Luhan memejamkan matanya lembut. Menikmati angin yang menerpa wajahnya. Tubuhnya terasa nyaman seakan ingin terbang, walau nyatanya kaki masih memijak tanah.Tak pernah selama ini ia begitu menyukai angin seperti ini. Ini bukan angin yang membuatnya dingin, tapi angin yang membalut dirinya dengan kelembutan hingga membuat ia nyaman. Seperti seseorang sedang memeluk tubuhnya dengan kuat.Entah mengapa sesuatu yang hangat dan kenyal menyapa bibirnya. Begitu lembut hingga Luhan terlena.
"Tuhan memilihmu untukku, Omegaku!"
tiiit...tiiit.tiit...tiiiit...
Luhan membuka matanya begitu mendengar suara alarm dari ponselnya. Jantungnya berdebar entah kenapa. Bukan debaran yang menyesakan! Namun debaran cepat yang malah membuatnya nyaman.
Namja cantik itu menegakan tubuh mungilnya, duduk menyandar pada kepala ranjang. Kepalanya terasa nyaman, bukan seperti pagi-pagi biasanya yang ia akan mengalami sakit kepala setelah bangun tidur. Luhan tersenyum sambil menghirup udara panjang, menyadari bahwa semalam adalah tidur terbaiknya.
Luhan segera bangkit dari tempat tidurnya, lalu bersiap-siap untuk pergi ke sekolah seperti biasanya.
~Hurt~
"Selamat pagi, Oemma!" ceria Luhan yang langsung menubruk ibunya dari belakang, memeluk pinggang namja cantik yang sedang berhadapan dengan kompor itu.
"Kau mengejutkan oemma, Luhanie!" gerutu Jaejoong. Dicubitnya sayang pipi Luhan yang menempel di bahunya, membuat Luhan terkekeh dan melepas pelukannya.
"Bawa ini kemeja! Dan lekas sarapan!" titah Jaejoong.
Luhan mengangguk dan mengangkat dua piring Omurice panas yang kelihatan lezat dari atas pantri dapur.
"Luhanie!" panggil Jaejoong tiba-tiba.
Luhan menoleh sebagai jawaban dari meja makan, dan terkejut ketika ibunya berjalan cepat menghampirinya dan menarik pergelangan tangannya.
'Astaga'
"Sejak kapan kau mendapatkan ini, Kim Luhan?" tanya Jaejoong tegas. Matanya mengeras, menyadari tanda samar dipunggung telapak tangan kanan anaknya. Tanda berwarna kemerahan, seperti bilur samar. Luhan yang baru menyadari hal itu, segera menggelengkan kepalanya.
"Ini..ini adalah.."
Jaejoong tergagap, tak mampu melanjutkan perkataannya. Hatinya seketika menjadi pilu, membuat ia langsung menarik Luhan kepelukannya.
"Aku... kenapa Oemma?" lirih Luhan dalam pelukannya. Air matanya jatuh mengalir begitu saja, menyadari bahwa takdir tidak akan dapat dihindari. Walaupun ia dan anaknya sembunyi di lubang tikus sekalipun.
"Berjanji pada Oemma nak! Apapun yang kau rasakan, yang kau alami,... Luhan harus memberi tahu semuanya pada Oemma!" ujar Luhan pelan.
Luhan menjauhkan tubuhnya perlahan, menatap air mata Jaejoong yang jatuh untuknya.
"Aku akan baik-baik saja, Oemma!" ujat Luhan dengan nada ceria dan senyum di wajahnya. Namun sepertinya itu tidaklah cukup untuk menghapus kegundahan sang ibu. Namun Jaejoong menggelengkan kepalanya.
"Ini adalah... pertanda takdir kita. Kau akan segera bertemu dengan mate mu, Luhanie!" lirih namja cantik itu. Di tatapnya Luhan dengan pandangan mata sedih. Ia menyadari bahwa takdir Luhan tak bisa di tentang.
"Mate?"
Mata luhan membulat tak percaya. Jaejoong mengangguk pelan.
"Jika tanda ini sudah terlihat samar, berarti alpha itu sudah ada di dekatmu! Dia akan mengenalimu disaat pertemua pertama kalian. Dan akan semakin jelas tanda ini ketika heat pertama mu." jelas Jaejoong sedih.
~hurt~
Luhan menghela nafas sambil memandang nada samar di punggung telapak tangan kanannya. Tanda yang baru ia dapatkan pagi ini dan hal itu begitu mempengaruhi mood Luhan hari ini.
Siang ini Luhan lebih memilih berdiam diri di perpustakaan, menenggelamkan dirinya di antara rak-rak buku yang berjejer rapi. Ada sebuah buku di depannya yang terbuka, namun tak ia baca. Pikirannya masih melalang buana entah kemana.
"Permisi..! Apa kau sedang membaca buku itu?" sapa seseorang yang sukses menghentikan lamunan Luhan. Namja cantik itu menoleh pada seorang namja mungil yang tengah memandangnya lekat.
"Aku sudah mencari kopian buku yang sama dengan yang kau baca sedari tadi. Tapi sepertinya buku itu hanya satu-satunya. Bolehkah ku pinjam sebentar? Ada yang mau ku catat dari buku itu." mohon namja mungil itu.
Luhan yang terperangah sebentar, langsung tersadar lalu mengangguk pelan. Namja mungil itu tersenyum riang dan mendudukan diri disamping Luhan.
Buku yang tadi dibacanya sudah beralih ketangan namja mungil itu yang tengah sibuk mencatat sesuatu dari dalam buku itu. Luhan sedikit terkejut, mendapatu ada seseorang di sekolah ini yang mau menegurnya seperti apa yang di lakukan namja mungil ini.
"Ini terima kasih! Tugasku sudah selesai." ujar namja itu tersenyum senang pada Luhan setelah menyelesaikan urusannya. Luhan menerima buku itu dan keduanya terkejut melihat tanda di tangan lawan masing-masing.
"Apakah kau, Omega?" tanya namja itu antusias. Luhan tak perna ditanyai begitu semangat oleh lawan bicaranya, kecuali sang ibu. Lama baru ia mengangguk.
"Astaga! Aku senang sekali! Hai..! Aku Byun Baekhyun! Dan kau?" antusias namja itu.
"Aa..aku Luhan. Kim... Luhan."
"Aku tidak menyangka akan bertemu dengan sesama Omega. Kau tau kan kalau disini dipenuhi para beta? Bahkan jumlah alpha bisa dihitung dengan jari." jelas Baekhyun bersemangat. Luhan tersenyum gugup, menyadari itu membuat Baekhyun sedikit canggung.
"Maafkan aku! Kau pasti kaget! Tapi aku benar-benar senang bertemu sesama omega, sejak Chanie membawaku kesini." ujar Baekhyun pelan. Luhan buru-buru mengatasi rasa gugup nya. Ia baru bertemu seseorang yang tidak menatap jijik padanya, dan ia harus mempertahankan orang tersebut!
"Maafkan aku, Baekhyun sii! Aku hanya terkejut ada orang lain yang menyapaku." jelas Luhan tiba-tiba.
"Benarkah?" ujar Baekhyun menatap Luhan. Luhan mengangguk lemah.
"Hm... tak ada yang mau berteman dengan seorang omega. Kau tahukan?" jawab Luhan lirih.
Baekhyun tersenyum lembut pada Luhan. Membuat matanya membentuk lekukan bulan sabit dengan indahnya.
"Kalau begitu mulai sekarang kita berteman! Aku sangat senang bertemu denganmu! Dan Chanie, tentu saja!" putus Baekhyun ceria. Luhan mengangguk senang.
"Oh ya... siapa itu Chanie? Dari tadi kau menyebut namanya terus." tanya Luhan.
"Chanie itu orang yang membawaku keluar dari panti asuhan. Chanie adalah pemilik tanda ini." jawab Baekhyun pelan menyadari pengawas perpustakaan melirik pada mereka.
Luhan melihat tanda merah membentuk gambar seekor burung di punggung telapak tangan kanan Baekhyun. Baekhyun tersenyum lembut sambil mengelus sayang tanda itu.
"Maksud mu, Chanie itu mate mu?"
Baekhyun mengangguk antusias.
"Ya..! Tanda burung Phoenix ini adalah tanda Chanie." jawab Baekhyun. Dan Luhan baru menyadari kalung yang melingkar di leher omega imut itu. Itu adalah kalung penanda, bahwa Baekhyun sudah dimiliki seseorang.
"Ceritakan padaku tentang tanda di tanganmu, Lu!" pinta Baekhyun bersemangat. Luhan terdiam sejenak memandang tanda miliknya sendiri yang belum terlihat begitu jelas.
"Entahlah! Aku sangat takut." lirih Luhan. Baekhyun menatapnya lekat.
"Kenapa? Bukankah itu tandanya kau semakin dekat dengan mate mu?" tanya Baekhyun. Luhan tersenyum lirih.
"Ku doa kan kau bertemu cepat dengan mate mu dan ku doa kan semoga mate mu adalah seorang alpha tampan yang baik hati!" ujar Baekhyun yang membuat senyum Luhan melebar, hatinya menghangat mendapatkan teman baru seperti baekhyun.
~hurt~
Tak biasanya Luhan tersenyum setiap ingin memasuki kelas. Namja mungil itu tersenyum terus sejak berpisah di perpustakaan dengan Baekhyun. Luhan senang dengan fakta bahwa ia tidak sendiri disekolah ini. Ada baekhyun yamg ceria yang juga merupakan seorang omega seperti dirinya.
"Selesai bersenang-senang, oeh?" ujar seseorang yang membuat Luhan terkejut hingga reflek tubuhnya berhenti melangkah.
Oh Sehun entah sejak kapan sudah bersandar didinding di samping toilet pria yang luhan lewati.
Jantung luhan berdetak kuat, sungguh ia benci oh sehun dan semua kekuatan dalam dirinya yang membuat luhan tidak bisa berkutik. Baru juga sejenak ia merasa senang karena mendapatkan teman, namun sekarang ia harus menghadapi satu kenyataan tentang sehun yang membencinya.
"Ikut aku!" titah sehun seraya menarik tangan luhan kasar dan membawa omega itu masuk ke dalam salah satu bilik kamar mandi.
"Lepaskan aku! Apa mau mu Oh Sehun?" bentak Luhan muak. Sehun menyeringai seram, namun sialnya malah membuat ia berkali lipat lebih tampan.
"Senang mendapatkan teman sesama sampah, oeh?" sinis namja itu tajam. Luhan tersudut dengan tubuh sehun yang memepet dirinya ke dinding toilet. Dan luhan sama sekali tidak nyaman dengan posisi mereka.
"Apa peduli mu?" lirih Luhan geram. Sehun terkekeh sinis. Kaki nya menyusup di antara kaki Luhan, membuat degup jantung si mungil terdengar sampai ke telinganya.
"Aku memang tak peduli! Tapi melihat dua sampah bersama entah kenapa tidak sedap dipandang saja. Aku ingin menghancurkan kalian berdua, jadinya." jawab sehun santai namun terdengar kejam.
"Jangan sedikitpun kau mejahati temanku! Dia tidak ada hubungannya denganmu!" ujar Luhan tegas. Namun lagi-lagi sehun menyeringai.
"Benarkah? Siapa kau berani memerintah ku?" sinis Sehun. Membuat Luhan refleks menjatuhkan pandangannya dari mata tajam sehun. Debaran jantungnya sama sekali tidak kalem.
"Kau tau? Aroma tubuhnya cukup manis. Aku bahkan bisa menciumnya dari sini, walau ku tau kalau tubuh sampah nya telah di klaim orang lain. Tapi bermain sedikit dengannya seprtinya tidak masalah." kata sehun dengan nada rendah menyebalkan. Luhan terbelalak.
"Apa maksud mu? Jangan sentuh Baekhyun! Dia itu teman ku!" ujar Luhan berusaha terdengar tegas, namun yang ada suaranya bergetar.
"Oh ya? Apa hak mu untuk mengaturku, Kim Luhan?" Sehun makin menyudutkan namja mungil itu, dan ia bisa melihat mata Luhan yang tadinya sedikit kuat sekarang melemah kembali.
Luhan membawa dagu luhan menghadap padanya, dan saat itu salah satu dari keduanya tercekat.
"Tidak ada yang boleh berteman denganmu didunia ini! Tak ada yang pantas, kau tahu? Kau hanya sampah yang sampai mati nanti akan hidup sendirian, seperti nasib ibu mu yang juga sampah!" ujar Sehun tajam.
Plak..!
Tangan Luhan bergetar dan panas. Sementara Sehun mundur selangkah mengusap pipi kanan nya yang baru saja mendapat tamparan. Luhan kembali menatap tajam padanya, bahkan lebih benci dari pada tadi. Sehun terkekeh seakan tamparan Luhan tidak berarti baginya.
"Jangan sekali-kali kau menghina ibu ku!" geram Luhan. Sehun hanya diam menyeringai padanya, namun Luhan meneguhkan hatinya kali ini! Ia tidak boleh diam saja saat ibu nya dihina.
"Kau bahkan tidak tahu siapa aku dan ibu ku! Kami memang sampah dan banyak orang mengutuk kami sendirian sampai mati. Tapi setidaknya kami tidak seperti kalian! Setidaknya aku masih memiliki kewarasan dan kasih sayang dibandingkan kau yang selalu memandang remeh orang lain!" bentak Luhan muak.
Sehun terdiam mendengar pernyataan itu, bahkan ia hanya diam membiarkan Luhan mendorong tubuhnya kasar lalu keluar dari bilik toilet, meninggalkan Sehun sendiri.
BRAK..!
Pintu itu langsung patah seketika.
Sial...!
~hurt~
Seminggu kemudian sejak Luhan berani menampar Oh Sehun. Luhan kira ia akan kembali di kerjai habis-habisan oleh si mata tajam itu. Mengingat Sehun tidak pernah berbelas kasihan padanya. Namun nyatanya selama seminggu ini ia tak lagi mendapati wajah menyebalkan yang selalu menyeringai padanya.
Hidup Luhan menjadi lebih menyenangkan jika tidak ada sehun didalamnya. Walau fakta tentang teman di kelasnya yang selalu melirik tajamnya, setidaknya tak ada di antara mereka yang suka menendang bangku dan meja nya, atau menarik rambutnya dengan kasar.
Pertemanannya dengan Baekhyun juga mengalami kemajuan. Baekhyun yang ceria membawa hal positif bagi Luhan. Bahkan namja mungil itu sudah pernah sekali memperkenalkan sang mate pada Luhan. Dan saat itu bersyukur bahwa nasib Baekhyun sepertinya sangat beruntung. Alpha yang bernama Park Chanyeol itu terlihat begitu mencintai Baekhyun, hingga mau saja datang ke taman siang itu walau dia sedang sibuk di ruangan khusus Kepala Sekolah. Oh... jangan terkejut! Park Chanyeol adalah kepala sekolah serta Direktur Yayasan Ligenty High School tempat kedua omega itu bersekolah.
"Lu...! Berarti kau belum mendapatkan heat pertamamu, benarkan?" tebak Baekhyun saat keduanya sedang menghabiskan makan siang yang dibuatkan Jaejoong untuk anaknya dan juga Baekhyun, begitu mendengar Luhan mempunyai teman disekolah.
Luhan hampir tersedak susu kotak yang diminumnya. Astaga! Kenapa temannya membicarakan saakan sedang membicarakan pertandingan basket saja! Wajah Luhan merona jadinya.
"Aaiiii... jangan malu begitu Lu! Itu normal bagi setiap omega!" ujar Baekhyun santai. Luhan tak sadar mempoutkan bibirnya.
"Tapi tak usah di katakan dengan frontal juga, Baekie!" rutuk Luhan. Baekhyun terkekeh lucu.Diraihnya punnggung telapak tangan kanan Luhan, mengelusnya lembut.
"Ini akan semakin jelas. Dan saat heat tiba, tanda ini akan terukir detail dan permanen ditangan kita." ujar Baekhyun.
"Apa kau bisa melihat tanda ini seperti apa?" tanya Luhan lirih.
Baekhyun mengernyitkan keningnya, membuat omega itu makin menggemaskan.
"Entahlah...! Bentuknya abstrak sekali! Banyak alpha yang memiliki tanda abstrak seperti ini, Lu. Tanda punya Chanie saja tidak terlalu jelas sewaktu pertama kali muncul." jawab Baekhyun mengelus tandanya dengan sayang.
Luhan tersenyum kecil melihat Baekhyun yang terlihat begitu mencintai sang alpha. Memang jarang ada pasangan alpha omega yanv berhasil seperti Baekhyun. Kebayakan alpha hanya akan menjadikan omega sebagai pelampiasan nafsu semata, setelah bosan sang omega ditinggalkan. Dan itu lah yang terjadi pada nasib ibunya. Memikirkan itu Luhan menjadi sedih dan takut. Takdir ini sangat kejam namun sama sekali tidak bisa dihindari.
"Ah...Chanie sepertinya memanggilku! Aku harus pergi sekarang! Kalau tidak akan 'berbahaya' bagiku, Lu!" seru Baekhyun heboh sambil membereskan kotak bekal kosong yang telah mereka habis.
"Kalau begitu segera temui dia Baek! Biar aku yang membereskan. Aku tak mau kau kesulitan berjalan lagi seperti dua hari yang lalu karena tidak mengindahkan panggilannya." ujar Luhan jahil yang membuat Baekhyum merona merah.
Namja mungil itu segera pergi meninggalkan Luhan yang masih dudul ditaman. Sunyi kembali terasa, dan hembusan angin lembut membuatnga nyaman.
Dipandangnya tanda pada pergelangan tangannya. Mengusap lembut sambil memikirkan, akan seperti apa alphanya nanti. Akankan hubungannya akan seindah hubungan Baekhyun dan Direktur Sekolah mereka? Atau tragis seperti kisah ibunya?
Luhan menggeleng cepat, menghalau pikiran-pikiran buruknya. Namja cantik itu segera membereskan kotak bekalnya dan meninggalkan tempat itu. Tanpa menyadari sepasang mata tajam yang memperhatikannya diam-diam dari balik keheningan.
TbcAnnyeeoong...
rin update dua ff hari ini...
moga readers suka ya, walau rin pesimis...hiks hiks..
yang jelas rin menulis karena hobi dan rin mencintai hunhan...!! (abaikan Lulu yang sekarang baren otong! Anggap itu cuma gimmick buat drama aja!!!)
Makasih ya buar readers yang udah review, follow dan nge fav ff abal2 ini...
rin ngucapkan terimakasih, rin jadi makin semangat nulis jadinya _
Komen dan saran serta semangat readers sangat berarti untuk rin.
mmmummummuaah...
