Anak lelaki berumur 5 tahun itu tersenyum lebar ketika robot iron man, mainan kesukaannya itu kembali pada tangannya. Mata sipitnya kemudian menatap bocah lain yang berdiri di depannya dengan wajah tertunduk.
"Maaf." Bocah berusia 4 tahun itu mencicit. Membuat Yoongi -sang anak berusia 5 tahun- tertawa kecil.
"Maafkan anak paman ya?" Seorang lelaki yang berdiri di samping bocah lainnya itu bersuara, membuat Yoongi menoleh ke arahnya dan mengerjap beberapa kali.
"Namamu siapa? Ini anak paman, namanya Namjoon." Lelaki bermarga Kim itu kemudian tersenyum lebar. Sang anak yang bernama Namjoon pun mendongakan kepalanya untuk bertemu tatap dengan anak lain yang berdiri di depannya.
"Yoongi." Yoongi mengucapkan namanya dengan polos lalu tersenyum kecil.
"Nah sekarang, Yoongi main dengan Namjoon ya? Paman janji, jika Namjoon nakal lagi denganmu maka paman akan menghukum Namjoon."
"Appa!" Namjoon merengek begitu sang ayah berkata begitu. Padahal kan Namjoon tidak sengaja menemukan robot milik Yoongi di tengah jalan tadi.
"Iya paman." Tuan Kim tersenyum lebar ketika melihat Yoongi menganggukan kepalanya.
"Ingat Kim Namjoon, jangan nakal." Kedua bocah itu pun berlari meninggalkan Tuan Kim di dekat taman.
.
.
13 Years Later
"Baa!"
"Yakk!"
Namjoon tiba-tiba muncul di depan wajah Hoseok yang sedang cemberut. Pemuda yang tahun ini berusia 17 tahun itu lantas merangkul bahu sang kekasih yang masih saja cemberut.
"Kau ini kenapa? Sedang PMS? Kenapa wajahmu ditekuk begitu?" Namjoon berniat bercanda sebenarnya. Tapi yang dia dapat malah pukulan di bahu karena ucapannya barusan.
"Sialan kau Kim! Kau kira aku perempuan?" Hoseok mendengus kesal masih dengan wajah yang cemberut.
"Lalu kenapa? Cerita saja Hoseokie~"
Hoseok lantas menghela nafasnya pelan sebelum menatap Namjoon.
"Keluargaku akan pindah ke luar negeri minggu depan."
"Apa?!" Namjoon berteriak hingga membuat orang-orang yang berada di lorong koridor sekolah mereka, melihat ke arahnya dengan bingung.
Pletak!
Dengan gemas, Hoseok memukul bagian belakang kepala Namjoon hingga sang empunya mengaduh kesakitan. Merengut kesal, Namjoon menatap Hoseok masih dengan tangan yang mengusap bagian belakang kepalanya.
"Kenapa menatapku begitu?" Hoseok ingin kabur saja rasanya begitu Namjoon menatapnya secara intens.
"Kenapa kau baru bilang sekarang? Dan apa kau akan ikut dengan mereka?" Namjoon terus saja menatap Hoseok dengan mata tajamnya.
"Apa kau akan ikut dengan mereka?"
"I-iya."
"Jadi, bagaimana dengan hubungan kita?"
"I-itu..."
.
.
.
Brakk
Yoongi mendesah begitu pintu kamarnya terbuka dengan keras. Menolehkan kepalanya, Yoongi menemukan Namjoon yang berdiri di ambang pintu dengan wajah memerah menahan emosi.
Meninggalkan bukunya di atas kasur, Yoongi menghampiri Namjoon dan menarik tangan yang lebih muda. Menutup pintu kamarnya, Yoongi lantas menatap Namjoon dengan tatapan datar andalannya.
"Ada apa?"
Namjoon menghembuskan nafasnya tanpa ada niatan untuk menjawab pertanyaan Yoongi. Namjoon malah berbaring di ranjang Yoongi dengan tangan meraih salah satu koleksi kumamon Yoongi yang lantas dipeluknya.
"Ku kira kau dulu penggemar Iron Man. Tapi kenapa sekarang kau malah tergila-gila pada kumamon?"
Yoongi mendecak kala Namjoon berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Jangan mengalihkan pembicaraan bodoh! Katakan apa yang membuatmu begini."
Yoongi merebut kumamon yang dipeluk Namjoon dan mengembalikannya pada tempat semula. Tidak mempedulikan Namjoon yang merengut kesal.
"Hoseok meminta putus dariku, hyung."
"Oh kenapa? Sudah bosan? Akhirnya Hoseok sadar juga."
Namjoon melirik kesal Yoongi yang duduk tak jauh darinya. Ingin rasanya Namjoon memukul Yoongi menggunakan bantal -atau malah tangannya- jika tidak mengingat mereka adalah teman juga tetangga sejak kecil.
"Hyung! Kenapa kau menyebalkan begini sih?! Aku kan mau minta saran."
Namjoon mengacak rambutnya dengan kesal. Yoongi melirik sekilas pada Namjoon sebelum beralih pada buku di pangkuannya.
"Memangnya, apa alasannya?"
"Hoseok akan pindah ke luar negeri hyung."
Yoongi mengernyit mendengar perkataan Namjoon.
"Kalian bisa LDR kan?"
Namjoon mengangguk lalu mendesah selanjutnya.
"Masalahnya itu hyung. Hoseok tidak bisa melakukan LDR, dia takut salah satu di antara kami nanti ada yang tidak tahan jika saling merindukan."
Yoongi menutup buku fisika yang dibacanya tadi dan beralih untuk memandang wajah Namjoon.
"Itu artinya dia belum benar-benar mencintaimu, Namjoon."
Namjoon membuka matanya yang menutup -entah sejak kapan- hingga bertemu tatap dengan Yoongi.
"Itu tidak mungkin hyung. Hoseok itu sangat mencintaiku."
'Over confident!' Gumam Yoongi.
"Jika Hoseok benar-benar mencintaimu, ia pasti tidak akan menolak jika kau mengajaknya LDR. Atau mungkin juga dia itu belum sepenuhnya percaya padamu Kim. Hoseok takut jika kau selingkuh nantinya."
"Benar juga."
Namjoon lantas menganggukkan kepalanya setelah memikirkan kata-kata Yoongi. Yoongi menggelengkan kepalanya sebelum berkutat kembali pada buku-bukunya. Besok ia ada ujian kelulusan, jadi dengan -sedikit- terpaksa Yoongi harus belajar.
Namjoon membiarkan Yoongi untuk kembali sibuk pada buku-bukunya. Namjoon lantas bangkit dari ranjang Yoongi dan berjalan mengelilingi kamar Yoongi. Meskipun ia sering kali mondar-mandir keluar-masuk kamar Yoongi, namun Namjoon tidak pernah benar-benar memperhatikan apa-apa saja yang ada di kamar Yoongi.
Namjoon berjalan ke meja belajar Yoongi dan menemukan beberapa tumpukan buku, baik itu pelajaran, novel, maupun komik ada di sana juga ada rak kecil yang menyimpan sebagian buku di samping meja belajar Yoongi. Namun bukan itu yang menjadi fokus Namjoon, melainkan robot berbentuk Iron Man yang sewaktu kecil sering kali menjadi bahan rebutan antara dirinya juga Yoongi.
"Kau masih menyimpan ini hyung?" Namjoon bertanya dengan menolehkan kepalanya untuk melihat Yoongi dan tangannya masih memegang robot kesukaan Yoongi, dulu.
Yoongi melihatnya sekilas sebelum mengangguk dan bergumam mengiyakan.
'Tentu saja aku akan menyimpannya. Bodoh!' Gumam Yoongi dalam hati.
Namjoon lantas tersenyum lebar sebelum memainkan robot di tangannya dengan sesekali tertawa kecil.
Mendengar tawa Namjoon, Yoongi pun mengalihkan pandangannya dari buku yang tengah dibacanya dan fokus pada pandangan di hadapannya.
Berdeham pelan, Yoongi berusaha menarik perhatian Namjoon dan itu berhasil.
"Ada apa, hyung?"
Yoongi melirik ke seluruh sudut kamarnya sembari mengatur nafasnya. Entahlah, Yoongi merasa ia butuh keberanian yang besar saat ini.
"Namjoon-ah, masih ingat janjimu 10 tahun lalu?"
"Hah?"
Namjoon lantas berpikir, berusaha mengingat janji yang pernah ia ucapkan pada Yoongi. Apalagi waktu 10 tahun, itu artinya waktu ia berusia 7 tahun kan? Apa Namjoon masih ingat? Dan ketika Namjoon berhasil mengingat, ia lantas menatap Yoongi dengan mata membulat dan wajah terkejut.
"Kau masih mengingatnya hyung?!"
"Tentu saja. Dan jika bukan karena janjimu itu, mungkin aku sudah punya kekasih sekarang."
Yoongi tersenyum dan bangkit dari duduknya. Yoongi melangkah mendekati Namjoon, menatap pemuda yang lebih muda -juga tinggi- dengan senyum manis pada wajah yang biasanya terlihat datar itu.
"Aku minta maaf hyung. Aku benar-benar lupa."
"Bukan masalah. Yang penting kau sekarang sudah ingat kan?"
Namjoon mengangguk. Tangannya mengulur untuk meletakan robot Iron Man milik Yoongi ke atas meja sebelum meraih tubuh Yoongi ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku, hyung."
Yoongi membalas pelukan Namjoon dan menyembunyikan wajahnya pada dada Namjoon.
"Mungkin kau benar jika Hoseok tidak sepenuhnya cinta dan percaya padaku. Karena sebenarnya, aku pun sedari dulu mencintaimu, Yoongi hyung."
Yoongi mendongak dan menatap Namjoon dengan pandangan kesal.
"Kenapa baru bilang sekarang, bodoh?!"
"Karena, aku kira kau tak punya perasaan yang sama denganku dan menganggapku sebagai adikmu saja dilihat dari perlakuanmu padaku selama ini. Ditambah waktu itu aku sudah bersama Hoseok."
"Idiot! Kau mempermainkan perasaan orang kalau begitu."
"Tidak hyung. Hoseok juga sebenarnya tahu dari awal. Tapi berhubung dia juga ingin mempunyai kekasih dan tak mau dianggap jomblo abadi, jadi kami sepakat menjadi sepasang kekasih."
"Ckk! Kalian benar-benar pasangan idiot."
Namjoon terkekeh pelan melihat wajah Yoongi yang menggembung kesal. Mengelus sayang rambut Yoongi, Namjoon lantas mendekatkan wajahnya pada wajah Yoongi dan mengecup sekilas bibir pucat Yoongi.
"Si idiot ini mencintaimu. Kalau kau bagaimana?"
Wajah Yoongi memerah karena perlakuan Namjoon. Dengan cepat, Yoongi menyembunyikan wajahnya pada pelukan Namjoon.
"Tentu saja, idiot!"
Namjoon pun tertawa dan mengeratkan pelukannya pada hyung tersayangnya ini. Mata Namjoon lantas mengarah pada Iron Man di sampingnya dan bergumam 'Terima kasih' dalam hati.
.
.
.
END
.
.
.
Jadi ini akan jadi kumpulan ff NamGi. Dari pada bikin drabble, ficlet, or oneshot yg ga jelas kapan di update, jadi aku kumpulin di sini aja. Jadi kalian para NamGi Ship juga gampang/? buat bacanya.
Btw, masih ada NamGi Ship kan di sini?
.
.
.
Bonus
"Yoongihyung aku pinjam robot Iron Man mu ya?" Anak berusia 7 tahun itu menatap penuh harap pada anak lain yang duduk di hadapannya.
"Kenapa kau selalu meminjam robot itu sih? Memangnya kau tak punya?" Yoongi bukannya tidak mau meminjamkan robot kesayangannya pada Namjoon. Hanya saja dia merasa aneh, bahkan sepertinya beberapa hari lalu Namjoon punya robot baru tapi kenapa dia harus selalu meminjam robot miliknya?
"Habisnya aku suka. Apalagi ini robot kesayangannya hyung."
"Kalau hyung tidak memberimu izin bagaimana?"
"Hyung pelit sekali! Aku kan hanya meminjamnya sebentar."
"Sebentar itu apa sampai berjam-jam?"
"Bukan sih. Tapi hyung, aku benar-benar sebentar kali ini. Aku berjanji tidak akan merusakannya kok! Dan juga,"
"Dan apa?"
"Suatu hari nanti, selain robot ini yang menjadi kesayanganmu, aku juga akan menjadi kesayanganmu, Yoongi hyung."
Yoongi mengerjapkan matanya polos lalu melihat kedua orangtuanya juga orangtua Namjoon yang duduk di belakang mereka sambil tertawa geli. Yoongi tak tahu apa yang lucu, jadi dia hanya mengangguk dan tersenyum lebar.
"Pegang janjimu, Kim Namjoon."
.
.
.
Real End
Bonus yang tidak jelas XD.
