Someone Behind You

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Kim Jongin

Oh Sehun

Do Kyungsoo

And other cast

.

.

.

Baekhyun mungkin terlalu kalap, dan tidak pikir panjang akan resiko yang ia terima atas tindakannya. Yang jelas, akal sehatnya seperti tersumbat ketika bayangan sang ayah berada dalam kondisi terancam, mulai menginvasi pikirannya.

Hell! sesungguhnya Baekhyun tidaklah selemah itu. Sebagai putra seorang petinggi kepolisian, tidak sulit bagi Baekhyun untuk menerima uluran bantuan dari siapa saja. Namun sekali lagi, Baekhyun juga tak mengerti apa yang salah pada dirinya, hingga mulut kecilnya itu kembali berucap dosa. "Terimalah tubuhku..dan lakukan apa yang kau mau" , diucapakan olehnya begitu lugas, penuh keyakinan, berbanding terbalik dengan tubuhnya yang gemetaran.

Datar dan tak bergairah, adalah ekspresi yang tergambar di raut tampan sang CEO saat ini. Kedua tangannya menyilang, sedang mata tajamnya tak menunjukkan ketertarikan pada tubuh polos di pangkuannya. Decihan kecil terdengar darinya, kala Baekhyun dengan ragu-ragu mencoba menyentuh kancing kemejanya.

"Apa yang kau lakukan? Bercinta saja tidak pernah, sudah berani menawarkan tubuhmu" sahutnya, terkesan meremehkan. "Aku tidak bercinta dengan anak kecil, cepat menyingkir!" usir Chanyeol sambil mendorong kaki Baekhyun yang mengapit pinggangnya.

Baekhyun bergerak memberontak di pangkuan Chanyeol. "Tidak! Aku pernah-" ucapannya terhenti ketika melihat Chanyeol mendesis dengan mata terpejam. Rupanya gerakan acaknya tadi tak sengaja menggesek gembungan di tubuh bagian bawah lelaki itu. Nyali Baekhyun mulai menciut ketika bola mata bundar Chanyeol terbuka kembali, memancarkan kabut gairah di dalamnya. Baekhyun membasahi bibirnya yang kering, sebelum melanjutkan ucapannya kembali. "Aku tidak senaif yang kau pikirkan. Aku...aku bisa memuaskanmu Chanyeol" ucapnya yakin.

"Begitukah?"

Baekhyun menjawab dengan anggukan singkat, dan saat itu juga Chanyeol bangkit dengan membawa Baekhyun dalam gendongannya. Belum sempat memahami situasi yang terjadi, tahu-tahu Baekhyun sudah didudukkan di atas meja kerja milik Chanyeol, dengan lelaki itu yang mengamatinya dari kursi kerjanya.

"Lakukan itu pada dirimu"

Baekhyun mengernyit, "lakukan apa?" tanyanya tak mengerti.

Dengan senyuman miring menakutkan, Chanyeol menarik maju kursinya, hingga dengkul lelaki yang lebih muda darinya itu menyentuh dadanya. Ia tidak berucap sepatah kata pun, hanya memandangi tubuh lelaki itu seiring kedua tangannya yang bergerak meraba kaki mungil di depannya, dan tanpa aba-aba-

"Ah!"

-Chanyeol membuka lebar kedua kaki Baekhyun, kemudian membawa sepasang tangan lentik itu menangkup kejantanannya sendiri.

Lagi, senyuman miring hadir di bibir Chanyeol. "Mari kita lihat bagaimana caramu memuaskan dirimu sendiri" perintahnya. Ia tarik tangannya dari penis milik lelaki mungil itu, memberinya kesempatan untuk melakukan suatu pertunjukan yang indah bagi Chanyeol. Sementara Baekhyun mematung di atas meja dan menundukkan kepalanya, berpikir keras tentang apa yang harus ia lakukan saat ini.

Ia berbohong, tentu saja.

Jangankan bercinta, melakukan masturbasi saja tak pernah sekalipun terjadi dalam hidupnya. Atas dasar didikan dan pengawasan sang ayah setiap detiknya, membuat Baekhyun tak pernah mengenal hal-hal berbau dewasa.

Namun jangan lupakan... ia juga pernah merasakan sensasi tubuhnya yang menghangat karena sentuhan-sentuhan sensual. Tapi itu hanya sekali, di waktu yang lampau, dan pelakunya adalah pria tampan di depannya ini.

Hanya lelaki itu, tak pernah ada lagi setelahnya.

Yah..setidaknya itu yang ia ingat saat ini. Berada di dekat Chanyeol memang selalu membuatnya lupa daratan. Termasuk kegiatan panasnya bersama Jongin beberapa hari lalu.

"Tunggu apa lagi?!"

Seruan Chanyeol sukses menarik Baekhyun dari lamunannya. Ia mengangkat kepalanya sesaat, dan menunduk kembali setelahnya. Mata sipitnya memandangi tubuh bagian bawahnya, tak begitu mengerti bagaimana cara membuat 'benda' itu berdiri. Otaknya berpikir cepat, tak ingin mendengar Chanyeol menegurnya kembali.

Dengan bermodalkan naluri dan ingatannya di masa lalu, Baekhyun mulai menggerakkan tangannya yang ditempatkan Chanyeol tadi di area selangkangannya. Gerakannya begitu kaku, lambat dan jika terus seperti ini, dipastikan butuh waktu berjam-jam untuk mendapatkan pelepasan. Baekhyun memejamkan matanya dan mencoba untuk fokus. Kilasan akan malam terakhir dirinya bersama Chanyeol di masa lalu, mulai terputar di pikirannya.

Saat itu...dengan senyuman tulus yang menawan, beserta tatapan memuja di netranya, Chanyeol memberikan sesuatu yang tidak akan pernah dilupakan oleh Baekhyun. Di usianya yang masih belia, Baekhyun tidak mengerti apa yang dilakukan Chanyeol pada bibirnya dan hanya terdiam ketika lelaki itu melucuti seluruh pakaian di tubuhnya. Baekhyun juga tidak mengerti mengapa tubuhnya menghangat dan menginginkan tangan Chanyeol untuk terus menjelajah tubuhnya. Baekhyun menggelinjang, kala sapuan basah dan panas mengitari paha bagian dalamnya.

"Nggg" lenguhan yang tak sadar dilepaskan olehnya, membuat Baekhyun membuka matanya. Ia segera melihat ke bagian bawah tubuhnya, tak menyangka penisnya berdiri hanya dengan membayangkan sentuhan Chanyeol di masa lalu.

Bibir candu itu kini sampai di bagian selatan tubuhnya, mengecupi ujungnya, yang semakin membuat Baekhyun bergerak tak karuan. Baekhyun merengek ketika Chanyeol menjauhkan bibirnya, namun hanya sesaat saja karena setelahnya ia menggantikan bibirnya dengan kedua tangannya. Penis itu begitu mungil, dapat sepenuhnya digenggam oleh satu tangan Chanyeol. Dan Baekhyun lagi-lagi tak mengerti, mengapa mulutnya tidak pernah berhenti mengeluarkan suara yang asing baginya, bahkan semakin sering bersuara kala lelaki yang lebih tinggi menggerakkan penisnya naik turun dengan cepat di dalam mulutnya.

"Hhhhh" lenguhan kedua mulai terdengar, seiring tangan lentiknya yang menggerakkan penis tegaknya lebih cepat.

Mengikuti nalurinya, Baekhyun sontak memajukan pinggulnya, menginginkan Chanyeol menelan penisnya lebih dalam lagi. Alunan bernada putus asa disuarakan olehnya disaat tangan Chanyeol merayap menuju dadanya, memilin tonjolan kecil di kedua pucuk dadanya. Rasanya sungguh luar biasa, lebih nikmat dari cake strawberry yang selalu dibelikan ayahnya setiap hari.

"Aaa...hhh..nhhh"

Brukk!

Baekhyun terkulai di atas meja kerja Chanyeol, semakin gencar mencari kenikmatan untuk dirinya seiring imajinasinya yang meliar. Dengan mata terpejam, kedua kaki membuka lebar, tangan kirinya yang memilin dan mencubiti putingnya bergantian, serta tangan kanannya yang masih setia mengurut tubuhnya di bawah sana, Baekhyun seolah melupakan dimana keberadaannya saat ini. Ia terlalu terbuai, hingga tak menyadari sepasang mata tajam mengamatinya, memancarkan hasrat yang menggebu-gebu untuk menggantikan tangan lentik itu.

Menerima sentuhan-sentuhan memanjakan di sekujur tubuhnya, membuat Baekhyun mulai merasakan sesuatu yang menggelitik perutnya. Untuk kesekian kalinya Baekhyun tidak mengerti, mengapa rasanya ia begitu ingin buang air kecil saat ini. Tapi anehnya, bukannya menjauhi mulut Chanyeol, ia justru menarik gemas surai hitam lelaki itu bahkan merengek memohon padanya agar mengulum penisnya lebih cepat. Rasa menggelitik itu tidak bisa diindahkan lagi, Baekhyun mulai melengkungkan tubuhnya, kepalanya mendongak, pandangannya mengabur dan...

"Chanyeolhh!"

Dengan tidak tahu malunya Baekhyun meneriakkan nama Chanyeol ketika merasakan sperma mengalir deras dari penisnya. Dadanya kembang kempis mengais udara, seiring kedua matanya yang mulai terbuka. Belum selesai ia menetralisir degup jantungnya, Baekhyun harus dibuat berdebar kembali ketika wajah sang CEO berada tepat di depan wajahnya. Entah sejak kapan, lelaki itu sudah memposisikan dirinya di tengah kedua kaki Baekhyun yang terbuka.

Baekhyun menutup matanya kembali, tidak berani membalas tatapan elang lelaki di atasnya. Namun mengingat ini adalah keputusannya, Baekhyun menguatkan diri dan melingkari pinggang Chanyeol dengan kakinya. Masih dengan mata terpejam dan tubuh gemetaran, Baekhyun mendongakkan kepalanya ketika dirasa deru nafas Chanyeol mendekati lehernya. Bibir penuh dosa itu menyentuh telinganya, sementara dengan lihainya lidah lelaki itu membasahi daun telinganya.

"Aku selalu 'bermain' kasar...hingga tidak ada seorang perawan yang bernyali untuk melakukan seks denganku" bulu kuduk Baekhyun meremang, mendengarkan alunan serak berbisik di telinganya. Chanyeol menarik bibirnya menjauh, kembali pada posisi semula, menatap Baekhyun dengan tatapan menusuk. "Jadi cepat menyingkir sebelum aku tak mampu menahan diri untuk menghancurkan tubuhmu!" hardiknya. Ia bangkit dari tubuh Baekhyun dan kembali menghempaskan diri di kursi kerjanya. Tangan kanannya terangkat untuk memijit pelipisnya, sedang matanya terpejam dan kernyitan nampak terbentuk di dahinya, seolah menggambarkan dirinya sedang merasakan nyeri di kepalanya.

Seharusnya Baekhyun segera meninggalkan ruangan setelah selesai mengenakan pakaiannya kembali. Alih-alih melangkah ke pintu, si mungil ini justru melangkah mendekati pria tinggi yang sedang duduk di singgasananya. Entahlah, melihatnya menahan sakit membuat rasa iba muncul di benak Baekhyun.

"Kau...baik-baik saja?"

"Pergilah! Kepalaku semakin pusing melihatmu!" usir Chanyeol.

Seolah tak gentar akan ucapan ketus lelaki itu, Baekhyun tetap kukuh mendekat bahkan tanpa malu-malu mengulurkan tangannya ke dahi Chanyeol yang berpeluh. Dan kedua mata sipitnya membeliak merasakan suhu tubuh lelaki itu begitu membara.

"Cha-chanyeol kau harus-"

-Greb!

"Kumohon...menyingkirlah Baekhyun" lirih Chanyeol.

Baekhyun membuka mulutnya dengan cepat, hendak protes pada lelaki itu. Namun niatnya gagal, ketika Chanyeol membuka matanya, dan memberikan tatapan yang berbeda dari biasanya.

"Aku benar-benar tidak akan melepaskanmu jika kau masih disini. Keluarlah !"

.

.

.

.

Jongin yang baru saja memakirkan mobilnya di depan sebuah gedung perusahaan elit, urung melangkah keluar ketika ponsel di dalam dashboard berbunyi.

'Aku baru saja dari apartemennya, tapi tidak ada Chanyeol hyung disana. Sekarang aku berada di depan kantor pusatnya, nanti kuhubungi lagi'

Setelah memasukkan kembali ponselnya di dalam saku jaket, Jongin beranjak keluar dari mobilnya, dan segera membuat semua mata terpana melihat ke arahnya. Kaos putih dilapisi jaket jeans, celana jeans hitam sobek di bagian lutut, dan surai cokelat berantakannya, tentu saja menjadi sesuatu yang tidak akan dilewatkan oleh orang lain. Belum lagi sikap acuh yang ditunjukkan olehnya ketika ia melangkah masuk, menambah kadar sexy pada pria itu.

Niat awalnya menuju meja resepsionis, terhenti saat sosok lelaki tinggi yang sedang dicarinya, terlihat dari sudut matanya. Jongin tersenyum puas, dan mulai melenggang menuju lift untuk menghampiri lelaki yang sedang berbincang di depan pintu lift. Langkahnya semakin cepat ketika pintu lift itu sudah terbuka.

"Hyung! Chanyeol hyuu-"

"-Kim Jongin?"

Pekikan Jongin teredam kala suara lembut dari arah belakang menyapa indera pendengarannya. Ia menoleh ke belakang, disambut oleh sebuah senyuman manis yang mampu melupakan tujuan awalnya kemari.

...

Suasana ramai di cafetaria, seolah begitu kontras dengan suasana hening di meja dekat jendela. Kedua lelaki berbeda tinggi badan ini nampak tenggelam dalam kegiatan masing-masing. Baekhyun sibuk menghabisi sajian di depannya, merasa canggung mengingat kejadian intim beberapa hari yang lalu, yang dilakukan olehnya dengan lelaki di depannya ini. Sementara Jongin sendiri memandang kosong pada piringnya, karena saat ini berbagai pertanyaan berkecamuk di otaknya.

Satu yang paling membuatnya berpikir keras. Mengapa Baekhyun bisa berada di perusahaan Chanyeol?

"Uhm, apakah kau tidak suka makanan di sini? Atau perlu kupesankan yang lain?"

Lamunan Jongin harus berhenti ketika lelaki mungil di depannya menyahutinya. Sementara Baekhyun sendiri menyesali tindakannya baru saja, sebab saat ini Jongin yang sejak tadi menatap piringnya, beralih menatap dirinya dengan pandangan lurus tanpa berkedip.

"Benar, sepertinya aku ingin memesan yang lain" ucap Jongin, sambil menopang dagu dengan kedua tangannya, dan pandangan lurus pada si mungil.

"K-kau mau apa? Akan kupesankan"

"Hmm..aku ingin.." Jongin mengetukkan telunjuk di dagunya, seolah sedang memilih sesuatu. "Ah! Apakah dirimu tercantum di daftar menu? Sepertinya aku tertarik akan itu"

Baekhyun merona, namun cepat-cepat mendengus kesal. "Sialan. Sudah makan saja!" ketusnya, menutupi rasa gugup yang menderanya.

"Hey. Anak manis sepertimu tidak cocok mengumpat"

"Jong-in"

Jongin terkekeh dan mengusak surai lembut lelaki di depannya. "Baiklah, maafkan aku oke? Lanjutkan lagi makanmu" ucapnya tulus.

Baekhyun hanya mengangguk kecil, menahan diri untuk tidak merona lagi kedua kalinya.

"Ini..untukmu saja. Aku ingat kau maniak buah ini" Jongin menyodorkan puding strawberry miliknya kepada Baekhyun. "Makanlah, supaya pipimu chubby kembali"

Baekhyun menatap penuh binar pada puding di dekat piringnya dan bersiap untuk melahap puding itu segera. Namun gerakan Baekhyun terhenti, beralih menatap Jongin dengan penuh arti.

"Ada apa?" tanya Jongin penasaran.

"Mmm..apakah aku terlihat kurus sekali?" cicit Baekhyun ragu.

Jongin memicingkan matanya, seolah sedang menilai penampilan Baekhyun dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kurasa tidak juga. Buktinya aku sedikit kesulitan ketika menggendongmu tempo hari" sahutnya santai, tidak memperhatikan seseorang yang terpaku di depannya. Dan entah mengapa Jongin justru semakin bersemangat menggoda lelaki itu. Dengan tatapan sensual dan sebuah senyuman miring, Jongin memajukan kepalanya. "Apalagi bagian paha dan kedua bokongmu...begitu pas dalam genggaman tanganku"

Blush!

Nampaknya wajah Baekhyun saat ini tidak jauh berbeda dengan puding strawberry kesukaannya itu. Merah membara merasakan malu dan kesal melebur menjadi satu. Terlebih melihat lelaki di depannya ini tertawa penuh bahagia, semakin membuat dirinya naik pitam. Ia beranjak dari duduknya dan melempar serbet ke wajah Jongin. "Aku pergi saja!"

"Hey Hey tunggu dulu" secepat mungkin Jongin menahan lengan Baekhyun. "Maaf, aku hanya bercanda. Duduk lagi ya? Aku janji akan memesan puding strawberry lagi untukmu" bujuk Jongin.

"Tidak usah!" ketus Baekhyun, namun tetap kembali pada tempat duduknya.

Jongin hanya tersenyum singkat kemudian kembali mengamati sosok manis di depannya ini. Benar juga pikirnya, dibandingkan pertama kali bertemu dengannya, saat ini pipi Baekhyun lebih tirus dan kedua tangannya nyaris menyerupai ranting pohon.

"Kau memang lebih kurus dari saat pertama aku melihatmu. Dietkah?"

Baekhyun menggeleng tegas. "Memangnya aku wanita! Ini semua terjadi semenjak aku magang disini tahu!" keluhnya.

"Mengapa begitu? Apakah pekerjaanmu banyak? Atau atasanmu menyulitkanmu?" tebak Jongin.

"Lebih tepatnya keduanya! Dengan pekerjaan yang tidak masuk akal dan atasan yang tidak waras rasanya aku benar-benar gila sesaat lagi!" keluhnya berapi-api.

Ekspresi datar tergambar di raut Jongin. Tidak terkejut mendengar keluhan yang diungkapkan oleh Baekhyun. Tipikal Chanyeol sekali, pikirnya. Emosional, otoriter dan menuntut. Dan lagi-lagi pertanyaan itu berkelana di benaknya. Mengapa Baekhyun bisa berada di tempat ini? Terlebih si mungil ini masih dibiarkan hidup hingga saat ini.

"Omong-omong, mengapa kau bisa kemari? Jangan bilang kau ternyata teman atasanku?!" Baekhyun mulai merasa waswas.

Jongin tersentak sesaat, namun memilih menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak. Aku hanya mengunjungi temanku di divisi pemasaran" Ia tersenyum meski hati kecilnya tercubit melihat wajah lega lelaki di hadapannya. Sekali berbohong, maka akan ada yang kedua bukan?

"Kalau kau lelah magang di sini, pindah saja ke tempatku"

Baekhyun mengerjapkan matanya berulang, nampak tertarik. "Kau punya perusahaan?"

Jongin mengangguk.

"Dimana? Apa bidangnya?" tanya Baekhyun bersemangat.

Jongin memajukan wajahnya sambil tersenyum simpul. "Di apartemenku. Kau akan kuberi tugas untuk berlatih menjadi pendampingku kelak"

Pluk!

Sebuah serbet pink menyapa wajah Jongin untuk kedua kalinya. Meskipun begitu, lelaki itu masih setia mengeluarkan tawanya. Sungguh, menggoda Baekhyun menempati posisi teratas dalam daftar favoritnya.

"Aku benar-benar akan pergi!" Baekhyun beranjak dari kursi dan melesat cepat tanpa sempat dihentikan oleh Jongin. Melihat itu, Jongin juga bergegas bangkit dan mengejar Baekhyun.

"Hey Baekhyun tunggu aku!" sahutnya keras. Tidak peduli bahwa saat ini mereka menjadi pusat perhatian sekitarnya, akibat adegan drama kejar mengejar yang ditampilkan oleh keduanya.

"Baek!'

Adegan kejar mengejar itu terus berlangsung hingga di luar cafetaria. Jongin meningkatkan kecepatannya dan beruntung kaki pendek Baekhyun memberi keuntungan bagi Jongin untuk segera menyusulnya. Ia tarik lengan Baekhyun, lalu memutar tubuh lelaki itu untuk berhadapan dengannya.

"Ada apa lagi?!" Baekhyun memasang wajah jutek, namun tak keberatan tangannya berada di genggaman lelaki itu.

"Kau ini mengapa sensitif sekali hmm?" Jongin mencubit pelan hidung mungil Baekhyun. "Aku hanya ingin menghiburmu. Jangan marah lagi oke?"

"Hn" jawab Baekhyun singkat, kemudian memutar tubuhnya lagi. Namun belum sempat melangkah, tangannya ditahan kembali oleh Jongin. "Mau kemana? Kau masih marah padaku?" tanya si lelaki tan.

Baekhyun memutar matanya, namun perlahan senyuman manis mulai mengembang di bibirnya. "Tidak Jongin. Waktu istirahatku sudah habis, aku harus kembali bekerja" terangnya.

"Ah begitu ya. Ya sudah sampai bertemu kembali Baek" ucap Jongin. Baekhyun hanya membalas dengan senyuman dan memutar tubuhnya untuk melangkah. Dan baru dua langkah saja ia menapak, "Sebentar Baek!" , Jongin memanggilnya kembali.

"Ada apa lammhh"

Baekhyun merasa dunia berhenti berputar saat ini. Hanya degupan jantungnya, sepasang lengan di punggungnya, dan sapuan basah di bibirnya yang mampu dirasakan olehnya saat ini. Bahkan meski benda lunak itu mulai menjauh dari miliknya, Baekhyun masih tidak mampu bergerak, seolah tersihir oleh tatapan mata lelaki di depannya.

"Baekhyun..." Jongin menjeda sesaat, tak mempunyai kuasa untuk menahan keinginan mengecup kembali bibir tipis di depannya. Dengan kedua tangannya yang masih merengkuh tubuh mungil itu, serta belahan bibir yang masih menyatu, Jongin berbisik...

"Jika suatu hari atasanmu melukaimu atau jika suatu hari sesuatu yang buruk menimpamu.." tangan kiri Jongin terangkat, menarik dagu Baekhyun hingga keduanya bersitatap. "Hanya datanglah kepadaku Baekhyun" ucapnya sepenuh hati. Sementara sosok yang ditanya, tidak berucap sepatah katapun, selain mengerjapkan kedua matanya yang sayu. Kedua tangan Jongin beralih untuk menangkup wajah Baekhyun, menatap dalam pada kedua matanya. "Katakan ya Baekhyun..." bisiknya halus.

Baekhyun tidak mengerti, mengapa dirinya selalu bertindak di luar akal sehat ketika berhadapan dengan Jongin. Hatinya mungkin masih dipenuhi nama Chanyeol, namun ia tak memungkiri lelaki ini memberikan warna tersendiri dalam hidupnya. Dan entah mengapa Jongin selalu hadir ketika dirinya sedang berada dalam kesulitan.

Maka atas dasar bisikan di hatinya, Baekhyun pun menganggukan kepalanya sambil menampilkan senyuman hangat pada lelaki itu. "Ya, Jongin" Ia memejamkan mata setelahnya, kala Jongin kembali meraih bibirnya. Nalurinya membuatnya turut bergerak berirama, saling melengkapi belahan bibir masing-masing.

Tak perduli pada orang lain. Juga tak perduli pada sepasang mata elang yang menatapnya tak jauh dari belakangnya.

Namun Jongin peduli.

Dan karenanya dengan setengah hati ia melepaskan bibir tipis kesukaannya itu. "Pergilah. Jika diteruskan bisa-bisa aku terpaksa menyeretmu ke dalam mobilku" sahutnya sambil mengusap sisa saliva di sudut bibir Baekhyun.

Yang lebih mungil hanya mendengus kesal, namun tetap tersenyum setelahnya. Ia melambaikan tangannya, memberi isyarat agar Jongin sedikit menundukkan kepalanya. Dan ketika Jongin mulai menurunkan kepalanya-

-kecupan kilat menghampiri pipinya. Belum sempat ia tersadar, sang pelaku telah berlari meninggalkannya dan ketika jarak keduanya sudah menjauh, si mungil baru memberanikan diri menolehkan kepalanya.

"Hubungi aku nanti. Bye Jongin~~"

Jongin hanya bisa geleng-geleng kepala sambil terkekeh kecil melihat tingkah menggemaskan Baekhyun. Senyumnya melebar, merasakan lembab di pipinya dari bibir Baekhyun yang tertinggal. Sedang tangan kirinya bertapak di dadanya, merasakan dentuman cepat yang berasal dari jantungnya.

Hanya sesaat saja, senyuman Jongin menghilang dari bibirnya. Dalam benaknya ia mulai menghitung mundur, menunggu sesuatu-atau tepatnya seseorang-yang akan menghampirinya sesaat lagi.

3

2

1

Jongin membalik tubuhnya kala tepukan pelan menapak di bahunya.

"Sedang apa kau disini?"

Jongin tesenyum tipis, dalam hati puas akan tebakannya yang tepat. "Oh! Chanyeol hyung!"

.

.

.

.

Alih-alih melakukan perbincangan di dalam ruangan pribadi sang CEO, keduanya justru terdampar di sebuah lounge eksekutif, yang biasanya disiapkan khusus untuk jajaran petinggi perusahaan. Sekilas tidak ada yang salah dengan ini, Chanyeol bilang ruangannya begitu berantakan hingga tidak leluasa untuk dimasuki oleh tamu. Dan Jongin hanya menganguk maklum, meski ia mengetahui alasan sesungguhnya yang tersembunyi di dalam ruangan itu.

"Kenapa kau tiba-tiba kembali ke pusat hyung? Sesuatu terjadi? Atau ada yang menarik di tempat ini?" mulai Jongin.

Chanyeol mendecih pelan dan mengangkat kedua bahunya. "Hanya ada sesuatu yang perlu kuurus. Kau sudah lama tiba di sini?" Chanyeol mengubah topik pembicaraan. Sedang Jongin nampak termangu, mencerna kata 'sesuatu yang diurus' yang dilontarkan oleh Chanyeol tadi.

Chanyeol yang memulai, dan Jongin hanya mengikuti alurnya. Sambil tersenyum tipis, Jongin menggeleng. "Tidak, aku baru saja tiba" jawabnya.

Kebisuan terjadi setelahnya. Kedua mata saling bertukar pandang, mencoba menyelami pikiran masing-masing yang sesungguhnya sama-sama terisi oleh satu nama yang menggetarkan keduanya. Tidak ada emosi apapun yang nampak di raut kedua lelaki ini, terlalu rapi menyimpan segalanya.

Chanyeol yang pertama memutus pandangan, dan beralih bangkit mengambil dua buah coke dari kulkas mini di sudut ruangan. Ia sodorkan satu coke pada Jongin, kemudian duduk di sebelah yang lebih muda ketika coke sudah diterima olehnya.

"Mainan baru ehm?"

Jongin menaruh kembali cokenya, mengernyit heran pada Chanyeol. "Maksudmu?" tanyanya bingung.

Chanyeol memilih meneguk cokenya terlebih dahulu, kemudian mengusap sisa coke di sudut mulutnya sebelum akhirnya membuka suara, "Bibirmu Jongin" ucapnya sambil menoleh singkat dan mendengus kecil melihat Jongin mengerjap polos akan ucapannya. "Bibirmu seolah mengatakan aku baru saja berciuman panas dengan seseorang" cibirnya sambil memutar mata.

Jongin terkekeh kecil dan refleks mengusap bibirnya yang memang merah dan sedikit menebal. Sementara organ jantungnya berpacu, mewanti kata-kata yang akan keluar dari lelaki yang lebih tua darinya itu. Ia tahu sesaat lalu Chanyeol melihatnya berciuman dengan Baekhyun. Namun ia belum menyiapkan apapun, baik jawaban atas tindakannya maupun kemungkinan terburuk jika kelak ia dipaksa harus menjauh.

"Siapa kali ini? Wanita atau pria?"

Jongin tersentak, kembali dari lamunan panjangnya. Haruskah ia tersenyum dan bernafas lega sekarang? Karena nyatanya Chanyeol memilih melanjutkan skenario yang ia mulai sebelumnya. Dan Jongin hanya perlu mengikuti permainannya saja bukan?

"Seorang lelaki manis, hyung" jawab Jongin penuh keyakinan. Mengacuhkan perubahan ekspresi dari lelaki tinggi di sebelahnya, ia kembali berucap, "...dan dia bukan mainanku. Aku benar-benar tertarik padanya"

Chanyeol berdecih. "Yah..katakan itu pada pria yang menolak suatu hubungan terikat" cibirnya. Kekehan kecil terdengar darinya sesaat sebelum ia menepuk bahu yang lebih muda. "Ayolah Jongin, kita sudah saling mengenal bukan dalam waktu yang singkat. Paling lama seminggu lagi kau sudah bosan pada lelaki itu"

"Tidak hyung, untuk yang satu ini berbeda. Aku selalu ingin melihatnya, menyentuh dirinya, dan jantungku menggila berada di dekatnya" ujarnya dengan raut tak bercanda. Dengan berani, Jongin membalas tatapan Chanyeol dan berucap tegas, "Aku...jatuh cinta padanya hyung". Dapat ia lihat, tangan Chanyeol mengepal erat hingga coke yang digenggamnya remuk tak berbentuk. Maka Jongin sudah siap, apabila lelaki itu kelak akan mengamuk dan memukulinya. Namun hingga detik kesepuluh, tidak ada sedikitpun pergerakan dari sebelahnya dan Jongin dibuat heran ketika Chanyeol justru tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya.

"Sebagai seorang yang telah kuanggap sebagai adik, aku berharap lelaki itu sosok yang baik dan tidak sedang dimiliki orang lain" ucap Chanyeol dengan penekanan pada kata 'dimiliki'.

"Dan sebagai adikmu kuucapkan terima kasih hyung. Tapi meski ia masih menjadi milik orang lain, aku tidak akan menyerah" Jongin menjeda untuk kembali bersitatap dengan Chanyeol. "Karena aku yakin bahwa ia cukup pintar untuk memilih siapa yang kelak akan memberinya kebahagiaan" tegasnya dengan makna tersembunyi di balik ucapannya.

Chanyeol terkesiap, sementara sekuat tenaga ia menahan gejolak untuk menghabisi lelaki yang telah dianggapnya adik ini. Chanyeol marah, begitu marah dan mengakui bahwa ia tidak ingin Baekhyunnya menjadi milik orang lain. Ya..Baekhyunnya.

"Jangan gegabah Jongin. Kau tidak bisa seenaknya merebut sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain. Karena aku tidak akan-" Chanyeol berhenti, menyadari dirinya mulai tersulut emosi hingga hampir kelepasan bicara. Ia menghela nafas panjang, sebelum melanjutkan kembali kalimatnya. "Aku tidak akan suka melihat kau kesulitan hanya karena seorang pria. Kau mengerti 'kan?" kilahnya.

"Ya hyung, aku mengerti"

Keheningan menyelimuti keduanya saat ini. Hanya helaan nafas masing-masing yang terdengar dari kedua lelaki ini. Sama-sama merasakan lega, setelah melewati perbincangan yang cukup memanas beberapa saat lalu. Dan inilah akhirnya, saling memutuskan untuk menutupi kenyataan yang ada.

"Jadi ada apa kau kemari?" tanya Chanyeol memecah keheningan.

"Ah aku hampir lupa. Kami mencarimu karena kau tidak ditemukan dimanapun hyung. Ini mengenai misi kita.." jeda sesaat, Jongin mencermati raut lelaki yang lebih tua darinya. "..untuk menjebak kepolisian sekaligus melenyapkan Tuan Byun"

Chanyeol bungkam sementara Jongin sendiri tidak berkenan untuk melanjutkan ucapannya. Jika sebelumnya ketegangan yang menguar di antara mereka, maka kali ini aura suram lebih mendominasi keduanya.

"Aku pikir kau melupakan misi kita. Melihat kondisimu saat ini begitu dimabuk cinta" sindir Chanyeol.

"Bukannya kau yang menundanya? Boss mengatakan itu padaku seminggu yang lalu" balas Jongin telak, mematahkan sindiran Chanyeol.

Dan perlu diketahui, seminggu yang lalu adalah hari dimana Chanyeol bertemu Tuan Byun di makam kedua orang tuanya.

"Hyung...kau sungguh ingin melanjutkan misi ini? Aku akan mendukung apapun keputusanmu"

Chanyeol menghela nafas, sedang kedua matanya terpejam. Berbagai resiko akan diterima olehnya akibat tindakannya ini. Dan yang terburuk yakni Baekhyun yang mungkin tidak akan sudi lagi melihat dirinya. Namun sesungguhnya, lebih dari sebuah dendam belaka, Chanyeol memiliki cara tersendiri untuk menyelesaikan semuanya, yang tidak diketahui oleh seorangpun. Maka ketika obsidian cokelat itu mulai terbuka dan memancarkan kilatan berapi-api, Jongin pun sudah tau jawaban dari lelaki itu.

"Besok malam Jongin, sampaikan pada yang lain. Aku permisi"

Jongin hanya bisa termenung dan menatap nanar dari balik punggung lelaki itu. Hingga akhirnya getaran dari ponselnya menyadarkan Jongin kembali.

'Aku baru saja bertemu dengannya Hun. Bukan di kantor pusat, kebetulan aku bertemu dengannya di sebuah cafe'

'Tidak perlu kemari, aku akan segera kesana'

Pip

Jongin memasukkan kembali ponselnya, kemudian beranjak keluar ruangan. Sebelum melenggang pergi, Jongin menyempatkan untuk menoleh ke atas. Meratapi ruangan sang CEO yang tertutup rapat.

.

.

.

.

Satu lagi hari yang cerah menyambut pagi. Kontras dengan suasana damainya biru langit, aura gelap justru dirasakan oleh Baekhyun. Entahlah, sejak semalam tidurnya tak nyenyak hingga lingkaran hitam menghiasi area bawah matanya. Apalagi pagi ini, rasanya berat baginya untuk membawa kakinya melangkah keluar.

"Tidak sarapan dulu nak?"

Baekhyun menoleh, mendapati sang ayah yang tengah menikmati sarapannya di meja makan. Andai jarum jam belum mendekati angka delapan, dan andai atasannya bukanlah seseorang yang sakit jiwa, mungkin Baekhyun akan dengan senang hati untuk duduk di sebelah sang ayah. Terlebih karena kesibukan ayahnya serta dirinya yang selalu tidur lebih cepat, membuat interaksi keduanya berkurang akhir-akhir ini.

"Tidak ayah, nanti saja di kantor. Aku berangkat" pamit Baekhyun.

"Jaga dirimu selalu nak. Ingatlah ayah menyanyangimu"

Baekhyun menoleh kembali dan entah mengapa keinginan untuk menghampiri kembali sang ayah begitu besar. Namun lagi-lagi karena beberapa hal yang menjadi alasan sebelumnya, membuat ia berbalik kembali menuju pintu keluar. Mungkin ia hanya terlalu rindu pada ayahnya.

Ya...semoga saja begitu.

...

"Huufftt"

Sudah berulang kali helaan nafas dihembuskan oleh Baekhyun. Entah mungkin karena dirinya mulai terbiasa mendapat tumpukan tugas tiap harinya, hingga akhirnya saat ini Baekhyun terdampar di cafetaria, dengan rasa bosan yang melanda dirinya. Pagi tadi, ketika dirinya sudah siap untuk menerima umpatan karena datang terlambat, namun yang didapatinya justru ruangan kosong. Tidak ada sang penghuni yang selalu menyambut dirinya dengan mata bulat menajam. Baekhyun yang penasaran memutuskan untuk bertanya pada Nyonya Han, dan sama seperti dirinya Nyonya Han juga tidak tahu kemana perginya sang CEO. Tidak ada kabar ataupun pesan darinya. Dan disinilah Baekhyun berakhir, dikarenakan tidak ada pekerjaan yang diberikan olehnya saat ini. Andai saja tidak ada absen untuk pulang, mungkin Baekhyun sudah menyingkir sejak tadi.

Sekali lagi Baekhyun mengecek layar ponselnya. Selain untuk melihat jam, juga mengecek apakah ada pesan yang masuk. Salahkan rasa bosannya, hingga beberapa saat yang lalu ia mengirimkan sebuah pesan pada seseorang. Namun sudah dua jam lebih, tidak ada balasan apapun, dan semakin membuat moodnya memburuk.

Bosan dan gondok menjadi satu, Baekhyun memutuskan untuk keluar dari cafetaria. Kaki mungilnya melangkah menuju lobi perusahaan, ingin menghirup udara segar sesaat sebelum memulai aktvitasnya. Ia sudah akan kembali melenggang ke dalam, sebelum ponsel di genggamannya bergetar.

'Lihat di belakangmu'

Baekhyun tersenyum sumringah, dan tanpa berlama-lagi menoleh ke belakang. Namun nihil... tidak ada siapapun disana, hanya lalu-lalang mobil saja di sana. Dengan bibir mengerucut, Baekhyun memutar tubuhnya kembali dan..

"Wa!"

"Hah! Jongiinnn!"

Baekhyun mengelus dadanya, menetralisir degup jantungnya akibat dikejutkan tadi. Sementara si pelaku nampak tertawa puas melihat hasil perbuatannya. Membuat Baekhyun gemas untuk menghadiahi cubitan-cubitan di perut lelaki itu.

"Aw! Aw! Ampuun, maafkan aku Baek!" Jongin mengaduh.

Baekhyun mendengus kesal dan menarik tangannya kembali. "Enyahlah!" usirnya, kemudian menjauhi Jongin sambil menghentakkan kakinya di lantai. Namun salahkan kaki pendeknya-

Greb

-hingga dengan mudah Jongin menahan sikunya, kemudian memutar tubuhnya agar saling berhadapan.

"Mau kemana hmm? Seingatku ada seseorang yang memintaku datang tadi" goda Jongin dengan senyuman miring yang membuat Baekhyun semakin ingin memukulnya.

"Itu bukan untukmu! Aku salah kirim!" ketusnya, kemudian meronta kembali untuk melepaskan diri. Namun percuma, semakin keras ia berusaha, semakin erat juga genggaman Jongin menahannya. "Ish lepaskan aku!" protes Baekhyun. Ia sudah akan membua suara lagi sebelum sesuatu berwarna pink disodorkan di depan wajahnya.

"Ini untukmu..Kau suka?"

Mau tidak mau Baekhyun mengangguk dengan wajah juteknya. Seorang maniak strawerry seperti dirinya mana bisa melewatkan sebuah strawberry cheese cake. Tangannya sudah terjulur untuk mengambil cakenya, namun tiba-tiba Jongin membawa cakenya menjauh. Merasa gemas akan wajah polos Baekhyun yang kebingungan, Jongin terkekeh dan mencubit pelan hidung mungilnya.

"Ini tidak gratis omong-omong"

Baekhyun mencibir sambil memutar matanya, "Berapa?!"

"Aku tidak mau dibayar dengan uang" jawab Jongin, membuat Baekhyun mengeryit. Sambil tersenyum penuh arti, Jongin menolehkan kepalanya kemudian menunjuk pipinya. "Cium" jahilnya.

"Ish!" Baekhyun berdecak tak suka, namun tetap melangkah mendekati Jongin. "Tundukkan kepalamu!" perintahnya. Maka dengan senang hati, Jongin sedikit merendahkan tubuhnya dan memejaman mata sambil tersenyum menanti kecupan di bibirnya.

Cup

Jongin membuka mata dengan cepat, secepat kecupan yang mampir di bibirnya. Ya. Benar. Baekhyun tidak mengecup pipinya, melainkan bibirnya!

"Sudah cepat kemarikan!" tangan Baekhyun terulur di udara, sedang wajahnya yang memerah sempurna tidak berani menatap ke arah lelaki di depannya. Merasa tidak ada sahutan dari depannya, Baekhyun beranikan diri untuk menoleh. Dan bukan cake yang ia terima,

Melainkan sebuah pelukan hangat di tubuhnya.

"Bagaimana ini? Sepertinya aku tidak bisa jauh darimu Baekhyun..." bisik Jongin, sementara Baekhyun patuh sebagai pendengar. "Kau masih ingat ucapanku waktu itu 'kan?" , Baekhyun hanya mengangguk sebagai jawaban. "Katakan Baek...aku ingin mendengarnya kembali" pintanya.

Baekhyun mengangguk kembali, sedang kedua tangannya mengusap punggung lelaki itu. "Jika suatu hari sesuatu yang buruk menimpaku, aku pasti akan datang padamu Jongin". Mendengarnya, Jongin tersenyum puas dan membenamkan kepalanya di perpotongan leher lelaki itu, menghirup aroma yang mampu menguatkan dirinya,

sebelum menjalankan sebuah misi memilukan sesaat lagi.

"Jongin..uh!" merasa risih akan sesapan Jongin di lehernya, tangan Baekhyun terangkat untuk mendorong kepala lelaki itu. Dan untungnya Jongin pun menurut, tentunya setelah meninggalkan satu tanda kemerahan di sana.

"Maaf, aku selalu kelepasan jika denganmu"

Baekhyun hanya mengangguk paham dan tersenyum manis. Senyuman yang selalu berhasil mengacaukan akal sehat Jongin.

"Damn! Izinkan aku menciummu sekali lagi Baek..."

Baekhyun membola, namun tak sadar menganggukkan kepalanya. Hingga tepat setelah matanya terpejam, kedua benda lunak itu bertemu kembali, dengan tubuh tanpa jarak yang berarti.

Tidak ada salahnya untuk membuka hati, pikirnya.

...

Ada pepatah yang mengatakan: terlalu banyak tertawa akan membuatmu menangis. Dan nampaknya pepatah ini sedang dialami oleh Baekhyun. Ketika moodnya mulai membaik setelah menghabiskan quality time bersama Jongin, sirna seketika begitu dirinya kembali ke ruangannya. Sang CEO dengan aura gelap mengancam, sedang duduk di singgasana bersama beberapa botol minuman keras di mejanya. Seolah sedang menanti Baekhyun untuk dimangsanya bulat-bulat.

"Sudah puas bersenang-senangnya?" nada meremehkan adalah kalimat pertama yang menyambut kedatangan Baekhyun.

"A-aku h-hanya mencari udara segar" jawab Baekhyun sedikit takut.

Chanyeol mendengus, kemudian melambaikan tangannya. "Kemari" perintahnya pada Baekhyun. Melihat si mungil hanya mematung, membuatnya tak suka. "Aku bilang kemari sialan!" hardiknya. Membuat Baekhyun tersentak, dan pelan-pelan mulai melangkah dengan kaki bergetar.

Keberadaan Baekhyun di sampingnya, hanya semakin membuat suasana memburuk. Dari jarak dekat seperti ini, warna merah di atas tulang selangka lelaki itu, menarik seluruh atensi Chanyeol. Dan ia tidak bodoh untuk mengartikan tanda itu, terlebih dengan mata kepalanya sendiri ia sempat melihat kejadian itu sebelumnya. Maka itulah alasan dari kekacauan yang terjadi saat ini.

"Ckckck, kau sibuk bercumbu dengan orang lain, sementara nasib ayahmu sedang terancam di luar sana. Apakah kau menawarkan tubuhmu dengan orang lain juga hah?!"

"Ti-tidak Yeol! Aku..aku tidak seperti itu. Kumohon jangan sentuh ayahku" pinta Baekhyun dengan mata berkaca-kaca.

"Kalau begitu buka bajumu"

Baekhyun membelalak dan bergerak mundur perlahan.

"Kenapa?! Kau yang menawarkan diri bukan? Cepat buka bajumu dan aku akan menyelamatkan ayahmu"

"A..aku..aku tidak..bisa Yeol"

Cukup sudah. Dengan rasa cemburu yang membara dan pengaruh alkohol, amarah mematikan meledak dalam diri Chanyeol. Ia beranjak dari bangkunya, melangkah dengan penuh ancaman mendekati Baekhyun.

"Kau menolakku? Setelah bertemu dengan lelaki lain kau berani menolakku?! Kemari kau!" Baekhyun semakin meringsut mundur, yang sialnya semakin menyulut emosi Chanyeol. "Jangan lari kau jalang!"

Tap

Tap

Greb!

"Ahk! Kumohon jangan seperti ini Yeol.."

Baekhyun mengaduh sambil meronta hebat ketika Chanyeol mencengkeram lengannya erat, hingga kukunya menancap di kulit Baekhyun. Namun Chanyeol tak bergeming, tetap melanjutkan langkahnya menuju meja kerjanya.

Brukk!

"Y-yeol..apa yang kau lakukan Yeol!"

Debaran di jantung Baekhyun meningkat drastis kala tubuhnya dibawa ke meja kerja Chanyeol. Dengan posisi tubuh bagian atas setengah tengkurap di atas meja, atau tepatnya sedikit menungging, memunculkan perasaan tidak enak di benaknya. Terlebih ketika Chanyeol mulai memposisikan diri di belakangnya.

Dan dugaannya sama sekali tidak meleset, ketika Chanyeol melucuti pakaian yang menutupi bagian tubuh bawahnya. Baekhyun masih berusaha meronta, namun nihil...kedua tangannya telah dipelintir ke belakang dan diikat oleh dasi milik Chanyeol.

"Yeol..kumohon jangan..."

Plak

Plak

"Ahk!" Baekhyun meringis merasakan tamparan keras di bokongnya, sementara Chanyeol menatap liar bokong yang mulai memerah itu. Ia tertawa bak seorang pemerkosa sosiopat, nampak tidak ada lagi sisi manusiawi dalam dirinya, sudah dibutakan oleh amarah, cemburu dan nafsu. Satu botol alkohol diambil olehnya. Namun bukan untuk diminum, melainkan disiram di sekujur belahan sintal itu, dan lebih banyak dialirkan pada sebuah lubang pink yang tertutupi. Setelah habis tak tersisa, Chanyeol melemparkan botol itu sembarang arah. Tak sabar untuk menyesap tubuh sintal Baekhyun yang begitu mengkilat menggoda birahinya. Lidahnya berputar kesana kemari, dan sesekali meninggalkan bekas gigitan di sana, menggantikan bir itu dengan liurnya sendiri. Ia buka belahan bokong Baekhyun, melecehkan lubang mengkerut itu dengan lidahnya. Menerobos masuk, bergerak melingkar ke dalam, dan menggeram rendah ketika dinding rectum itu menjepitnya.

"Ss-sudah Yeolh! Kumohon sudahi ini..."

Sesaat Baekhyun bernafas lega ketika Chanyeol menghentikan cumbuannya, dan kembali berdiri tegak di belakangnya. Namun mimpi buruk siap menantinya, kala suara resleting terdengar dari arah belakang, dan Baekhyun hanya bisa menutup mata ketika sesuatu yang tegak dan besar menggesek lubangnya.

Sleb!

"AAAKKHHH! SSAKIT YEOL SAKIITTTT!" pekikan Baekhyun membahana mengisi ruangan, sedang lelaki di belakangnya nampak acuh dan mulai menggerakkan pinggulnya.

"Yeol kumohon akh! behentihh"

Mungkin Chanyeol sudah tuli, hingga mengindahkan permintaan Baekhyun bahkan menggerakkan pinggulnya dengan kecepatan menggila. Kepalanya mendongak, dengan mata terpejam dan mulut menganga lebar bagai binatang. Mengekspresikan kenikmatan luar biasa yang dirasakannya saat ini. Lubang Baekhyun yang begitu ketat, dan kenyataan bahwa lelaki itu belum pernah disetubuhi oleh lelaki lain, nampaknya membuat Chanyeol bersemangat menusukkan kejantanannya sambil menggeram sesekali.

Sedangkan Baekhyun, hanya bisa menggigit bibir merasakan sakit, dengan derai air mata yang mengalir deras di pipinya. Ia tahu kesalahannya pada Chanyeol memang tak termaafkan, tapi ia tidak menyangka dengan cara seperti ini caranya menebus dosa.

"Aakkh Yeol!"

Nampaknya benar adanya bahwa Chanyeol seorang 'pemain' kasar. Menjelang pelepasannya, Chanyeol menjambak surai Baekhyun ke belakang, membuat tubuhnya sedikit terangkat ke belakang, hingga berimbas pada penis Chanyeol yang semakin terjepit di bawah sana. Chanyeol semakin menggila, menusuk dengan liar hingga tubuh Baekhyun terhentak-hentak ke depan dan membuat meja begeser. Dan ketika pelepasan itu dirasa segera tiba, Chanyeol mencabut penisnya dan membalikkan tubuh Baekhyun setengah telentang menghadapnya.

"Buka mulutmu!" perintahnya tak sabaran.

Baekhyun merapatkan bibirnya dan menggeleng berulang-ulang. Membuat Chanyeol menggeram marah dan kembali menjambak surainya.

"Awhmmhh..uhukk uhukk!"

Chanyeol mendesis merasa nikmat kala getaran di rongga mulut Baekhyun memanjakan penisnya. Tak mempedulikan Baekhyun yang beruraikan air mata, Chanyeol melecehkan kembali mulut Baekhyun, hingga dua tusukan berikutnya ia menggeram mendapatkan pelepasannya.

"Haahhh..."

Sperma dalam jumlah yang tidak sedikit, mengisi seisi mulut Baekhyun. Dan Baekhyun mau tidak mau harus menelan cairan kental itu, sebab Chanyeol terus menahan kepalanya agar tidak menjauh. Setelah merasakan kepuasan yang tiada tara, Chanyeol menarik diri menjauh, sementara Baekhyun jatuh terkulai di lantai yang dingin. Hingga akhirnya bunyi dering dari ponsel milik Chanyeol, mengalihkan fokus keduanya.

'Bagaimana? Ah sebentar aku ingin putranya mendengar ini'

Chanyeol menjauhkan ponselnya dari telinganya, lalu mengetikkan sesuatu di layar ponselnya. Kemudian dengan senyum seorang bajingan handal, ia melangkah mendekati Baekhyun dan berjongkok di hadapannya.

'Katakan yang kau ucapkan tadi'

Baekhyun yang sudah terkulai lemas, sedikit mengerutkan dahi melihat sikap Chanyeol kali ini. Hingga samar-samar suara kasak kusuk dari penelpon mulai memasuki telinganya.

'Tuan Byun sudah berhasil kusingkirkan Tuan'

Dan Baekhyun tidak sanggup lagi mendengarkan kalimat selanjutnya.

.

.

.

TBC

.

.

Haloooo yang mau ngumpat Chanyeol yuk sini barengan hehehe.

Kalo ada yang bertanya-tanya apakah ff ini akan penuh rahasia seperti Battle of Love, jawabannya tidak, karena saya sudah lelah hehehe *curhat

Then, terima kasih untuk yang sudah berbaik hati mereview, fav, dan follow cerita ini. Ditunggu reviewnya oke?