu bagaimana?" Kini dia yang malah bertanya padaku

"Sudahlah. Lain kali saja kita pikirkan lagi. Ayo masuk" kataku sambil menarik tangannya.

Dia mengikuti saja, dan kulihat dari raut wajahnya seperti nya dia masih berpikir.

Selesai membersihkan diri aku berbaring di kasurku yang sangat amat terlihat nyaman, mungkin karena aku sedang lelah dan banyak pikiran. Aku mencoba memejamkan mata tapi tentu saja aku tidak langsung tertidur pulas, otakku masih memikirkan apa yang harus aku lakukan setelah melihat kejadian itu. Frustasi. 'Aku harus memberitahu Lily' batinku.

Shine POV

Cerita zayn semalam mebuatku kepikiran. Kasian zayn. Bagaimana tidak, belum juga mendapatkan orang baru yang mendampinginya kini dia harus melihat tunangan mantan pacarnya bersikap brengsek di depan mata kepalanya sendiri. Pasti saja dia bingungg. Memberi tahu lil atau tidak? Dua-duanya sama saja membuat dirinya membatin.

Untung hari ini hari minggu, jadi aku tak khawatir terlambat pergi ke kantor. Siang ini aku bertemu james. Jam dinding di kamarku menunjukan pukul 11. 'Sebaiknya aku bergegas' ucapku dalam hati. Sebelum aku berangkat terlebih dahulu aku mengirimi niall pesan agar dia tidak lupa dengan pertemuan hari ini

Jangan lupa babe.

Wally's siang ini.

Aku menunggumu

Semoga interview mu lancar

Love you :)

Shine

Tak menunggu lama niall membalas pesanku.

Tentu babe.

Tapi aku akan terlambat

Maaf ya

Terimakasih

Love you more dear x)

Niall

"Siang nona, siap berangkat?" Tanya austin padaku sambil membukakan pintu mobil.

"Sudah" aku tersenyum.

"Wally's?" Tanya austin dari kaca depan

Aku mengangguk sambil tersenyum padanya.

Aku tiba di wally's. James ternyata sudah tiba duluan. Kurasa dia belum lama datang, wajahnya masih sangat ceria, tak terlihat seperti orang yang sudah menunggu lama. Dia melambaikan tangannya padaku dan aku pun melakukan hal yang sama. Aku menghampirinya

"Apa aku terlambat?" Tanyaku sambil menarik kursi yang ada di depan james

"Tidak, aku juga baru sampai" jawabnya

"Mana pacarmu?" Dia bertanya padaku sambil tersenyum.

"Dia terlambat, 15 atau 20 menit lagi juga dia akan sampai" jawabku. James mengangguk

Pelayan datang mengantarkan daftar menu. Aku dan james memesan 2 mangkok eskrim. Aku belum memesan untuk niall tentunya, pasti akan cair ketika dia tiba kalau sudah kupesankan sekarang.

Hanya 10 menit menunggu pesanan kami sudah datang.

"Shab, terimakasih ya selama ini kau sudah mau jadi sahabatku, walaupun aku pernah emm yaa menyakiti perasaanmu" ucapnya lirih

"Tak apa, aku sudah melupakan semuanya. Santai saja" Aku tersenyum

"Maafkan aku ya kalau aku hampir merusak persahabatan kita. Aku tak berharap lebih." Dia terdiam kemudian menggenggam tanganku.

"Aku hanya ingin dirimu tau kalau aku sempat memiliki perasaan padamu. Aku mencintaimu shab. Dan kurasa aku lebih pantas jadi ..."

Belum sempat james menyelesaikan kalimatnya tiba2 dari dekat pintu, di belakang tempat ku duduk terdengar suara beberapa mangkok eskrim jatuh, pecah dan berantakan. Aku menoleh ke belakang.

"Ma...maaf" ucap lelaki blonde itu gugup.

"Ini" dia menyimpan uang 100 dollar diatas nampan kemudian ia berlari ke luar wally's. Aku segera berdiri, dan berlari mengejarnya

'Niall itu niall, pasti dia salah paham' batinku. Aku terus berlari mengejarnya, tapi sayangnya dia tak terkejar. Dia sudah lebih dulu masuk ke dalam mobilnya. James? Ah ya dia tepat dibelakangku menatapku bingung.

"Shab" james menarik lenganku membuatku kini berhadapan dengannya

"Sudah tak ada waktu" jawabku cepat. Aku menariknya masuk ke mobilku.

Austin yang sedang duduk di jok depan kaget saat aku dan james tiba2 masuk

Ia menoleh padaku belum sempat dia berbicara aku terlebih dulu menginterupsinya

"Austin cepat kejar mobil itu cepaat" kataku panik sambil menunjuk mobil niall. Austin segera menginjak gas dan melaksanakan perintahku. Dan bisa kulihat ekspresi james sekarang yang tadinya hanya bingung menjadi benar2 bingung.

"Dia masuk ke jalan tol nona, bagaimana?" Tanya austin

"Ikuti saja cepat ikutiiii" kataku setengah berteriak

Niall memacu mobilnya cepat sekali, aku tau sebab austin juga memacu mobil yang kunaiki sama cepatnya. Dan kau tau bagaimana keadaan ku sekarang? Panik,pusing,bingung, semuanya bercampur jadi satu. Dan semuanya pecah ketika kudengar suara mobil mengerem mendadak dalam jarak beberapa meter dari hadapanku, kehilangan kendali, berputar dan sukses menabrak pagar pembatas. Mobil niall.

Deg. Aku tercengang beberapa saat. Air mataku mengalir begitu saja. James terbelalak kaget.

Austin tepat memberhentikan mobil yang dikendarai nya dibelakang mobil niall yang sudah ya kurasa mendekati hancur.

Aku berlari keluar mobil. James masih mengikutiku.

'Semoga ia baik baik saja ya tuhan. Tolong dia' batinku memohon

Aku mencoba menarik pintu mobil untuk mengeluarkan niall tapi sulit sangat sulit james menarikku kebelakang. Dia menarik pintunya dan berhasil. Austin sedang menelpon petugas jalan tol dan ambulance.

Saat pintu terbuka aku langsung menarik niall perlahan keluar. Aku memeluknya sambil terisak. Dapat kurasakan dia masih bernafas. 'Syukurlah terimakasih tuhan'

"Austin mana ambulancenya!" Teriakuu.

"Sebentar nona, mereka sedang menuju kesini" ia mengelus bahuku pelan

"Kumohon kau bertahan niall, kumohoon" ucapku iba.

James perlahan mendekati ku dan niall

"Niall" ucapnya seakan tak percaya. Matanya berkaca-kaca.

"Kau mengenalnya?" Tanyaku lirih. Aku masih menangis.

Belum sempat james menjawab ambulance datang.

"Cepat masukkan dia kedalam mobil, kumohon selamatkan dia" ucap james cepat kepada perawat dan dokter yang datang

Mereka sigap. Memberikan pertolongan pertama dan segera membawa niall ke rs, aku dan james ikut di mobil ambulance

"James" ucapku sambil terisak. seakan meminta jawaban yang belum sempat ia katakan

"Aku jelaskan nanti saja di rs" jawabnya. Terlihat raut wajah khawatir pada muka james saat melihat niall.

Setibanya di rs bangsal yang membawa niall segera didorong oleh para perawat ke ruang ugd, aku dan james juga ikut mendorong bangsal itu, aku terus menggenggam tangan niall sambil terisak.

"Kau kuat niall kau kuat" ucapku parau

James memegang bahuku seraya menenangkan. Tiba di ruang ugd sang perawat meminta ku untuk menunggu di luar selama mereka memeriksa keadaan Niall.

Aku hanya tertegun dengan wajah penuh dengan air mata, bagaimana tidak aku baru menemukan seseorang yang aku cintai dan dia mencintaiku kini sedang bertarung meregang nyawa. Yatuhan, sial sekali nasibku.

James berdiri tepat dibelakangku, dia memegang kedua bahuku dan menarikku pelan untuk duduk di kursi di depan ruang ugd. Aku menyandarkan kepalaku ke bahunya. Aku merasa sudah tak punya tenaga.

"Aku sudah menghubungi zayn untuk segera datang kesini" katanya pelan

Aku hanya mengangguk menanggapi kata katanya.

Kemudian aku mengangkat kepalaku dari bahu james. Aku akan meminta jawaban yang belum sempat ia katakan.

"James" kataku lemah sambil menatapnya

Sepertinya dia mengerti apa yang kumaksud.

Dia menatapku sambil tersenyum. Tapi masih terpampang ke khawatiran di wajahnya

"Aku kenal niall. Sangat kenal." ucapnya pelan. Wajahku masih menampakan raut keheranan

"Dia.. Sepupuku dan dia sudah kuanggap seperti adik kandungku sendiri" james menghela nafas. Aku masih terdiam, dan rasanya aku tak bisa mengeluarkan kata apapun untuk menanggapi ucapan james. 'James dan Niall saudara sepupu dan aku tidak tahu, sahabat dan pacar macam apa aku ini' rutukku dalam hati

"Aku juga pernah menceritakan dia padamu shab, sahabat yang aku cintai. Dan aku juga tau niall sudah punya pacar. " ucapnya lirih. Dan kau tau aku masih menatap james dengan tatapan penuh tanya.

"Yang aku tau selama ini niall tidak pernah merasakan cinta, emh.. Maksudku dia tak pernah sekalipun menjalani hubungan dengan seorang gadis sebelumnya. Entahlah aku tak tau alasannya. Dan dia pernah bilang padaku kau adalah cinta pertamanya. Kau sangat berarti untuknya. Dan jelas sekali terlihat dia sangat mencintaimu." James terus berbicara tanpa jeda. Entahlah apa yg hatiku sedang rasakan kini, senang dan bercampur haru karena niall benar2 mencintaiku, dan jika ingat keadaannya yang sekarang, air mataku kontan saja langsung mengalir.

"Tapi jujur saja aku dan niall sama2 tidak mengetahui kalau sahabatku dan pacarnya itu adalah orang yang sama. Maafkan aku ini salahku karena tak pernah menanyakan niall siapa pacarnya. Hanya cukup tau kalau sekarang niall sudah punya kekasih. Maafkan aku" james menggenggam kedua tanganku. Aku hanya menunduk.

"Tak apa james, bukan salahmu juga. Ini salahku. Aku tak pernah meminta niall meceritakan tentang hidupnya, mungkin hanya dia yang bosan mendengar ceritaku, sebenarnya aku juga pernah mengucapkan namamu di depannya" ucapku lirih

"Tapi bagaimana bisa kita sama2 tidak tau?" Tanyaku heran

"Mungkin begini shab, kau memanggil ku james dan niall memanggil ku Liam. Sebenarnya niall tau bahwa aku punya nama tengah James. Tapi kurasa niall berfikir bahwa liam dan james adalah orang yang berbeda. Kau tau, ada ribuan nama james di dataran inggris ini. Aku memanggil mu shabrina dan dia memanggil mu shine. Dan sudah pasti dia juga tidak tau kalau shine dan shabrina adalah orang yang sama, lagipula kita kan dulu beda sekolah dengannya, jadi pantas saja dia tidak tahu siapa sahabatku. Mengingat aku belum pernah mengajakmu main ke rumah karena kau terlalu sibuk dengan berbagai macam les mu itu" kata james.

Aku mengangguk pelan. 'Jadi selama ini hanya berputar pada orang yang itu itu saja yatuhan'

"Iya, niall memang tidak tau nama tengahku" jawabku pelan

"Kenapa?" Tanya james

"Aku belum sempat memberitahunya. Lagipula ya karena memang aku jarang sekali memakai nama tengah sejak lulus sma, semua org yang bekerja di kantor juga kurasa tidak tau nama tengahku, kecuali zayn. Kartu namaku saja hanya bertuliskan Shine Malik" jelasku. Aku menunduk lesu.

"Harus kita jelaskan semuanya saat niall sadar. Ucapnya sambil memegang bahuku. Aku hanya mengangguk, dan bersandar di kursi.