Someone Behind You
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Kim Jongin
Oh Sehun
Do Kyungsoo
And other cast
.
.
.
"Chanyeol..."
Bila rindu sudah menunjukkan kuasanya, maka apa artinya sebuah akal sehat. Atas dasar rindu yang tercampurkan hasrat, menjadi alasan dibalik penyerahan diri Baekhyun saat ini. Tidak ada penolakan maupun perlawanan berarti, ketika tubuhnya semakin tersudutkan, dengan sentuhan-sentuhan di setiap inci tubuhnya.
"Kau milikku" ucapan bernada keposesifan, terucap dari mulut Chanyeol. Entah sudah berapa kali, ucapan kepemilikan itu terlontar dari bibir tebalnya. Beriringan dengan tanda kepemilikan yang ia bubuhkan di leher jenjang milik lelaki mungilnya. Lebih dari rasa bencinya, gairahnya lebih menguasai pikirannya. Terlebih ketika lelaki itu mulai patuh pada kuasanya, dan lenguhan kecil darinya yang terus menggelitik telinga Chanyeol.
Di sela-sela batas pertahanan dirinya yang semakin melemah, Baekhyun masih sanggup mengamati satu hal, yakni pada bagian leher dan pergelangan tangan Chanyeol. Sebuah bekas luka goresan panjang, yang ia yakini belum ada ketika mereka masih bersama dulu. Dan dalam sekejap, dugaan mengerikan satu-persatu mulai muncul di benaknya.
Tak kuat menahan perasaan yang begitu membuncah di hatinya, Baekhyun bergerak cepat, melingkari tubuh Chanyeol dengan kedua tangannya. Begitu erat rengkuhannya, hingga mampu menghentikan cumbuan panas di lehernya.
"Maaf" lirih Baekhyun.
Hening. Tidak ada sahutan balasan, selain tubuh Chanyeol yang menegang di pelukan Baekhyun.
"Apa yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku hmm? Aku ingin-
"-tidak ada" Chanyeol berucap begitu dingin, dengan tatapan menusuk ketika ia mengangkat pandangannya. "Aku telah memberimu satu kali kesempatan. Aku rela melupakan semuanya, asal kau kembali saat itu" lanjutnya lagi, dan disusul kekehan kejam setelahnya. "Namun kau tidak pernah datang, bahkan disaat aku hampir meregang nyawa...kau tidak ada di sana Baekhyun"
Baekhyun terpaku, namun ia memakluminya. Saat itu, disaat Chanyeol yang begitu rusak dan hampa sedang mencoba untuk bangkit bersamanya, Baekhyun justru memilih pergi begitu saja. Meninggalkannya bersama fakta mengerikan, mengenai ikatan kejam antara kedua orang tua mereka.
"Dan aku bersumpah. Tidak akan ada kesempatan lain untukmu" kebencian mendalam tersirat dari ucapan Chanyeol.
Baekhyun tak gentar, meski tubuhnya sedikit gemetar. Sambil mengunci pandangannya pada Chanyeol, ia genggam kedua tangan lelaki itu, kemudian membawanya untuk menangkup lehernya.
"Bunuhlah aku..."
Chanyeol semakin menatap tajam, sementara Baekhyun memberikan senyuman tulusnya. Ia tekan kedua tangan Chanyeol di lehernya kemudian.
"Bunuh aku, jika itu membuatmu bahagia" ulang Baekhyun kembali, diucapkan dengan penuh keyakinan. Ia pejamkan matanya, menunggu apa yang akan dilakukan oleh lelaki di depannya.
Namun bukan suatu gerakan yang Baekhyun rasakan, melainkan tawa kecil dengan aura mengerikan di dalamnya. Baekhyun membuka matanya kembali, dan menemukan kilatan amarah yang lebih besar dari tatapan Chanyeol.
"Kau pikir semudah itu?" sebelah tangan Chanyeol melesak dari leher Baekhyun, untuk menahan dagu lelaki itu terangkat menghadapnya.
"Selama sepuluh tahun aku menjalani hidup mengerikan, hingga kematian menjadi pilihan terbaik yang bisa kuambil saat itu. Dan kini, dengan entengnya kau meminta kematian, lalu selesai begitu saja?" Chanyeol berdecih merendahkan.
"Akan kutunjukkan padamu...apa yang kurasakan selama sepuluh tahun ini Baekhyun"
Itulah sumpah Chanyeol, yang selalu ditanamkan dalam dirinya selama sepuluh tahun terakhir. Yang menjadikan alasan baginya untuk tetap hidup. Yang perlahan-lahan mengikis rasa cintanya untuk lelaki itu.
Selesai mengucap sumpahnya, Chanyeol memilih mundur menjauh, kembali ke meja singgasananya. Jemari besarnya nampak mengetikkan sesuatu pada tombol telepon di atas meja.
"Nyonya Han, bawakan laporan keuangan selama tiga tahun terakhir ke ruanganku sekarang" perintah Chanyeol singkat dan mutlak melalui telpon.
Mata bulat nan tajam itu kemudian bergulir menuju sosok Baekhyun yang masih termangu di depan pintu masuk. "Apakah berdiri seperti orang idiot satu-satunya kemampuan yang kau miliki?" tanyanya sarkastik.
Baekhyun tersentak, tapi ia memilih diam, dan melangkahkan kakinya menuju meja kecil lengkap dengan tempat duduk, yang berada tak jauh dari pintu.
"Siapa yang megizinkanmu duduk disitu?"suara Chanyeol yang begitu dingin, membuat Baekhyun berdiri kembali."Selain bodoh ternyata kau tidak tahu sopan santun. Apakah ayahmu tidak pernah mengajarimu?"
"Lalu aku harus duduk dimana?!" Baekhyun mulai jengah, namun sebisa mungkin ia menahan letupan emosinya, mengingat posisinya yang tak memiliki kuasa apapun di tempat ini.
"Kau buta?! Atau kau tidak tahu bahwa ini adalah meja?!"
Baekhyun hanya bisa mengumpat dalam hati mendengar kalimat-kalimat pedas dari bibir Chanyeol. Tak mau disemprot olehnya lagi, Baekhyun segera beranjak menuju meja yang dimaksud oleh Chanyeol. Yakni tepat bersebelahan dengan meja megah milik lelaki itu.
Dengan langkah enggan, dan sedikit gugup, Baekhyun mendekati mejanya. Demi apapun, berada di dekat pria itu selama beberapa menit saja sudah membuatnya kacau, apalagi harus berjam-jam di sampingnya.
Kini ia telah sampai di meja tempatnya bernaung selama beberapa hari kedepan. Melihat lelaki tinggi itu nampak fokus pada sesuatu di ponselnya, Baekhyun mengambil kesempatan untuk menggeser meja beserta kursinya, agar menjauh dari meja megah di sebelahnya. Tepat ketika Baekhyun hendak menggeser kursinya-
Sret!
"Kau pikir bisa mengelabuiku hmm?"
-Chanyeol menarik kuat tangan Baekhyun, hingga si mungil terjatuh di pangkuannya.
"Jika kulihat secenti lagi meja itu bergeser, kupastikan tidak ada lagi tempat untukmu...selain di atas pangkuanku" wajah Chanyeol mendekat, sementara tangannya meraba ke bawah. "...tentunya dengan sesuatu yang akan menusuk bokongmu sepanjang waktu..." ancamnya lagi.
Chanyeol menyeringai kejam dengan tangannya yang terus meraba tubuh bagian bawah Baekhyun. Dimulai dari belaian ringan, hingga akhirnya berubah menjadi sebuah remasan penuh gairah. Chanyeol sudah akan melanjutkan tindakannya, sampai sebuah ketukan pintu menyurutkan segalanya.
"Masuk" ucap Chanyeol dari dalam. Tentunya setelah mengembalikan Baekhyun kembali ke mejanya.
Nyonya Han adalah sosok sang pengetuk pintu tadi. Ia datang bersama seseorang di belakangnya, untuk membantunya membawa tumpukan kertas-kertas yang menggunung.
"Taruh di mejanya" sahut Chanyeol sambil menunjuk meja Baekhyun. Dan tanpa banyak bicara, kedua pegawainya itu segera menaruh tumpukan kertas itu dengan hati-hati.
"Ada lagi yang anda minta Tuan?" tanya Nyonya Han.
Chanyeol nampak berpikir, dan sesaat kemudian kembali memandang sang pegawai. "Bawakan laporan kerja minggu ini dari semua bidang ke ruanganku setelah makan siang"
"Baik Tuan. Saya permisi" Nyonya Han menunduk hormat sesaat, kemudian melenggang keluar bersama sang asisten.
Sepeninggal sang pegawai, atensi Chanyeol kembali pada lelaki di sebelahnya, yang sedang mengamati tumpukan kertas di atas meja lelaki itu.
"Cek kembali keuntungan dan kerugian dari perusahaan. Kemudian salin kembali dalam bentuk softcopy, dibuat per bulannya" perintah Chanyeol. "Kau mengerti?!" nadanya sedikit meninggi.
"Ya, Tuan Park" jawab Baekhyun patuh. Tumpukan kertas di meja yang menjadi tatapannya, berganti menjadi sebuah mata bulat nan tajam, milik lelaki yang menarik dagu Baekhyun ke atas.
"Jangan pernah meninggalkan mejamu...sebelum kau menyelesaikan tugasmu" ucapnya tegas.
"Baik hanya untuk ke toilet, maupun untuk makan siang. Mengerti?!"
Dan Baekhyun hanya bisa mengangguk pasrah.
...
Sudah lewat seminggu, Baekhyun menjalani hari-hari layaknya di neraka, lengkap dengan Chanyeol sebagai sang raja neraka. Tubuhnya nampak semakin mengurus, karena Baekhyun tidak pernah diberikan waktu untuk makan siang. Ditambah kedua matanya yang menghitam, akibat panjangnya waktu lembur yang harus ia ambil, membuat jam tidurnya berkurang. Sudah dari awal Baekhyun ingin mundur dari kegiatan magangnya, namun kuasa yang dimiliki lelaki itu telah membungkamnya.
Bukannya Baekhyun lemah, ia juga memiliki sang ayah yang dihormati, hanya saja ia tidak ingin merepotkan ayahnya terus menerus. Selain itu, ada alasan lain yang juga menguatkan dirinya untuk bertahan di sisi lelaki itu.
Rindu.
Baekhyun memukul pelan kedua pipinya, untuk menyadarkan ia dari lamunan kosongnya. Tugas yang harus ia selesaikan masih banyak, tidak pernah berkurang sejak hari pertama ia bekerja. Namun lama-kelamaan Baekhyun mulai terbiasa, bahkan mulai bersyukur. Karena dengan adanya itu, Baekhyun hanya perlu fokus pada tugasnya, mengabaikan segala yang terjadi di sekitarnya. Seperti saat ini.
"Ngghhh faster Yeolhhh"
Wanita ketiga yang mengangkang di atas meja Chanyeol hari ini. Baekhyun berani bertaruh akan ada yang keempat kelima sampai lelaki itu benar-benar puas.
"Ahh..Akkhh!"
Aroma khas bercinta menguar begitu saja setelah sepasang tubuh polos itu mencapai klimaksnya. Baekhyun sudah terbiasa, meskipun di awal-awal ia harus menahan isi perutnya yang bergejolak. Serta denyutan nyeri di hatinya.
...
Kondisi tubuh yang fit dan cadangan energi yang berlebih, adalah hal-hal penting yang harua dimiliki Baekhyun untuk menjalani rutinitasnya di perusahaan Chanyeol. Namun sayangnya ia tidak memiliki keduanya di hari ini.
Kelelahan bekerja ditambah flu yang melanda akibat pulang dalam keadaan basah kuyup, membuat Baekhyun bangun terlambat, melewatkan sarapannya, dan berangkat dengan flu yang semakin parah.
Awalnya Baekhyun menolak keras, ketika pagi tadi sang ayah ingin menawarkan diri untuk meminta izin sakit pada atasannya. Jelas saja, karena ia tidak ingin ayahnya mengetahui bahwa Chanyeol adalah atasannya. Namun kini ia mulai menyesal, ketika tugas yang diberikan padanya hari ini bertambah dari hari sebelumnya.
Saat ini sudah memasuki jam makan siang, namun tugas yang dilimpahkan padanya masih belum selesai. Meskipun kepalanya semakin berdenyut, tangannya mulai bergetar, Baekhyun tetap bekerja keras untuk menyelesaikan tugasnya, agar ia bisa segera mengisi perutnya atau langsung kembali ke rumah.
Namun bukan Chanyeol namanya jika semenit saja ia tidak menyiksa Baekhyun. Tepat disaat netranya menangkap kertas terakhir sudah diletakkan Baekhyun di mejanya, Chanyeol melancarkan aksi selanjutnya. Ia bangkit dari mejanya, kemudian melenggang menuju pintu keluar.
"Tugasmu belum selesai. Asisten Nyonya Han akan mengantarkan beberapa dokumen selanjutnya." perintahnya tanpa berbalik. Knop pintu sudah ia buka, namun ia berhenti sejenak sebelum keluar. "Jangan berani-berani keluar dari ruangan ini selama aku tidak ada"
Helaan nafas panjang dihembuskan oleh Baekhyun. Ia hanya bisa berharap semoga tubuhnya masih mampu bertahan hingga jam pulang nanti.
Hanya selang beberapa menit setelah Chanyeol keluar, masuklah seorang lelaki muda, yang Baekhyun ketahui sebagai asisten Nyonya Han. Di tangannya terdapat tumpukan berkas yang kemudian ia letakkan di meja Baekhyun.
"Wajahmu sangat pucat. Kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.
Baekhyun menggeleng sambil tersenyum tipis. "Aku tidak apa-apa" jawabnya singkat, dan tentu saja ia berbohong.
Lelaki muda itu menggangguk paham. "Tunggu sebentar, aku akan kembali lagi"
Baekhyun mendengus malas. Tumpukan kertas di depannya, sudah melewati kepalanya dan sepertinya akan bertambah lebih dari ini. Mengingat lelaki tadi akan kembali lagi ke ruangan ini.
Nampaknya dugaan Baekhyun salah besar. Bukannya tumpukan kertas memuakkan yang dibawa oleh lelaki itu, melainkan dua potong sandwich hangat. Dengan mata berbinar, Baekhyun menerima sandwich yang disodorkan di depan matanya.
"Cepat habiskan sebelum Tuan Park kembali"
"Ya! Terima kasih tuan, terima kasih!" sahut Baekhyun penuh haru. Lelaki itu tersenyum lebar melihat sikap Baekhyun, kemudian pamit undur diri padanya.
...
Sekitar 20 menit setelah Baekhyun mendapat santapan siangnya, Chanyeol tiba-tiba muncul kembali ke ruangan. Dalam hati Baekhyun bersyukur mejanya bersih seperti semula, tidak ada tanda-tanda dirinya telah mengonsumsi sesuatu.
Seperti biasa Chanyeol masuk dengan angkuhnya, dan Baekhyun baru sadar pria itu tidak kembali sendirian. Nampak sosok mungil di belakangnya, yang ternyata adalah seorang lelaki. Wajahnya manis dan kekanakkan, sangat mirip dengan perawakan Baekhyun.
Baekhyun mengira lelaki itu adalah salah satu pegawai Chanyeol. Namun ketika dalam hitungan detik Chanyeol telah mencium penuh hasrat lelaki manis itu, Baekhyun tahu lelaki itu termasuk dalam jajaran pemuas gairah Chanyeol. Dan jauh di dalam lubuk hati Baekhyun, ia lebih memilih melihat Chanyeol bercumbu dengan berbagai wanita, ketimbang seorang pria, apalagi seseorang yang mirip dengannya. Baekhyun tak rela.
"Aaahk!..ssakith Chanhh henti-ahk!"
Dua jam telah terlewati namun Baekhyun masih tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Sesungguhnya ia sudah biasa melihat pemandangan di depannya ini, dan biasanya ia menghiraukannya begitu saja. Tapi lihat kini, seluruh inderanya seolah terfokus pada kedua insan yang masih terus bergerak di depan sana.
Menurutnya Chanyeol berbeda hari ini. Lelaki itu begitu kasar, seolah lelaki mungil yang sedang menungging di lantai itu tak lebih dari seorang jalang. Bahkan Baekhyun tak sengaja melihat sebuah cock ring di penis lelaki mungil itu, dan sebuah dildo di lubang anusnya. Ditambah lagi penis besar Chanyeol yang terus merangsek masuk, membuat Baekhyun meringis ngilu membayangkannya.
Brakk!
Kedua mata Baekhyun membola, melihat kedua lelaki itu berpindah tempat. Tepatnya di mejanya. Ekspresi lelah bercampur sakit dari raut lelaki mungil itu begitu jelas terlihat oleh Baekhyun.
"Sebut namaku"
"Ch...a..n"
"Lebih keras bodoh!"
Plak Plak
"Akhhh! Chanhh.."
Baekhyun mengernyit prihatin. Dapat ia lihat kedua bokong lelaki itu memerah sempurna karena pukulan Chanyeol yang begitu kuat. Belum lagi tusukan Chanyeol yang begitu cepat dan berhasrat, membuat lelaki itu tersentak hingga dadanya terkena pinggiran kaca meja Baekhyun.
Entah apa yang sedang merasukinya, membuat Baekhyun berani membuka suaranya. "Hentikan Chanyeol kau menyakitinya!" Chanyeol nampak tak bergeming. "Chanyeol kau benar-benar kelewa-"
"Tutup mulutmu sebelum aku menarik dirimu menggantikan dirinya" sergah Chanyeol tiba-tiba, lengkap dengan sorotan matanya yang tajam. Sangat sukses membuat mental Baekhyun menciut dan menutup mulutnya.
Setelah memastikan Baekhyun telah bungkam, Chanyeol menarik lelaki mungil yang sedang ditungganginya, hingga keduanya berdiri tegak. Ia lanjutkan sodokannya, masih dengan kecepatan yang menggila.
"Aak..akuh mohonhh lepashhkan alat ini ahh"
Chanyeol menyeringai, kemudian mendekatkan bibirnya pada telinga lelaki itu. "As your wish"
Ia penuhi permintaan lelaki itu untuk mencabut cock ring di penisnya yang sudah membengkak dan memerah. Dan ketika alat itu terlepas...
Crot Crot
Sperma dalam jumlah yang tidak sedikit menyemprot dari penis si mungil, akibat klimaksnya yang tertahan sejak tadi. Cairan itu mengotori meja Baekhyun, bahkan tak sedikit mengenai wajahnya. Dan entah kenapa Baekhyun begitu yakin bahwa Chanyeol memang sengaja melakukan ini padanya.
Tanpa menghiraukan sosok yang terkulai lemas di lantai, Chanyeol dengan cepat menaikkan kembali celana kainnya seperti semula, kemudian melangkah mendekati Baekhyun. Ia duduk di atas meja, tepatnya di bagian yang bersih dari ceceran sperma. Senyuman miring terus menghiasi rautnya seiring jemari tangannya yang menari di layar ponsel miliknya.
'Kuharap ada pegawai baru yang menempati meja di sampingmu besok pagi Nyonya Han'
Baekhyun tercekat mendengar ucapan Chanyeol. Ia tak menyangka lelaki itu mengetahui rahasia kecilnya tadi. Dan kini rasa bersalah melingkupi dirinya, karena orang lain lah yang menanggung akibat dari perbuatannya.
Melihat ekspresi Baekhyun yang tak karuan, membuat Chanyeol semakin tersenyum puas. Ia masukkan kembali ponsel ke sakunya, menggantikannya dengan sebuah sapu tangan.
"Kau pikir bisa mengelabuiku hmm?" ucap Chanyeol sambil membersihkan cairan kental yang mengotori wajah Baekhyun. Sementara si mungil membisu hanya mampu membalas tatapan mematikan dari lelaki di depannya. Pandangan Chanyeol menajam, senyuman di wajahnya pun mengilang. "Aku bukan Chanyeol yang dulu, yang bisa kau bodohi dengan mudahnya Baekhyun!" nada suara Chanyeol meninggi, kemudian melempar sapu tangan miliknya ke wajah Baekhyun.
"Jangan pulang sebelum kau membersihkan ruangan ini. Dan juga..." Chanyeol mendekati wajah Baekhyun. "...sampai kulihat sekali lagi kau menggoda pegawai lain untuk membantumu..." ia tarik dagu Baekhyun mendongak menatapnya. "...maka apa yang kau lihat hari ini, akan terjadi padamu"
Chanyeol melangkah menjauh, setelah mencuri kecupan singkat di bibir tipis milik Baekhyun.
...
Menjelang larut malam, kondisi tubuh Baekhyun semakin mengkhawatirakan. Flu yang memburuk, ditambah lagi kurangnya asupan pada tubuhnya, menjadi penyebab utamanya. Maka masa bodoh dengan amukan Chanyeol, Baekhyun menyudahi kegiatan mengepelnya dan mengambil tasnya untuk segera kembali ke rumah.
Hujan lebat disertai angin kencang, membuat Baekhyun hanya bisa berdiam diri di depan lobi. Sepertinya kesialan belum berakhir menimpanya karena tidak ada satupun yang bisa ia mintai tolong saat ini, ditambah lagi ponselnya telah mati. Hingga ketika dirinya benar-benar putus asa-
Tin Tin
-Sebuah Jaguar hitam mengkilat berhenti di depannya.
"Masuk"
Baekhyun terkesiap sesaat, kemudian berdecak melihat sosok dibalik stir kemudi. Demi apapun lebih baik ia menginap di gedung ini ketimbang satu mobil bersama sang atasannya yang kejam.
"Haruskah aku menyeretmu kedalam?!"
Ketika Chanyeol sudah mengeluarkan ancamannya, maka apalagi yang bisa Baekhyun perbuat selain menuruti lelaki itu, dan masuk ke dalam mobilnya.
Hanya suara rintik hujan yang jatuh membasahi kaca mobil, yang mengiringi perjalanan mereka berdua. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat membuka mulutnya.
Sambil meremat kedua tangannya, Baekhyun menoleh pada Chanyeol, memberanikan diri untuk mengeluarkan suaranya. "A-apakah kau tahu alamat rumahku?"
"Tidak" Chanyeol menjawab singkat tanpa menoleh.
Kegugupan semakin menyelimuti Baekhyun, ketika ia baru menyadari jalanan di sekitar ternyata berlawanan dengan arah rumahnya. "Kita mau kemana Chanyeol?" tanyanya gugup.
"Kita akan pulang" Chanyeol akhirnya menolehkan kepalanya, menampilkan seringai licik dengan pandangan menggelap. "Kerumahku"
Seketika Baekhyun merasa panik, terutama setelah melihat kabut gairah di kedua netra lelaki tinggi itu. Dengan cepat ia melepas sabuk pengaman, kemudia mencoba membuka pintu mobil di sebelahnya. Namun nihil...Chanyeol telah terlebih dahulu menguncinya.
"T-turunkan aku sekarang!" pekik Baekhyun semakin gelagapan. "Kumohon Chanyeol lepaskan aku!"
Ckiiitt!
Secara mengejutkan, Chanyeol mengerem mendadak mobilnya. Andai saja tidak ada tangan Chanyeol yang menahan tubuh Baekhyun, lelaki itu mungkin telah terlempar keluar, mengingat sabuk pengamannya telah terlepas.
"C-chanyeol...aku-"
-turun!" ucap Chanyeol begitu dingin. "Bukankah ini yang kau mau? Cepat keluar!" Ia rampas ransel yang dipangku oleh Baekhyun, kemudian membuangnya keluar. Sukses membuat Baekhyun turun dari mobilnya.
Blam!
Baekhyun meringsut mundur ketika pintu dibanting dari dalam. Tetes hujan yang membasahi wajahnya, menyamarkan tetesan air yang mengalir dari matanya. Ia tidak habis pikir, di malam yang dingin dan derasnya hujan, Chanyeol tega menurunkan dirinya di tengah jalan yang sepi, yang tidak dilewati oleh kendaraan umum.
Sambil terseok-seok Baekhyun terus melangkah. Pandangannya kabur dan kedua kakinya dirasa tidak mampu lagi menopang tubuhnya. Baekhyun terduduk di jalanan yang basah, dengan mata yang mulai terpejam.
Tepat sebelum matanya tertutup sempurna...suara langkah kaki terdengar mendekatinya. Dan kesadaran Baekhyun telah menghilang setelah dirasakan tubuhnya terangkat di udara.
.
.
.
Secercah sinar mentari yang masuk melewati celah tirai, mampu mengganggu tidur nyenyak Baekhyun. Pelan-pelan mata sipitnya terbuka, mengerjap beberapa kali untuk memulihkan kesadarannya.
Dinding yang berwarna biru laut, beserta nuansa kamar khas laki-laki adalah hal yang dilihat oleh Baekhyun ketika ia membuka matanya. Ruangan ini tampak asing baginya, tapi samar-samar rasanya ia pernah melihat desain seperti ini di suatu tempat.
Suara desisan penggorengan, ditambah aroma yang cukup menggiurkan, menggerakkan kaki Baekhyun untuk melenggang keluar. Dengan bermodalkan aroma sedap yang menguar, Baekhyun akhirnya tiba di sebuah dapur minimalis. Senyumnya mengembang ketika melihat sosok sang pemilik ruangan sedang berkutat di depan kompor dengan ponselnya yang mengapit di telinga kanannya.
'Aku sudah memotong woterlnya Hun, selanjutnya apa lagi?'
'Hah?! Aku tidak punya bayam-Oh sialan!-'
Baekhyun terkikik melihat lelaki itu terkena cipratan minyak panas. Perlahan ia mulai mendekati sosok tersebut. "Permisi Tuan-"
'-hey aku tidak mengumpatimu bodoh! Aishh sudahlah jangan banyak bicara, cepat katakan langkah selanjutnya!' Sang pemilik nampaknya masih sibuk dalam dunianya.
Baekhyun melangkah lebih maju dan sedikit menaikkan volume suaranya "Permisi Tuan. Ada yang bisa-"
'-yak sudah kubilang aku tidak punya bumbu seperti itu bodoh! Sungguh kau tidak berguna-"
"TUAN KIM JONGIN!" Baekhyun memekik kuat, membuat Jongin terpaku menoleh ke arahnya. Baekhyun sedikit tidak enak hati dan terkekeh canggung. "Ehm..maaf Tuan Kim membuatmu terkejut. Aku hanya ingin membantumu"
Jongin sedikit salah tingkah dan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Merasa semakin gugup karena dipandangi terus oleh lelaki manis di depannya, Jongin pun akhirnya membuka suara. "Ah..ya..ya silahkan saja. Maaf merepotkanmu"
Baekhyun menggeleng sambil tersenyum manis. "Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena telah membawaku kemari. Silahkan duduk Tuan"
Jongin pun menyerah pada urusan dapurnya dan mendudukkan diri di kursi meja makan. "Panggil Jongin saja dan minumlah dulu ini" ucapnya sambil menunjuk tiga gelas susu hangat di depannya. "Aku tidak tahu yang mana kesukaanmu, jadi aku buat semuanya"
Baekhyun tertawa kecil, kemudian mengambil gelas yang berada di tengah. "Aku selalu suka strawberry. Terima kasih Jongin" dan iapun melanjutkan kegiatan memasaknya.
Pada awalnya, Jongin hanya duduk dengan patuh sambil mengamati cara Baekhyun memasak. Namun ketika si mungil itu mulai meraih bumbu-bumbu di deretan lemari yang cukup tinggi, seketika Jongin berdiri dari tempat duduknya.
Bagaimana tidak? Lelaki tan itu baru sadar Baekhyun hanya memakai kemejanya yang kebesaran, tanpa ada celana maupun pakaian dalamnya. Tentunya setiap si mungil berjinjit ke atas, kemeja yang ia kenakan akan terangkat, hingga menampilkan paha mulus dan bahkan bokong indah yang membuat Jongin hampir 'terbangun'.
"B-bbiar aku bantu Baek"
"Tidak perlu Jongin, kau duduk saja"
"Tt-tapi bajumu.."
"Kenapa dengan bajuku?" tanya Baekhyun heran. Dan ketika melihat tatapan Jongin yang memaku pada bagian bawah tubuhnya, Baekhyun pun ikut melihat pada tubuhnya sendiri, lalu..."AAAAA! APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU!" pekiknya heboh.
Pukulan bertubi-tubi diiringi tarikan brutal pada rambut Jongin terjadi setelahnya. Jongin berusaha melindungi dirinya dengan mencoba mencengkeram tangan Baekhyun. Dan salahlan cipratan minyak di lantai hingga menyebabkan-
Brukk!
-keduanya terpleset di lantai, dengan tubuh Jongin diatas tubuh Baekhyun. Keduanya saling bersitatap, nampak mengamati wajah masing-masing.
Baekhyunlah yang pertama mendapatkan kesadarannya. Pukulan membabi buta kembali dilakukan olehnya. "Dasar mesum! Rasakan ini hah! Rasakaannn!"
"Awh yak! Dengarkan aku dulu!" Jongin mengaduh sambil mencoba menahan tangan Baekhyun. "BERHENTI BAEK!" Dengan kekuatan penuh ia cengkram kedua tangan si mungil, dan sepertinya pekikannya tadi membuat Baekhyun bungkam.
"Maaf aku tidak bermaksud kasar padamu" sesal Jongin ketika melihat Baekhyun nampak takut padanya. "Kau mengalami demam tinggi semalam, lalu melihat baju yang kau kenakan basah kuyup aku putuskan untuk menggantinya. Tapi aku bersumpah aku melakukannya dengan mata tertutup dan sama sekali tidak berniat untuk mengambil keuntungan darimu" jelasnya panjang lebar. "Kau mengerti?"
Baekhyun menggangguk kecil sebagai jawaban. "B-bisakah kau geser tubuhmu?" Ia mulai merasa tak nyaman akan posisi saat ini. "Ah..ya tentu saja" jawab Jongin.
Namun, suatu kesalahpahaman terjadi, dimana Baekhyun terlalu cepat menekuk kakinya, sedangkan Jongin masih belum mengangkat tubuhnya.
"Ngghh"
Desahan tertahan terdengar dari mulut Jongin ketika sesuatu di antara kedua pahanya tak sengaja tertekan oleh dengkul Baekhyun. Membuat si mungil membola menyadari kesalahan fatalnya.
"M-mmaafkan aku Jongin. Aku tak sengaja" cicit Baekhyun. Sementara Jongin sendiri justru merasa gemas melihat wajah Baekhyun yang merona. Ia terkekeh ringan, dengan tangan kanannya yang terjulur untuk membelai rona merah di pipi Baekhyun.
"Kau manis jika seperti ini..." ucap Jongin tulus.
Seperti ada sebuah sihir di antara mereka, keduanya serempak memejamkan mata. Jantung Baekhyun bertalu cepat, ketika ia merasakan sesuatu yang basah menyapa permukaan bibirnya. Namun anehnya ia tidak menolak, dan justru mengikuti irama gerakan bibir milik Jongin dengan baik.
Detik demi detik telah terlewati, namun keduanya seolah enggan untuk melepaskan tautan bibir masing-masing. Tangan Baekhyun telah melingkar di leher Jongin, nampak menekan tengkuk lelaki itu, sementara Jongin sendiri beberapa kali mengubah posisi kepalanya.
Suasana pagi semakin memanas ketika kedua lidah saling bertemu, dengan tangan Jongin yang mulai berani merasakan halusnya bagian bawah tubuh Baekhyun. Lenguhan keras mulai terdengar dari mulut si mungil, ketika Jongin memberikan sentuhan pada bagian dadanya yang mengeras. Membuat Jongin yakin sepenuhnya untuk meneruskan kegiatan ini di ranjangnya. Ketika ia baru saja mengangkat Baekhyun dalam gendongannya-
Ting Tong
"Jongin? Ini aku!'
-Oh shit Sehun datang dan menghancurkan segalanya. Akal sehat yang seolah tadi menghilang entah kemana, kini kembali pada diri masing-masing.
"Emh..sepertinya kau ada tamu" ucap Baekhyun masih dengan wajah yang memerah.
"Oh? Iya haha biarkan saja, aku sedang tidak ingin menemuinya" tentu saja Jongin berbohong, karena ia tidak ingin Sehun mengetahui dirinya hampir mencumbu target yang akan mereka bunuh.
"Sebaiknya kau sarapan dulu, setelah itu aku akan mengantarmu pulang" ucap Jongin kembali, yang dibalas anggukan kaku oleh Baekhyun. Diam-diam Jongin tersenyum, melihat sosok Baekhyun dari belakang.
Deg Deg
Senyuman ceria tadi berganti dengan sebuah senyuman miris. Ia pegang dada kirinya, merasakan debaran jantungnya yang selalu meningkat ketika melihat sosok mungil tersebut.
Jika sudah begini...mampukah ia menjalankan eksekusinya?
.
.
.
'Halo Baekhyun? Kau sudah pulang nak? Darimana saja kau semalaman?'
'Ini karena ayah khawatir Baekhyun. Hah kau ini. Lain kali jangan lupa bawa charger ponselmu'
'Ayah? Ayah sedang berada di...' Tuan Byun berhenti sejenak, memperhatikan lingkungan tempatnya berpijak. '...di suatu taman yang indah'
'Nanti malah ayah kembali. Sebaiknya kau istirahat oke? Sampai jumpa'
Tuan Byun memasukkan kembali ponselnya, dengan senyuman tipis di bibirnya. Semua yang menyangkut putra semata wayangnya selalu membuatnya bahagia.
Namun itu hanya sesaat, sebelum ia teringat kembali pada dokumen yang sejak tadi ia genggam. Dokumen yang berisi sebuah bukti dan fakta yang ia dapatkan setelah bertahun-tahun memata-matai suatu jaringan kejahatan.
Satu hal yang membuat dadanya sesak adalah sebuah nama yang tertera di dalamnya, yang merupakan dalang dari jaringan gelap terbesar se Asia, yang saat ini sedang menjadi sasaran utama Kepolisian. Dan sungguh ia tak menyangka..dari jutaan manusia di muka bumi ini, mengapa harus lelaki tersebut pelakunya? Seorang lelaki yang menjadi alasan keberadaan dirinya saat ini, di sebuah rerumputan yang luas, dengan dua nisan rapuh di depannya.
"Meminta pengampunan hmm?"
Tanpa menoleh ke belakang, Tuan Byun sudah mengetahui siapa sosok tersebut. Seorang lelaki yang merupakan putra semata wayang dari kedua orang dibalik nisan di depannya, dan juga merupakan si pemilik nama yang tertera di dalam dokumen milik Tuan Byun.
"Senang bertemu denganmu.." Tuan Byun menoleh dan tersenyum hangat pada lelaki muda tersebut. "...Park Chanyeol"
Chanyeol menyeringai, namun tetap menundukkan kepalanya hormat. "Sayangnya aku tidak senang bertemu denganmu Tuan Byun yang terhormat" ucapnya blak-blakan.
Tuan Byun hanya mengangguk maklum melihat reaksi Chanyeol. Apa lagi yang bisa ia harapkan dari seseorang yang menganggap dirinya adalah pembunuh kedua orang tuanya?
"Apa yang kau lakukan disini? Mencoba memohon ampun pada kedua orang tuaku? Kurasa itu suatu hal yang sia-sia. Lebih kau cepat pergi dan jangan pernah kembali lagi Tuan Byun..." ucap Chanyeol dengan pandangan menusuk. Dengan ekspresi kejam, ia melangkah hingga berhadapan dengan Tuan Byun. "...karena aku tak ingin kedua orang tuaku menangis melihat sosok pembunuhnya menginjakkan kaki di atas nisan mereka..."
Tuan Byun masih tetap membisu, hanya membalas tatapan tajam Chanyeol. Dan tak lama setelahnya, ia tersenyum tipis kemudian mulai melenggang melewati lelaki tinggi tersebut. Baru tiga kali melangkah, Tuan Byun berhenti sejenak. Tanpa menoleh, ia membuka suaranya.
"Dibanding aku, sepertinya kau lah yang membuat mendiang orang tuamu menangis di atas sana.." Chanyeol tertegun dan berbalik menatap sosok paruh baya tersebut. "Sebuah nyawa telah mereka korbankan, namun sang putra kesayangan membuat hal itu menjadi sia-sia dan justru melanjutkan apa yang ingin mereka tinggalkan"
"Apa maksudmu?!"
Tuan Byun berdecih meremehkan. "Kau terlalu larut dalam ambisimu untuk membalaskan dendam Chanyeol. Hingga akal sehat dan nuranimu tidak mampu lagi melihat fakta yang bersembunyi dibalikmu"
Chanyeol dibuat bungkam oleh ucapan Tuan Byun. Sesungguhnya ia ingin sekali membantah pria paruh baya itu, namun entah mengapa...lidahnya seolah kelu, tak mampu berucap.
"Gunakan otakmu dengan baik dan juga..." Tuan Byun menghela nafas sejenak. "...jangan libatkan Baekhyun. Kau adalah seseorang yang menjadi cinta pertamanya, dan ia masih berharap akan menjadi yang terakhir"
Kedua tangan Chanyeol mengepal keras.
Merasakan hatinya yang menghangat.
.
.
.
Tarikan nafas panjang, dilakukan oleh Baekhyun sebelum memasuki ruangan besar di depannya. Sudah tiga hari ia tidak menginjakkan kakinya disini, akibat kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan untuk bekerja. Hari ini ia kembali bukan untuk melanjutkan magangnya, melainkan untuk menyampaikan bahwa ia ingin berhenti. Sudah diputuskan lebih baik ia mengulang lagi di semester depan ketimbang fisik dan batinnya terus tersiksa hingga dua bulan kedepan.
Tok Tok Tok
"Permisi Tuan Park"
Merasa tidak ada sahutan yang menjawabnya, Baekhyun pun melangkah masuk ke ruangan. Hanya tiga hari ia tidak kemari, namun kondisi ruangan sungguh berbeda. Bukan karena ada ornamen baru melainkan adanya kertas-kertas yang berserakan di lantai, pecahan gelas, sofa yang tak beraturan, ditambah lagi aroma alkohol bercampur aroma seks menguar begitu kuat di ruangan ini. Apa yang sesungguhnya terjadi disini?
'Tch! Jadi mereka masuk dalam perangkap kita?'
Suara Chanyeol yang samar-samar didengar oleh Baekhyun, membuatnya melangkah semakin mendalam menuju sumber suara. Dan di sanalah Chanyeol, menyender di jendela, dengan rambut berantakan dan kemeja yang dikeluarkan, sedang berbicara dengan seseorang melalui telpon.
'Lakukan sebaik mungkin dan perintahkan yang lain untuk bersiap-siap. Mari kita berikan sesuatu yang indah untuk Kepolisian Seoul'
Baekhyun diam mendengarkan, karena entah mengapa feelingnya mengatakan ayahnya terlibat dalam hal tersebut.
'Habisi semuanya. Jangan sampai tersisa satu orang pun. Terutama sang Kolonel Byun dan segala-'
"Tidak! Kumohon jangan lakukan Chanyeol!"
Lirihan memohon dari mulut Baekhyun cukup mengejutkan Chanyeol, dan dengan cepat ia membalikkan tubuhnya.
'Kita bicarakan ini lagi nanti Soo'
Setelah memastikan panggilannya telah berakhir, atensi Chanyeol kembali pada sosok mungil di depannya. Sambil menyilangkan kedua tangannya di dada, Chanyeol menatap tajam lelaki itu. "Mau apa lagi kau kemari? Aku tahu kau ingin berhenti dan silahkan saja, bukan masalah bagiku. Keluarlah!" ucapnya kasar.
Mengingat nyawa ayahnya terancam, membuat Baekhyun memberanikan diri melangkah mendekati Chanyeol. "Aku mohon jangan bunuh ayahku Chanyeol..." Ia genggam lengan Chanyeol dengan erat, sambil memberikan pandangan memelas pada lelaki itu. Melihat Chanyeol yang tak bergeming, Baekhyun tak kuasa menahan air mata yang berlinang di pipinya.
"Aku mohon Chan...aku akan melakukan apapun untukmu. Aku akan memberikan apapun yang kau minta...asal jangan bunuh ayahku.." lirih Baekhyun.
Chanyeol mendengus kecil dan menatap Baekhyun dengan pandangan merendahkan. Ia mendudukkan dirinya di pinggiran jendela sambil bersedekap.
"Apa yang bisa kau tawarkan untukku? Uang? Hartaku sudah melimpah. Nyawa? Nyawamu bahkan sama-sama tak berharga seperti ayahmu" ucapnya merendahkan.
Baekhyun membeku, nampak sedang mempertimbangkan sesuatu. Dan Chanyeol sedikit terkejut, ketika lelaki mungil itu mulai melucuti kancing kemejanya sendiri satu persatu, menyusul kancing celananya, hingga tubuhnya benar-benar polos.
Sekuat tenaga Chanyeol memasang ekspresi tenang, meskipun seluruh inderanya sudah terfokus pada pahatan mulus di depannya. Sesuatu di antara pahanya mengeras dengan cepat, ketika si mungil bertubuh polos itu, duduk di atas pangkuannya.
"Bagaimana jika aku menawarkan tubuhku?"
.
.
TBC
...
Haloooo, adakah yang masih membaca FF ini? Huhuhu
Ini dilanjut kok, cuma kemaren sempet hiatus karena takut sama alur ceritanya dengan Battle of Love. Nah setelah yakin alur dan karakternya beda, baru deh ngelanjut lagi.
Jadi gimana? Mau dilanjutin?
