Someone Behind You

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Kim Jongin

Oh Sehun

Do Kyungsoo

And other cast

.

.

.

Tok Tok Tok

"Ya masuk"

Seseorang yang mengetuk pintu tadi, masuk ke dalam, dan menunduk hormat pada satu-satunya penghuni dalam ruangan tersebut. Atasan sekaligus pemilik gedung yang mereka pijak ini.

"Apa yang ingin kau laporkan?" tanya sosok tersebut tanpa basa basi.

Yang ditanya menarik nafas sejenak. "Kami sudah menelusuri tempat tinggalnya, nama universitasnya, bahkan sampai siapa saja yang dekat dengannya Tuan. Anda bisa melihatnya pada map ini." Ujarnya sambil mengulurkan map tebal ke arah atasannya.

Lelaki itu segera menerima map di depannya dan membaca informasi yang ada di dalamnya. Dari sekian banyak kalimat di dalamnya, satu hal yang membuat satu alisnya menukik.

"Mengajukan aplikasi magang?"

"Benar Tuan. Berkasnya masih ada pada bagian HRD."

Lelaki itu menggangukkan kepalanya. Hingga seringai muncul di sudut bibirnya sesaat setelah sesuatu terpikirkan olehnya.

"Sampaikan pada Nyonya Han untuk meloloskan pengajuan magangnya."

"...Dan aku mau ia mulai bekerja disini lebih cepat."

Sang atasan telah memberikan perintah mutlaknya. Yang harus diikuti oleh siapapun yang tunduk di bawahnya, termasuk dirinya yang sedang berdiri di depan meja atasannya. Ia sudah akan pergi untuk melaksanakan perintah yang diberikan, sebelum suara tegas menginterupsinya.

"Satu lagi "

Ia membalikkan tubuhnya, menatap kembali ke arah lelaki yang duduk di belakang meja itu.

"Jangan sampai teman-temanku mengetahuinya."

.

.

.

Jarum jam masih menunjukkan pukul 5 pagi, beberapa orang mungkin baru saja bangun dari mimpinya. Suasana berbeda nampak ditunjukkan oleh para penghuni di sebuah kediaman mewah millik salah satu orang yang disegani di daratan Korea. Dimana para pelayan, sudah sibuk mengatur segala persiapan tuannya, yang dikenal sebagai sosok tegas dan tepat waktu.

Aktivitas lalu lalang terhenti seketika. Sosok pria paruh baya yang sedang menuruni tangga, adalah alasannya. Semua yang akan dilewatinya, menunduk hormat padanya.

"Selamat pagi Kapten Byun" salah satu anak buahnya menyapanya ketika ia sampai di ruang makan.

Tuan Byun mengangguk kecil dan duduk di kusi bagian ujung meja. Kemudian diikuti oleh beberapa orang yang duduk di sisi meja. Total ada 5 orang saat itu.

"Jadi bagaimana perkembangan kasus terakhir?" Tuan Byun berucap tanpa basa basi.

"Seolah tidak terpengaruh dengan transaksi yang kita gagalkan tempo lalu, mereka diketahui akan melakukan transaksi ulang di tempat kemarin Kapten" ucap salah satu anak buahnya.

"Apakah kita akan bergerak seperti yang lalu?" Lanjutnya lagi.

Tuan Byun menggeleng tegas. Membuat sebagian orang mengernyit bingung dan menunggu keputusannya.

"Biarkan saja"

Hanya dua kata yang diucapkan oleh Tuan Byun, namun mampu mengejutkan seisi ruangan. Ini adalah kesempatan emas untuk menangkap sekumpulan anggota organisasi hitam yang paling berbahaya. Tapi Tuan Byun malah melewatkan kesempatan itu.

Ehm...Kolonel.. Salah satu pria dengan name tag Letnan, nampak ingin mengajukan ketidak setujuannya. Bukankah ini justru kesempatan bagi kita untuk meringkus mereka? Aku pikir kita bisa bekerja lebih baik kali ini lanjutnya.

Disaat keempat orang lainnya mengangguk setuju, Tuan Byun, selaku sang Kolonel, tetap pada keputusannya semula. Membuat yang lain semakin mengernyit tak mengerti.

Merasa diperhatkan dari segala penjuru, Tuan Byun menaruh peralatan makannya, lalu menatap satu persatu bawahannya.

Untuk apa kita membuang waktu dan energi di sana?

Senyum mengembang di wajah Tuan Byun.

...jika kita bisa langsung menghabisi sarang mereka..

Berbeda dengan sebelumnya, kini keempat orang lainnya mengangguk setuju dan beberapa bahkan berdecak kagum. Tentu saja, karena setelah sekian tahun lamanya, hanya Tuan Byun, yang berani mengusut kasus besar seperti ini. Dan hanya ia pula, yang berhasil menemukan keberadaan organisasi tersebut.

Tapi..kalau boleh saya memberi saran, sebaiknya anda tingkatkan sistem perlindungan untuk keluarga anda Pak

Tuan Byun mengangguk setuju akan pendapat dari salah satu bawahannya. Baru-baru ini, sistem komputer di tempat mereka bekerja diretas dan menampilkan sesuatu yang mengejutkan dari layar monitor.

Sebuah gambar dari selembar foto dengan pisau menancap di bagian kepalanya.

Dan itu adalah foto Tuan Byun beserta putra satu-satunya.

Helaan nafas berat dihembuskan olehnya. Ia pejamkan matanya sambil memijit pelan keningnya. Memikirkan keselamatan anaknya terancam, membuat mood paginya memburuk. Jika tahu keadaan akan sesulit ini, ia tidak akan pernah mengizinkan anaknya kembali ke Seoul.

"Selamat pagi ayaaah~~"

Sosok lelaki mungil yang baru saja dipikirkan oleh Tuan Byun, kini hadir di hadapannya. Lengkap dengan senyuman manis di bibirnya, ketika ia menyapa semua yang ada di ruangan ini.

"Kau sudah akan berangkat Baekhyun?" Tanya sang ayah.

Baekhyun menoleh kembali ke arah sang ayah dan mengangguk kecil. "Ya ayah. Kau tahu..aplikasi magangku diterima di perusahaan yang kuinginkan ayah!" Serunya riang sambil memeluk leher sang ayah. Ayahnya sendiri hanya tersenyum tipis dan menepuk-nepuk pelan punggung putranya.

Tak lama dari itu, Baekhyun melepaskan rangkulannya dengan ekspresi lesu. Ia mendengus kecil. "Jadi karena itu aku harus menyiapkan semua keperluan magangku dari sekarang. Dan itu mengurangi waktu luangku bersama ayah." Gerutunya.

Tuan Byun lagi-lagi tersenyum tipis. Tuntutan pekerjaannya memang menyita sebagian besar waktu luangnya. Kesempatan untuk mengabiskan liburan bersama putranya jarang sekali ia dapatkan. Untungnya Baekhyun selalu mengerti dan tidak menuntut apapun. Oleh karena itu, Tuan Byun selalu berjanji pada dirinya, bahwa kelak ia akan segera mundur dari pekerjaannya.

Dan semoga saja harapannya dapat terkabul suatu hari nanti..

"Ayah? Hey ayaah?"

"Ah ya Baekhyun" Suara dan lambaian tangan di depan wajahnya, membuyarkan lamunan Tuan Byun. Ia berdeham sejenak dan menatap sayang pada putranya. "Kalau begitu pergilah. Paman Jung akan mengantarmu"

Baekhyun mengangguk semangat. Ia sempatkan untuk mengecup kedua pipi sang ayah sebelum beranjak ke pintu.

"Oh ya Baekhyun"

Baekhyun yang sudah membuka kenop pintu, menghentikan langkahnya, lalu berbalik kembali menatap sang ayah. Masih dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.

"Ya?"

"Ingat pesan ayah" Keseriusan nampak dalam wajah Tuan Byun. "Jangan dekat-dekat dengan seseorang yang tidak jelas asal usulnya."

Baekhyun meremas kedua tangannya gugup. Senyuman tadi menghilang dari wajahnya. "Aku tidak seperti itu ayah."

"Lalu bagaimana dengan kedua lelaki yang akhir-akhir ini selalu bersamamu? Apakah ayah harus mencari tahu identitasnya?"

Baekhyun berdecak kesal. Tak ada satupun yang luput dari jangkauan sang ayah. Ia pandang ayahnya dengan wajah memelas. "Tapi ayah..hanya mereka satu-satunya teman yang kumiliki. Aku-"

"-apa ayah perlu menurunkan paman Song?"

Ucapan sang ayah seketika membungkam Baekhyun. Jika paman Song, tangan kanan sang ayah sudah diturunkan, maka tak ada yang bisa Baekhyun lakukan..selain menganggukkan kepalanya.

Baekhyun terkekeh miris sambil menggelengkan kepalanya. "Masih belum puaskah ayah?" Ia tatap ayahnya dengan pandangan terluka.

"Setelah apa yang kau lakukan padaku di masa lalu..."

Dan kalimat itu, menjadi kalimat terakhir yang Baekhyun ucapkan sebelum melangkah. keluar. Tanpa sempat melihat ekspresi penuh penyesalan dari wajah sang ayah.

.

.

.

"Berjanjilah padaku..kau akan selalu baik-baik saja hyung"

"Tak apa. Aku sudah biasa ditinggalkan" ucapnya seolah tanpa beban. Senyum palsu menghiasi sudut bibirnya. Membuat yang lain tak mampu menahan diri untuk merengkuhnya.

"Maafkan aku Chanyeol hyung..."

Chanyeol hanya tersenyum tipis sambil membalas pelukan yang lebih muda. Tangannya terulur mengelus surai lembut lelaki di dekapannya. Mencoba untuk membuatnya berhenti menggumamkan kata maaf.

"Baekhyun..." Yang ditanya hanya menggumam sebagai jawaban. "Kau akan kembali padaku bukan?" bisiknya.

Tak kunjung mendapatkan jawaban, Chanyeol pun melepaskan pelukan mereka. Kedua tangannya menangkup pipi Baekhyun, agar pandangan mereka dapat saling bertemu. Baekhyun dapat melihat sorotan tajam pada kedua mata cokelat di depannya.

"Jika kau tak kunjung kembali padaku" Chanyeol mulai menghapus jarak di antara mereka. Di depan bibir Baekhyun ia berbisik...

"Maka aku sendiri yang akan mendatangimu"

Baekhhun terhenyak sesaat. Bukannya takut, sebaliknya ia justru merasa bahagia. Merasa dimiliki oleh lelaki tinggi itu. Dan ia pun tersenyum hangat setelahnya dan memberikan satu kecupan kecil di bibir lelaki itu.

"Kalau begitu temukanlah diriku. Dan aku akan memberimu sesuatu sebagai hadiahnya"

Chanyeol mengerutkan dahinya. "Apa itu?"

Baekhyun tersenyum lebar, ia dekatkan bibirnya mendekati telinga Chanyeol. Membisikkan sesuatu yang membuat dirinya membeku. Sekaligus rasa hangat yang melingkupi hatinya.

"Kau sibuk pada lamunanmu lagi huh?"

Suara yang sudah tidak asing bagi Chanyeol, menarik dirinya kembali dari ingatan akan masa lalu. Tanpa menoleh, ia biarkan sosok itu berjalan mendekati dirinya.

"Kuperhatikan kau sering melamun akhir-akhir ini" Sepasang tangan mungil milik sosok di belakangnya, melingkari perut Chanyeol. Dan nampaknya ia tidak keberatan akan hal itu.

"Apa yang kau pikirkan?" Lelaki mungil itu sedikit berjinjit mendekati telinga Chanyeol. "Dendammu pada Baekhyun, atau...cinta masa lalumu yang belum kembali hingga kini?" Kecupan kecil di leher Chanyeol, mengakhir ucapannya.

"Ini di kantor Soo" Chanyeol melepaskan rangkulan Kyungsoo di perutnya dan segera berbalik menatap tajam lelaki itu. "Jaga sikap dan ucapanmu"

Kyungsoo memutar mata lalu menyilangkan kedua lengannya di depan dada.

"Kau harus fokus pada tujuanmu Yeol!"

Chanyeol hanya menghela nafasnya. Pikirannya berkelana kembali kepada kejadian di masa lalunya. Begitu larut, hingga tak menyadari Kyungsoo sudah berada di depan wajahnya sambil memeluk lehernya.

"Apakah aku harus turun tangan mencari sosok di masa lalumu itu?"

Chanyeol menatap tajam kearah Kyungsoo, namun tetap mempertahankan ekspresi datarnya.

"Tentu saja dengan caraku. Yang mungkin tak akan kau sukai" Ucapnya sambil tersenyum. "Bagaimana?"

Chanyeol masih tidak berucap sepatah katapun. Ia tahu pasti, kalimat yang diucapakan Kyungsoo memiliki makna negatif di dalamnya. Salah satu kata saja, akan berakibat buruk nantinya. Maka ia hanya tetap diam, dan membiarkan lelaki itu meraup bibirnya.

Chanyeol jatuh terduduk di bangkunya, dengan Kyungsoo yang berada di pangkuannya. Sejak tadi ia tak membalas apapun, hanya menerima dan membiarkan Kyungsoo melakukan yang ia mau.

Namun tak dapat dipungkiri, ia pun lelaki normal, sehat dan memiliki hormon yang tinggi. Batas pertahanan dirinya semakin menipis, ketika si mungil semakin berani bergerak di atas pangkuannya.

Hingga akhirnya, ketika ia baru saja ikut menggerakkan bibirnya...

"Chanyeooll hyuu...ups. Maaf. "

Chanyeol yang pertama menarik wajahnya, lalu diikuti oleh Kyungsoo yang segera bangkit dari pangkuannya. Sambil mengusap bibir tebalnya yang basah, Chanyeol menatap kedua lelaki yang masih terpaku di dekat pintu. Sesungguhnya dalam hati, ia lega akan kedatangan kedua lelaki itu.

"Ada apa?" Chanyeol berucap datar sambil merapikan kemejanya.

Salah satu tamu tak diundang itu berdeham sejenak. "Aku dan Sehun hanya ingin mampir sebentar hyung. Tapi.." Pria itu melirik ke arah Kyungsoo. "Sepertinya kau masih ada urusan. Mungkin kami bisa kembali lagi nanti" Ia menarik lengan Sehun yang masih terdiam di sampingnya, dan membawanya menuju pintu keluar.

"Tidak."

Itu bukan Chanyeol yang berucap, melainkan Kyungsoo yang sejak tadi berdiri di dekatnya. Membuat langkah kedua lelaki tadi berhenti seketika.

"Urusan kami sudah selesai. Aku permisi dulu tuan-tuan" Dan Kyungsoo pun melangkah keluar, sambil memberikan senyuman manis pada ketiga pria di ruangan itu.

Pandangan Chanyeol justru terpaku pada kedua tamunya. Tepatnya pada Sehun, yang sejak tadi hanya memperhatikan ke arah pintu.

"Keluar saja jika kau ingin" ucap Chanyeol pada lelaki itu. Sehun sempat terkejut karena Chanyeol memergokinya, namun dengan entengnya ia justru melenggang keluar. Tak lupa seringai nakal diberikan olehnya pada kedua lelaki di belakangnya. Membuat mereka kompak saling mendengus dan menggelengkan kepala.

Chanyeol melangkah kembali mendekati sofa di sudut ruangan. "Duduklah Jongin" Ucapnya sambil menggerakkan dagunya ke arah kursi kecil di depannya. Tanpa basa basi, Jongin, yang tadi datang bersama Sehun, mendudukkan dirinya di kursi empuk tersebut.

"Jadi apa tujuan kalian kemari?"

Jongin mengangkat kedua bahunya. "Tidak ada maksud apa-apa. Kami benar-benar hanya ingin mampir hyung"

Chanyeol mengangguk paham, dan bangkit untuk mengambil sesuatu di brankas dekat meja kerjanya. Satu botol wiski dengan harga fantastis, beserta dua gelas untuknya dan untuk Jongin.

Jongin terkekeh ketika mengambil gelas berisi wiski mahal tersebut dari tangan Chanyeol. "Sungguh waktu yang tepat untuk minum hyung" sindirnya. Yang hanya ditanggapi senyuman miring dari pria di depannya.

Hanya dalam sekali teguk, Chanyeol sudah menghabiskan seisi gelasnya. Ia taruh gelas kosong tersebut di atas meja, lalu fokus kembali kepada Jongin.

"Kalian tidak sedang bertugas?"

Jongin menggeleng pelan. "Kami baru saja menjalankan tugas yang diberikan bos kemarin" Ia berhenti sebentar untuk menaruh gelasnya yang kini juga telah kosong. "Tepatnya aku. Bukan kami"

...

Beberapa jam sebelumnya..

"Cepat singkirkan bokong besarmu ini sebelum sepatu baruku meninggalkan jejaknya disana"

"Dan cepat pergi sebelum bokong sexyku ini menyapa wajahmu"

Sehun memutar matanya mendengar balasan dari seseorang yang sedang berbaring di ranjang. Ia adalah Jongin, yang sudah berjam-jam lamanya bercumbu bersama bantal dan selimutnya.

Bruk!

Ranjang besar itu kini tak berpenghuni lagi. Karena sosok yang sejak tadi berada di atasnya, saat ini berbaring mencium lantai sambil mengusap bokongnya.

Sementara tawa keras didendangkan oleh yang lain. Sehun merasa puas, setelah berhasil menuntaskan niatnya tadi. Meskipun sepatu barunya harus melayang jauh karena itu.

Jongin bangkit sambil terus mengumpat. Seolah tak kapok dengan perbuatan Sehun, ia mengambil kembali bantalnya. Lalu disampirkan di sofa, dengan kepalanya yang disandarkan di atasnya. Membuat Sehun geleng-geleng kepala dan mendekati pria itu lagi.

Jongin melotot tajam. "Lakukan sekali lagi maka aku pun akan mewujudkan perkataanku tadi" ancamnya.

Sehun mencibir. Tak gentar sama sekali dengan ancaman lelaki yang seumuran dengannya ini.

"Serius Jongin, daripada terus bermalas-malasan, lebih baik kau melaksanakan tugas yang diberikan bos semalam" ucapnya jengah melihat Jongin yang sudah terpejam kembali.

"Aku sedang tidak mood Sehun. Kau saja." Jongin memiringkan tubuhnya ke arah Sehun. "Kau ingin membuat bos bangga padamu kan? Maka pergi dan kerjakan tugas ini tanpaku" Sehun terkesiap dibuatnya. Sementara senyuman jahil terukir di bibir Jongin.

Sepertinya kalimat Jongin tadi mujarab, karena tanpa berucap sepatah kata lagi, Sehun sudah membalikkan tubuhnya. Membuat Jongin susah payah menahan tawa kemenangan.

"Cek kembali perlengkapanmu" ucap Jongin sebelum Sehun benar-benar keluar dari kamarnya.

Sehun mendengus malas. "Astaga..Kau pikir aku membuntuti seorang buronan huh?!" Jongin sedikit mengerutkan dahinya. "Ia hanya seorang remaja kecil yang selalu berlindung di bawah ketiak sang ayah Jongin" Dan ia pun meneruskan langkahnya menuju pintu.

"Tunggu..apa maksudmu dengan seorang remaja?"

Lagi-lagi Sehun menghentikan langkahnya. Sambil terus berdecak, ia berbalik menatap Jongin. Memaparkan tugas yang diberikan oleh bos mereka tadi malam.

.

Dan disinilah Jongin kini.

Berada di dalam mobil, yang terparkir tidak jauh dari sebuah kediaman mewah, lengkap dengan penjagaan di depannya. Ia sendiri tidak mengerti, apa yang membuat dirinya rela meninggalkan ranjang nyamannya, hanya untuk berdiam di dalam mobil selama berjam-jam.

Penantian panjang Jongin membuahkan hasil. Sosok remaja lelaki yang menjadi objek stalkingnya, baru saja keluar dari kediaman itu. Raut wajahnya berbeda dari terakhir ia melihatnya. Tak ada eye smile yang berbinar kini, digantikan oleh sorotan mata redup yang menecerminkan kesedihan mendalam.

Sekali lagi Jongin tak mengerti, mengapa ia rela meninggalkan mobilnya di tempat tadi, dan justru berakhir berdiri berhimpitan di dalam bis. Tak jauh dari objek yang ia ikuti.

Jongin turun ketika remaja di depannya juga turun. Dalam hati, ia mengumpat kesal. Dari semua tempat yang ada di Korea, mengapa si remaja itu memilih berkunjung ke tempat ini, tempat yang paling Jongin hindari. Sebuah taman di pinggiran sungai.

Tidak ada alasan khusus, hanya saja Jongin merasa malas menginjakkan kakinya di tempat-tempat seperti ini. Sebuah tempat yang dipenuhi sepasang kekasih yang saling memadu cinta. Suatu hal yang tak berguna dan sangat membuang waktu baginya. Hingga membuat dirinya sampai detik ini tak pernah melibatkan perasaan pada siapapun.

Selain itu, tempat seperti ini akan semakin menyulitkan dirinya untuk mengintai seseorang. Salah satu langkah saja, dirinya bisa terpergok dan akan berakibat buruk nantinya.

Jongin menghentikan langkahnya, ketika remaja yang berjarak sekitar 8 meter di depannya, juga berhenti dan duduk di salah satu bangku taman. Sama seperti sebelumnya, Jongin hanya memperhatikan gerak gerik remaja itu dalam diam. Yang sesungguhnya, tidak perlu dilakukan olehnya. Karena ia hanya diperintahkan untuk mengawasi remaja itu ketika berada di kediamannya, bukan sampai sejauh ini.

Dirinya pun tak mengerti apa yang membuat tubuhnya melangkah jauh sampai kesini. Yang jelas, ia tidak begitu merasa menyesal, dan justru sedikit terhibur melihat tingkah lelaki di depannya itu. Terbukti dari kekehan kecil yang mengalun dari bibirnya.

Lelaki itu sungguh naif dan menggelikan pikir Jongin. Bagaimana bisa seorang lelaki yang dapat dikatakan sudah beranjak dewasa, melakukan hal konyol seperti itu. Yakni mengambil seekor puppy yang lewat di dekatnya, menaruhnya di pangkuannya, lalu mengajak bicara hewan kecil itu layaknya seorang manusia seperti dirinya.

Jongin hampir kelepasan menahan tawanya, saat melihat remaja itu mencebikkan bibirnya karena tidak mendapat tanggapan dari di anjing. Akhirnya anjing kecil itu dilepaskan, bersamaan dengan perubahan ekspresi dari si lelaki naif. Sorotan matanya nampak menerawang jauh, dan memancarkan luka di dalamnya. Membuat seseorang yang sejak tadi mengintainya, berkali-kali menggelengkan kepala, menampik dorongan asing yang menjalari pikirannya.

Kau tidak bisa merubah takdirnya Jongin...

Kalimat itu terus diucapkan berulang-ulang di dalam benaknya. Bagai sebuah mantra yang berguna untuk menguatkan keyakinannya dan berpegang teguh pada pendiriannya. Jongin memutuskan untuk mengakhiri kegiatan mengintainya saat itu juga, Terlalu lama berada di dekat lelaki itu sepertinya memberikan dampak buruk bagi dirinya. Terutama hatinya.

Baru beberapa langkah ia menapak, sesuatu yang mencurigakan membuatnya berhenti sesaat. Dua pria berperawakan besar terlihat saling berbisik dan tersenyum penuh arti sambil mendekati remaja lelaki tadi. Dan dugaan Jongin sangat tepat, ketika salah satu dari pria tersebut mengeluarkan sebilah pisau kecil dari sakunya.

Bugh! Bugh!

Harusnya Jongin sudah pergi dari tempat ini diam-diam, namun lihatlah...

Ia justru repot-repot membuang tenaganya melawan kedua pria tadi hanya untuk menjaga sosok yang diintainya sejak tadi. Tidak perduli bahwa lelaki itu sudah berdiri di belakangnya dengan ekspresi terkejut. Dan bahkan mungkin ia juga tidak perduli jika kegiatan mengintainya diketahui oleh si bocah.

Uhukk!

Darah mengalir dari mulut salah satu pria tadi akibat tendangan yang dilayangkan Jongin di perutnya. Sementara yang lain, sudah tumbang lebih dulu dan tergeletak di atas tanah. Jongin berdecih melihat kedua pria yang kini sudah tak berdaya melawannya. Lawan yang terlalu mudah baginya.

"Ehm..tuan..?"

Jongin masih sibuk mengatur nafasnya dan menepuk-nepuk jaketnya yang sedikit bernoda akibat perkelahiannya tadi. Hingga membuat dirinya tidak begitu fokus mendengarkan suara kecil yang memanggilnya dari belakang.

"Tuan..anda baik-baik saja?" Lelaki muda itu sedikit menaikkan volume suaranya.

Jongin terpaku seketika. Tubuhnya seakan sulit digerakkan. Sepertinya kesadarannya baru kembali ke otaknya sekarang. Sejak tadi ia hanya sibuk berkelahi, sampai melupakan keberadaan sosok di belakangnya.

Melihat sang penolongnya yang tak kunjung menjawab, remaja mungil itu menapakkan kakinya mendekati pria itu. "Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih tuan" tangan kecilnya terangkat untuk menarik lengan lelaki di depannya, agar ia bisa melihat wajah pria yang telah menolongnya itu.

"Siapa namamu tuan?" sambil berucap tangannya semakin menarik tubuh lelaki itu. Hanya sedikit lagi, dan...

Kedua mata sipit milik remaja itu melebar sempurna. Disaat ia hampir melihat wajah si penolong, tangannya justru dihempaskan, lalu meninggalkan dirinya dengan tergesa-gesa. Ia mengangkat kedua bahunya dan memutuskan untuk meninggalkan taman. Namun sesuatu berwarna kecokelatan yang ada di depannya, menarik perhatiannya untuk berhenti.

Flashback End

...

Chanyeol mengangguk kecil mendengarkan cerita Jongin tentang tugasnya. Yang tentunya tidak diceritakan semuanya oleh Jongin. Terutama pada bagian dirinya bertindak bodoh layaknya pahlawan demi menolong lelaki tersebut.

Sebuah gelas terisi penuh oleh wiski, kembali diulurkan oleh Chanyeol. "Minumlah. Kau sudah bekerja seharian." Jongin menyambutnya sambil tersenyum lebar. Menyesapnya dengan cepat, merasakan kenikmatan wiski mahal itu mengalir di kerongkongannya.

"Seleramu memang patut dipuji hyung. Rasanya aku ingin menghabiskan wiski ini sendirian"

"Habiskan saja. Itung-itung sebagai ucapan terima kasihku"

Jongin mengernyit. "Untuk?"

"Menyelamatkanku beberapa saat yang lalu"

Jongin masih belum mengerti akan apa yang telah ia perbuat. Ia putar lagi memori di dalam otaknya, berusaha mengingat tentang apa saja yang ia lakukan beberapa saat lalu. Yang sialnya begitu sulit karena hanya ada gambaran lelaki mungil itu yang tergambar jelas di ingatannya.

Chanyeol memutar kedua mata bulatnya melihat Jongin masih sibuk mengingat-ingat.

"Ketika kami berciuman tadi Jongin"

"Ah ya aku ingat!" Jongin mengangguk kecil sambil menggaruk tengkuknya canggung. " Tapi aku pikir, kau ingin kami pergi dan melanjutkannya tadi? Aku lihat kau cukup menikmatinya hyung" Seringai jahil terlukis di sudut bibirnya. "Kupikir juga lelaki itu tidak buruk untuk memuaskanmu hyung" ejeknya.

Chanyeol menggeleng tegas. "Tidak sama sekali. Aku hanya pria biasa yang tentunya akan bergairah jika ada yang memancingku." Ia bangkit dari duduknya menuju sisi jendela. "Aku hanya berbagi tubuh, bukan perasaan. Dan Kyungsoo terlalu serakah meminta keduanya dariku"

"Ya..itulah dirimu hyung.." Jongin bergumam pelan. Ia juga ikut bangkit dari duduknya, lalu menyandarkan lenganya di sisi jendela sebelah Chanyeol. Dengan kedua tangan yang terlipat di dadanya, ia tatap Chanyeol dengan raut keseriusan.

"Hyung.." Jongin berucap pelan dan sedikit waspada. "Bagaimana jika sesungguhnya lelaki itu juga menanggung rasa sakit seperti yang kau alami?" Jongin berhenti sesaat untuk memperhatikan perubahan gestur tubuh lelaki di sebelahnya. Melihat tak ada tanggapan darinya, Jongin melanjutkan ucapannya.

"Akankah kau berhenti untuk menuntut pembalasan padanya?"

Jongin merasakan aura membunuh dan penuh amarah dari lelaki di sebelahnya. Rahang Chanyeol mengeras, kedua tangannya mengepal, dan sorot matanya berkilat penuh kebencian.

"Tidak akan Jongin" nadanya merendah penuh ancaman. "Tak peduli ia sedih, senang atau apapun itu. Disaat aku bertemu dengannya nanti, maka saat itu juga aku akan berkuasa akan dirinya"

Jongin bergidik mendengar kalimat yang meluncur begitu lantangnya dari mulut Chanyeol.

Namun di dalam hati kecilnya, ia berharap yang terbaik untuk lelaki itu, untuk Chanyeol, dan sepertinya juga untuknya sendiri..

""Kalau begitu temukanlah diriku. Dan aku akan memberimu sesuatu sebagai hadiahnya"

"Apa itu?"

"Seluruh hidupku"

.

.

.

Sambil membawa kotak kecil di tangannya, Baekhyun celingak-celinguk membaca nama dari gedung-gedung apartemen di depannya. Senyuman kecil terpampang di wajahnya, ketika salah satu nama apartemen mewah sesuai dengan yang tertera di kartu identitas di gengamannya.

Dengan sedikit grogi, ia melenggang masuk dan langsung memasuki lift. Sejak di lantai dasar tadi ia berulang kali meyakinkan hatinya untuk tidak boleh mundur. Bahwa apa yang ia lakukan kali ini semata-mata untuk membalas atas apa yang telah ia terima beberapa hari lalu. Ia pandang kotak kecil di tangannya dan tiba-tiba rasa optimis merasuki dirinya.

Namun keyakinannya tadi menguap begitu saja ketika ia sudah sampai di depan pintu kamar apartemen tujuannya. Baekhyun menarik nafas panjang, berdoa sejenak, dan akhirnya memutuskan untuk memencet bel di depan pintu. Tidak ada jawaban sampai bel yang kedua.

Hingga pada bel ketiga, suara langkah kaki terdengar mendekati pintu.

"Berhenti memencet belnya—"

Baekhyun tersenyum canggung dan sedikit merona melihat lelaki bertelanjang dada di depannya, hanya terpaku menatapnya. Ia berdeham keras untuk mencairkan suasana. "Emm..maaf menganggu anda Tuan..Tuan.."

Baekhyun merutuki dirinya yang tiba-tiba melupakan nama dari pria tampam di depannya. Ia baca lagi kartu identitas milik lelaki itu, yang sejak tadi berada di genggamannya.

"Tuan Kim Jongin"

"Aku hanya ingin memberikan sesuatu sebagai ucapan terima kasih, karena telah menolongku waktu itu" lanjutnya. Senyuman manis menemani kalimat yang ia ucapkan. Membuat si pemilik apartemen semakin mematung dalam posisinya.

Baekhyun semakin merasa canggung dibuatnya. Maka ia ulurkan tangannya untuk menepuk-nepuk pelan bahu kekar milik lelaki itu, agar ia sadar akan kehadirannya.

Dan sepertinya itu berhasil, karena Jongin langsung berjengit dan berdeham cukup keras.

"Ah ya..ya. Masuklah ke dalam"

Jongin memiringkan tubuhnya untuk membiarkan Baekhyun masuk terlebih dahulu. Sambil menutup pintu ia geleng-geleng kepala, tak mengerti akan kejanggalan yang terjadi pada dirinya. Sepertinya tepukan yang nampak seperti belaian lembut di bahunya tadi, telah mengacaukan pikirannya.

Melihat Baekhyun masih berdiri di ruang tv, Jongin pun mengulurkan tangannya ke arah sofa untuk mempersilahkan tamunya itu untuk duduk. Dan ia pun menyusulnya tak lama setelah ia memakai sweater berwarna cokelat polos.

"Ada apa?"

Baekhyun kembali gugup mendengar nada dingin dari si pemilik ruangan. "Seperti yang kubilang sebelumnya, aku...ingin mengucapkan terima kasih padamu. Dan juga.." Baekhyun membuka kotak yang sejak tadi telah dibawa olehnya.

"Selamat ulang tahun Tuan Kim Jongin. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu"

Deg!

Degupan keras terdengar dari jantung miliknya. Desiran asing melingkupi seluruh tubuhnya. Namun tidak dipungkiri..hatinya turut menghangat akan perlakuan lelaki itu, dan Jongin mengaku itu.

Ini adalah yang pertama baginya, mendapati seseorang memberikan kue ulang tahun untuknya. Mungkin sederhana bagi orang lain, namun tidak bagi dirinya. Jangan lupakan perlakuan buruk yang selalu diterimanya sejak kecil. Membuatnya tidak pernah merasakan masa bahagia ketika merayakan ulang tahunnya.

Sesungguhnya, Chanyeol, Sehun dan juga bosnya, selalu merayakan hari jadinya setiap tahun. Namun apa yang bisa diharapkan dari sekumpulan lelaki tak berhati. Bukan kue ulang tahun dan minuman soda, namun bubuk putih dan berbotol-botol minuman memabukkan yang selalu ia dapatkan.

"Ehm..Saat itu kau menjatuhkan dompetmu, dan aku perlu melihat kartu identitasmu untuk mengembalikannya. Lalu aku tak sengaja membaca tanggal kelahiranmu. Jadi.." Baekhyun menggaruk kepalanya malu "Jadi selain untuk mengucapkan terima kasih, aku putuskan untuk membeli kue ulang tahun untukmu. " Senyuman lebar nan tulus mengembang di wajahnya.

Jongin mengangguk kaku. Tak hentinya ia menatap senyuman manis milik lelaki itu. Sekuat tenaga ia menahan dirinya untuk tidak berlari menerjangnya dan membawa Baekhyun dalam pelukannya.

Hingga akhirnya nada dering dari handphone miliknya, membuat Jongin tersadar kembali. Sungguh waktu yang tepat pikirnya.

Atau mungkin tidak, ketika suara tak asing menggema di telinganya.

'Ya Sehun?'

'Kau ada di apartemen kan?'

'Ya kenapa?'

'Chanyeol hyung ingin merayakan ulang tahunmu di mansionnya nanti malam'

Jongin sedikit gugup mendengar nama Chanyeol. 'Baiklah nanti aku kesana'

'Tidak perlu. Chanyeol hyung sudah sampai di apartemenmu'

'APA?!'

'YA! JANGAN TERIAK—'

Dan Jongin begerak tidak karuan. Sejak menutup telponnya tadi ia hanya mondar-mandir di ruang tv. Membuat Baekhyun yang melihatnya sedikit kebingungan.

Ting Tong

Suara bel dari pintunya, layaknya suara malaikat kematian yang memanggil dirinya. Nampaknya julukan tersebut tidak berlebihan, mengingat siapa sosok yang berdiri di balik pintu.

"Jongin.."

Sepanjang hidupnya, Jongin telah berkali-kali melewati sesuatu yang berbahaya dan meningkatkan adrelinnya. Namun kali ini sungguh berbeda, dan untuk pertama kalinya ia panik akan itu. Tanpa membuang waktu sia-sia, ia tarik lengan Baekhyun memasuki kamar pribadinya. Mengabaikan tatapan bingung dari lelaki yang lebih muda darinya itu.

"Dengar baik-baik" Jongin menangkup kedua pipi Baekhyun. "Yang diluar sana adalah seseorang yang sangat jahat. Lebih baik kau segera keluar dari tempat ini" Jongin membuka lebar jendela kamarnya, lalu tanpa aba-aba menggendong Baekhyun melewati jendela.

"Terus jalan ke kanan, dan kau akan menemui tangga darurat di ujung bangunan."

"T..ttapi..tapi-"

"Cepatlah!"

Baekhyun masih tak mengerti apa yang terjadi, namun ia menurut dan melangkahkan kakinya menjauh dari jendela. Namun baru dua langkah..

Cup!

"Terima kasih untuk kuenya Baekhyun.." Pertama kalinya, Jongin tersenyum hangat.

Sambil memegangi bibirnya yang sedikit basah, Baekhyun berlari kaku meninggalkan tempat itu. Ia sempatkan untuk menengok ke belakang. Hanya untuk memberikan senyuman manis pada lelaki yang baru saja menciumnya.

.

Bayangan Baekhyun sudah menghilang dari pandangannya kini. Dengan langkah tergesa-gesa ia menuju pintu untuk menyambut tamunya yang sejak tadi berdiri di tempat itu.

"Ohh Chanyeol hyung" Jongin memasang ekspresi terkejut penuh kepalsuan. "Maaf tadi aku dari toilet hyung. Silahkan masuk"

Tanpa berbicara, Chanyeol melangkah masuk, dan diikuti oleh Jongin di belakangnya.

"Sepertinya kau baru saja kedatangan tamu?" tanya Chanyeol sambil bersandar di dekat jendela dan melirik kue ulang tahun di atas meja. Jongin mengumpat dalam hati. Karena terlalu terburu-buru tadi, ia sampai lupa menyingkirkan kue ulang tahun itu.

"Ah tidak hyung. Ehm tidak ada, kue itu aku yang membelinya tadi siang"

Suara Jongin yang bergetar, serta gerak-gerik kegugupan dari Jongin, tak satupun luput dari pandangan Chanyeol. Ia tahu Jongin sedang berbohong. Namun untuk apa? Dan mengapa?

Hingga akhirnya, ketika sesuatu di luar sana menarik perhatiannya, Chanyeol baru mengetahui alasan Jongin membohonginya.

Sambil memasang wajah tak berekspresi, ia menjauh dari jendela dan memilih duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan kue ulang tahun itu. Kedua matanya terus menatap tajam kearah kue tak bersalah itu. Membuat Jongin semakin waspada, karena tempat yang diduduki Chanyeol sekarang sama dengan yang diduduki oleh Baekhyun tadi.

"Selera parfummu berubah Jongin?"

Jongin mengernyit dan menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku bahkan baru saja membeli merk yang sama"

"Begitukah?" Jongin mengangguk. "Lalu..mengapa ada aroma asing disini?" Chanyeol menatap penuh arti pada dirinya. "Seperti aroma milik seseorang yang telah lama kukenal" seringai misterius mengakhiri ucapannya.

Jongin terbungkam sempurna. Park Chanyeol memang tidak pernah bisa dibohongi, Apalagi jika itu menyangkut tentang Baekhyun. Lidah Jongin terasa kelu hingga tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Namun Chanyeol justru tertawa setelahnya. "Hey lihat wajahmu!" ucapnya masih sambil tertawa yang bagi Jongin cukup mengerikan.

"Sudahlah lupakan saja. Mungkin ini aroma dari kue ulang tahunmu Jongin"

"Hmm..ya sepertinya begitu hyung" Jongin tertawa canggung. Ia tahu pasti tawa Chanyeol tadi adalah sebuah tawa palsu. Dan ia harus berhati-hati mulai dari sekarang.

"Aku permisi ganti baju dulu hyung"

Chanyeol hanya mengangguk sebagai jawaban. Mempersilakan Jongin untuk meninggalkannya sendiri di ruangan itu.

"Aku tidak akan memaafkanmu untuk yang kedua kalinya Jongin.."

.

.

.

Kedua mata Baekhyun berbinar memandangi gedung berlantai 7 yang ada di depannya. Mulai hari ini, Baekhyun akan menjalani waktu magangnya di perusahaan ini. Meskipun ini hanya cabangnya saja, setidaknya Baekhyun bersyukur karena telah diterima di salah satu perusahaan bergengsi di tempatnya.

Dengan keceriaan dan semangat tinggi, Baekhyun melangkahkan kakiknya menuju lobi. Terlebih dahulu ia menemui resepsionis, untuk mencari seseorang yang akan membimbingnya nanti. Tak sampai 10 menit, seorang wanita dengan langkah elegan, mendatanginya.

"Byun Baekhyun?"

"Benar. Senang berjumpa denganmu Nyonya Han. Mohon bimbingan darimu Nyonya"

Nyonya Han tersenyum mendapati sikap Baekhyun yang begitu sopan dan manis. "Tentu saja Baekhyun. Mari ikuti saya"

Baehyun pun mengekori Nyonya Han di depannya. Sepanjang lobi, ia terus mendengar beberapa karyawan membahas topik yang sama.

'Kabarnya, Direktur Pusat mulai bekerja dikantor ini hari ini'

Itulah yang sejak tadi Baekhyun dengar dari beberapa karyawan yang ia lewati. Namun ia tidak mau ambil pusing, dan terus mengikuti Nyonya Han sampai memasuki lift. No 7 adalah nomor lantai yang dipencet oleh wanita itu. Kalau tidak salah, lantai teratas adalah ruangan tempat Direktur berada pikir Baekhyun.

Dan dugaannya tepat, ketika ia melangkah keluar dari lift dan melihat hanya ada satu ruangan di lantai itu. Ruangan dengan papan nama Direktur Utama di atasnya.

"Ehm..Nyonya..bukankah tempatku bukan disini?"

Nyonya Han hanya menggeleng sambil tetap melangkahkan kakinya. Sampai di depan pintu sang Direktur, baru ia berhenti dan menoleh pada Baekhyun.

"Mulai hari ini kau akan ditempatkan di posisi sekretaris pribadi Direktur. Beliau sendiri yang memintanya langsung"

Baekhyun baru saja hendak mengucapkan sesuatu, namun didahului oleh tangan Nyonya Han yang mengetuk pintu itu.

"Masuklah" ucapnya ketika pintu itu telah terbuka.

"A..aa..aku masuk sendiri?"

Nyonya Han mengangguk, lalu pamit undur diri dari tempat tersebut. Dengan langkah gugup, ia melenggang masuk ke dalam. Entah mengapa perasaan buruk menghinggapinya.

Ruangan besar dengan wallpaper biru laut, adalah yang pertama ia lihat ketika memasuki ruangan itu. Pandangan terus menelusuri sekitar, hingga berhenti pada seseorang yang memunggunginya di balik meja. Ia memicingkan matanya untuk melihat sosok yang nampak tak asing baginya.

Sosok itu bangkit dari duduknya, dan dengan langkah pelan namun menakutkan, ia mendekat pada lelaki mungil yang sedang mematung di tempatnya. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya, untuk mensejajarkan wajah mereka berdua.

"Senang bertemu denganmu..Baekhyunnie." bisiknya tepat di depan wajah Baekhyun. Dengan berani ia mengikis jarak di antara mereka, menyudutkan Baekhyun di pintu, lalu meraup bibir tipis milik lelaki tersebut. Lelaki itu sudah menggerakkan bibirnya, sementara Baekhyun hanya diam seperti tak bernyawa.

Hingga ketika tangan besar lelaki itu bergerak merabanya, Baekhyun baru mendapatkan kembali kesadarannya. Ia dorong lelaki itu sekuat tenaga agar menjauh darinya, lalu berbalik untuk membuka pintu.

"Sayang sekali, pintu itu tak bisa dibuka begitu saja Baekhyun"

Baekhyun bergidik ketika hembusan nafas mengenai tengkuknya. Ia membalikkan lagi tubuhnya dan menatap nyalang pada lelaki di depannya.

"Lepaskan aku"

Lelaki itu tak bergeming dan justru kembali mendekati pria itu.

"Kumohon Park Chanyeol.."

Baekhyun tentu tidak akan pernah melupakan sosok di depannya ini. Park Chanyeol, seseorang yang pernah ia tinggalkan di masa lalu. Dengan wajah memelas, Baekhyun menatap Chanyeol. Membuat yang lebih tinggi sedikit terganggu akan tatapan itu.

Baekhyun mendongak ketika Chanyeol mengangkat dagunya.

"Tidak akan lagi kulepaskan sesuatu yang telah menjadi milikku"

.

.

.

TBC

.

.

.

Masih mau dilanjut? Revieewwww

P.s. terima kasih untuk yang sudah follow, fav dam terutama bagi yang berbaik hati mengisi kolom review hehe.

P.s.s terima kasih juga buat salah satu fans baekhyun yang gamau disebut namanya, yang selalu memberikan ide-idenya untuk ff ini pffttt