My Guardian
Chapter 10
Zayn POV
Sudah lama kami tak makan malam bersama, malam ini setelah makan aku ingin menanyakan kenapa shine terlihat begitu murung sejak kemarin, dan kalau dia tak keberatan untuk mendengar aku juga akan menceritakan semua hal yang terjadi kemarin padanya.
Selesai makan malam aku mengajaknya untuk duduk bersantai di ruang keluarga, alih2 mengajaknya nonton tv aku malah menginterogasinya. Aku dan dia duduk berdampingan dalam satu sofa.
"Kau kenapa?" Tanyaku, dia hanya menoleh.
"Hmmmm" ucapnya sambil menggeleng
"Kau kenapa? Jangan senmbunyikan apapun dariku" merasa tak puas akan jawabannya aku bertanya lagi. Kini dia malah terdiam. Aku memutar badanku supaya bisa menghadapnya.
"Shine? Bisa dengar aku?" Ucapku dengan nada yang sedikit meninggi
"Bisa" jawabnya lemah
"Kau kenapa?" Lagi2 aku bertanya
"Niall" ucapnya lirih
"Kenapa dengan dia? Keadaannya memburuk atau bagaimana?" Tanyaku penasaran
"Semakin membaik" jawabnya datar, dari sejak tadi dia berbicara dia sama sekali tak menatapku, pandangannya lurus kedepan entah sedang memikirkan apa.
"Lalu? Kenapa kau terlihat murung?" Lanjutku
"Hubunganku" jawabnya singkat
"Kau putus?" Ucapku sambil memegang kedua bahunya,jadi sekarang dia berhadapan denganku
"Hanya break" ekspresinya sangat sulit didefinisikan, antara sedih atau dia cukup senang karena itu hanya break.
"Kenapa bisa?" Aku masih menatapnya
"Entahlah salah paham, lagipula mungkin ini memang salahku" jawabnya sambil menunduk.
Aku mengangkat dagunya, dia sudah menangis.
"Dia menyakitimu shine, dia membuatmu menangis, akan kubuat perhitungan dengannya!" Ucapku kesal, kini tanganku sudah mengepal.
"Jangan zayn, tak usah. Ini urusanku dengannya, biar kami berdua yang selesaikan, tolong jangan berbuat apapun terhadapnya. Apalagi menyakitinya. Tolong zayn. Aku mencintainya." ucap shine lirih. Dari raut wajahnya sepertinya dia serius akan ucapannya.
"Baiklah kalau itu maumu, tapi aku tak jamin jika dia sudah berbuat kelewatan" kataku tegas kemudian aku memeluknya.
"Terimakasih" jawabnya pelan.
Kemudian aku melepaskan pelukanku.
"Jangan menangis lagi ya sis" ucapku sambil menyeka air matanya. Dia hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Kalau kau kenapa?" Kini shine yang bertanya padaku
"Kenapa apanya?" Jawabku heran
"Kemarin mukamu juga muram, kau ada masalahkan?" Ucapnya tanpa basa-basi
"Ya" jawabku singkat
"Bercerita?" Tanyanya. Kali ini ia tersenyum.
"Tentu" aku membalas senyumnya
"Jadi apa?" Tanya shine tak sabar
"Kau pasti kaget kalau mendengar bahwa tadi sore aku bertemu Lily"
"Hah? Untuk apa?" Benar saja kan prediksiku dia pasti kaget
"Ya memberitahunya soal harry" jawabku
"Lalu?"
"Aku mendapat hadiah disini" ucapku sambil menyentuh pipiku yang sebelah kanan
"Dia mencium mu sebagai ucapan terimakasih?" Tanya shine dengan nada ceria
"Bukan bodoh" aku menjitak kepalanya
"Lalu apa?" Dia mendengus kesal
"Aku ditamparnya, tak terlihat kah sedikit merah di pipiku ini" jawabku sebal
"Tidak, sama saja warnanya" dia membalasnya sinis.
"Memangnya kenapa dia menamparmu?" Shine bertanya lagi
"Dia bilang aku berkata yang tidak2 ttg harry karena aku tidak suka akan pertunangan mereka. Bodoh sekali kan lily padahal aku punya niat baik untuk memberitahu kejadian buruk yang kulihat beberapa waktu lalu" aku menghela nafas.
"Bodoh sekali" ucapnya dengan wajah polos
"Siapa?" Tanyaku
"Ya tentu saja si Lily itu, masa kau? Memangnya kau mau kubilang bodoh?" Dia terkekeh
"Tentu saja tidak. Enak saja" aku menjulurkan lidah padanya
"Terimakasih sudah mau mendengar ceritaku" kataku sambil mengusap rambutnya
"Iya . Terimakasih juga" ucapnya sambil tersenyum padaku. Aku hanya mengangguk dan membalas senyumnya.
Setelah mengobrol itu kami tak langsung masuk kamar masing-masing, menonton tv bersama dulu, setelah kulihat jam menunjukan waktu cukup larut aku menyuruhnya tidur dan aku juga bergegas ke kamarku. Dengan pikiran dan hati kami yang masing2 kami tak tau bagaimana isi sebenarnya.
Normal POV
Sudah 3 minggu niall dan shine break, satu minggu niall di rumah sakit, selama itu shine tak pernah absen menjenguknya, setelah keluar dari rumah sakit niall sudah bisa beraktivitas seperti biasa lagi, lou tak lagi sendiri kalau ada show atau interview, liam sudah kembali ke dubai setelah tau bahwa niall sudah sembuh. Dan diantara liam dan niall sudah tidak ada permusuhan. Liam tak ikut campur urusan niall dan shine, yang penting dia sudah memberitahu niall bahwa ini salah paham dan niall mempercayainya. Jadi tinggal satu lagi masalah kali ini, eh maksudnya dua, niall-shine, dan zayn-lily. Atau mungkin akan ada masalah baru lagi?
Infotainment. Sepertinya the mofos kini sudah sering muncul di acara itu, mereka semakin tenar. Berterimakasihlah pada perusahaan zayn, management, dan para fans the mofos.
Dan kau tau apa yang sedang diinformasikan oleh infotainment dalam seminggu ini? Tentu kau mungkin sudah bisa menebak, niall digosipkan berpacaran dengan seorang gadis bernama Jane. Yang sebenarnya mereka tak ada hubungan apa-apa. Jane itu adalah seorang model yang skrg juga sedang naik daun. Mereka bertemu disebuah acara talkshow, niall dan louis menggoda jane dengan leluconnya, tapi berhubung ini dunia entertainment semuanya dilebih-lebihkan, padahal kan semua org sudah tau kalau the mofos itu humoris dan sering mengeluarkan lelucon2 pada lawan bicara mereka. Niall yang digosipkan dekat dengan Jane, karena seminggu yang lalu Lou sudah diwawancara mengenai pernikahannya dengan Elena. Mungkin para pembuat berita juga tak tega mengganggu hubungan mereka, dan yang jadi sasarannya adalah Niall, dan infotainment taunya itu niall single, sebab dia dan shine tak pernah mengumumkan hubungan mereka pada publik.
"Mate, infotainment jadi makin gila ya?" Ucap niall saat diperjalanan menuju studio
"Sabar saja" ucap lou, dia terkekeh
"Kurasa aku harus menghentikannya sekarang." Gumam niall
"Break mu dengan shine? Memintanya berpacaran lagi dengan mu? Wow wow, semangat mate" ucap lou menggoda zayn
"Iya, kebetulan kan hari ini kita ke studio. Jadi aku punya kesempatan untuk bertemu dengannya" ucap niall sumringah
"Baiklah, semoga berhasil" louis menepuk bahu sahabatnya ini. Niall membalasnya dengan senyum.
Zayn. Dia adalah salah satu orang yang paling geram mendengar gosip Niall-Jane. Sebenarnya dia tau memang kalo kehidupan selebritis itu seperti ini, tapi dia tak bisa tinggal diam jika ini sudah menyangkut perasaan adiknya, semenjak mendengar berita itu dia jadi lebih murung, lebih parah dari sebelumnya. Mungkin dia takut niall akan benar-benar meninggalkannya dan tak memintanya kembali menjadi kekasih. Shine juga sekarang jadi jarang berbicara, kalau mengobrol tanggapannya hanya mengangguk, menggeleng, dan menjawab singkat. Zayn juga sudah bertanya pada davis bagaimana keadaan shine di kantor, menurut davis, shine jadi suka melamun, dan dia pernah memergoki shine sedang menangis di ruangannya sambil memandang frame yang berisi foto nya dan niall. Tidak, davis tidak masuk begitu saja, tapi dia memang sudah ada janji dengan shine, tapi mungkin shine lupa. Jadilah saat davis tiba shine sibuk menyeka air matanya dan menyimpan kembali frame itu di meja. Saat menyimpan frame itulah davis tau bahwa itu foto niall dan ms. Shine. Davis tak banyak bertanya, takut malah menyinggung perasaan atasan nya itu.
Hari ini dia akan ke studio untuk menemui niall. Davis bilang the mofos ada rekaman untuk lagu selanjutnya.
Setibanya di studio zayn tidak menghampiri shine dia langsung menemui niall yang kelihatannya baru selesai rekaman.
Zayn langsung saja berjalan cepat ke arahnya dengan tatapan ingin membunuh.
"Dasar kau pengecut" zayn langsung memberi bogem mentah di wajah niall. Niall langsung tersungkur di lantai. Hidung nya berdarah. Davis dan louis terbelalak kaget melihat kejadian itu, sejenak mereka membatu.
"Bangun kau sialan" zayn menarik kerah kaos polo yang dipakai niall. Niall memegang kedua lengan zayn. Sepertinya dia tak akan melakukan perlawanan. Zayn kembali membogem niall. Dan kembali membangunkannya dengan menarik kerahnya. Kali ini pinggir bibir niall berdarah. Keadaan nya? Hampir pingsan. Bogem zayn begitu, mantap eh?
"Zayn apa yang kau lakukan" teriak louis
"Diam disitu kau lou" ucap zayn ketus.
"Mr. Zayn ini bisa dibicarakan baik baik" ucap davis berusaha menghentikan
"Kau tak bisa me..."
"Diaaaaaaam" belum sempat louis menyelesaikan kalimatnya zayn sudah berteriak keras. Sangat keras.
Dia melanjutkan kalimatnya pada niall "Kau menyakiti hati adikku" teriak zayn, belum sempat zayn menonjok niall seseorang sudah menghentikannya.
"Zayn cukup, jangan sakiti dia" teriak shine. Dia lari menghampiri mereka berdua. Zayn melepaskan tangannya dari kerah niall. Niall kembali jatuh ke lantai. Shine berlutut mengangkat niall untuk bersandar ke bahunya, mencoba membersihkan darah yang mengalir dari hidung niall.
"Apa yang kau lakukan bodoh?" Teriak shine, air matanya mengalir.
"Kau yang bodoh shine, kau disakiti oleh pengecut ini dan sekarang kau membelanya" ucap zayn kesal, nafas nya tersengal menahan kekesalannya. Kedua tangannya mengepal. Louis dan davis hanya tertegun melihat kedua kakak beradik ini bertengkar
"Diam kau! ini urusanku dengannya, bukan urusanmu" ucap shine menatap zayn kesal.
"Tapi ini urusanku jika ada seseorang yang menyakiti adikku. Menyakitimu shine. Setidaknya itu adalah janjiku pada dad" ucapnya seakan tak percaya bahwa adiknya kini marah padanya.
"Maafkan aku" ucap niall pelan.
"Hanya maaf setelah kau menyakitinya selama ini? Laki2 pengecut!" Zayn mendengus kesal.
"Ini memang salahku" ucap niall. kemudian dia berusaha bangkit dari posisinya. Shine membantunya berdiri.
"Pengecut" zayn sudah memasang kuda2 untuk kembali menonjok niall
"Turunkan tanganmu. Sekarang juga!" Ucap shine tegas. Zayn menuruti keinginan adiknya.
"Zayn dengarkan aku, aku sudah bilang padamu untuk tak ikut campur urusanku dengan niall. Dan untukmu niall terimakasih karena kau telah menyadari bahwa kau salah. Dan sekarang aku mohon kalian berdamai, ini hanya salah paham" ucap shine
Niall sudah mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, tapi zayn malah melipat kedua tangannya di depan dada.
"Maaf? Semudah itukah?" Ucap zayn ketus
"Zayn, kumohon!" Ucap shine menatap zayn dengan tatapan memohon
"Demi adikku" ucap zayn datar, niall mengangguk. Zayn menjabat tangan niall.
"Sudah, lebih baik kau kembali ke kantor zayn, lydia tadi menelponku setelah panggilannya tak kunjung kau jawab, dia bilang kau ada meeting sebentar lagi" ucap shine.
"Ponselku kutinggal dikantor, baik lah aku permisi, dan untuk mu niall kurasa hari ini hari keberuntunganmu" ucap zayn sarkastis
"Permisi semuanya" ia menatap semua org diruangan. Louis dan davis mengangguk. kemudian zayn meninggalkan ruangan ini dan bergegas pergi ke kantor.
Shine menghela nafas, seakan tak percaya zayn akan berbuat hal sekonyol itu.
"Aku permisi" ucapnya datar kemudian, ia bergegas pergi.
"Sekarang selesaikan urusan mu mate" ucap lou wajahnya menyunggingkan senyum. Niall mengangguk dan membalas senyum lou
"Good luck niall" ucap davis
"Thanks" dan dia keluar ruangan untuk menemui shine
Setelah bertanya pada beberapa org yang berpapasan dengannya niall tau bahwa shine kini ada di ruangannya.
Niall mengetuk pintu.
"Ya masuk" ucap shine
"Aku ingin bicara padamu" kata niall, dia masuk keruangan shine dan menutup pintu.
"Bicara saja" ucap shine tanpa menoleh sedikit pun pada niall, ia terus saja sibuk dengan berkas2 yang ada di hadapannya
"Bisakah kau meninggalkan pekerjaan mu sebentar?" Ucap niall pelan, kedua tangannya kini berada di atas meja shine.
"Seberapa pentingnya ucapan mu hingga aku harus meninggalkan berkas2 ku?" Shine lagi2 tidak menatap niall
"Sangat penting" kata niall tegas. Shine kali ini mengangkat kepalanya untuk menatap niall
"Katakan" ucap shine singkat
"Breaknya selesai, kuharap kau mau jadi kekasihku lagi" kemudian niall menghela nafas. Menatap shine dalam dalam.
"Apa ini karena zayn?" Ucap shine, dia mengangkat sebelah alisnya.
"Tentu saja tidak!" ucap niall tegas, berusaha menepis perkataan shine
"Lalu kenapa mesti sekarang?" Ucap shine sinis
"Sebenarnya memang aku mau mengatakannya hari ini, kalau tak percaya tanya saja lou" ucap niall berusaha meyakinkan.
"Duduklah disofa" ucap shine. Dia menuju lemari yang ada di ruangannya. Niall menuruti apa kata shine dan dia duduk di sofa. Shine menghampiri niall membawa kotak p3k.
"Bersandarlah disofa, akan kubersihkan lukamu" shine duduk disamping niall mengeluarkan alkohol, kapas, dan obat merah
Niall meringis kesakitan saat lukanya diobati oleh shine
"Emh ma..maaf" ucap shine gugup
"Tak apa" ucap niall sambil tersenyum, ia memegang tangan shine yang kini sedang mengobati ujung bibirnya yang terluka. Niall menatap shine dengan tatapan penuh arti, Shine hanya terdiam.
"Terimakasih" lanjut niall
"Samasama" shine membalas senyum niall
"Jadi bagaimana?" Tanya niall dengan ucapan menggoda
"Apanya?" Jawab shine pura2 tak mengerti
"Haruskah aku mengulangi pernyataanku?" Niall tersenyum. Dia masih menggenggam tangan shine
"Menurutmu?" Ucap shine, kali ini dia yang berbicara dengan nada menggoda
"Kau gadisku" kemudian niall langsung memeluk shine. Dan shine membalas pelukan niall
"Satu-satunya, dan selamanya" ucap niall dalam pelukan mereka. Shine mengangguk dan tersenyum bahagia
"Maafkan aku babe, aku tak akan menyakitimu lagi. I love you" ucap niall, ia mencium puncak kepala shine.
"Maafkan aku juga. I love you too dear" jawab shine. mereka berdua bertatapan. Niall mencium kening shine penuh rasa sayang.
"Masalahku belum selesai" niall terkekeh.
"Apa lagi?" Tanya shine heran
"Dengan guardian angel mu, babe" kali ini niall tertawa
"Siapa?" Kali ini dia benar2 heran
"Zayn. Hahahahahaha" terdengar tawa renyah niall
"Kau bisa saja" ucap shine sambil memukul bahu niall
"Selesaikan masalah mu dengan baik babe" shine tersenyum pada niall. Niall mengangguk mengiyakan.
"Lukamu belum selesai ku obati dear" ucap shine. Niall mengangguk dan tersenyum.
"Oh iya, besok kan ada acara mtv awards babe, kau sudah tau kan?" Tanya niall
"Tentu saja, mana mungkin aku bisa tidak tahu, setiap tahun aku dan zayn selalu diundang" jawab shine
"maukah kau datang bersama ku besok?" Ucapnya sambil menatap shine
"Bagaimana yaaa?" Ucap shine dengan nada ragu
"Ooh ayolah kumohooon" ucap niall memelas
"Kau tega membiarkan kekasihmu ini berjalan sendirian saat di red carpet eh? Lou kan bersama elena, masa iya aku bersama paman jonn?" Ucapnya kesal, ia melipat kedua tangannya didepan dada
"Oh iya aku lupa kau sekarang sudah jadi pacarku lagi ya?" Ucap shine dengan nada menggoda. Dia terkekeh. Niall mendengus kesal
"Apa kau rela kalau aku pergi bersama jane? Tentu tidak kan babe?" Ucapnya menggoda shine sambil menyentuh dagu gadis itu. Dari raut mukanya terlihat shine sangat kesal
"Ajak saja dia" ucap shine ketus kemudian dia bangkit dari posisi duduknya di sofa. Belum sempat ia melangkah sudah ada niall yang menarik tangannya hingga ia kembali terduduk dan kini jarak antara wajah mereka cukup dekat. Ya cukup dekat.
"Aku tak mau dan tak akan pernah mau, aku hanya ingin pergi bersamamu dear" ucap niall pelan, kedengaran seperti berbisik, tapi ya shine tentu saja mendengarnya mengingat jarak mereka kan cukup dekat.
Shine tersenyum.
"Aku hanya bercanda babe" ucap niall, kemudian ia mencium gadisnya itu.
Shine POV
Siang ini aku sedang sibuk di ruang kerjaku, davis bilang the mofos ada rekaman lagu terbaru mereka, dia mengajakku untuk melihat mereka rekaman, tapi malas sekali rasanya, entahlah mungkin karena aku sedang sibuk atau yaa ada sedikit rasa canggung semenjak niall break denganku.
Ponselku berdering. Ada telpon.
"Lydia" ucapku pelan. 'Untuk apa dia menelponku?' Tanyaku dalam hati. Aku menjawab panggilannya.
"Ya lydia ada apa?"
"Apa di studio ada mr. Malik, miss?" Tanya lydia tanpa basa basi
"Hah? Aku tak tau. Aku belum bertemu dengannya disini. Memangnya kenapa?" Tanyaku heran
"Hanya mau mengingatkan bahwa 30 menit lagi ada meeting dengan klien, dan tak ada diruangannya" jawab lydia
"Kenapa tak mencoba menghubungi ponselnya saja, Lyd?"
"Sudah miss, tapi tak diangkat" ucapnya
"Oh baiklah, aku akan mencari nya disini" jawabku
"Baik, terimakasih miss" ucap lydia
"Ya sama-sama" sambungan telpon terputus.
Saat aku baru saja berniat ke luar ruangan, aku mendengar suara keributan di luar, entahlah dimana, segera saja aku cepat2 mencarinya. Dan disinilah sumbernya, ruang rekaman, dan aku mendapati zayn dengan penuh emosi mencengkram kerah baju niall, dan tangan zayn sudah bersiap2 memberikan tinju padanya.
"Zayn cukup, jangan sakiti dia" teriakku. Ada darah mengalir dari hidung niall, pinggir bibirnya juga terluka. Aku berusaha menyeka darah yang mengalir itu. Apa yang zayn pikirkan hingga ia berbuat hal sekonyol ini? Bodoh.
"Apa yang kau lakukan bodoh?" Aku kembali berteriak, kini air mataku sudah mengalir.
"Kau yang bodoh shine, kau disakiti oleh pengecut ini dan sekarang kau membelanya" ucap zayn kesal, nafas nya tersengal menahan kekesalannya. Kedua tangannya mengepal. Louis dan davis hanya tertegun melihat kami bertengkar. Ya mungkin mereka tak menyangka, biasanya kan kami akur-akur saja.
"Diam kau! ini urusanku dengannya, bukan urusanmu" ucap ku sambil menatap zayn kesal.
"Tapi ini urusanku jika ada seseorang yang menyakiti adikku. Menyakitimu shine. Setidaknya itu adalah janjiku pada dad" zayn berkata seakan tak percaya bahwa aku kini marah padanya. Aku hanya diam mendengar perkataannya itu. Sebagai adik aku memang senang jika kakakku melindungiku dengan baik, tapi saat org yang kucintai disakiti olehnya apakah aku harus diam saja?
"Maafkan aku" ucap niall pelan.
"Hanya maaf setelah kau menyakitinya selama ini? Laki2 pengecut!" Zayn mendengus kesal.
"Ini memang salahku" ucap niall. kemudian dia berusaha bangkit dari posisinya. Aku membantunya berdiri.
"Pengecut" zayn sudah memasang kuda2 untuk kembali menonjok niall
"Turunkan tanganmu. Sekarang juga!" Ucap ku tegas. Awalnya zayn diam saja, kemudian aku menatapnya dengan wajah memohon. Akhirnya Zayn menuruti keinginan ku.
"Zayn dengarkan aku, aku sudah bilang padamu untuk tak ikut campur urusanku dengan niall. Dan untukmu niall terimakasih karena kau telah menyadari bahwa kau salah. Dan sekarang aku mohon kalian berdamai, ini hanya salah paham" ucap ku berusaha mendinginkan suasana.
Niall sudah mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, tapi zayn malah melipat kedua tangannya di depan dada.
"Maaf? Semudah itukah?" Ucap zayn ketus
"Zayn, kumohon!" Ucap ku menatap zayn dengan tatapan memohon, biasanya zayn tak tega jika melihatku sudah begini. Dan benar saja.
"Demi adikku" ucap zayn datar, niall mengangguk. Zayn menjabat tangan niall.
"Sudah, lebih baik kau kembali ke kantor zayn, lydia tadi menelponku setelah panggilannya tak kunjung kau jawab, dia bilang kau ada meeting sebentar lagi" aku teringat tujuan awalku mencari zayn.
"Ponselku kutinggal dikantor, baik lah aku permisi, dan untuk mu niall kurasa hari ini hari keberuntunganmu" ucap zayn sarkastis
"Permisi semuanya" ia menatap semua org diruangan. Louis dan davis mengangguk. kemudian zayn meninggalkan ruangan ini dan bergegas pergi ke kantor.
Aku menghela nafas, seakan tak percaya zayn akan berbuat hal sekonyol itu.
Kini tinggal kami ber 4 diruangan, dan kurasa tak ada hal lain lagi yang aku lakukan, jadi kuputuskan untuk kembali ke ruang kerjaku.
"Aku permisi" ucapku datar kemudian aku bergegas pergi.
Tak lama aku tiba di ruangan seseorang mengetuk pintu ruang kerjaku ini.
"Ya masuk" jawabku dari dalam.
"Aku ingin bicara padamu" terdengar suara seseorang. Niall. dia masuk keruangan ku dan kemudian menutup pintu. 'Apalagi yang mau dia katakan, memintaku benar2 putus dengannya atau malah memintaku jadi pacarnya lagi? Ah kurasa alasan pertama lebih masuk akal mengingat dia baru saja diberi bogem mentah oleh kakakku. Mungkin dia sakit hati' gerutuku dalam hati.
"Bicara saja" ucap ku tanpa menoleh sedikit pun pada nya, aku berusaha menyibukkan diriku dengan berkas2 yang ada di hadapanku.
"Bisakah kau meninggalkan pekerjaan mu sebentar?" Ucap niall pelan, kedua tangannya kini berada di atas mejaku, kurasa dia masih punya etika untuk tidak menggebraknya jadi dia hanya menyimpan kedua tangannya di meja.
"Seberapa pentingnya ucapan mu hingga aku harus meninggalkan berkas2 ku?" Aku berusaha secuek mungkin padanya, dan tetap sibuk dengan berkas2 ku.
"Sangat penting" kata niall tegas. Dari nada bicaranya terdengar sangat serius, kali ini aku menghentikan kesibukan ku dan mengangkat wajahku untuk menatap nya.
"Katakan" ucap ku singkat dengan nada yang kuatur datar se datar-datarnya.
"Breaknya selesai, kuharap kau mau jadi kekasihku lagi" kemudian niall menghela nafas. Menatap ku dalam dalam. Entahlah aku melihat tatapannya tulus padaku, tapi aku malah berspekulasi lain.
"Apa ini karena zayn?" Tanyaku sambil mengangkat sebelah alis
"Tentu saja tidak!" ucap niall tegas. Tapi yatuhan aku tetap saja tak percaya. Sebenarnya aku senang, tapi kalau ingat kejadian tadi apa tak mungkin jika niall melakukan hal ini gara2 takut pada zayn.
"Lalu kenapa mesti sekarang?" Ucap ku sinis, aku terus berusaha meyakinkan hatiku.
"Sebenarnya memang aku mau mengatakannya hari ini, kalau tak percaya tanya saja lou" dari nada nya berbicara sepertinya niall berusaha meyakinkanku.
Baik kurasa memang sepertinya dia memang benar-benar memintaku dengan tulus. Aku melihat lukanya yang masih berdarah. Sebelum menanggapi kalimatnya aku akan mengobatinya dulu.
"Duduklah disofa" ucap ku. Aku berjalan menuju lemari yang ada di ruangan ku ini. Niall menuruti perintahku dan dia duduk di sofa. Aku menghampiri niall sambil membawa kotak p3k.
"Bersandarlah disofa, akan kubersihkan lukamu" ucapku pelan, kini aku sudah duduk disamping niall mengeluarkan alkohol, kapas, dan obat merah dari kotak.
Niall meringis kesakitan saat lukanya diobati oleh ku
"Emh ma..maaf" ucap ku gugup, merasa tak enak karena aku takut sentuhanku di lukanya terlalu kasar dan membuatnya tambah sakit.
"Tak apa" ucap niall sambil tersenyum, kini dia memegang tangan ku yang sedang mengobati ujung bibirnya yang terluka. Niall menatap ku dengan tatapan penuh arti, aku hanya terdiam. Aku merindukan tatapan ini, tatapan yang penuh rasa sayang.
"Terimakasih" lanjut niall
"Samasama" aku membalas senyum niall
"Jadi bagaimana?" Tanya niall dengan ucapan menggoda
"Apanya?" Jawabku singkat, aku tau pertanyaannya mengarah kemana tapi ya tentu saja aku tak langsung menanggapi pernyataannya tadi.
"Haruskah aku mengulangi pernyataanku?" Niall tersenyum. Dia masih menggenggam tangan ku.
"Menurutmu?" Ucap ku dengan nada menggoda.
"Kau gadisku" niall melepaskan pegangan tangannya dan kemudian langsung memeluk ku. Aku membalas pelukan niall.
"Satu-satunya, dan selamanya" ucap niall dalam pelukan kami. Aku mengangguk menanggapi perkataannya dan tersenyum bahagia.
"Maafkan aku babe, aku tak akan menyakitimu lagi. I love you" ucap niall lembut, ia mencium puncak kepala ku.
"Maafkan aku juga. I love you too dear" jawab ku. Melepaskan pelukan kami dan kemudian bertatapan. Niall mencium kening ku penuh rasa sayang.
"Masalahku belum selesai" niall terkekeh.
"Apa lagi?" Tanya ku heran
"Dengan guardian angel mu, babe" kali ini niall tertawa
"Siapa?" Kali ini aku benar2 heran, lagipula memangnya siapa guardian angelku?
"Zayn. Hahahahahaha" terdengar tawa renyah niall
"Kau bisa saja" aku memukul bahu nya saat mendengar nama kakak ku.
"Selesaikan masalah mu dengan baik babe" aku tersenyum pada niall berharap semuanya akan baik2 saja seperti dulu. Niall mengangguk mengiyakan.
"Lukamu belum selesai ku obati dear" aku mengambil kapas dan obat merah yang kuletakkan dimeja. Niall mengangguk dan tersenyum.
"Oh iya, besok kan ada acara mtv awards babe, kau sudah tau kan?" Tanya niall
"Tentu saja, mana mungkin aku bisa tidak tahu, setiap tahun aku dan zayn selalu diundang" jawab ku. Ya beberapa penyanyi terkenal memang bernaung di bawah perusahaan label musik milik kami, selain itu setau ku nial juga mempunyai saham di mtv.
"maukah kau datang bersama ku besok?" Tanya niall sambil menatapku
"Bagaimana yaaa?" Aku memutar bola mataku dan memasang tampang ragu.
"Ooh ayolah kumohooon" ucap niall memelas
"Kau tega membiarkan kekasihmu ini berjalan sendirian saat di red carpet eh? Lou kan bersama elena, masa iya aku bersama paman jonn?" Ucapnya kesal, ia melipat kedua tangannya didepan dada. Aku berusaha menahan tawaku agar tak meledak, lucu sekali wajahnya saat ngambek seperti ini.
"Oh iya aku lupa kau sekarang sudah jadi pacarku lagi ya?" Ucap ku terus menggodanya. Aku terkekeh. Niall mendengus kesal.
"Apa kau rela kalau aku pergi bersama jane? Tentu tidak kan babe?" Kali ini dia yang sukses menggoda ku sambil menyentuh daguku. Kesal sekali rasanya saat dia menyebut nama jane.
"Ajak saja dia" ucapku ketus kemudian aku bangkit dari posisi dudukku di sofa. Belum sempat aku melangkahkan kakiku sudah ada niall yang menarik tanganku hingga aku kembali terduduk dan kini jarak antara wajah kamu cukup dekat. Ya cukup dekat. Nafas ku tercekat. Biasanya tak pernah sedekat ini. Aku hanya terdiam menatapnya.
"Aku tak mau dan tak akan pernah mau, aku hanya ingin pergi bersamamu dear" ucap niall pelan, kedengaran seperti berbisik, tapi ya tentu saja aku mendengarnya, jarak kami kan cukup dekat.
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya.
"Aku hanya bercanda babe" ucap niall, kemudian ia menciumku.
Malam ini niall yang mengantar ku pulang, austin sudah ku suruh pulang duluan tadi sore, sesorean ini niall menemaniku di ruang kerja sampai pekerjaan ku selesai, kebetulan jadwalnya hari ini hanya rekaman di studio.
Niall tak mampir dulu ke rumah dia bilang suasananya masih tak enak, dia tak mau memicu keributan lagi dengan zayn, dia bilang dia akan mencari cara untuk bertemu zayn dan menyelesaikan masalah mereka, kuharap tak akan terjadi baku hantam lagi. Besok malam dia akan pergi bersamaku ke acara mtv, menjemputku di rumah, dan kurasa besok ia akan bertemu zayn. Semoga tak akan ada hal buruk yang terjadi.
Sesampainya di rumah aku mendapati zayn sedang membaca buku di ruang keluarga. Lucu sekali kalau melihatnya sedang memakai kacamata. Aku hanya tertawa pelan melihatnya.
"Ada yang lucu denganku?" Ucapnya sambil menatapku yang masih berdiri di dekat sofa tempat ia duduk. Aku hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Duduklah. Dari raut wajahmu dapat kutebak sepertinya kau sedang senang" ucapnya sambil memperhatikan bukunya.
Aku duduk tepat disampingnya, menyandarkan punggungku di sofa.
"Terimakasih zayn" ucapku pelan. Dia menoleh kearahku.
"Untuk apa? Memukuli niall si pengecut itu? Ah ya samasama" ia menyeringai
"Bukan itu bodoh!" Ucapku kesal, aku menatapnya sinis.
"Lalu?" Kini dia menutup bukunya dan diletakkan dimeja
"Aku senang saat kau mengatakan bahwa urusanku jadi urusanmu jika ada seseorang menyakitiku. Dan itu adalah janjimu pada dad. Kakak yang baik" aku langsung saja memeluknya.
"Berarti kau juga senang kan saat aku memukulinya?" Dia terkekeh
"Tentu saja tidak!" Aku langsung melepaskan pelukanku padanya dan melotot kearahnya
"Bukan berarti aku senang saat kau memukuli orang yang aku cintai zayn, walau dia menyakitiku, tetap saja aku mencintainya" ucapku lirih
"Cinta memang membuat manusia jadi buta sis" ucap zayn sinis
"Setidaknya aku tau semua ini awalnya bukan karena kesalahannya zayn, ini kesalahanku tak menceritakan padanya siapa james itu, hingga ia salah paham, mengajakku break, dan infotainment memberitakan gosip yang membuatku cukup sakit hati" jelasku padanya. Zayn hanya terdiam menatapku.
"Berdamailah dengan nya zayn" ucapku memohon padanya. Dia melengos.
"Kumohon" kataku sambil menggenggam tangannya. Dia menoleh padaku.
"Semuanya akan aku lakukan asal adikku bahagia" ucapnya sambil tersenyum sambil membelai rambutku.
"Terimakasih, aku menyayangimu kak" ucapku sambil memeluknya
"Aku juga" jawabnya
"Bagaimana hubungan mu dengannya?" Tanya zayn seraya melepaskan pelukan kami
"Membaik" jawabku sumringah. Sepertinya ia belum paham. Dia hanya menaikkan sebelah alisnya dengan raut wajah heran
"Aku dan dia berpacaran lagi zayn" ucapku sambil mencubit kedua pipinya. Aku tertawa senang.
"Huh, pantas saja kau memintaku berdamai dengannya" ucap zayn sambil melepaskan cubitanku dipipinya.
"Hah? Tidak juga! Jangan jadikan itu alasan" jawabku sinis
"Lagipula kalau aku tak berpacaran lagi dengannya juga aku akan tetap memintamu berdamai dengannya, kita kan partner kerja, apa kau mau punya hubungan yang tak baik dengan partner mu, kontrak kita masih lama brother, ini baru dua bulan, masih ada 1 tahun 10 bulan lagi" ucapku sambil terkekeh.
"Ya kau benar" dia mengangguk pelan.
"Hei sis kau tau apa yang akan kulakukan jika aku melihat kau menangis lagi karena lelaki sialan itu?" Tanya nya sinis
"Namanya niall, zayn, kuharap kau tak melupakannya" jawabku ketus
"Oke oke , maaf. Oh iya Kau tau apa?" lanjutnya.
"Aku hanya berharap kau tak melakukan hal bodoh!" Ucapku sambil melipat kedua tanganku di depan dada.
"Tidak, tidak, hanya ingin memutuskan kontrak kerja dengan mereka saja, menghentikan kontrak yang kau bilang masih ada 1 tahun 10 bulan itu" ucap zayn, kemudian ia tertawa.
Aku menjitak kepalanya "kita akan merugi bodoh!" Ucapku ketus
"Tak peduli, yang penting kau tak sedih lagi gara2 dia!" Ucap zayn sambil tersenyum
"Sikap pedulimu padaku berlebihan zayn, aku jadi ingat saat smp dulu" jawabku, aku tertawa pelan.
"Tapi sepertinya jika sekarang aku memperlakukan mu seperti saat smp dulu kau akan memberontak" ucap zayn
"Tentu saja my big brother, sekarang kan aku sudah besar" aku menjulurkan lidahku dia hanya mengernyitkan dahinya sambil menahan tawa.
"Besok datang ke acara mtv kan?" Tanyaku
"Tentu saja, sejak kapan kita melewatkannya?" Ucap zayn dengan nada menggoda
"Kerjaanmu setiap tahun. Melirik penyanyi pendatang baru yang cantik, tapi tetap saja mentok pada Lily" ucapku. Aku tertawa melihat ekspresinya yang kini sudah berubah malu -eh?
"Jangan bahas lily lagi anak kecil!" Ucap zayn sambil mencubit pipi ku yang sebelah kiri.
"Sudah move on kak?" Terus saja aku menggodanya.
"Kau mau diam atau ku kunci di kamar mandi hah?" Ucapnya dengan nada bercanda. Aku hanya memutar bola mataku dan memasang tampang polos kemudian kami berdua tertawa hingga aku memutuskan untuk istirahat di kamar.
"Aku ke kamar dulu ya, silahkan melanjutkan kegiatan membacamu kak. Oh ya kau terlihat menggelikan saat kau memakai kacamata itu" ucapku dengan nada menggoda dan kemudian aku kembali mentertawakannya.
"Berisik kau" dia melemparkan bantal yang ada di dekatnya ke arahku, tapi tak mengenaiku tentunya, aku sudah lebih dulu berlari ke tangga menuju kamarku.
"Malam kak" teriakku saat sampai di anak tangga paling atas.
"Malam" dia tersenyum padaku.
