Tak pernah Luhan merasa secemas ini. Tak pernah pula ia merasa setakut ini. Walaupun kehidupan di luar rumah kecilnya sangat keras, tapi tak pernah sedikit pun Luhan gentar. Karena ia tahu, akan selalu ada Oemma yang akan memeluk dan menenangkannya. Jika sudah berada di pelukan hangat Jaejoong, ia merasa mara bahaya apa pun tak akan bisa menyentuhnya.
Tapi Luhan sekarang takut, sangat takut! Tenggorokannya terasa pedih karena berteriak, namun tak ada satu pun yang peduli pada permohonannya. Orang-orang yang mendengar teriakan Luhan hanya akan menengok sebentar, lalu memilih pergi. Mereka tidak ingin berurusan dengan preman, dan diam adalah pilihan yang tepat.
Luhan juga sudah memohon kepada tuhan untuk mencabut nyawanya saja sekarang. Namun nyatanya ia masih bisa bernafas, walau terasa tidak nyaman karena bau tubuh para preman ini sangat busuk bercampur dengan tempat ini yang kumuh.
Luhan lelah, pergerakannya lemas dan teriakannya sudah berganti dengan lirih pilu. Merasakan sakit saat preman-preman itu membuka paksa bajunya.
"Begitu manis! Jika kau menurut kau akan kuberikan kenikmatan! Hahaha..." ujar si ketua preman yang terdengar menjijikan. Luhan sudah tidak karuan sekarang.
Bagian atasannya sudah compang-camping di robek paksa, celana sekolahnya sudah melayang entah kemana. Hal itu membuat tubuh polosnya terlihat begitu saja.
"Oooh... Sialan! Kau membuatku keras sayang!" seru si ketua heboh. Ia langsung bangkit, hendak membuka sabuk celananya, namun belum sempat kembali menggerayangi sang omega, sebuah tendangan tiba-tiba ia dapatkan dari belakang.
DUAGH...!!
"YAAK!!! APA-APAAN KAU!!"
BUGH...!!!
Perkelahian tak dapat dihindari. Si pelaku penendangan langsung di keroyok bersama, 1 lawan 5. Hingga Luhan tak ada yang memegang.
Namja cantik itu meringis, mencoba bangkit walau hati dan tubuhnya perih. Keadaan yang mulai gelap menyulitkannya untuk melihat siapa orang yang tengah berbaik hati menolongnya.
Namja itu sangat kuat, bahkan satu- persatu tumbang akibat tendangan dan pukulannya. Ia membabi buta membalas serangan para preman, tidak peduli dengan senjata mereka. Hingga sebuah luka mengiring lengannya, bukannya membuat ia berhenti malah makin gila menghajar para berandalan itu.
Merasa keadaan yang terdesak, si ketua bejat memilih lari terbirit-birit diikuti 3 anak buahnya yang masih mampu berlari. Sisanya kini sudah terkapar tak sadarkan diri. Luhan meringis melihat kepala 2 preman itu yang mengeluarkan darah. Apa mereka sudah mati?
Si penolong menghampiri Luhan sambil membuka kemeja miliknya, dan Luhan mengenal lambang dari kemeja itu. Sekolahnya...!
Tanpa banyak bicara namja itu mendekat dan memakaikan kemeja itu tubuh Luhan tanpa perlawanan, sementara Luhan tertegun. Wajah babak belur ini, mata tajamnya dan bibir tipis yang selalu melontarkan cacian padanya. Tapi... kenapa?
"Oh..Sehun?" lirih Luhan tak percaya.
Sehun hanya diam, ia lebih memilih meraih blazer Luhan yang tergeletak tak jauh dari mereka, dan mengikatnya di pinggang si cantik.
Luhan gemetar tiba-tiba saat Sehun ingin menariknya untuk berdiri.
"Ti..tidak! Ja..jangan...ku mohon... hiks.. hikss.." lirih pilu itu membuat Sehun tertegun. Tubuh mungil itu gemetar ketakutan.
Luhan sungguh takut sekarang. Apa kah tidak orang lain yang menolongnya selain Sehun? Bukan karena tidak tahu berterima kasih, tapi perbuatan Sehun selama ini tidak ada beda nya dengan para preman tadi. Hampir setiap hari Luhan mendapatkan racun dari mulut Sehun.
Sehun tertegun sejenak, emosinya masih di ubun-ubun sungguh. Ia ingin meneriaki seseorang sekarang, bahkan pukulan yang ia berikan pada para preman tadi belum cukup meredakan kemarahan sisi alpha nya. Namun melihat wajah sendu sang Omega yang ketakutan meruntuhkan emosinya. Selama ini ia tak pernah melihat Luhan begini. Walau sudah di kasari seperti apa pun, namja cantik ini tetap tegas bahkan berani melawan dirinya.
"Shh... tenang lah! Mereka sudah pergi, dan kau aman sekarang!" lirih Sehun sembari tak kuasa menahan diri untuk memeluk Luhan.
Hal yang tidak terduga terjadi pada diri Luhan. Rasa sakit dan cemasnya seketika hilang, walau ia masih lemas. Itu semua karena aroma Sehun yang bisa ia cium dengan jelas. Hangatnya kulit dada bidang itu tanpa pembatas bisa luhan rasakan. Bahkan suara denyut jantung Sehun menjadi melodi penenang baginya. Hingga ia tak sadar ketika Sehun mengangkat tubuhnya dengan mudah dan membopongnya meninggalkan tempat itu.
~hurt~
Yoochun membuka pintu kayu dengan ukiran sederhana namun elegan yang merupakan pintu ruangan CEO perusahan MJ Group, Jung Yunho. Setelah memberikan hormat, ia maju menyerahkan berkas yang berada di tangannya.
Selama 10 menit Jung Yunho masih diam sambari membaca dokumen yang lebih dahulu sampai di tangannya, seakan mengabaikan map berkas coklat yang sudah terletak manis di atas meja kerjanya. Namun, setelah membubuhkan tanda tangannya pada dokumen tersebut, ia segera menyambar cepat map berkas pemberian Yoochun.
"Jelaskan padaku..!" titah Yunho tenang namun syarat akan ketegasan. Yoochun mengangguk pelan setelah menghela nafas pendek. Ia Satu-satunya pegawai yang berani melakukan itu di depan boss besarnya sendiri.
"Masih seperti bulan lalu, mereka masih tinggal di rumah kecil itu. Omegamu masih bekerja di restoran milik seorang beta tampan bernama Kim Hyunjung, dan putra mu merupakan siswa berprestasi di sekolah. Nilai matematikanya jadi yang tertinggi lagi bulan ini untuk tingkatnya, serta keponakanmu yang setiap hari makin menjadi." jelas Yoochun panjang lebar. Bosan menyampakan hal yang sama setiap bulannya selama hampir 17 tahun ini.
"Dia bukan lagi omegaku..!" ujar Yunho datar, tanpa menunjukan ekspresi apa pun.
"Jika memang begitu berhentilah menguntitnya Jung Yunho! Ini sudah hampir 17 tahun ku rasa." jengah Yoochun kesal sambil duduk di kursi yang di sediakan di hadapan meja kerja Yunho.
Yunho hanya diam tidak memperdulikan perkataan Yoochun. Hal itu membuat beta tampan itu kesal sendiri. Yunho memang jadi penguntit selama 17 tahun ini, namun yang harus menjalankan itu semua adalah dirinya atas perintah sang boss besar.
"Oh ya..! Apakah kau tahu apa yang sedang di alami keponakanmu akhir-akhir ini?" tanya Yoochun berusaha menarik minat perhatian Yunho. Namun percuma, pria paruh baya yang masih tampan itu hanya memasang ekspresi datar tak berminatnya.
"Oh Sehun sudah mengalami imprint.." tekan Yoochun.
Yunho sedikit tersentak, ia baru tahu hal ini. Keponakannya itu memang memilih tinggal sendiri di apartment sejak awal SMA nya. Dan bisa di bilang mereka tidak pernah bicara sedikitpun sejak itu. Tinggal serumah saja mereka jarang bertemu. Jadi jangan salahkan Yunho jika ia sama sekali tidak mengehtahui apa-apa tentang Sehun.
"Ia sendiri yang langsung mengatakan padaku. Ia terlihat sangat frustasi kurasa. Takut menghadapi takdirnya, dan mengulang kisah kau dan kisah ibunya." jelas Yoochun to the point.
Yunho menghela nafas panjang, melonggarkan sedikit dasi di lehernya. Ia memejamkan matanya sejenak, menyandarkan kepalanya. Bayang-bayang kelam itu kembali terlihat dalam pikirannya. Keputusan menyakitkan yang harus ia ambil dahulu, dan juga nasib tragis kakak perempuannya yang tak jauh berbeda dari dirinya. Semua tergambar seperti siluet yang menggiringnya ke masa lalu.
"Apa kau tahu... siapa omega nya?" tanya Yunho pelan dengan mata yang masih terpejam.
"Ia tidak menjawab hal itu. Namun... berdasarkan laporan yang ku terima, ada hal aneh antara Sehun dan putra mu." jawab Yoochun tenang namun terdengar lebih serius. Hal itu membuat Yunho seketika membuka matanya dan menatap tajam pada asisten kepercayaan sekaligus sahabatnya.
Yoochun menghela nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaan sang boss besar.
"Ia tak memberi tahu ku. Namun... berdasarkan laporan yang ku terima, Sehun sudah mengikuti kemana pun putra mu pergi, dan hanya akan kembali ke apartment nya ketika Jaejoong sudah pulang dari bekerja. Sehun juga sering mengganggu putramu di sekolah. Aku curiga... Sehun dan Luhan sudah terikat takdir." jelas Yoochun tenang.
Mendengar hal itu membuat wajah Yunho mengeras.
"Apa maksudmu, Park Yoochun?!" seru Yunho dingin. Sang asisten mengernyit heran melihat respon boss nya.
"Kau ingin mengatakan kalau mate Sehun adalah Putra ku, begitu?"
Yoochun hanya diam menatap lurus pada Yunho. Ia tidak perlu menjawab iya, karena Yunho mengerti dari awal apa yang ia katakan.
"Kenapa? Bukan kah begitu lebih bagus?" tanya Yoochun bingung.
"Dan membiarkan sejarah terulang kembali?" tanya Yunho sinis.
~Hurt~
Luhan termenung sendirian di kamarnya, membiarkan rambutnya yang masih basah. Ia baru saja selesai mandi dan berganti dengan piyama rumah bergambar rusa favorite nya. Namja mungil itu melamun memikirkan satu hal.
flasback
Luhan benar-benar ketakutan tadi. Ia benar-benar takut karena tidak ada yang menolongnya ketika di kerjai preman. Kemungkinan-kemungkinan terburuk sudah melintas didepan matanya, dan itu benar-benar mengerikan.
Namun semua seakan lenyap begitu saja. Saat Sehun datang dan menolongnya, mengucapkan kata-kata lembut untuk menenangkannya, bahkan aroma tubuh Sehun mampu membuat Luhan melupakan rasa takut itu seketika. Dan semua hal aneh itu makin membingungkan ketika Luhan sadar akan suatu hal. Kenapa Sehun bisa datang tiba-tiba dan menolongnya? Kenapa Sehun berada di kawasan kumuh tempat Luhan tinggal?
Luhan masih sibuk dengan pikirannya hingga ia tersadar kalau mereka sudah berada didepan pagar kayu rumah kecil Luhan. Dan Luhan sadar bahwa semua mata orang-orang disekitar rumahnya memandang ke arah keduanya.
"Buka pintunya!" ujar Sehun pelan namun terdengar jelas ditelinga Luhan. Luhan tidak bodoh untuk mengartikannya, terlebih situasi yang tidak memungkinkan. Luhan masih hanya mengenakan kemeja sehun yang besar walau pahanya tersingkap dan cuma di tutupi sedikit oleh blazernya.
"Turunkan aku... kuncinya ada didalam tas ku..." cicit Luhan pelan.
Sehun menghela nafas pendek lalu memilih menurunkan si mungil yang sejak tadi nyaman di pelukannya.Luhan menerima tas sekolahnya yang sedari tadi di sandang Sehun sambil terua menunduk. Ia tak kuasa menahan malu, pada tatapan semua orang dan juga Sehun.Luhan membuka pintunya dan segera masuk kedalam. Sehun tanpa banyak bicara mengikuti Luhan, tanpa memperdulikan bisik-bisik tetangga yang memandang ke arahnya.
Blam...
Pintu tertutup dan Sehun melihat walaupun kecil tapi rumah ini bersih dan rapi. Hanya 3 ruangan di rumah ini, ruang depan yang merangkap ruang tamu, ruang makan dan ruang tv serta dapur, lalu sebuah kamar disisi kiri, dan kamar mandi disisi kanan.
Luhan masih berdiri dengan kepala tertunduk. Ini pertama kalinya ia mengajak teman sekolahnya masuk ke rumah. Itu pun jika Sehun bisa dikategorikan teman. Baekhyun memanh pernah berjanji ingin mampir, namun belum ada waktu yang pas. Dan Luhan benar-benar bingung sekarang.
"Mm..Sehun-si...terima kasih... karena kau sudah... menolongku.." ujar Luhan terbata. Dengan kepala tertunduk dan nada bicaranya, Sehun seperti tengaj mendengar penjelasan dari seorang anak kecil yang habis berbuat nakal.
Luhan meringis dalam hati karena tidak ada jawaban yang didengarnya. Akhirnya ia memberanikan diri mengangkat kepalanya dan tertegun karena Sehun yang menatap lurus padanya.
Apa Sehun marah? Pasti iya! Lihatlah... gara-gara menolongku, Sehun kini bertelanjang dada! rutuk Luhan dalam hati.
"Tunggu disini sebentar!" pinta Luhan tiba-tiba dan segera berlari kecil ke dalam satu-satunya kamar di rumah itu.
Sehun mengernyitk heran, namun ia akhirnya mengerti ketika Luhan keluar dari kamar membawa sepotong sweater berwarna coklat. Si mungil juga sudah mengenakan celana kain panjang berwarna pink untuk menutup pahanya.
Dengan deg-deg an Luhan menyodorkan sweater itu pada Sehun, yang membuat namja berwajah dingin itu menggeram dalam hati. Betapa berbahayanya omega nya sekarang dengan segala hal keimutan dan kadar gemas yang dimiliki Luhan. Apa benar omega ini lah yang selalu ia kerjai disekolah, bahkan mengatainya dengan kata-kata kasar?
Mulai sadarkah kau, Oh?
"Pakailah... aku akan mengembalikan seragammu besok setelah ku cuci!" ujar Luhan pelan.
Plak...
Luhan terperangah melihat sweater yang ia sodorkan terjatuh begitu saja ke lantai. Oh Sehun baru saja menolak pemberian Luhan, dan tanpa perasaan masih memasang wajah tenangnya.
"Namja mana yang dengan mudahnya dikerjai seorang preman selain kau, Kim? Apa kau sebegitu lemahnya?" sinis Sehun tajam.Luhan terkejut mendengar perkataan itu. Sungguh bukan ini yang Luhan harapkan keluat dari mulut seorang Oh Sehun. Namun apa daya, Oh Sehun tetaplah Oh Sehun!
"Aku tidak membutuhkan pakaian sampah itu! Dan kau tidak perlu mengembalikan kemeja itu! Anggap saja aku sudah membuangnya, dan kau memungutnya!" jawab Sehun tajam dan langsung keluar dari rumah kecil itu.
flasback end
Sungguh Luhan tak tau mengapa Sehun bisa berkata seperti itu. Kalau begitu untuk apa ia menolong Luhan kalau pada akhirnya ia akan kembali mengatai Luhan lagi? Sehun dan segala pemikirannya yang tak di mengerti Luhan.
Entah kenapa Luhan merasa sedih. Fakta bahwa Sehun tetap membencinya memang tak bisa di pungkiri. Dan Sehun walaupun menolongnya, tak akan berubah!
Cklek...Blam..!
"Luhanie!" seru Jaejoong panik begitu masuk ke dalam rumah. Luhan terkejut melihat air mata ibunha sudah berlinang dan sang oemma langsung memeluk tubuh mungilnya.
"Oemma?"
"Hiks.. kau baik-baik saja nak? Sungguh oemma sangat takut mendengar kau hampir di perkosa para preman. Hisk.." ujar Jaejoong pilu. Luhan segera mengusap air mata ibunya.
"Aku baik-baik saja oemma...! Ada teman yang menolongku.." jawab Luhan tenang dengan senyum, walau dalam hati meringis. Jaejoong menangis karena dirinya, mengkhawatirkan dirinya. Apakah apa yang dikatakan Sehun benar? Bahwa ia hanya namja bodoh yang bahkan tidak bisa melindungi diri dari para preman.
Walau pun pahit, kali ini Luhan membenarkan tudingan itu untuk dirinya sendiri.
Tapi..
Dari mana Jaejoong tahu soal kejadian yang menimpa dirinya?
~hurt~
Sehun melangkah angkuh memasuki mansion besar bak istana milik pamannya. Semua pelayan meanunduk hormat saat berpapasan dengannya dan hanya dijawab cuek oleh sang tuan muda.
"Selamat datang, Sehunah! Langsung temui pamanmu di ruangannya." ujar Yoochun saat bertemu sehun di di ruang tengah.
"Ada apa dia memanggilku, Paman?" tanya Sehun langsung. Ini bukanlah satu hal yang biasa, dan jika Yunho sampai memanggilnya pasti ada satu hal penting yang ingin di bicarakan Yunho padanya.
"Temui saja paman mu, Sehunah! Aku tidak memiliki kuasa di sini." jawab Yoochun datar.
Sehun merasa sedikit aneh, namun ia tetap melanjutkan langkahnya menaiki tangga menuju ruang kerja Yunho di lantai 2. Tanpa perlu mengetuk pintu, namja dingin itu langsung masuk begitu saja. Pemandangan yang biasa ia dapatkan setiap masuk keruangan ini. penuh buku membosankan dan Yunho yang duduk dibalik meja kerjanya dengan tumpukan pekerjaan yang entah kapan selesainya.
"Ada apa paman memanggilku?" tanya Sehun tanpa perlu memberikan hormat. Hubungan mereka selama ini tidak mengharuskan Sehun untuk membungkuk seperti orang lain ketika bertemu pamannya.
Yunho mengangkat pandangannya sejenak lalu menyodorkan selembar foto ke depan mejanya. Sehun mendekat dan mengernyit heran melihat pamannya menyodorkan foto seorang yeoja.
"Temui keluarga Kang di kediamannya bersamaku besok malam! Kita akan makan malam disana." jawab Yunho masih tetap fokus pada pekerjaannya.
"Ada apa? Kenapa aku juga harus ikut?" tanya Sehun sekali lagi. Ia benar-benar mencurigai pamannya sekarang.
"Apa lagi? Tentu saja soal perjodohan antara kau dan putri tuan Kang, Kang Seulgi. Kau bisa melihat paras gadis itu dari foto yang kusodorkan." jawab Yunho datar dan tenang. Sehun menggeram kesal, apa hal ini harus terjadi sekarang?
"Apa kau pikir aku akan menyetujui hal ini hanya karena kau menyodorkan foto gadis itu padaku? Kau belum begitu mengenaliku paman." sinis Sehun sarkastik.
Yunho menghentikan kegiatannya dan memandang tajam pada Sehun. Keduanya sama-sama keras dan berada dalam satu perdebatan merupakan hal yang paling sulit.
"Apa kau menolak? Perlukah aku mengingatkan dimana posisimu, Oh?" sinis Yunho menatap dingin keponakannya.
"Aku lah disini yang perlu mengingatkanmu paman. Kau hanya adik ibuku, dan tidak memiliki hak menentukan kemana arah hidup ku!" tegas Sehun. Nada bicaranya sedikit naik. Sementara Yunho masih memasang ekspresu yang sama.
"Lalu?" timpal Yunho tak peduli seraya menyantaikan posisi duduknya. Dan Sehun bersumpah ingin menghajar wajah itu jika tidak mengingat mereka masih memiliki hubungan keluarga.
"Sadarlah posisimu nak! Kau bukan anak kecil lagi segala keinginanmu harus dipenuhi. Kau seorang alpha penerus 2 keluarga bangsawan di negara ini, jika kau ingin aku mengingatkanmu kembali." lanjut Yunho dingin.
Sehun terdiam mendengar kenyataan yang di katakan Yunho. Tangannya terkepal hingga sela-sela jarinya memutih. Meski mengesalkan tapi apa yang dikatakan pamannya adalah benar. Hanya ia satu-satunya penerua keluarga ini, setelah beberapa tahun yang lalu Yunho memilih bercerai dengan mantan istrinya tanpa anak.
"Pikirkan lagi posisimu! Dan datang padaku besok dengan kepala dinginmu!" ujar Yunho akhirnya dan kembali pada pekerjaannya. Sehun tertegun sejenak, lalu menghela nafas pendek.
"Apa aku harus hidup seperti dirimu dimasa depan? Jika begitu mati lebih baik menjadi pilihan." ujar Sehun tajam lalu berbalik hendak keluar dari ruangan itu.
~hurt~
"Minum obat ini sayang! Kau sudah hampir mendekati masa heat mu." ujar Jaejoong lembut sambil menyerahkan satu butir pil kearah Luhan. Luhan patuh dan meminumnya.
"Oemma..." ujar Luhan setelah menaruh gelas kosong miliknya. Jaejoong yang baru saja selesai membuat sarapan paginya, menoleh pada Luhan.
Luhan meringis dalam hati melihat mata ibunya yang sedikit bengkak, karena diam-diam menangis semalaman sambil memeluk Luhan yang tertidur.
"Itu... siapa yang memberi tahu oemma?" lirih Luhan sambil menunduk. Jaejoong tersenyum seraya mengelus puncak kepala putra cantiknya.
"Seorang pemuda tampan yang terlihat kacau. Ibu bahkan melihat luka goresan di lengannya. Dia bahkan menemui ibu tanpa baju atasan, tapi ibu tau ia teman satu sekolah mu dari celana yang dipakainya." jawab Jaejoong. Jantung Luhan berdegub kencang. Apakah Sehun?
"Ia juga mengantarkan ibu pulang, ketika ibu menawarkan ia mampir, ia malah menolak dan pamit. Ia begitu sopan, lain kali ajak dia main kesini ya, Lu!" lanjut Jaejoong.
Luhan tak tau harus menjawab apa. Ia akhirnya mengangguk pelan. Tak mungkin Luhan memberi tahu Jaejoong bagaimana Sehun, bahkan walau sudah menolong Luhan sekalipun sikap kejam Sehun tidak berubah.
"Istirahat lah di rumah! Oemma akan kesekolah meminta izin untukmu." ujar Jaejoong yang langsung disambut gelengan oleh Luhan.
"Tidak oemma! Hari ini ada test kimia!"
"Tapi... Oemma masih mengkhawatirkanmu nak! Lagi pula seragam sekolahmu rusak! Oemma akan membelinya nanti sepulang kerja." jawab Jaejoong.
"Aku tidak apa-apa oemma! Dan soal seragam, aku akan membicarakan ini dengan guru agar mengizinkanku memakai baju olah raga dulu. Oemma tidak perlu memaksakan diri membeli seragam itu sekarang!" tolak Luhan. Ia begitu sadar kalau untuk seragam sekolah saja harga nya sangat mahal.
Jaejoong menggeleng ribut membuat tampangnya tidak ada beda dengan Luhan.
"Tidak! Oemma memang sudah lama berniat membelikan mu seragam baru!"
Luhan hanya bisa menggangguk mengiyakan.
"Ini!" seru Jaejoong menyodorkan 3 kotak bekal ke arah Luhan.
"Oemma mau membuatku dan Baekhyun makin gemuk?" seru Luhan heran. Jaejoong terkekeh geli seraya mengelus puncak kepala putranya.
"Berikan satu untuk temanmu kemaren! Ini ucapan terima kasih dari ibu Lu.." ujar Jaejoong lembut. Luhan tersentak sejenak, memandang bekal itu. Memberikan bekal ini pada Sehun? Ayo lah... Luhan sudah menebak bagaimana respon namja angkuh itu! Walau Luhan sudah berhutang budi padanya.
~hurt~
Luhan menahan debaran jantungnya yang menggila. Sedari jam pertama dimulai mata rusanya berusaha melirik diam-diam pada Sehun yang duduk di bangku paling belakang. Ia ingin memberikan bekal titipan Jaejoong, tapi membayangkan ekspresi Sehun membuat Luhan menunda-nunda niatnya.
Mau bagaimana lagi, Oh Sehun yang angkuh itu selalu bersikap buruk pada Luhan hingga ia takut. Takut untuk mendapatkan kembali kata-kata tajamnya, seperti sampah, bodoh, lemah dan lain-lain.
Hingga bel makan siang berbunyi Luhan belum juga memberika titipan oemmanya. Luhan meringis dalam hati melihat Sehun sudah melenggang sendiru keluar kelas diikuti tatapan memuja para yeoja.
"LULU...!!!!"
Suara pekikan cempreng Baekhyun membuat Luhan terkejut dan langsung mengangkat kepalanya. Baekhyun dengan ceria masuk kedalam kelas Luhan tanpa memperdulikan tatapan sinis para yeoja. Luhan terkekeh geli dalam hati menyadari para yeoja beta itu hanya bisa diam-diam mendumel. Ayolah... siapa yang akan berani mengomentari mate Direktur Sekolah mereka? Pria tampan berbadan kekar besar itu akan menghabisi siapa saja yang menyentuh atau menyakiti Baekhyun.
"Hai Baekkie..!" sapa Luhan,
"Lulu...!!! Aku lapar..!" rengek Baekhyun manja membuat Luhan terkekeh lucu. Beberapa namja beta di kelas diam-diam melirik dua omega menggemaskan itu.
"Ya sudah... ayo kita makan!" ajak Luhan seraya bangkit dari kursinya. Baekhyu mengangguk semangat.
"Tapi sebelum itu... Kau harus ke ruangan Channie dulu, Lu!" ujar Baekhyun seraya berjalan santai bersama Luhan keluar dari kelas. Keduanya jadi pusat perhatian sekarang. Siapa yang tidak akan memperhatikan jika dua omega cantik sedang berjalan bersama. Walau banyak yang tidak menyukai keduanya, tapi ada juga yang menyukai omega-omega imut itu meskipun secara sembunyi-sembunyi.
"Oh ya? Ada apa?" tanya Luhan sedikit kaget. Baekhyun mengangguk imut.
"Aku tidak tahu, tapi giant bertelinga besar itu sepertinya ada keperluan denganmu." jawab Baekhyun santai. Luhan meringis mendengar panggilan 'kurang ajar' Baekhyun untuk alphanya. Hanya Baekhyun di dunia ini yang menganggap Park Chanyeol yang gagah dan tampan seperti itu.
Luhan hanya menggangguk saraya berbelok ke arah ruang loker. Ia membuka salah satu pintu loker miliknya dan mengeluarkan bekal yang ia simpan.
"Waah...!!! Banyak sekali lu? Oemma mu ingin kita berdua menjadi gemuk atau apa?" heboh Baekhyun. Luhan meringis mendengarnya. Harus kah ia ceritakan kejadian kemaren hingga sehun yang menolongnya? Luhan sadar ia belum menceritakan apa pun pada Baekhyun.
"Salah satunya... di buatkan oemma untuk...Sehun.." lirih Luhan.
"Haaa?"
Baekhyun terpekik heran. Luhan tak memiliki jalan lain selain menceritakan semuanya pada Baekhyun sambil berjalan menuju ruang direktur. Mulai dari kejadian ia di kerjai preman, Sehun menolongnya, hingga Oemma Luhan yang tiba-tiba pulang setelah dijemput Sehun di restoran.
"Wow...! Aku benar-benar tak mengerti Namja bernama Oh Sehun itu!" respon Baekhyun. Luhan menunduk sambil menghela nafas.
"Mau bagaimana lagi. Oemma sama sekali tidak tahu bagaimana perlakuan Sehun selama ini. Pagi-pagi sekali ia sudah membuatkan bekal ini untuk Sehun. Aku ingin memberikannya, tapi aku takut Sehun tak mau." lirih Luhan. Baekhyun menghela nafas dan menepuk pundak Luhan.
"Kalau dia tak mau ya sudah! Yang penting kamu sudah menjalankan amanah Oemma mu Lu. Lagi pula aku masih sanggup menghabiskan satu bekal lagi!" hibur Baekhyun seraya tersenyum ceria. Matanya melengkung menjadi bulan sabit.
"Ishh.. Kau ini! Lihatlah pipi mu itu Baek! Sudah makin bulat sejak awal kita bertemu! Kau harusnya berdiet!" gurau Luhan yang membuat Baekhyun manyun dengan sukses.
"Aku tidak perlu diet! Channie bilang pipiku semakin menggemaskan kalau tembam begini!" rutuk Baekhyun sambil mengelus pipi lembutnya. Luhan terkekeh geli melihatnya.
Keduanya terlalu asik ngobrol hingga tidak sadar kalau sekarang sudah berada didepan pintu ruangan direktur sekolah. Baekhyun mengetuk pintu 3 kali dan langsung masuk.
"CHANIIEEE...!!!" seru Baekhyun riang dan langsung berlari kecil ke arah namja tampan yang sedang tersenyum lembut padanya. Parka Chanyeol terkekeh gemas memeluk sang omega, mengendus aroma omeganya. Baekhyun tertawa renyah. Dan tanpa peduli namja tampan itu lagsung menyambar bibir pink milik mate nya. Luhan terbelalak kaget dengan wajah merona.
"Hmm...mmpph... Chan.." desah Baekhyun di sela ciuman lembut sang Alpha.
Sungguh ini merupakan pertama kalinya Luhan melihat adegan kissing secara live. Membuat wajah Luhan terasa panas, hingga ia tak sadar ada sosok namja lain di ruangan itu yang menggerutu kesal.
"Bisakah kalian hentikan aksi melumat kalian? Si bodoh ini sampai mengkhayal yang tidak-tidak jadinya!" rutuk seseorang yang membuat Luhan tersentak. Reflek Luhan menoleh pada si penggerutu dan saat itu juga debaran jantungnya kembali menggila.
Oh Sehun...!!
Tbc...!!!!!!!!!
Okeh...!!! Rin lagi kobam sama Sehun yg pamer roti sobek di konser kemaren sama lirik lagu yg di tulisnya sendiri bikin rin tereaaak... HUNHAN SHIPPER..!! KAPAL KITA MASIH BERLAYAR...!!! Always Keep the Faith...!!!
Makasih readers yang udah fav dan follow serta review... I love U... muah muah
Xoxo...!!!!
