My Guardian
Chapter 11
Niall POV
Fiuuh, hari ini cukup melelahkan bagiku, menyakitkan, tapi juga menyenangkan tentunya.
Lelah karena dari pagi sampai siang aku rekaman, sakit karena zayn membogem wajahku, dan senang karena shine jadi pacarku lagi. Dan rasa senang ini mengobati semua perasaan lelah dan sakitku.
Setelah masalah ku dengan shine selesai timbul lagi masalah baru, ya ini memang salahku, zayn kan hanya berusaha menjaga adiknya, kakak yang sangat baik dan bertanggung jawab..
Aku membaringkan badanku di kasur, belum bisa tidur, masih bahagia membayangkan kejadian hari ini, bukan saat zayn memukul ku tentunya, dan besok aku akan menjemput shine untuk pergi bersama ku ke acara mtv, menjemputnya di rumahnya berarti aku akan bertemu zayn, kurasa besok aku harus bicara padanya menyelesaikan masalah ini secepatnya.
Pukul 7 pm, aku berangkat dari rumah, hanya 30 menit waktu yang aku butuhkan untuk sampai di rumahnya. Josh terlihat sedang membersihkan kaca mobil saat aku tiba.
"Hai josh" sapaku
"Oh hai mr, sudah lama tak datang kesini" jawab josh, kami berjabat tangan.
"Ah iya, sibuk josh" aku terkekeh
Josh hanya mengangguk dan tersenyum. Kemudian aku bergegas menuju pintu rumah majikannya, shine pasti tak tau aku datang mengingat aku tadi tak mengiriminya pesan. Hehe
Belum sempat aku memencet bel tiba tiba zayn sudah muncul dari balik pintu. Dia menatapku dengan wajah datar. Aku menelan ludah.
"Hai zayn" aku memberanikan diri menyapanya
"Oh hai niall, mencari shine? Dia masih di dalam" ucapnya, masih tetap datar
"Hah iya, emm tapi sebelumnya aku mau minta maaf dulu padamu" ucapku gugup
"Soal kemarin? Ah sudahlah lupakan saja!" Ucapnya sambil menepuk bahuku
"Hah? Maksudmu?" Tanyaku heran
"Ya lupakan saja" kemudian ia bergegas meninggalkanku
"Tunggu zayn" ucapku. kemudian dia berbalik
"Apa lagi?" Tanyanya. Aku menghampirinya
"Maafkan aku, kumohon maafkan aku, aku ingin semuanya baik2 saja seperti dulu zayn, aku tak ingin diantara kita ada dendam" ucapku cepat. Dia tertawa. 'Kenapa dia tertawa, ucapanku ada yang lucu?' aku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal
"Sudah kumaafkan, dan sejak kapan kau berbicara secepat itu?" Zayn masih tertawa
"Ah cepat ya?" Ucapku malu
Dia mengangguk pelan "tenang saja aku bukan tipe org yang pendendam, dan niall berjanjilah padaku jangan menyakiti shine lagi, ini kesempatan terakhirmu, tak akan ada ampun lagi walaupun shine menghalangiku. Kau dengar itu" nada bicara zayn benar benar benar serius. Aku tersenyum dan mengangguk
"Tentu saja, bunuh saja aku jika aku melakukan hal bodoh itu lagi" ucapku. Zayn menepuk bahuku pelan. Kami berdua tersenyum
"Ehem tuan-tuan, bisakah kita berangkat sekarang?" Suara shine mengagetkan kami berdua. Dan malam ini gadisku cantik sekali, benar-benar cantik walaupun ya dia memang sudah biasa seperti ini.
"Tentu" ucapku dan zayn berbarengan
"Kau tak keberatan jika shine bersamaku kan zayn?" Tanyaku
"Ya silahkan. Oh sebentar, kau sedang tidak lapar kan? Aku takut kau nanti tiba2 pusing dan menabrak dinding pembatas lagi" ucap zayn dengan nada menggoda. Shine dan zayn tertawa. Aku hanya tersenyum dan tertunduk malu
"Sudah zayn, jangan ledek dia lagi. Ayo berangkat" ucap shine. Aku tersenyum kepadanya.
Dan kami pun berjalan menuju mobil untuk segera berangkat ke acara malam ini.
"Dear, kau sudah siap dengan kejutan yang akan kuberikan?" Tanyaku saat kami di dalam mobil.
"Apa?" Shine heran dengan pertanyaanku.
"Sorotan Kamera para pencari gosip, paparazi dan entah kamera apalagi" ucapku terkekeh
"Ah ya aku paham, kurasa aku harus memakai kacamata hitam supaya malam ini aku tak dibawa ke dokter mata gara2 blitz kamera yang begitu banyak" ucapnya datar, aku tertawa mendengar ucapannya.
"Kau cantik sekali dear" ucapku berbisik di telinganya. Wajahnya langsung merona dan dia tersenyum padaku
"Terimakasih, kau juga tampan sekali malam ini babe" dia mencium pipiku. Sejenak aku terdiam. Aku tersenyum padanya.
"Ah ya terimakasih hadiahnya. Aku akan memberikan yang lebih menakjubkan daripada ini untuk mu dear, tunggu saja" kekehku. aku menggenggam tangan shine, dan dia hanya tersenyum menatapku.
Kami bertemu dengan lou, elena, dan paman jonn serta davis sebelum masuk ke dalam gedung, kemudian kami masuk bersama-sama, kami berjalan beriringan zayn, paman jonn, dan davis berjalan bersama, disusul lou dan elena, kemudian aku dan shine. Tentu saja kamera2 dari para wartawan infotainment langsung menyorot ku dan shine mengingat berita ku dan jane masih beredar di tv walaupun ya sudah tak banyak lagi, mungkin mereka lelah karena tak kunjung mendapatkan bukti yang cukup. Dan para wartawan langsung saja membombardir diriku dan shine dengan beberapa pertanyaan, kali ini aku tak menghindar dari kejaran mereka, untuk apa? Ini kan memang sudah rencanaku, menggandeng shine di red carpet dan menanggapi semua pertanyaan para pembuat berita itu dan ya aku tak keberatan menjawab semuanya, malah senang sekali rasanya. Mempublikasikan hubungan ku dan shine dan menghapus gosip2 idiot yang mereka buat.
Zayn POV
"wohoo selamat ya kalian memenangkan 3 kategori yg dinominasikan. Kerja yg sangat bagus. Aku yakin penjualan album kalian akan semakin laris" ucapku sambil merangkul niall dan lou
"ya terimakasih zayn" ucap lou sumringah
"terimakasih zayn, perusahaan label musik milikmu kan terkenal sekali, jadi kami bisa tenar dalam waktu sebentar saja" niall ikut menambahkan
"jangan lupakan bakat kalian hingga dapat menarik perhatian org banyak" ucap shine sambil tersenyum.
kami pun membalas senyumnya dan kembali berjalan beriringan. Masih tetap sama dgn formasi yg tadi saat kami datang. Aku, , dan davis didepan.
"oh ya aku akan memberikan hadiah untuk kalian. Bagaimana dengan makan malam?" aku menghentikan langkahku dan memutar badanku kebelakang, menatap mereka.
"yeah ,it's great. Makan sepuasnya zayn?" ucap niall sumringah. Shine menepuk bahunya.
"sorry dear" niall terkekeh menatap shine.
"tentu saja niall. Kalian mau?" tanyaku
"dengan senang hati mr" ucap lou dgn nada menggoda. Saat aku menatap yg lainnya mereka mengangguk mengiyakan.
"oh ya, kalian juga bisa mengajak org terdekat, saudara atau kerabat" lanjutku kemudian kembali melanjutkan langkah keluar gedung.
Malam ini sesuai janjiku aku mengadakan acara makan malam sebagai hadiah untuk the mofos, aku pergi bersama shine, bukan karena shine tak dijemput niall tapi ini memang sudah perjanjian. Harus membawa org terdekat, saudara, atau kerabat. Jadi berhubung aku sedang tidak punya kekasih aku ajak saja adikku. Sebenarnya awalnya shine tidak mau, tapi setelah aku memohon padanya akhirnya dia tak tega. Haha
Aku dan shine tiba lebih dulu dibanding yang lainnya, lalu niall datang, tapi dia sendiri.
"Hei, kenapa kau sendirian niall?"
"Ya, memang di rumah sedang sendiri" ucapnya sambil menarik kursi yang ada di samping shine, kemudian dia mencium pipi adikku
"Nenek dan aunt kemana?" Tanya shine
"Mereka menyusul ke dubai dua hari yang lalu, aunt bilang aku sekarang sangat sibuk jadi pasti tak ada waktu untuk menjaga nenek. Jadi aunt memutuskan untuk mengajak nenek sementara ini tinggal di dubai" jelas niall. Aku dan shine mengangguk pelan.
Tak lama dan elena datang, dan dibelakang mereka juga ada louis dan seorang gadis. Aku merasa pernah melihatnya. Ah ya dia kan gadis yang waktu itu bersama harry. Lalu kenapa sekarang dia bersama louis, elena kelihatannya santai saja. Siapa gadis itu?
"Selamat malam, kami tidak terlambat kan?" Tanya mr jonn sambil menjabat tanganku, lou, elena, dan gadis itupun ikut menjabat tanganku.
"Tentu tidak, silahkan duduk" jawabku. Aku memicingkan mata ke arah louis, dan sepertinya dia mengerti akan maksud tatapannku
"Ah ya, maaf aku melupakan sesuatu. Kenalkan ini adikku Liza" jawab louis. Aku mengangguk dan tersenyum, begitupun dengan shine. Kurasa niall sudah mengenalnya dia kan sahabatnya Louis. Oh jadi namanya Liza. Apa dia masih mengingatku. Ah kurasa tidak
"Kau pemuda yang waktu itu di restoran kan? Terimakasih ya" ucap Liza
Sontak saja aku menatapnya dengan tatapan kaget. Ternyata dia masih mengingatku. Terimakasih?
"Ah, iya benar. Terimakasih untuk apa?" Tanyaku heran
"Harry" ucapnya singkat. Dia tersenyum padaku.
"Oh" aku hanya mengangguk pelan, aku mengerti apa yang dia maksud, aku membalas senyumnya. Dan bisa kulihat kini shine menatapku dengan senyuman. Ah tapi terlihat seperti meledek. Aku hanya menaikkan sebelah alisku untuk menanggapi tatapan itu.
Hidangan datang, oh ini saatnya aku mengalihkan pembicaraan
"Mari kita mulai makan malamnya" ucapku. Mereka mengangguk. Dan makan malam kali ini dipenuhi dengan berbagai obrolan, dimulai dari topik pekerjaan yang serius sampai lelucon yang membuat kami tak hentinya tertawa.
Saatnya pulang. Kami keluar restoran bersama-sama, di depan baru kami berpisah untuk menghampiri mobil dan pulang ke rumah masing-masing
"Aku permisi ya, terimakasih untuk makan malamnya boss" ucap lou sambil menepuk bahuku
Aku tertawa mendengarnya mengucapkan kata boss.
"Ah ya samasama" ucapku.
"Saya juga permisi mr" ucap mr jonn
"Ya, hati-hati mr" lalu kami berjabat tangan satu sama lain. Mereka melambaikan tangan padaku, shine, dan niall. Kami masih berdiri di depan restoran, menunggu mereka pergi terlebih dahulu. Dan dapat kulihat gadis itu tersenyum padaku sebelum ia masuk ke mobil. Liza. Dan kemudian louis masuk dan menutup pintu.
Aku tersenyum dan entahlah apa yang kupikirkan, hingga suara niall mengagetkanku.
"Aku permisi juga ya boss" ucap niall sambil menepuk bahuku
"Ya tuhan kau juga memanggilku boss? Sejujurnya aku lebih senang jika dipanggil kakak" ucapku sambil tertawa pelan
"Ah benarkah? Baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu ya kak" ucapnya dengan nada menggoda. Shine hanya tersenyum melihat tingkah pacarnya ini. Kemudian aku dan niall tertawa.
"Ya baik hati-hati. Tak izin pada princess mu dulu eh?" Kali ini aku yang balik menggoda nya.
"Tentu saja izin zayn, tak mungkin aku melupakan hal itu" ucapnya sambil menatap shine
"Aku permisi ya babe" ucap niall sambil tersenyum
"Ya hati-hati" jawab shine. Lalu niall mencium kening adikku
"Daah semuanyaa" ucap niall sambil melambaikan tangan dan bergegas menuju mobilnya
"Hati-hati" ucap shine. Aku dan shine membalas lambaian tangannya.
"Mari kita pulang nona" ucapku pada shine. Dia hanya mengangguk mengiyakan.
Didalam mobil shine tak banyak bicara. Dan kadang menatapku lalu tersenyum. Entahlah. 'Jadi dia itu adiknya Louis, syukurlah dia sudah terbebas dari si keparat itu, dia lebih pintar daripada lily kurasa' aku tersenyum mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu. Senang sekali rasanya bisa membantu orang lain.
"Kau kenapa?" Tanya shine sambil tersenyum
"Tidak" jawabku singkat
"Jadi Liza gadis yang waktu itu bersama harry?" Tanyanya.
"Iya" aku mengangguk pelan
"Sempit sekali ya dunia ini, ternyata dia adiknya Louis" aku terkekeh
"Sepertinya dia sangat berterima kasih padamu" ucap shine dengan nada menggoda
"Ya tentu saja, gara gara aku dia jadi tau bahwa harry itu brengsek" jawabku bangga
"Eh tapi apa dia semudah itu percaya padaku?" Gumamku
"Ya mungkin dia sudah dapat bukti yang lain selain ucapan mu itu" ucap shine sambil mengerdikan bahunya
"Ah iya bisa jadi" jawabku pelan.
"Dia cantik ya?" Ucap shine sambil memicingkan matanya padaku
"Hah? Eh mm yaa cantik" ucapku gugup. Lah? Gugup. Tiba-tiba saja. Shine hanya tertawa mendengar jawabanku. Tapi dari raut wajahnya kulihat dia sedang memikirkan sesuatu.
"Zayn, kau tidak ke kantor?" Tanya shine sambil melahap roti tawarnya. Pagi itu aku hanya memakai kaos polo berwarna hitam dan celana jeans.
"Nanti siang, aku mau ke makam mom dan dad dulu" jawabku sambil tersenyum.
"Oke baiklah. Ah iya zayn. Emm ada sesuatu" kata shine ragu
"Apa?" Tanyaku
"Emm e..." Ucapnya terbata-bata. Kenapa dia
"Apa shine? Kenapa kau berbicara seperti itu?"
"Emmh tidak, aku hanya takut kau sa.. Sakit hati" ucapnya pelan
"Sakit hati?" Tanyaku heran
"Memangnya apasih?" Lanjutku
"Ini, tadi ada seseorang yang mengantarkannya kesini" dia menyodorkan undangan kepadaku
"Harry & Lily , eh, jadi juga mereka menikah" ucapku sinis
"Zayn, kau tak apa-apakan?" Ucap lily ragu, dari raut wajahnya kulihat dia khawatir, mungkin takut aku sakit hati lagi.
"Tentu saja tidak, aku akan datang" ucapku sambil tersenyum mencoba meyakinkan shine bahwa aku tidak apa-apa. Padahal di dalam hatiku benar-benar sakit seperti teriris. Padahal aku berharap setelah aku memberitahu akan keburukan harry, Lily akan sadar dan kembali padaku, jujur saja masih ada cinta untuknya. tapi faktanya sekarang dia makin membenciku dan lebih memilih Harry. Nasibku.
"Malam ini makan di rumah ya shine, ajak saja niall" ucapku mengalihkan pembicaraan
"Iya baik" jawabnya.
"Kalau begitu aku berangkat ya" ucap shine sambil mencium pipiku.
"Hati-hati sis" ucapku. Dia mengangguk pelan.
Pemakaman.
Aku membawa bungaa untuk disimpan di masing-masing makam mom dan dad, aku menceritakan keadaan kantor, shine pada dad dan menceritakan sakit hati yang sedang kualami saat ini pada mom. Gila kan aku berbicara pada kuburan. Masa bodoh. Aku juga pernah melakukan ini saat aku lulus sma, mereka meninggal beberapa minggu sebelum aku lulus. sedih rasanya saat di wisuda tak ada orang tua yang menemani, setelah selesai acara aku bergegas kesini untuk menangis dan menceritakan semuanya. Cengeng bukan?
Mungkin ucapan shine waktu itu ada benarnya, aku harus segera mencari pengganti Lily, ya aku harus mencarinya dari sekarang, mungkin seseorang itu bisa mengobati sakit hatiku. Kuharap. Dari kejauhan aku dapat melihat seorang gadis yang juga sedang berbicara pada kuburan. Sesekali dia menyeka air matanya. Aku membuka kacamata hitamku dan melihat dengan seksama, memperhatikan baik-baik, takutnya aku salah lihat. Sepertinya itu Liza.
Aku terus memperhatikannya, sampai tak berapa lama kemudian dia pergi meninggalkan makam itu, tapi hey dia tidak langsung menuju ke tempat parkir mobil, dia malah menuju ke sebuah kursi dibawah pohon, tak terlalu jauh dari tempatnya semula. Aku memberanikan diri untuk menghampirinya.
Saat aku datang dia sedang menunduk sambil memutar-mutar cincin yang ia pegang, sepertinya dia tak menyadari kehadiranku sampai aku menyapanya.
"Liz" ucapku pelan
Dia menoleh padaku dan menyeka air matanya
"Maaf mengganggumu" ucapku lirih
"Tak apa, duduk zayn" ucapnya sambil tersenyum
"Ah iya terimakasih" jawabku sambil membalas senyumnya
"Mengunjungi siapa disini?" Tanya Liza
"Mom dan dad" ucapku pelan. Dia mengangguk
"Kalau kau?" Tanyaku
"Mom" jawabnya singkat
"Kenapa menangis?" Ucapku ragu
"Teringat mom, biasanya kalau sedang seperti ini aku akan memeluknya dan bercerita padanya" jawab liza pelan. Air matanya kembali mengalir
"Kau bisa menceritakannya padaku kalau kau mau" ucapku sambil menghapus air matanya
"Terimakasih" jawabnya sambil tersenyum
"Apa yang terjadi?" Tanyaku
"Harry" ucapnya lirih sambil menatap ke depan, pandangannya kosong. Kukira dia sudah melupakan laki-laki sialan itu. Tapi ya memang sulit sih, mengingat aku saja belum bisa melupakan Lily.
"Ah ya aku tau, pernikahannya kan?" Aku menghela nafas. Dia menoleh padaku
"Kau tau?" Tanyanya heran
"Tentu saja, aku dapat undangannya liz" jawabku datar
"Bagaimana bisa harry mengundangmu?" Dari raut mukanya Liza terlihat benar-benar bingung
"Bukan harry, tapi lily" liza tak menanggapi ucapanku dan masih terdiam heran
"Lily mantan kekasihku, Liz" ucapku pelan
"Ooh" liza mengangguk pelan, matanya kembali memandang cincin yang ia pegang.
"Harry benar-benar brengsek" ucapnya kesal
"Dia menyakiti hatiku dan juga mengambil kekasihmu. Laki-laki brengsek" kemudian dia melemparkan cincin yang ia pegang. Aku hanya tertegun menatapnya
"Ya memang. Sejak kapan kau menyadari kalau dia brengsek liz?" Tanyaku. Aku teringat ucapan shine ketika di mobil. Ada alasan lain mengapa dia meninggalkan harry
"Sejak kami bertemu denganmu di restoran zayn, sebenarnya malam itu dia berhasil membuatku percaya kalau Lily bukan siapa-siapanya. Seminggu itu hubungan kami masih baik-baik saja, sampai akhirnya aku memergokinya sedang bersama seorang gadis di sebuah restoran saat makan siang, mungkin itu Lily. Mereka terlihat sangat mesra. Tapi aku tak menghampiri mereka, tak mampu rasanya. Melihatnya saja sudah sangat sakit. Malam nya dia mengajakku pergi tapi aku tidak mau dan memutuskan hubungan kami lewat telpon. Sebenarnya aku masih mencintainya zayn" liza menjelaskan panjang lebar padaku. Di kalimatnya yang terakhir sepertinya dia sudah tak kuat menahan emosinya, tak kuat untuk menahan air mata supaya tidak jatuh. Aku memeluknya
"Aku juga masih mencintai lily, liz. Berharap setelah aku memberitahu kalau harry itu brengsek dia akan kembali padaku, tapi faktanya dia makin membenciku. Mungkin memang bukan jodoh" ucapku lirih. Dapat kurasakan Liza mengangguk dalam pelukanku.
"Kurasa kita memang harus melupakan masa lalu" ucap liza sambil menghapus air matanya. Lalu melepaskan pelukan kami. Aku mengangguk dan tersenyum.
"Tuhan sudah mempersiapkan seseorang yang lebih baik untuk kita Liz" jawabku. Dia tersenyum.
"Sudah waktunya makan siang. Ayo aku tau tempat makan enak dekat sini. Aku yang traktir" ucapku sambil menarik tangan nya. Liza masih terduduk.
"Kurasa aku mau pulang saja" ucapnya
"Tidak, kita makan dulu Liz, ya hitung-hitung untuk meresmikan pertemanan kita" jawabku
"Teman?" Ia memicingkan matanya lalu tersenyum
"Oh kau tak mau jadi temanku ya" ucapku sambil melepas kan tangannya
"Tidak." Ucapnya datar, aku menghela nafas dan memasang tampang kecewa dihadapannya.
"Tidak menolak" kemudian ia tersenyum, dan bangkit dari posisi duduknya, dia berjalan meninggalkanku yang masih terdiam. Aku menggeleng pelan dan menyusulnya.
Makan siangku kali ini, sangat menyenangkan, tidak seperti biasanya yang hanya sendirian di ruanganku sambil memeriksa beberapa berkas. Kali ini ada seseorang yang menemaniku. Teman baruku. Liza. Kami membicarakan banyak hal sesiangan ini. Dari obrolan itu aku tau dia seumuran dengan Shine, tapi dia tidak bekerja karena harus mengurus dad dan neneknya di rumah. Kami juga sudah bertukar nomor telpon. Ya sepertinya akan ada pertemuan-pertemuan selanjutnya.
Saat kami berjalan menuju tempat parkir. Ponselku berbunyi.
"Sebentar Liz" ucapku. Liza mengangguk pelan
"Ya, ada apa?" Tanyaku
"Hanya mau mengingatkan mr. 30 menit lagi akan ada meeting" ucap lydia
"Ah ya, hampir saja aku lupa. Baiklah aku segera kesana" jawabku. sambungan telpon terputus. Aku melirik ke jam yang melingkar di tanganku. Jam 2, sudah sejam aku disini ternyata.
"Melupakan sesuatu?" Tanya liza saat kami masih berjalan menuju mobil. Mobilku dan mobilnya diparkir bersebelahan.
"Ya, meeting" aku terkekeh.
"Hmm, untungnya ada yang mengingatkan" ucapnya
"Tentu saja, dia kan memang ku gaji untuk mengatur semua jadwalku" jawabku sambil tertawa pelan
"Baiklah Liz, sampai bertemu lagi ya" ucapku saat sampai di depan mobil. Josh sudah bersiap membukakan pintu untukku
"Ya, sampai jumpa" ucap liza sambil tersenyum. Aku dan dia sama-sama masuk ke dalam mobil masing-masing.
Makan malam.
Aku sudah duduk di kursiku saat makan malam tiba. Sambil menunggu shine dan niall aku mengirimi Liza pesan, dan menaruh ponselku dimeja. Tak biasanya memang aku membawa ponsel ke meja makan. Tak lama kemudian shine dan niall muncul dan menghampiriku. Aku menatap mereka sambil tersenyum.
"Hai zayn" ucap shine
"Maaf zayn, aku tadi terlambat menjemput shine, jadilah kami juga terlambat kesini" ucap niall cepat, mungkin dia takut aku marah padanya
"Tak apa, sudah. Silahkan duduk" ucapku sambil tersenyum kepada mereka
"Kau tak marah?" Tanya niall bingung
"Tidak, santai saja niall" aku tertawa pelan melihatnya. Shine hanya tersenyum melihat raut wajah pacarnya yang sejak terlihat panik takut zayn marah.
Kami mulai makan, sesaat memang tak ada pembicaraan sama sekali. tak lama kemudian ponselku berdering. Sms. Aku melihat ke layar dan tersenyum. Liza.
Shine menatap heran ke arahku.
"Apa?" Tanyaku
"Tumben kau membawa ponsel ke meja makan" ucapnya. Niall hanya memperhatikan kami berdua. Dia kan belum tau apa saja kebiasaan ku di rumah.
"Ya, emmh ada urusan" jawabku gugup
"Oh. Begitu rupanya" ucap shine lalu kembali melahap makan malamnya. Fiuuh. Sepertinya shine tidak curiga. Aku akan menceritakan tentang Liza nanti saja. Kami kan baru saja berteman.
"Aku langsung ke kamar ya, kalian pasti mau mengobrol kan? aku tak mau jadi obat nyamuk" godaku pada mereka setelah makan malam. Padahal tentu saja aku ada maksud tersendiri. Membalas pesan Liza. Aku tak ingin shine bertanya macam-macam, jadi aku segera bergegas ke kamar, tak menunggu tanggapan dari mereka. Aku meninggalkan mereka berdua di ruang keluarga. Shine menatap heran ke arahku, dan niall hanya tersenyum.
Sudah satu bulan aku berteman dengan Liza. Dekat ya lumayan. Dan sepertinya aku mulai menyukai gadis itu. Tapi aku juga belum menceritakan nya pada shine, dan shine sepertinya sudah curiga melihat tingkah ku yang cukup ceria akhir-akhir ini. Ditambah lagi infotainment sedang gila, louis dan elena mempending acara pernikahan mereka untuk 2 bulan kedepan karena kesibukan masing-masing, dan konyolnya infotainment berspekulasi yang aneh-aneh. Elena sempat digosipkan dekat denganku dan aku dibilang sebagai perusak hubungan orang lain. Idiot benar2 idiot, bertemu elena saja bisa kuhitung jari, 5 kali kira2, tapi dia selalu datang bersama louis. Dan yang lebih mirip seperti lelucon adalah louis digosipkan dekat dengan shine dan elena dengan niall. Sungguh kocak. Aku, niall, dan louis hanya tertawa terbahak-bahak mendengar berita itu, sedangkan elena dan shine hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kami. Untungnya berita itu segera menghilang karena pihak louis dan elena menjelaskan pada pers mengenai berita yang sebenarnya. Dan meminta maaf padaku, shine, dan niall atas tuduhan publik selama ini.
Malam ini aku makan malam dengan Liza. aku tiba di rumah pukul 10 malam, dan cukup kaget ketika mendapati shine sedang duduk santai sambil menonton tv. 'Tumben sekali anak itu belum tidur, apa dia sengaja menungguku?' Ucapku dalam hati.
"Belum tidur sis" ucapku sambil mengacak-acak rambutnya
"Oh kau sudah pulang, akhirnya" ucapnya senang. Sepertinya dia memang menungguku.
"Kenapa?" Tanyaku heran
"Menunggu kau bercerita" ucapnya polos
"Cerita apa?" Aku bertanya lagi padanya, tak jelas ia minta diceritakan apa, jadi daripada aku salah lebih baik bertanya lagi.
"Kau sudah move on yaa" ucapnya dengan nada menggoda dan menunjuk ke arahku
"Menurutmu?" Aku tersenyum menatapnya
"Yes, aku benar!" Teriaknya senang. Aku tertawa pelan melihatnya.
"Siapa gadis yang beruntung itu?" Tanyanya bersemangat
"Kau sudah kenal dengannya sis" ucapku santai
"Hah? Jadi benar yang dikatakan infotainment zayn?" Tanyanya heran
"Apa? Memangnya mereka mengatakan apa?" Aku balik bertanya. Kini aku juga jadi ikut-ikutan heran.
"Elena" ucapnya pelan
"Tentu saja bukan, bodoh" aku menjitak kepalanya. Shine meringis.
"Aku bukan orang idiot seperti harry yang merebut pacar orang lain, lagipula mereka kan sudah mengkonfirmasi berita yang sebenarnya" ucapku kesal
"Aku juga hanya bercanda brotheeeer. Makanya cerita padaku" ucap shine sambil mengelus kepalanya yang tadi kujitak.
"Liza, shine. Adiknya Louis" ucapku sambil tersenyum
"Oh ya? Yatuhaaan gadis yang waktu itu kau pergoki bersama Harry? Kau menyukainya zayn?" Dia berteriak di wajahku
"Shine, aku di depanmu bukan di lantai 2. Pelan sedikit bicaranya" ucapku di depan mukanya
"Ya ya ya maaf lagi" ucapnya polos. Aku tak tahan melihat ekspresinya, jadilah aku mentertawakannya. Dia hanya memandang aneh ke arahku
"Mau dengarkan cerita ku tidak?" Tanyaku dengan nada menggoda
"Tentu" ucapnya sambil memasang tampang penasaran
Ya, aku menceritakan semuanya pada shine, dimulai dari aku pertama kali berteman dengan Liza, aku sering bertemu dengannya untuk makan siang atau makan malam, dan aku juga bilang pada shine bahwa aku mulai menyukai gadis itu tapi belum berani memintanya jadi kekasihku.
"Louis sudah tau zayn?"
"Sudah, aku sudah memberitahunya" aku terkekeh pelan
"Curaang, baru barcerita padaku sekarang" shine mendengus kesal
"Yaa, setidaknya aku kan lebih detail menceritakannya kepadamu daripada ke louis" jawabku
"Ah iya. Kenapa tak berani meminta Liza jadi kekasihmu?" Tanya shine
"Bukan tidak tapi belum" jawabku
"Ah sama saja, sama sama belum bisa menjadikannya milikmu" dia menjulurkan lidah padaku
"Liat saja nanti" ucapku percaya diri.
"Memangnya kau masih belum bisa melupakan lily?" Ucap shine. Aku terbelalak kaget
"Sudah tak ada urusan dengannya sis, semenjak dia menikah sebulan yang lalu aku sudah tak pernah mengingatnya" jawabku santai
"Baguslah. Lalu kenapa?" Tanyanya penasaran
"Kurasa dia belum bisa melupakan harry" ucapku pelan
"Darimana kau tau?" Shine terus saja menanyaiku
"Ya bukankah seorang gadis biasanya sulit untuk melupakan masa lalunya, seperti kau tidak saja" ucapku meledeknya
"Kau bisa saja. Tapi sekarang aku kan sudah move on brother, lupakan masa laluuuu" ucapnya sambil mencubit pipiku
"Ya ya ya, kurasa aku perlu mempertemukan mu dengan Liza untuk membicarakan soal move on ini, kau masternya kan" ucapku sambil melepaskan cubitannya di pipiku. Dia hanya tertawa pelan menanggapi kalimatku.
Shine POV
Kerjasama antara perusahaan music malik dan the mofos sudah berjalan 7 bulan. Yaa waktu berjalan cukup cepat mengingat semuanya lancar-lancar saja tanpa hambatan.
Dan kembali pada kehidupan pribadi masing-masing.
Aku masih bersama dengan Niall, tak ingin berpisah tentunya. Dan kadang niall sering mengatakan pada Louis untuk segera menyusulnya. Ya, elena dan Louis sudah menikah, sebulan yang lalu. Hanya 2 bulan kan pendingnya. Hahaha.
Ah iya aku teringat kakakku. Zayn. Zayn sering bercerita padaku mengenai Liza, aku senang mendengarnya. Sudah 3 bulan mereka dekat eh 4? Mengingat zayn kan menceritakan Liza padaku setelah mereka dekat selama sebulan. zayn digosipkan dekat dengan Ariana, penyanyi solo yang baru saja bekerja sama dengan perusahaan kami.
Lily dan Harry. kira kira sudah 4 bulan mereka menikah, dan setelah pernikahan itu zayn tak pernah berbicara atau bercerita sedikitpun tentang Lily di hadapanku. Kurasa dia sudah move on. Syukurlah. Kuharap Liza lah orang yang sudah mengobati sakit hatinya. Aku sering bertemu dan mengobrol dengan Liza, awalnya memang zayn yang mempertemukan kami, tapi sekarang ini kami sering bertemu karena aku juga berteman dengannya, kami kan seumuran. kadang jika the mofos ke studio dia datang untuk menemui kakaknya, dan kami juga suka makan bersama. Kadang Liza memintaku bercerita tentang zayn, dan ya aku juga senang menceritakannya, kulihat dari raut wajahnya ada sesuatu yang tersirat saat aku menceritakan tentang kakak ku. Tapi sudah 2 minggu ini aku tidak bertemu dengannya. Entahlah, mungkin dia sedang ada urusan atau ini ada sangkut pautnya dengan gosip Zayn-Ariana. Tapi kurasa tidak, Liza bilang dia tak pernah percaya akan gosip2 di tv, semuanya hanya akal-akalan media. Aku setuju akan hal itu dan aku hanya berharap hubungan zayn dan liza segera ada kejelasan supaya infotainment tidak berspekulasi terus menerus.
Siang ini aku mengajak zayn makan siang bersama, di studio saja. Aku sedang malas keluar, begitu pula dengan zayn. Jadi saat aku mengajaknya makan di studio dia tak menolak. Aku akan membicarakan kejelasan hubungannya dengan Liza. Hanya berteman atau lebih dari itu. Zayn tiba di ruangan ku tepat saat jam makan siang. Dia bersandar di sofa sambil menungguku membereskan berkas.
"Hebat, kau tak pernah terlambat jika ada janji denganku" ucapku sambil tersenyum kepadanya dan menghampirinya.
"Tentu saja, aku tak akan pernah terlambat dalam urusan apapun, apalagi makan" kekehnya
"Kau ini, ayo Drew sudah mempersiapkan makan siang kita di ruang istirahat" ucapku sambil mengulurkan tangan padanya membantunya berdiri.
"Ayooooo" ucapnya sumringah sambil menarik tanganku.
Makan siang
"Zayn, aku boleh bertanya?" Ucapku disela sela makan siang kami
"Tanya saja" jawabnya singkat. Kemudian ia kembali melahap makan siangnya.
"Soal Liza" ucapku pelan. Dia menghentikan makannya dan menatapku.
"Semuanya akan kuceritakan selesai kita makan" ucapnya
"Oke baiklah" aku mengangguk pelan.
Setelah makan siang aku kembali ke ruanganku, aku dan zayn duduk bersandar disofa.
"Kau pasti kaget mendengar ceritaku shine" ucapnya. Posisi duduk kami sekarang berhadapan.
"Memangnya apa? Tanyaku penasaran
"2 minggu yang lalu Lily menemuiku" jawabnya pelan. Aku terbelalak kaget.
"Lily? Untuk apa?"
"Dia menyesal menikahi harry" jawab zayn
"Euuuhh. Baru sekarang dia sadar. Keterlaluan sekali" jawabku kesal
"Kau mau tau yang lebih parah shine?" Tanya zayn
"Apa?" Tanyaku yang memang sejak tadi sudah penasaran
"Awal-awal mereka menikah harry bersikap sangat manis, tapi setelah itu ya terlihat lah belangnya. Harry sering pulang tengah malam, mabuk, dan menggandeng seorang gadis. Benar-benar idiot kan" ucap zayn gusar.
"Lebih dari idiot. Dia brengsek zayn" aku mendengus kesal.
"Lily memintaku kembali padanya" ucap zayn datar
"Damn. Kenapa jadi seperti ini? Lalu kau jawab apa zayn?"
"Ya tentu saja aku tidak mau, aku sudah menyayangi gadis lain" jawab zayn sambil tersenyum
"Sebenarnya aku tak tega melihatnya seperti itu, tapi seperti yang kau bilang kan shine, biar lah masa lalu jadi masa lalu, tak usah melihat kebelakang. Jadi aku ceritakan saja padanya kalau aku sekarang sedang mencintai seseorang, dan aku meyakinkan nya bahwa tuhan pasti sudah menyiapkan seseorang yang lebih baik dari aku yang bisa jadi pasangan hidupnya." lanjutnya. Zayn masih tersenyum. Aku masih terdiam belum menanggapi kalimatnya
"Tapi kurasa aku harus berusaha lebih keras sis" ucapnya tak bersemangat. Tadi dia tersenyum sekarang dia kenapa jadi sedih begini
"Liza? Dia juga sudah tak menemuiku dua minggu ini, aku baru saja mau menanyakannya padamu, tapi sepertinya aku tau alasannya kenapa dia tak menemuiku" jawabku sambil menatapnya
"Aku juga tak bertemu dengannya sejak aku bertemu Lily" ucap zayn, dari nada bicaranya terdengar dia sangat kecewa. Zayn menceritakan padaku alasan Liza tak mau menemuinya. Salah paham lagi. Selalu.
"Dia salah paham shine" ucap zayn pelan, dia menghela nafas dan menyandarkan badannya ke sofa.
"Oh tuhan, rumit sekali kisah cintamu kak" ucapku sambil menggeleng pelan
"Sudah mencoba berbicara dengannya?" Tanyaku
"Sudah, sms, telpon, email, semuanya sudah" jawab zayn frustasi
"Bahkan aku juga sudah memberitahu louis bahwa aku dan liza sedang ada sedikit masalah, ya salah paham. dan meminta bantuan pada louis supaya liza mau bicara padaku lagi. Dia bilang Liza tak mau diganggu. Aku takut kena karma shine" lanjutnya
"Karma?" Tanyaku heran
"Aku takut louis membogem wajahku seperti yang kulakukan pada niall saat dia menyakiti hatimu. Aku takut Liza sakit hati padaku" zayn terkekeh
"Ooh jadi kau langsung memberi tahu lou supaya dia tak ikut salah paham eh? Cerdas sekali" ucapku sarkastis
"Tentu saja. Untungnya Louis paham bahwa ini hanya salah paham, dia sepertinya memang lebih dewasa dari pada aku" zayn tertawa pelan.
"Lalu sekarang bagaimana?" Tanyaku
"Entahlah, aku sudah kehabisan akal untuk mengajak liza bertemu, nanti kupikirkan lagi" ucap zayn. Dia melirik arlojinya.
"Sis, aku ada meeting sebentar lagi, sebaiknya aku bergegas" ucap zayn
"Oke" aku mengangguk pelan
"Terimakasih makan siangnya" ucapnya sambil tersenyum padaku
"Sama-sama, hati-hati zayn" ucapku sambil membalas senyumnya. Ia mengangguk mengiyakan
'Sepertinya aku ada ide'
