Kim Jongwoon
Lahir pada tanggal 16 September 1914 di istana kerajaan Chuseon di Haengmu (sekarang Pyongbuk, Chuseon Utara), sebagai anak pertama dari selir pertama Raja Kim Sangseok II. Merupakan anak yang berpendidikan tinggi dan sangat pintar. Jongwoon mendapatkan gelar sarjana hukum pertamanya di Universitas Oxford, Inggris pada umur 20 tahun.
Beliau kembali ke Chuseon 2 tahun setelah wisudanya berakhir, ketika putera mahkota Sangjun di angkat. Jongwoon sudah bermusuhan dengan putera Mahkota sejak ia lahir. Perlakuan khusus yang diberikan pada anak sulung dari istri pertama sang raja itu membuat Jongwoon tidak mendapatkan begitu banyak perhatian dari sang raja.
Pengangkatan Sangjun menjadi putera mahkota menutup jalan bagi Jongwoon untuk mendapatkan posisi tertinggi di Chuseon, seperti sang ayah. Saat itulah, keinginan untuk membangun negara sendiri untuk dipimpinnya muncul.
Pengaruh haluan kiri (Komunis dan Marxisme) pun mulai berkembang ke wilayah Tiongkok pada tahun 1935. Saat itu, tentara persatuan Soviet menguasai sebagian wilayah di Tiongkok sebelum mencapai puncak kemenangannya pada tahun 1965.
Pengaruh itu pun mulai bertebaran lewat pembajakan siaran Radio di Gangchul, Pyungsam pada tahun 1937. Jongwoon yang kala itu masih berusia 23 tahun pun tertarik untuk mempelajari ideologi Marxisme dan kabur untuk menimba ilmu di Gulag (yang sekarang dikenal dengan tempat Camp Konsentrasi terbesar di Republik Persatuan Soviet).
Beliau kembali dengan membawa pengikutnya pada tahun 1946, tepat setahun sesudah kemerdekaan kerajaan Chuseon dari pendudukan Jepang. Keberadaan Jongwoon dan para pengikutnya membuka jalan untuk pasukan Persatuan Soviet menyandra masyarakat dan menduduki wilayah Daewol hingga ke Pyongnam.
Sementara sekutu Amerika Serikat menduduki wilayah selatan. Pada tahun 1947, wilayah kerajaan Chuseon resmi terbagi menjadi dua bagian, utara dan selatan.
Setelah kematian raja Sangseok II pada tahun 1948, kondisi kerajaan Chuseon pun semakin parah dan menemui masa kehancurannya. Istana Sangseok diduduki oleh pasukan Persatuan Soviet dan putera mahkota dibunuh.
Kim Kibum, sahabat Jongwoon sekaligus wanita tunangan putera mahkota kabur dari istana dan menetap di Sowol, yang kemudian menjadi ibukota Chuseon selatan. Kim Kibum menyaksikan pembantaian dan penyandraan orang-orang tidak bersalah selama perjalanannya.
bersambung
