Gonna be a looooonggg loooonggg story
Kusarankan kalian membaca dari chapter awal, karena chapter ini menjawab apa yang terjadi di chapter-chapter sebelumnya.
Selamat membaca.
.
.
.
.
.
Semilir angin di sela dedaunan, menjadi satu-satunya alunan merdu penyambut fajar. Seakan menjadi nada yang tercipta untuk mengiringi kedatangan seorang lelaki disana, yang sedang menapakkan langkah rapuhnya di areal rerumputan yang luas.
Di depan pahatan nisan Baekhyun berdiri, dengan kepingan matanya yang kosong dan sekujur tubuh yang bergetar hebat. Aroma anyir yang menguar dari pakaian lusuhnya, seolah mencela dirinya atas perbuatan fatal yang telah ia lakukan beberapa saat yang lalu.
Baekhyun tak bergeming, meski rintik hujan kian membasahi tubuhnya, menyamarkan bening penyesalan yang sesungguhnya mengalir dari matanya.
Bahkan ketika sebuah payung melingkupinya dari derasnya hujan, Baekhyun menolak untuk peduli pada siapapun yang ada di belakangnya. Fokusnya hanya satu saat ini.
Memohon maaf.
Pada sosok dibalik nisan tersebut.
"Baekhyun..."
Itu adalah suara sang ayah, yang kini bergeser ke sampingnya. Namun Baekhyun tetap enggan hanya untuk menolehkan kepalanya.
Merasa ikut andil atas apa yang telah menimpa sang anak, Tuan Byun lantas menghela nafas panjang, kemudian menepuk pelan pundak putranya. Memberikan sebuah dorongan semangat untuk putra semata wayangnya.
"Tak apa nak, ayah akan menunggumu di dalam mobil." Tutur Tuan Byun, dengan senyuman hangat di bibirnya.
Brukk!
Tepat setelah sang ayah pergi, Baekhyun tak mampu lagi menopang tubuhnya untuk tetap tegap berdiri. Kakinya seolah tak bertulang, menyebabkan ia berakhir duduk bersimpuh di depan nisan tersebut.
Kedua bahunya tampak berguncang hebat, akibat tangis yang kembali membeludak dari kedua matanya.
Rasanya begitu sakit. Luar biasa sakit.
Pada sesuatu hal yang abstrak, yang berada di dada kirinya.
"M-mm-mmaaf..kan...a..ku..." Baekhyun terisak hebat hingga tak mampu lagi berucap dengan benar. "Maafkan aku..." Ulangnya kembali.
Tangis Baekhyun semakin pecah tiap detiknya, tak ingin ia tahan, tak peduli bahwa saat ini ia mulai kesulitan bernafas. Hatinya bagai teriris sembilu, ketika memori akan seorang lelaki muncul kembali dalam benaknya.
Seorang lelaki yang beberapa saat lalu ia lukai.
Masih dengan nafasnya yang putus-putus, Baekhyun mencoba untuk membuka suaranya kembali. "Selamat ulang tahun-" Ia menjeda ucapannya, menarik nafas panjang sebelum memaksakan sebuah senyuman di bibirnya.
"-Nyonya Park."
Kedua netra indahnya kian menutup erat, sedang otaknya terus berpikir.
Memutar kembali memori akan fakta yang terungkap dari sang ayah.
.
.
.
Dua tahun yang lalu, 5 jam setelah penyerangan
Bagaikan ditusuk oleh ribuan jarum di kepala, seperti itulah yang dirasakan Byun Yunho ketika ia memaksakan untuk membuka kedua matanya. Di tengah rasa sakitnya, ia berusaha keras untuk mengedarkan pandangannya ke sekitar, menyadari bahwa tempat ini begitu asing baginya.
Adalah sebuah ruangan kerja yang begitu luas, dengan dirinya yang terbaring di sebuah sofa, yang menjadi posisinya saat ini. Ia mengernyit, karena terakhir kali ia mengingat dirinya sedang berada dalam sebuah gedung tua untuk menjalankan misinya, dan...tiba-tiba terdapat dua lelaki yang menghadangnya, lalu setelahnya ia tak sadarkan diri.
"Menikmati waktu tidurmu, Tuan?"
Byun Yunho sontak menoleh ke arah kirinya, dan terkesiap mendapati sosok lelaki muda yang memanggilnya. Lelaki itu bangkit dari kursi kebesarannya, membawa tungkainya mendekati yang lebih tua. "Lama tidak berjumpa denganmu Tuan Byun yang terhormat." Salam lelaki itu, dengan seringai licik di bibirnya.
Menutupi keterkejutannya, Yunho memalingkan wajahnya dari si lelaki muda. "Ada apa ini? Seingatku Park Chanyeol bahkan enggan hanya sekedar melihat wajahku." Sindirnya.
Chanyeol sedikit memundurkan tubuhnya, kemudian melipat kedua tangannya dengan tatapan matanya menajam. "Jelaskan padaku. Tentang apa yang kau ucapkan di pemakaman." Ia menuntut.
Meski nampak terkejut, nyatanya Yunho justru terkekeh mendengarnya. "Haruskah? Bagimana jika aku tidak mau?" Tantang Yunho, dan membalas tatapan yang lebih muda.
"Setidaknya berbalas budilah padaku, Tuan Byun," Balas Chanyeol, membuat Yunho mengernyit menatapnya. "Jika aku tidak datang kau akan mati sia-sia disana. Tidak tahukah kau bahwa rekanmu mengkhianati dirimu?"
"Tentu saja aku tahu," Jawab Yunho cepat, dan kedua mata Chanyeol pun sedikit melebar. "Si brengsek itu telah bekerja sama dengan pemimpin kalian-" Yunho menggantung ucapannya untuk menatap lurus pada lelaki di depannya. "-putra kandungku." Ungkapnya.
Melihat Chanyeol hanya terdiam mematung, Yunho lantas kembali terkekeh, menyiratkan celaan untuk lelaki itu. "Ah, ya...tentu saja kau tidak tahu apa-apa." Celanya, benar-benar memancing emosi Chanyeol meluap.
"Katakan semuanya padaku!" Sentak Chanyeol, mulai terbawa emosi. Bahkan semakin memburuk mendapati Yunho hanya mengedikkan bahunya santai.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Yeol. Kau sendiri yang menutup mata dan telinga dari fakta yang ada," Ucapnya final, lalu bangkit dari sofa hingga keduanya kini saling beradu tatapan. "Lakukan yang kau mau, matipun aku tidak peduli. Tidak ada lagi yang perlu diungkapkan disini." Tambahnya lagi.
Kedua tangan Chanyeol mulai mengepal, disertai dengan otot wajahnya yang mengeras. Jika bukan karena fakta yang disembunyikan olehnya, sudah sejak tadi Chanyeol menyingkirkan si tua ini.
Chanyeol menarik nafas panjang, samar-samar tersenyum miring ketika menemukan cara lain yang menurutnya ampuh. "Bagaimana dengan Baekhyun? Aku bisa melakukan apa saja pada putra kesayangamu itu." Gertak Chanyeol.
Namun tak disangka, bukannya terlihat was-was ataupun takut, lagi-lagi Yunho hanya mengedikkan bahunya, bahkan tersenyum menantang pada yang lebih muda. Ia melangkah sedikit lebih maju, membisikkan sesuatu pada lelaki itu.
"Lakukan saja...dan kematian ibumu menjadi suatu hal yang sia-sia."
Bugh!
"Uhukk!" Yunho jatuh terduduk sembari memegangi perutnya, yang terasa begitu nyeri akibat hantaman Chanyeol. Belum sempat ia bangkit, yang lebih muda sudah mencengkeram erat kerah seragamnya.
"SIALAN KAU! JELASKAN SEMUANYA PADAKU BRENGSEK!"
Bugh!
Kali ini wajah Yunho yang menjadi sasaran luapan emosi Chanyeol. Baru saja Yunho hendak membalas pukulan pada yang lebih muda, tiba-tiba cengkraman di kerahnya terasa melonggar.
"Aku...nyaris melupakan kenangan akan kedua orang tuaku," Suara Chanyeol memelan, seiring dengan deru nafasnya yang meningkat. "Tidak ada satupun hingga detik ini, yang sudi menjelaskan sesuatu padaku, bahkan ketika aku meminta dengan cara baik-baik..." Irama bicara Chanyeol yang bergetar membuat atensi Yunho terfokus pada lelaki itu. Dapat ia lihat sorotan luka dan kesepian mendalam dari kedua mata yang kini sedang menatapnya begitu dalam.
Maka dengan satu helaan nafas panjang, Yunho memulai segalanya.
Mengutarakan kebenaran yang selama ini telah terkunci rapat.
...
16 Desember 1991
Merupakan hari dimana Byun Yunho memulai hari-harinya di lingkungan baru, bersama putra manisnya yang bernama Byun Baekhyun. Aroma segar dari lautan yang membentang menjadi penyemangat baru bagi keduanya, terutama setelah bertahun-tahun menghabiskan waktu dengan hiruk pikuk perkotaan.
Semuanya tampak menyenangkan bagi Yunho. Lingkungan yang asri, ditambah oleh para tetangga yang begitu ramah menyambutnya hari itu, membuat lelaki paruh baya ini begitu bersemangat untuk menjalani hari di rumah barunya.
Seminggu setelahnya keadaan masih terbilang sangat menyenangkan. Tetangga sebelah rumahnya, yakni Keluarga Park, selalu memandunya mengenai tempat-tempat di daerah ini. Bahkan keluarga itu acapkali mengundang Yunho dan putranya untuk makan malam di rumahnya.
Keluarga Park juga memiliki seorang putra berwajah rupawan, yang baru saja berulang tahun ke-18 sebulan yang lalu. Namanya Park Chanyeol. Sikapnya begitu dingin, kaku, dan irit berbicara.
Pada awalnya tidak ada hal ganjil yang tampak dari keluarga tersebut.
Namun ketika di malam tahun baru. Tepatnya disaat Yunho yang saat itu baru saja hendak mengunci pintu rumahnya, memergoki sepasang suami istri Park sedang membuang sesuatu yang penuh dengan simbahan darah.
Tidaklah sulit bagi Yunho yang notabenenya adalah seorang polisi kawakan, menerjemahkan segala gerak gerik kedua orang tersebut.
Harusnya Yunho bergegas mendatangi keduanya, mengintimidasi dengan berbagai pertanyaan atau menyudutkan sepasang suami istri itu hingga menuturkan pengakuan.
Tapi lihatlah kini. Dibanding membawa tungkainya kedepan, Yunho lantas memilih mundur perlahan, mengabaikan kejadian yang ia lihat baru saja.
Atas perbuatannya tersebut, sebuah surat diletakkan di depan pintu rumahnya keeseokan paginya. Sesuai dugaannya, sang penulis adalah kedua insan yang ia lihat semalam, yakni Tuan dan Nyonya Park.
''Terima kasih untuk tadi malam, Tuan Byun. Aku tahu kau disana, melihat semuanya. Aku pun yakin kau mampu untuk menjebloskan kami berdua ke dalam penjara, namun kau memilih diam dan kami sungguh mengapresiasi keputusanmu itu. Ehm..aku tahu ini lancang, tapi kami mohon padamu, jangan menceritakan apapun pada Chanyeol. Putraku itu, tidak tahu apa-apa mengenai ini. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih, dan jika kau sempat dan berkenan, mohon sesekali periksa keadaannya. Park'
Seperti itulah pesan yang tertuang dalam surat tersebut. Awalnya Yunho menolak untuk peduli pada keluarga tersebut, terutama dengan keadaan putra tunggal Keluarga Park. Namun ketika netranya menangkap sosok lelaki muda yang sedang duduk terdiam menatap kosong ke arah rumahnya,
Yunho hanya bisa menghela nafas panjang, dan meminta Baekhyun untuk mengajak Chanyeol menghabiskan waktu di kediamannya.
Terhitung 6 bulan sudah Yunho menempati rumah barunya, dan selama itu pula hampir setiap hari Chanyeol menginap dirumahnya. Kedua orang tuanya memang masih belum kembali, namun tak pernah lupa menghubungi putranya setiap malam.
Selama berbulan-bulan belakangan, Yunho bersama-sama dengan Baekhyun dan Chanyeol melewati hari-hari penuh ketenangan dan canda tawa. Bahkan Chanyeol dan Baekhyun layaknya seperti perangko dan amplop, menempel erat dan tidak terpisahkan kemanapun mereka pergi.
Sampai suatu ketika...kebahagiaan mereka harus terenggut dalam sekejap.
Berawal dari Yunho yang tidak menemukan keberadaan Baekhyun di sekolahnya, bersamaan dengan sebuah pesan masuk dari nomor asing di ponselnya saat itu.
'Bos kami menculik putramu. Tapi jangan khawatir, Baekhyun baik-baik saja di tangan kami dan segera temui kami di bukit dekat pelabuhan. Pastikan kau datang sendiri. Hati-hati. Park'
Tanpa berpikir dua kali, Yunho bergegas kembali ke mobilnya, lalu mengendarainya dengan kecepatan tinggi menuju tempat dimana putranya berada. Tidak sampai setengah jam kemudian, akhirnya Yunho sampai di tempat yang dituju.
Masa bodoh dengan mobilnya yang diparkir begitu saja, Yunho terus berlari dan berlari menuju belakang bukit seperti yang disampaikan oleh Park beberapa saat lalu.
Ketika suara letusan api didengar olehnya, Yunho bersumpah detak jantungnya meningkat cepat. Berbagai dugaan buruk mulai muncul di benaknya, namun ia memilih untuk tetap melangkah menuju sumber suara tembakan tadi berasal.
Yunho membeku pada posisinya, dengan kedua matanya yang membelalak. Tak jauh darinya berdiri, terdapat seorang pria dewasa yang sudah terbujur kaku di atas tanah, dengan darah yang terus mengalir dari bagian dadanya. Lelaki itu...Tuan Park.
Yunho kembali dibuat tercekat ketika atensinya beralih pada dua orang di dekat jenasah Tuan Park. Dua lelaki, berbeda umur dan berbeda tinggi badan. Yunho mengetahui pasti siapa kedua sosok tersebut. Terutama yang lebih muda. Putranya.
Kyungsoo.
"Tuan Byun..."
Seseorang yang memanggilnya dari belakang, membuat Yunho mengurungkan niatnya untuk menemui Kyungsoo. Ia menoleh, dan merasakan kelegaan luar biasa ketika mendapati Nyonya Park sedang menggendong Baekhyun yang nampaknya tengah tertidur.
"Aku memberi Baekhyun obat bius, agar ia tidak pernah mengingat kejadiaan naas ini. Kuharap kau mengerti." Ungkap Nyonya Park, menjelaskan mengapa Baekhyun benar-benar tidak bergerak sedikitpun.
Yunho mengangguk mengerti, kemudian mengambil Baekhyun dari gendongan Nyonya Park. Melihat keadaan wanita itu yang jauh dari kata baik-baik saja, membuat Yunho mengingat kembali kejadian sebelumnya.
"Suamimu...kau tahu apa yang telah menimpanya? Emm..maksudku aku-"
"-aku tahu." Nyonya Park menyela Yunho sembari menyunggingkan senyuman getir. Ia menundukkan kepalanya, dan Yunho menangkap setetes air mata jatuh di pipi pucat sang wanita. Merasa prihatin melihatnya, Yunho pun bergerak maju dan merangkul lembut pundak wanita tersebut.
"Maaf. Harusnya kalian tidak perlu membantu kami sampai seperti ini." Sesal Yunho.
"Tidak apa, tidak usah dipikirkan," Nyonya Park menggelengkan kepala seraya mengusap sisa-sisa air mata di wajahnya. "Kurasa sebaiknya kalian harus segera pergi dari tempat ini." Usulnya.
"Kalian?" Yunho mengernyit, mulai merasa ada sesuatu yang buruk setelah ini. "J-jangan bercanda Nyonya Park. Kita 'bertiga' akan pergi dari sini oke?!" Ucap Yunho tegas.
Namun wanita paruh baya itu tetap menggelengkan kepalanya. Bahkan perlahan-lahan mulai mengambil langkah mundur. Membuat degup jantung Yunho kembali berdetak kencang.
"Aku dan suamiku...telah lama menantikan kesempatan ini, Tuan. Tidak ada hidup normal, tidak ada kebebasan, dan tidak pernah ada kata berhenti dalam dunia kami-" Tuturnya pedih, disertai air mata yang kembali bergulir di pipinya. "-kecuali jika mereka yang melepaskan kami, dan...dan...kau tahu bukan cara apa yang akan mereka ambil..." Nyonya Park mulai terisak, membekap mulutnya sendiri untuk meredam isakannya.
"Tidak! Tidak! Aku akan menyelamatkan dirimu! Ayolah...ini sama saja aku menukarkan nyawa putraku dengan nyawa kalian. Tidak akan ada yang ditinggalkan disini!" Sergah Yunho bersikeras. Mulai panik melihat wanita di depannya tetap melangkah mundur.
"Berhenti Nyonya Park...Berhenti! Kumohon...tidakkah kau memikirkan nasib putramu hmm?" Yunho benar-benar sudah putus asa. Ia sempat mengira bahwa dirinya sudah berhasil membujuk Nyonya Park, ketika wanita tersebut menghentikan langkahnya disaat nama putranya terucap.
Namun dugannya salah besar.
Karena bahkan saat ini wanita tersebut mengambil langkah mundur lebih banyak dari sebelumnya.
"16 Desember 1991, hari dimana kalian pindah, juga menjadi hari ulang tahunku yang terindah sepanjang hidup," Ia berucap dengan wajah berseri, seraya menatap dalam pada sosok mungil dibalik punggung Yunho. "Sebab hari itu, Tuhan mendatangkan seorang lelaki mungil pada kami...yang mampu membuat Chanyeol untuk pertama kalinya tersenyum dan tertawa..."
Yunho tertegun dibuatnya, namun memilih untuk tetap membisu pada tempatnya.
"Jangan pernah merasa bersalah...jangan. Baekhyun adalah kebahagiaan untuk anakku, dan aku beserta suamiku sudah sepatutnya menjaga kebahagiannya..." Suara Nyonya Park bergetar begitu kentara, diiringi linangan air mata yang berlomba-lomba mengalir di pipinya. "Aku tak tahu mengapa, tapi bos kami tengah memburu kalian berdua saat ini. Jadi pergilah, kumohon...Tinggalkan kota ini, negara ini, pergilah sejauh mungkin." Pinta Nyonya Park.
Yunho masih teguh pada keputusannya. Bukannya mengindahkan apa yang diminta oleh wanita tersebut, alih-alih melangkah maju, mencoba meraih sosok rapuh di depannya.
"Aku tidak peduli Nyonya! Chanyeol menunggumu di rumah dan aku akan mem-a..apa yang kau lakukan Nyonya Park?!" Yunho berteriak frustasi, menggeleng tak percaya pada wanita di depannya. Sebab pistol yang diacungkan oleh wanita itu ke arahnya, membuat langkahnya mau tak mau harus berhenti.
"Adikku yang akan mengurus Chanyeol nantinya. P-putraku itu anak baik...a-anak yang cerdas. I-ia tidak seharusnya...memiliki kedua orang tua seperti k-kami...hiks..." Nyonya Park mengatur nafasnya yang berantakan, sebelum kembali bersuara. "Biarlah...biarlah ia hidup normal dan tumbuh menjadi lelaki yang sukses. A-adanya kami...h-hanya membuat masa depannya suram, Tuan..."
Tak terbendung sudah tangisan Nyonya Park. Linangan air mata terus menerus mengalir di pipinya, semakin deras tiap detiknya. Hal ini lantas menyulut emosi Yunho. Ia marah. Sangat marah, pada dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Dan ketika wanita rapuh itu mulai mengangkat kepalanya, memberikan pandangan penuh memohon...
Runtuhlah pertahanan Yunho pada akhirnya. Pelan tapi pasti, kepalanya mengangguk setuju. Mengantarkan senyuman cerah pada bibir sang wanita.
"Terima kasih Tuan, sebelum kau pergi..aku ingin memberikan sesuatu pada Baekhyun, bolehkah?" Yunho mengangguk, hanya diam memperhatikan Nyonya Park melepas sesuatu dari lehernya.
Sebuah kalung, dengan bandul berlian berbentuk bulan sabit.
Wanita itu kembali menatap Yunho penuh arti, dan Yunho pun kembali menganggukkan kepalanya. Mempersilahkan sang wanita untuk memasangkan kalung itu di leher Baekhyun.
"Chanyeol berkata padaku, ia begitu terpesona ketika melihat Baekhyun tersenyum padanya," tutur Nyonya Park, sembari memperhatikan kalungnya dan Baekhyun bergantian. "Dia bilang, ketika Baekhyun tersenyum, matanya akan berbentuk seperti bulan sabit. Begitu cantik, indah, berkilau seperti kalung ini, dan juga...seperti mata ibu, katanya." Ia tersenyum, dan Yunho diam-diam membenarkan pendapat Chanyeol mengenai kemiripan mata Baekhyun dan mata ibunya.
Masih dengan senyuman yang mengembang di bibirnya, Nyonya Park mulai mengambil langkah mundur. Sebelum menapak lebih jauh, ia menyempatkan untuk bersuara yang terakhir kalinya pada Yunho.
"Semoga dengan melihat Baekhyun, Chanyeol dapat merasakan bayanganku padanya"
...
"TIDAK! ITU TIDAK MUNGKIN! KAU PASTI MEMBODOHIKU KAN! IYA KAN!"
Yunho tetap duduk dengan tenang, tak gentar sama sekali meski lelaki muda itu sedang mencengkeram erat kerah kemejanya, dengan otot wajahnya yang mengeras penuh amarah.
"Jawab aku sialan! Ini hanya tipuan 'kan? Hah?! JAWAB!" Chanyeol lagi menjerit, seraya mengguncang-guncang tubuh yang lebih tua. Sedang Yunho sendiri hanya menghela nafas panjang, dengan lembut tapi tegas melepaskan tangan Chanyeol dari bajunya.
"Kau marah...karena kau tahu apa yang kukatakan itu adalah kebenaran Chanyeol."
Prangg!
Chanyeol tiba-tiba bergerak cepat ke arah meja kerjanya, menghancurkan apa saja yang ada di atas sana. Ia begitu marah...karena diam-diam ia mengamini ucapan Tuan Byun padanya. Tapi keraguan itu tetap hadir dalam benaknya, merasa bahwa lelaki paruh baya itu hanya membuat karangan semata untuk membodohinya.
Setidaknya itu yang dirasakan Chanyeol, sebelum netranya menangkap sesuatu yang berkilau di antara tumpukan pecah belah di bawah mejanya. Ia merunduk, berusaha mengambil benda berkilau itu dari bawah sana.
Itu adalah sebuah kalung. Kalung sabit. Yang Chanyeol ingat...pernah dipakai ibunya dulu.
Firasat buruk mulai ia dapati, bahkan jantungnya bertalu begitu cepat ketika ia sedang berpikir keras mengenai keberadaan kalung ini di sini, di ruangannya, di bawah meja kerjanya.
Seberapa keraspun Chanyeol berpikir, seberapa jauh ia ingin menolak,
Nyatanya hanya satu orang yang muncul dalam pikirannya. Dan sungguh, jantungnya serasa ditusuk ribuan pedang kini.
Bagaikan sebuah benang merah, hal ini membenarkan apa yang diungkapkan oleh Tuan Byun sebelumnya. Bahwa ibunya memang memberikan kalung berharga ini pada lelaki tersebut
Baekhyun,
Lelaki yang disetubuhinya seperti binatang di malam yang lalu.
Di bawah meja...persis dimana kalung itu ditemukan.
"TIDAAAK! ARRGHHH TIDAAAK TIDAAAAAK! A-APA YANG TELAH KULAKUKAANNN!" Chanyeol memekik dan menjambak rambutnya layaknya orang sakit jiwa. Meja kerjanya kembali menjadi sasaran amukannya, tak peduli akan pecahan kaca yang menyayat jemarinya hingga berdarah.
Kecewa bercampur benci pada Chanyeol, sejujurnya masih dirasakan oleh Yunho. Mengingat apa yang telah dilakukan oleh lelaki itu pada karir dan keluarganya.
Namun, melihat lelaki yang dingin itu, lelaki yang keras hati dan angkuh itu...menangis pilu, maka hati nurani Yunho pun menggerakkan dirinya untuk bangkit, membawa Chanyeol dalam rengkuhannya.
Bagaimana pun...ia juga turut andil dalam kehancuran lelaki itu.
"Harusnya aku membawamu saat itu...harusnya aku datang kembali mencarimu lebih keras...harusnya aku..arghh!" Yunho memejamkan matanya, mempererat rengkuhannya pada Chanyeol.
"Andai saja aku tahu lebih cepat...bahwa kau disiksa dan dibuang oleh bibimu...maka tidak akan seperti ini Chanyeol...maafkan aku."
...
Masih lekat di memori keduanya, bagaimana emosionalnya Chanyeol dan Tuan Byun menghabiskan hari kemarin dengan mebgungkapkan segala kebenaran yang selama ini terkunci rapat di belakang mereka.
Saat kemarin, hubungan mereka mulai membaik seperti adanya dulu kala ketika Chanyeol masih belia.
Namun di siang hari ini. Pekikan dan adu mulut kembali terjadi antar pria berbeda usia tersebut.
"Apa-apaan itu?! Jangan gegabah Chanyeol!"
Chanyeol mengusap kasar wajahnya seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Hanya ini satu-satunya jalan terbaik paman, kau dengar sendiri 'kan apa yang diucapkan Kyungsoo tadi? Ia tidak akan melepaskan Baekhyun paman, bahkan dia sudah berhasil membuat Baekhyun dikeluarkan dari kampusnya..hhhh..."
Yunho tampak merenung, memikirkan betapa hancurnya Baekhyun saat ini, yang tidak tahu bahwa sang ayah sesungguhnya masih bernafas disini. Ditambah lagi masalah kampusnya. Dimana itu adalah kampus impiannya, kampus yang sama seperti mendiang ibunya.
Tapi itu tetap tidak membuat Yunho menyetujui rencana Chanyeol. Itu hanya akan membuat keduanya terluka, terutama bagi Chanyeol sendiri.
"Aku tetap tidak menyetujuinya Chanyeol. Baekhyun...akan membencimu sampai mati"
Secara mengejutkan, Chanyeol terkekeh ringan. "Tak apa, lagipula ia sudah membenciku paman..." Chanyeol melirih, mengingat bagaimana ia memperlakukan Baekhyun seperti sampah di hari-hari lalu. Menyakiti fisik maupun psikisnya.
Yunho memijat keningnya, putus asa dalam membujuk Chanyeol "Ck! Yang benar saja Chanyeol, bagaimana jika dia akhirnya jatuh cinta dengan lelaki itu?" Sentak Yunho.
"Justru itu yang kuharapkan paman, karena Jongin memang lelaki yang tepat untuk melindunginya," Jawab Chanyeol cepat. Ia menoleh pada yang lebih tua dan tersenyum tipis padanya. "Hanya dengan cara ini, dengan menanamkan kebencian yang begitu besar padaku...Baekhyun bisa menghapuskan posisiku di hatinya," Ia tersenyum sendu, membuat Tuan Byun turut merasakan perihnya batin lelaki itu. "Bersamaku hanya membawa dirinya dalam bahaya paman...kau mengerti 'kan?" bujuknya setengah memohon.
Yunho tak lantas membalas, memilih menatap dalam pada sosok lelaki di depannya. Ia pun bangkit setelahnya, melangkah ke posisi di samping Chanyeol, lalu memberi usapan lembut pada pundak lelaki itu.
"Lalu bagaimana dengan dirimu hmm? Kau masih mencintainya...bahkan disaat kebenaran ini belum terungkap, kau masih mencintainya... Aku benar 'kan?"
Chanyeol memejamkan mata selagi mengernyit dalam, merasakan jantungnya yang berdenyut.
Cinta?
Jangan bercanda.
8 tahun ditinggalkan. Dalam kesendirian dan siksaan hidup, yang secara tak langsung diakibatkan oleh sosok mungil itu.
8 tahun menunggu. Meski tak tahu kapan penantiannya akan berujung. Meski sosok yang ditunggu justru tampak hidup bahagia diluar sana, mengabaikan dirinya yang hampir meregang nyawa.
Lantas apa yang dilakukan Chanyeol saat 8 tahun itu terlewati?
Bukan lantas membunuhnya...
Chanyeol justru memilih merengkuh lelaki itu, menyesap aromanya dalam-dalam, merasakan belahan bibir yang pernah menjadi penenang baginya.
Keinginan kuat untuk membunuh Baekhyun dengan keji, seolah terlupakan begitu saja...hanya dengan senyuman dari sosok mungil tersebut.
Jika sudah begini, masihkah meragu pada cintanya untuk Baekhyun?
Sayangnya, alam semesta seakan tidak mempermudah jalan keduanya untuk bersatu padu. Seberapa besar keinginan Chanyeol untuk terus melihat Baekhyun di sisinya, ia harus tetap teguh pada keputusannya.
Maka dengan itu Chanyeol berbisik pada Yunho.
"Selama Baekhyun tetap aman dan bahagia...aku tak akan meminta lebih."
...
Gila. Benar-benar gila.
Sungguh, tidak ada lagi kata yang terpikirkan oleh Yunho untuk menggambarkan seorang Park Chanyeol.
Pria itu tidak mengenal waktu luang dalam hidupnya, menolak dengan tegas kesempatan untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya, dan itu terus dilakukan tiap harinya selama kurang lebih 2 tahun.
Namun ada sesuatu yang menggetarkan hati Yunho.
Disaat ia disibukkan dengan segala hiruk pikuk urusan bisnis miliknya, cabang perusahaannya yang tersebar di segala penjuru Asia, belum juga penyelidikan Kyungsoo dan kawanannya...
Chanyeol tidak pernah melewatkan satu haripun...untuk mengawasi keselamatan Baekhyun.
Ia rela menjalankan perusahaannya dari luar, hanya untuk mengikuti kemanapun Baekhyun pergi. Ia juga lah yang diam-diam menyediakan segala fasilitas, tempat tinggal, dan semua hal yang dapat memberikan kenyamanan pada Baekhyun, tentunya tanpa pernah diketahui oleh Jongin maupun Baekhyun sendiri.
Lalu, ketika ia mengetahui bahwa Kyungsoo dan Sehun telah mencium keberadaan Baekhyun dan Jongin di Jepang, Chanyeol semakin menggila. Saat itu ia benar-benar khawatir, hingga meningkatkan pengawasan dan penjagaan terhadap Baekhyun selama 24 jam penuh, untuk melindunginya dari segala hal yang mengancam.
Pernah suatu hari, disaat Baekhyun terlibat perkelahian dengan sekelompok preman di depan toko Bibi Ahn, Chanyeol hampir saja kelepasan untuk melesatkan pelurunya di kepala para penjahat itu. Ia begitu marah, melihat Baekhyunnya dilukai oleh mereka.
Namun untung saja ia masih mampu berpikir menggunakan otaknya. Ia telan dalam-dalam emosinya, memilih untuk menghubungi Jongin menggunakan ponsel sang supir.
Seperti itulah. Tak ada satu hal pun mengenai kehidupan Baekhyun, yang akan dilewatkan oleh Chanyeol. Meski ia juga harus menyaksikan interaksi antara Baekhyun dengan Jongin, yang semakin mesra setiap harinya.
Benar. Chanyeol benar-benar gila. Karena sedikitpun ia tak pernah keberatan akan apa yang dilihatnya. Meski telah berulang kali Yunho memperingatinya, atau memberi solusi lain, tak ada satupun yang diindahkan oleh Chanyeol.
Sampai akhirnya tibalah hari itu. Hari dimana kesabaran yang dimiliki Chanyeol telah sampai pada puncaknya.
Yunho yang malam itu baru saja kembali ke apartemen yang ditinggalinya bersama Chanyeol, terkejut mendapati yang lebih muda sedang duduk bersimpuh di ruang tengah, ditemani berbagai botol minuman keras, dalam keadaan sunyi dan gelap.
Lelaki itu begitu kacau. Begitu hancur.
Tanpa berpikir dua kali Yunho bergegas menghampirinya, mengambil botol minuman keras yang sudah terpecah...yang tengah digenggam oleh Chanyeol...hingga noda merah mengalir dari jemarinya.
Yunho tak mampu berucap apapun, lidahnya begitu kelu untuk sekedar bertanya apa kiranya yang menyebabkan Chanyeol seperti ini. Entah mengapa, ia merasa bahwa putranya terkait dengan kondisi Chanyeol saat ini.
"Chanyeol?" Yunho memanggilnya lembut. Si empunya nama tak lantas menyahut, alih-alih mengusap matanya sejenak sebelum menoleh pada yang lebih tua. "C-chanyeol...a-ada apa?! Katakan padaku nak...katakan."
Panik dan tercekat. Itulah yang dirasakan Yunho ketika melihat tetesan air mata mengalir di pipi Chanyeol. Karena setahunya, Chanyeol yang keras, hanya akan menjadi lemah tak berdaya jika itu tentang orang tuanya.
Lantas tentang apa kali ini?
"Paman...Paman Byun...bolehkah aku...b-bolehkan aku menangis p-paman..?" Chanyeol tersenyum, meski air mata telah bercucuran deras membasahi wajahnya. "A-aku...sekaliiii saja paman...b-bolehkah aku...aku b-berkata jujur paman...H-hanya sekali ini s-saja paman..." Ia masih tersenyum, sebuah senyum yang begitu redup, menyiratkan kesedihan luar biasa.
Tak ada yang bisa dilakukan oleh Yunho, selain mengangguk dan merangkul pundak lelaki muda tersebut. Dalam rengkuhannya dapat dengan jelas ia rasakan, betapa bergetarnya tubuh Chanyeol.
"Disini...di dalam sini...rasanya sakiit sekali paman...sangat...sangat sakit." Dengan jemarinya, Chanyeol menepuk-nepuk dada kirinya. Benar dugaan Yunho, bahwa semua ini disebabkan oleh putranya.
"Paman...a-apakah kau punya obat pengilang rasa sakit...hmm? Aku...aku tidak kuat paman...rasanya aku mau mati melihatnya dengan lelaki lain...hiks..." Air mata itu kian bercucuran semakin deras, seolah menggambarkan betapa hancurnya hatinya saat ini. Ia angkat kepalanya kemudian, menatap Yunho dengan pandangan memohon yang begitu memilukan.
"A-apakah...apakah aku tidak boleh mencintainya paman? Tidak bolehkah? Aku...aku tidak bisa menahannya lagi paman..."
Sunyi.
Hanya isakan Chanyeol saja yang terdengar di keheningan malam ini. Nampaknya ia sudah tidak memiliki kekuatan lagi hanya untuk sekedar bersuara kembali, sedang Yunho terlihat masih menyusun rangkaian kata yang akan ia ucapkan pada lelaki itu.
"Chanyeol, kau harus mendengarkan aku kali ini." Sahut Yunho dengan lantang, seraya menangkup wajah Chanyeol agar membalas tatapan dirinya.
"Kita sudahi rahasia ini, dan temui mereka secepatnya. Aku yang akan mengurus semuanya, dan aku juga yang akan menjelaskan pada putraku." Titahnya tegas. Melihat Chanyeol tak membantah, pandangan Yunho pun melembut kembali.
"Tidak akan lagi kubiarkan kau terluka nak. Sudah cukup semua pengorbananmu selama ini, Baekhyun harus mengetahuinya."
Chanyeol termenung sesaat, mencerna solusi yang ditawarkan oleh Tuan Byun. Merasa cara itu akan meluruskan segala permasalahan yang ada, perlahan lahan senyuman tipis terpatri di wajahnya.
Hanya.
Sangat disayangakan.
Rencana tinggalah rencana.
Kyungsoo dan kawanannya bergerak terlalu cepat dan rapi, hingga luput dari pengawasan Chanyeol. Mereka lebih dulu datang dan mengancam keselamatan Baekhyun, membuat rencana yang telah disusun oleh Yunho dan Chanyeol runtuh begitu saja.
Tak peduli dengan fakta yang belum sempat terungkapkan, Chanyeol memilih berkorban kembali...
Hanya untuk keselamatan Baekhyun.
Meski nyawanya yang menjadi taruhannya.
.
.
.
.
Present
Lagi.
Bayangan itu hadir kembali, bahkan tak pernah luput dari benak Baekhyun selama 2 hari belakangan. Seolah-olah hendak membuatnya untuk terus mengingat betapa besar kesalahan yang telah ia lakukan.
Padahal...kalau ada cara untuk menebus kesalahannya, pasti akan ia lakukan. Kalau ia bisa menggantikan posisi Chanyeol yang sedang terbaring lemah di rumah sakit, juga akan ia lakukan.
Apapun. Apapun itu. Meski tetap tak akan pernah sebanding dengan segala hal yang telah Chanyeol berikan padanya.
Saat itu...peluru yang ditembakkan oleh Baekhyun, benar-benar mengenai Chanyeol. Jika bukan karena takdir yang tiba-tiba mendatangkan sang ayah di dekatnya, mungkin Chanyeol sudah terbaring di samping makam orang tuanya kini.
Peluru itu memang meleset dari otaknya. Hanya saja tetap menembus pelipis kanannya, merusak beberapa jaringan sel di dalam sana dan itulah yang menyebabkan dirinya belum sadarkan diri sampai saat ini.
Maka untuk sementara, menemani lelaki itu di sisinya selama 24 jam penuh, hanya satu-satunya yang bisa Baekhyun lakukan. Masa bodoh dengan tubuhnya yang semakin kurus akibat kurangnya istirahat dan asupan makan. Karena Baekhyun hanya ingin ketika kelak Chanyeol membuka mata, sosoknya lah yang pertama kali dilihat oleh lelaki itu.
"Baekhyun...kau harus makan nak."
Sama seperti sebelumnya, ia menggeleng yakin. "Aku tidak lapar ayah." Tolaknya, entah untuk yang keberapa kalinya.
Yunho lantas hanya mampu menghela nafas, karena ia tahu putranya memang nomor satu dalam hal keras kepala. Lagipula kedatangannya kemari bukan hanya sekedar untuk mengingatkan putranya tentang makan teratur.
Ada hal yang lebih penting bahkan mendesak dari hal itu, dan kini otaknya terus berpikir keras, berusaha menyusun rangkaian kata yang tepat untuk menyampaikannya pada Baekhyun.
"Ada apa ayah? Kau ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Baekhyun, melihat sang ayah yang berdiri mematung dan memandangnya dengan tatapan kosong.
Yunho sedikit tersentak, tiba-tiba merasa gugup karena dirinya dipergoki oleh sang putra. Sepertinya ia tidak bisa berkelit lagi, karena ini pun sungguh dalam keadaan yang sangat genting. Maka ia pun mulai menarik nafas panjang, menatap lurus pada putranya meski ia sedikit ragu.
"Baekhyun. Ini...tentang Jongin. Kemarin malam, ayah tidak sengaja membuka ponselmu yang terus menyala."
Jongin?
Bahkan Baekhyun telah melupakan sosok lelaki itu selama dua hari ini.
Pikirannya terlalu kalut akan keadaan Chanyeol, kehadiran sang ayah yang tiba-tiba, ditambah lagi fakta yang diungkapkan oleh ayahnya, membuat tak ada ruang di pikiran Baekhyun untuk memikirkan Jongin, meski hanya untuk sedetik saja.
Terlepas dari alasan yang ada, kemarahan...lebih mendominasi.
Jongin telah menipunya, sebagaimana ia turut andil dalam kelompok yang dipimpin Kyungsoo dan Chanyeol, yang ingin melenyapkan sang ayah.
Tapi...
Apa benar ia mampu menyingkirkan sosok itu dari pikirannya?
Bagaimanpun juga, keduanya telah berbagi suka duka dan kehangatan malam selama setahun belakangan ini.
Tidak. Baekhyun tidak mampu untuk berpura-pura acuh. Terutama ketika sang ayah kembali membuka suara dan mengatakan,
"Ada sebuah pesan masuk...dari seseorang yang bernama Oh Sehun."
Maka reaksi tercepat yang Baekhyun tunjukkan saat itu sesuai dengan ekspektasi sang ayah. Tubuhnya menengang, bulir matanya bergerak kesana kemari bahkan ia tak hentinya memainkan jemari lentiknya. Hanya dengan mendengar nama Oh Sehun, Baekhyun tahu pasti apa yang sedang menimpa Jongin, tanpa perlu diperjelas oleh sang ayah.
"J-jongin...a-aku...a-yah aku harus pergi...ya a-aku harus pergi sekarang!" Baekhyun meracau dengan tatapannya yang tak fokus. Berusaha tampak kuat meski untuk mencari pintu keluar saja ia tak mampu.
Prihatin dengan kacaunya kondisi sang putra, Yunho lantas bergerak cepat untuk menahan tangan sang putra sebelum si mungil berbuat lebih jauh.
"Kita pergi bersama, Baekhyun." Perintahnya, yang langsung membuat Baekhyun hendak membantah. Namun sebelum putranya benar-benar memberontak, Yunho kembali menegaskan titahnya.
"Patuhi atau tidak sama sekali."
Dan hanya butuh beberapa detik bagi Baekhyun untuk segera menganggukkan kepalanya, lalu bergegas pergi bersama sang ayah menuju tempat Jongin berada.
Hanya saja...
Mereka melewatkan setitik gerakan dari seseorang yang sedang terbaring di atas ranjang,
Serta setetes air mata yang mengalir di pipi kanannya.
...
"Wah...wah...wah...kasihan sekali Jongin kita, sudah berhari-hari sang princess tidak datang menjemput pangerannya. Kau yakin jalang kecilmu itu benar-benar mencintaimu hum?"
Sang pemilik nama hanya mendengus, tak memiliki banyak tenaga untuk membalas lelaki bermata doe di depannya.
Atau lebih tepatnya,
Lelaki yang pernah menjadi bos yang dihormatinya, Kyungsoo.
Di ruangan sempit dan gelap ini, Kyungsoo tidak datang sendiri. Sang tangan kanan setianya, Oh Sehun, turut mendampingi di belakangnya. Meski si pucat itu hanya bisa diam mematung.
Satu sisi ia sudah berjanji pada sang bos untuk tetap patuh akan segala perintahnya.
Sementara di sisi lain,
Hati kecil Sehun menjerit melihat kondisi sahabatnya. Dimana kedua kaki tangannya terikat pada sebuah tiang, dengan sekujur tubuhnya yang sudah dipenuhi oleh berbagai luka.
Sehun berada dalam dilema. Tapi ia terlalu takut mengambil langkah.
"Kenapa diam? Tidak bisa menjawab? Atau kau mulai menyadari bahwa kau hanya menjadi seonggok mainan baginya?" Masih dengan intonasi yang meremehkan, Kyungsoo terus berucap pada sang mantan bawahannya. Memasang wajah angkuh, Kyungsoo membawa tungkainya maju hingga berdiri tepat di depan lelaki yang nampak tak berdaya.
Bukan rasa iba ataupun raut pengampunan, justru tatapan merendahkan serta senyum kemenangan yang ia tunjukkan. Menggunakan pisau kecil yang sejak tadi ia genggam, Kyungsoo mulai membelai wajah Jongin, menambah daftar luka di wajah si lelaki tan.
"Ckckck...Bagaimana Sehun? Haruskah kita membunuh pria malang yang tak berguna ini?" Kyungsoo menoleh sekilas pada Sehun sebelum kembali mendekatkan wajahnya pada Jongin. "Tapi, aku kasihan pada baby Jonginku~~" ejek Kyungsoo, sembari mengangkat dagu Jongin agar bersitatap dengannya.
Untuk sesaat Jongin menatap bengis ke arah Kyungsoo, sebelum dengusan terdengar dari mulutnya. Tentu saja membuat tatapan Kyungsoo mulai menajam, diikuti genggaman yang mengerat pada pisau miliknya.
Sementara Sehun diam-diam bergerak maju, mulai merasakan firasat buruk yang nampaknya akan segera terjadi.
"Tidak perlu repot-repot mengasihani diriku Baby Soo...bukankah kau yang lebih pantas dikasihani?" Cela Jongin, sukses membuat Sehun terbelalak di belakang sana.
Mengabaikan aura membunuh yang menguar dari Kyungsoo, Jongin lantas kembali membuka mulutnya. "Kyungsooku yang malang~~, kau rela berulang kali mengangkangi Chanyeol hyung, merengek mengemis perhatian pada ayah kandungmu, bersusah payah menahanku disisimu, namun apa yang terjadi hmm? Tak satupun baby...tak satupun dari kami yang berbalik ke arahmu." Diucapkan begitu lantang, menusuk tepat ke relung hati Kyungsoo.
"Hahh...pesona kekasihku itu memang sulit untuk dilewatkan. Dan kau baby...kau sama sekali tidak sebanding dengan Baekhyun. Cih! Levelmu jauuuhhh berada di bawahnya, Kyungsoo." Dengan sebuah decihan, Jongin pun menyudahi ucapannya.
Hening. Tak ada satupun yang bersuara semenjak Jongin telah menutup rapat mulutnya. Di belakang sana, Sehun masih cukup tenang mengawasi gerak gerik sang bos, yang sejak Jongin bicara tadi hanya berdiri dengan kedua tangan terkepal.
Namun ketika kekehan mengerikan mulai terdengar dari sang Bos, keringat dingin mulai mengalir di pelipis Sehun.
"Kim Jongin...nampaknya kau paham sekali bagaimana cara memprovokasi diriku ya. Sayang sekali, padahal aku masih ingin bermain-main denganmu babyku~~" Ucap Kyungsoo, sambil memainkan pisau kecil miliknya di bagian dada kiri Jongin. Tanpa disangka, Kyungsoo menancapkan ujung pisau tersebut, membuat desisan memilukan dari Jongin.
Layaknya iblis, sang bos tersenyum senang mendengarnya. Membuatnya sedikit demi sedikit terus mendorong pisau tersebut lebih dalam. Ketika hanya sekian jarak lagi ujung pisau itu mencapai jantung milik Jongin, Kyungsoo berhenti sejenak dan membawa bibirnya mendekati telinga tawanannya.
"Jangan khawatir Jongin...kupastikan Baekhyun akan segera menyusulmu ke neraka hmm..." Kyungsoo berbisik, sementara Jongin sudah menutup matanya pasrah. Pelan-pelan Kyungsoo pun mulai menarik kepalanya.
"...selamat ting-"
Tok! Tok! Tok!
"Bos! Bos! Kami membawa tangkapan besar untukmu bos!" Ketukan dan sahutan keras dari luar pintu sukses menghentikan aksi pembunuhan yang hampir saja dilakukan oleh Kyungsoo. Sambil berdecak kesal, Kyungsoo pun mulai bergerak ke arah pintu. Sementara baik Sehun dan Jongin, sama-sama mengela nafas penuh kelegaan.
Tapi nyatanya kelegaan tidak begitu lama dirasakan oleh Jongin.
Terutama ketika netranya menangkap siluet lelaki mungil muncul dari arah pintu.
Jongin tidak mungkin salah mengenali postur sang kekasih, Baekhyun, yang kini sedang berada dalam genggaman para penjaga.
Sama seperti Jongin, Sehun pun cukup terkesiap. Tepatnya pada lelaki paruh baya di belakang Baekhyun, sebagaimana selama ini ia kenal sebagai ayah angkatnya.
"Woah..lihat siapa yang datang? Apakah sebaiknya kita mengadakan sebuah reuni disini?" Kyungsoo terkekeh puas, setelahnya menoleh pada para bawahannya. "Kalian sudah memeriksa mereka baik-baik?" Tanya sang bos pada para bawahannya.
"Sudah Tuan. Hanya beberapa senjata yang telah kami sita dan selebihnya mereka hanya datang berdua." Lapor salah satu pria paling kekar. Kyungsoo pun lantas tersenyum penuh kemenangan, beralih kembali pada dua mangsanya.
Menggunakan pisau kecilnya, Kyungsoo mulai mendekati Baekhyun, memperlakukan sisi wajahnya seperti yang telah ia lakukan pada Jongin. Melihat tetes-tetes darah mengalir membasahi leher Baekhyun, binar kepuasan terpancar dari kepingan doe milik Kyungsoo.
"Hentikan Kyungsoo/Berhenti sialan!"
Seketika Kyungsoo berhenti, lantas berdecak kagum akan kedua lelaki yang meneriaki dirinya secara bersamaan. Semakin menarik saja pikirnya.
"Ouch...manisnya kalian berduaa~~ tidak ingin Baekhyun terluka hum?" Kyungsoo terkikik, sembari menarik Baekhyun menuju bagian tengah ruangan. Melihat seringai yang muncul perlahan di sudut bibir Kyungsoo, Sehun yakin sebuah ide gila telah muncul dalam otak sang bos.
"Bagaimana denganmu adikku? Kira-kira...apa yang akan Baekhyunnie lakukan-" Seringai tersebut kian tergambar jelas, disertai pandangan matanya yang menusuk. "-melihat kedua lelaki itu mati perlahan di depan matamu hmm..."
Belum sempat Baekhyun membuka suara, Kyungsoo bergerak lebih cepat, memberikan isyarat pada para bawahannya. Tanpa bisa dicegah, beberapa lelaki kekar itu mengerubungi Tuan Byun dan Jongin, memberikan pukulan dan tendangan keras pada keduanya.
"Pastikan jangan terlalu keras anak-anak. Aku tidak ingin melihat mereka mati dengan cepat." Perintah sang bos begitu mutlak.
Sehun yang sejak tadi hanya bisa bungkam, mulai merasakan suatu gejolak yang timbul dalam benaknya.
Bagaimanapun,
Kedua lelaki itu adalah ayah angkat dan sahabatnya,
Yang tidak pernah sekalipun menyakiti dirinya.
Maka dengan alasan itu, Sehun pun melangkah maju mendekati sang bos.
"Soo...bisakah kita mencari cara-"
"-jangan sekarang Sehun. Jangan. Aku tidak ingin melayangkan senjataku padamu." Kyungsoo memotong, lantas memasang tatapan memohon pada lelaki di sampingnya.
Jika sudah begitu bagaimana Sehun bisa membantah?
Salahkan cintanya yang begitu besar pada lelaki itu.
Sementara Sehun hanya bungkam, lain halnya dengan Baekhyun. Sejak tadi mulutnya terus meneriakkan kata tidak, jangan, dan mohon lepaskan. Hatinya begitu perih melihat kedua lelaki yang ia sayangi dihujani oleh pukulan dan tendangan. Bahkan terlihat jelas oleh Baekhyun, kondisi Jongin yang semakin melemah, hingga tak ada lagi pergerakan dari tubuhnya.
"HENTIKAAANN! KUMOHON HENTIKAANNN HIKS!"
Baekhyun memekik kuat, disambut oleh seringai puas dari Kyungsoo. Dengan mengangkat jarinya, lelaki itu memberi isyarat pada sang bawahan untuk berhenti, kemudian beralih kembali menatap sang adik tiri.
"Ada apa adikku? Kau ingin mengatakan sesuatu?"
Baekhyun menarik nafas sesaat, meyakinkan diri untuk membuka mulutnya.
"Bunuhlah aku..."
Kyungsoo menyeringai lebar. Sementara Tuan Byun, Sehun, bahkan Jongin yang sudah lemah pun tercekat mendengarnya.
Mengabaikan reaksi yang lain, Baekhyun tetap pada keputusannya. "Ambillah nyawaku Kyungsoo. Tapi kumohon...lepaskan mereka berdua hiks..." Isak Baekhyun.
"Tidak Baekhyun, tidak...jangan lakukan!" Pekik Jongin, bergerak liar dalam ikatannya.
Namun, Baekhyun tetap bergeming, membuat kedua lelaki itu semakin menggila.
"Anakku..kumohon dengarkan ayah.. Jangan lakukan itu nak, tidakkah..tidakkah kau masih ingin bertemu dengan Chanyeol?"
Chanyeol.
Satu nama yang membuat Baekhyun refleks membuka matanya.
Bertemu dengannya? Tentu saja Baekhyun ingin. Sangat.
Tapi apa daya...
Toh semua penderitaan yang Chanyeol rasakan selama ini juga disebabkan oleh dirinya.
Bukankah...jika ia mati...maka semuanya akan bahagia kembali?
Dengan linangan air mata yang sudah membanjiri wajahnya, Baekhyun pun mengangguk pada Kyungsoo, menatapnya penuh permohonan.
"Adikku memang pandai memilih hmm...Baiklah, sepertinya tidak perlu berlama-lama lagi, mari kita lakukan dengan cepat." Kyungsoo mengangkat pisaunya kembali, mengarahkan ujung pisau itu di depan dada kiri Baekhyun.
"Selamat tinggal adikku sayang..."
"TIDAAKKKKKKK!"
.
.
.
.
Tes
Tes
Tes
Hening. Tidak ada satupun suara, selain bunyi tetesan cairan berwarna merah pekat yang jatuh ke lantai.
Semua mata terbuka lebar, tak percaya melihat sesuatu yang terjadi di depan mata.
Atensi seluruhnya terpaku pada Kyungsoo, terutama pada darah yang mengalir dari pisau yang berada di genggamannya.
Bukan.
Bukanlah milik Baekhyun darah itu berasal.
Si mungil ini nyatanya baru saja membuka matanya ketika ia merasakan suasana begitu hening, tanpa ada rasa sakit yang kiranya akan ia dapatkan.
Namun ketika netra sabitnya menemukan apa yang tengah terjadi, Baekhyun pun membeku. Sekejap air mata menyeruak begitu saja, tak melewatkan pandangan pada sosok di belakang Kyungsoo.
Lelakinya. Tambatan hatinya. Berdiri dengan gagah menahan pergerakan Kyungsoo.
Park Chanyeol, masih dengan wajah pucatnya, memberanikan diri menahan pisau di tangan Kyungsoo. Tanpa mempedulikan telapak tangannya yang kini telah bersimbah darah.
" . .Baekhyunku."
Begitu lantang, tegas, dan mengancam, dengan aura mendominasi khas milik seorang Park Chanyeol.
Memanfaatkan keadaan Kyungsoo yang sedang lengah karena terkejut, Chanyeol pun dengan sigap menyingkirkan pisau Kyungsoo dan mendorong lelaki itu menjauh.
Tidak butuh pikir panjang bagi Chanyeol untuk melesat mendekati Baekhyun, membentengi si mungil dengan punggung tegapnya.
Sementara itu merasa iba melihat sang bos terhempas ke lantai, Sehun berinisiatif ke arahnya, berniat untuk membantunya berdiri. Sayang, niat baiknya ditolak begitu saja oleh Kyungsoo, yang justru dengan cepatnya menarik pistol milik Sehun.
Dengan wajah penuh murka Kyungsoo pun berdiri. Mengarahkan moncong pistol itu tepat kearah kepala Chanyeol.
"Aku sudah muak dengan kalian semua! Tunggu saja sampai aku melubangi kepala kalian satu persatu..." Ancam Kyungsoo.
Meski nyawanya kini berada di ujung tanduk, nyatanya ketakutan sama sekali tak nampak di wajah Chanyeol. Si tampan itu tetap tenang, sembari menarik sudut bibirnya penuh arti.
"Kalau aku jadi kau, yang akan kulakukan adalah menurunkan pistolnya dan segera pergi dari sini Soo." Usul Chanyeol.
Kyungsoo pun lantas berdecih, masih mempertahankan pistol tersebut. "Kau pikir aku akan termakan tipuanmu? Tidak akan Park! Kau akan tetap mati di tanganku!" Desis Kyungsoo.
Namun nyatanya Chanyeol justru terkekeh, memberanikan diri melangkah maju. "Sebelum membunuhku...bagaimana jika kau mengecek apa yang sedang menunggumu di belakang sana hmm?"
Bukanlah Kyungsoo yang menoleh, melainkan Sehun. Terkejut akan apa yang dilihatnya, ia pun melesat menuju sang bos. "Soo..kita tertangkap." Bisik Sehun, membuat Kyungsoo menoleh cepat ke belakangnya.
"Turunkan senjatamu!"
Adalah seorang petugas polisi yang menyambut Kyungsoo ketika ia menoleh ke belakang. Dan bukan hanya seorang, dua, tiga, entahlah ia tak sempat menghitung seluruhnya.
Yang jelas,
Ia telah terkepung.
Tidak. Tidak semudah ini pikir Kyungsoo. Tidak akan ia menyerah atas rencana yang telah ia susun bertahun-tahun lamanya.
Maka masih dengan tangan kanannya yang menodongkan pistol, tangan kiri Kyungsoo mulai bergerak, merogoh sesuatu dari saku celananya.
"Kalian pikir aku akan menyerah sampai disini? Jangan harap!" Kyungsoo menyeringai, kala tangan kirinya telah menggenggam sesuatu dari dalam sakunya. Sehun yang mengetahui pasti apa yang akan dilakukan oleh lelaki itu, berlari ke arah Jongin dan berteriak lantang.
"SEMUANYA TIARAP!"
DHUAARRR!
Suara ledakan yang begitu memekakkan telinga, kepulan asap hitam yang mengitari seisi ruangan, serta runtuhan puing yang berserakan, adalah kondisi mencekam yang sedang terjadi saat ini.
Beberapa petugas polisi dan termasuk pula bawahan Kyungsoo terluka parah, sementara yang lain masih berupaya bangkit dari reruntuhan puing.
Nampak Tuan Byun yang pertama bangkit, dan bergegas berlari menghampiri tempat terakhir sang anak berdiri. Rasa cemas ia rasakan, kala sebuah puing besar nampak seperti menimpa sesuatu. Dengan bantuan dari petugas lainnya, Tuan Byun pun berhasil mengangkut puing tersebut.
Adalah rasa lega dan haru sebagai reaksinya saat ini.
Lega, melihat sang putra masih dalam kondisi sadar.
Haru, karena mendapati Chanyeol berada di atas tubuh Baekhyun, melindunginya dari reruntuhan.
Cepat-cepat mereka membantu memindahkan Chanyeol ke sisi Baekhyun, lantas memastikan kondisi lelaki tersebut. Chanyeol memang masih sadar dan bernafas, meski wajahnya semakin memucat dari sebelumnya.
Baekhyun yang baru saja ingin membelai wajah Chanyeol, terhenti seketika ketika ia mendengar rintihan tak jauh dari belakangnya.
Jongin. Baekhyun ingat itu adalah tempat Jongin terikat tadi.
Melupakan Chanyeol yang masih terbaring lemah, Baekhyun pun berlari ke arah Jongin. Berteriak memanggil para petugas untuk membantunya mengangkat reruntuhan.
Kemeja putih yang Baekhyun ingat sebagai kemeja milik Sehun, adalah yang pertama dilihatnya. Dan semakin reruntuhan itu tersingkirkan, semakin jelas pula apa yang terlihat.
Sama seperti Chanyeol pada Baekhyun, Sehun pun melakukan hal yang sama pada Jongin.
Hanya saja Sehun masih cukup kuat untuk berdiri sendiri, kemudian segera membantu Jongin bergeser dari reruntuhan kecil yang menyelimuti tubuhnya. Begitu telatennya Sehun membuka sisa ikatan tali di kedua tangan Jongin, membuat sahabatnya mengernyit dan menahan tangan Sehun.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Ketus Jongin, namun tak diindahkan oleh Sehun. Ia tetap diam, dan meneruskan kembali pekerjaannya.
Untuk sekian detik hanya keheningan yang menyelimuti keduanya. Sampai bertepatan dengan tangan Jongin yang telah bebas, bersamaan pula dengan Sehun yang membuka suara.
"Anggaplah ini permintaan maaf terakhir-" Sehun menjeda sesaat, untuk bangkit berdiri tegak. Dengan mata yang saling beradu, ia berucap kembali. "-dari seorang sahabat..." Sehun melirih, dilengkapi dengan senyum sendu yang membingkai wajahnya.
Perlahan-lahan ia melangkah mundur, dan hampir berbalik sampai Jongin menahan sikunya.
"Jangan pergi padanya Sehun...tidak bisakah kita kembali bersahabat? Kita..aku dan kau..ayolah Sehun kumohon kembalilah seperti dulu.." Pinta Jongin dengan suara yang bergetar.
"Tidak ada sosok Baekhyun dari bagian masa lalu kita Jongin. Kau yakin mampu melakukannya? Melepas Baekhyun dan kembali seperti Jongin yang dulu?"
Mulut Jongin terbuka, lalu menutup kembali, tanpa tahu apa yang akan ia katakan. Lidahnya terlalu kelu untuk berucap sesuatu. Namun melihat sorot penuh harap yang terpancar dari mata Sehun, cukup banyak mempengaruhi kata hatinya.
"Aku...aku rasa tidak ada salahnya kita-"
"-Jongiinnnn~~"
Brukk
Kalimat Jongin terhenti begitu saja ketika sosok mungil yang begitu ia sayangi, menubruk tubuhnya tiba-tiba. Melingkari tubuh Jongin bagai seekor koala.
"Tubuhmu penuh luka...maafkan aku yang terlambat menyelamatkanmu..." lirih Baekhyun, sembari mengusap lembut luka-luka di wajah Jongin.
Hal ini lantas membuat yang lebih tua menghangat, mendorong dirinya untuk memeluk erat pinggang si mungil.
"Aku pikir kau membenciku Baek...Aku, telah banyak membohongimu..Maaf."
"Aku memang membencimu Jongin! Sangat membencimu! Tapi...tapi kau tidak boleh pergi meninggalkanku begitu saja...Aku takut Jongin...Jangan pergi lagi..." Baekhyun merajuk lucu, kemudian melesakkan kepalanya untuk bersender di dada Jongin. Membuat lelaki tersebut terkekeh pelan, dan mengelus surai si mungil dengan penuh sayang.
Tanpa keduanya ketahui,
Ada pihak lain yang memilu melihatnya.
Sehun memilih mundur perlahan, menyempatkan untuk memberikan senyum pada sang sahabat sebelum pergi melangkah keluar.
Tanpa perlu diucap, Sehun pun tahu jawabannya. Bahwa Jongin tak akan sanggup melepaskan Baekhyun.
Lebih dari rasa sakit yang dirasakan oleh Sehun, tentu lah Chanyeol yang paling teriris pilu.
Sudah tubuhnya yang terasa seperti dihujam pedang setiap ia bergerak sedikit saja, kini ditambah lagi sayatan abstrak pada hatinya, menyaksikan satu-satunya lelaki yang ia cintai berada di pelukan lelaki lain.
Di sampingnya Tuan Byun hanya bisa menatap prihatin, dan mengusap pelan surai lelaki yang telah dianggap sebagai putranya sendiri.
Chanyeol lantas tersenyum, menggeleng pelan pada Tuan Byun. "Tidak apa-apa paman, sudah sepantasnya seperti ini." Bisik Chanyeol, kemudian berusaha bangkit dari lantai. Ia genggam tangan pria paruh baya tersebut, memberikan sejumput keyakinan padanya. "Sudah paman, tidak perlu dipikirkan. Lebih baik paman cepat pergi menyusul Kyungsoo sebelum ia berhasil kabur. Semuanya akan selesai pada malam ini paman."
Tuan Byun pun akhirnya mengganguk kecil, dan menyempatkan untuk menepuk lembut pundak Chanyeol. Terlebih dahulu ia melangkah ke belakang, mendekati sang anak yang masih berpelukan.
"Baekhyun...ayah harus pergi."
Mendengar ucapan sang ayah, sontak Baekhyun melepaskan rengkuhannya dan menatap nyalang pada ayahnya.
"Tidak boleh! Kau tidak boleh pergi ayah! Bagaimana kalau-"
"-shhh...dengarkan ayah nak..." Dengan lembut Tuan Byun menangkup wajah putra mungilnya. "Ayah, yang telah meninggalkan Kyungsoo dahulu. Ayah juga, yang membuatnya tumbuh dengan rasa dendam. Semuanya berawal dari ayah nak...Maka dari itu, biarlah ayah yang bertanggung jawab untuk menyelesaikan semua ini hmm?"
Meski berat rasanya, namun Baekhyun mencoba untuk mengerti dan menganggukkan kepalanya. Lega dirasakan oleh Tuan Byun, lantas membuatnya menarik Baekhyun dalam pelukan erat.
"Berjanjilah...ayah harus pulang dengan utuh dan selamat!"
Tuan Byun terkekeh, namun tetap menganggukkan kepalanya. "Ya Baekhyun, ayah berjanji. Kau juga harus berjanji untuk tidak bertindak gegabah, dan tetap ikuti Chanyeol untuk keluar dari tempat ini. Mengerti?!"
Ah ya, Chanyeol.
Lagi-lagi Baekhyun melupakan keberadaan lelaki itu.
Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah Chanyeol menyaksikan dirinya yang berlari ke arah Jongin tadi?
Bahkan...Baekhyun sama sekali tidak mengkhawatirkan Chanyeol yang notabene telah menutupi dirinya dari reruntuhan puing.
Dari bahu sang ayah, Baekhyun pun melirik ke arah Chanyeol.
Dan Baekhyun pun tahu jawabannya,
Ketika Chanyeol bahkan enggan untuk bersitatap dengannya.
...
Berulang kali Chanyeol berdecak, dikala untuk kesekian kalinya jalan buntu yang ia dapatkan. Ketika sebelumnya ia mendobrak masuk ke dalam bersama para polisi, Chanyeol sudah menghafal dengan baik keseluruhan isi gedung ini, termasuk pula berbagai rute menuju jalan keluar.
Hanya saja beberapa saat lalu kondisi gedung tua ini masih dalam kondisi baik, jauh berbeda dengan keadaan saat ini. Dimana-mana reruntuhan berserakan menutupi jalan, membuat Chanyeol harus berulang kali memutar arah.
Jika ia tidak salah ingat, lantai yang sedang ia pijak saat ini adalah lantai tiga. Lantas, mengingat tidak ada lagi jalan yang tersisa untuk turun ke bawah, sepertinya jalan satu-satunya yang harus ia tempuh adalah terus naik sampai lantai teratas.
Jujur saja, Chanyeol cukup was-was akan hal tersebut.
Masih ada tiga lantai yang harus dilewati, dengan kondisi yang semakin melemah, tanpa tahu apa yang akan dihadapi di dalamnya kelak.
Siapa yang bisa memastikan para polisi telah menghabisi semua anak buah Kyungsoo?
Tidak satupun.
Bukan berarti Chanyeol menjadi pengecut hanya karena beberapa pria bersenjata yang akan ditemuinya. Oh, itu hanya hal kecil bagi seorang pembunuh pro seperti dirinya.
Hanya saja, ada seseorang di belakang sana,
Yang menjadi tanggung jawabnya, juga satu-satunya kelemahan terbesar bagi dirinya.
Tak akan ia biarkan, seseorang menyentuh seinchi saja tubuh si mungil kesayangannya.
Memastikan bahwa rute yang ia tempuh dalam kondisi aman, menjadi fokus utamanya sejak tadi.
Selain untuk melindungi Baekhyun, alasan lainnya yakni juga untuk mengalihkan dirinya, agar tidak menyempatkan untuk melihat apa yang terjadi di belakangnya.
Cukup sekali.
Hanya sekali Chanyeol memberanikan diri menoleh ke belakang, dan itu cukup banyak menambah perih pada hatinya.
Tak akan sanggup dirinya, bila terus menerus melihat lelaki yang ia cintai berjalan di belakangnya, dengan jemari yang bertaut dengan milik lelaki lain.
Andai Chanyeol tahu, bahwa Baekhyun dan Jongin pun turut merasakan ketegangan antara ketiganya.
Namun Jongin memilih untuk tetap egois, sementara Baekhyun tenggelam dalam dilemanya.
Baekhyun jelas tidak ingin melepaskan jemari jongin yang menggenggam erat jemarinya.
Tapi keinginan untuk mendekap tubuh Chanyeol pun, terus menyeruak dalam benaknya.
...
Menit demi menit telah berlalu, masih dengan keheningan yang menyelimuti ketiganya. Bisa dikatakan suatu keajaiban karena Chanyeol masih mampu berjalan hingga detik ini.
Dirinya yang baru saja bangkit dari koma, luka di pelipisnya akibat tertimpa puing, ditambah lagi darah yang terus mengalir dari telapak tangannya, tak membuat seorang Park Chanyeol runtuh begitu saja.
Baekhyun harus selamat.
Setidaknya hal itu satu-satunya penyemangatnya saat ini. Meski sorot matanya telah redup dan belah bibir yang mulai memutih.
"Chanyeol..." Sekejap mata, Chanyeol pun menoleh pada si mungil yang memanggilnya. "Uhm...bisakah kita berhenti sejenak?" Cicit Baekhyun. Melihat tatapan bertanya dari Chanyeol, ia pun menggigit bibir bawahnya ragu. "K-kondisi...kondisi k-k-kami sedang tidak baik...uhm, bisakah berhenti sebentar saja?"
Satu kali lagi, Chanyeol merasakan hujaman pada hatinya.
Namun sesakit apapun, Chanyeol tetap berupaya menutupinya, menunjukkan ekspresi datar pada keduanya. Ia beralih pada Jongin, meneliti keadaan lelaki itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Tidak terlalu buruk pikirnya.
"Kau juga ingin istirahat sejenak Jongin? Tak apa, katakan jika kau merasa kesakitan." Tanya Chanyeol.
Jongin dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak hyung, aku masih sanggup berjalan. Dan kurasa lebih baik kita tidak berhenti hyung, karena aku yakin Kyungsoo memiliki rencana lain pada gedung ini." Usul Jongin, yang langsung diangguki oleh Chanyeol.
"Aku pun sependapat denganmu. Kalau begitu Baekhyun-." Chanyeol kini beralih pada si mungil. "-maaf jika aku memaksa, tapi tolong bertahanlah sesaat lagi. Kau masih sanggup 'kan?"
Seberapa besar Baekhyun ingin menyanggahnya, namun hanya kata "Ya, aku baik-baik saja." yang keluar dari mulutnya.
Aku memang baik.
Kau yang tidak Chanyeol.
Baekhyun tersenyum getir.
Bagaimana bisa ia mengucapkan 'kami',
Ketika satu-satunya yang ia khawatirkan adalah kondisi Chanyeol seorang.
"Bagus." Singkat Chanyeol, sebelum kembali meneruskan langkahnya.
Tidak cukup lama semenjak mereka memulai langkah, Chanyeol tiba-tiba kembali berhenti. Membuat Jongin dan Baekhyun mengernyit melihatnya.
"Ada masalah hyung?" Tanya Jongin penasaran.
Chanyeol tak langsung menjawab, terlebih dahulu mengedarkan pandangannya ke berbagai sisi, memastikan tak ada sesuatu yang mengancam keselamatan mereka.
"Aku tidak tahu ada apa di lantai ini, sebaiknya kita harus lebih waspada." Perintah Chanyeol, kemudian melangkah mundur untuk menghampiri Jongin dan Baekhyun. "Jongin, bisakah kau memegang-AWAASSS!"
Dor! Dor! Dor!
"Akh!"
Chanyeol meringis, merasakan panasnya timah yang menembus paha kirinya. Melihat salah satu penembak membidik Baekhyun yang hendak berlari ke arahnya, Chanyeol berteriak. "BAEKHYUN AWASSS!"
Dor! Dor!
"Arrghh!"
Satu lagi timah panas merangsek ke dalam betis kiri Chanyeol.
"SIALAN! MATI KAU BRENGSEK!"
Dor! Dor! Dor!
Rasa sakit yang luar biasa serta amarah yang membumbung membuat Chanyeol menembakkan pelurunya tanpa henti, meski penembak tersebut telah terkapar tak bernyawa.
Merasa kesulitan menjangkau satu penembak lainnya, Chanyeol pun melempar pistol lain miliknya ke arah Jongin.
"Arah jam 1, dibelakangmu Jongin."
Dengan anggukan singkat, Jongin pun bergerak cepat.
Dor! Dor!
Tepat sasaran.
Jongin pun menghela nafas lega, kemudian bergegas menghampiri Chanyeol. Menggunakan ujung kausnya yang disobek, ia mengikatkannya pada luka di paha dan betis Chanyeol.
"Fuck." Jongin mengumpat, mendapati darah terus meresap di permukaan kain tersebut. Raut penuh kekhawatiran ditunjukkannya pada Chanyeol. "Ini tidak akan bertahan lama hyung, kita harus cepat-cepat mengeluarkanmu dari sini!"
Chanyeol mengangguk tanpa bersuara, sebab fokusnya kini lebih pada bagaimana cara ia menyamankan posisi duduknya, karena demi apapun, bergeser seinci saja kakinya serasa terbakar.
Beruntung baginya, pada percobaan pertama ia langsung berhasil menyandarkan punggunnya, meski erangan keras diteriakkan olehnya tak lama setelahnya.
"H-hyung!" Jongin refleks berteriak cemas, sementara Baekhyun lebih pada merengek pelan.
Merasa telah membuat yang lain khawatir, Chanyeol pun cepat-cepat memasang senyum palsu pada mereka. "Wow..wow..easy boys ! Aku tidak akan mati hanya karena dua peluru ini, okay?...yah mungkin setidaknya bukan sekarang." Chanyeol terkekeh, berusaha mencairkan ketegangan yang melanda.
Bukan tawa yang Chanyeol harapkan, melainkan pukulan pada bahu kanannya. "Itu benar-benar tidak lucu hyung!" Jongin mengucapkannya dengan serius, namun lagi-lagi Chanyeol menanggapinya dengan senyuman tipis.
"Come on Jongin! Bukankah lebih baik jika kau berhenti terlalu mencemaskanku, lalu memeriksa sesuatu di ujung sana yang jika aku tidak salah itu adalah HT milik polisi."
Chanyeol berdecak. Jongin dengan segala keras kepalanya, tak akan mudah ditaklukan.
" .Jongin!" Titah Chanyeol, tanpa nada bercanda untuk kali ini.
Dengan berat hati Jongin pun mulai bangkit, melangkah menuju ujung ruangan yang dimaksud oleh chanyeol.
Sementara Chanyeol memilih menutup matanya sejenak untuk merilekskan otot kakinya, sampai dirasakan tatapan intens dari sisi kirinya.
Itu adalah Baekhyun, dengan netra sabitnya yang berkaca-kaca.
"Oh, no..no! Please, don't cry okay? I'm fine...Totally fine..." Bujuk Chanyeol, yang justru membuat satu linangan air lolos membasahi pipi kanan si mungil.
"Liar..." Baekhyun mengelak, diiringi derai air mata yang kini membasahi kedua pipinya.
Sebesar apapun keinginan Chanyeol untuk mengusap air mata di wajah Baekhyun, nyatanya ia memilih untuk memendam, menarik kembali tangannya untuk menyangga tubuhnya agar dapat berdiri dengan tegak.
"Lihat? Aku bahkan masih bisa berdiri dengan kedua kakiku." Ucap Chanyeol ringan, sekuat mungkin menjaga suaranya tidak bergetar atas segala rasa perih yang ia rasakan.
Baekhyun sudah membuka mulutnya, ingin mengatakan keraguannya akan kondisi lelaki itu. Namun ia tetap membisu, alih-alih berdiri di depan Chanyeol, membiarkan air matanya yang menyuarakan perasaannya.
Sebagaimana pula begitu ajaibnya meluruhkan pertahanan diri Chanyeol, hingga lelaki itu tak lagi menahan diri untuk mendaratkan tangannya pada sisi wajah Baekhyun.
Pelan tapi pasti, dengan menggunakan ibu jarinya, sang dominan mengahapuskan sisa air mata di paras indah milik lelakinya.
"Aku benci...ketika akulah satu-satunya alasan dibalik jatuhnya air matamu..." Chanyeol berbisik, lembut namun menyayat.
"Kedua mata ini," Chanyeol menatap sepasang sabit itu dengan penuh kasih sayang. "Juga bibir mungilmu ini," Jemari Chanyeol sedikit ragu menyapu lembut lipatan cherry tersebut, dan diakhiri dengan sebuah kecupan hangat pada dahi Baekhyun.
Hanya sesaat saja, sebelum Chanyeol kembali menangkup paras indah itu dengan kedua tangannya. Memberanikan diri untuk mempersempit jarak antar keduanya.
"Jangan pernah meredup hanya karena seseorang sepertiku...Aku tidak pantas untuk itu Baekhyun..." Nadanya begitu lembut, pun sama halnya pada sorot matanya.
Lantas bagaimana Baekhyun mampu berucap?
Haruskah ia berkata bahwa ia baik-baik saja? Atau mengatakan bahwa ia telah mendengar semuanya dari sang ayah?
Darimana Baekhyun harus memulai?
Sebab bergerak saja ia tak mampu. Begitu terbuai akan kasih sayang mendalam dari sorot mata sang doninan, dan semakin diperburuk dengan helaan nafas aroma tembakau yang membelai lembut belah bibirnya.
Alhasil, membisu dengan air mata yang terus berlinang adalah satu-satunya yang bisa Baekhyun tunjukkan saat ini.
Namun Chanyeol mengambil dugaan lain.
Segera ia tarik kembali kedua tangannya, berikut juga tatapan matanya dari lelaki tersebut.
Baekhyun pasti tidak nyaman dengan segala sikapnya tadi.
Ya, pasti itu mengapa Baekhyun hanya diam dan terus menangis pikir Chanyeol.
Memangnya siapa dia? Hingga begitu berani menduga bahwa Baekhyun mungkin masih memendam rasa padanya.
Konyol sekali, Chanyeol membatin. Tentu saja Baekhyun sudah melangkah maju.
"Jongin! Cukup ambil HT nya dan tidak perlu memeriksa yang lain!" Chanyeol menyahut, dan menoleh sekilas pada Baekhyun. "Ada seseorang yang membutuhkanmu disini. Cepat kembali!" Lanjutnya.
Tidak sampai 5 menit untuk Jongin muncul di hadapan keduanya. Dengan raut cemas bercampur tanya, ia langsung memegangi lengan Chanyeol. "Ada apa hyung?! Lukamu bertambah parah?!"
Chanyeol hanya menggeleng singkat, sebelum mengisyaratkan pada Jongin untuk mengalihkan atensinya pada si mungil yang berada di sisinya.
Dengan kedua alis yang tertaut, Jongin menoleh pada sang kekasih dan terkejut mendapati paras lelaki tersebut penuh dengan air mata.
"Hey..hey..ada apa hmm? Mengapa kau menangis?" Tanya Jongin tanpa ada nada menuntut. Pelan-pelan ia bawa kedua tangannya untuk merengkuh Baekhyun dalam kehangatan.
Baekhyun lantas terisak, menjatuhkan kepalanya pada dada Jongin sembari meremat ujung pakaian lelaki terebut.
Karena meski Chanyeol alasan dibalik tangisnya, kehangatan yang diberikan oleh Jongin tak kan bisa ditolak oleh Baekhyun.
"Jongin..." Baekhyun merengek, ketika dirasanya Jongin ingin melepaskan pelukannya.
"Sshh...aku disini...aku disini oke? Aku bersamamu baby..." Jongin berbisik lembut, mengusap surai kekasihnya penuh kasih sayang.
Tiga kali..
Ah, entah sudah yang keberapa kali hati Chanyeol tersayat hari ini.
Bahkan luka di sekujur tubuhnya tak sebanding dengan luka yang bersarang dalam hatinya.
Perlahan ia mengambil langkah mundur, memilih untuk mengabaikan pasangan sejoli tersebut dan mulai mengutak atik HT yang diberikan oleh Jongin baru saja.
"Halo? Adakah seseorang disana?"
Hening. Gagal dalam percobaan pertama.
Kedua.
Pun Ketiga.
Tetap hanya suara kasak kusuk yang didengar oleh Chanyeol.
Percobaan terakhir pikirnya. Sekali lagi, jikapun masih tak ada jawaban maka terpaksa mereka akan melanjutkan ke lantai selanjutnya, yang tentunya akan lebih berbahaya.
"Halo...?"
Masih hening.
"Ayolah...kumohon siapapun disana!"
Masiih tak kunjung adanya jawaban, membuat emosi Chanyeol mulai bangkit.
"Please...kumohon...SIAPAPUN DISANA JAWAB AKU SIALAN!"
Brakk!
Tak kuasa menahan emosi, membuat Chanyeol melemparkan HT tersebut ke lantai. Ia remas kuat surai miliknya, melampiaskan segala campur aduk perasaan yang menggeluti batinnya.
Di belakangnya, Jongin dan Baekhyun hanya membisu melihat yang lebih tua. Keduanya saling berpandangan sejenak, sama-sama tidak tahu akan jalan keluar dari semua ini.
Namun.
Ditengah segala keputusasaan yang mendera,
Samar-samar suara seseorang didengar oleh ketiganya.
"Halo? Apa seseorang baru saja menghubungi? Halo?"
Itu berasal dari HT nya. Dan tidak perlu banyak berpikir bagi Chanyeol agar segera meraih kembali alat komunikasi tersebut.
"H-halo! Halo! Kau dengar suaraku?!" Ucapnya tak sabaran.
"Ya, kami mendengarmu. Dengan siapa kami berbicara?"
"Aku Chanyeol! Park Chanyeol! Yang tadi datang kemari bersama kalian! Kau ingat?!"
Sejenak tidak ada balasan dari seberang, membuat Chanyeol kembali was was.
"Baiklah Tuan Park, kami mengenalimu. Apakah ada sesuatu yang menimpa dirimu? Sebab kami mendengar beberapa ledakan sejak tadi."
"Aku membutuhkan pertolongan disini. Ada dua orang yang lain dan kami bertiga tidak dalam kondisi baik-baik saja." Terang Chanyeol.
"Dimana posisimu saat ini Tuan?"
"Lantai tiga!" Jawab Chanyeol cepat.
"Oh ya, baiklah. Begini Tuan, perlu kami infokan bahwa akses pada lantai 1 dan 2 sudah tertutup oleh reruntuhan puing akibat ledakan. Sedangkan pada lantai 4 dan 5 masih terdengar suara tembakan yang tak kunjung berhenti sampai saat ini. Jadi, bisakah Tuan mengikuti instruksi kami?"
Chanyeol mendengarkan dengan seksama sebelum menganggukkan kepalanya. "Ya, aku siap."
"Baik. Sekarang, apakah Tuan melihat sebuah pintu besi di ujung lorong sebelah kanan?"
Chanyeol segera menoleh ke kanan, dan menjawab. "Ya, aku melihatnya."
"Silahkan masuk ke dalam sana Tuan. Itu adalah ruang instalasi yang akan mengantarkan anda sampai ke balkon gedung. Tuan akan dua kali menaiki rute tangga, dan ingat untuk keluar dari pintu yang sebelah kiri setelahnya. Lalu, jika Tuan sudah sampai di balkon nanti segera hubungi kami kembali."
"Terima kasih, akan kucoba saat ini juga."
Chanyeol lantas menonaktifkan alat komunikasi tersebut, kemudian bergegas menghampiri Jongin dan Baekhyun yang nampaknya sudah mendengar apa yang dikatakan oleh polisi tadi.
Maka tanpa berlama-lama, ketiganya pun melangkah menuju tempat yang diarahkan oleh sang petugas.
Melewati ruang instalasi yang pengap dan gelap, kemudian berlanjut pada anakan tangga yang nyatanya cukup banyak untuk dipijaki.
Pada rute tangga pertama Chanyeol masih mampu melewati tanpa kendala sedikitpun. Namun ketika sampai di pertengahan rute tangga yang kedua, darah dalam jumlah banyak mulai mengaliri kakinya.
"Hyung kakimu!" Jongin memekik ngeri melihatnya.
"Tidak apa Jongin. Hanya bantu saja aku untuk berjalan oke?"
Yang lebih muda pun mengangguk, lantas membawa tangannya pada pinggang Chanyeol untuk membantunya berjalan.
Seiring perjalanan mereka pada anakan tangga yang terakhir, suara-suara tembakan kian terdengar oleh ketiganya. Mereka pun merenung sesaat, membayangkan betapa mengerikannya suasana di dalam sana.
Tiba-tiba bayangan sang ayah terlintas di benak Baekhyun. Membuat ia tak sadar meremat dada kirinya.
Masihkah ayahnya berada di sana? Apakah dia baik? Dan segala pertanyaan muncul dalam benaknya.
"Ayahmu tidak akan kalah begitu saja. Beliau adalah orang yang tangguh."
Suara Chanyeol nyatanya cukup membuat Baekhyun melonjak di tempatnya.
"Percayalah pada janjinya."
Singkat saja, setelahnya Chanyeol memilih melangkah melewati pintu di sisi kiri.
Baekhyun tidak lagi terkejut kali ini, alih-alih ia tersenyum simpul, sebelum melangkah mengikuti jejak Chanyeol.
Dan senyum itu juga menulari Chanyeol ketika ia melihat Baekhyun membuntuti di belakangnya.
...
Setelah melewati lorong menanjak yang dapat dikatakan cukup panjang, mereka pun sampai pada balkon gedung.
Chanyeol langsung saja menundukkan dirinya di lantai, dengan peluh yang membanjiri wajah pucatnya serta nafas terengah-engah.
Persetan dengan tangga dan tanjakan, karena kaki Chanyeol seakan sudah mati rasa. Betis dan pahanya yang membiru menjadi saksi dari betapa parahnya luka tersebut.
Menarik nafas sesaat, Chanyeol pun kembali menghidupkan HT nya. "Halo, apakah aku sudah tersambung kembali?"
"Ya Tuan, anda sudah sampai di balkon?"
"Sudah. Kalian akan menjemput kami di sini?"
"Mohon maaf sebelumnya Tuan, tapi dengan berat hati kami harus mengatakan bahwa seisi lantai 6 saat ini sedang dilalap api. Tak mungkin untuk dilewati."
Chanyeol mengusap wajahnya lelah. Sudah sejauh ini dan mereka sampai pada jalan buntu?
"Jadi, kami tidak bisa keluar dari gedung ini?"
"Tentu saja bisa Tuan. Apakah Tuan melihat pijakan besi yang menempel di tembok sebelah kanan?"
"Ya, aku melihatnya. Kami...harus menaiki pijakan tersebut?"
Oh tidak. Jangan tangga lagi pikirnya.
"Tepat sekali. Pijakan besi itu akan membawa Tuan sampai pada atap gedung dan selanjutnya kami akan menjemput Tuan menggunakan helikopter. Ada pertanyaan Tuan?"
"Tidak, terima kasih. Mungkin 5 atau 10 menit lagi kami akan tiba di atas." Ucap Chanyeol, kemudian menonaktifkan kembali HT tersebut.
Atensinya kini terfokus pada pijakan besi di sisi kanannya. Pijakan setinggi kurang lebih 25 meter itu harus ditempuhnya dengan kaki yang sudah mati rasa dan luka parah di kepalanya.
Kau bercanda? Ia bertaruh pada pijakan kesepuluh dapat dipastikan Chanyeol akan mendarat di lantai.
Sementara itu, Baekhyun dan Jongin sudah lebih dulu mendekati pijakan tersebut. Mereka mengamati dengan baik, cukup was was karena pijakan tersebut nampak berbahaya tanpa adanya pegangan dan besinya pun sudah terlihat tua.
Namun inilah jalan agar mereka cepat keluar dari tempat ini, dan mau tidak mau mereka harus melewati jalan ini.
"Jangan takut oke? Aku akan selalu ada di belakangmu, kau siap?" Ucap Jongin untuk memberikan keyakinan pada sang kekasih.
Baekhyun pun menarik satu nafas panjang, sebelum menganggukkan kepalanya. Membuat Jongin tersenyum puas dan menghadiahinya usapan lembut di surainya.
Meski masih sedikit takut, namun Baekhyun mulai mengambil pijakan demi pijakan dari besi tersebut. Pandangan matanya tetap lurus ke depan, tak berani untuk sekedar menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia sedikit melunak ketika didengarnya Jongin mulai mengikuti jejaknya di bawah sana.
Kira-kira sampai di pijakan kelima Jongin pun menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke belakang, tepatnya pada Chanyeol yang masih terduduk memandangi dirinya dan Baekhyun.
"Ayo hyung, tunggu apa lagi? Tidak apa, naik pelan-pelan saja jika kakimu sakit." Sahut Jongin, kemudian mengalihkan pandangannya ke Baekhyun ketika merasakan lelaki itu juga berhenti.
Merasa diperhatikan Baekhyun pun menoleh ke bawah, memberikan senyum tipis pada Jongin sebagai tanda bahwa ia baik-baik saja. Jongin pun lantas tersenyum mendapati si mungilnya itu dalam kondisi baik.
Ya, senyum keduanya tetap mengembang.
Sampai suara di belakang sana memasuki telinga mereka.
"Aku tetap disini."
Jantung Baekhyun berdetak keras, pun juga dengan Jongin. Waktu serasa berhenti berputar saat itu juga, membuat keduanya tenggelam dalam keterkejutan.
"Perhatikan langkah kalian baik-baik sampai nanti ketika petugas menjemput, oke?"
Dan ucapan Chanyeol itu seketika menyadarkan kembali Jongin dan Baekhyun. Memperburuk detakan jantung pada keduanya.
"Jangan turun Jongin, jangan satu langkahpun." Sahut Chanyeol ketika melihat lelaki tersebut menuruni pijakan. "Aku masih menyimpan beberapa peluru disini, dan aku tidak akan keberatan untuk menggunakannya jika kau masih membantahku Jongin." Ancamnya.
Jongin mengerang keras, lalu memandang Chanyeol dengan mata berapi-api. "Tembak saja aku hyung! Kau pikir dengan segala luka di tubuhmu aku mampu meninggalkanmu sendiri hah! Jangan kira aku tidak akan turun ke sana karena KITA bertiga harus naik bersama, atau tidak sama sekali!" Putusnya, kemudian mulai menuruni pijakan satu persatu.
Namun sampai pada pijakan ketiga.
Dor!
"H-hyung..." Suara Jongin bergetar, tak percaya bahwa Chanyeol benar-benar meletuskan pelurunya. Demi apapun bergeser seinci saja, maka peluru itu telah bersarang di kepalanya. Sesungguhnya ia tahu bahwa Chanyeol sengaja melesetkan pelurunya, namun tetap saja itu membuatnya terkejut.
"Satu peluru lagi, dan aku tidak akan main-main kali ini." Chanyeol menggertakan giginya, tak main-main akan ancamannya.
Dan Jongin pun tahu benar akan itu. Maka ia mulai memukuli besi-besi di depannya, meraung keras yang membuat siapapun memilu bila mendengarnya.
"Prioritaskan Baekhyun, Jongin," Chanyeol melunak, dan raungan Jongin berhenti. "Bukannya aku ingin menjadi pengecut dan menyerah begitu saja. Aku hanya tidak sanggup lagi menaiki besi itu dengan kondisi seperti ini, dan aku hanya memberatkan kalian jika aku memaksakan diri." Sejenak ia memandangi kaki kirinya, sedikit bergidik ngeri melihat darah mengalir dimana-mana.
"Aku tidak berniat untuk mati begitu saja Jongin. Setelah memastikan kalian telah sampai diatas, aku akan mencari cara lain untuk menyusul kalian, segera. Itu janjiku." Chanyeol mempertegas.
Senyumnya kian mengembang, mendapati kaki Jongin perlahan mulai merangkak kembali naik ke atas.
Lain halnya dengan Baekhyun, yang bergerak histeris melihat Jongin menuruti perkataan Chanyeol.
"Tidak...tidak...Jongin...jangan kemari!" Jongin tetap bersikeras naik, membuat Baekhyun semakin bergetar tak karuan. "Turun kembali Jongin! Kita..kita tidak bisa meninggalkan Chanyeol begitu saja! ASTAGA KUMOHON DENGARKAN AKU JONGIN!" Baekhyun memekik histeris, mencuri atensi Chanyeol di bawah sana.
Melihat Baekhyun masih mengkhawatirkan dirinya, sudah sangat cukup baginya.
"Dia akan menepati janjinya Baekhyun, naiklah kembali." Bujuk Jongin.
Namun Baekhyun masih tetap menggeleng tak setuju atas keputusannya. "Tidak! Tidak! Bagaimana kalau ia-"
"-Baekhyun! Bukan hanya kau yang ingin ia selamat tapi aku juga! Dan semakin kau berlama-lama disini, semakin lama pula peluang kita untuk menyelamatkan dirinya. Kumohon Baekhyun..."
Sesungguhnya Baekhyun masih ingin menentang ucapan lelaki itu. Namun melihat air mata yang mengalir di pipi Jongin, membuatnya berpikir ulang.
Maka dengan berat hati pun ia mulai memijak ke atas,
Menyempatkan diri untuk melihat Chanyeol,
Yang mungkin saja itu adalah kesempatan terakhir baginya.
...
Menit demi menit telah dilewati Chanyeol dalam kesendirian. Memastikan Jongin dan Baekhyun sudah tak terjangkau lagi oleh pandangannya, ia yakin bahwa keduanya kini telah berada dalam kondisi aman.
Sekuat tenaga ia bangkit dari duduknya, untuk kembali masuk ke dalam gedung karena suhu udara di luar dirasanya cukup membekukan diri. Tidak sanggup lagi berjalan lebih jauh, Chanyeol pun menjatuhkan diri pada anakan tangga.
Sembari mengatur nafas, Chanyeol mengeluarkan kembali HT nya.
"Halo, apakah aku masih tersambung?"
Sedikit terkejut, ketika tak sampai 1 menit panggilannya dijawab.
"Tuan Park? Teman anda berkata bahwa Tuan masih di dalam?"
Ah, pasti itu Jongin dan Baekhyun. Syukurlah mereka sudah selamat, batin Chanyeol.
"Ya, begitulah. Aku mengalami masalah pada kakiku. Jadi, adakah jalan keluar lain selain itu?"
Hening sesaat, Chanyeol hanya mendengar helaan nafas dari sambungan tersebut. Dan ia tahu bahwa ini bukanlah suatu pertanda baik.
"Mohon maaf sebesar-besarnya Tuan Park, tapi itulah jalan satu-satunya. Tidak ada jalan lain yang aman untuk dilewati. Tapi sebisa mungkin kami akan mengirim lebih banyak pasukan di lantai 5 agar bisa mengevakuasi dirimu secepatnya Tuan."
"Baiklah, terima kasih. Aku akan menunggu kalian datang."
"Tuan Park, jika sampai setengah jam petugas kami tidak datang menjemputmu...mohon jauhi lorong gedung dan cari gudang kecil untuk bersembunyi..."
Kening Chanyeol mengerut dalam, tak memahami maksud ucapan si polisi. "Kenapa aku harus melakukannya?" Tanyanya bingung.
Sekali lagi, helaan nafas yang didengar oleh Chanyeol.
Dan ia sudah siap mendengar apapun yang akan diucapkan sesaat lagi oleh petugas tersebut.
"...karena bom aktif terpasang pada setiap lantai di gedung ini..."
Tidak ada yang bisa Chanyeol lakukan selain menjatuhkan HT tersebut ke lantai.
Jadi..
Inikah akhir hidupnya?
Mati dalam kesendirian, tanpa ada seorang pun di sisinya.
Tanpa ada seseorang yang dicintai di sampingnya.
Tak apa, pikirnya.
Bukankah ini yang memang ia tunggu?
Saat dimana ia bisa bertemu dan berkumpul kembali bersama ayah dan ibunya. Tanpa ada rasa kesepian dan duka.
Juga tanpa Baekhyun.
Ah ya Baekhyun.
Chanyeol bersyukur karena ia masih sempat untuk bertemu Baekhyun di akhir hayatnya. Melihat paras indahnya yang tak tertandingi oleh siapapun. Melihat tangisnya yang masih ditujukan oleh dirinya, dan yang lebih penting...
Chanyeol bersyukur, Baekhyun hadir dalam hidupnya yang kelam.
Ketika ia merasa dunia tak adil baginya, ketika ia kesepian ditinggalkan oleh keluarganya, lelaki itu hadir...menghangatkan hatinya yang membeku.
Andai saja, ia tahu hari ini adalah hari terakhirnya ia menghirup nafas, maka tak akan sedetikpun Chanyeol sia siakan waktunya untuk mengalihkan pandangannya dari Baekhyun.
Ia ingin membingkai sosok Baekhyun dalam memorinya. Mulai dari ujung kaki hingga ujung kepalanya, tak ingin melewatkan setitik pun keindahannya.
Dan andai saja, Chanyeol masih diberi waktu, sebentar saja...
Ia ingin menyampaikan perasaannya yang belum sempat sekalipun dikatakan olehnya.
Tanpa bisa dihindari, air mata Chanyeol mulai mengaliri wajahnya. Membayangkan dirinya tidak berkesempatan lagi untuk bertemu dengan Baekhyun, sungguh menghancurkan hatinya.
"Baekhyun..."
Ia terisak hebat, karena jujur...
Tak akan sanggup ia meninggalkan Baekhyun. Tak akan pernah.
"B-baekhyun..."
Pecah lah tangisan Chanyeol, sebab ia tak lagi mampu membendung perasaang yang membuncah di hatinya. Ia pejamkan matanya, membiarkan air mata terus mengalir dari matanya, seiring dengan tubuhnya yang semakin bergetar hebat.
Di malam yang begitu dingin,
Chanyeol menumpahkan perasaan sakitnya dalam sebuah tangisan.
Untuk sesaat,
Hanya isak tangis Chanyeol yang terdengar menggema dalam ruangan.
Suara adu tembakan dari dalam lantai 5 sesungguhnya masih terdengar. Namun Chanyeol mengabaikan itu,
Sebagaimana pula ia mengabaikan sebuah tangan yang menangkup sisi wajahnya.
"Aku disini..."
Pemilik tangan itu bersuara lembut, membuat Chanyeol justru meraung-raung dalam tangisnya.
"Aku disini Chanyeol...Buka matamu..." Bisik seseorang itu lagi.
Chanyeol menggeleng keras sembari menutup kedua telinganya. "Tidak! Tidak! Aku pasti bermimpi! Ini semua tidak nyata!" Ia bersikeras akan pendapatnya.
Karena...tidak mungkin bukan Baekhyun ada di depannya?
Namun sapuan hangat pada belah bibirnya, mematahkan pendapat Chanyeol seketika.
"Can you feel that? This isn't your dream, just open your eyes and see me clearly.."
Meski dengan mata berkaca-kaca, sosok Baekhyun masih tergambar jelas dalam pandangannya.
Air mata lantas kembali menggenangi wajah Chanyeol saat ini.
Bukanlah bermakna duka, melainkan haru dan sukacita yang menjadi alasannya.
Sedikit bergetar, ia bawa kedua tangannya untuk menangkup wajah Baekhyun. "Kenapa kau kembali...Kenapa kau tidak pergi bersama Jongin..." Chanyeol terbata-bata, kesulitan berbicara di sela isak tangisnya "Why... You shouldn't be here.. I'm no one formmhh-"
Sekali lagi sapuan hangat membungkam belah bibirnya. Hanya sekejap saja, sebelum Baekhyun menarik bibirnya menjauh.
"Kau bisa saja memerintahkan Jongin untuk membawaku pergi. Kau juga bisa saja memaksakan diriku untuk meninggalkanmu...Tapi kau tidak bisa mengatur hatiku..."
Baekhyun berbisik, menatap dalam pada Chanyeol.
"...karena hatiku akan selalu memilihmu..."
.
.
.
"Siapkan tandu! Ada seseorang yang membutuhkan perawatan disini!" Salah seorang petugas polisi memekik, dan tidak butuh waktu lama tubuh Jongin telah diangkat ke atas ranjang.
Otot-ototnya serasa mulai melunak ketika suntikan obat sudah bekerja dalam tubuhnya. Baru saja matanya hendak terpejam, ketika seseorang yang tak asing menghampiri dirinya.
Itu adalah Tuan Byun, denga raut cemas dan pakaian yang bersimbah darah.
"Syukurlah kau selamat Jongin, dimana Baekhyun dan Chanyeol?" Tanyanya tanpa basa basi.
Mendengar nama Chanyeol disebut, membuat Jongin kembali menegang. "Beberapa petugas masih mengupayakan untuk mengevakuasi Chanyeol, kakinya terluka parah dan tidak bisa keluar bersama kami." Sesalnya.
Tuan Byun mengusap kasar wajahnya sembari menghela nafas panjang. "Aku akan menyusul Chanyeol segera setelah bertemu dengan putraku. Dimana dia?"
"Baekhyun ada di ranjang sebelah-"
Jongin tercekat.
Mendapati ranjang di sisinya masih tertata rapi seperti semula.
Tidak sulit baginya, untuk menebak dimana keberadaan Baekhyun saat ini.
Maka tanpa bisa dicegah, ia pun melesat meninggalkan ranjangnya.
"Jongin tunggu! Disana berbahaya! Kembalilah!" Tuan Byun terus memanggilnya, namun tentu saja Jongin terus berlari dan berlari...
Hingga sosoknya tak lagi masuk dalam penglihatan sang pria paruh baya.
"JONGIII-"
DHUAAAR DHUAAAR!
Dalam gelapnya malam,
Pancaran kobaran api yang melalap seisi gedung, menerangi langit kelabu.
.
.
.
.
.
.
.
Present
Sore itu,
Salju turun dengan derasnya menutupi langit Seoul.
Menyebabkan suhu udara semakin membeku, membuat siapapun memilih untuk menghangatkan diri di dalam rumah.
Namun tidak dengannya. Si pria paruh baya.
Hari ini adalah pertama kalinya ia kembali ke Seoul setelah sekian lamanya pergi,
Juga akan menjadi hari terakhir baginya untuk mengunjungi kota kelahirannya ini.
Jika bukan karena suatu alasan, dirinya tidak akan lagi menginjakkan kaki di tempat penuh kenagan akan suka dan duka di masa lampau.
Sesekali ia tersenyum, ketika dalam perjalanan ia melewati beberapa tempat yang pernah ia kunjungi, yang tentunya memiliki makna baginya. Sangat disayangkan, ia tidak memiliki banyak waktu untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut.
Lagipula, kini ia hanya sendiri...
Sesampainya di tempat tujuan, ia pun membuka sebuah payung terlebih dahulu sebelum turun dari mobilnya.
Suasana di sana begitu lengang dan sunyi, sebagaimana tempat perisrirahatan pada umumnya.
Di tengah-tengah perjalanannya, ada seseorang yang datang menyapanya.
"Anda Tuan Byun bukan? Astaga...! Tuan masih ingat pada saya?" Tanya lelaki tersebut penuh antusias.
"Tentu saja aku ingat Sersan Kim. Lama tak berjumpa denganmu." Jawab Tuan Byun ramah.
Lelaki itu pun tersenyum mendengar mantan atasannya itu masih mengingat dirinya.
"Kudengar anda memilih untuk tinggal di Australia setelah insiden itu. Lantas apa yang membawa anda kembali ke Seoul tuan?"
Tuan Byun tersenyum tipis,
Dengan sorot matanya yang memandangi gundukan tanah di belakang sana.
"Aku datang untuk mengunjungi makam putraku..."
.
.
.
.
Anyone here?
