Someone Behind You

With

.

.

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Oh sehun

Do Kyungsoo

Kim jongin

.

.

"Haaahh!" . Pekik kepuasan menggema di sebuah apartemen mewah yang terletak di tengah kota. Sumber suara, berasal dari kamar utama di dalam apartemen tersebut. Kamar yang berisikan dua insan dengan tubuh polos bersimbah keringat di atas ranjang. Yang satu, adalah sosok tinggi yang sedang duduk bersandar di headbed, sedangkan yang lain, merupakan pria berpostur mungil, sedang duduk mengangkangi sosok yang bersandar.

Sesuatu yang kental dan lengket mengalir deras dari paha pria mungil, mengotori perut pria tinggi yang sejak tadi hanya berwajah datar. Jejak-jejak noda kuning kecoklatan, nampak tersebar hampir di seprai dan di bagian bawah tubuh pria mungil itu .Menandakan dirinya telah mendapatkan kepuasan untuk yang kesekian kalinya. Sangat berbeda dengan sosok yang lain, dimana pusat tubuhnya masih berdiri tegak, sama sekali tidak terpuaskan. Sudah hampir semalaman, dan belum sekalipun ia mencapai klimaksnya.

"Luar biasa.." ucap si pria mungil sambil meremas sesuatu yang tegak dan keras milik pria itu. Membuatnya memejamkan mata, namun tetap tak bersuara.

"Kau bahkan tidak ikut meminumnya. Lalu bagaimana bisa...'ini' tetap berdiri? " lanjutnya lagi seiring dengan tangan kecilnya yang mulai bergerak konstan naik turun di bawah.

Pria yang sedang bersender di headbed, membuka matanya kembali. Menatap langsung pada iris kehitaman sosok yang sedang memanjakan tubuhnya. "Aku sudah menyiapkan stamina lebih...untuk kelinci kecil yang sedang kelaparan ini" Tangannya terulur menuruni punggung sosok di depannya, hingga berhenti di celah antara kedua bongkahan sintal di bawah sana. Membuat si pemilik tubuh mengejang dan menutup mata.

Si pria tinggi menyeringai puas melihat ekspresi pria itu. Dengan senyuman yang terlukis di satu sudut bibirnya, ia gerakkan jemarinya memutar ke dalam. "Lagi?" Sebelah alisnya menukik ke atas diiringi jemarinya yang masuk lebih dalam.

Lenguhan keras tak dapat lagi ditahan oleh si pria mungil. Gairah yang masih membakar dirinya, membuat ia tergesa-gesa menghempaskan jemari yang berada di dalam dirinya. Lalu, dengan cepat ia mengangkat sedikit tubuhnya. Untuk menggantikan jemari tadi dengan sesutu yang besar, keras dan begitu memenuhi dirinya.

"Hahh..ah..ah..ahhhh" lenguhan dan desahan satu per satu lolos dari mulut kecilnya. Deru nafasnya kian memburu ketika dirinya bergerak cepat, untuk mencapai kenikmatannya sendiri.

Dan ketika yang lain mulai bergabung dalam permainan. Ikut memajukan pinggulnya berlawanan arah dengan lawannya. Bergerak dengan kecepatan maksimalnya, hingga menyentuh lebih dalam titik manis si pria mungil. Maka saat itu lah, waktu terasa berhenti berputar untuk pria kecil itu. Hasratnya begitu terpuaskan. Membuat darahnya berdesir dan denyut jantungnya yang berdetak semakin cepat.

Hingga pada saat dirinya mendekati puncak kepuasan untuk entah berapa kalinya...

"Hahkkk...aak..ahk!"

.

.

Tidak ada sesuatu yang mengalir dari pusat tubuhnya. Tempo gerakannya justru melambat. Kedua matanya terbuka lebar ke atas. Hembusan nafasnya memendek terputus-putus. Dan kedua tangan kecilnya terulur mencengkram lehernya sendiri.

Bruk!

Tubuhnya terjatuh ke samping. Dadanya bergerak naik turun begitu cepat, berusaha mengais udara lebih banyak. Dengan sekuat tenaga, ia menoleh pada laki-laki yang sejak tadi bercinta dengannya. "T..to..long..aak..ku" lirihnya penuh harap.

Reaksi mengejutkan ditunjukkan oleh si pria tinggi. Bukannya menghampiri yang lebih kecil, ia justru bangkit dari ranjang. Memakai bathrobe yang terlempar di sofa. Lalu beralih untuk mengambil sesuatu di atas meja yang berada di sudut kamar. Sebuah gelas kecil, yang berisikan bir di dalamnya.

Dengan langkah angkuhnya, perlahan ia dekati sosok yang terbaring lemah di atas ranjang, sambil membawa gelas berisi bir itu. Meskipun tubuhnya kian melemah, nampak kernyitan bingung dari wajahnya.

"Levitra. Dosis 50 mg" mulainya sambil memutar gelas di tangannya. "Kau memilih keputusan yang tepat, mengganti viagra dengan pil mujarab ini" Perlahan ia bawa gelas itu mendekat ke mulut pria yang tak berdaya. " Membuatku lebih mudah menghentikan detak jantungmu.." Dan ia tuangkan sisa bir yang telah bercampur obat, ke dalam mulut kecil itu.

"Uhukk! Huekk" Sosok tak berdaya itu mulai tersedak hebat. Matanya semakin terbuka lebar. Melotot penuh amarah sekaligus tak percaya pada pria yang sedang menyeringai padanya. "S..si..alan...K..kkau...Ahk!" Deru nafasnya semakin memendek. Sementara denyut jantungnya kian cepat. Hingga tak sampai 5 menit setelanya..

"Sampaikan salamku pada penguasa neraka..."

Tubuh itu kini telah kaku tak bernyawa. Tergeletak begitu saja di atas ranjang. Gema tawa mencekam terdengar kemudian. Disuarakan oleh satu-satunya sosok dalam ruangan tersebut. Sosok yang dengan santainya beralih ke sofa. Mengambil sebungkus cerutu untuk disesapnya. Sebagaimana kebiasaan favoritnya sehabis merenggut nyawa seseorang.

Setelah 5 kepulan asap di udara, tangannya terulur menjangkau handpone di depannya. Jemarinya nampak mengetik sebuah nama. Ia bawa handphone tersebut mendekati telinganya. "Bereskan" Hanya satu kata, namun sudah dimengerti oleh orang di seberang sana.

Terbukti beberapa saat kemudian, seorang pria berkulit kecokelatan memasuki ruangan tersebut.

"Dimana Sehun?" Todong si sosok tinggi tanpa memperdulikan decakan mencela dari lelaki yang baru hadir itu.

"Sehun yang bertugas membersihkan bagian luar kali ini." jawabnya sambil terus menerus memandang ke sekitar. Sejak dirinya melangkah masuk tadi, rasa mual seketika melanda. Aroma khas bercinta menguar begitu pekat di ruangan ini. Menandakan sunbaenya itu benar-benar 'menghabisi' korbanya. Si mangsa kecil. Selalu seperti itu.

"Baiklah. Kau bisa memulai tugasmu Jongin." Perintah yang lebih tua, namun dengan nada sedikit lembut. Bagaimanapun mereka adalah rekan satu tim.

Dalam diam, Jongin memulai dengan memakai sarung tangan. Lalu mengeluarkan berbagai perlengkapan profesionalnya. Untuk menghapus jejak ataupun sidik jari si lelaki tinggi di berbagai sudut dalam ruangan ini.

Langkahnya kini beranjak menuju jenasah kaku di atas ranjang. Ia telusuri seluruh tubuh pria malang itu. Memeriksa bercak noda kecoklatan yang telah mengering di bagian tubuh bawahnya dan juga yang tersebar di seprai.

Raut keterkejutan nampak pada wajah Jongin. Ia menoleh cepat pada sosok yang sedang duduk di belakang sana. "Hyung.." Sosok yang ditanya hanya bergumam pelan sebagai jawaban. Jongin nampak mengamati sesaat. Pandangannya terfokus pada sesuatu yang menggembung di balik bathrobe yang dikenakan pria itu.

"Luar biasa hyung. Sekalipun kau tidak mengeluarkannya!" Seru Jongin dengan tatapan kagum. Setelah memeriksa bercak-bercak yang telah mengering tadi, ternyata semuanya berasal dari si pria malang itu sendiri. Sedangkan sosok yang lebih tinggi, sama sekali tidak meninggalkan jejaknya. Jongin tidak menyangka sang eksekutor tersebut mampu menahan klimaksnya selama berjam-jam

Seringai muncul di sudut bibir pria yang sedang bersantai di sofa. "Aku tidak pernah puas dengan jalang, Jongin". Perlahan ia bangkit dari duduknya. Lalu bergerak mendekati ranjang. Mengamati tubuh kaku tersebut, tanpa ada raut sesal di matanya. "Terutama seorang jalang mungil."

Jongin menatap datar sosok di depannya. Ia memutari ranjang lalu berdiri tepat di samping pria itu. "Serius hyung. Kau seperti seorang maniak pria mungil." Ucap Jongin sambil melipat tangannya di dada. "Ketika target kita adalah sosok pria yang bertubuh mungil. Kau selalu menyeret mereka ke ranjang terlebih dahulu sebelum membunuhnya"

Melihat sosok di sebelahnya hanya terdiam, Jongin tersenyum kecil. Ia sangat mengetahui apa yang ada di kepala pria itu. "Aku jadi penasaran. Bagaimana jika suatu hari pria itu menjadi taergetmu hyung." Kekehnya pelan.

Pria tinggi itu tersenyum miring. Tatapannya nampak menerawang jauh.

"Maka akan kuberikan kematian yang paling indah untuknya."

.

.

.

Terik matahari di musim panas, terpancar begitu terang siang itu. Tercatat, suhu udara saat itu meningkat tajam dari suhu normal. Membuat gerai-gerai makanan dan minuman dingin, dipadati oleh pengunjung. Tak terkecuali oleh dua pria yang baru saja memarkir mobilnya, tak jauh dari stand minuman.

"Kau yang turun" ucap pria yang duduk di belakang stir.

Pria yang di sebelahnya mendelik kesal. "Tidak. Kau saja" tolaknya mentah-mentah.

"Aku sudah mengeksekusi tadi. Sekarang giliranmu Jongin!"

Jongin mencibir. "Lebih baik aku menunggu untuk membunuh targetku daripada..." ia menghela nafas sejenak.

"Mengantri konyol untuk segelas bubble tea" Dan ia pun melangkah keluar sambil menggelengkan kepalanya.

Mengonsumsi bubble tea sudah menjadi kebiasaan mereka berdua setelah menyelesaikan pekerjaannya, mengeksekusi seseorang. Semua berawal dari Sehun, yang selalu membawa minuman itu kemanapun. Bahkan saat ia di tengah melakukan pekerjaannya. Ada satu alasan dibalik kebiasaannya itu. Yang hanya diketahui oleh Jongin dan dua orang lainnya.

Sesungguhnya stand bubble tea, banyak tersebar di berbagai tempat lainnya. Tapi tempat i i sudah menjadi favorit mereka. Namun satu yang tak disukai Jongin. Antrian panjang.

Masih ada 7 orang yang mengantri di depan dirinya. Ketimbang terus menerus mengeluh, ia memilih untuk memainkan handphonenya.

Satu persatu antrian mulai berkurang. Nampak di depan sana, seorang wanita paruh baya sedang memesan, di belakangnya terdapat bocah lelaki, lalu dua orang wanita dan terakhir adalah gilirannya. Ia putuskan untuk memainkan kembali handphonenya. Hingga akhirnya...

"Pencuri! Tolong ada pencuri!"

Pekikan terdengar dari arah depan. Dari mulut si wanita paruh baya yang sedang memesan tadi. Kejadiannya terjadi begitu cepat. Si pencuri telah melesat lari menuju gang sempit di seberang stand itu.

Saat dikiranya tidak ada yang mengejar dirinya, si pencuri memutuskan untuk berhenti dan menelpon rekannya. Meminta untuk segera dijemput di lokasi tersebut. Namun perkiraannya salah.

"Hey kau pencuri!" Seketika pencuri merasa was-was. Perlahan ia balikkan tubuhnya denga kedua tangan terangkat di atas. Ia bernafas lega setelah melihat sosok yang meneriakinya tadi. Seorang bocah lelaki pendek, yang ditemani oleh pria tambun, si penjual bubble tea. Hanya masalah kecil pikirnya.

"Kembalikan tas itu!" Sahut si bocah pendek. Tak gentar dengan ucapan bocah itu, si pencuri melangkah tegas mendekatinya. "Baiklah.." ucap si pencuri, lalu melemparkan tas yang dicurinya ke arah pria tambun.

Kerutan samar muncul di dahi lelaki pendek, melihat si pencuri begitu mudahnya menyerahkan barang curiannya. Dengan langkah waspada, kaki kecilnya melangkah mundur dan berbalik menuju paman penjual bubble tea.

Kosong. Isi di dalam tas, telah diambil terlebih dahulu oleh si pencuri. "Hey! Kembalikan isi-

Greb!

Pencuri bergerak cepat mengukung lelaki pendek itu. Dengan sebilah pisau menempel di lehernya. Ia meronta dalam kungkungan si pencuri. Namun, postur tubuhnya yang kecil membuatnya tak mampu melepaskan diri.

"Ckckck. Pengecut sekali."

Ketiga orang di tempat tersebut, menoleh cepat ke samping. Tepatnya ke arah sesosok pria yang sedang menyeringai mendekati mereka dengan langkah ringan. Kim Jongin.

Kini dirinya telah berhadapan dengan si pencuri. "Kembalikan isi tas itu!" Ucapnya dengan nada dingin. Si pencuri sama sekali tak bergeming dan justru tersenyum remeh padanya.

Jongin berdecak malas. Sesungguhnya ia adalah seorang pria dengan tingkat kepekaan nol besar. Kalau bukan karena penjual bubble tea kesukaannya yang justru ikut lari kemari, lalu handphonenya yang jatuh terinjak karena dorongan dari depan, ditambah dirinya yang tidak dalam mood baik. Jongin tidak akan repot-repot berdiri di sini layaknya seorang pahlawan.

Ia tetap berjalan mendekati si pencuri sambil menatap lurus pada lelaki pendek. Berharap lelaki itu mengetahui apa yang ada di pikirannya.

"Jangan mendekat!" Pekik si pelaku. Ia mundur perlahan sedangkan Jongin tetap melangkah maju tanpa takut. "Aku bilang jangan...AKH!" Si pencuri melepaskan lelaki dalam kungkungannya. Bekas gigitan nampak di tangannya akibat perbuatan tawanan kecilnya itu.

Memanfaatkan kelengahan si pencuri, Jongin bergerak cepat dan mengambil ransel pencuri itu. Ia memberikan senyuman miring andalannya, lalu berbalik ke belakang. Lelaki pendek dan penjual bubble tea menyambutnya. Mereka memutuskan untuk kembali, sebelum 3 pengendara motor datang menghadang.

Tawa mengejek terdengar dari mulut pencuri tadi. Tiga orang itu adalah kawanannya. Dan kini telah mengepung Jongin dan kedua orang lainnya.

"Kalian berdua menyingkir." Seru Jongin tiba-tiba. Membuat semua yang ada disitu nampak terkejut. Jongin sendiri hanya berekspresi datar dan berdiri angkuh. Seolah menunggu para musuhnya untuk maju. Para pengendara motor mulai turun dari motornya. Satu di antara mereka membawa sebuah tongkat dan bergerak cepat untuk menghantam Jongin.

Trangg!

Satu pengendara tadi jatuh tersungkur di aspal. Jongin berdecih melihatnya. Preman jalanan seperti mereka, hanya seperti tikus kecil baginya. Kini dua orang lainnya maju bersamaan untuk menyerang dirinya. Masing-masing berlari ke sisi kanan dan kirinya.

Jongin menyeringai. Ia memukul lawannya dari sisi kiri terlebih dahulu, lalu berputar untuk menghindari serangan dari yang lain dan menapakkan kakiknya pada wajah lawannya . Gerakannya begitu lihai dan profesional. Hingga akhirnya..dua orang itu pun menyusul tersungkur di aspal. Namun...

Bukk!

Jongin menoleh. Di belakangnya, sosok pencuri yang tadi sudah tertunduk di aspal sambil memegangi belakang kepalanya sendiri. Sebilah pisau nampak jatuh di dekat kaki si pencuri.

"Hampir saja.." Jongin mengangkat pandangannya, dan sedikit terkejut mendapati lelaki pendek tadi ternyata masih berada di sini. Dan baru saja menyelamatkannya. "Mari hadapi bersama" ucap lelaki itu. Senyuman hangat terlukis di wajahnya. Membuat sosok dingin yang lain, sedikit tertegun melihatnya.

"Baiklah" ucap Jongin. Mereka berdua berdiri berdampingan. Bersama-sama menghadapi kawanan pencuri yang nampak sudah bangkit kembali.

.

.

"Haaah.." Helaan berat dihembuskan oleh Jongin. Dadanya naik turun akibat kelelahan. Harusnya hanya perlu 5 menit baginya, untuk menghabisi para pencuri. Bukanlah 30 menit seperti ini. Bagaimana tidak? Jika sepanjang perkelahian, fokusnya justru terbagi untuk melindungi si bocah lelaki itu.

Jongin menarik nafas panjang, lalu bangkit untuk meninggalkan tempat itu. Tak mempedulikan lelaki yang juga kelelahan di sampingnya.

"Tunggu!...Tanganmu terluka!" cegah lelaki itu. Jongin berhenti sejenak. Melihat lengannya dan baru menyadari ada luka goresan panjang akibat pisau. "Bukan masalah bagiku" Jongin melanjutkan lagi langkahnya tanpa menoleh sedikitpun.

Namun baru 2 langkah ia berjalan, sepasang tangan kecil menarik lengannya. Membuat tubuhnya berbalik ke belakang. Ia sudah hampir menghardik bocah pendek tersebut jika tidak melihat apa yang dilakukannya. Dalam diam dan penuh kesabaran, lengan Jongin yang terluka dibalut oleh sapu tangan milik si lelaki pendek.

"Nah selesai.." ucapnya dengan senyuman manis kali ini. Untuk kedua kalinya, Jongin dibuat tertegun oleh senyuman milik lelaki itu. Ia berdeham sejenak untuk menyadarkan dirinya sendiri. Dan tanpa berucap terima kasih, ia lanjutkan lagi langkahnya yang tertunda tadi.

"B.B.H" Adalah inisial yang tercetak di sudut saputangan yang membalut lengannya. Tanpa ia sadari...senyuman tipis terbentuk di wajahnya.

.

.

.

"Inovasi yang anda kembangkan, terbukti meningkatkan penjualan di pasaran Asia saat ini. Selamat untuk anda..Tuan Park"

Riuh tepuk tangan menggema di sebuah ruangan rapat suatu perusahaan bergengsi. Tepuk tangan itu ditujukan untuk sosok maskulin dan berwibawa, yang sedang duduk di deretan bangku terdepan. Ia adalah pemilik dan pemimpin perusahaan ini.

Park Chanyeol, terukir pada papan nama di atas mejanya. Seorang CEO muda, yang terkenal di kalangan pebisnis, karena berhasil mengembangkan perusahaannya di usianya yang masih belia. Tidak hanya itu, raut wajah layaknya serpihan malaikat, berlimpah harta dan statusnya yang belum menikah, membuat dirinya masuk dalam jajaran pria lajang yang paling diinginkan wanita saat ini.

Sosok tampan tersebut mengangkat satu tangannya ke udara. Sebagai tanda bagi yang lainnya untuk berhenti bertepuk tangan.

"Keberhasilan ini tercipta karena kegigihan kita semua. Bukan karena aku saja." Ucapnya bijak. "Tapi kita tidak boleh lengah. Kita harus mulai menyiapkan produk yang cocok untuk musim berikutnya. Dan aku...membutuhkan bantuanmu lagi Tuan Do." Sosok yang namanya disebut, menoleh ke depan dan menganggukan kepala. "Dengan senang hati Tuan Park" ucapnya sambil tersenyum. Chanyeol membalas senyumnya sekilas

"Baiklah. Aku minta pada rapat berikutnya, masing-masing divisi sudah membawa rancangan proposal. Untuk saat ini, mari kita akhiri rapat sampai disini." Chanyeol menutup rapatnya. Ia masih duduk di bangkunya, membiarkan yang lain keluar terlebih dahulu.

Chanyeol memejamkan mata dan berseder pada sandaran kursinya. Meregangkan otot punggungnya yang terasa kaku akibat berjam-jam hanya duduk di kursi. Hingga tiba-tiba...ada seseorang yang duduk di pangkuannya. Dan ia tahu siapa pelakunya.

"Aku lelah Soo.." Chanyeol masih enggan membuka matanya. Tak menghiraukan sosok Kyungsoo yang bersender di dadanya.

"Datanglah ke rumahku. Aku akan memberikan pelayanan spesial untukmu" Bisiknya menggoda.

Chanyeol membuka matanya, lalu mengalungkan kedua tangannya di pinggang Kyungsoo. "Tawaran yang menarik" ucapnya sambil perlahan-lahan mendekati wajah Kyungsoo. Tepat hanya beberapa centi dari bibir pria itu..."Namun sayang sekali..Aku masih banyak pekerjaan." Tolaknya. Punggungnya bersender kembali di sandaran kursi.

"Wah kau benar-benar seorang CEO saat ini. Baiklah...aku pamit" Kyungsoo terkekeh kecil, lalu bangkit dari pangkuan Chanyeol. Sampai di depan pintu, langkahnya terhenti.

"Mungkin sesuatu di laci mejamu, jauh lebih menarik ketimbang kertas-kertas membosankan itu." Dan sosoknya pun menghilang di balik pintu.

Chanyeol tertegun. Tanpa menunggu lama, tangannya bergerak membuka laci meja. Ada satu amplop cokelat di dalam, yang nampak asing baginya. Ia keluarkan amplop itu, untuk melihat isi di dalamnya. Sebuah dokumen rahasia dan sebuah..foto.

Dibanding dokumen yang lebih penting, Chanyeol justru terfokus pada selembar foto di tangannya. Tepatnya pada sosok yang ada di dalam foto tersebut. Seringai mengerikan muncul di sudut bibirnya.

.

.

.

Di suatu tempat yang berada jauh dari pusat kota. Nampak dua sosok pria, baru saja keluar dari mobil yang terparkir di sebuah mansion tua. Mansion milik sebuah orgaisasi hitam yang paling berbahaya di kawasan Asia. Yang terletak di tengah-tengah perbukitan, jauh dari jalanan umum.

Para penjaga menunduk hormat pada dua pria itu. Dua orang penjaga mengikuti mereka, untuk mengantarkannya menuju ruangan para pemimpin. Hanya dalam waktu 2 menit, mereka telah sampai di depan pintu kayu besar bercorak ukiran seni.

"Selamat malam Sehun, Jongin." Sambutan hangat diberikan oleh sang boss tertinggi begitu mereka masuk ke dalam ruangan. Sehun mengambil posisi duduk di samping bos mereka yang sedang duduk santai di sofa. Sementara Jongin, memilih duduk di jendela. Untuk lebih leluasa menyesap lintingan tembakaunya.

"Sepertinya tangkapan besar lagi kali ini" tebak Jongin. Kepulan asap menguar di sekliling wajahnya.

"Kau memang cermat Jongin." Di atas sofa, sang bos tersenyum puas. "Dan bukan hanya satu orang. Tapi seluruh keluarganya. Terutama...anak lelakinya" Tatapan kebencian terpancar dari sorot matanya. Melihat itu, Sehun yang berada di sebelahnya, memberikan usapan lembut di lengannya. Memahami amarah yang timbul dari diri bosnya.

Jongin sedikit bereaksi. Bukan sekali dua kali mereka menghabisi satu keluarga seutuhnya. "Siapa mereka?" tanyanya penasaran.

"Keluarga Byun..yang baru-baru ini begitu gencarnya ingin mengungkapkan kedok organisasi kita."

Jongin menganggukkan kepalanya. Ia memang sudah mendengar tentang Tuan Byun ini. Seorang pengganggu bagi organisasi mereka. "Lalu putranya?" tanyanya lagi.

Sang bos menghela nafasnya sesaat. Ia menyenderkan kepalanya di pundak Sehun. "...Byun Baekhyun..." jawabnya.

Jongin mengernyit samar. "Sepertinya aku sering mendengar nama itu. Apakah...ini berkaitan dengan dendam pribadi salah satu dari kalian?" terkanya.

Hening sesaat melanda ruangan tersebut. Sang bos nampak enggan untuk menjawab dugaan Jongin. Hingga akhirnya Sehun yang sejak tadi hanya berdiam diri, berinisiatif untuk angkat bicara. "Hanya 50% Jongin. Sisanya murni untuk kepentingan organisasi" Jelasnya.

Tidak ada tanggapan lagi dari Jongin. Pandangannya menerawang jauh dalam keheningan malam. Memang hal yang biasa, jika kepentingan bisnis mereka dicampuri oleh dendam pribadi. Terutama untuk orang-orang dengan latar belakang kehidupan seperti mereka.

Oh Sehun. Sejak bayi dibuang orang tuanya di jalanan, hanya karena ia adalah anak haram dari seorang pengusaha sukses di Korea. Disaat kondisinya cukup parah, ia ditemukan oleh seorang suster dan membawanya ke panti asuhan. 10 tahun kehidupannya di panti, meninggalkan kenangan buruk baginya. Sehun selalu dikucilkan, makanannya diambil, dipukuli ramai-ramai dan yang lebih parah...seorang wanita yang bertugas untuk menyiapkan makanan di panti, selalu mencoba untuk melecehkan dirinya. Sehun hampir memutuskan untuk bunuh diri...jika saja waktu itu keluarga bos mereka tidak datang dan mengambilnya. Kelembutan dan kasih sayang yang diberikan keluarga yang mengangkatnya membuat hidup Sehun berubah sepenuhnya. Meskipun bukan diangkat sebagai anak, Sehun tetap mengabdikan seluruh hidupnya untuk menjaga putra majikannya, bos mereka kini.

Sang bos. Seorang lelaki yang lahir dari keluarga harmonis dan bergelimang harta. Sampai umur 15 tahun, bos mereka adalah seorang lelaki ceria, penuh semangat, seperti remaja pada umummnya. Hanya saja, semua berubah ketika ia genap berusia 17 tahun. Ketika ayahnya meninggalkan ia dan ibunya, demi menikahi wanita lain. Kepergian ibunya selama-lamanya, semakin membuat dirinya terpuruk. Tak ada lagi sosok ceria lagi pada dirinya. Digantikan oleh dendam dan kebencian yang membara.

Kim Jongin. Dirinya sendiri. Masa kecilnya..hanya berisi pukulan, tendangan dan umpatan yang dilayangkan oleh kedua orang tuanya. Tepatnya oleh ayah kandung dan ibu tirinya. Ibu kandung Jongin, meninggal tepat setelah melahirkan dirinya. Membuat ayahnya selalu menyalahkan Jongin sebagai penyebab kematian ibunya. Tidak pernah ada kasih sayang tulus yang dirasakan oleh Jongin. Tidak sampai ia bertemu dengan Sehun dan bosnya, yang kebetulan menjadi murid di sekolah yang sama.

Sejak masih di Sekolah Dasar hingga jenjang universitas mereka selalu bersama. Saling mendukung, saling membantu, saling berbagi dan bersama-sama...menuntaskan dendam masing-masing. Sebenarnya masih ada satu orang lagi. Tetapi orang itu sudah lama tidak turun tangan ke lapangan, dan lebih fokus pada pekerjaan barunya.

Jongin berdeham pelan. Merasa asing dengan keheningan yang melanda mereka. "Jadi..apa lagi yang kita tunggu? Katakan saja apa tugas kami" tanyanya lagi.

Sang bos menegakkan duduknya. "Ada pemain lama yang ingin bergabung kembali." Ucapnya sambi tersenyum misterius.

Baik Jongin maupun Sehun mengernyit bingung dan saling berpandangan. Satu nama tiba-tiba terlintas di pikiran mereka berdua. "Jangan bilang-" Sehun menerka-nerka

Pintu ruangan terbuka lebar. Menampakkan sosok pria tinggi, yang sangat dikenali oleh mereka bertiga.

"Chanyeol hyung!" Pekik Sehun dan Jongin bersamaan. Kedua mata mereka melebar sempurna. Sedangkan sang bos sendiri , hanya tersenyum kecil dari tempat duduknya.

Chanyeol tersenyum miring dan menambil tempat duduk di seberang Sehun. Pandangannya beredar menjelajah seisi ruangan. Ruangan yang tak pernah ia datangi selama setahun terakhir. "Lama tidak berjumpa" ucapnya sambil memperhatikan satu-persatu wajah ketiga orang di dalam ruangan.

Jongin yang paling bersemangat melihat kehadiran Chanyeol. Ia beralih dari jendela, untuk duduk di sebelah sosok yang dianggap panutannya. "Ya! Sudah setahun lebih hung. Terakhir kali saat di hotel, setelah kau menghabisi target mungilmu" Chanyeol hanya tertawa kecil mendengar penuturan Jongin.

"Apa yang membawamu kembali hyung?" kini gantian Sehun yang bertanya.

Chanyeol tidak langsung menjawabnya. Ia terlebih dahulu mengeluarkan sebatang rokok. Otot tubuhnya terasa rileks begitu efek nikotin memasuki rongga paru-parunya. Jongin dan Sehun mengikuti apa yang dilakukan Chanyeol. Hingga kepulan asap mulai menyelimuti ruangan itu.

"Pria kecilku...adalah target kita kali ini." Jelasnya singkat. Sementara Sehun dan Jongin lagi-lagi dibuat terperangah olehnya. "Maksudmu..target kita Byun Baekhyun..adalah Byun Baekhyun mantan kekasihmu?" tanya Sehun tak percaya. Ia semkin terkejut ketika melihat anggukan kepala dari sosok yang ia tanya sebelumnya.

Jongin nampak berpikir. Pantas saja ia seperti pernah mendengar nama tersebut. Byun Baekhyun, lelaki mungil yang pernah menjadi sandaran hidup Chanyeol. Setidaknya sebelum kenyataan pahit terkuak setelah kepergian lelaki mungil itu.

"Lalu apa rencanamu hyung?" tanya Jongin.

Seringai keji tercetak di sudut bibir Chanyeol. Ia menoleh perlahan ke arah Jongin. "Kau ingat apa yang kuucapkan di malam satu tahun yang lalu?" tanyanya. Membuat Jongin memijat keningnya, untuk mengingat kembali pembicaraan mereka setahun yang lalu. Satu kalimat muncul di ingatannya.

'Bagaimana jika suatu hari pria itu menjadi targetmu hyung?'

.

.

"Akan kuberikan kematian yang paling indah untuknya. " Ucapan Chanyeol masih sama dengan yang ia ucapkan setahun yang lalu. "Tak akan lagi kulepaskan, meski hanya untuk satu detikpun" tegasnya

Jongin menerka-nerka, apa yang mungkin akan dilakukan Chanyeol pada lelaki malang itu. Melihat apa yang selama ini Chanyeol lakukan dengan target-target yang bertubuh mungil, Jongin yakin Chanyeol akan mengikat Baekhyun di ranjangnya, sampai ia merasa benar-benar terpuaskan, lalu membunuh orang yang pernah disayanginya itu...dengan tangannya sendiri.

"Aku penasaran bagaimana sosok Baekhyun" gumam Jongin pelan. Namun, tetap terdengar oleh ketiga orang di dekatnya.

Sang boss yang sejak tadi hanya duduk tenang, mengeluarkan sesuatu dari kantung jaketnya. Sebuah foto, yang ia hempaskan di atas meja, mencuri perhatian Sehun dan Jongin. Foto seorang lelaki berwajah manis dan kekanakkan. Byun Baekhyun.

Jongin bungkam. Sosok pada foto tersebut tak asing baginya. Sosok yang pernah ia temui beberapa hari yang lalu. Sosok yang membalut lukanya dengan sapu tangan yang masih disimpan oleh Jongin hingga kini. Sapu tangan yang berinisialkan B.B.H.

Jongin tak mengelak.

Satu gejolak penolakan...muncul di hati kecilnya

.

.

.

To be continued

.

.

.

Review?