"Mau sampai kapan kau seperti ini, Oh Sehun?" tegur seorang namja tampan bertubuh tinggi yang sedang berdiri didepan Sehun. Sehun yang sedang terbaring di sofa dengan sebelah lengan menutup matanya, hanya diam. Sudah seminggu ia mengunci diri di apartmen miliknya tanpa mau melakukan apa pun. Botol-botol alkohol kosong tersebar di atas meja.
"Bangun sekarang dan siap-siap ke sekolah! Aku tidak ada waktu untuk ke sekolah mu hanya untuk melayani omelan para guru soal kau yang membolos seminggu ini!" perintah namja tampan itu lagi.
Sehun menghela nafas panjang. Ia sudah menebak kalau Yoochun, asisten Jung Yunho, pamannya itu akan meluangkan waktu mengunjunginya hanya untuk memberikan omelan. Sudah lebih seminggu ini ia membolos. Mungkin saja sekolah sudah menelpon Yunho yang merupakan satu-satunya wali Sehun, bahwa ia sudah lama sekali membolos.
"Paman..." ujar Sehun lirih. Namja itu bangkit pelan dan duduk menyandar pada sofa. Terlihat sedikit lingkar hitam samar pada mata tajamnya.
"Apa seperti ini rasanya... saat ingin menggenggam sesuatu yang memang milik kita, namun kita di haramkan untuk memilikinya.." ujar Sehun menerawang, memandang kosong langit-langit putih apartmentnya.
Yoochun menatap datar keponakan sahabatnnya. Ia masih betah berdiri menjulang di hadapan sehun, tanpa niat untuk duduk. Lagi pula hampir seluruh bagian sofa kotor akan sampah yang entah datang dari mana.
"Kau sudah mengalami imprint?" tebak Yoochun langsung. Sehun tidak menjawab namun dari helaan nafas panjang remaja itu sudah menjawab pertanyaannya.
Yoochun akhirnya tahu apa sumber permasalahannya. Mau tak mau orang kepercayaan Jung Yunho itu duduk disebelah Sehun.
"Siapa? Apa dia cantik?" tanya Yoochun jahil, walau sebenarnya ia hanya ingin membuat suasana lebih rileks. Sehun menatap datar pamannya, merasa guyonan namja berjidat lebar itu sama sekali tidak lucu.
Merasa suasana kikuk menyergap, Yoochun kembali melanjutkan pembicaraannya.
"Aku seorang beta. Jadi aku sama sekali tidak tahu bagaimana rasanya mengalami imprint. Tapi sebagai sahabat lama Jung Yunho, sepertinya sedikit banyaknya aku tahu. Karena pamanmu juga menceritakan padaku saat ia mengalami imprint." jelas Yoochun.
"Jangan sebut namanya! Pengecut itu bahkan meninggalkan mate nya hanya untuk menuruti perintah para tetua." sinis Sehun.
"Eeeeiii... Tidak selalu apa yang kau lihat dan dengar adalah hal yang sebenarnya! Jadi jangan menghujat pamanmu seperti itu! Ia satu-satunya wali mu asal kau tahu, Oh Sehun!" ingat Yoochun. Sehun hanya mendengus menanggapinya.
"Kau beruntung, setidaknya kau hanya perlu menghadapi tekanan para tetua, sedangkan pamanmu dulu mendapatkan tekanan dari segala pihak, bahkan mendiang kakekmu sendiri. Salah mengambil keputusan, nyawa sang mate taruhannya. Kau tidak akan tahu bagaimana kuatnya diskriminasi terhadap omega saat itu. Syukurlah sekarang masyarakat tak terlalu menekan mereka lagi." kenang Yoochun. Namja itu ikut bersandar di sofa seperti sehun.
"Saranku adalah ikuti kata hatimu. Jika kau memang sungguh-sungguh maka perjuangkan lah. Tuhan tidak akan mengikat kalian jika hubungan ini tidak suci." ujar Yoochun ringan namun entah kenapa hal itu seperti merasuk kepikiran remaja itu.
~hurt~
Disinilah sehun berakhir, taman belakang sekolahnya. Niatnya ingin kembali masuk, namun ia belum siap menghadapi seseorang, apalagi semenjak insiden penamparan itu. Belum lagi ia tak bisa yakin dapat mengendalikan diri atas aroma tubuh sang mate yang setelah tak bertemu seminggu malah makin memikat hati dan pikirannya.
flashback
Oh Sehun merutuki tatapan para gadis sejak ia menjajakan kakinya di sekolah ini. Kenapa mereka menatapnya seperti ia adalah pangeran kerajaan yang baru pertama kali keluar dari istana? Sungguh ia muak! Ia sebenarnya tak ingin mengenyam pendidikan di sekolah formal. Hanya saja, Jung Yunho, paman sekaligus wali satu-satunya yang ia punya, sudah mendaftarkan namanya di salah satu sekolah elit di negara ini.
Ia muak dengan keseluruhan hidupnya. Satu-satunya yang Sehun inginkan adalah menjadi seorang Dancer dan memiliki kelompok sendiri, lalu berkeliling dunia mengadakan pertunjukan.
Namun harapan tak sesuai dengan kenyataan. Status alpha yang melekat pada dirinya membuat nasib Sehun sejak lahir sudah di gariskan para tetua. Dan hal itu sangat dibencinya.Kalau bisa ia ingin mengganti statusnya menjadi beta, yang memiliki kebebasan hendak menjadi apa tanpa perlu menanggung beban karena kasta atas yang jatang dimiliki banyak orang.Mengingat hal itu membuat mood Sehun buruk. Di belokannya langkah kakinya, bukan ke arah kelasnya yang sudah ditentukan. Entah kemana ia melangkah sekarang, yang jelas ia belum ingin masuk kelas. Lagi pula kegiatan belajar mengajar juga belum dimulai.
"Kyaa hahahaha...!"
suara tawa sekelompok gadis menghentikan langkah sehun. Tepat tak jauh dihadapannya sekolompok gadis sedang mengelilingi seseorang sambil tertawa.
"Harusnya kau tidak mengikuti kami masuk ke sekolah ini, Kim Luhan!"
"Kau kira tanpa otak pintar mu itu kau bisa masuk kesekolah ini!"
"Itu pasti karena namja aneh yang ia panggil ibu! Aku akan mengadu pada orangtua ku tentang sekolah ini yang menerima seorang omega seperti mu!"
Sehun yang mendengar perkataan gadis itu entah kenapa merasa kesal. Kasar sekali perkataan mereka. Bahkan menganggap orang lain seperti binatang. Persetan dengan kasta sialan itu! Semua orang sama menurut Sehun.Salah satu dari mereka dengan kasar merenggut kerah baju belakang namja itu hingga namja itu kembali tersungkur lebih keras ke tanah. Sehun refleks hendak melangkah. Namun sesuatu membuatnya tertegun di tempat.
Deg....
Mata itu sekarang secara kebetulan menatap padanya. Mata bulat bening dengan pupil berwarna coklat muda, air mata yang mengalir di pipinya tidak mengurangi manis namja itu. Sehun merasa waktunya berhenti saat itu juga, gravitasi yanh semula tak ia rasa sekarang marah mengarahkan pandangannya pada si pemilik mata bulat rusa itu.
Detak jantungnya keras, namun bukannya menyakitkan. Sehun merasa sangat nyaman dan sampai akhir hidupnya pun rasanya ia sanggup bertahan jika pemilik mata itu selalu berada disisinya. Sehun ibarat bulan yang yang terjerat gaya gravitasi bumi dan tidak akan pernah bisa lepas.
Sehun begitu terpaku hingga tak sadar kalau kumpulan gadis itu sudah pergi meninggalkan si namja cantik yang sedang meringia memegangi lengannya. Kesadarannya baru kembali saat namja mungil itu bangkit perlahan dan melangkah pelan. Entah inisiatif dari mana, Sehun melanjutkan langkahnya dan begitu dekat dengan si mungil membuat ia merenggut lengan namja cantik itu. Si cantik itu menatap Sehun sendu.
"Ada apa?"
Astagah!Bahkan suaranya merupakan bunyian paling merdu yang pernah sehun dengar!Sehun tersentak seketika. Apakah ini yang namanya imprint?Namja cantik itu tiba-tiba melepaskan cengkraman sehun dengan kasar. Hal membuat Sehun terkejut karena tak pernah sekali pun orang lain berbuat kasar padanya. Semua orang akan menundukan kepalanya di hadapan Sehun. Dan itu mutlak!
"Kau mau ikut-ikutan seperti mereka? Apa kau juga ingin menghinaku?" bentak namja itu kasar. Sebenarnya Sehun tahu kalau ini mungkin ekspresi lelahnya, tapi entah kenapa hal itu membuat Sehun marah. Tak boleh satu orang pun di dunia ini mengeraskan suara padanya!Sehun tersenyum sinis.
"Kenapa? Kau tertekan karena para gadis bodoh tadi? Kalau begitu kau memang seperti apa yang mereka katakan!" ujar tajam Sehun. Sebagian dari hatinya merutuki kalimat tajam yang keluar dari mulut sialannya.
"Kau atau siapapun tidak berhak menilai siapa aku!" tegas si mungil. Wajahnya mengeras dan memerah. Mungkinkah ia marah? pikir Sehun.
"Benarkah? Apa hak omega seperti mu memangnya? Kaum mu di sisihkan, asal kau tahu! Apa yang cocok itu? Sampah mungkin!" sinis Sehun tak terkendali.
Sehun kira Si mungil akan marah dan berteriak padanya. Namun yang ia dapat kan bukan itu.
"Ya... aku dan kaum ku memang sampah! Jadi biarkan aku pergi sekarang! Kau tentunya tidak ingin terlihat sedang bersama sampah sekarang oleh orang lain bukan?" ujar si mungil lelah. Ia menundukan kepala, pasrah dengan apa yang dikatakan semua orang, termasuk namja asing yang tiba-tiba muncul di hadapannya ini.
Sehun merasakan tubuhnya memanas, emosi mempengaruhinya. Tak pernah ia berhadapan dengan orang seperti ini sebelumnya. Kembali di tariknya dengan kasar pergelangan tangan si mungil seraya menyeringai.
"Baiklah! Kau memang sampah, Kim Luhan! Jadi jangan salahkan aku jika aku memperlakukanmu seperti sampah karena kau yang mengatakannya!" ujat Sehun tajam pada Luhan yang sekarang menatap Sehun terperangah.
End Flasback
Sehun menghela nafas mengingat pertemuan pertamanya dengan Luhan, Omeganya. Sungguh pertemuan itu lah yg membuat semua makin hari makin memburuk. Sehun benci dengan kenyataan bahwa Luhan adalah omeganya. Itu artinya suatu hari ia akan meninggalkan Luhan! Luhan haram untuknya, maka dari itu sebisa mungkin Sehun harus menjaga jarak dari Luhan. Namun ikatan ini tak bisa di pungkiri.
Tanda miliknya sudah mulai terlihat di punggung tangan kanan si cantik itu. Dan akan semakin jelas saat heat Luhan tiba. Apa yang harus sehun lakukan? Itu masih satu hal yang belum bisa ia jawab.
"Sial... aromanya makin wangi!" rutuk Sehun sambil menendang kerikil dengan kesal. Ia ingin segera pergi, namun langkah kakinya malah membawanya pada sang omega. Dan hal itu sama sekali di luar kuasanya.
Sehun berakhir berada dibalik salah satu pohon besar yang menyembunyikan keberadaannya dari dua orang omega manis yang sedang bercengkrama. Sesekali terdengar gelak tawa dan canda dari keduanya, dan suara salah satunya membuat jantung seorang Oh Sehun kembali menggila. Rasanya dada namja tampan itu makin membuncah karena rasa rindu yg terpendam.
"Aaiiii... jangan malu begitu Lu! Itu normal bagi setiap omega!"
"Tapi tak usah di katakan dengan frontal juga, Baekie!" rutuk sang Omega miliknya yg terdengar menggurutu dengan lucunya. Sehun ikut tersenyum mendengar percakapan mereka dari tempatnya. Ia bisa membayangkan betapa manisnya wajah Luhan yg tengah merengut.
"Ini akan semakin jelas. Dan saat heat tiba, tanda ini akan terukir detail dan permanen ditangan kita." ujar Baekhyun, yang berdasarkan pengakuan Luhan di terakhir kali pertemuan mereka, seorang teman. Jauh dalam lubuk hatinya Sehun merasa bersalah karena sudah menyeret nama Baekhyun dalam hubungan absurd mereka.
"Apa kau bisa melihat tanda ini seperti apa?" tanya Luhan lirih.
Baekhyun mengernyitkan keningnya, membuat omega itu makin menggemaskan.
"Entahlah...! Bentuknya abstrak sekali! Banyak alpha yang memiliki tanda abstrak seperti ini, Lu. Tanda punya Chanie saja tidak terlalu jelas sewaktu pertama kali muncul." jawab Baekhyun mengelus tandanya dengan sayang.
Sehun tertegun sambil membuka telapak tangan kirinya, yang memiliki tanda lahir omeganya. Jantungnya berdebar keras, sebentar lagi Luhan akan tahu siapa Alphanya, dan itu adalah Sehun. Untuk itu Sehun harua bersiap-siap dengan semua kemungkinan yang terjadi. Ia harus siap dengan segala respon omeganya. Dan kembali pada keputusan awalnya, tidak akan mengikat sang omega pada dirinya.
~hurt~
Luhan menghela nafas penat sambil melangkah pelan menyusuri jalanan setapak kecil yang biasa ia lalui setiap pergi dan pulang sekolah. Hari ini adalah sabtu, dan itu artinya Luhan kembali sendiri dirumahnya sampai tengah malam nanti, karena Jaejoong akan lembur malam ini. Setiap akhir pekan seperti ini Jaejoong memang tidak akan berlibur dirumah bersama Luhan, tapi akan lembur bekerja di restoran. Luhan yang sudah sedari kecil memahami keadaan ini, tidak pernah menuntut apapun dari Oemma nya. Yang Luhan ingin kan adalah kebahagian namja cantik yg telah melahirkan dan merawatnya itu. Tidak ada orang lain yang begitu ia cintai selain ibunya di dunia ini.
Dan mengingat kalau malam ini ia akan sendiri lagi, Luhan menyempatkan diri tadi ke supermarket didekat sekolahnya sebelum menaiki bus, membeli beberapa bahan makanan sederhana untuk ia masak di rumah nanti. Ia tidak akan tega membiarkan sang oemma pulang dan istirahat dengan perut kosong.
Persimpangan tanjankan terakhir rumahnya merupakan hal yang paling ingin di hindari Luhan untuk di lewati. Pasalnya sering kali banyak preman yang berkumpul disana, maklum saja karena Luhan dan Jaejoong tinggal di kawasan pemukiman kelas bawah, yang tentunya preman bukanlah hal aneh disini.
Sialnya ia sekarang harus melewati sekumpulan preman itu sore ini agar bisa menapaki jalan mendaki menuju rumah kecilnya yang berjarak kurang dari 100 meter dari sana. Luhan memasang handsfree ke telinganya, dan memasang wajah cuek agar tidak menarik perhatian. Biasanya ini berhasil, preman-preman itu hanya akan melirik Luhan yang melewati mereka, atau sekedar bersiul menggodanya. Namun kali ini sepertinya tidak.
"Hai cantik!" sapa seorang preman berwajah keras yang menghadang Luhan. Di belakangnya ada 3 orang preman lagi yang sepertinya anak buah namja berwajah keras ini.
"Maaf... aku namja. Biarkan aku lewat!" ucap Luhan berusaha terdengar tegas, walau preman-preman itu tau kalau namja cantik itu sedang gemetar.
"Lalu apa masalahnya? Ku dengar kau dan ibu mu adalah omega. Namja atau yeoja sekalipun tidak berarti apa-apa bukan?" kekeh si namja berwajah kasar ini. Jantung Luhan berdetak cepat dan cemas. Di dekapnya erat kantung belanjaan yh sedari ia genggam seakan-akan para preman itu menginginkan bahan makanannya.
"Ayo ikut kami! Kau pasti akan suka!" ajaknya sambil meraih pergelangan tangan Luhan dan menariknya kuat. Luhan terhuyung tanpa persiapan hingga kantung belanjaannya terjatuh berserakan di aspal jalan. Ia ingin berteriak namun bahkan orang-orang yang berlalu lalang hanya diam tak mempedulikan.
"Lepaskan aku! Ku mohon..!! Aku ingin pulang!!" rintih Luhan kesakitan pada tangannya. Tapi para preman lainnya malah ikut menarik tubuh kecilnya.
"Diamlah cantik! Kita akan bersenang-senang dan kami akan memuaskanmu!" kekeh si ketua preman disusul tawa mengerikan anak buahnya.
"Hiks..hikss..kumohon! Lepaskan aku! Hiks.." isak Luhan saat tubuhnya sudah berada di tempat sepi kumuh di sela-sela gedung tua.
Sumpah demi apapun Luhan saat ini benar-benar takut. Ia tak memiliki kekuatan untuk melawan, tenaganya kalah jumlah dengan kumpulan preman yang sekarang menatap lapar padanya. Sang ketua maju menghimpit tubuh mungil Luhan yang sudah tersungkur di tanah. Sementara yang lainnya memegangi tangan Luhan sambil menatap Luhan dengan liar.
"Hiks...hiks.."
Breet...
Kemeja Luhan di robek kasar dibagian depan, menampilkan kulit putih bak pualam, yang terlihat makin menggairahkan dengan sepasang nipple pink yang tersingkap paksa.
"Sialan!! Kita pesta besar hari ini bos!" seru yang lain kegirangan.
Tak ada hal lain yang Luhan ingin kan sekarang selain mati saat ini juga. Isak tangisnya tidak di pedulikan. Si ketua itu malah makin menatap Luhan dengan nafsu binatangnya.
Cabut nyawaku saat ini tuhan...
hurt~
Sehun merutuki dirinya sendiri sekarang. Lihat lah, ia sedang berjalan pelan mengikuti seorang namja mungil yang sudah ia ikut sejak keluar dari sekolah tadi. Entah kenapa Sehun kembali berakhir seperti ini, memperhatikan Luhan dari jarak jauh setiap harinya. Ia akan mengikuti Luhan kemana pun namja mungil itu pergi, dan berakhir minum-minum di malam harinya karena frustasi.
Ikatan imprint ini membuat Sehun tidak bisa jauh dari Luhan. Bahkan heat yang akan Luhan alami malah memperburuk keadaan. Feromon Luhan bekerja baik pada Sehun dan semua Alpha lainnya. Beruntunglah bahwa tidak banyak Alpha di sekolah mereka, sehingga Sehun tidak terlalu lelah memperingati mereka bahwa Luhan terikat padanya.
Ya... Semua Alpha memiliki insting pada seorang Omega yang mendekati masa heat nya. Dan Omega yang belum sepenuhnya di klaim seperti Luhan akan menyebarkan aroma yang menarik para Alpha untuk menyinggahinya. Hal itu lah yang membuat Sehun tak bisa tenang. Disatu sisi ia ingin tak peduli pada Luhan yang sampai kapan pun tidak akan ia klaim untuk dirinya, namun ia tak bisa membiarkan Luhan berkeliaran kemana-mana tanpa sadar dengan daya tarik yang ia keluarkan.
Langkah kaki Sehun terhenti seketika, saat Luhan di cegat di awal tanjakan menuju rumahnya. Sekelompok preman mencegat omeganya, hingga menarik lengan Luhan untuk di bawa. Jiwa Alpha Sehun seketika mengaum marah, namun akalnya masih menahannya di tempat. Hingga tubuh mungil Luhan sudah diseret menuju tempat sepi kumuh disela-sela gedung tua. Sehun memejamkan matanya, ini lah saat nya jika ia ingin melepas Luhan. Bersikap lah tidak peduli Oh Sehun, dan kau akan mendapati ia sudah bukan milikmu lagi. Ikatan kalian akan terputus dan kau akan bebas selamanya dari namja mungil yang hampir setiap hari kau tindas.
hikss...hikss...
Sialan...
Cabut nyawaku saat ini tuhan...
TBC
Anyyeeoong yorobun...!!!
Maaf rin telat update nya... hiks
makasih yang udah follow dan fav ff ini readers, dan yang udah mau kasih review kalian, rin sayaaaang
maaf ya chap ini masih pendek, sesuai mood soalnya, dan maaf kalo ceritanya membosankan dan pasaran, rin masih harus banyak belajar...
maka dari itu plis review nya lagi ya readers, menurut kalian chap ini bagaimana?
ya udah deh, makasih ya buat readers yang mampir dan baca di lapak rin, love youuuuu...
XOXO
