My Guardian

Chapter 9


Normal POV

Sudah 30 menit mereka menunggu diluar. Tak lama dua org perawat dan seorang dokter keluar dari ruang ugd. Sepertinya mereka sudah selesai mengobati niall. Shine dan zayn langsung berdiri untuk menghampiri sang dokter.

"Bagaimana keadaannya?" Tanya shine penuh dengan ke khawatiran. Yang lainnya juga menatap ke arah mereka seakan ingin tau apa yang sedang mereka bicarakan.

"Kau keluarganya?" Dia malah bertanya balik

"Aku kakaknya" ucap zayn cepat

"Ya berterimakasihlah kalian pada tuhan karena pemuda itu tak mengalami hal yang cukup parah. Keadaannya sudah stabil" kata sang dokter. Shine dan zayn masih terdiam.

"Dia hanya mengalami gegar otak ringan yang disebabkan oleh benturan dikepalanya, beberapa luka luar dan ya kurasa yang ini cukup parah tapi tidak terlalu beresiko, dan lengannya patah, kami akan melakukan operasi jika dia sudah sadar, apa kalian setuju?" dia melanjutkan perkataannya.

"Baiklah, terimakasih dokter" ucap zayn, shine mengangguk menyetujui apa yang dikatakan kakaknya

"Dan dia juga sudah bisa dipindah keruang rawat inap. Kalau begitu aku permisi" ucap sang dokter sambil berlalu.

Ruang rawat inap.

Sudah 3 jam niall masih terpejam, shine masih menggenggam tangannya. Sesekali shine menyeka air matanya. 'Kenapa semua ini bisa terjadi, dan dalam waktu yang sangat singkat' batinnya kesal. Shine terlihat seperti orang frustasi menunggui niall berharap kekasihnya itu segera sadar. Untungnya tak berapa lama tangan itu membalas genggamannya. Niall sadar.

"Shine" ucapnya parau sambil berusaha membuka kedua matanya.

Semua orang yang ada diruangan langsung menghampiri shine dan niall

"Ya aku disini dear" ucap shine sambil mengelus rambut niall

"Syukurlah kau sudah sadar mate" ucap lou sumringah. Elena tersenyum dan memeluk lengan lou yang digandengnya.

Niall hanya membalas dengan senyum, walau ya sepertinya itu dipaksakan karena sepertinya ia sedang menahan sakit. Zayn memegang kedua bahu shine, shine meliriknya dan mereka berdua tersenyum..

"Niall" ucap liam lirih

"Kau berhutang penjelasan padaku" ucap niall. Entahlah itu bercanda atau serius, suara niall masih parau. Liam hanya mengangguk.

"James? Liam? Apa ini aku tak mengerti. Lalu darimana kau bisa mengenalnya james?" Kali ini zayn bersuara.

"Namaku Liam James Payne, zayn. Dan aku sepupunya niall" jawabnya. Zayn memasang wajah kagetnya. Niall sekarang sudah benar2 membuka kedua matanya. Saat zayn melirik kepadanya dia hanya mengangguk.

"Sudahlah" kata zayn

"Oh ya bagaimana ini bisa terjadi?" Tanya zayn berusaha menghilangkan keheranannya

"Ini..." "Emm begi..." Belum sempat shine dan liam berbicara niall sudah lebih dulu memotong kalimat kami..

"Saat menuju wallys untuk bertemu shine dan liam aku tiba-tiba merasa pusing, dan aku tak bisa mengendalikan laju mobilku jadi aku menabrak dinding pembatas" ucapnya tanpa keraguan, dan sepertinya zayn, lou, dan elena mempercayainya.

Shine hanya tertunduk lesu. Dan terlihat sekarang liam sedang bingungg se bingung2 nya mendengar jawaban niall.

"Oh seperti itu" ucap zayn, ia mengangguk pelan.

"Kau pusing kenapa mate? Kulihat kau tadi begitu ceria saat keluar dari radio" tanya louis

"Aku belum sarapan" niall terkekeh. Dan dapat terlihat kini liam sedang menatap heran ke arah niall.

"Kau ini" lou menonjok pelan bahu niall

"Sakit bodoh" niall meringis. Semuanya tertawa, kecuali shine dan liam yang hanya bisa tersenyum, itupun terpaksa.

"Liam" ucap niall

"Iya" jawabnya singkat

"Kau sudah telepon ke rumah? Aku tak mau jika mereka tau dari infotainment bahwa aku kecelakaan" lanjut niall.

Liam belum sempat menjawab tapi louis sudah mendahuluinya berbicara.

"Apa? Infotainment?" Lou membelalak kaget

"Ya jelas lah lou, kita kan sekarang selebritis, mereka pasti meliput berita ku" jawab niall bangga

"Bodoh, berita kecelakaan seperti ini saja kau bangga sekali" lou menggeleng. Kami tertawa melihat tingkah mereka berdua.

"Biarkan saja" ucap niall sinis

"Baiklah aku akan menelpon mom" jawab liam.

Niall hanya mengangguk pelan. Liam kemudian bergegas keluar untuk menelpon.

"Aku permisi dulu ya" kalimat zayn membuyarkan keheningan.

"Mau kemana?" Tanya shine

"Kantor, aku masih ada meeting" jawabnya

"Hmm baiklah" shine mengangguk

"Aku juga mau pamit" kata lou dan elena mengangguk mengiyakan kalimat pacarnya itu. Belum sempat shine bertanya dia sudah berbicara duluan. Selalu. Louis louis.

"Aku mau hmm hunting baju pengantin" ucapnya malu malu. Elena hanya tersenyum saat semua mata melirik padanya

"Kauuuu!" Ucap niall kaget

"Nanti saja ku jelaskan" jawab lou. Dia terkekeh.

"Banyak sekali yang hutang penjelasan padaku" ucap niall sarkastis.

Zayn, louis dan elena sudah pulang. Tak lama liam masuk ke ruangan.

"Mereka sudah pulang?" Tanya liam

Shine mengangguk, sedangkan niall entahlah sepertinya dia sedang merasakan sakit di tubuhnya, beberapa kali dia memejamkan matanya.

"Kau tak berpapasan dengan mereka?" Tanya shine

"Tidak, aku tadi ke toilet sehabis menelpon" jawabnya

"Baiklah sekarang jelaskan semuanya padaku" ucap niall. Nada bicaranya sangat serius.

Shine POV

Hanya tinggal kami bertiga diruangan ini. Aku, niall, dan james maksudku Liam.

Sikapnya tiba-tiba berubah menjadi serius saat semuanya pamit pulang, awalnya kupikir niall tidak terlalu marah padaku gara2 kejadian ini, dan batinku senang karena kurasa sebentar lagi niall akan memaafkanku.

Niall meminta aku dan liam untuk menjelaskan semuanya. Tepatnya dia meminta kepada liam. Dia tiba-tiba menjadi serius, dapat kulihat dari raut wajahnya.

"Sebelumnya kuharap kau tidak salah sangka terhadapku, tapi ya sudahlah kau sudah terlanjur salah sangka sehingga kau jadi seperti ini" ucap liam membuka penjelasan ini.

"Tak usah bertele-tele brother" ucap niall ketus menanggapi kalimat liam

"Dear..." ucapku lirih

"Diam shine. Nanti juga kau dapat giliran ku tanya" ucapnya ketus. Aku hanya terdiam. Liam menatap ku iba. Hatiku rasanya bergetar saat niall berbicara seketus itu padaku. Hampir saja aku menangis. Tapi aku tau bahwa aku harus segera menahannya.

"Kau tak boleh berbicara seperti itu padanya niall" kata liam mencoba membelaku

"Sudahlah liam, jelaskan saja apa yang perlu kau jelaskan!" Kali ini niall agak sedikit membentak. Benar-benar kali ini aku merasa niall sepertinya sedang benar-benar marah. Dia hanya menyembunyikan nya saja tadi saat ada zayn,lou dan elena. Kali ini aku hanya bisa memperhatikan perdebatan mereka.

"Baik akan kujelaskan, aku dan shine tak lebih dari sekedar bersahabat. Kau tau aku mencintainya. Tapi aku sadar karena ucapanmu semalam saat aku bercerita padamu, bahwa yang kurasakan ini bukan cinta karena hanya aku yang berjuang sendiri. Jadi aku memutuskan untuk bersahabat saja dengannya." Ucap liam

"Lalu?" Niall masih bertanya seakan meminta penjelasan lebih banyak

"Kau pasti mendengar kata2 yang belum selesai ku ucapkan pada shine saat di wally's kan?" Kali ini liam menyeringai

"Menurutmu?" Jawab niall sinis

"Aku hanya ingin shine tau bahwa aku pernah menyimpan perasaan untuknya. Hanya itu. Dan aku tak pernah berharap lebih" jawab liam. Sepertinya dia kesal karena kini niall sepertinya masih memasang tampang tak percaya.

"Oke" ucap niall singkat

"Sekarang giliranmu shine" dia menoleh padaku.

"Apa?" Tanyaku

"Kau mencintai liam oh maksudku james?" Tanyanya sinis

"Tidak, aku hanya menganggapnya sahabatku niall, dan aku hanya mencintaimu" jawabku lirih

"Benarkah?" Dia mencoba meyakinkan dirinya

"Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu percaya padaku?" Tanyaku. Kali ini aku tak kuasa menahan air mata.

"Kita break dulu sampai waktu yang tak ditentukan" ucapnya pelan. Aku terbelalak kaget

"Apa yang kau katakan idiot!" liam membentak niall. Niall melengos.

Aku hanya tertegun dan menelan ludah.

"Baiklah, jika itu maumu" ucapku tegas. Niall mengangguk. Dan liam dari raut wajahnya kulihat dia sangat kesal pada niall. Kurasa kalau tak ingat niall sedang sakit liam sudah memberi bogem mentah pada niall mengingat tangan liam sejak tadi sudah mengepal sempurna.

"Aku masih boleh kesini untuk menjengukmu?" Tanyaku pada niall

"Tentu saja" dia tersenyum tipis.

Tak banyak yang kami bicarakan sejak percakapan sialan tadi. Niall malah tertidur, dan liam pamit pulang ke rumah untuk mengambil beberapa baju niall dan dia bilang akan kembali bersama nenek dan ibunya. Kini hanya tinggal aku berdua dengan niall yang sedang tertidur. Aku menatapnya dalam. Kadang air mata ini jatuh, tak percaya semuanya terjadi, hanya dalam waktu beberapa menit dan semuanya jadi berantakan. Tapi keputusan yang niall katakan tadi kurasa ada baiknya mengingat sepertinya kami perlu mengenal satu sama lain lebih dalam.

Malam hari saat nenek dan ibunya liam menjenguk niall. Aku pamit pulang dengan alasan, ini sudah malam dan zayn menyuruhku pulang. Padahal sama sekali zayn tidak menghubungiku sesorean ini. Mungkin dia pikir aku akan menginap. Niall sedang tertidur.

"Shab, mau ku antar pulang?" Tanyanya setelah aku selesai berpamitan

"Tak usah james, austin sudah menungguku dibawah. Terimakasih. Aku permisi" ucapku sambil tersenyum. Jujur saja aku terpaksa tersenyum. James membalas senyumku.

Aku tiba di rumah, tapi aku tidak melihat zayn di ruang keluarga, mungkin dia dikamar atau mungkin dia belum pulang dari kantor. Sudah pukul 8 malam.

'Apa aku harus menceritakan semuanya pada zayn? Atau tidak usah? Atau aku harus bagaimana? Menyimpan semuanya sendiri?" Rutukku dalam hati sambil menaiki tangga menuju ke kamarku.

Aku sudah mengganti pakaian ku dengan piyama, aku membenamkan badanku di selimut dan tentunya masih tak percaya bahwa hari ini semuanya benar-benar mengesalkan. Hari sial kurasa.

Aku masih belum terlelap, hanya menutup seluruh badanku dengan selimut saja, tetapi mataku masih terbuka. Memejamkan nya saja rasanya sulit apalagi untuk tertidur.

Tak lama aku mendengar suara pintu kamarku diketuk dan seseorang muncul dari balik pintu. Atau tepatnya hanya kepalanya saja yang menyembul. Zayn.

"Kau sudah pulang shine" tanyanya pelan. Dia masih tetap pada posisinya.

"Sudah" jawabku lirih aku membuka selimut yang sejak tadi menutup seluruh badanku, hanya pada bagian kepala saja yang kubuka, dan aku menatapnya. Kurasa ada sesuatu yanh tak baik terjadi padanya hari ini, mukanya tak secerah biasanya.

"Baiklah. Selamat beristirahat" kukira dia akan memintaku bercerita atau mendengarkan ceritanya, tapi aku salah, zayn berlalu begitu saja, tanpa menunggu tanggapanku atas kalimatnya tadi.

Aku menghela nafas. Kurasa tak hanya aku yang sedang bersedih dan kesal. Aku kembali menutup wajahku dengan selimut, dan mencoba memejamkan mata supaya aku bisa tertidur.

Zayn POV

Lengkap sudah kesialan ku hari ini. Dimulai dari aku yang tidak tega melihat adikku yang terus-terusan menangis sesiangan ini gara2 niall yang kecelakaan, aku hampir saja kehilangan kontrak gara2 aku telat datang meeting dengan relasi kerjaku dan yang terakhir adalah Lily sukses mendaratkan tamparannya di pipiku saat aku mengajaknya bertemu. Di dalam mobil aku hanya bisa terdiam sambil terpejam. Aku tak ingin josh bertanya macam-macam, jadi aku pura-pura tidur saja.

Sesampainya di rumah aku melihat mobil yang dipakai shine tadi sudah tiba di rumah. Tapi aku belum yakin kalau shine pulang, maksudku ya mungkin saja kan dia menginap menemani niall, jadi aku ke kamarnya untuk memastikan.

Aku membuka pintu kamarnya dan tak dikunci ternyata. Aku menyembulkan kepalaku dipintu kamarnya.

"Kau sudah pulang shine" tanyaku pelan.

"Sudah" jawabnya lirih sambil membuka selimut yang sejak tadi menutup seluruh badannya, kulihat raut mukanya sepertinya dia juga sedang sama tak baiknya denganku. Jadi kurasa aku tak akan mengganggunya.

"Baiklah. Selamat beristirahat" ucapku sambil menutup pintu kamarnya.

Rasanya badan dan pikiranku hari ini sedang benar-benar lelah, jadi kuputuskan saja untuk segera tidur.

Flashback on~

Hari minggu pagi, tetap saja aku harus ke kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan, dan ada jadwal meeting hari ini, tak bisa ditunda. Sebelum berangkat ke kantor aku mengirimi Lily pesan dan memintanya bertemu, ada hal penting yang perlu aku katakan padanya. Paham kan.

Aku melonjak kaget dari kursi kerjaku saat james menelpon ku bahwa niall kecelakaan. Tak berpikir panjang aku langsung saja pergi ke rumah sakit yang tadi diberitahu james. Sesampainya disana adikku benar2 dalam keadaan sangat tidak baik.

Niall sadar dan shine sudah mulai tersenyum, keadaan niall juga syukurlah 'tidak terlalu parah' kata dokter yang mengobatinya, berterima kasihlah pada tuhan. Niall terlihat sudah mulai baik2 saja, dia sudah bisa bercengkrama dengan kami. Aku melirik jam tanganku, baiklah 15 menit lagi aku ada meeting, aku harus cepat supaya tidak terlambat. Aku pamit pulang pada shine dan james, lou dan elena juga ikut berpamitan.

Dan tepat sekali, jalanan sedang tidak bersahabat dan aku terlambat. Untung relasi kerjaku dapat memaklumi alasan2 yang kuberikan, untuk yang ini aku mengatakan ini hampir sial.

Hal terakhir yang menimpaku hari ini adalah:

Saat aku menjelaskan semua hal yang aku lihat beberapa hari yang lalu. Dan nasib buruk benar2 sedang menimpaku hari ini, Lily tak mempercayai perkataanku dan dia bilang aku hanya memfitnah harry karena tak suka dengan pertunangan mereka. Dan ada satu hadiah lagi yang diberikan Lily untukku selain pertunangannya yang waktu itu ia katakan, dia menampar pipiku. Yang sebelah kanan lebih tepatnya, terlihat agak sedikit merah.

Kau tau apa yang kurasakan saat itu ingin sekali rasanya mengobrak-abrik seluruh restoran. Aku kesal sangat kesal. Tapi hal itu tentu saja tak aku lakukan, aku hanya mendengus kesal dan hanya berkata "setidaknya aku sudah memberi tahunya padamu" tanpa mempedulikan ekspresinya aku segera berlalu.

Flashback off~

Liam POV

Benar2 tak kusangka niall bisa seketus itu saat berbicara pada shine. Padahal kemarin jelas2 dia bilang padaku kalau shine itu segalanya untuknya dan dia sangat mencintai shine. Aku kembali berpikir, kurasa niall bisa bersikap seperti itu pada shine karena kemarin ia benar-benar kesal. Kesal pada shine dan kesal padaku tentunya.

Dia memutuskan untuk break dengan shine untuk waktu yang tak ditentukan dan shine menerimanya, walau kurasa ia sangat amat terpaksa menerima keputusan itu. Aku hanya bisa menatap shine iba dan tak ada hal lain yang bisa aku lakukan selain itu, aku takut kalau aku bersikap macam-macam niall akan semakin marah padaku dan takut berimbas pada shine juga. Ini semua memang salahku, aku merasa tak enak pada shine karena penyebab kekacauan ini adalah aku. Walaupun shine bilang ini juga salahnya. Ah entahlah tetap saja aku merasa bersalah.

Aku menelpon dad memberi tahu bahwa niall kecelakaan, dad bilang aku bisa menunda kepulangan ku ke dubai dan stay di london untuk beberapa hari ke depan, dad menyuruhku untuk menjaga niall, mengingat mom kan harus menjaga nenek. Dapat kurasakan dad lebih mementingkan keadaan niall daripada bisnisnya, mengingat obrolan tadi saat aku meneleponnya. bagaimana tidak niall kan pernah tinggal bersama ku selama beberapa tahun, dan dad sudah menganggapnya sebagai anak kandungnya sendiri. Setelah menelpon aku menyuruh mom dan nenek pulang untuk beristirahat di rumah saat kulihat menunjukan waktu pukul 10. Jangan tanya mereka pulang dengan siapa. Mom ku bisa menyetir. Dan aku tetap disini, di ruangan ini menunggui niall, siapa tau saja dia butuh sesuatu.

"Kau benar benar idiot" ucapku sambil memandang sinis kearahnya, aku mendengus kesal. dia masih terlelap

"Kau idiot karena kau marah pada gadis yang kau cintai, dan yang lebih parahnya kau marah padanya bukan karena kesalahannya" aku terus saja berbicara padanya, walau kurasa ia tak mendengarku. Aku melengos menatap kearah pintu.

Tapi aku salah.

"Kau lebih idiot daripada aku" dia tiba2 saja membuka matanya, dan aku langsung menatapnya

"Bisa mendengarku eh?" Ucapku sarkastis

"Menurutmu aku tuli?" Jawabnya kesal

Entahlah semenjak kejadian tadi siang niall selalu berbicara dengan nada tinggi kepadaku, dan terkesan membentak. Aku hanya menatap dengan tatapan sinis atau sekedar mendengus kesal. Tak ikut2an bicara dengan nada yang sama dengannya. Untungnya saat ada mom dan nenek tadi niall sedang tertidur pulas, jadi mom dan nenek tak menyadari bahwa aku dan dia kini sedang bertengkar.

"Tak hanya itu, kau juga buta" jawabku ketus

"Maumu apa hah?" Ucapnya yang terdengar seperti membentak padaku.

"Mauku kau mendengar penjelasanku dan melihat tak ada kebohongan juga melihat raut muka shine saat kau memutuskan untuk break dengannya" kali ini aku berdiri, tanganku mengepal. Aku harus menahan emosi ku.

"Bukannya kau senang dengan keputusanku?" Dia menatapku sinis dan menaikkan sebelah alisnya.

Hampir saja tinjuku kulemparkan ke mukanya, tapi saat sudah dekat dengan wajahnya aku ingat dia sedang dalam keadaan tidak baik. Lagipula diakan sepupuku, pacar dari sahabatku juga. Tak sepantasnya aku melakukan ini. Aku mengangkat tanganku dan menggeram kesal.

"Kau tau niall, kau harus memperbaikinya sebelum semuanya terlambat!" Aku bergegas menuju ke pintu untuk meninggalkannya.

"Dan untuk pertanyaan mu yang tadi tentu saja jawabanku adalah Tidak" ucapku sambil menutup pintu.

Niall POV

"Kau tau niall, kau harus memperbaikinya sebelum semuanya terlambat!" Kalimat liam selalu terngiang-ngiang ditelingaku.

Dia tak kembali menunggui ku di ruangan ini sampai pagi, sampai sekarang. Sepertinya dia benar2 marah padaku. Aku tak pernah melihat raut mukanya semarah itu.

Masa bodoh lah dia tak kembali, lagipula ada perawat yang memenuhi semua kebutuhanku.

Liam baru tiba saat siang hari dan dia datang bersama dokter, mungkin mereka bertemu di jalan.

Diruangan pun dia tak banyak bicara, hanya duduk diam di sofa sambil membaca buku yang dia bawa dari rumah. Raut mukanya sangat tidak bersahabat. 'Dia tak menyapaku aku juga tidak, simpel kan' batinku kesal. Aku ingat aku harus menelpon louis untuk masalah pekerjaan, mengingat memang seminggu ini jadwalnya cukup ya padat. Dan bodohnya aku belum meminta dibelikan ponsel semalam, jadilah skrg aku tak punya ponsel mengingat ponselku kan rusak saat aku kecelakaan. Aku menghapus kan gengsi ku sesaat untuk meminjam ponsel pada Liam, kurasa aku pernah menyuruh Liam menyimpan nomer Louis. Dan kuharap dia belum menghapusnya.

"Ehmm emm Liam" ucapku ragu

"Ya" jawabnya singkat. Dia sama sekali tak merubah posisinya, tak menatapku sedikitpun

"Emm aku perlu sesuatu" ucapku gugup

"Panggil saja perawat" jawab Liam ketus

"Bukan, bukan itu" kataku cepat

"Lalu?" Tanya liam

"Aku pinjam ponsel mu, mau telpon Louis" kataku masih memandangnya dan dia tetap memandang bukunya sejak pembicaraan kami dibuka.

"Oh" liam bangkit dari posisi duduknya disofa dan menghampiriku.

"Aku pinjam" ucapku

"Ini sudah kusambungkan, tinggal ngobrol saja" ucapnya sambil menyodorkan ponselnya kepadaku, kemudian Liam kembali ke sofa.

"Thanks" kataku singkat. Aku tersenyum, tipis.

"Siang Lou" sapaku

"Oh siang mate, bagaimana keadaanmu?" Tanyanya

"Lebih baik" jawabku bersemangat.

"Oh ya aku ingat ada jadwal show hari ini di itv dan channel v , bagaimana?" Lanjutku

"Tenang saja, george dan paman jonn sudah melobi semua partner kerja kita, mereka memaklumi kalau kau tak bisa datang untuk bekerja, jadi seminggu ini kau libur dulu supaya kau cepat sembuh" jelas Lou

"Benarkah? Terimakasih mate" jawabku senang

"Iya sama sama, kau istirahat saja. Nanti setelah show di channel v aku akan segera ke rs. Sudah ya, aku sedang siap2 untuk ke studio itv" kata Louis

"Oke, good luck mate" kataku menanggapi kalimatnya. Dan sambungan telpon terputus.

Niatku jika sudah selesai mengobrol aku akan langsung mengembalikannya pada lou, tapi kali ini aku terdiam sesaat ketika melihat wallpaper di ponsel lou. Fotonya bersama shine dengan tulisan 'bestfriend'. Aku menatap foto shine, kurasa aku merindukannya, tapi simpan saja ini untuk nanti. 'Apa keputusanku ini salah?' Dan aku kembali teringat kata2 lou 'harus diperbaiki sebelum semuanya terlambat'

"Liam" ucapku

"Terimakasih, aku sudah selesai menelpon" lanjutku

"Simpan saja di meja di sampingmu" liam berbicara tanpa menatap ke arahku.

Aku menyimpan ponselnya di meja dan setelah itu tak ada pembicaraan lagi antara kami sesiangan ini.

Shine, pikiranku tertuju pada gadis itu. Sampai sore seperti ini dia belum juga datang menjengukku, ah untuk apa aku berharap kami kan sudah tidak pacaran lagi, eh maksudku sedang break, mungkin shine malas menemuiku.

Tak lama pintu ruanganku ada yang mengetuk dan terbuka. Aku dan liam sontak saja mengalihkan pandanganku ke pintu. Ada seorang gadis bermata coklat dengan rambut ikalnya terurai sangat cantik. Shine

Hanya kepalanya yang menyembul dari balik pintu "aku boleh masuk?" Tanyanya pelan

"Tentu" ucapku dan liam berbarengan, lalu kami berpandangan, tak lama, Aku menghela nafas dan liam menggeleng pelan.

"Selamat sore" ucapnya sambil tersenyum, dia menghampiriku, dia membawa bucket penuh bunga dan nandos, makanan kesukaanku. Tenang saja dokter tak melarangku makan apapun, tak ada yang perlu dikhawatirkan.

"Sore" jawabku kemudian membalas senyumnya.

Pandangan nya beralih ke sofa

"James, kau tak jadi ke dubai? Bukankah seharusnya kau berangkat hari ini?" Tanya shine heran

"Tidak, dad menunda kepulanganku. Dia bilang aku boleh pulang saat niall sudah sembuh" ucap liam. Ia tersenyum pada shine. Shine hanya mengangguk pelan dan tersenyum menanggapi kata2 liam. Kemudian shine menyimpan bunga dan nandos di meja.

"Oh ya aku permisi dulu ya" kata liam bangkit dari sofa, dia menghampiriku dan shine, untuk mengambil ponselnya dimeja.

"Mau kemana?" Tanyaku

"Membeli obatmu ke apotek, tadi dokter memberikan resepnya padaku" jawabnya sambil berjalan menuju pintu

"Baiklah" kataku. Kemudian dia menghilang dari balik pintu. Dia meninggalkan ku berdua diruangan ini dengan shine.

Shine menarik kursi yang ada di samping bangsalku. Kemudian dia duduk.

"Sudah makan?" Tanyanya

"Tadi siang" aku terkekeh

"Mau makan dear- "eh ..niall ?" Tanyanya gugup. Aku hanya tersenyum. Ada perasaan bahagia di hatiku, setidaknya aku tau bahwa shine belum mengubah posisiku dihatinya.

"Boleh" jawabku singkat.

Dia menumpuk beberapa bantal supaya aku bisa bersandar. Dia menyuapiku nandos yang tadi dia bawa, dia tak banyak bicara, tidak berbicara sama sekali malah, dia hanya menyuapiku.

"Sudah habis" katanya singkat. Lalu ia menyodorkan segelas air minum padaku.

"Terimakasih" jawabku

Lagi2 hening menyelimuti kami berdua. Biasanya shine sangat cerewet menceritakan semua kejadian hari ini, dan aku juga biasanya menanggapi cerita-ceritanya dengan leluconku. Tapi tidak, shine terlihat tidak seceria biasanya. 'Ini salahku' ucapku lirih dalam hati. Padahal aku s udah berjanji pada zayn untuk tidak sedikitpun melukai hatinya, tapi sekarang ini lah yang sedang aku lakukan, menyakiti hatinya.

Sejam kemudian liam sampai, kemudian shine meminta izin untuk pamit pulang. Aku tak mengerti apa yang terjadi diantara mereka shine menghindari liam atau liam yang menghindari shine? Tapi raut wajah mereka biasa2 saja ya seperti tak ada suatu hal buruk yang sedang terjadi.

"Aku pamit ya" ucap shine pelan

"Mau kemana?"Tanyaku. Liam hanya menoleh ke arah shine

"Mau makan malam dirumah bersama zayn, aku tak mau dia menunggu" jawab shine.

"Baiklah hati-hati" kataku. Liam tak mengucapkan apapun hanya tersenyum

"Baik aku permisi" shine tersenyum pada kami berdua dan bergegas pergi.

Aku merasa ada sesuatu yang aneh terjadi antara liam dan shine. Jadi setelah shine pergi aku memutuskan untuk bertanya padanya. Sudahlah lupakan gengsi. Kini liam duduk di kursi yang tadi ditempati shine.

"Liam"

"Ya?"

"Kau kenapa dengan shine?" Tanyaku

"Apanya yang kenapa?" Dia malah balik bertanya

"Hubunganmu?" Aku kembali bertanya

"Hubungan apa?" Liam menanggapi kalimat ku penuh heran

"Ya persahabatan lah kau pikir apa? Diakan pacarku, ya emm walau sekarang sedang break" Aku mendengus. Dia terkekeh. Sudah 2 hari sejak kemarin aku baru mendengar kekehannya lagi

"Baik2 saja" jawabnya singkat

"Tidak, ada yang salah!" Kataku tegas

"Apa?" Dia malah bertanya padaku

"Kalian terlihat saling menghindar" ucapku tanpa basa basi

"Ya seperti itulah" dia menghela nafas

"Kenapa?"

"Perlu aku jelaskan?" Tanyanya sarkastis

"Tentu saja!" Jawabku kesal

"Shine meminta ku untuk menjaga jarak dengannya selama dia break denganmu, dia tak ingin kau salah paham lagi, dia tak mau masalah ini jadi tambah keruh kalau kau salah paham lagi. Jadi ya ini lah yang kami lakukan" jelas liam

"Begitukah?" Tanyaku padanya, berusaha meyakinkan diriku sendiri

"Lalu kau maunya bagaimana?" Nada bicara liam meninggi

"Tidak, tidak ada. Aku minta maaf liam" kataku pelan

"Salah, kalau mau minta maaf bukan padaku, tapi pada shine. Sudah cukup kau membentak dan menyakitinya kemarin" jawab liam ketus

"Aku juga salah padamu liam, aku sudah berprasangka buruk. Bisa kau maafkan aku?" Tanya ku lemah.

"Bisa. Aku memaafkanmu. Sekarang perbaiki hubungan mu dengan shine" ucapnya, dari nada bicaranya seperti nya dia sudah marah.

"Terimakasih brother. Tapi untuk shine kurasa aku masih butuh waktu" ucapku lirih

"Baiklah, terserah kau saja" jawab liam. Aku hanya mengangguk menanggapi kalimatnya.

"Kau sebaiknya beristirahat" lanjutnya sambil mengambil bantal yang tadi ditumpuk.

"Baiklah, kau juga" kataku. Liam hanya mengangguk dan dia beralih ke sofa.