Someone Behind You
With
.
.
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Kim Jongin
Oh sehun
Do Kyungsoo
.
.
Hari-H Eksekusi
Dor! Dor! Dor!
Riuh ricuh dan gemericing peluru yang berjatuhan sepanjang halaman gedung, nampaknya tidak mempengaruhi ketiga lelaki di ruangan ini. Satu yang berkulit lebih pucat beranjak dari kursi, untuk mengintip keadaan dari jendela. Seringai puas timbul di bibirnya kala berbalik mengadap kedua yang lain. "Sudah tiba rupanya" ujarnya.
Reaksi berbeda ditunjukkan oleh kedua lelaki lainnya. Yang satu, si lelaki berkulit tan hanya duduk mematung dikursi. Sementara yang satu lagi, yang menjadi bos diantara mereka, turut beranjak dari kursi dan bergabung bersama si lelaki pucat di dekat jendela.
"Lihat para polisi bodoh itu, mereka pikir bisa mengelabui kita ckckck" sahut sang bos, mengamati pertumpahan darah di bawah sana dengan raut tenang. "Sehun, pastikan Kolonel Byun dan beberapa bawahannya tetap selamat sampai di lantai ini" perintahnya pada lelaki pucat di sebelahnya.
Sehun mengangguk singkat, kemudian mengambil sebuah walkie talkie yang terhubung dengan anggota mereka di bawah, menyampaikan pada mereka sesuai yang diperintahkan oleh sang bos tadi. "Ada lagi bos?" tanyanya ketika usai menjalankan perintah.
"Tidak ada" sang bos menggeleng yakin, sebelum melangkah menuju pintu keluar. "Aku ingin mengambil beberapa barang di ruanganku, tetap awasi situasi" perintahnya pada kedua lelaki yang lain. Hanya Sehun yang membalas dengan anggukan, sedang yang satu lagi nampak setia larut dalam kebisuannya. Melihat kondisi janggal itu, Sehun merogoh bungkusan tembakau dari sakunya, untuk disodorkan pada lelaki yang duduk di atas sofa tersebut.
"Rileks Jongin" ucap Sehun. Jongin mendengus kecil, namun tetap mengambil sebatang dari bungkusan tersebut. Mendapati Jongin hanya mengapit cerutu di bibirnya tanpa ada niatan untuk membakarnya terlebih dahulu, Sehun mengernyit tak paham. "Memikirkan sesuatu?" tanyanya.
Jongin mengangkat kedua bahunya. "Yeah..hanya mempertimbangkan sesuatu" jawabnya tak yakin.
"Apa? Kau tidak berniat menyelamatkan Byun dan putranya 'kan?" canda Sehun, namun sukses membuat Jongin terkesiap sesaat. Menutupi kegugupan yang timbul, Jongin memutar matanya seiring tembakaunya yang mulai disesap.
"Omong kosong! Tanganku bahkan sudah gatal ingin melubangi kepalanya Hun" sangkal Jongin. Berisikan 100% kebohongan dalam setiap untaian katanya.
"Yah..kupikir. Aku tidak bisa membayangkan kau harus melawan Chanyeol hyung dan bos" sahutnya dengan raut cukup serius. "Kau sahabatku bung...dan kuharap kelak bukan aku yang akan menjemput kematianmu"
Sesaat, hanya kebisuan yang menyelimuti di antara tatapan tajam dari kedua lelaki ini. Sampai akhirnya Jongin yang mengalihkan pandangan, dan memberikan tawa kecil untuk meredakan aura tegang di dalam ruangan. "Lihat wajahmu itu Sehun. Menjijikkan" candanya sambil berpura-pura ingin muntah. Dan untung saja, Sehun juga memutuskan untuk ikut tertawa kecil, tidak ingin melanjutkan apa yang ia duga selama ini.
"Tapi, apakah ini hanya perasaanku saja atau memang bos kita lebih berambisi menghabisi keluarga Byun?" tanya Jongin ketika tawa keduanya telah berhenti.
"Good feeling dude!" seringai kecil sesaat nampak di bibir Sehun, sebelum ia mengedikkan kedua bahunya. "Well..masalah dendam pribadi. Kolonel Byun adalah ayah kandungnya omong-omong" sahut Sehun terlalu santai, bertolak belakang dengan lelaki tan di sebelahnya.
"Tidak..tidak..kau bercanda 'kan!"
Sehun berdecak dan memutar matanya. "Apa aku terlihat seperti sedang membuat lelucon hah?!" protesnya.
Jongin bergidik, masih terus menggelng tak percaya. "Entahlah..aku hanya tidak menemukan kemiripan di antara mereka berdua"
"Yah, sepertinya bos cenderung menurun dari ibunya. Baik wajah maupun wataknya"
Jongin membisu, nampak termangu dan kerja syaraf otaknya terasa membeku. Kolonel Byun, ayah Baekhyun, adalah ayah kandung sang bos yang menjadikan bosnya bersikap bengis seperti saat ini. Ayahnya yang meninggalkan bosnya beserta sang ibu untuk menikahi wanita lain, yang tidak lain adalah ibunda Baekhyun.
Dan kepala Jongin serasa ingin pecah memikirkan ini. Miris sekali nasib Baekhyun, pikirnya. Menjadi saudara tiri sang bos yang begitu dibencinya, sekaligus menjadi masa lalu Chanyeol yang juga ingin dilenyapkan olehnya.
"Kupikir Tuan Byun seorang yang bersahaja dan cukup baik" lirih Jongin, nyaris seperti bergumam. Dan itu terdengar oleh Sehun, karena posisinya yang berada tepat di sebelah Jongin.
"Dia memang seperti itu..berwibawa, tegas namun seorang yang hangat. Setidaknya itulah yang kurasakan selama 5 tahun tinggal bersamanya" Sehun nampak menerawang, memutar kembali ingatannya di masa lalu, membuatnya menghela nafas pelan. "Sayang sekali ia harus menanggung sesuatu yang tidak pernah diperbuat olehnya"
"Apa maksudmu?"
Sehun menoleh, dengan raut keseriusan seperti yang ditampilkan olehnya sebelumnya. "Apa yang menimpa Chanyeol hyung, sesungguhnya adalah-"
"-waktunya beraksi boys!" sahut sang bos tiba-tiba, yang entah sejak kapan sudah berada di depan pintu. Ia menatap tajam ke arah Sehun, membuat si lelaki pucat menundukkan kepalanya. Dan semua itu tidak luput dari perhatian Jongin, hingga semakin menambah rasa penasaran yang timbul dalam benaknya.
"Ayo Sehun, kita harus bergegas. Biar Jongin yang menyelesaikan semuanya disini" perintah si bos.
Sehun hanya menjawab dengan anggukan, lalu mulai beranjak dari duduknya. Melihat ekspresi suram lelaki tan di sebelahnya, membuat Sehun enggan untuk melangkah lebih jauh. "Bos, bisakah aku saja yang menjadi eksekutor hari ini?" tanyanya.
"Aku berani bertaruh kau tidak akan mampu melesakkan peluru di kepala ayah angkatmu Sehun"
Sehun bungkam, dalam hati membenarkan ucapan yang dilontarkan oleh bosnya.
"Tenang saja Hun, serahkan padaku" Jongin menengahi, dan mau tidak mau Sehun pun mengangguk setuju. Sambil melangkah keluar bersama bosnya, Sehun menyempatkan untuk mengamati Jongin sekali lagi, dan ia yakin untuk pertama kalinya lelaki tan itu ragu dalam menghabisi nyawa sesorang. Sehun tidak tahu apa alasannya, namun ia berharap bukan karena apa yang ia duga.
Tepat setelah keduanya sudah menuju mobil yang telah disiapkan di halaman belakang, sang bos memutuskan untuk berhenti sesaat. Ia menoleh ke belakang, menghadap Sehun dengan tatapan menusuk dan kedua tangan menyilang. "Jongin begitu dekat dengan Chanyeol, Hun. Sampai kau kelepasan berbicara sekali lagi, ucapkan selamat tinggal pada kehidupanmu" ancam sang bos.
...
Harusnya Jongin sudah menghampiri sosok paruh baya di ujung lorong itu, dan menempatkan peluru di kepala dan jantungnya. Namun lihatlah kini, ia hanya berdiri mematung dengan punggungnya yang bersender di dinding.
Entahlah..feelingnya mengatakan ada sesuatu yang janggal disini, terlebih setelah mendengar ucapan Sehun beberapa saat lalu. Tapi lebih dari alasan itu, Baekhyun adalah alasan utama dirinya enggan beranjak dari tempatnya. Bagaimana bisa ia melenyapkan nyawa ayah dari seseorang yang ia sayang, ditambah lagi keduanya memiliki rupa yang begitu mirip. Rasanya seperti Jongin akan membunuh Baekhyun dalam versi dewasanya.
Perlahan-lahan Jongin mulai membawa tungkainya melangkah, karena ia tahu tidak ada pilihan lagi yang bisa diambil. Toh, jika ia gagal saat ini kelak akan ada yang lain yang diperintahkan sang bos untuk menghabisi Tuan Byun. Hanya tinggal beberapa langkah lagi, dan Jongin sudah mengeluarkan hand gun dari saku jaketnya. Sampai akhirnya...
Drrt Drrt Drrt
Melihat nama 'Chan hyung' di layar ponselnya, Jongin memutuskan untuk terlebih dahulu mengangkat panggilan dari lelaki itu.
'Ya hyung?'
'Kau masih berada di markas?'
'Hn. Aku yang ditugaskan untuk menyelesaikan sisanya'
'...'
Jongin mengernyit kala tak ada sahutan apapun dari seberang. '..hyung?'
'Cepat menyingkir dari sana, serahkan sisanya padaku'
'T-tapi hyung kenapa-'
'Aku tahu kau tidak akan sanggup. Cukup menyingkir keluar dan aku tidak akan bertanya lebih lanjut tentang lelaki mungilmu'
Jongin dibuat bungkam olehnya. Jika sudah begini..maka tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengangguk dan, 'baiklah hyung, aku pergi sekarang' putusnya. Setelah panggilan itu berakhir, dengan langkah terhuyung Jongin menapak menuju mobilnya yang diparkir di halaman belakang.
Dan ia hanya bisa melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi, kala suara ledakan membahana dari gedung di belakangnya.
.
.
.
Byun Young Jun
Rest in Piece
1974 - 2017
Adalah sepenggal tulisan yang terukir di sebuah nisan yang tertancap di rerumputan. Tak jauh dari nisan tersebut, berdiri seorang lelaki yang nampak rapuh, yang tidak lain adalah putra dari sosok dalam nisan. Byun Baekhyun.
Kata demi kata, berulang kali diucapkannya dalam hati, seolah tak percaya dengan apa yang tertulis pada nisan tersebut. Baik hati, penampilan, maupun tubuhnya benar-benar dalam kondisi kacau saat ini. Pakaian yang dikenakan olehnya begitu lusuh, sekujur tubuhnya masih beraromakan sperma, dan tubuh bagian bawahnya masih terasa nyeri luar biasa akibat kejadian semalam. Baekhyun hanya tidak sempat memikirkan hal lain lagi ketika kabar sang ayah yang telah tiada, memasuki pendengarannya tiba-tiba.
Suasana pemakaman cukup ramai saat ini, bertolak belakang dengan suasana di sekitar nisan sang ayah. Hanya ada Baekhyun, beberapa pekerja di rumahnya, serta bawahan setia sang ayah. Mengingat sang ayah adalah seorang putra tunggal, maka tidak ada sanak saudara yang ia miliki untuk hadir disini.
Namun lebih dari itu...Ayahnya telah gagal.
Beliau dinilai terlalu gegabah, hingga begitu banyak korban yang berjatuhan dari misi yang dipimpin olehnya. Mirisnya sebagian besar korban didominasi dari pihak kepolisian, hingga pemakaman saat ini dipenuhi oleh keluarga para korban yang juga dikubur di tempat ini.
Layaknya sebuah prinsip dari intel kepolisian :
"Berani tidak dikenal, mati tidak dicari, berhasil tidak dipuji, dan gagal dicaci maki"
Maka seperti itulah yang terjadi padanya dan mendiang sang ayah kini. Cemoohan tak hentinya dilontarkan oleh orang-orang, seolah melupakan kerja keras dan prestasi yang diraih oleh Tuan Byun selama ini. Prihatin akan itu, salah satu bawahan Tuan Byun bersikeras untuk membawa Baekhyun segera pergi dari tempat ini. Meskipun enggan, akhirnya Baekhyun menurut dan menyempatkan untuk mencium nisan sang ayah sekali lagi sebelum melenggang pergi.
"Dasar anak pembunuh!"
"Kuharap ayahmu masuk ke neraka! Hiks..Semoga ayahmu disiksa di neraka!"
Satu persatu cacian mulai didengar oleh Baekhyun kala dirinya melewati kerumunan keluarga korban lainnya. Baekhyun hanya bisa menunduk, dan terus melanjutkan langkahnya mesti hatinya teriris sembilu.
"Kembalikan suamiku kembalikan nak! Ayahmu benar-benar-"
Pekikan dan umpatan teredam begitu saja disaat sepasang tangan menutupi kedua telinganya. Baekhyun mendongak, dan mendapati sosok Jongin selaku pemilik tangan tersebut tengah berdiri di depannya. Jarak keduanya semakin menipis kala Jongin melangkah mendekatinya. Dan meski kedua telinganya tertutupi, Baekhyun masih mampu mendengar bisikan dari lelaki itu.
"Hanya dengarkan aku dan teruslah melangkah. Ada aku di sisimu"
.
.
.
Seakan tidak pernah ada sesuatu yang terjadi, Chanyeol tetap melanjutkan aktifitas hariannya, yakni berkutat dengan tumpukan kertas di atas meja. Yang berbeda hari ini mungkin tidak ada lagi sosok mungil yang biasanya menempati meja tepat di sebelahnya. Namun nampaknya Chanyeol tidak mempermasalahkan itu, karena dirinya sudah menduga bahwa lelaki itu tidak akan kembali lagi kemari.
Dering telpon yang berada di sudut mejanya, membuat Chanyeol mengalihkan fokusnya sesaat untuk memencet tombol di telpon tersebut.
'Ya, ada apa?'
'Ada seseorang yang ingin bertemu anda. Tuan Do Kyungsoo namanya. Apakah anda mengizinkannya masuk?'
Chanyeol sempat terkesiap, namun memutuskan untuk menghadapinya. 'Ya, biarkan ia masuk'
Tok Tok Tok
"Hey baby!"
Tak butuh waktu lama bagi sosok tamu tak diundang ini masuk ke dalam. Sementara Chanyeol sendiri tidak memiliki niat untuk menyambutnya, baik itu hanya sebentuk senyuman tipis. Membuat lelaki yang melangkah masuk itu berdecih kesal.
"Nampaknya kau tidak terkejut akan kedatanganku"
"Aku tidak pernah meragukan kemampuanmu dalam menemukan sesuatu" sahut Chanyeol sekenanya.
Kyungsoo tergelak mendengarnya, kemudian mulai membawa tungkainya mendekat menuju meja sang CEO. "Cukup sulit kali ini. Terlebih Jongin tidak menyampaikan keberadaanmu padaku" gerutunya.
"Aku yang meminta Jongin untuk melakukan itu. Jangan salahkan dia"
Kyungsoo mendengus dan mencibir pelan akan ucapan lelaki itu, sebab ia mengetahui dengan pasti bahwa lelaki tinggi itu hanya membual. Bukan sesuatu yang baru baginya mendapati hal seperti ini. Jongin dan Chanyeol memang terlalu solid, saling melindungi meskipun tak ada ikatan darah yang mengalir antara keduanya.
Bosan tidak diperhatikan oleh sang pemilik ruangan, Kyungsoo mencoba menggoda lelaki itu dengan mendudukkan dirinya di atas meja Chanyeol, berhadapan dengannya. Dan mau tidak mau Chanyeol menghentikan aktivitasnya sesaat. "Aku sibuk Soo" sahutnya malas.
"Istirahat sejenak Yeol" Kyungsoo menjulurkan tangannya menuju dasi Chanyeol, menariknya pelan hingga wajah keduanya berdekatan. "Kau baru saja menghabisi nyawa seseorang. Take your time okay?"
"Itu hanya hal kecil bagiku"
"Well, that's my man" Kyungsoo terkikik dan mengecup kilat bibir tebal di depannya. "So..how about sex in the office right now?" godanya sambil membelai dada Chanyeol dengan pola sensual. Tak disangka, Chanyeol menggeleng tegas bahkan mengempaskan tangan Kyungsoo dari tubuhnya. "Di apartemenku saja. Aku tidak suka bercinta di kantor" tolaknya.
"Benarkah? Tapi yang aku lihat kemarin malam, kau begitu bergairah menusukkan penismu tanpa henti, tepat di atas mejamu ini"
Chanyeol membisu, dalam hati mengumpati lelaki itu. Sementara Kyungsoo sendiri tertawa kecil, merasa menang telah memukul telak Chanyeol dengan ucapannya. "Kau tidak lupa dengan kemampuanku bukan?" Kyungsoo tersenyum lebar, sedang Chanyeol tidak perlu menjawab pertanyaan lelaki itu. Melihat sang CEO tetap bungkam, kembali Kyungsoo terkikik kecil dan menangkup wajah Chanyeol agar keduanya saling bersitatap. "Hey, aku tahu kau punya alasan tersendiri dan aku menghargai privasimu. Hanya saja aku bertanya-tanya...mengapa hingga detik ini kau masih membiarkan dirinya berkeliaran diluar sana?"
"Mati akan terasa mudah untuknya. Lebih baik ia hidup, namun dengan berbagai penderitaan di sisinya" sahut Chanyeol ringan, benar-benar tak berperasaan. Bukannya bergidik takut, Kyungsoo justru berdecak kagum dan tersenyum puas pada lelaki itu. Ia bergeser sedikit ke depan, kemudian melingkari leher Chanyeol dengan tangannya. "Kebetulan sekali, aku juga punya sesuatu untuknya" ucap Kyungsoo.
Chanyeol mengernyit, dengan tubuh yang sedikit menegang. "Apa yang kau lakukan pada Baekhyun?'
.
.
.
Setelah melewati perjalanan dalam keheningan, Jongin akhirnya menghentikan mobilnya di depan pintu gerbang sebuah universitas ternama di Seoul. Jika bukan karena ada panggilan mendesak dari kampusnya, baik Jongin maupun Baekhyun mungkin enggan untuk memisahkan diri. Meski tidak ada ucapan yang mengalun sejak tadi, namun setidaknya tautan erat jemari kedua lelaki tersebut cukup membuktikan keduanya saling menyamankan diri.
"Aku tunggu sampai kau pulang ya?"
Baekhyun menggeleng lemah. "Tidak usah, aku tidak tahu kapan urusanku selesai" tolaknya halus.
"Tidak apa, aku bisa menunggu-
"-tidak perlu Jongin" Baekhyun memotong cepat, kemudian mencoba untuk tersenyum pada lelaki itu. "Terima kasih sudah mengantarku, dan juga...terima kasih untuk semua perhatianmu" ucapnya tulus. Membuat Jongin tak mampu lagi menahan gejolak dalam dirinya untuk membawa lelaki mungil itu dalam dekapannya.
Masih dengan posisi yang saling merengkuh, Jongin menangkup wajah Baekhyun dan menatap dalam pada kedua mata indah tersebut. "Baekhyun..semua ini terasa sulit bukan?" Baekhyun tidak menjawab apapun namun bola matanya nampak berkaca-kaca. "Kumohon... bagilah denganku, gunakan aku, lakukan apapun yang kau mau padaku Baek. Karena aku..." Jongin berhenti sejenak untuk mengecup kening lelaki mungilnya, mengusap surainya dengan sayang, sebelum kembali bertatapan dengan lelaki itu. "...aku menyayangimu. Ingatlah itu"
"Jaga dirimu selalu nak. Ingatlah ayah menyayangimu"
Ungkapan yang terucap oleh Jongin tadi, tak sengaja membangkitkan ingatan Baekhyun tentang kalimat terakhir yang diucapkan oleh sang ayah padanya. Hatinya bergemuruh, sedang gumpalan air mata tak sanggup lagi dibendung olehnya. Tidak butuh waktu lama, isak tangis pilu segera menggema di dalam mobil dan Baekhyun sudah tak mampu lagi menegakkan tubuhnya, hingga berakhir dalam pelukan hangat lelaki di sebelahnya. Jongin sendiri sama sekali tak keberatan akan itu, meski bagian depan kemeja yang ia kenakan sudah basah kuyup karena derasnya derai air mata Baekhyun. Ia hanya diam, mencoba menenangkan lelaki itu dengan mengusap lembut pungungnya secara berulang-ulang.
Setelah dirasa tangis Baekhyun mulai mereda, Jongin menarik tubuhnya, namun tidak sampai melepaskan rengkuhannya. "Tak usah pedulikan opini orang lain, dan jangan pernah merasa sendiri lagi" sambil berucap, jemari Jongin terjulur untuk menghapus genangan air mata di pipi Baekhyun. "Ada aku, yang akan datang kapanpun kau membutuhkanku Baekhyun" ia tutup ucapannya dengan mengecup kedua mata Baekhyun yang telah basah, turun ke hidung mungilnya, tidak lupa kedua pipi tirusnya, dan berakhir cukup lama di bibir tipis miliknya. Ketika Baekhyun enggan melepaskan bibirnya dan turut membalas gerakan Jongin, maka hanya bunyi kecipak dari tautan bibir keduanya yang mendominasi hingga menit-menit berikutnya.
...
Meski sekujur tubuhnya masih melemah, dan langkah kakinya seoalah tak bertenaga, namun Baekhyun tak menampik kebersamaannya dengan Jongin tadi menimbulkan sejumput kehangatan dan ketenangan dalam hatinya. Jujur, Baekhyun menyukai bagaimana cara lelaki itu berbicara lembut padanya, memberikan perhatian penuh kasih padanya, hadir disaat ia membutuhkan seseorang, bahkan cara lelaki itu menyesap bibir dan tubuhnya, Baekhyun mengakui ia menyukai itu.
Kim Jongin, yang entah sejak kapan, yang tak pernah Baekhyun sadari, diam-diam mulai merasuki relung hatinya. Meski belum sepenuhnya menghapus nama seseorang yang terlebih dahulu menaungi hatinya.
Ya, Park Chanyeol.
Harusnya Baekhyun membenci lelaki itu sepenuhnya. Bukan justru mengharapkan lelaki itu datang menemuinya, seperti yang ia pikirkan saat ini.
Love is blind, right?
"Lihat itu Baekhyun si jalang"
Baekhyun mengernyit, tersadar dari lamunannya kala mendengar bisikan yang menyebut namanya dari arah samping. Ketika Baekhyun mengangkat kepalanya, baru ia menyadari sejak tadi seisi kampus memandang terpusat padanya. Dan dari ekspresi mereka, Baekhyun yakin bahwa itu bukanlah sesuatu yang positif.
"Cih ayahnya pembunuh, putranya seorang jalang. Keluarga mengerikan!"
"Hmm..aku tidak menyangka padahal Baekhyun mahasiswa cerdas. Ah jangan-jangan ia menggoda para dosen untuk memberinya nilai A!"
"Aku rasa begitu. Bahkan kata pamanku yang bekerja di perusahaan tempatnya magang, setiap hari selalu terdengar suara desahan dari ruangan Direktur Park. Gila! Bagaimana bisa dia menyerahkan tubuhnya setiap hari!"
Baekhyun mengepalkan tangannya, dan sekuat tenaga melanjutkan langkahnya. Mengabaikan hinaan dan makian yang didengarnya sepanjang perjalanan. Dalam hati ia bertanya-tanya
'Sejauh apa kau ingin menghancurkan hidupku Park Chanyeol?'
...
Tok Tok Tok
"Ya masuk"
Baekhyun menundukkan kepalanya sopan, sebelum melangkahkan tungkainya masuk ke dalam. Ia duduk di kursi yang memang telah dipersiapkan untuknya.
"Kau yang bernama Byun Baekhyun?"
Baekhyun mengangguk kecil "Ya benar, saya Byun Baekhyun"
"Sebelumnya aku ucapkan belasungkawa atas kepergian ayahmu. Tapi...apakah kau mengetahui mengapa kau dipanggil kemari?"
"Tidak Pak"
Baekhyun berbohong, tentu saja. Setelah mendengar berbagai hinaan yang ditujukan olehnya sejak tadi tentu saja ia sudah mengetahui alasan sesungguhnya.
Pria paruh baya di depannya menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya. Ia memutar kurisnya ke belakang, mengambil sebuah map di atas meja di belakangnya, kemudian menyodorkan map itu kepada Baekhyun. "Bukalah" perintahnya.
Adalah foto saat dirinya setengah telanjang yang sedang setengah tengkurap di atas meja, dengan sesuatu yang mengisi belahan tubuh bawahnya; yang Baekhyun lihat pertama kali ia membuka map tersebut. Pada foto tersebut hanya wajahnya yang terlihat jelas, sedang Chanyeol dibuat buram pada bagian wajahnya. Foto kedua adalah foto saat dirinya telentang di atas meja dengan mulut terisi penuh oleh kejantanan sang CEO. Dalam foto tersebut, Baekhyun mendongak sambil memejamkan matanya, hingga siapapun yang melihatnya akan menduga bahwa Baekhyun begitu menikmatinya. Tanpa ada yang tahu bahwa sesungguhnya saat itu Baekhyun meronta menahan sakit pada tenggorokannya. Ketika sampai di foto ketiga, Baekhyun tidak sanggup lagi melanjutkannya. Itu bukanlah dirinya, melainkan lelaki mungil yang pernah disetubuhi oleh Chanyeol beberapa saat yang lalu. Dan sialnya, dalam foto tersebut lelaki itu nampak begitu mirip dengannya.
"Aku tahu ini bukan saat yang tepat, tapi...pihak kampus memutuskan untuk mendrop out dirimu Baekhyun. Maaf"
Entah mengapa Baekhyun tidak terkejut dengan apa yang ia dengar baru saja. Sejak awal Baekhyun tiba-tiba dihubungi oleh pihak administrasi kampusnya, ia sudah merasakan sesuatu yang buruk akan mendatanginya. Lagipula universitas mana yang tidak ingin menjaga nama baiknya bukan? Maka dengan langkah yang semakin lemah dari sebelumnya, Baekhyun pamit undur diri.
Kerumunan yang menghina dirinya masih ia temukan sepanjang langkahnya menuju pintu gerbang. Namun ia hanya bisa menulikan kedua telinganya. Demi apapun ia cukup lelah dengan semua hal buruk yang terjadi padanya dalam kurun waktu 24 jam. Seakan kehidupan bahagia yang ia jalani hari-hari sebelumnya hanya sebuah bunga tidur belaka.
Sebelum menutup pintu taxi, Baekhyun menyempatkan untuk melihat universitas tempatnya menempuh ilmu selama beberapa tahun ini. Mungkin cerita semasa ia berkuliah tidaklah menarik, dan cenderung monoton karena Baekhyun tidak memiliki banyak teman di sampingnya. Namun di belakang itu, Baekhyun memiliki sebuah kisah tentang tempatnya berkuliah ini.
"Ayah, jika aku diterima di KAIST, kita akan kembali ke Seoul 'kan yah?"
"Jangan berharap terlalu tinggi nak. Tapi yah...ayah akan mempertimbangkan hal itu"
Baekhyun tersenyum lebar, kemudian menunjukkan selembar kertas yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya sejak tadi. "Tadaaa! Ayah lihat ini! Aku diterima sebagai salah satu mahasiswa di KAIST yeaayy! Ja-ayah? Ayah menangis? Aku mengecewakan ayah ya?"
"Tidak nak tidak. Ayah hanya...bangga padamu. Mendiang ibumu dulunya adalah lulusan dari KAIST, dan ia begitu berharap kau bisa mengikuti jejaknya kelak" Sang ayah menghapus jejak air mata di wajahnya, kemudian membelai surai Baekhyun dengan penuh kasih sayang. "Kini kau telah mewujudkan harapan ibumu, dan dia pasti bahagia di atas sana. Terima kasih nak, kau memang putra kebanggan kami"
Lagi, setetes air mata jatuh di pipi Baekhyun.
...
Bagi sebagian orang, rumah adalah tempat ternyaman, yang selalu dinanti dikala lelah dengan segal aktifitas sehari-hari. Sebelumnya, Baekhyun juga termasuk dari orang-orang tersebut. Setidaknya sebelum semuanya telah berbeda kini, dimana tidak ada lagi sosok sang ayah yang akan menyambutnya di rumah. Sesungguhnya Baekhyun enggan untuk melangkah ke dalam, karena demi apapun, sejak kakinya menginjak halaman rumah, kenangan bersama sang ayah berputar di otaknya begitu saja.
Akhirnya meski berat untuknya, Baekhyun sudah berada di dalam rumahnya, dan memutuskan terlebih dahulu merebahkan diri di sofa ruang tengah sebelum melanjutkan langkahnya menuju kamar. Saat itu Baekhyun sudah hampir terpejam, ketika tiba-tiba-
"Wah wah wah, siapa yang mengizinkanmu duduk di situ?'
-sebuah suara bass dari seseorang yang sangat dikenalinya, muncul dari arah belakangnya. Baekhyun menoleh cepat, dan membelalak melihat siapa sosok yang berada di belakang sofanya. "M-mau apa kau kemari?! Pergi dari rumahku!"
Lelaki itu berdecak remeh. "Rumahmu? Cih! Tentu saja kau belum mengetahuinya" Ia mendekati Baekhyun dengan langkah mengancam, sementara Baekhyun segera bangkit dari sofa dan beringsut mundur menjauh.
"Lihat ini!"
Tanpa berlama-lama, Baekhyun merampas selembar kertas yang disodorkan oleh Chanyeol padanya. Dalam waktu hitungan detik, tubuhnya bergetar sedang hatinya kembali bergemuruh begitu membaca kata demi kata yang tertuang dalam helai kertas tersebut.
Di sisi lain, Baekhyun yang terlalu fokus membaca tulisan 'Park Chanyeol' pada Surat Pemindahan Kepemilikan Rumah yang ia genggam, membuatnya tak menyadari sang pemilik nama tersebut sedang memeluk tubuh mungilnya dari belakang, dengan hidung mancung lelaki itu yang diusakkan di leher Baekhyun.
"Mungkin aku bisa mempertimbangkan dirimu untuk tetap tinggal disini. Sepertinya ranjangku terlalu dingin untuk kutiduri sendirian. Bagaimana hmm?" sambil berucap, Chanyeol menjalankan bibirnya di sepanjang leher Baekhyun dan berakhir untuk mengulum telinganya, sedang kedua tangannya mulai meraba ke dalam pakaian yang dikenakan Baekhyun.
"Le-hhh-lepaskanh ak-aku!"
Chanyeol membantah, dan menarik tubuh Baekhyun hingga menempel erat dengan tubuhnya. Pada posisi ini dapat Baekhyun rasakan, sesuatu yang keras menabrak bokongnya dan sialnya lelaki itu justru gencar menggesekkan ereksinya berulang-ulang. Baekhyun mencoba meronta kembali, namun tak disangka-sangka Chanyeol justru menggengam erat kejantanannya tiba-tiba, hingga Baekhyun refleks melenguh pelan dan kepalanya terkulai di bahu Chanyeol. Membuat si tinggi menyeringai akan tindakannya. "Jangan munafik Baekhyun...tubuhmu menginginkan ini" Chanyeol berbisik, seiring tangannya yang mulai menarik turun resleting celana Baekhyun. Sementara bibir tebalnya semakin gencar memberikan jejak basah di atas sana, dan mengigit pelan cuping telinga Baekhyun, sebelum membisikkan, "jadilah jalangku dan kau boleh tetap tinggal disini"
Plakk!
Chanyeol membeliak sembari memegang pipinya yang panas, sama halnya pula dengan Baekhyun yang melihat tangannya sendiri, nampak tak percaya akan tindakan beraninya yang baru saja ia lakukan. Belum sadar akan keterkejutannya, Baekhyun dikejutkan kembali ketika Chanyeol tiba-tiba mencengkeram lengannya, kemudian menggeretnya menuju pintu keluar.
"Ch-chanyeol!"
Yang dipanggil menulikan pendengarannya dan tetap menarik Baekhyun keluar, tak peduli lelaki mungil di belakangnya beberapa kali hampir terjatuh. Begitu tiba di pintu depan, Chanyeol menghempaskan tangan Baekhyun dan beralih mencengkeram kerah pakaiannya hingga lelaki itu terpaksa mendongak menatapnya.
"Untuk yang terakhir kalinya Baekhyun. Berikan tubuhmu padaku atau tinggalkan tempat ini?!" Baekhyun bungkam, tak tahu harus berucap apa. Hingga membuat Chanyeol geram melihatnya. "Jawab aku sialan!" hardiknya.
Baekhyun masih termangu dan memilih menatap kedalam bola mata tajam di depannya. Kedua mata itu sungguh berbeda, dari apa yang dilihatnya di masa lalu. Tidak ada lagi pancaran cinta disana, seperti yang ditunjukkan Chanyeol padanya di masa lalu. Maka atas dasar itu, perlahan-lahan Baekhyun mulai menggelengkan kepalanya dan membuka suaranya. "Tidak Yeol. Lebih baik aku-"
Brukk
"-ahk!" Baekhyun meringis ketika dengan kasarnya Chanyeol mendorongnya jatuh ke tanah. Akibat menopang tubuhnya yang terjatuh tiba-tiba, membuat kaki kanan Baekhyun terkilir. Ia mendongak, menatap Chanyeol dengan raut sedih dan tak percaya, namun yang didapatkan olehnya tidak ada sama sekali ekspresi iba atau penyesalan di wajah lelaki itu.
"Penjaga!"
Tidak butuh waktu lama, dua orang berbadan kekar yang nampak asing bagi Baekhyun, sudah berkumpul di depan Chanyeol.
"Ya Tuan Park?" jawab salah satu penjaga itu.
"Bawa pergi lelaki ini dan jangan biarkan ia datang kemari lagi!" diucapkan olehnya begitu tegas, begitu dingin, bahkan masuk ke dalam rumah setelahnya. Baekhyun sendiri hanya pasrah ketika dirinya dibawa keluar gerbang. Bahkan ketika gerbang sudah ditutup di depan matanya, Chanyeol tak pernah sekalipun menolehkan kepalanya.
...
Tanpa disadari, tapak kaki Baekhyun kini telah berhenti melangkah. Tak ada lagi tempat yang bisa ia kunjungi, atau mungkin hanya tempat ini yang berada dalam pikirannya. Baekhyun jatuh terkulai, tepat di samping pusara sang ayah. Tak peduli dinginnya malam dan derasnya air hujan yang membasahi tubuhnya, Baekhyun mulai menyamankan posisi berbaringnya.
Pintanya hanya satu saat ini. Semoga esok pagi tak pernah datang menyambutnya. Karena Baekhyun sudah menyerah untuk melanjutkan hidupnya. Detik demi detik, matanya mulai terpejam sedang tubuhnya serasa mati rasa. Ia pikir mungkin pada akhirnya ajal akan menjemputnya. Namun semuanya nihil...
Disaat seorang lelaki tinggi tiba-tiba hadir dan mengangkat tubuhnya. Lelaki yang sama seperti yang pernah menolongnya sebelumnya.
.
.
.
Sinar mentari telah menyambut, mendatangkan hari baru bagi semua makhluk hidup. Di jam seperti ini, biasanya Jongin masih bercumbu mesra dengan ranjang dan selimutnya, namun berbeda untuk hari ini. Pagi-pagi sekali ia sudah berkutat di dapur, menyiapkan semangkuk bubur dan secangkir teh hangat. Sosok mungil yang berada di kamarnya adalah alasan dari segala tindakannya ini.
Perlahan-lahan Jongin menaiki tangga sambil membawa nampan di tangannya. Ketika sampai di depan pintu kamarnya, Jongin mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum melenggang masuk ke dalam.
Tepat ketika ia melihat Baekhyun di atas ranjangnya, saat itu juga Jongin merasakan hatinya teriris pilu. Baekhyun memang telah sadarkan diri. Namun pandangannya kosong menatap ke depan, hanya berkedip sesekali. Tak kuasa melihat lelaki yang ia sayangi seperti itu, Jongin bergegas menaruh nampan di atas meja kemudian menempati posisi di samping Baekhyun.
"Baek...kumohon, jangan seperti ini" tangan gemetar Jongin membelai surai Baekhyun, namun tetap tak ada reaksi dari lelaki itu. "Sudah kukatakan kau memiliki aku Baekhyun..." masih belum ada sahutan dari si mungil. "Demi Tuhan sadarlah Baekhyun!" Jongin mengguncang kedua bahu Baekhyun, namun masih tetap kebisuan yang ia dapatkan. Pada akhirnya Jongin tak tahan untuk membawa lelaki itu dalam pelukannya. "Sial!...apa yang bisa kulakukan untukmu hmm? Katakan Baek, apapun itu katakan..." pintanya.
"Mati..."
Jongin membeku dan segera melepaskan pelukannya. "Apa kau bilang?"
"Mati. Biarkan aku mati"
"Baek..."
"Biarkan aku mati Jongin. Aku mau mati. Aku tidak ingin hidup lagi. AKU INGIN MATI JONG-"
"-BERHENTI BAEKHYUN!" pekik Jongin, terengah-engah menahan amarah. Sesal tersirat dari pancaran matanya karena telah menghardik Baekhyun, namun itu memang harus dilakukan agar Baekhyun berhenti mengucapkan kalimat yang begitu menyakitkan hatinya. Tangannya terjulur, membelai kembali surai Baekhyun dengan lembut.
"Baekhyun...jangan seperti ini. Kata-katamu...menyakitiku Baek" lirihnya pedih. Ia sudah akan menundukkan kepalanya, ketika tiba-tiba dilihatnya tetesan air mulai berjatuhan di atas seprei. Jongin kembali mengangkat kepalanya, dan mendapati lelaki mungilnya bergelinang air mata sambil membalas tatapannya.
"Maafkan aku Jongin...tapi..hiks.." susah payah Baekhyun berbicara di sela-sela tangisnya. Ia tarik nafas sejenak sambil menatap Jongin dengan dalam. "...tapi aku hanya ingin mati Jongmmhh!"
Maka hal terakhir yang Baekhyun ingat adalah dirinya yang tiba-tiba didorong berbaring di ranjang, dengan Jongin yang berada di atas tubuhnya menciumi bibirnya kasar, sebelum lelaki itu menghilang dari balik pintu.
.
.
.
Brakk!
Chanyeol memang berjengit terkejut, tapi hanya karena suara gebrakan pintu, bukan pada sosok yang tiba-tiba memasuki ruangannya dengan raut yang Chanyeol yakin sedang dilanda emosi.
"Apa yang membuatmu datang kemari dengan merusak pintuku?" tanya Chanyeol, tanpa menatap lelaki yang terengah-engah di hadapannya.
"Jangan berpura-pura tidak tahu hyung"
Chanyeol mengedikkan kedua pundaknya. "Aku hanya tahu kau marah padaku. Tapi aku tak tahu alasannya mengapa" sahutnya cuek.
"Ini tentangnya hyung...tentang Baekhyun"
Hening melanda. Hanya sesaat saja Chanyeol nampak terkesiap, namun setelahnya ia berlaku tidak peduli dan melanjutkan kembali pekerjaannya. "Jadi ini alasanmu mendobrak pintuku? Ckckck" Chanyeol terkekeh meremehkan. "Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi mengenai dirinya. Jika bukan karena dirimu, sudah dipastikan saat ini ia telah membusuk bersama ayahnya"
Jongin berdecih mendengarnya. "Omong kosong! Kau menikmati tubuhnya seperti jalang, melenyapkan ayahnya, membuatnya dikeluarkan dari kampusnya, mengambil satu-satunya tempat tinggal yang dia miliki...Demi Tuhan! Lebih baik Baekhyun mati saja hyung!" Jongin meninggikan suaranya.
Seolah tak gentar melihat Jongin yang nampak seperti akan menerkam dirinya, Chanyeol justru mengedikkan bahu dan menjawab dengan entengnya, "Kalau kau ingin ia mati, ya bunuh saja. Aku tidak peduli lagi dengannya"
Dengusan dan tatapan meremahkan diberikan Jongin pada lelaki tinggi di depannya. "Tidak peduli katamu? Cih! Hyung pikir aku tidak mengetahuinya?!" Chanyeol berhenti dari aktivitasnya dan menatap tajam ke arah Jongin. Persetan dengan kesopanan, Jongin merangsek duduk di atas meja, tepat di atas tumpukan kertas yang dikerjakan Chanyeol. "Dua kali hyung...dua kali kau menyelamatkan Baekhyun ketika ia tak sadarkan diri! Aku tahu semuanya! Kau yang selalu menaruhnya di depat pintu apartemenku, memastikan diriku merawatnya dengan baik dan kau masih bisa berkata kau tidak peduli hah!"
Sesaat, hanya deru nafas Jongin yang memburu saja yang terdengar di dalam ruangan. Sampai akhirnya kekehan kecil mulai terdengar dari mulut Chanyeol. "Yeah..kau benar, memang aku yang melakukannya" Chanyeol mengakui. "Tapi kutekankan disini, aku menolongnya agar ia tidak mati begitu saja. Baekhyun harus tetap hidup...dan merasakan penderitaan yang akan kuberikan padanya" seringai miring tak berperasaan ditampilkan oleh Chanyeol. Membuat Jongin menganga dengan hebatnya sambil geleng-geleng kepala melihatnya.
"Hyung...apakah cintamu padanya benar-benar sirna tak bersisa?" lirih Jongin.
Seringai Chanyeol menghilang, namun ia hanya termangu tanpa memberikan sebuah jawaban. Sesaat, ia kira Jongin memutuskan untuk keluar ketika dilihatnya lelaki yang lebih muda darinya itu menuruni meja kerjanya. Namun dugannya salah besar-
"Apa yang kau lakukan?!"
-dikala Jongin mengeluarkan sebuah pistol dari sakunya. Kedua mata bulat Chanyeol semakin melebar sempurna dan ia bergegas berdiri dari bangkunya. "Demi Tuhan Jongin, jangan gegabah sialan!" Chanyeol panik bukan main. Demi apapun, Chanyeol tidak akan sepanik ini jika pistol itu tearah menuju kepalanya,
bukan pada kepala Jongin seperti saat ini!
Jongin melangkah mundur perlahan, masih dengan moncong pistol yang menempel pada pelipisnya."Hyung...aku mencintai Baekhyun" Jongin tersenyum kecil, yang justru semakin membuat Chanyeol panik melihatnya. "Ambil nyawaku...dan lepaskan Baekhyun" kembali Jongin tersenyum, bahkan lebih lebar dari sebelumnya.
"Bodoh! Aku akan semakin membencinya Jongin!" Degup jantung Chanyeol semakin menggila di setiap pergerakan yang dilakukan oleh Jongin. Langkahnya semakin cepat, terlebih melihat jari telunjuk Jongin menapak di pelatuk pistolonya. Hanya sedikit lagi...
"JONG-"
Brakk!
"-Tuan Park! Byun Baekhyun hendak meloncat dari-ah maafkan aku masuk tiba-tiba Tuan" lelaki yang diketahui Jongin sebagai salah satu tangan kanan Chanyeol itu mendudukkan kepalanya takut.
"Apa yang kau bilang tadi? Apa yang terjadi dengan Baekhyun?!" bukan Chanyeol yang menjawab, melainkan Jongin yang kini tengah mendekati pekerja Chanyeol. Rautnya begitu panik, seolah telah melupakan tindakan berbahaya yang baru saja ia lakukan.
"B-byun Baekhyun berdiri di pagar balkon lantai 10 dan dia-"
Tap Tap Tap
Chanyeol menghela nafas berat melihat sosok Jongin yang telah menghilang dibalik pintu. Lelaki itu bergegas meninggalkan ruangan, bahkan disaat bawahan Chanyeol itu belum menyelesaikan ucapannya. Seorang Byun Baekhyun nampaknya mengacaukan akal sehatnya, mengingat apa saja yang telah ia lakukan sejak tadi.
...
Baekhyun hanya tak mampu lagi berfikir dengan benar, hingga membuatnya berdiri di tempat ketinggian seperti ini. Sungguh, tidak pernah sekalipun terbersit dalam benaknya, akan memilih cara ini untuk mengakhiri hidupnya. Namun tekadnya sudah bulat. Disaat kehidupan seolah mengkhianati dirinya, maka kematian adalah pilihan terbaik untuknya.
Ia menoleh cepat, ketika indera pendengarnya menangkap suara langkah kaki di belakangnya. Dan seorang lelaki tampan adalah sosok yang berada di sana.
"Apa yang kau lakukan di sana?"
Baekhyun nampak sedikit terkesiap, namun segera ditutupi oleh raut datarnya. "Melakukan apa yang kau inginkan selama ini Yeol"
"Lalu mengapa masih diam saja? Menungguku datang?"
Hati Baekhyun mencelos mendengarnya, namun ia sudah terbiasa akan itu. Tarikan nafas panjang terlebih dahulu diambil olehnya sebelum memulai berucap. "Ya, aku memang menunggumu datang kemari. Kau harus melihat dengan mata kepalamu sendiri akibat dari segala perbuatanmu padaku, dan ini akan menjadi mimpi burukmu sepanjang waktu!"
"Lucu sekali Byun Baekhyun, memangnya siapa dirimu?" tak disangka, Chanyeol justru tertawa seolah apa yang diucapkan Baekhyun hanya lelucon belaka. Ia berdeham sejenak, mentralisir tawanya sebelum melanjutkan ucapannya. "Silahkan melompat sesukamu dan sampaikan salamku untuk ayahmu di neraka"
"Ch-chanyeol..kau..kau benar-benar biadab!" Baekhyun mengepalkan kedua tangannya menahan amarah, dan itu tidak luput dari pandangan Chanyeol.
"Naif sekali Byun Baekhyun. Kau pikir setelah kau mati akan bertemu dengan ayah dan ibumu? Dan kau pikir aku akan menyesal dan menangisi kematianmu hah?!" Baekhyun membeku atas kata-kata Chanyeol yang menusuk dirinya. Bahkan ia sama sekali tak bergeming ketika entah sejak kapan, lelaki kejam itu tengah berdiri di depannya saat ini. Sambil menampilkan seringai angkuh dan kedua tangan yang menyilang, Chanyeol mendongak menatap Baekhyun. "Kau hanya mati sia-sia Baekhyun. Orang tuamu tidak akan menyambutmu disana, dan aku...aku akan tetap melanjutkan hidupku dengan tenang, bercinta dengan orang lain sambil menikmati rumah baruku saat ini" sahut Chanyeol dengan entengnya.
Di sisi lain, nampak Baekhyun yang rautnya sudah memerah sempurna, bahkan sekujur tubuhnya bergetar merasakan kebencian yang begitu dalam pada lelaki di depannya ini. "Kau... kau akan mendapatkan balasan yang setimpal Chanyeol. AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUNUH-"
Greb!
Dengan cepat Chanyeol menarik Baekhyun turun, kemudian memenjarakan dirinya dalam himpitan pagar. Chanyeol menyangga dagu Baekhyun hingga mendongak, dan mengunci pandangan keduanya. Sejenak, hanya deru nafas keduanya saja yang terdengar saat ini, hingga akhirnya Chanyeol yang pertama kali membuka suaranya.
"Tetaplah hidup...dan jadilah lelaki yang kuat Baekhyun" pertama kalinya Chanyeol berucap lembut, namun sayangnya kebencian Baekhyun terlalu besar untuk menyadari hal tersebut. Ia juga tidak peduli ketika tangan kanan Chanyeol bergerak mengeluarkan sesuatu dari belakang celananya, yang ternyata itu adalah sebuah senjata api. "Ambillah ini" ucapnya sambil menggerakkan jemari Baekhyun untuk menggengam pistol tersebut. Sesudahnya, keduanya saling bertukar pandang kembali seiring jemari Chanyeol yang menangkup pipi kiri Baekhyun.
"Temukan aku, dan gunakan ini ketika kelak kita berjumpa kembali"
Chanyeol beranjak pergi, setelah menyempatkan untuk mengecup kilat bibir Baekhyun sebelumnya. Sebuah kecupan lembut, yang sayangnya sudah terlambat untuk dilakukan olehnya. Karena Baekhyun telah memutuskan untuk menutup rapat kisahnya bersama Chanyeol, digantikan sebuah dendam membara.
Tepat ketika Chanyeol hendak membuka pintu untuk keluar, berdiri sosok Jongin yang sepertinya sejak tadi berada di sana, mendengarkan semua yang dibicarakan oleh Chanyeol dan Baekhyun.
"Aku telah melepaskan Baekhyun" Chanyeol memberikan sebuah senyuman hangat. Ia tepuk pelan pundak Jongin, dan berkata "kau bisa hidup bahagia dengannya Jongin, sampai jumpa" ucapnya sebelum kembali melanjutkan langkahnya. Chanyeol sudah akan menuruni tangga sebelum tiba-tiba suara Jongin menghentikan langkahnya.
"Hyung, semua yang kau lakukan ini...semata-mata untuk masa depannya 'kan? Apakah kau...masih mencintainya hyung?"
Chanyeol terkesiap, kemudian tersenyum miris setelahnya.
"Meski selama ini aku telah bersikeras untuk tidak memikirkan Baekuyun, namun kenyataannya...aku tidak pernah berjuang melupakan dirinya"
.
.
TBC
.
.
Maafkan aku yang suka chanyeol rambutnya abu-abu, makanya karakter chanyeol di ff ku kebanyakan abu-abu ga jelas gitu kan wkwkwk.
Jadi gimana? Chanyeol ini jahat apa baik? Masih sayang Baek atau ga? Chanbaek atau Kaibaek? Hihihi
Oiya, terima kasih untuk yang review, fav, dan follow. Review lagi yah teman-teman? :)
