Someone Behind You
With
.
.
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Kim Jongin
Oh sehun
Do Kyungsoo
.
.
NP: Bigbang, Haru - Haru
Jongin POV
"Hey Chanyeol! Ini Kim Jongin, adik kelas kita waktu di SMP" Kyungsoo hyung, bos kami, menarikku ke sampingnya untuk melihat Chanyeol dari dekat. Aku sudah mengetahui siapa sosok ini, ketika pertama kali aku tergabung dalam organisasi. Tapi kami tidak pernah sekalipun terlibat pembicaraan.
"Bolehkan ia tinggal bersamamu? Jongin tidak terlalu baik berbahasa inggris dan pergaulan Amerika kurang cocok dengannya" pinta Kyungsoo hyung, sementara aku memilih diam.
Sigh, lebih baik aku melanjutkan pendidikan tinggi di Korea, ketimbang di negeri asing dan tinggal bersama sosok dingin seperti Chanyeol hyung.
"Hmm...terserah saja" Kentara sekali nada malas terdengar dari ucapan Chanyeol hyung. Jemariku sudah mengepal, namun Kyungsoo hyung lebih dulu menepuk pelan bahuku dan menggelengkan kepalanya. Mau tidak mau pun kami berdua mulai membawa masuk barang-barangku.
Terhitung sebulan sudah aku tinggal di flat sederhana berdua dengan Park Chanyeol, dan selama itu pula aku tidak pernah berbicara dengannya. Chanyeol hyung tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa, seolah menganggap aku tidak pernah ada.
Entahlah...aku tak mengerti apakah ada yang salah denganku? Apakah ia sesungguhnya keberatan aku menumpang di flatnya?
Hahhh...tak tahukah ia? Aku paling benci diabaikan. Sudah cukup masa kecilku hidup tanpa adanya belas kasihan, dan aku tidak mau itu terulang kembali. Maka dengan itu, aku mencoba membuka diri, mulai memasuki pergaulan malam di Amerika.
Tidak butuh waktu lama bagiku untuk mendapatkan teman-teman baru. Sudah seminggu ini aku pulang larut, memilih menghabiskan waktu untuk mabuk-mabukan di club malam ketimbang pulang ke flat yang sunyi sepi.
Pada suatu malam, aku pulang ke flat dengan kondisi sedikit mabuk saat jam dinding menunjukkan pukul 3 pagi. Berbeda dengan hari biasanya, saat itu nampak sosok Chanyeol hyung yang sedang duduk di sofa televisi, menatap tajam kearahku.
"Tidakkah kau mengetahui etika dalam menumpang? Atau kau lupa bahwa flat ini bukan milikmu?" ucapnya dingin dan menyebalkan. Karena kepalaku sungguh pusing, aku hanya merunduk dan berucap, "Maaf hyung"
Kudengar Chanyeol hyung berdecih dan menampilkan ekspresi meremehkan padaku. "Ah...aku lupa. Tentu saja tidak pernah ada yang mengajarkanmu. Pantas kau tumbuh seperti ini" ejeknya.
Demi apapun, rasanya aku ingin sekali membalas ucapan pedasnya, tapi mengingat aku menumpang di flatnya, lagi-lagi aku hanya diam merunduk. Setelah menggumam kata 'maaf' aku pun mulai melangkah menuju kamarku, sampai kudengar Chanyeol hyung berbicara lagi.
"Setidaknya gunakan otakmu itu untuk memilih teman. Tch! Mabuk-mabukan bersama berandalan. Lalu apa bedanya dirimu dengan ayah tirimu itu? Sama-sama tak berguna dan-"
"-CUKUP HYUNG!" Aku memekik penuh amarah. Dengan nafas memburu, sekuat tenaga aku menahan kedua kakiku untuk tidak berlari menerjangnya. Kulihat Chanyeol hyung sudah bungkam dan berganti aku yang mendecih remeh padanya.
"Setidaknya aku tidak sepertimu. Yang tidak tahu cara menikmati hidup, menutup diri dari dunia seakan duniamu lebih baik dari apapun. Pantas saja orang-orang disekitarmu meninggalkanmu!"
Setelah puas mengucapkan itu aku melenggang pergi.
Mengabaikan sorotan terluka yang terpancar dari kedua mata Chanyeol hyung.
Hari-hari berikutnya hubungan kami semakin memburuk, bahkan semakin parah ketika aku mengetahui Chanyeol hyung mengambil teman-temanku. Entah apa yang sudah ia lakukan, yang jelas teman-temanku menjauhiku dan memilih untuk hangout bersama Chanyeol hyung.
Aku pun menjadi Jongin yang pendiam kembali, sampai suatu hari aku berkenalan dengan seorang lelaki manis di kampusku. Lelaki itu bersurai blonde, tingginya hanya sebahuku dan betapa terkejutnya aku di pertemuan ketiga kami ia mengaku bahwa dirinya adalah gay. Sama denganku.
Singkat cerita, akhirnya kami memutuskan untuk menjalin kasih, dan layaknya pasangan muda lainnya, tiada hari bagi kami untuk melewatkan bercumbu mesra. Aku sering membawanya pulang ke flat, tidak perduli jika Chanyeol hyung mungkin akan mendengar suara-suara aneh dari kamarku.
Di sabtu malam yang dingin, aku pulang lebih awal karena merasa badanku tidak fit. Kulihat ada sepasang sepatu lain di depan, yang menandakan ada tamu di dalam. Namun saat aku melangkah masuk, suasana begitu lengang, tidak ada siapapun.
Aku pun menggedikkan bahuku dan melanjutkan melenggang menuju kamarku untuk segera beristirahat. Kamarku berada tepat di seberang kamar Chanyeol hyung. Ketika aku baru saja membuka kenop pintu.
"Ahh...cha-chanyeoll...moree pleasehhh.."
Deg! Suara ini sungguh tidak asing bagiku. Jantungku berdegup kencang, dan perlahan-lahan menapak menuju kamar Chanyeol hyung. Nyatanya pintunya tidak terkunci dan aku memutuskan untuk membukanya sedikit.
Lalu aku melihat.
Kekasih pertamaku. Mendesah dengan hebatnya dibawah hentakan Chanyeol hyung...yang sedang menyeringai kearahku.
...
"Mmhhh" Lenguhan halus dari Baekhyun, menyadarkan diriku dari lamunan tentang memori lamaku. Gila. Bisa-bisanya disaat bibir dan tanganku sedang menjamah sekujur tubuhnya, pikiranku justru melayang pada orang lain.
Entahlah...sepertinya pesan dari Bibi Ahn tadi yang membuatku mengingat lagi kenangan lama itu. Sejam yang lalu, bibi mengirimiku pesan bahwa Chanyeol hyung bertamu ke rumahku dan memutuskan untuk menungguku.
Aku tahu Chanyeol hyung ada di dalam kamarku, mengintipku dari celah pintu yang sedikit terbuka.
Tapi aku memilih diam...bahkan meneruskan cumbuan panas bersama Baekhyun.
Kau rasakan itu hyung? Itulah yang kurasakan saat dimana kau mencumbu kekasih pertamaku.
Diam-diam aku menyeringai dan mulai membawa atensiku kembali pada si mungil yang sedang menciumi bibirku lapar. Aku sayang padanya, tentu saja, bahkan aku bersumpah rasa cintaku padanya begitu tulus. Namun mengingat Chanyeol masih memperhatikan kami berdua, membuat diriku kehilangan akal.
Jemariku mulai tergerak meraba tubuhnya, dan akal sehatku semakin menggila ketika Baekhyun perlahan melingkari kakinya di punggungku. Aku bawa tubuhnya menghimpit dinding, menyesapinya dalam dan memberikan berbagai tanda kepimilikan di setiap tubuhnya yang terekspos. Mengikuti naluri, jemariku mulai melucuti helaian pakaian yang menutupi tubuh Baekhyun, dimulai dari jeans ketatnya kemudian satu persatu kancing kemejanya.
Disaat tubuh Baekhyun telah polos tanpa sehelai benangpun, aku melepaskan cumbuanku. Tak peduli sebesar apapun aku ingin menunjukkan pada Chanyeol hyung, Baekhyun tetap menjadi prioritasku. Aku tahu ia memiliki trauma atas apa yang telah lelaki sialan itu lakukan padanya di masa lalu, maka aku tak mau memaksakan kehendakku.
"Tidak Tidak, kumohon jangan hentikan!" Baekhyun memohon kepadaku. Kutatap lurus mata sabitnya, sembari mengusap lembut pelipisnya. "Sshh Baek...jangan seperti ini. Jangan memaksakan dirimu hanya untuk menyenangkan diriku. Ingat traumamu sayang..." bujukku.
"Kalau begitu bantu aku menyembuhkan trauma ini..." Baekhyun berbisik halus, sembari mengunci pandangannya padaku.
Aku terdiam, dengan debar jantung yang menggila.
"Ajari aku, bimbinglah aku, tundukkan aku hingga meneriakkan namamu malam ini" bisiknya.
Sial. Sial. Aku terus mencoba meneriaki tubuhku sendiri, tapi kedua kaki dan tanganku tidak mau bekerja sama. Kakiku berlari menerjang dirinya sedang jemariku mengangkat kembali Baekhyun, menurunkan tubuh mungilnya di sofa. Maka mulailah cumbuan kami, lebih intim dari sebelumnya.
Chanyeol hyung masih ada di sana, mendengarkan dan memperhatikan kami lamat-lamat.
Tapi yang tidak ia ketahui.
Yang terjadi sesungguhnya dibalik sandaran sofa yang menutupi pandangannya.
Aku tidak melakukan...sejauh yang ia pikirkan.
Chanyeol hyung mungkin melihat tubuhku dan Baekhyun terhentak-hentak di balik sofa, dan mendengar Baekhyun berulang kali mendesah putus asa. Hingga anak kecil pun pastinya menduga bahwa kami sudah bercinta dengan panas.
Namun tetap saja...tidak ada penyatuan saat ini.
Aku hanya menggesekkan kelelakian kami berdua, namun tidak sampai tahap memasuki. Yah...mungkin hanya jemariku saja yang bermain, namun tidak dengan sesuatu di bawah sana. Aku memang menghentak-hentakkan tubuhku.
Tapi itu sengaja. Agar Chanyeol hyung menduga seperti yang ia pikirkan.
Lalu ketika Baekhyun akhirnya mendapat pelepasannya yang pertama, aku menarik tubuhku bangkit. Kulihat Baekhyun terkejut dan mulai terisak menatapku dengan tatapan penuh rasa bersalah.
Padahal bukan karena dirinya. Bukan karena Baekhyun membisikkan nama 'Chanyeol' ketika ia mendapatkan pelepasannya tadi. Bukan sama sekali.
Hanya saja, tiba-tiba kelanjutan memoriku di masa lalu samar-samar menguar kembali dalam benakku.
...
"Kim Jongin sialan! Dimana kau!"
Aku menjauhkan telinga dari ponselku, ketika Kyungsoo hyung meneriakiku di tengah malam. Dugaanku ini pasti berkaitan tentang diriku yang memilih kabur dari apartemen Chanyeol hyung.
"Apa yang telah kau lakukan pada Chanyeol hah?! Sialan! Kau tidak tahu diuntung!"
Ck. Benar 'kan dugaanku.
Aku mendengus kesal sesaat, sebelum mendekatkan kembali ponselku. "Kalau kau menelponku tengah malam hanya untuk memarahiku lebih baik-"
"-Chanyeol sedang sekarat bodoh! Demi Tuhan Kim Jongin aku ingin membunuhmu!" Aku tersentak dan lantas bangkit dari tubuhku. Baru beberapa jam aku meninggalkan tempatnya dan terakhir kulihat ia masih menikmati tubuh kekasihku di kamarnya. Tidak mungkin.
Setengah tak percaya, aku bertanya pada Kyungsoi hyung. "Tidak lucu hyung. Beberapa jam yang lalu bahkan ia masih menunggangi seseorang yang sialnya kekasihku" sahutku enteng.
Beberapa detik lamanya tidak ada balasan dari Kyungsoo hyung, namun aku bersumpah mendengar isakan samar dari seberang. Ia menangis?! Astaga! Apa yang terjadi sesungguhnya disini. Baru saja aku ingin bersuara, Kyungsoo hyung tiba-tiba menyahut.
"Datang saja ke ruang ICU RS. Mount Elizabeth...dan lihatlah kebodohan yang telah kau lakukan"
Pip!
Kyungsoo hyung mematikan sambungannya begitu saja. Sejujurnya aku ingin memilih untuk tak peduli, dan kembali melanjutkan tidurku. Namun sesuatu dalam diriku berkata lain...mendesak diriku untuk setidaknya mencar tahu apa yang sedang terjadi. Maka tanpa berlama-lama...aku pun melesat menuju rumah sakit.
Memoriku terus menggali lebih dalam, membawa potongan-potongan kejadian menyakitkan yang terjadi di masa lalu. Seiring aku mulai memutar kembali pikiranku, langkahku pun tergerak mundur, mengabaikan Baekhyun yang terus terisak mendekatiku.
Kacau. Sakit. Rasa bersalah. Adalah yang kurasakan ketika aku baru saja keluar dari ruangan Chanyeol hyung. Langkahku begitu lemah, seakan nyawaku sedang melayang entah kemana. Melihat keadaan Chanyeol hyung dengan jahitan di segala sisi saja, hatiku sudah teriris. Ditambah lagi...ketika Kyungsoo hyung mengatakan semuanya padaku.
"Jalang sialanmu dan teman-teman yang kau banggakan itu adalah organisasi gelap brengsek! Mereka dikenal sebagai komplotan penjual organ tubuh ilegal dan lihat yang telah kau lakukan pada Chanyeol!"
Aku benar-benar melupakan fakta menyakitkan itu. Saat itu Chanyeol hyung tidak sadarkan diri hingga dua minggu, bahkan salah satu ginjalnya terluka parah karena hendak diambil paksa.
Dari keseluruhan ingatan masa lalu yang kuingat, terdapat sepenggal kalimat yang diucapkan oleh Kyungsoo hyung saat itu, yang begitu menusuk hingga relung hatiku.
"Chanyeol menggantikan dirimu...hanya demi menjauhkanmu dari para komplotan itu..."
Semua itu karenaku.
Semua yang Chanyeol hyung lakukan selalu untukku.
Termasuk tentang Baekhyun. Baekhyunnya yang telah ia tunggu selama belasan tahun...diserahkan begitu saja kepadaku.
(Yeah, finally I realise, that I'm nothing without you)
Maka aku pun jatuh terduduk, bersender pada dinding, yang kutahu terdapat Chanyeol hyung di sisi dinding lainnya. Dengan penuh linangan air mata, aku berbisik padanya dari balik dinding...
(I was so wrong, forgive me)
"...maafkan aku hyung..."
.
.
.
.
Baekhyun POV
"Baekhyun? Sejak tadi kau melamun saja? Ada apa nak?" Bibi Ahn tiba-tiba datang dari arah belakang, menghampiriku yang teridam bagai seonggok patung.
(Like the tides my heart is broken)
Entahlah...perasaanku tak karuan, hingga aku bahkan tidak sanggup memasang senyum palsu padanya, seperti yang kulakukan setiap harinya. Baik Jongin maupun Bibi Ahn, menduga bahwa kondisi jiwaku sudah lebih baik seiring waktu berganti.
(Like the wind my heart is shaking)
Nyatanya tidak. Apa yang telah hancur hingga berkeping-keping, tidak akan pernah merapat seperti sebelumnya, tak peduli sebahagia apapun kehidupan yang datang saat ini.
(Like the smoke my love faded away)
"Apakah ini ada hubungannya dengan Jongin?" tanya Bibi Ahn kembali, sembari membelai lembut kepalaku. Sedang aku memilih diam, karena tanpa dijawab pun Bibi Ahn tahu bahwa aku mengiyakan pertanyannya.
Sesungguhnya bukan karena Jongin, tapi diriku. Kesalahan fatal yang dibuat olehku beberapa hari yang lalu. Ketika begitu kurang ajarnya diriku ...menyebut nama lelaki lain di bawah sentuhannya
(It never erases like a tattoo)
Park Chanyeol. Yang diam-diam masih menaungi pikiranku.
(I sigh deeply and the ground shakes)
"Hhhh...entahlah Bi" Aku mendengus lelah, kemudian menopang kepalaku pada lenganku yang terlipat di atas meja. "Aku benci pada mataku, yang tidak bisa melihat ketulusan Jongin padaku. Aku juga benci pada hatiku...yang tidak bisa menghapuskan sesuatu yang telah menghancurkannya..." Aku berucap lirih.
Bibi Ahn menarik sebuah kursi di sampingku, kemudian didudukinya sembari menggenggam jemariku. "Dengar, aku tidak bermaksud membela Jongin, hanya saja...coba kau ingat kembali nak, masa-masa awal dimana kau bertemu denganku" Aku termenung, sedang Bibi Ahn melanjutkan kembali ucapannya.
"Kau hancur...rusak...bagaikan tak bernyawa...menjerit setiap malam. Kau ingat masa-masa itu?" tanyanya padaku.
(Yeah, I thought I wouldn't be able to live even one day without you)
Aku lantas mengangguk perlahan sebagai jawaban. Tentu saja memori itu tidak pernah akan terhapuskan dari kepalaku. Hari dimana ketika aku merasa tidak akan sanggup untuk melanjutkan hidup. Disaat untuk pertama kalinya aku kehilangan kesucian, tempat tinggal, ayahku, dan juga...
Cinta pertamaku.
(Do you even see me, did you already completely forget me?)
"Dan siapakah yang 24 jam mendampingimu saat itu? Adakah Chanyeol pernah menyempatkan untuk sekedar melihat keadaanmu?" Aku masih terdiam, namun tak terasa jemariku mengepal erat.
(You don't answer anything as I cry out 'I miss you')
Bibi Ahn menggamit jemariku, membuatku menoleh padanya. "Sekeras apapun kau menangisi dirinya, meneriaki kata rindu pada dirinya setiap malam...apakah Chanyeol pernah menjawabnya?"
Benar. Apa yang dikatakan oleh Bibi Ahn itu benar. Ketika setiap malam aku berteriak seperti orang gila, mungkin di tempat yang jauh disana, Chanyeol justru sedang asyik tertawa melihat kondisiku. Mungkin ia sedang bercinta dengan gadis atau lelaki lain, menikmati kebahagiaan di atas pemderitaanku.
Itu 'kan yang diinginkannya? Merebut semua yang kupunya, hingga aku terpuruk dalam kesendirianku. Membuatku merasakan apa yang juga ia rasakan di masa lalu, ketika aku meninggalkan Chanyeol si anak yatim piatu, dimana ayahku lah penyebab takdir naasnya itu.
(Alone in the night, I erase my thoughts a hundred times)
Aku memejamkan mataku dengan helaan nafas panjang, sebelum kembali mematri senyuman tipis pada Bibi Ahn. "Aku mengerti Bi. Hanya saja...tidak ada yang mudah dalam hal melupakan, terutama untuk seseorang yang pernah begitu kokoh mengisi relung hatiku" ucapku pelan, kemudian mengalihkan pandanganku ke depan.
"Aku'pun sudah berusaha keras menghapus semuanya bi, berulang kali...Hanya berikan sedikit lagi waktu untukku..." lirihku pelan. Butuh waktu sekian detik hingga Bibi Ahn mengangguk paham, dan mengecup lembut pucuk kepalaku.
(I hope for a vain expectation but now it's useless)
Senyumanku kian mengembang lebar, bergeser untuk memeluk wanita paruh baya tersebut. "Aku berjanji Bi, ketika aku bertemu Chanyeol nanti...maka saat itu juga semuanya akan berakhir"
Karena seperti rindu.
Dendam pun harus dibayar tuntas.
.
.
.
.
Kyungsoo POV
"Byun Kyungsoo! Ayo cepat bangun dan turun ke ruang makan!" Kudengar pekikan ibuku dari luar pintu. Sebelum ia mulai memekik kembali aku pun segera menjawabnya. "Iya ibu! Aku ke kamar mandi dahulu" dapat kudengar ibuku masih menggumam samar, sementara aku mendengus menuju kamar mandi.
Sesampainya aku di ruang makan, kudapati ayah, ibu dan Sehun sudah terduduk rapi di meja makan. Dalam hati aku bertanya-tanya, ada apa gerangan yang kiranya terjadi di pagi hari ini. Penasaran akan itu, aku pun melenggang mendekati mereka bertiga.
"Tadaaaa! Happy Birthday our lovely Byun Kyungsoo!" Ketiganya serempak mengucapkan selamat kepadaku dengan lantang. Ibu memakai topi pesta dari karton, ayah meniul terompet mainan, dan Sehun membawa kue ulang tahun dengan angka 16 di atasnya.
Kurasa mataku mulai berkaca-kaca, sebab pandanganku mengabur ketika hendak meniup lilin ulang tahunku. Ayahku menepuk lembut pundakku, sedang ibuku merengkuh pinggangku erat.
"Ayo sayang, tiup lilinnya hm?" ucap ibuku.
"Jangan lupa mengucapkan permohonan. Meminta lebih tinggi sepertinya bagus" ayahku mengejekku dan sontak mereka bertiga mentertawaiku. Sejenak aku ingin merajuk, namun sirna melihat tatapan sayang mereka kepadaku. Maka dalam hati pun aku berdoa.
Semoga kebersamaan ini senantiasa hingga kapanpun.
Nampaknya doaku setahun yang lalu, tidak terdengar tulus bagi Yang Maha Kuasa. Sebab tepat di hari jadi usiaku yang 17...kebersamaan ini tinggallah cerita dongeng semata.
Bukannya pesta bahagia yang menyambutku, melainkan pertengkaran antar ayah dan ibu yang saat ini sedang terjadi di depanku. Dan aku hanya bisa diam dalam pelukan Sehun.
Sekeras apapun aku ingin menghapus air mata di pipi ibu,
Sekeras apapun aku ingin menahan ayah untuk tidak pergi meninggalkan kami,
Nyatanya aku tidak bisa. Kedua kakiku seakan lemah tak bertulang, membiarkan semuanya terjadi begitu saja di depanku. Di hari ulang tahunku.
Minggu demi minggu telah terlewati, dan aku baru mengetahui alasan orang tuaku berpisah. Ibuku ternyata adalah anak perempuan dari seorang pimpinan organisasi ilegal yang paling berbahaya se-antero Asia.
Seharusnya itu tidak menjadi masalah,
Jika saja ayahku bukanlah seorang kepolisian ternama di Seoul.
Tidak hanya itu, nyatanya ayahku juga menyimpan kisah gelap di belakangnya. Pada setahun belakangan ini, ketika ayah dan ibuku selalu bertengkar tiap harinya, ayahku akan pergi keluar di malam hari dan kembali di keesokan harinya.
Kufikir ia pergi ke kantornya untuk menenangkan diri.
Nyatanya ia pergi menemui mantan kekasihnya ketika sekolah dulu. Setiap hari. Dan yang lebih menyakitkan..
Ayah sudah memiliki seorang putra dengannya. Byun Baekhyun namanya.
Aku pun menerima dan mencoba mengerti akan keputusan mereka untuk berpisah. Toh, sesuatu yang telah rusak tidak akan lagi bisa direkatkan seperti sebelumnya. Namun pada suatu hari, aku mulai menyesali keputusanku.
Ketika kakekku yang tidak pernah kutemui datang kerumah kami, membawa seorang pria paruh baya. Seorang pria yang ternyata telah disiapkan untuk menggantikan posisi ayahku. Dan juga...seorang pria yang menjadi awal mula mimpi burukku.
Hidup bersama ayah tiriku bagaikan hidup di neraka terbawah. Tiada hari tanpa kulihat ibuku terluka akibat perbuatannya. Ia begitu kasar, termasuk dalam hal menyetubuhi ibuku. Tidak jarang kudengar pecutan ikat pinggang dan teriakan ibuku menggema dari kamarnya.
Jika sudah begitu, Sehun akan datang menutup telingaku, lalu membawaku ke kamar untuk segera tidur. Sehun akan mendendangkan lagu untukku, jemarinya mengusap lembut pipiku, berusaha keras agar aku cepat terlelap dalam mimpi, yang pastinya lebih indah dari reality.
Di suatu malam yang bising akan gelegar halilintar, aku terduduk sendiri di kamarku. Ibuku sedang dirawat di rumah sakit, sedang Sehun baru saja pergi untuk membawakan beberapa kebutuhannya selama dirawat. Sehun tadi sempat bersikeras untuk mengajakku, namun aku menolaknya karena terlalu lelah, dan kini aku mulai menyesalinya.
Tenggorokanku yang kering, memaksaku bangkit dari ranjang, lalu keluar kamar untuk mengambil segelas air minum. Ketika aku hendak berbelok menuju ruang makan, kudengaf ayah tiriku memanggilku dari arah ruang kerja.
"Ada apa yah" tanyaku di ambang pintu, sedikit takut terhadapnya.
"Masuklah dulu, ayah membutuhkanmu" ucap ayahku sambil melambaikan tangannya.
Entah apa yang sedang merasukiku saat ini, hingga aku membawa tungkaiku melangkah ke dalam. Ketika aku sudah berada di samping kursi ayahku, dapat kulihat ada seorang pria lainnya sedang duduk di seberang ayah.
"A-ada apa?" tanyaku terbata-bata, mulai merasakan firasat buruk dari ruangan ini.
"Tenanglah nak. Ayo kemari..." ayah tiriku menepuk-nepuk kedua pahanya, sambil tersenyum miring kepadaku. "...duduklah di pangkuanku..." nada suaranya berubah serak, dan aku tidak bodoh mengartikan itu.
"A-ah, s-sepertinya aku pergi saja" suaraku bergetar, kemudian segera memutar tubuhku ke belakang, namun-
"Mau kemana manis?"
-entah sejak kapan, tamu ayah tiriku sudah berada di hadapanku, menghalangi jalanku menuju pintu. Ia terus melangkah mendekatiku, sementara aku melangkah mundur.
Naasnya...langkahku terhenti oleh lemari di belakangku, dan aku semakin bergidik melihat seringai di wajahnya. Ia bergerak cepat menghimpit tubuhku, membawa mulutnya menyesap sepanjang leherku, sedang tangannya merambat ke segala arah.
"Arggghh! Sialan kau!" Lelaki itu mengaduh sembari mengumpat ketika aku baru saja menendang kelelakiannya. Tak ingin buang-buang waktu, aku pun segera berlari menuju pintu ruangan. Tapi lagi-lagi keberuntungan tidak berpihak padaku.
Pintunya terkunci. Dan kuncinya telah dibuang entah kemana oleh ayah tiriku.
Dapat kulihat kedua lelaki itu tertawa begitu menyeramkan sembari melangkah mendekatiku. Kuambil segera ponsel di saku celanaku, dan mulai memilih siapa yang hendak kuhubungi.
Bukan Sehun. Bukan juga ibuku.
"H-halo a-ayah? Ayah! Tolong aku ayah!"
Entah mengapa aku merasa ayah lah satu-satunya yang bisa menokongku saat ini. Telepon ini telah tersambung, tapi tidak ada jawaban apapun dari seberang sana.
"A-ayah...kumohon hiks...A-aku b-benar b-benar butuh-"
"-Halooo. Ini siapa yaaa?"
Deg. Aku terdiam, mendengar suara bocah lelaki di seberang.
"Siapa yang menelpon Baek?" kudengar samar-samar suara ayahku di sana.
"Uhm..soo? Baekki tidak bisa membacanya ayaahh~~"
Genggamanku di ponsel mulai melemah, dan ponselku terjatuh begitu saja ketika kudengar ayah berkata.
"Biarkan saja Baekhyun, bukan sesuatu yang penting untukku"
Tepat setelah itu, aku tidak mampu merasakan apapun lagi. Meski tubuhku telah terangkat di atas meja, tanpa sehelai benang, terhentak-hentak di antara kedua pria paruh baya.
...
"Ughh" Kepalaku berdenyut menyakitkan, membuatku meringis pelan. Selalu seperti ini jika aku berurusan dengan segala hal yang berkaitan dengan Baekhyun.
"Perlu kuambilkan obat?" tanya Sehun yang duduk di sebelahku, kentara sekali kekhawatiran dari sorotan matanya.
Ah. Sehun...kapan tiba masanya kita berdua bisa hidup normal hmm.
Aku menggeleng pelan, dan membawa kepalaku bersender di pundaknya. "Tidak perlu Sehun. Lebih baik kau siapkan dirimu...karena sesaat lagi semua ini akan berakhir" bisikku dingin, membuat tubuh Sehun menegang.
Sambil merengkuh pinggangku, Sehun terkekeh miris. "Bukan hanya dendammu...tapi juga persahabatan kita. Dan tidak ada yang tahu..." Sehun terpejam, dan aku pun ikut memejamkan mata.
"...siapa yang akan bertahan sampai akhir..."
.
.
.
.
Sehun POV
"Ya Soo, selesai makan siang aku akan menemuimu" ucapku pada Kyungsoo, sebelum mematikan teleponnya.
Bohong. Aku tidak berada di sebuah restoran untuk makan siang, seperti yang kuceritakan pada Kyungsoo sebelumnya.
Disinilah aku, di sebuah sofa empuk, di dalam apartemen milik sahabat lamaku. Kim Jongin.
Dibanding Chanyeol hyung, Jongin begitu berharga untukku. Bukan dalam hal romansa, tapi murni sebagai sahabat. Kami berdua sudah bersahabat sejak kecil, bahkan sebelum aku diadaposi oleh keluarga Kyungsoo.
Ia lah yang selalu hadir melindungiku dari anak-anak panti yang ingin menjahiliku. Menjauhkanku dari bibi yang ingin melecehkanku. Dan yang paling penting...
Jongin yang hadir tepat waktu ketika seutas tali telah melingkar di leherku.
Maka atas apa yang telah ia berikan padaku dulu, bagaimana bisa aku membiarkannya disergap oleh bos dan kawanannya.
Cinta memang telah membutakan sahabatku itu, tapi aku tak menyalahkannya atas alasan itu. Jongin adalah sosok yang tidak pernah diajarkan apa itu cinta, sampai ketika ia bertemu dengan si mungil itu.
Andai sosok yang dicintainya bukan Baekhyun, Sehun mungkin akan mendukungnya. Namun hati tidak ada yang tahu. Jongin terlanjur jatuh cinta, terlalu dalam, pada seseorang yang salah.
Seseorang yang ingin dilenyapkan hingga tak bersisa oleh bosnya.
Seseorang yang baru saja melenggang pergi meninggalkanku.
Sesuai perhitunganku, terdengar suara pintu terbuka dan langkah kaki masuk ke dalam. Itunadalah sahabatku, Jongin, yang saat ini mematung melihatku.
"S-sehun? B-bagaimana kau bisa masuk?!" Jongin benar-benar memucat melihat keberadaanku.
Aku tersenyum miring dan mengedikkan pundakku. "Mudah saja. Aku memencet bel, lalu seorang lelaki manis membukakan pintu untukku dan...bam! disinilah aku" jelasku santai. Mendengar aku menyebut kekasihnya, ekspresi Jongin mengeras.
"Sial! Dimana Baekhyun?!" tanyanya sambil celingak celinguk kesana kemari. Sedang aku tak lantas menjawab, memilih bangkit terlebih dahulu ke hadapannya. "Baekhyun baru saja pergi..." aku berhenti untuk memberikan kekehan penuh arti padanya. "...mungkin menemui mantan kekasihnya.." seringaiku angkuh.
Kulihat kedua tangan Jongin mengepal erat, dan aku segera bergerak cepat mencengkeram lengannya ketika ia hendak pergi.
"Jangan gegabah Jongin! Berhenti bersikap kekanak-kanakkan!" Hardikku padanya. Namun Jongin masih memberontak, berusaha melepaskan diri dari cengkramanku.
"Kau tidak akan mengerti-"
"-AKU MENGERTI SIALAN! AKU MENGERTI!" Aku memekik hingga terengah-engah, berhasil membuat Jongin diam membeku. "Aku berulang kali membohongi Kyungsoo, hanya untuk melindungimu bodoh! Tidakkah kau sadar akan itu hah!" pekikku kembali, sedang Jongin masih diam membisu.
Perlahan-lahan aku lepaskan cengkramanku, dan memegang erat kedua pundaknya. "Dengar Jongin. Aku tahu ini berat untukmu, tapi kau pasti bisa melewatinya hmm? Aku akan membantumu mencari pengganti-"
Brukk!
Ucapanku terbungkam, sekujur tubuhku mengeras kaku. Kepalaku merunduk ke bawah, menatap tak percaya pada Jongin yang sedang bersimpuh di depan kakiku.
"Tidak Sehun tidak...aku tidak bisa...Baekhyun...Baekhyun berbeda" ucapnya terbata-bata, terdengar begitu memilukan dan putus asa. "Aku...aku..siap mati, Sehun. Aku tak takut apapun...asal Baekhyun bisa bahagia. Kumohon...mengertilah..."
Apakah itu Jongin temanku? Lelaki yang tengah berurai air mata ini adalah temanku?
"Silahkan pergi, tapi jangan harap ada jalan kembali. Baik untuk pengampunan...maupun persahabatan kita" ucapku pada akhirnya. Jongin cukup tersentak, menatapku penuh luka. Namun ia segera bangkit, dan melangkah menuju pintu keluar.
Tidak ada yang bisa kulakukan lagi untuk menghentikan langkahnya. Jongin telah memilih, untuk masuk ke dalam arena pertempuran akhir. Maka untuk terakhir kalinya, sebagai seseorang yang pernah menjadi sahabatnya, kukatakan pada Jongin.
"Bertahanlah sampai akhir kawan..."
.
.
.
.
Chanyeol POV
Bagai seonggok daging tak bertulang, seperti itulah aku menggambarkan diriku selama ini. Berjalan tanpa tujuan, kehilangan arah petunjuk jalan, bernafas bagai suatu hal yang dipaksakan.
(Yes, just smile like nothing is wrong)
Inilah aku. Park Chanyeol, yang selalu diagung-agungkan setiap orang. Yang selalu berwajah dingin, tak berekspresi, pada siapapun. Tanpa pernah ada yang tahu...apa yang sebenarnya tersembunyi di baliknya.
Samar-samar kulihat di depan sana terdalat sebuah club, dan kurasa mabuk menjadi pilihan yang tepat pada saat ini. Baru saja aku hendak melangkah masuk, ponsel di sakuku bergetar.
Kim Jongin is calling.
Tch! Aku terkekeh melihat ID pemanggil di ponselku. Sesungguhnya berat rasanya untuk menjawab panggilannya, mengingat apa yang telah ia lakukan bersama Baekhyun beberapa waktu lalu. Namun atas dasar firasat buruk yang tiba-tiba mendesak benakku, kujawab panggilan.
'Ya Jongin?' sahutku dingin, seperti biasa.
'H-hyung k-kau dimana?!'
Aku mengernyitkan dahi mendengar suara bergetarnya. "Aku sedang diluar. Mengapa?" tanyaku.
'...B-Baekhyun hy-hyung...'
Mendengar nama lelaki mungil itu disebut, entah mengapa jantungku berdegup. 'Ada apa dengan Baekhyun?! Katakan padaku Jongin!' seruku tak sabaran. Masa bodoh kalau Jongin terkejut atas sikapku ini.
"B-Baekhyun menuju ke rumahmu. Dan Kyungsoo juga-"
Pip!
Tanpa mendengar lebih lanjut, kumatikan sepihak panggilan itu. Aku lantas segera berlari menuju mobilku, dan melajukannya dengan kecepatan di atas rata-rata. Tidak perduli akan banyaknya pengemudi yang mengumpatiku sepanjang jalan, pikiranku hanya satu.
Keselamatan Baekhyun.
Tidak butuh waktu lama bagiku untuk sampai di apartemenku. Tanpa sempat memakirkan mobilku dengan benar, aku berlari menuju lift untuk mencapai apartemenku. Tiap detiknya bagaikan bom waktu, dengan segala dugaan buruk yang muncul satu persatu di benakku.
Lift akhirnya terbuka, dan aku berlari keluar ketika bahkan pintu lift belum terbuka sepenuhnya. Namun ketika di sudut belokan menuju ruang apartemenku, tungkai kakiku berhenti.
Disana. Terdapat Jongin yang sedang dipukuli habis-habisan. Menghalangi para bawahan Kyungsoo agar tidak masuk ke dalam.
(If we never met each other then it would have hurt less)
Tubuhku menegang, serta hatiku seakan diremukkan. Demi apapun, sekujur tubuh Jongin telah bersimbah darah dan penuh luka lebam, namun ia tetap bersikukuh pada posisinya. Lantas aku berpikir..
Andai saja salah satu dari kami tidak pernah bertemu dengan Baekhyun...
Maka tidak akan ada luka, rasa sakit dan dendam. Serta tidak ada yang tersakiti di antara kami bertiga.
Terbakar akan amarah melihat Jongin terkapar lemah, aku pun melangkah ke tempatnya. Namun naas...Jongin lebih dulu melihat keberadaanku, dan mengalihkan bawahan Kyungsoo yang akan melihatku, hingga berakhir dirinya dipukuli kembali.
(The promise of us staying together is now a memory baby)
Dengan darah yang terus mengalir di wajahnya, Jongin tersenyum padaku, dan menggeleng perlahan. Mengisyaratkan aku agar tidak mendekat ke arahnya. Dengan berat hati aku melangkah mundur, untuk melindungi seseorang yang ada di dalam apartemenku.
Meninggalkan Jongin yang sudah diangkut oleh Kyungsoo dan bawahannya.
(I'll pray for you)
Bertahanlah Jongin...
Hanya itu pintaku saat ini.
...
Dengan memutar lewat jalur tangga darurat, dan tangga yang menempel di dinding belakang gedung, tibalah aku di dalam apartemenku.
Tidak ada satupun keanehan di dalam, sama seperti terakhir kutinggalkan. Aku bergegas lari ke kamarku, membongkar lemari senjata untuk berjaga-jaga apabila mereka berhasil masuk ke dalam. Sementara itu otakku terus berpikir, dimana kiranya sosok mungil yang mati-matian dilindungi oleh Jongin.
Selesai mengemasi perlengkapan senjata, aku pun mulai melenggang keluar. Ketika baru saja aku mengunci pintu kamarku, sosok yang kucari-cari kini hadir tepat di hadapanku.
Dengan menggengam pistol yang mengarah ke kepalaku.
Pistol yang kuberikan padanya sekian tahun yang lalu.
"Kaupikir bisa kabur kembali Park?" Baekhyun berucap datar dan dingin. Ia melangkah maju dengan berani, jauh berbeda dari terakhir kali aku bertemu dengannya. "Tch! Keadaanmu sungguh dalam kondisi baik Park. Sangat menikmati penderitaanku hmm?"
Tidak Baekhyun. Ingin sekali kuteriakkan itu padamu dan menyanggah semua tuduhanmu. Jangankan bahagia, tidur nyenyak saja aku tak pernah.
Namun ini sudah keputusanku. Untuk kebaikannya juga. Maka akupun memilih bungkam, membiarkan ia berdiri tepat di hadapanku, dengan moncong pistolnya yang menempel di keningku.
"Kau...tidakkah kau ingin mengucapkan sepatah katapun padaku...?" ia melirih dan matanya berkaca-kaca. Membuat keningku mengkerut dalam. Kulihat ia menarik nafas panjang, memejamkan matanya erat, hingga genangan air mata lolos mengalir di pipinya.
(Just forget me and live on)
Ada apa denganmu Baekhyun? Bukankah kematianku adalah yang kau inginkan? Tarik saja pelatuknya Baekhyun, lakukan apapun yang kau mau padaku. Karena ditembus oleh butir peluru itu lebih baik...
(Those tears will all dry up, yeah)
Daripada melihat air mata membasahi pipimu..
Aku bukanlah seseorang yang pantas untuk ditangisi seseorang sepertimu Baekhyun..
"Katakan sesuatu sialan!" pekiknya dengan berurai air mata yang begitu deras. Nafasnya terengah-engah, menatap kearahku dengan pandangan memohon, membuatku merasa ingin menggantikan jemarinya untuk menarik pelatuk pistol itu pada kepalaku.
"Chanyeol...bicaralah. S-sepertinya aku..." Mata sabit Baekhyun menyayu, seiring kurasakan moncong pistol di kepalaku kian menjauh. Ia melangkah mundur, tersenyum begitu hangatnya padaku.
"...memaafkan dirimu Chanyeol..."
Deg!
Aku mematung, bahkan nampaknya aku lupa berkedip dan bernafas. Kata 'maaf' itu terus berulang-ulang berputar di otakku, dan juga menghangatkan relung hatiku. Masih dengan posisi membeku, kulihat ia menyempatkan untuk membelai lembut pipiku, sebelum memutar tubuhnya menuju pintu keluar.
Sesaat pikiranku kosong, tidak tahu harus berbuat apa. Namun ketika teringat akan apa yang ada di luar sana, aku berucap dengan lantang.
"Kau masih saja terlalu percaya diri Byun" ucapku dingin, sukses menghentikan langkah Baekhyun. "Jadi kau pikir aku masih mencintaimu? Begitu? Ckckck...naif sekali" sahutku lagi, sungguh berlawanan dengan suara hatiku.
Kulihat lelaki kesayanganku itu memutar kembali tubuhnya, bergetar melangkah ke arahku. "C-coba katakan sekali lagi Park" ucapnya terbata-bata.
Mencoba mati-matian untuk tak terpengaruh, aku menatap remeh padanya. "Byun Baekhyunku yang naif. Jangan pernah berfikir bahwa aku masih mencintaimu" tegasku, sambil melirik pistol yang ia genggam mulai terangkat kembali.
"Kau benar Baekhyun. Aku hidup dengan baik, memantau seberapa jauh kau menderita, menikmati rumahmu dengan kekasihku yang beberapa hari lagi akan bersanding denganku di pelaminan dan juga..." aku menjeda untuk mendekatkan mulutku pada telinganya. "...setiap minggu aku mengadakan piknik di atas makam ayahmu..."
"Berhenti Park Chanyeol!" hardiknya penuh amarah. Pistol itu kini telah mengacung kembali menempel keningku.
(Don't look back and leave)
Aku hanya meliriknya santai, dan terkekeh mengejek. "Apa? Kau mau menembakku? Memangnya kau sanggup menembak lelaki yang kau cintai huh?" aku tersenyum sinis.
Ya Baek, seperti itu, cepat tembak aku dan akhiri semuanya. Jangan mendamba cinta pada lelaki sepertiku Baekhyun.
"Jangan kau pikir aku tidak sanggup Chanyeol. Detik ini juga aku bisa melubangi kepalamu" desisnya mengancam.
(Don't find me again and just live on)
"Lalu mengapa kau tidak melakukannya? Alih-alih berbicara omong kosong denganku, tarik saja pelatuknya. Atau kau masih jadi si pengecut?" ucapku memprovokasi.
Kau pasti bisa Baekhyun. Kau pasti sanggup melakukannya. Hanya tarik saja pelatuknya maka kebahagiaan akan segera mendatangimu sayang.
"Chanyeol...adakah kata-kata terakhir yang ingin kau ucapkan?" tanyanya nampak benar-benar serius kali ini.
Aku terdiam, merenungi ucapannya.
(Because I have no regrets)
Banyak sekali Baek jika kau mau tahu. Betapa aku ingin menumpahkan ribuan kata maaf, mengucapkan kata-kata rindu padanya, mengungkapkan betapa beruntungnya hidupku ketika Tuhan memberiku kesempatan untuk bertemu dengannya, menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi selama ini. Dan masih banyak lagi.
Namun jika hanya diberi kesempatan untuk mengungkapkan sepenggal kalimat, maka hanya ada satu yang bisa kuungkapkan padamu. Dari hatiku yang terdalam.
Aku mendekati Baekhyun, menatap lurus padanya. "Baekhyun. Setiap detiknya, aku..." telunjuk Baekhyun mulai menarik pelan pelatuknya, menanti aku menyelesaikan ucapanku.
(From loving you)
...Aku mencintaimu. "...aku membencimu.."
"JANGAN TEMBAK CHAN-"
DORR!
.
.
.
.
.
Di penghujung kesadaranku, kulihat Baekhyun menoleh pada sosok paruh baya di sampinya dengan wajah memucat. Mataku kian terpejam erat, ketika samar-samar Baekhyun memekik.
"A-Ayah!"
Tugasku kini telah usai Baekhyun.
.
.
Halooo haloooo apa kabaarrr? Hehehehe
Sesungguhnya aku malu karena baru beberapa hari aku mogok menulis, kini aku sudah hadir kembali hehehe. Serius rasanya kayak ada yang kurang gitu selama beberapa hari kemarin aku berhenti nulis.
Sebenernya aku sudah mulai mau pindah ke wattpad, namun karena teman dekatku yang tidak mau disebutkan namanya meraung-raung bahkan mengancam mogok makan wkwkwk, makanya aku balik nulis ke ffn. Tapi ga menutup kemungkinan untuk post cerita baru di wp. Promosi hehhe.
Tapi bukan hanya itu saja, dukungan kalian di review bener-bener memberiku semangat serius deh! Kayak aku ini siapa sih, cuma remaja labil yang gampang baper tapi respon kalian pada curhatanku waktu itu begitu besar huhuhu terharu aku. Aku minta maaf buat yg pm lewat aplikasi tidak kubalas, karena aku baru download lagi aplikasinya huhu. Tapi kalo ada yang mau pm, mau cerita apapun nanti kubalas kok.
Well.. untuk chapter ini sengaja kubuat POV dari setial chara, agar kalian tahu masing-masing perasaan mreka itu sebenernya gimana.
Last. #Prayforworld :")
