Someone Behind You
With
.
.
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Kim Jongin
Oh sehun
Do Kyungsoo
.
.
"Nah! Bagaimana? Suka dengan penampilanmu?" Seorang wanita paruh baya tersenyum penuh harap, menanti jawaban dari lelaki muda yang sedang mematut di depan cermin. Melihat sudut bibir si lelaki yang mulai menukik ke atas, menandakan lelaki tersebut menyukai perubahan pada dirinya, yang mana merupakan hasil karya cipta sang wanita.
"Woah! Aku tidak tahu bisa sesexy ini Bi!" Kekeh si lelaki begitu riang, kemudian memutar tubuhnya untuk menghadap pada sang wanita, "apakah dia akan menyukai ini Bi?" Sebersit keraguan hadir dalam benaknya.
Wanita paruh baya bernama Bibi Ahn itu mematri senyuman teduh, dan menepuk lembut pundak si lelaki. "Baekhyun...tidakkah kau ingat betapa setianya ia mendampingimu pada saat itu?" Baekhyun menganggukkan kepalanya. "Lantas mengapa kau meragu? Bahkan dalam kondisi terburuk pun ia tetap bertahan disampingmu sayang...jadi jangan khawatir oke?" Kembali Baekhyun mengangguk, namun kini dengan senyuman indah yang mengembang di bibirnya. Menghantarkan kelegaan pada Bibi Ahn, yang tak lama kemudian memicingkan matanya pada yang lebih muda. "Aku pikir sepertinya dia yang akan kesulitan mengontrol 'adik kecilnya' melihat penampilan barumu" Goda si bibi, membuat kedua mata sipit si lelaki membelakak.
"Astaga Bibi!" Pekik si lelaki sedikit heboh.
Bibi Ahn hanya terkekeh kecil melihatnya, dan seakan tak kunjung puas melihat gerak salah tingkah dari si lelaki, maka dengan niat ingin menggodanya kembali, ia mulai mendekati telinga lelaki tersebut. "Kalian pasti sudah sering melakukan 'itu' bukan? Bagaimana? Apakah ia begitu tangguh ketika di ranjang?" Tanya si bibi setengah berbisik.
Jangan tanyakan bagaimana keadaan Baekhyun saat ini. Paras manisnya dipenuhi rona merah padam, sedang indera pendengarnya sudah tidak berfungsi menyerap kata-kata senonoh yang dilontarkan oleh Bibi Ahn. Maka, sebelum sang bibi berucap semakin jauh, Baekhyun bergegas berdiri dari duduknya, dan menatap nyalang pada wanita tersebut.
"Demi Tuhan hentikan Bibi! Kau tidak lihat disini banyak orang huh?!" Keluh Baekhyn, sambil mengamati sekitarnya. Sementara Bibi Ahn tertawa begitu lepas, nampak puas berhasil menggoda lelaki muda yang telah dianggapnya sebagai putranya. Hanya sekejap mata saja tawa itu turut menulari Baekhyun, dan keduanya pun larut dalam suasana gembira.
Hingga sayup-sayup terdengar suara kegaduhan dari seberang toko Bibi Ahn, membuat keduanya berhenti tertawa dan mengalihkan atensinya menuju sumber suara.
Praangg!
Dentingan kaca yang beradu dengan kerasnya lantai, beserta samar-samar lolongan minta tolong dari beberapa penghuni toko seberang, menggerakkan tungkai Baekhyun mendekati tempat kejadian.
"Jangan gegabah Baekhyun" Bibi Ahn menahan lengan Baekhyun sambil menggeleng tegas. Baekhyun lantas berhenti, hanya untuk memberikan tatapan meyakinkan pada si bibi.
"Tidak apa Bi. Sudah sekian tahun aku berlatih dan ini saat yang tepat untuk mengukur kemampuanku" Jelas Baekhyun, untuk menenangkan si bibi. Maka ketika anggukan kepala dari Bibi Ahn didapatkan oleh Baekhyun, lelaki muda itu bergegas melangkah menuju tempat tujuannya.
...
Situasi menegangkan terjadi tak jauh dari toko milik Bibi Ahn. Potongan kaca yang berserakan di lantai, meja dan kursi yang tak beraturan, dan sepasang suami isteri selaku pemilik kedai makanan kecil ini, sedang meringkuk takut sambil mendekap erat gadis kecilnya. Sementara sang pelaku yang bertanggung jawab atas segala kerusakan ini, berdiri dengan angkuh bersama tiga kawanannya.
"A-ampuni kami Tuan, lu-lusa akan kami lunasi semuanya" Mohon sang suami, sambil berulang kali menggosok kulit sepatu si penagih hutang, yang sedang menyunggingkan senyum angkuh di wajahnya.
"Lusa dan lusa...selalu itu yang kau janjikan sejak sebulan yang lalu. Kau ingin mempermainkanku hah?!" Sang ayah menggeleng dengan hebatnya dan sedikit meringis ketika sepatu kulit itu menginjak telapak tangannya. "Cih! Sial sekali. Bahkan tidak ada satupun hal berharga dari tempat mengerikan ini yang bisa ku-ah...ternyata aku melewatkan sesuatu" Lelaki itu mulai tersenyum, mengakibatkan sepasang suami isteri di bawahnya semakin meringsut ke dinding.
Dan keduanya tidak perlu berpikir dua kali untuk mendekap erat sang gadis kecil, kala sang ketua geng berjongkok dan menatapnya penuh kilatan mematikan. Tidak peduli sekeras apa ayah dan ibunya mencoba melindungi gadis kecil tersebut, ketika sang ketua sudah menjentikkan jemarinya sebagai isyarat, maka tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh pasangan ini selain memohon dan meraung bak kesetanan.
Tanpa peduli bagaimana hancurnya kedua orang tua si gadis kecil, sang ketua membawa gadis tersebut dalam gendongannya. Kedua mata tajamnya mengamati lamat-lamat sekujur tubuh gadis itu, menimang besarnya keuntungan yang akan ia peroleh dari gadis ini.
"Lepaskan gadis kecil itu!"
Para penghuni ruangan itu menoleh ke arah sumber suara, tanpa terkecuali sang ketua yang posisinya lebih dekat dengan sosok tamu tak diundang tersebut. Adalah seorang lelaki mungil bersurai cokelat terang, memiliki mata sabit yang dihiasi sepasang softlens cokelat, dilengkapi sebuah guratan tatto di lehernya, memberikan kesan sexy pada parasnya yang lugu. Dengan perawakan diri yang jauh berbeda dengan tipikal 'pria sejati', sama sekali tidak menghalanginya untuk berdiri dengan dagu mendongak, untuk menantang para kawanan penjahat di depannya.
"Jadi..." Si ketua terlebih dahulu menurunkan gadis kecil dalam gendongannya, kemudian melangkah mendekat pada pahatan indah tak jauh darinya. "...apa yang membuatmu datang kemari cantik?" Godanya, sungguh terpesona pada paras indah lelaki di depannya.
"Sederhana saja. Aku ingin menyeret kalian keluar dari tempat ini" Jawab si mungil.
"Woahaha yang benar saja!" Si ketua tertawa sejenak, terkesan merendahkan lelaki di depannya. Ia mengambil satu langkah maju ke depan, menangkup sebelah pipi mulus itu dengan tangannya. "Siapa namamu cantik? Kuakui keberanianmu membuatku tertarik" Ucapnya sambil membelai pipi lelaki itu.
"Byun Baekhyun" Jawab si mungil dengan cepat. "Simpan itu di kepalamu baik-baik dan cepat singkirkan tanganmu sebelum kau menyesalinya"
Dengan seringai meremehkan, lelaki jahat itu mendekatkan wajahnya, "Mengapa? Kau ingin aku menyentuh bagian tubuhmu yang lain?" Tanpa menunggu adanya balasan, lelaki itu telah lebih dulu menggerakkan tangannya menuju belahan bibir tipis Baekhyun, membelainya sensual. "Bagaimana dengan ini?" Baekhyun hanya bungkam dengan wajah datarnya, sedang yang lain kembalo membawa tangannya kembali bergerak ke bawah, melewati lehernya, berhenti sejenak ketika hendak mencapai area dada si mungil. "Atau yang ini? Haruskah aku menurunkan tangan-
Sleb!
-AAKK SIALAN KAU!"
Lelaki jahat itu memekik begitu kuat, sekaligus merintih atas nyeri yang ia rasakan dari pisau yang tertancap di punggung tangannya. Kemurkaan nampak jelas dari rautnya, memberikan tatapan membunuh pada Baekhyun si pemilik pisau. Si penjahat hendak mencoba menyerang Baekhyun, namun lagi-lagi si mungil itu begitu gesit menghindar, dan-
Sleb!
"-AARGGH!" Si ketua kembali merintih, lebih keras dan lebih memilukan dari sebelumnya, ketika untuk yang kedua kalinya sebuah pisau menancap di tubuhnya. Tepatnya pada tempurung lututnya, hingga membuatnya jatuh terkulai di lantai. Sambil menahan sakit, ia menatap nyalang pada kawanannya, "Kalian lihat apa hah?! Cepat habisi dia sialan! Ucapnya emosi.
Satu lelaki yang berbadan besar, maju lebih dulu mendekati lawan kecilnya. Secara mengejutkan ia melayangkan tinju bertubi-tubi, namun Baekhyun pun tak kalah cepat untuk menghindar dan melesat ke belakang lelaki itu. Belum sempat si lelaki berbadan besar berbalik ke belakang, Baekhyun sudah menapakkan kakinya menuju lutut bagian belakang si penjahat hingga akhirnya jatuh begitu saja di lantai.
Kedua kawanan yang lain maju bersamaan menyerang Baekhyun, dengan menggenggam pisau di tangan masing-masing. Melihat itu, tak membuat nyali Baekhyun menciut sedikitpun. Sudut bibirnya justru menukik ke atas, seiring dengan jemari lentiknya yang mengambil sebilah pisau dari saku jaketnya.
Serangan pertama datang dari arah kiri Baekhyun. Ia masih mampu menghindar dengan baik, memelintir tangan si penjahat hingga menjatuhkan pisaunya. Namun tanpa diduga serangan tiba-tiba datang dari arah belakangnya, dan untungnya refleks Baekhyun cukup baik hingga ujung pisau itu hanya merobek lengan bajunya. Belum sempat ia menstabilkan posisinya, serangan kembali datang dari berbagai penjuru, dimana tiga kawanan itu serempak bersatu melawannya.
"Akh..." Baekhyun meringis merasakan nyeri pada goresan di bahunya. Kemampuan Baekhyun dalam bertarung mungkin terbilang cukup baik saat ini. Namun jika diserang beramai-ramai seperti ini, ia masih belum cukup tangguh untuk melawan. Terbukti dari tubuhnya yang kini jatuh terkulai di lantai.
Melihat Baekhyun nampak tak berdaya lagi untuk melawan, si ketua penagih hutang menyeringai puas dan melangkah mendekat dengan kaki pincangnya. Ia sedikit membungkuk, menarik surai Baekhyun untuk menatapnya. "Harusnya kau tidak mencoba melawanku sayang, lihat wajah cantikmu ini..." Baekhyun meringis sesekali kala jemari si penjahat mengusap beberapa luka di wajahnya. "Bagaimana kalau kita kerumahku untuk mengobati ini hum?"
Baekhyun hanya membisu, membiarkan jemari si penjahat membelai bibir tipisnya yang sedikit tergores, menunggu hingga lelaki itu mendekati wajahnya dan..
Sleb!
"AARGHH AWAS KAU SIALAN!" Sementara lelaki itu terus mengumpat dan memegangi wajahnya yang tergores pisau, Baekhyun sang pelaku justru terkekeh puas atas perbuatannya.
Kesabaran si ketua sudah pada ambang batasnya. Emosi dan rasa sakit yang menggila, dalam sekejap menggelapkan akal sehatnya hingga membuatnya mengambil pisau dari tangan anak buahnya. Tangannya terangkat tinggi-tingi, siap melayangkan pisau itu untuk menghujam tubuh mungil di bawahnya. Baekhyun sudah menutup matanya, hingga tiba-tiba-
Brummmm
-suara pedal gas motor yang memekakkan telinga dari arah luar, menyita fokus semuanya. Si pengendara motor turun dengan begitu elegan, memasuki ruangan dengan derap langkah yang pasti.
Perlahan-lahan ia membuka helm di kepalanya, menampilkan paras tampan nyaris sempurna, membuat Baekhyun tersenyum lega di tempatnya. Sambil mengacak-acak helai cokelat gelapnya, si lelaki tampan itu kembali melangkah menuju para kawanan yang mengeremuni Baekhyun.
Ia berhenti tak jauh dari posisi Baekhyun, cukup dekat untuk mengamati berbagai luka yang tertoreh di wajah manis itu. Dirasanya sudah cukup mengetahui kondisi Baekhyun, si tampan mulai menggulung lengan kemejanya hingga siku, kemudian mengalihkan tatapan tajamnya pada keempat lelaki lainnya.
"Adakah diantara kalian yang ingin mengucapkan kata-kata terakhir?" Tanya si tampan pada sekelompok penjahat itu, membuat keempatnya mengerutkan dahi sambil bersikap waspada. Dengan raut datar tanpa emosi yang tersirat, sebuah seringai mematikan mulai muncul di sudut bibirnya.
"Karena tidak akan ada hari esok bagi siapa saja yang telah menyakiti kekasihku"
.
.
.
Menit demi menit telah terlewati, namun kedua anak adam berbeda usia ini masih setia duduk berhadapan di atas sofa panjang. Tidak ada percakapan yang terjadi antara keduanya, selain rintihan kecil yang berulang kali mengalun dari lelaki yang lebih muda.
"Awh..sakit Jonginn~~" Keluh si lelaki mungil, ketika kapas beralkohol itu menyentuh luka di pelipis kanannya.
"Sudah tahu sakit, masih saja gegabah. Bagaimana kalau tadi aku tidak datang hah?" Sungut Jongin.
Baekhyun mengerucutkan bibirnya kesal. "Lalu aku harus diam saja melihat orang lain ditindas?!" Jawabnya tak kalah ketus.
Jongin berdecak sekaligus memutar matanya. Ia menghela nafas sejenak untuk meredam emosinya, sebelum melanjutkan kembali pekerjaannya mengobati Baekhyun. "Kemampuanmu memang sudah cukup baik saat ini, tapi jangan memaksakan diri Baekhyun" mulainya tenang.
"Aku hanya ingin mengukur kemampuanku sekaligus menolong-Awh! YAK KAU INI!" Baekhyun bangkit dari duduknya, menatap tajam Jongin sambil memegangi sudut bibirnya yang terasa begitu perih. "Kalau tidak mau mengobatiku ya sudah! Aku pergi saja!" Pekiknya kesal, dan mulai melangkah menuju pintu. Hanya selangkah lagi saja jemarinya menggapai kenop pintu, ketika secara tiba-tiba sepasang tangan mendekap tubuhnya dari belakang.
"Tidak bolehkah aku mengkhawatirkan kekasih mungilku ini? Aku tidak suka siapapun menodai wajah cantikmu sayang" Jongin berbisik, diikuti hujanan kecupan olehnya di sisi wajah si mungil kesayangannya.
Sementara Baekhyun sendiri mengulum bibirnya, mati-matian menahan senyum yang ingin berkembang. Ia menghentak tubuh Jongin ke belakang, hingga rengkuhan keduanya terlepas. "Tidak usah peluk-peluk! Peluk saja lelaki lain yang tidak akan GEGABAH dan MEREPOTKAN kekasihnya" Sarkas Baekhyun, masih dengan posisi membelakangi Jongin.
Perlahan, Jongin meraih kembali tubuh Baekhyun, lalu memutarnya hingga keduanya berhadapan. "Kalau aku inginnya dirimu bagaimana?" Godanya.
Baekhyun berdecih pelan dan menyilangkan kedua tangannya. "Kalau aku tidak mau bagaimana?" Tantangnya tak mau kalah.
Untuk sesaat, suasana begitu sunyi tanpa adanya debat kata diantara keduanya. Sampai satu menit kedepan keadaan tetap lengang tak berubah, hanya tubuh keduanya saja yang semakin merapat tiap detiknya. Baekhyun terlalu kelu hanya untuk membuka bibirnya, sama halnya pula dengan Jongin yang memilih melangkahkan tungkainya, menghimpit Baekhyun dalam kungkungannya.
"Jangan mencoba memancingku Baekhyun..." Suara Jongin serak mendalam, sedang netra cokelatnya mulai menggelap. Ia menundukkan wajahnya, berbisik halus di permukaan bibir tipis kekasihnya. "...Jangan berani mencobanya dengan penampilan sialan ini..."
Bagaikan tersihir oleh sebuah mantra, bukannya mendorong Jongin menjauh, Baekhyun justru melingkarkan tangannya di leher sang kekasih, menatapnya dengan sepasang mata sabitnya yang menyayu. "Bagaimana penampilan baruku? Aku merubahnya untukmu" Bisiknya malu-malu.
"Kau tidak tahu betapa sulitnya aku mengontrol diri untuk tidak menyeretmu ke ranjang Baekhyun..."
"Kalau begitu jangan ditahan lagi..." Baekhyun berbisik lembut, sedang Jongin mengepalkan tangannya menahan gejolak hasratnya yang berapi-api. Dan satu kecupan berani yang diberikan Baekhyun pada bibirnya, hanya semakin memperburuk pertahanan dirinya.
"...selama 24 jam dalam 720 hari ini, tidak pernah sekalipun kau mencoba menyentuh diriku. Bahkan kau memilih menuntaskan hasratmu sendiri ketimbang melakukannya dengan orang lain" Baekhyun menjeda sesaat, untuk mendekatkan tubuh keduanya. Jemari lentiknya mulai merayapi kemeja Jongin untuk melepaskan kancingnya satu persatu, sedang wajahnya kian tak berjarak, "Silahkan...lakukan apa yang kau mau Jongin..."
Bisikan halus dari Baekhyun adalah sepatah kata terakhir yang terucap sebelum Jongin menabrakkan bibirnya. Tidak ada kesan halus dan lembut di sana, namun Baekhyun nampak tak keberatan dan turut mengimbangi sesapan yang begitu menuntut di bibirnya. Tubuh mungilnya kian terdesak menghimpit dinding seiring detik terlewati. Jongin nampak bagai singa kelaparan, terus menundukkan wajahnya selagi menahan tengkuk kekasih mungilnya. Sedang Bakhyun sendiri terbuai oleh hasratnya, dengan berani menggigiti belahan bibir Jongin, yang semakin menghilangkan akal sehat si lelaki tan.
Benar adanya bahwa Jongin tak pernah menyentuhnya selama ini, meski hanya sekedar tautan bibir sederhana pun ia tak pernah mencoba. Kondisi Baekhyun saat itu yang tak ayalnya seperti pasien depresi akut sepertinya menjadi alasan utamanya. Namun Jongin tak pernah keberatan akan itu, selalu hadir di setiap ia membuka mata maupun hendak menutup mata. Seakan tak pernah jauh dari sisinya meski hanya untuk 1 detik saja.
Pernah suatu malam Baekhyun sengaja berpura-pura tidur lebih awal untuk menelisik apa yang kekasihnya lakukan jika di malam hari. Nyatanya Jongin memang benar-benar pergi saat itu. Baekhyun mengikutinya dalam diam, sempat merasa kecewa dengan berbagai pikiran negatif yang muncul dalam benaknya. Disaat Jongin berhenti di suatu tempat yang tak asing baginya, Baekhyun tidak bisa menahan diri untuk menerjang Jongin dalam sebuah pelukan haru, ketika ia menemukan fakta bahwa setiap malam kekasihnya itu menyempatkan diri untuk belajar memasak bersama Bibi Ahn.
Katakan bagaimana Baekhyun tidak jatuh cinta.
Bila semua yang lelaki itu lakukan hanya untuk kebahagiaan dirinya.
'"Uhh" Baekhyun melenguh dengan mata terpejam, sementara Jongin sibuk menghiasi leher Baekhyun dengan sesapan kuat dari bibirnya. Membuat si mungil hanya mampu melenguh berulang kali, tidak menyadari bahwa keduanya kini telah bercumbu mesra di sofa.
Puas akan berbagai warna merah keunguan pada leher Baekhyun, Jongin membawa bibirnya kembali ke atas untuk menautkan lidah keduanya. Sepanjang dagu hingga rahang Baekhyun telah dialiri oleh campuran saliva keduanya, dan Jongin kembali membawa bibirnya untuk menyesap mengikuti aliran saliva tersebut. Bibir penuh dosa itu terus bergerak, beriringan dengan ujung pakaian Baekhyun yang perlahan digulung olehnya ke atas.
"J..jonginhh" Baekhyun mulai bergetar, dikala jemari Jongin menyapa tubuh polosnya. Kedua mata sabitnya kian terpejam erat, sedang bola matanya bergerak tak karuan dalam pejamannya. Bulir-bulir keringat mulai terlihat menapaki kening hingga pelipisnya. Ketika gigitan basah mulai mencapai area paha dalamnya, sekuat tenaga Baekhyun berupaya menahan gejolak dalam dirinya semata-mata demi kebahagiaan sang kekasih.
Sangat disayangkan. Sekuat apapun Baekhyun mengelak, ia tidak mampu memungkiri bahwa tidak ada lagi hasrat yang menggelitik akal sehatnya.
Diredam begitu saja oleh sebuah trauma dari masa lalunya.
"Buka matamu..." Jongin berbisik, namun Baekhyun bersikeras menutup matanya, menahan linangan air mata yang siap membendung. "Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu...jangan takut" Bisik Jongin kembali, sembari membelai lembut pipi sang kekasih.
Derai air mata mengalir begitu deras ketika Baekhyun membuka kedua matanya. Ia menatap nanar pada Jongin, menggengam jemari Jongin di pipinya. "Maafkan aku...trauma sialan itu masih menghantuiku..." Isakan Baekhyun semakin kuat, dan Jongin berinisiatif melesakkan si mungilnya yang rapuh dalam rengkuhannya.
"Sshh...tidak apa sayang..." Jongin mengecupi pucuk kepala kekasihnya dengan sayang. Kemudian melepas sejenak rengkuhannya, untuk membuat keduanya saling bertukar tatapan. "Aku mencintaimu dengan hati, bukan dengan hasrat. Ingat itu" Tegasnya untuk meyakinkan Baekhyun.
Rona merah begitu kentara menghiasi kedua pipi Baekhyun, disertai sorotan haru dari kedua mata sabitnya yang berkilauan air mata. Ia sempatkan mengecup dalam bibir sang kekasih, menyalurkan perasaan yang menggebu-gebu dalam hatinya, sebelum menempatkan wajahnya pada dada bidang Jongin.
Untuk sesaat keduanya larut dalam keheningan, merasa nyaman dalam rengkuhan tubuh masing-masing. Saling mendengarkan detak jantung yang terasa berirama, diselingi kecupan-kecupan lembut yang diberikan Jongin pada surai Baekhyun.
"2 tahun sudah terlewati, kau tidak ingin kembali ke Korea?" Jongin memulai dengan hati-hati.
Dalam sekejap Baekhyun melepaskan rengkuhannya dan memberikan gelengan tegas. "Tidak sekarang Jongin. Tidak disaat Tuan Choi mengatakan bahwa informan bayarannya melihat bajingan itu berada di sekitar Osaka. Ah! aku tak menyangka pada akhirnya kami berada di satu tempat yang sama!" Jongin hanya diam mendengarkan, kemudian tersenyum maklum ketika sorotan kebencian mulai tampak pada sepasang mata sabit itu.
"Kupastikan Osaka akan menjadi tempat terakhir persembunyiannya" Diucapkan Baekhyun begitu lantang, tanpa keraguan.
Kembali, Jongin hanya mampu tersenyum maklum dan memilih membawa kembali tubuh Baekhyun dalam rengkuhannya. Jemarinya berulang kali membelai surai kekasihnya, sedang pikirannya dibiarkan jauh berkelana, memutar kembali kilas balik berbagai hal yang telah keduanya lewati hingga detik ini.
Jongin tak pernah mengira, bahwa apa yang terjadi saat ini begitu berbelit layaknya kumparan benang kusut, seakan tak ada lagi pilihan jalan keluar untuknya. Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, dimana masing-masing memiliki alasan tersendiri atas apa yang mereka lakukan.
Jongin tak pernah sekalipun menginterupsi dendam membara yang dimiliki Baekhyun untuk melenyapkan seseorang di masa lalunya.
Ia tidak akan sanggup. Tidak akan pernah.
Sebab itulah alasan terbesar Baekhyun melanjutkan hidupnya.
Jongin tak pernah mempermasalahkan bahwa dirinya tidak terlalu berpengaruh bagi kehidupan Baekhyun, tak perduli jika sekedar ungkapan cinta sederhana tak pernah terlontar dari mulut sang kekasih.
Semua yang ia lakukan murni ketulusan dari hatinya, atas dasar perasaannya yang begitu mendalam pada si mungil. Dalam kurun waktu 2 tahun, tak pernah sekalipun ia melewatkan hari tanpa Baekhyun di sisinya. Memperhatikan berbagai perubahan yang terjadi pada lelaki tersebut.
Pada setengah tahun di awal, menjadi masa-masa yang paling sulit bagi keduanya. Saat itu Baekhyun hanya mampu duduk membisu di ranjang sepanjang hari dan menjerit tidak karuan di malam harinya. Tak jarang Jongin pun sering menjadi sasaran amukan lelaki itu, hingga berbagai bekas luka cakaran samar-samar terlihat di sekujur tubuhnya. Prihatin akan kondisi Baekhyun yang nampak jauh dari kata membaik, maka pada akhirnya dengan keputusan yang paling memilukan dalam hidupnya, Jongin menawarkan sesuatu pada lelaki itu.
Merubahnya menjadi seorang lelaki yang lebih kuat. Atau dengan kata lain membantunya untuk menuntaskan dendam pada Chanyeol. Melenyapkannya.
Park Chanyeol, seseorang yang juga berharga dalam hidup Kim Jongin.
Tiada hari tanpa rasa bersalah di benak Jongin. Namun melihat Baekhyun mulai perlahan-lahan mencoba bangkit dari keterpurukannya, perasaan bersalah itu menguar begitu saja. Biarlah yang akan terjadi nantinya, biarlah semua kesakitan akan mendatanginya, asalkan senyuman terus terpatri di bibir lelaki mungilnya.
2 tahun telah terlewati tanpa disangka. Tidak ada lagi Baekhyun yang lemah dan penakut. Sosok itu telah lama mati, digantikan oleh seorang Byun Baekhyun yang keras kepala dan gemar bermain dengan berbagai senjata tajam.
Terhitung telah berbagai negara mereka kunjungi, hanya demi menelusuri keberadaan Chanyeol, yang dibantu oleh Tuan Choi selaku bawahan ayah Baekhyun. Dan di sinilah keduanya berada saat ini. Tepatnya di Osaka, di tempat yang sama dimana Chanyeol berada.
Dering ponsel di atas meja, menarik Jongin kembali dari lamunan panjangnya. Ia sedikit terkesiap melihat waktu telah berlarut hingga tengah malam, dan kekasih mungilnya nampak sudah tenggelam dalam mimpi indahnya. Melihat ID pemanggil di ponselnya, Jongin memutuskan untuk bangkit dari ranjang menuju teras apartemennya.
'Hn' Sahutnya singkat, sudah tahu tujuan si penelpon menghubunginya.
Dengusan kesal terdengar samar-samar dari seberang. 'Ini sudah yang kelima kalinya dan tidak akan ada yang keenam. Cepat kembali ke Korea sebelum aku yang datang menyeretmu blacky'
Jongin memutar matanya. 'Sialan kau. Tunggu sampai aku pulang Oh Shithun!'
Sehun terkekeh kecil mendengarnya dan menghela nafas sesaat sebelum kembali berbicara. 'Mengenai Chanyeol hyung...kau benar-benar tidak tahu keberadaannya?'
Tanpa berpikir dua kali, Jongin menjawab tegas. 'Tidak. Chanyeol hyung tidak pernah menghubungiku, dan kami tidak pernah bertemu lagi sejak itu' jelasnya yakin.
'...' Hening sesaat, Jongin mengira panggilannya telah terputus hingga suara helaan nafas Sehun terdengar samar-samar. 'Ingat, jangan sampai bos turun tangan menyeretmu pulang dan juga...jangan lupa hubungi kami jika kau bertemu Chanyeol hyung'
'Hn, aku mengerti" jawab Jongin singkat, sebelum memutus sambungan teleponnya dengan Sehun.
Pikirannya kembali melanglang buana, tepat setelah memastikan ponselnya telah tersimpan rapi di saku celananya. Nampaknya dosa yang ia lakukan di masa lalu begitu besar, hingga penebusan yang mendatanginya pun begitu pelik.
Meski selama 2 tahun penuh Jongin selalu hadir di sisi Baekhyun, nyatanya tidak ada perubahan signifikan pada lelaki itu, terutama pada latar belakang pekerjaannya. Seperti organisasi ilegal pada umumnya, tidak pernah ada kata resign bagi para anggota yang terlibat di dalamnya.
Yah...mungkin masih ada pilihan terakhir.
Yang harus ditukarkan dengan sebuah nyawa.
Maka sebab itu, Jongin tidak berhenti dari pekerjaan ilegalnya. Ia hanya meminta cuti panjang, dengan dalih untuk mencari keberadaan Chanyeol yang menghilang begitu saja. Entahlah...sesungguhnya ia yakin Sehun dan sang bos tidak mempercayai dirinya begitu saja. Namun hingga detik ini, tak ada satupun tindakan yang sekiranya mengancam kekasih mungilnya.
Jongin memejamkan matanya sejenak, sembari menghela nafas putus asa. Belum ada benang merah akan permasalahannya antara Chanyeol dan Baekhyun, kini permasalahan lain mulai bermunculan mengacaukan ketenangan hidupnya.
Baekhyun...tidak pernah tahu akan kebenaran yang disembunyikan secara rapi oleh Jongin di belakangnya. Dan bahkan Jongin tidak sanggup meski hanya sekedar membayangkan akibat yang akan diterimanya kelak, ketika kebohongannya terkuak.
Hal inilah yang menjadi alasan mengapa ia begitu enggan untuk kembali ke Korea. Jongin belum menyiapkan dirinya. Tidak akan pernah siap.
Melepaskan Baekhyun dari sisinya.
.
.
.
Sebuah pepatah mengatakan: Tidak ada istilah kebohongan untuk kebaikan, apapun alasan yang mendasarinya. Sebab kebohongan adalah pengalihan dari suatu kebenaran, dan kebenaran yang tertutupi tidaklah menjadi suatu kebaikan kembali.
Seharusnya...Jongin memaknai sepenggal pepatah tersebut, sebelum memutuskan untuk mengambil suatu tindakan.
Atau mungkin ia tahu, namun memilih untuk mengabaikannya, memilih untuk menerima apapun resikonya, hanya demi kebaikan lelaki mungil yang begitu penting dalam hidupnya.
Tapi tetap saja...seberapa besarpun keinginannya untuk membawa kebahagiaan pada Baekhyun, tetap lah cara yang ia pilih tidak benar adanya. Bahkan cenderung membuat pelik keadaan yang ada. Sebab, jika sekali saja kau menciptakan kebohongan, maka akan ada kebohongan-kebohongan lainnya untuk menutupi kebohongan sebelumnya.
Maka disinilah Jongin berada saat ini, yang tidak pernah diketahui oleh siapapun baik Sehun, sang bos, maupun Baekhyunnya. Jemarinya membuka kenop pintu yang ada di depannya, membuka lebar untuk memudahkannya masuk ke dalam, dan mendapati sosok lelaki sedang duduk memunggunginya. Jongin membawa tungkainya mendekat, menepuk pelan pundak sosok tersebut.
"Chanyeol hyung"
Seberapa banyak kebohongan yang telah ia ciptakan, dan siapa saja yang telah ia bohongi, tak mampu lagi Jongin perkirakan jumlahnya.
...
"Ini, minumlah. Kau tampak begitu kacau dari yang kulihat minggu lalu"
Jongin mengambil kaleng bir yang disodorkan padanya, menyesapnya sesaat sebelum memulai berbicara. "Yah..begitulah. Dan sialnya sosok yang bertanggung jawab akan kacaunya kondisiku saat ini, sedang duduk santai meneguk sekaleng bir dalam keadaan yang sungguh sangat baik-baik saja" sindir Jongin telak.
Pada kenyataannya, Jongin tidak melebih-lebihkan ucapannya. Ini adalah pertemuan keduanya dengan Chanyeol dan lelaki itu bahkan tampak lebih bugar dari hari ke hari. Tidak ada kerutan di kening serta tatapan dingin seperti yang ditunjukkan olehnya dulu. Digantikan oleh tatapan bersahabat dengan senyuman yang berhiaskan lesung pipi diwajahnya. Jongin tak begitu yakin siapa atau apa yang telah merubah sosok dingin tersebut, sebab tidak banyak yang berubah dari gaya hidup lelaki itu. Ia tetap menjalankan perusahaannya dari jauh, selagi menyembunyikan keberadaannya dari orang lain.
Pada pertemuan pertama, Jongin sempat bertanya mengenai alasan dibalik perubahan diri lelaki itu. Namun jawaban yang ia dapatkan hanya sekenanya, dimana saat itu Chanyeol berkata, "ada seseorang yang datang dan tinggal bersamaku, merubah hidupku menjadi lebih baik"
Mulut menganga adalah reaksi yang ditunjukkan oleh Jongin saat itu. Meski belum ada satupun kesimpulan pasti yang bisa ditarik dari ucapan Chanyeol, namun setidaknya Jongin tidak bodoh untuk mengartikan bahwa Chanyeol sudah menemukan sosok baru, yang nampaknya berarti dalam hidupnya.
Mengingat pertemuan terakhir antara Chanyeol dan Baekhyun, membuat Jongin tak habis pikir. Semudah itukah menggantikan posisi Baekhyun dari relung hatinya?
Chanyeol mengulas sebuah senyuman tipis, sembari mengedikkan bahunya. "Mengurusi satu anjing kecil saja kesulitan. Dasar payah" Remehnya sambil mengangkat kaleng bir untuk disesap, sampai akhirnya Jongin tiba-tiba bersua.
"Setidaknya rasakan dulu bagaimana 'gigitannya' sebelum kau meremehkanku hyung" Sombong Jongin, mengurungkan niat Chanyeol untuk meneguk kaleng birnya. Chanyeol menolehkan kepalanya dan mendapati lelaki yang lebih muda sedang menatap lurus ke arahnya.
"Baekhyun benar-benar memburumu hyung. Tidak akan berhenti sampai ia mampu merenggut nyawamu dengan kedua tangannya" Suara Jongin memelan, terdengar begitu lirih.
"Aku tahu" Jawab Chanyeol singkat dan sekenanya.
Sudut bibir Jongin menukik kecil, sembari geleng-geleng kepala mendapati reaksi yang ditunjukkan Chanyeol. "Benar juga. Tentu saja kau sudah mengetahui segalanya hyung..." Jongin memajukan kepalanya, menopang dagu sembari menatap lurus pada Chanyeol. "...sebab tak pernah sedetikpun kau berhenti mengawasi kami selama 2 tahun ini..." Bisik Jongin. Chanyeol hanya bungkam, namun mengalihkan pandangannya dari Jongin.
"Aku tidak tahu apa tujuanmu melakukan itu. Aku juga tidak tahu siapa yang sesungguhnya kau awasi, apakah itu aku ataukah Baekhyun" Jongin menyenderkan punggungnya kembali, masih dengan tatapan terkunci pada Chanyeol. "Aku tidak akan memaksamu menjawabnya hyung, hanya saja...berhentilah melakukan itu" Pinta Jongin, mengela nafasnya sesaat, kemudian mengambil sesuatu dari dompetnya untuk dilemparkan di atas meja. "Aku tidak pernah menggunakannya seperser pun hyung. Jangan lagi mengirimiku uang secara diam-diam"
Chanyeol masih enggan untuk berbicara, hanya menatap sekilas credit card yang baru saja dilemparkan Jongin ke arahnya.
"Hyung, jika kau memang benar-benar ingin membantu, kami tidak butuh pengawasan ataupun uangmu yang berlimpah" Chanyeol akhirnya membawa obsidiannya kembali pada Jongin, menunggu lelaki itu melanjutkan ucapannya. "Rumah Baekhyun. Kurasa itu lebih berharga dari apapun hyung. Bisakah...Baekhyun mendapatkannya kembali? Aku yang akan membayarnya dengan apapun yang kau minta" ucap Jongin tanpa ragu.
"Termasuk nyawamu?"
Jongin menangguk cepat, yakin akan keputusannya.
Detik demi detik mulai terlewati, terasa bagaikan berhari-hari bagi Jongin, yang mewanti apa kiranya yang akan dilontarkan oleh lelaki di depannya. Jongin sedikit menaruh harapan dikala sudut matanya menangkap Chanyeol mulai menganggukkan kepalanya, dan hendak membuka mulutnya sampai ketika pintu ruangan terbuka lebar tiba-tiba, dimana seseorang masuk begitu saja dan mengambil tempat di sebelah Chanyeol.
"Chanyeol, aku sudah menyiapkan semuanya. Kita bisa pergi se-ah...maaf masuk tiba-tiba" ucap sosok tersebut, menyadari ada orang lain di depan Chanyeol. Begitu mengetahui Jongin adalah tamu dari Chanyeol, sosok tersebut bergegas meringsut dan bersembunyi dibalik tubuh Chanyeol.
Kedua mata membeliak lebar, tubuh begetar serta degup jantung yang menggila adalah reaksi yang ditunjukkan Jongin disaat melihat rupa sosok yang bersembunyi di belakang tubuh Chanyeol. Tak ada detik yang ia lewati untuk mencermati setiap inci sosok di depannya, termasuk interaksi antar keduanya. Bagaimana Chanyeol mencoba melindunginya dan ketika Chanyeol berkata, "Tidak apa, jangan takut. Jongin berada di pihakku", maka Jongin tidak mampu lagi menahan keinginannya untuk menginterupsi kedua orang di depannya.
"H-hyung" panggil Jongin terbata-bata. Ia melangkah maju dengan kaki gemetarnya. "A-apa yang telah kau lakukan hyung? Demi Tuhan...kau...KAU BENAR-BENAR SUDAH GILA!" Pekiknya kuat hingga terengah-engah setelahnya. Sementara Chanyeol tetap berada dalam posisinya, dengan raut wajahnya yang begitu tenang. Ketika Jongin hanya beberapa centi di hadapannya, tangannya terangkat untuk menepuk pelan pundak yang lebih muda.
"Ceritanya panjang Jongin, dan ini sulit untuk dimengerti" Ucap Chanyeol, mencoba meyakinkan Jongin. "Pulanglah dulu. Mengenai rumah Baekhyun...asistenku akan menghubungimu dalam beberapa hari kedepan" tambahnya lagi.
Namun Jongin lantas segera menggeleng tegas. "Tidak hyung, ini benar-benar bukan masalah sepele. Aku mohon ceritakan apa yang terjadi sesungguhnya padaku hyung..." Bujuk Jongin sepenuh hati. Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya, yang ternyata adalah sebuah kartu identitas milik Jongin. Chanyeol menerima kartu tersebut, membaca sederetan alamat sebuah apartemen di dalamnya.
"Datanglah ke tempatku. Kata sandinya tidak berubah hyung" Chanyeol sedikit membola menatap Jongin, terekesiap akan fakta yang baru saja di dengarnya. Adalah tanggal disaat pertama kali keduanya bertemu, yang dijadikan Jongin sebagai deretan kata sandi apartemennya. Chanyeol sudah akan mengiyakan tawaran yang lebih muda, sampai sesuatu tiba-tiba terpikir olehnya. "Aku tidak mungkin-"
"-Baekhyun bekerja sampai larut malam" Sela Jongin, membaca keraguan pada lelaki di depannya. "Datanglah pada pagi atau siang hari hyung, kumohon..." pinta Jongin kembali.
Chanyeol masih diam dalam posisinya, nampak mempertimbangkan sesuatu. Hingga beberapa saat kemudian, niat Jongin untuk memaksa Chanyeol dengan kekerasan teredam begitu saja dikala anggukan setuju yang sudah ditunggunya sejak tadi, diberikan oleh Chanyeol padanya.
.
.
.
Di waktu yang sama, namun di belahan bumi yang berbeda, nampak dua lelaki duduk berdampingan di sebuah sofa. Keduanya hanya membisu, memasang telinga baik-baik guna mendengarkan suara yang keluar dari rekaman ponsel di atas meja. Sedang netra keduanya menajam, sama-sama memperhatikan beberapa lembaran foto yang terjejer rapi di dekat ponsel tersebut.
Adalah dua lelaki yang begitu dikenal oleh keduanya, yang tercetak pada lembaran foto tersebut. Dan dua lelaki yang sama pula, selaku pemilik suara yang terekam dari ponsel di sampingnya.
"Boss..." Sehun memanggil lelaki di sebelahnya, dikala mendapati lelaki itu larut dalam lamunannya meski suara rekaman sudah berhenti. Bukan sebuah ucapan yang ia dapatkan atas panggilannya, melainkan kekehan panjang yang sarat akan ancaman. Sehun menghela nafas panjang, memikirkan sesuatu hal mengerikan yang akan menimpa kedua sahabatnya dalam waktu dekat.
"Bukan sekali dua kali mereka menyembunyikan sesuatu dariku, maupun bertindak diluar perintahku..." sang Boss berucap di tengah kelengangan. "...dan tidak pernah sekalipun aku mempersoalkan hal itu, bahkan sebersit rasa curiga pun tak pernah kupikirkan" Sehun hanya diam, menjadi pendengar yang baik bagi lelaki itu. "Tapi...ketika mereka memutuskan untuk bekerja sama melindungi pihak yang bertentangan denganku..." Sang Bos menjeda untuk mengambil selembar foto dari atas meja, kemudian menatapnya dengan lekat.
"Maka itu tandanya... mereka berdua mendeklarasikan sebuah pengkhianatan" ucapnya dingin sembari meremukkan lembar foto di jemarinya.
"Boss..." Sehun memberanikan diri untuk menggenggam jemari sang boss, namun dihempaskan begitu saja olehnya.
"Tidak Sehun. Tidak ada alasan apapun untuk kali ini. Mereka lebih memilih sampah kecil itu dibanding aku yang senantiasa hadir di masa kelam mereka, yang memberikan dorongan bagi mereka untuk bangkit kembali, hingga trauma di masa lalu tidak lagi menghantui keduanya" keluhnya, benar-benar menyiratkan kekecewaan di dalamnya. "Selalu Baekhyun dan Baekhyun...seolah kehadiranku tidak berarti apapun dibandingkan dirinya"
Sehun menggeleng tegas. "Tidak, jangan berpikir seperti itu. Sebaiknya kita selidiki dulu lebih lanjut, mungkin saja-"
"-mungkin saja apa Hun?! Apa lagi yang ingin kau sangkal hah?!" Sang boss menyela dengan cepat, kemudian memutar tubuhnya untuk menatap nyalang pada Sehun. "Faktanya semua orang meninggalkanku untuk Baekhyun! Ayah pergi meninggalkan aku dan ibu karena Baekhyun, Chanyeol dan Jongin mengkhianati diriku juga hanya untuk melindungi Baekhyun, LALU KINI KAU JUGA INGIN BERGABUNG BERSAMA MEREKA HAH?! SILAHKAN PERGI BIAR AKU-"
Greb!
Pekikan penuh luapan emosi yang dilontarkan oleh sang bos, teredam seketika dikala Sehun membawa sosok rapuh tersebut dalam rengkuhan hangatnya. Dalam kondisi seperti ini, persetan dengan status antara sang bos dan bawahannya, asal lelaki itu bisa tenang kembali, maka Sehun tak segan-segan untuk mengupayakan berbagai cara demi memberikan ketenangan dan kenyaman bagi lelaki itu.
Sesungguhnya, seperti inilah interaksi keduanya di masa lalu. Sehun yang selalu sigap melindungi, sementara lelaki yang lain lebih senang bermanja padanya. Namun semuanya sirna, dikala suatu permasalahan pelik mendatangi kehidupan pribadi sang bos. Tidak ada lagi bosnya yang manja, bersahabat dan suka membuatkan masakan untuknya. Digantikan oleh sosok yang dingin, dengan api kebencian yang melingkupi dirinya.
Beberapa menit telah terlewati namun jemari Sehun masih setia mengusapi punggung sosok dalam pelukannya. Ia mengecup pucuk kepalanya sesaat, sebelum membisikkan sesuatu, "Aku telah bersumpah pada ayah dan ibumu, untuk terus berada di sisimu dan menjagamu baik-baik. Namun tanpa sumpahpun..." Sehun mengurai pelukannya, menangkup wajah sang bos hingga bersitatap dengannya.
"...aku akan selalu berada di pihakmu...Soo"
.
.
.
2107. Merupakan tanggal dan bulan dimana Chanyeol pertama kali bertemu dengan Jongin, ketika ia menyelamatkan lelaki itu dari serangan para geng jalanan. Nampaknya Jongin menganggap saat itu sebagai hari yang krusial, hingga menjadikan 4 deret angka tersebut menjadi kata sandi apartemennya.
Bunyi 'Pip' langsung terdengar setelah Chanyeol memasukkan 4 digit angka sandinya. Pintu segera terbuka lebar, dan Chanyeol tidak berpikir dua kali untuk membawa tungkainya melangkah masuk.
Suasana yang begitu lengang, menyambutnya ketika sosoknya menapaki area ruang tengah. Chanyeol tidak terganggu akan suasana ini, sebab sebelumnya ia memang merencanakan kunjungannya tanpa memberi tahu Jongin terlebih dahulu. Sebuah kejutan kecil, menurutnya.
Chanyeol mengamati arloji di pergelangan tangan kirinya, menunjukkan waktu saat ini adalah pukul 11 tepat, yang artinya Jongin akan kembali pada 1 jam mendatang. Sambil menunggu Jongin kembali, Chanyeol berinisiatif untuk mengitari apartemen Jongin, dan memilih kamar tidur sebagai tempat terbaik untuk menunggu.
Kenyatannya Chanyeol sedikit menyesali keputusannya menunggu di kamar Jongin.
Karena tidak ada satu bagian pun dalam kamar itu, yang tidak terhiasi oleh pajangan foto sosok seorang lelaki mungil nan cantik.
Bukan karena foto Baekhyun yang tersebar di mana-mana, yang membuat Chanyeol geram. Toh, sang CEO ini memiiki jumlah foto yang lebih banyak daripada ini di kediamannya.
Namun...beberapa foto Baekhyun yang sedang berpose mesra dengan Jongin, yang membuatnya begitu terganggu. Kalau bukan apartemen Jongin, mungkin Chanyeol sudah membakar habis lembaran foto tersebut, atau mungkin beserta apartemennya pun ia sanggup.
Menghindari emosinya yang hendak memuncak, Chanyeol memutuskan untuk mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Dan saat itulah netra bundarnya menangkap sesuatu berwarna hitam silver di dekat lemari pojok kamar. Chanyeol beranjak bangkit kembali, mendekat ke arah objek yang tak asing baginya.
Itu adalah revolver miliknya.
Tepatnya menjadi milik Baekhyun, setelah 2 tahun yang lalu ia serahkan pada lelaki itu. Dilihat dari kondisinya yang mengkilap tak berdebu, pastilah Baekhyun menjaga barang pemberiannya ini dengan baik.
Tentu saja, karena dengan senjata inilah Baekhyun akan merenggut nyawa Chanyeol kelak.
Kembali pada Chanyeol, lelaki tinggi ini nampak datar, tidak ada secercah raut khawatir pada rupa tampannya. Justru seulas senyuman tulus, perlahan-lahan terpatri di sudut bibirnya. Seolah dirinya sudah siap akan datangnya hari itu. Menunggu dengan tenang hingga Baekhyun membawa maut padanya.
Dalam masa penungguannya, Chanyeol tidak hanya duduk diam menanti. Banyak hal yang ia lakukan, dan sebagian besar berkaitan dengan si lelaki mungilnya. Sesuatu yang tidak pernah orang lain ketahui...sesuatu hal yang kiranya tak akan pernah dibayangkan Jongin dan Baekhyun, akan dilakukan oleh seorang Park Chanyeol.
Suntikan dana yang melimpah beserta pengawasan selama 24 jam penuh, hanyalah sebagian kecil ulah tingkah Chanyeol yang diketahui oleh Jongin. Hal lainnya seperti bagaimana Sehun dan bos mereka tidak mampu melacak keberadaan Baekhyun, bagaimana Jongin mendapatkan apartemen ini dengan mudah, darimana datangnya dokter psikiatris terbaik untuk Baekhyun, termasuk Bibi Ahn yang selalu mendampingi Jongin dan Baekhyun, yang nyatanya adalah Bibi dari asisten Chanyeol, tidak pernah Jongin ketahui adanya.
Ketika terdengar samar-samar suara dari arah dapur, Chanyeol memutuskan untuk bangkit dan keluar menuju sumber suara. Kiranya itu adalah Jongin yang mungkin sudah kembali. Namun nyatanya dugannya salah, sebab sosok yang berdiri tak jauh darinya ini, adalah seseorang yang berperawakan kecil. Sosok tersebut memutar badannya, dikala Chanyeol melangkah mendekat.
Ekspresi terkejut nampak di wajahnya, sedang mulutnya berucap, "Chanyeol?"
.
.
.
Secerah nuansa biru yang menaungi, secerah itu pula penggambaran suasana hati Jongin siang ini. Langkah demi langkah yang ditapaknya begitu ringan, sedang senyuman hangat tak hentinya terlukis di bibirnya.
Semua tingkah laku konyolnya ini bermula ketika ia keluar dari gedung perusahaan milik Chanyeol, dengan membawa selembar map yang telah dinantinya selama beberapa hari ini, yakni surat kepemilikan rumah Baekhyun.
Awalnya Jongin mengira Chanyeol tidak akan menyerahkan sertifikat tersebut kepadanya, setelah hampir seminggu tidak ada kabar apapun darinya. Namun tadi pagi, seorang yang mengenalkan diri sebagai asisten Chanyeol, menghubungi Jongin untuk segera datang ke kantornya.
Dan ketika Jongin sudah mendapatkan sertifikat tersebut di tangannya, kemudian mencermati dengan baik tiap penggal kata yang tertulis, saat itulah ia memahami mengapa membutuhkan waktu yang sedikit lama bagi Chanyeol untuk menyerahkan sertifikat ini padanya.
Chanyeol...menjadikan nama Baekhyun sebagai pemilik sahnya. Diberikan secara cuma-cuma.
Entahlah...dalamnya laut mungkin bisa diukur dan diketahui isinya. Namun dalamnya hati seorang Park Chanyeol...hanya Yang Maha Kuasa dan Chanyeol sendiri yang mengetahuinya. Sedikitpun Jongin tidak mampu memastikan bagaimana perasaan sesungguhnya yang dimiliki Chanyeol untuk Baekhyun saat ini. Dibilang sudah berakhir, nyatanya segala tindakan yang lelaki itu lakukan, selalu berujung pada kebahagiaan Baekhyun.
Tanpa disadari oleh Jongin, jemarinya mengepal perlahan, meremas sisi sertifikat pada genggamannya. Keinginan itu datang kembali mengisi relung hatinya...
Keinginan untuk memiliki Baekhyun seutuhnya.
Tanpa ada nama Chanyeol yang membayangi keduanya.
"Jongiinn!"
Seruan lembut dari sosok mungil di belakangnya, membuat Jongin menghentikan langkahnya dan menarik lamunan panjangnya. Sosok itu nampak terengah-engah mendatanginya, dengan raut khawatir yang tercetak pada paras manisnya.
"Ada apa? Ada sesuatu terjadi? Kau baik-baik saja?" tanyanya beruntun.
Jongin tersenyum kecil, sembari merapikan helai poni di kening si mungil. "Aku baik-baik saja Baekhyun" jawabnya menenangkan.
"Lantas mengapa kau memintaku untuk pulang lebih awal?" tanya Baekhyun dengan alis saling tertaut.
"Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu" jawab Jongin, semakin menambah kerutan di kening Baekhyun. Ketika yang lebih mungil hendak membuka mulutnya, telunjuk Jongin demgam cepat membungkamnya, dan memberikan gelengan kecil padanya. "Eh-em. Tidak disini sayang, kau akan mendapatkannya nanti di dalam" sahutnya dengan senyum menggoda.
Baekhyun mendengus kesal dan mencibir samar sebelum membuka pintu apartemen dan meninggalkan Jongin dengan kaki mungilnya yang menghentak-hentak ke lantai. Sedang Jongin hanya terkekeh pelan melihat tingkah laku kekanakkan sang kekasih.
Kerutan pada kening Baekhyun muncul kembali disaat netra sabitnya menangkap sesuatu yang tak biasa dari arah dapurnya. Berbagai hidangan favoritnya nampak terjejer rapi di atas meja makan, lengkap dengan sepasang lilin di tengahnya.
Baekhyun memutar tubuhnya, menatap Jongin dengan pandangan penuh tanya. "Untuk apa semua ini Jongin?" tanyanya bingung. Bukan sepenggal awaban yang segera ia dapatkan, melainkan kedua tangan Jongin yang melingkari pinggangnya, mendekap erat tubuhnya. Baekhyun tidak bersuara kembali, menunggu sampai Jongin mengatakan sesungguhnya.
"Semua yang kusiapkan ini untuk merayakan hari bahagia kita" Jongin berbisik lembut sembari mengecup sesaat pelipis Baekhyun, sebelum melanjutkan berbicara. "Akhirnya tiba saatnya dimana kita bisa kembali ke Korea, Baek" ucapnya berseri-seri.
Berbeda dengan Jongin yang penuh semangat, Baekhyun mengernyit tak suka dan segera melepaskan pelukan keduanya. "Jongin.. sudah kubilang aku tidak akan pulang saat ini. Mengertilah" ucapnya sedikit kesal. Melihat Jongin tetap tersenyum padanya, Baekhyun memutar mata dan berdecak pada lelaki itu. "Ayolah Jongin, lagipula aku tidak memiliki apapun-"
"-tidak rindu pada rumahmu hum?" Senyuman Jongin kian melebar, sedang Baekhyun dibut ternganga olehnya. Tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya, disaat selembar kertas terpampang di depannya. Itu adalah helaian kertas yang ia ingat berada di genggaman Chanyeol 2 tahun yang lalu, yang dulu berisi nama Chanyeol di dalamnya, dan kini telah tergantikan oleh deretan huruf 'Byun Baekhyun'.
"J-jongin...bagaimana...bagaimana kau bisa mendapatkan ini?" tanya Baekhyun terbata-bata.
"Tidak perlu dipikirkan bagaimana caranya. Jagalah ini baik-baik"
Ya. Baekhyun tidak perlu tahu.
Bahwa Chanyeol memberikan rumah itu padanya tanpa imbalan apapun. Bahkan dengan kondisi yang tetap terawat, tanpa ada satupun yang berubah di dalamnya.
Obsidian Baekhyun mulai berkaca-kaca, menatap Jongin penuh damba. " Demi Tuhan Jongin. Kau...aku...apa yang bisa kulakukan untuk membalas semua kebaikanmu Jongin...?" lirih Baekhyun.
Jongin menggeleng kecil, sembari membawa tubuhnya mendekat, dan menangkup wajah Baekhyun hingga keduanya saling bersitatap. "Aku tidak butuh apapun..." bisiknya lembut, lalu mengusap setetes air mata yang lolos di pipi Baekhyun. "Selama senyuman indah terus terlukis pada malaikatku yang cantik ini...itu sudah cukup bagiku"
"Jongin..." Kehangatan segera melingkupi relung hati Baekhyun yang terdalam. Jantungnya berdebar hebat, sedang tungkainya tak mampu lagi menahan untuk segera membawa tubuhnya mendekat, mencapai belahan bibir milik lelaki yang lebih tinggi.
Disesapnya belahan bibir itu penuh damba, terburu-buru, mencerminkan perasaan menggebu-gebu bercampur hasrat yang mulai membakar dirinya. Lengan rantingnya menarik tengkuk Jongin, membuat tautan keduanya lebih dalam. Baekhyun yang kali ini lebih mendominasi, dimana ia yang lebih dulu mengeluarkan benda lunaknya untuk ditelusupkan ke dalam mulut Jongin, menggoda milik sang kekasih untuk saling beradu dengannya.
Hawa panas mulai melingkupi Jongin, dan ia mulai merasa gerakan bibir Baekhyun sedikit memaksa. "Mmh..Baekmmh tunggu sebenmmmh" belum sempat Jongin menyelesaikan ucapannya, Baekhyun sudah menggigit bibirnya kembali, kemudian menjulurkan lidahnya untuk mengulangi tautan lidah sebelumnya. Jemari lentiknya juga mulai bergerak, membuat pola sensual mulai dari dada Jongin hingga perut kekarnya. Tak hanya itu saja, Baekhyun juga dengan berani menabrakkan tubuh bagian bawah keduanya, dan semakin sering dilakukan setiap detiknya.
Begitu banyaknya godaan yang diberikan Baekhyun pada Jongin, membuat batas kesabarannya habis dan hasrat yang tinggi segera melenyapkan akal sehatnya. Tangan kanannya menangkup rahang Baekhyun, membuatnya mendongak, kemudian melahap habis belahan bibir tipis itu dalam mulutnya. Sedang tangan kirinya mulai berkelana merayapi sekujur tubuh Baekhyun, berhenti pada belahan sintal di bawah sana.
"Mmhhh" Baekhyun melenguh di sela-sela cecapan bibirnya, disaat jemari Jongin meremas kuat sisi bokongnya. Lenguhan lembut itu lantas membuat Jongin menggila, dan mengulangi kembali perbuatannya hingga lenguhan demi lenguhan terus dikeluarkan melalui mulut Baekhyun, juga membuatnya perlahan-lahan menaikkan kakinya, meminta Jongin untuk menopangnya.
Akal sehat keduanya semakin kacau ketika posisi Baekhyun sudah berada dalam gendongan Jongin, dengan punggungnya yang menghimpit pada dinding. Bibir tipis Baekhyun yang kini sudah menebal, ditinggalkan oleh Jongin untuk berpindah mencumbu area tubuh Baekhyun yang lainnya.
"Ngghh" Baekhyun melenguh kembali dengan dadanya yang membusung, meminta Jongin untuk terus menggigit putingnya yang mengeras dibalik kemejanya. Tubuhnya yang terus menggeliat, membuat kelelakian keduanya terus bergesekan, semakin membumbung gairah sepasang adam ini. Mengikuti nalurinya, jemari Jongin mulai melucuti helaian pakaian yang menutupi tubuh Baekhyun, dimulai dari jeans ketatnya kemudian satu persatu kancing kemejanya.
Namun ketika Baekhyun benar-benar tak tertutupi sehelai benangpun pada tubuhnya, reaksi mengejutkan justru terjadi pada Jongin. Ia menjauhkan bibirnya, kemudian hendak menurunkan kedua kaki Baekhyun, sampai si mungil yang memberontak dan menahan kakinya.
"Tidak Tidak, kumohon jangan hentikan!" pinta Baekhyun, sambil menatap penuh harap pada Jongin.
"Sshh Baek...jangan seperti ini. Jangan memaksakan dirimu hanya untuk menyenangkan diriku. Ingat traumamu sayang..." bujuk Jongin.
"Kalau begitu bantu aku menyembuhkan trauma ini..." Baekhyun berbisik halus, sembari mengunci pandangannya pada Jongin.
"Ajari aku, bimbinglah aku, tundukkan aku hingga meneriakkan namamu malam ini"
.
.
.
"Chanyeol? Sedang apa disini? Ingin menemui Jongin?"
Chanyeol tersenyum tipis dan menunduk hormat terlebih dahulu. "Ah..ya Bibi Ahn. Aku ingin menemui Jongin, namun sepertinya lain waktu saja" ucap Chanyeol sambil melirik pada jamuan hidangan yang disusun rapi oleh Bibi Ahn.
Bibi Ahn mengikuti arah pandang Chanyeol, kemudian menggelengkan kepalanya. " Tidak tidak, makanan ini bukan untuk suatu acara khusus. Tunggu saja di kamarnya sesaat lagi Jongin akan kembali" ucapnya lembut.
Chanyeol mengangguk singkat sebelum kembali melangkah. "Baiklah, aku akan menunggunya"
Suatu kesalahan yang fatal bagi Chanyeol, mengikuti saran sang bibi untuk tetap menunggu di kediaman Jongin.
Sebab sejak puluhan menit yang lalu, indera pendengaannya tanpa henti dipaksa mendengarkan,
"Aaahh...more Jonginhh moreee. Please uhhh...please don't stop moving..."
"Mmhhh...Jonginhhh akuhh...akuhh"
Dengan mata kepalanya sendiri, Chanyeol menyaksikan bagaimana paras bahagia seorang lelaki mungil di atas sofa sana, seorang lelaki yang senantiasa mengisi ruang pikirannya, sedang menjemput klimaksnya di bawah kungkungan seorang lelaki lain, yang terus menghentakan kejantanannya tanpa henti.
Chanyeol teringat di masa kecilnya, ketika kedua orang tuanya pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya, tak ada reaksi apapun yang diperlihatkan olehnya. Lalu berlanjut di masa mudanya, ketika berbagai senjata api maupun senjata tajam menorehkan luka hebat pada sekujur tubuhnya, Chanyeol juga tidak memberikan reaksi apapun saat itu.
Namun pada saat ini. Ketika dengan jelas ia mendengar,
"Aku mencintaimu Jongin...hanya dirimu"
Untuk pertama kali dalam hidup seorang Park Chanyeol, setetes air mata mengalir di pipinya.
.
.
.
TBC
.
.
Halooo halooo waaah maapin semakin telat updatenya huhu. Ide ada, semangat untuk nulis juga ada, tapi waktunya yang gak ada :(. Maaf kalo chap ini kurang berkenan, karena dibuatnya bener-bener disela ujian dan kegiatan organisasi heu.
Ohya, sebelumnya terima kasih untuk para admin Room of Fanfict, karena sudah memilih ff ku yg absurd as a winner hehehe. Thank you and be patient for the request hihi
Yang kedua soal reviewers. Duuhh...aku gatau deh. Yang bikin aku semangat dan kepikiran untuk terus nulis ya karena kalian teman-teman :). Terima kasih untuk supportnya dan maaf kalo aku masih belum maksimal dalam pembuatan cerita.
See you on next chap :)
