My Guardian
Chapter 8
Flashback on~
Ketika smp aku sering jadi bahan ejekan teman2 sekelasku. Mereka bilang aku ini anti sosial, kerjaan nya hanya membaca buku,buku,dan buku. Aku dibilang anak orang kaya yang sombong dan tak mau bergaul dengan siapapun. Sepulang sekolah aku tak pernah diizinkan main, zayn selalu menyuruh austin untuk tepat waktu menjemputku. Dan ya zayn menjaga ku dengan ya bisa kubilang agak berlebihan. Mungkin karena itu adalah pesan terakhir dari dad. Tapi semenjak aku bersahabat dengan james kurasa zayn sadar kalau hidupku tak bahagia karena aku tidak mempunyai teman, akhirnya sekarang dia terlihat lebih santai dan tidak over protektif lagi seperti dulu.
Aku mengenal james saat duduk di kelas 2 smp. Sebenarnya kami sudah satu tahun sekelas, tapi kami tidak saling mengenal kurasa. Ketika aku benar2 sudah sampai puncaknya kesal pada org2 yang terus mengejekku, siang itu aku tak masuk kelas ekonomi, aku duduk diam di bangku taman sambil menangis. Bisa2 nya aku membolos pelajaran hanya karena hal ini.
Tiba2 ada segumpal kertas menyentuh kepalaku, sepertinya ada yang melemparkannya.
"Jangan menangis lagi, kau terlihat tak bersinar jika kau bersedih" -james
Aku kaget melihat tulisan seperti itu di dalamnya dan 'james? Siapa james? Ada yang peduli padaku?' Tanyaku dalam hati. Aku tak mempedulikan kertas itu dan bergegas pergi ke perpustakaan. Mungkin dengan membaca dapat menghilangkan semua kekesalanku.
Hari2 ku selanjutnya dipenuhi oleh kertas2 yang berisi tulisan tulisan penyemangat, di loker, di meja belajar, dan dibangku taman tempat biasa aku duduk pasti selalu ada dan selalu dari james. Awalnya aku tak menghiraukan james itu siapa tapi aku berniat mencari org itu. 'Siapa tau dia mau jadi temanku'ucapku dalam hati.
Hari itu aku datang lebih pagi dari sebelumnya, tapi aku tidak langsung menuju kelokerku, kau tau aku sedang apa? Ya, mengintip. Pagi itu kulihat belum ada kertas yang tertempel di lokerku. Tentu saja itu kan masih pukul 6 pagi. Siapa yang mau datang ke sekolah sepagi ini. Aku saja harus terlibat perdebatan sengit dulu dengan zayn, ya jelas saja dia heran kenapa aku berangkat sepagi ini. Tapi akhirnya aku yang menang. Ada pelajaran olahraga tambahan. Alasan apa itu.
15 menit aku menunggu ternyata benar ada seorang laki2 berambut coklat dan ya cukup tinggi untukku berjalan membawa kertas menuju lokerku. 'Tak salah lagi itu orangnya' batinku bersorak. Dia menempelkan kertas itu di lokerku. Belum sempat dia beranjak dari tempatnya aku terlebih dahulu memanggilnya hingga yang ia bisa lakukan hanya diam sambil menghadap loker.
"Hei kau" kataku menepuk pundaknya. Dia berbalik pelan menghadapku. Dia hanya terdiam. Aku kaget saat melihat wajahnya.
"Kurasa aku pernah melihatmu di kelas" kataku dengan wajah heran. Dia malah tersenyum
"Benar, kau teman sekelasku kan! Dan kurasa kau tidak termasuk dalam gerombolan org2 yang sering meledekku" ucapku. Dia kembali tersenyum.
"Namamu james?" Tanyaku. 'Bodoh untuk apa aku tanya, kan aku sudah tau' batinku kesal
"Iya, Liam James Payne" dia menjulurkan tangannya padaku untuk berjabat tangan.
Aku menjabat tangannya. "Shine shabrina malik" ucapku sambil tersenyum
"Jadi kau yang selama ini mengirimkan ku surat2 itu? Kenapa kau tak ikut meledekku seperti anak2 lainnya? Oh ya kenapa harus pakai nama tengah?" Tanyaku sambil melipat kedua lenganku didepan dada
"Iya maafkan aku ya. Untuk apa mengejek seseorang yang jelas kita belum tau sikap dari orang itu sebenarnya. Kalau untuk urusan nama, emm entahlah, hanya ingin panggilan yang berbeda mungkin" katanya pelan sambil mengerdikan bahunya
"Emm oke. Kenapa diam2? Kau kan bisa langsung saja ngobrol denganku" Tanyaku heran
"Entahlah, mungkin aku malu" jawabnya
"Malu?" 'Kali ini aku benar benar heran'
"Ya merasa tak pantas saja, kau kan emh ya anak org kaya" jawabnya. Aku menatap sinis kearahnya. Belum sempat aku menanggapi ia cepat2 melanjutkan kalimatnya
"Ya emh maksudnya aku malu, aku takut jika aku langsung bicara padamu kau tak menanggapi ku. Aku takut kecewa" dia menunduk.
"Kau ini" aku menggeleng pelan
"Mulai sekarang kau jadi temanku. Oh ya panggil aku shabrina. Nama tengahku. Adil kan" aku terkekeh. Kutepuk bahunya. Dia mengangguk dan tersenyum.
Sejak saat itu aku dan james berteman baik atau bisa dibilang bersahabat, apalagi saat aku tau dia juga masuk sma yang sama denganku, hubungan persahabatan kami menjadi lebih erat. Hampir pernah berantakan gara2 masalah perasaan yang bisa kubilang bodoh. Akhirnya kami berdua sadar dan ya kami tetap bersahabat sampai sekarang dan tetap memanggil satu sama lain dengan nama tengah masing-masing.
Flashback off~
Zayn tiba dan langsung menghampiriku dengan wajah cemas. Dia tidak sendiri ia bersama louis, paman jonn dan elena. Aku bangkit dari posisi duduk ku. Zayn memelukku erat
"Shine" ucapnya lembut. Aku masih berada dalam pelukannya. Hanya terdiam. Dan terisak. Zayn melepaskan pelukannya dan mengusap air mataku
"Tenanglah, dia pasti baik2 saja" ucap zayn.
Lou, dan elena memelukku bergantian
"Sabar shine"
"Niall pasti sadar"
Hanya itu kata2 yang bisa mereka keluarkan.
Mereka duduk di kursi kursi yang masih kosong, aku pun kembali duduk. Raut muka kami sudah dapat dipastikan benar benar dan sangat amat khawatir. Zayn tepat di sampingku dan merangkulku berusaha menenangkanku yang kini masih terisak.
Niall POV
Yes, interview selesai.
"Lou,george aku duluan ya, ada janjiii" ucapku setengah berteriak kepada mereka sambil menuju pintu keluar
"Hati hatiii" ucap lou yang kurasa berteriak hingga aku dapat mendengar suaranya, jarakku cukup jauh dengannya
Aku mengendarai mobil dengan perasaan senang, hari ini aku bertemu shine, tapi aku ingat dia kan akan mengenalkan james. Sejenak ada perasaan aneh berkecamuk dihatiku. Cemburu? Hahahaha.
Wally's
Aku segera masuk ke dalam, tapi langkahku terhenti ketika aku melihat liam sedang duduk dan menggenggam tangan gadis di hadapannya. Aku kenal gadis itu, sangat kenal walau aku hanya melihatnya tampak belakang. Dia kan pacarku. Rambut ikal nya yang terurai indah dan jepit rambut kecil yang terpasang sempurna di rambutnya. dan ya yang paling meyakinkan hatiku adalah cardigan yang dipakainya. Itu sama seperti saat aku menemuinya di studio 3 minggu yang lalu.
'Shine dan Liam, apa yang mereka lakukan'
aku memilih tidak menghampiri mereka dan membuat mereka tak sadar akan kehadiranku, hari itu untungnya wally's cukup ramai jadi aku bias bersembunyi di balik orang2 yang lewat dihadapanku.
Aku tersentak kaget saat liam mengatakan hal yang benar2 tak pernah kuduga, 'dia mencintai shine, jadi shabrina itu shine, jadi selama ini shabrina sahabatnya yang dia cintai adalah shine'
Aku tak bisa menunggu lagi untuk pergi dari tempat itu, tapi sial ketika aku membalikkan badanku aku menabrak pelayan yang membawa ya kira kira 6 mangkok eskrim. "praaaanggggg" berantakan, jatuh semua mangkok yang ia bawa dan ya benar sekali, pecah, dan belingnya berserakan dimana-mana.
Aku bingung mau melakukan apa, tapi yang kutau saat ini adalah shine sudah menyadari bahwa aku sudah berada di sini. Dengan cepat aku membuka dompet dan menyimpan uang 1oo dollar diatas nampan sang pelayan dan hanya bisa mengatakan "maaf"
Aku berlari keluar wally's tak mempercayai apa yang baru saja kulihat. Dan shine, ya dia mengejarku.
Aku tak mempedulikannya sama sekali, hatiku terlalu yaa sakit kurasa, apalagi jika aku harus menatap wajahnya. 'maafkan aku shine' ucapku dalam hati
Aku masuk ke mobil dan dengan emosi yang ada padaku saat ini kupacu mobilku sekencang-kencangnya, masa bodoh dengan polisi. Tak tau tujuanku kemana, tapi kurasa aku akan pergi ke suatu tempat untuk menyendiri,' mungkin ini hanya emosi sesaat, aku harus ke suatu tempat untuk berpikir' batinku. Mobil shine mengikutiku, kurasa shine menyuruh Austin untuk melakukan hal ini. Jangan Tanya kenapa aku tau itu Austin, sekarang ini memang kalau kemana-mana shine selalu diantar Austin, mengingat josh lebih sering menyupir mobil zayn dan Nathan tugasnya hanya mengantar asisten rumah tangga mereka untuk berbelanja.
'Untuk apa mereka mengejarku' batinku geram.
Austin mengejarku dan kurasa dia hampir bisa menyamai kedudukan mobilku sekarang. Aku mengarahkan mobilku ke jalan tol, dan yang makin membuatku kesal adalah mereka terus mengikutiku.
"jadi liam menyukai shine, jadi james itu liam dan shabrina itu shine, what the! Kenapa aku tak sadar, Liam james payne, james itu nama tengah liam. Bodohnya aku, lalu shabrina ah entahlah mungkin itu juga nama tengah shine. Salahku lagi karena kali ini aku tak pernah menanyakan nama lengkapnya atau dia yang terlalu sering bercerita padaku jadi aku selalu lupa. Aaaaaaaaaarrrrrrgggh" aku berteriak sekeras-kerasnya di dalam mobil. Aku terus memacu mobilku, cepat dan dapat kurasakan kini mobilku seperti melayang, mobil shine masih membuntutiku. Pikiran ku kacau, sangat kacau, hingga aku tak menyadari ada sebuah bus dihadapanku, dan aku tak sempat menghindar jadi aku membanting stir dan
"braaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!" aku merasakan tubuhku remuk dan semuanya sakit. Sangat sakit. Lengkap sudah, hati sakit badanpun juga sakit.
Yang aku tau setelah itu adalah shine menghampiriku bersama liam, dan shine memelukku. Hanya sampai disitu. Kemudian aku terpejam.
Liam POV
Aku tak menyangka pertemuan ku hari ini dengan shab menjadi pertemuan yang sangat amat sungguh tidak menyenangkan. Aku sempat bercakap-cakap dengannya, meminta maaf dan menanyakan kemana pacarnya. Shab bilang pacarnya akan terlambat, dan aku merasa sepertinya aku harus memberi tau shab dan hanya ingin dia tau bahwa aku pernah mencintainya. Tapi aku tak berharap lebih.
Belum sempat aku menyempurnakan kalimat ku pada nya dia malah berlari keluar setelah menengok ke arah mangkok jatuh, aku pun tentunya mengalihkan pandangan ku ke arah itu. Dan dapat kulihat dengan jelas itu Niall. Mata mereka bertemu pandang. Tak lama Niall langsung berlari keluar wally's. Kemudian shab langsung lari mengejar niall dan aku mengikuti shine tepat dibelakangnya.
'Niall? Untuk apa dia kesini? Dia bilang tak bisa menemaniku bertemu dengan shab, dan mau bertemu pacarnya. Lalu kenapa sekarang dia lari dan shab mengejarnya' nafasku tercekat saat mengingat-ngingat semua nya di otakku. Dan aku sangat yakin bahwa pacar niall yang dia ceritakan semalam adalah shab.
Shab menyuruh austin untuk mengikuti mobil niall, gila sungguh gila aku tak tau berapa kecepatan mobil shab sekarang. Apalagi niall tentunya. Ketika masuk jalan tol kecepatannya semakin tak terkendali. Ini seperti melayang, dan ketika aku melirik ke arah shab tampak raut mukanya sangat khawatir. Dan aku semakin yakin bahwa mereka berdua berpacaran.
Saat mobil sedang sibuk berkejar-kejaran ada sesuatu yang benar-benar buruk terjadi. Mobil niall sukses menabrak dinding pembatas karena dia mengerem mendadak dan membanting stir untuk menghindari bus yang ada di hadapannya.
Mobilnya dalam keadaan benar2 tidak baik, dan niall kuharap dia tidak seperti mobilnya. Aku dan Shab segera berlari menghampiri mobil itu, sementara austin menelpon petugas jalan tol dan ambulance. Shab mencoba menarik pintu mobil niall tapi kurasa dia tidak kuat, aku menariknya kebelakang dan aku berusaha membukakan pintu mobil itu sekarang.
Pintu terbuka kulihat niall dalam keadaan tidak seperti harapanku. Aku hanya bisa menelan ludah dan ada perasaan berkecamuk dihatiku. Perasaan bersalah lebih tepatnya. Shab menarik niall keluar mobilnya dan memeluknya sambil terduduk lemas dan kepala niall serta sebagian badannya kini berada di pangkuan shab. Shab menangis sejadi-jadinya.
"Niall" ucapku seakan tak percaya. Kurasa mataku panas, dan mulai berembun.
"Kau mengenalnya?" Tanya shab lirih. Dan tentunya dia masih menangis.
Belum sempat aku menjawab ambulance datang.
"Cepat masukkan dia kedalam mobil, kumohon selamatkan dia" ucapku cepat kepada perawat dan dokter yang datang
Mereka sigap. Memberikan pertolongan pertama dan segera membawa niall ke rs, aku dan shine ikut di mobil ambulance
"James" ucap shab sambil terisak. seakan meminta jawaban yang belum sempat aku katakan
"Aku jelaskan nanti saja di rs" jawabku sambil menatapnya. Setelah itu aku mengembalikan pandanganku pada niall.
Rumah sakit.
Niall sudah masuk ugd. Aku sudah menelpon zayn dan shab sepertinya masih menunggu jawabanku. Aku menjelaskan semuanya, dan lagi2 aku minta maaf. 'Yatuhan kenapa aku sering sekali mengacau sekarang' gerutuku dalam hati. Shine menerima semua jawabanku, dan terkesan menerima saja, karena dia bilang ini juga salahnya. Aku berusaha menenangkan shine semampuku sampai tak berapa lama zayn, louis, serta seorang gadis yang belum aku tau namanya datang menghampiri kami berdua.
