"Bisakah kalian hentikan aksi melumat kalian? Si bodoh ini sampai mengkhayal yang tidak-tidak jadinya!" ujar Sehun muak sembari menatap datar pasangan dihadapannya. Ia merutuk setengah mati Park Chanyeol dan segala kemesuman nya yang dengan santainya berciuman dengan si cebol Baekhyun dihadapan dirinya. Terlebih lagi ada Luhan disana. Sialan! Aroma Luhan malah memperburuk keadaan. Sehun ingin menyerang Luhan pula sekarang! EH?
Luhan menundukan kepalanya dengan wajah memerah sampai ketelinga.
Park Chanyeol mendecih kesal pada Sehun seraya menyudahi kegiatan favoritenya bersama Baekhyun. Si mate mungil miliknya malah ikut-ikutan memandang sebal pada Sehun. Oh... Baekhyun sungguh tahu bagaimana sikap Sehun pada sahabatnya. Jadi jangan harap ia akan beramah tamah pada namja dingin menyebalkan itu!
"Oh... Hai Kim Luhan. Silahkan duduk..." seru Chanyeol berubah ramah.
Luhan mengikuti Chanyeol yang duduk di sofa empuk diikuti Baekhyun yang duduk di samping Chanyeol. Sementara Sehun duduk di sofa single sendiri sambil memasang ekspresi andalannya.
"Hm... Maaf Saem, tapi... Baekhyun bilang, anda memanggil saya..." gugup Luhan. Ia merasa tak nyaman sekarang, bukan karena insiden kissing tadi, tapi karena entah mengapa ia merasakan aura Sehun yg mengintimidasi dirinya.
Baekhyun yang melihat itu melemparkan tatapan mematikan (?) dari mata puppy nya pada Sehun, yang sama sekali tidak di gubris pemuda itu.
"Ok... kita langsung saja. Aku memanggilmu karena.. aku memberikanmu tugas untuk menjadi tutor sebaya Oh Sehun." jawab Chanyeol tenang.
"APA..!"
Oh.. itu bukan dari Luhan! Itu adalah ungkapan terkejut Baekhyun, namun sepertinya mewakili isi hati Luhan.
"Kenapa kamu yang kaget, Baekkie?" heran Chakyeol.
"Kenapa harus Luhan? Kau tidak tahu bagaimana dia memperlakukan temanku selama ini!" protes Baekhyun sambil menunjuk tidak sopan pada Sehun. Namja dingin itu menatap datar pada Baekhyun, walau dalam hati sedikit kesal juga pada mate direktur sekolah mereka.
"Shh... Tenanglah Baek! Ini masalah beda.." ujar Chanyeol lembut pada kekasihnya. Tapi si mungil itu malah menggeleng ribut. Ia pindah duduk ke samping Luhan, dan memeluk sahabatnya dari samping, seakan dua manusia kekar itu akan menyakiti mereka.
"Nilai matematika Sehun tidak pernah bagus, sementara Luhan selalu yang tertinggi di kelas." jelas Chanyeol namun Baekhyun masih tetap tidak terima. Namja imut itu bahkan menatap sengit (?) alpha nya juga, membuat Chanyeol ingin memangsa kekasihnya saat itu juga.
"Lalu kenapa? Yaak! Bukannya dia orang kaya? Apa membayar guru privat saja ia tak mampu?" omel Baekhyun masih tak rela. Luhan sampai jadi tak enak jadinya, membuat sahabatnya dan direktur sekolah mereka berdebat.
Chanyeol memijit keningnya pusing. Baekhyun memang seperti ini semenjak bersahabat dengan Luhan. Selalu menjaga sahabatnya itu, dan itu sedikit menyulitkan Chanyeol tentu saja.
"Hmm... Maaf Saem...! Tapi.. Saya tak sepintar itu. Saya masih harus berusaha untuk nilai saya.." sela Luhan yang akhirnya angkat bicara. Dan ia bersumpah sekarang sehun menatap tajam padanya, seperti hendak menerkamnya sekarang juga. Itu terbukti pada Baekhyun yang ikut melotot pada si Pangeran es.
"Aku mengerti. Tapi aku percaya padamu, Lu. Lagi pula bukankah kalian satu kelas? Akan lebih bagus karena materi kalian sejalan." bujuk Chanyeol. Luhan tak tahu harus bagaimana. Ini terasa aneh! Kenapa direktur sekolah mereka harus turun tangan langsung mengurus masalah tutor sebaya untuk Oh Sehun? Bukankah ini tugas guru Matematika mereka?
"Ta..tapi... aku tidak bisa Saem..." lirih Luhan makin menunduk. Dari sudut matanya ia bisa melihat Sehun yang tengah menatapnya.
"Yaak!! Jangan melototinya seperti itu!!" seru Baekhyun kesal pada Sehun yang dianggap angin lalu. Nyatanya Sehun tetap memandang Luhan lekat.
"Sudahlah...! Ayo kita pergi Lu! Aku lapar!" ajak Baekhyun seraya menarik Luhan berdiri. Luhan terkejut dan hanya bisa mengikuti sahabatnya, terperangah melihat sikap Baekhyun yang kurang sopan pada direktur sekolah mereka. Oh..! Bersyukurlah Byun Baekhyun karena Direktur itu adalah mate nya! Karena biasanya tidak ada yang selamat setelah melanggar perkataan seorang Park Chanyeol.
"Kekasih mu benar-benar menyebalkan, Hyung...!" rutuk Sehun seraya ikut bangkit dan keluar mengejar seseorang.
Park Chanyeol hanya terkekeh geli.
"Sepertinya aku harus memikirkan hukuman apa untukmu malam ini, sayang...!" ujarnya geli entah pada siapa di ruangan yang sudah kosong itu.
~Hurt~
"Dasar Dobby menyebalkan! Akan ku gigit telinganya nanti, Lu! Kau tenang saja!" rutuk Baekhyun ketika mereka sedang menuruni tangga ke lantai dasar.
Luhan hanya diam tak menggubris. Pikirannya melayang pada alasan Park Chanyeol yang memintanya menjadi tutor Sehun. Dari sebanyak itu murid berprestasi disekolah ini, kenapa Luhan? Dan lebih aneh lagi, Sehun seperti tidak masalah dengan hal itu. Luhan jujur saja menunggu reaksi Sehun selama di ruang Direktur tadi. Sehun Pasti akan mengamuk dan menyuruh orang lain yang mengajarinya dibanding Luhan. Tapi nyatanya namja dingin itu malah diam saja seakan-akan menyetujui pilihan Direktur sekolah mereka.
"Lu! Kau tidak mendengarkanku?!" kesal Baekhyun yang menepuk ringan bahunya. Luhan sedikit tersentak, namun tersenyum kecil pada sahabatnya.
"Aku mendengarmu, Baekkie!" sahut Luhan.
"Aku tidak akan menyetujui ide gila Dobby-ku itu!" sungut Baekhyun sambil melipat kedua lengannya didepan dada dengan bibir mengerucut imut. Siapa saja yang melihat, diam-diam merasa gemas karenanya.
"Kau yang gila, cerewet!" sahut seseorang yang sukses membuat dua namja mungil itu berhenti melangkah dan menoleh pada Oh Sehun yang setengah berlari menuju mereka.
Jantung Luhan kembali berdegup kencang, dan ia tak tahu mengapa. Hanya baekhyun yang menatap sengit Sehun yang dibalas sikap tidak peduli. Sehun nyatanya fokus memandang pada Luhan.
"Apa maksudmu!" kesal Baekhyun. Luhan mencoba menenangkan sahabatnya dengan mengelus lengan Baekhyun.
"Itu salah satunya untukku kan?" ujar Sehun tenang. Luhan mengernyit bingung lalu mengikuti arah pandangan Sehun pada kantong bekal di tangannya.
Entah bagaimana caranya kantong itu sudah berpindah tangan dan sekarang berada pada Sehun. Dua namja mungil itu menganga melihat Sehun mengambil salah satu kotak bekal, lalu kembali menyerahkan katong bekal itu dengan sedikit kasar pada Luhan. Baekhyun bersumpah ingin menendang Sehun saat ini juga jika tidak ada Luhan yang menahannya.
"Aku akan menerima bekal ini dan memakannya,.. jika kau mau menjadi tutorku!" tawar Sehun tiba-tiba. Luhan tersentak kaget dan menatap Sehun dengan mata bulat rusanya.
"Dan jika kau tidak mau... aku akan membuang makanan sampah ini sekarang juga! Dan aku akan menemui ibu cantik mu dan mengatakan kalau kau membuang bekal titipannya!" ancam Sehun dengan seringai diwajahnya yang...sialan! Itu tampan!.
"Apa maksudmu sebenarnya, Oh Sehun?" lirih Luhan pelan membuat Baekhyun menoleh pada sahabatnya yang mulai muak.
"Jadi tutorku!" jawab Sehun datar seraya melayangkan kotak bekal ditangannya.
"Aku tidak mau!" desis Luhan muak. Ia beranikan diri menantang mata tajam Oh Sehun, walau ia gemetar.
"Kau berani melawanku, Sampah?" desis Sehun berbahaya. Emosi namja itu mulai mencapai batas limitnya.
"Kenapa aku harus menurutimu? Kalau kau memang ingin aku menjadi tutormu, setidaknya minta tolonglah dengan cara yang baik!" ucap Luhan dengan nada tinggi, unek-uneknya di kepala sedikit demi sedikit mulai leluar.
Mendengar hal itu membuat Oh Sehun mencapai batas kesabarannya.
PRAANK...!!!
Semua orang terkejut melihat Sehun dengan mudahnya menghempaskan kotak bekal ke lantai ubin tanpa rasa bersalah. Baekhyun sampai terperangah dibuatnya. Namja ini benar-benar tidak tau etika!
"Kau.."
Langkah Baekhyun yang ingin memukul Sehun terhenti saat Luhan tiba-tiba terperosok ke lantai dan segera mengemasi ceceran makanan dan kotak bekal plastik yang sudah pecah. Namja mungil itu terisak lirih membuat Baekhyun ikut berjongkok membantu Luhan. Sementara Sehun berdiri melihat hasil perbuatannya dengan emosi memuncak.
Di cekalnya lengan Luhan hingga namja mungil itu bangkit terhuyung. Dan perasaan Sehun langsung berkecamuk melihat air mata sang omega. Sialan!
"Sudah ku peringatkan untuk jangan melawanku!" desis Sehun berbahaya.
"Hiks... lepaskan aku BRENGSEK!" maki Luhan marah. Ia renggut lengannya, namun yang ada malah Sehun yang makin mencengkram kuat.
"Kau tuli? Ku bilang JANGAN MELAWANKU SIALAN!" bentak Sehun tak kalah keras.
"Kau pikir kau siapa? Kenapa aku harus mendengarmu? LEPASKAN AKU SEHUN SIALAN!" upat Luhan kencang. Semua orang menjadikan keduanya objek perhatian. Baekhyun sampai terkejut mendengar Luhan bisa berkata kasar begitu.
"Hiks..hikss..kau tidak punya hati!" lirih Luhan pilu sambil menunduk menatapi makanan yang berserakan dilantai hasil kerja keras oemmanya.
"Ya...! Aku memang tak punya hati! Teruslah kau berpikir seperti itu, BRENGSEK!" maki Sehun sebelum melenggang pergi dari tempat itu. Meninggalkan Luhan yang kembali menangis karenanya.
~hurt~
Jaejoong menghela nafas pendek sambil melangkah pelan menuju pintu restoran yang sudah gelap. Jam sudah mununjukan pukul 10 malam, dan ia haru bergegas pulang sebelum malam kian larut. Luhan dirumah sudah menunggunya.
"Jae..! Kau belum pulang?" sapa Hyunjoong yang baru saja turun dari Audy miliknya tepat didepan restoran. Jaejoong membungkuk memberi salam lalu tersenyum.
"Aku baru selesai mengunci pintu restoran! Minhyuk meminta izin karena ibunya masuk rumah sakit karena terjatuh." jawab Jaejoong tenang.
Namja yang masih sangat cantik di usianya yang tak lagi muda itu merapatkan mantel miliknya, berusaha menghalau dinginnya malam. Hyunjoong tersenyum dan menghampiri Jaejoong dan melepas mantel miliknya, lalu menyampirkannya ke pundak si cantik.
"Tidak apa-apa Hyunnie! Kau juga kedinginan!" tolok Jaejoong namun namja beta tampan itu menggeleng pelan.
"Aku masih punya satu mantel lagi di kantorku. Kau hanya perlu menungguku di mobil saat aku kedalam dan aku akan mengantarmu pulang, Jae!" jelas Hyunjoong dengan senyum tampan di bibirnya.
"Tapi.."
"Tidak ada kata 'tapi'! Sekarang masuk!" perintah Hyunjoong sambil menarik lembut Jaejoong ke arah mobilnya. Jaejoong tak mampu menolak boss nya yang baik hati, dan tersenyum manis sambil masuk ke bagian kursi penumpang.
Tak jauh dari sana, seseorang sedang mencengkram kemudinya dengan amarah. Ia ingin keluar dan menarik omeganya agar tidak ada yang melirik miliknya! Namun ia sadar, sesuatu yang telah ia 'buang' tak mungkin ia pungut lagi. Hingga akhirnya ia menunduk menyedihkan, menggumamkan nama kesayangan omeganya dengan lirih.
"Boo..."
~hurt~
Luhan bangun tidur dalam keadaan sedikit tidak enak badan. Tidurnya semalam memang kurang nyenyak, hingga beberapa kali Jaejoong ikut terbangun untuk sekedar menemani Luhan kembali tertidur.
Namja cantik itu memilih bangkit dan menuju kamar mandi, membersihkan diri dan bersiap-siap ke sekolah. Hari ini ia sudah kembali mengenakan seragam baru yang dibelikan Jaejoong menggunakan uang tabungannya. Hal itu membuat Luhan makin bersemangat ke sekolah, karena ia tak mau pengorbanan sang ibu untuk pendidikannya sia-sia.
Setelah seragamnya rapi dan perlengkapannya telah tersusun di tas, Luhan meraih botol obat diatas meja nakasnya dan meminumnya sebutir. Ia tak begitu mengerti obat apa ini, tapi Jaejoong menyuruhnya meminum obat itu rutin setiap hari, agar aromanya sedikit berkurang. Jangan lupa Luhan tengah berada menjelang masa heat pertamanya. Dan tanpa obat itu, Luhan bisa dalam keadaan bahaya.
Luhan keluar dari kamarnya dan langsung terpelongo. Mata rusa indahnya melotot seperti melihat hantu, membuat Luhan makin menggemaskan. Jaejoong yang melihat putranya baru keluar dari kamar, tersenyum manis seraya memindahkan sup rumput laut dari kompor ke meja kecil di ruang tengau yang merangkap sekaligus ruang makan.
"Selamat pagi, Luhanie..! Ayo sarapan!" ajak Jaejoong riang pada putra semata wayangnya.
Luhan tak menyahut, perhatian namja cantik itu kini malah tertuju dengan seorang namja tampan bermata tajam yang kini kini tengah membantu Jaejoong menata menu sarapan.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Luhan to the point. Wajahnya merengut kesal, ia masih marah pada Sehun karena sudah membuang bekal kemarin.
"Yak! Kim Luhan! Kenapa bertanya seperti itu? Memang kenapa kalau Sehunie ada disini?" omel Jaejoong pada putranya. Membuat Luhan mempoutkan bibirnya. Kenapa ibunya malah mengomelinya? Dan apa itu? Sehunie??!!
Sehun sendiri diam-diam tersenyum geli melihat ekspresi Luhan. Mata si cantik tak lepas menatap kesal padanya, yang entah sejak kapan menjadi hal paling menyenangkan baginya. Mungkinkah ini alasan Sehun kenapa selama ini selalu menggangu Luhan? Entah lah, yang jelas ia menikmati bagaimana si mungil itu melotot tajam padanya.
"Ayo Sehunie! Jangan malu-malu!" ramah Jaejoong membuat Luhan makin memanyunkan bibirnya, berfikir kenapa ibunya bisa semanis itu pada Sehun?
"Terima kasih, Joongie Oemmonie." ucap Sehun ramah dan sopan. Hal itu makin membuat Luhan menganga. Sejak kapan seorang Oh Sehun bernada bicara semanis itu?
"Ayo Lu...! Sarapan sekarang, atau kau akan terlambat!" tegur Jaejoong pada putra cantiknya.
Luhan merungut sembari melirik tajam Sehun dan duduk dilantai berkarpet lembut disamping Oemmanya. Jaejoong sepertinya tidak menyadari ada dua orang yang saling melempar tatapan sementara namja cantik itu sibuk menyendokan nasi ke tiga mangkuk.
"Makan yang banyak, Ok!" ujar Jaejoong ramah pada Sehun seraya menyodorkan mangkuk pertama pada namja tampan itu. Ia sungguh senang sekali, karena teman Luhan datang bermain kerumah untuk pertama kalinya. Itu tandanya Luhan memilikk teman disekolah.
"Terima kasih, Oemmonie..!" ucap Sehun sambil sesekali melirik Luhan yang sedang kesal.
"Tidak masalah! Anggap saja seperti rumah sendiri, Sehunie! Oemmonie senang ada teman Luhan yang bermain kemari. Oh ya... apa bekal kemarin kau menyukainya?" semangat Jaejoong yang membuat Luhan tertegun.
Luhan tidak mengatakan kalau Sehun membuang bekal buatan Jaejoong di sekolah. Tidak! Dia tidak akan tega melihat wajah sedih ibunya! Ia memandang Sehun yang melirik nya sekilas. Ada jeda sebelum Sehun menjawab yang membuat Luhan cemas.
"Sangat enak, Oemmonie..! Terima kasih, tapi Oemmonie tidak perlu repot-repot sebenarnya." jawab Sehun yang sukses membuat Luhan menganga entah untuk yang keberapa kali pagi ini.
Di satu sisi Luhan bersyukur Sehun tidak mengatakan ia membuang bekal kemarin, hal itu membuat senyum Jaejoong makin terkembang. Namun, disisi lain ia kesal juga dengan wajah penuh kebohongan Sehun. Sebenarnya ada maksud apa namja jahat itu pagi-pagi ini sampai datang kerumahnya? Luhan perlu siaga 1 kalau begini, entah apa yang akan Sehun lakukan padanya nanti!
Sarapan dilanjutkan tanpa keikutsertaan Luhan dalam obrolan pagi antara Jaejoong dan Sehun. Dan Luhan bersyukur setidaknya jam menuntut mereka untuk selesai secepatnya. Jaejoong memberikan 3 bekal seperti kemarin kepada Luhan sebelum dua namja itu pamit ke sekolah.
Setelah mereka keluar dari pintu, Luhan segera mempercepat langkah kakinya meninggalkan Sehun dibelakang. Melihat hal itu Sehun segera menyusul namja mungil, sang Omeganya.
"Hei! Tunggu aku!" tahan Sehun menggapai pergelangan tangan Luhan.
"Lepaskan!" dingin Luhan. Namja mungil itu mendekap tas bekal miliknya ke dada.
"Kau mau kemana?" tanya Sehun aneh.
"Tentu saja ke sekolah!" Dasar bodoh! tambah Luhan dalam hati.
"Kau ikut aku!" titah Sehun kembali dengan ekspresi andalannya.
"Kenapa aku harus? Aku mau berangkat ke sekolah! Lepaskan aku!" tolak Luhan kesal, tanpa sadar memasang wajah manyun menggemaskan miliknya.
"Aku juga mau ke sekolah, bodoh!" timpal Sehun yang makin membuat Luhan kesal.
"Kalau begitu pergilah! Kenapa kau malah menahan tanganku?" rutuk Luhan sebal.
"Kau ikut mobilku!" titah Sehun lagi yang sukses membuat Luhan menganga tak percaya. Seorang Oh Sehun yang tiba-tiba muncul dipagi hari di rumahnya, lalu menawarkan tumpangan dengan mobil? Tidak menawarkan juga sih, tapi ini sangat aneh! Apa Sehun baru saja terhantuk tembok hingga otaknya bergeser?
"Aaish...! Kau lama!" rutuk Sehun seraya menarik tangan Luhan menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari rumah Luhan.
Luhan ingin protes, namun begitu melihat siluet bayangan Jaejoong yang mengintip mereka dari kaca jendela rumah, membuat Luhan bungkam. Ibunya hanya tahu bahwa Sehun adalah teman baik hati yang telah menolongnya. Bukan Oh Sehun brengsek kejam yang suka membully nya disekolah!
Blam!
Pintu mobil tertutup dengan Sehun yang sudah stand by di kemudi. Mobil melaju meninggalkan rumah Luhan, dengan dua orang yang saling diam di dalamnya.
Luhan menoleh terus kejendela, memepet tubuh kecilnya ke pintu dan membuat jarak sejauh mungkin dengan Sehun. Melihat itu membuat Sehun geli sendiri. Luhan seperti anak kecil yang sedang merajuk sekarang.
"Pasang sabuk pengamanmu!" perintah Sehun masih dengan fokus menyetirnya.
Luhan dengan kesal memasang sabuk pengaman miliknya dan kembali menatap ke arah luar.
Begitu mereka tiba parkiran Sekolah, Luhan merutuki Sehun didalam hati. Lihatlah betapa ramainya siswa yang baru datang saat ini! Dan mereka akan melihat Luhan turun dari mobil Oh Sehun sekarang!
"Ada apa? Kau masih ingin disini?" tanya Sehun heran.
"Mereka akan bertanya-tanya,... tentang, kenapa aku bisa satu mobil denganmu." lirih Luhan dengan kepala menunduk.
"Lalu?" ujar sehun datar dengan menaikan sebelah alisnya. Luhan tidak menjawab, alih-alih namja mungil itu meremas jemarinya, tanda ia gugup. Debaran jantung Luhan tengah menggila sekarang, dan itu terjadi sejak ia satu mobil dengan Oh Sehun.
"Jawab pertanyaanku, Kim!" titah Sehun lagi yang membuat Luhan kembali kesal.
"Kenapa kau selalu bicara seolah-olah aku adalah bawahanmu? Kau juga terus menggangguku! Datang pagi-pagi ke rumahku! Apa kau sedang merencanakan sesuatu? Ku mohon Sehun sii, aku sedang tidak ingin dikerjai hari ini!" lelah Luhan. Dan ia tidak berbohong!
Sehun menghela nafas sejenak lalu memilih keluar duluan dari mobil. Luhan makin terkejut saat dengan santainya Sehun membukakan pintu disamping Luhan di saat semua orang memandang ke arah mereka.
"Keluarlah!" titah Sehun lagi, namun kali ini dengan nada sedikit lunak. Luhan sampai heran dibuatnya!
"Cepatlah! Kau mau kita terlambat masuk kekelas ha?" kesal Sehun membuat Luhan mau tak mau keluar juga.
"Sejak kapan kau peduli jika terlambat?" dumel Luhan yang mampu didengar Sehun.
Semua orang memandang ke arah keduanya. Seakan Luhan dan Sehun adalah alien yang terdampar ditengah kota.
"Jika kau tak ingin banyak di tanya oleh mereka, maka ikuti aku!" bisik Sehun di telinga Luhan. Hal itu membuat wajah Luhan memanas, hingga ia tidak mempedulikan gerutuan kesal para yeoja penggemar Sehun.
Keduanya berjalan beriringan menuju ruang loker, dengan Luhan yang menyimpan sejuta tanya di kepalanya. Sementara itu Sehun masih dengan ekspresi andalannya, dingin dan tidak peduli. Padahal bisik-bisik yang menggunjingkan keduanya menjadi latar setiap langkah kakinya.
"Apa yang sedang kau rencanakan, Oh Sehun?" tanya Luhan setelah menutup pintu loker miliknya, menyimpan bekal didalam sana.
Sehun hanya diam cuek berdiri disamping Luhan.
"Ku mohon! Aku sudah katakan padamu, kalau aku sedang tidak enak badan, jadi untuk kali ini saja..."
"Apa kau merasa aku akan mengganggumu?" ujar Sehun sinis membuat Luhan muak melihat wajah itu.
"Kau dan aku tidak pernah sedekat ini! Dan kau tiba-tiba datang untuk sarapan pagi bersama aku dan ibuku, setelah kemarin kau membuang bekal pemberiannya begitu saja! Apa aku tidak harus menaruh curiga padamu yang setiap hari selalu menggangguku?" ujar Luhan mengeluarkan unek-unek dikepalanya.
"Itu karena kau tidak mau menjadi tutorku dan kau selalu melawan semua perkataanku!" jawab Sehun datar dan menatap lurus pada mata bening omeganya.
"Kau 'memerintahku' bukannya 'memintaku', asal kau tahu! Belajarlah sedikit untuk menghargai orang lain!" kesal Luhan. Sehun malah tersenyum sinis.
"Apa aku tidak boleh meminta imbalan karena sudah menolongmu? Perlu ku ingatkan lagi kah peristiwa kau yang hampir dikerjai para preman itu, Kim Luhan?" seringai Sehun menyebalkan. Luhan tertegun sejenak, lalu tiba-tiba pipinya merona mengingat saat ia di tolong Sehun, lalu Sehun yang mendekapnya dan menggendongnya sampai ke rumah. Astaga Kim Luhan! Apa yang kau pikirkan!
"Aku hanya menuntut balas budi darimu." tambah Sehun santai seraya diam-diam terkekeh dalam hati melihat rona pink di pipi omeganya.
"Kau tidak ikhlas!" rutuk Luhan kesal dan entah kenapa ia berani merutuki Sehun.
"Terserah... Aku akan terus membututimu sampai kau mau menjadi tutorku!" balas Sehun santai namun menekan.
"Kau benar-benar menyebalkan! Kemana perginya semua uangmu sampai membayar guru privat saja kau tak mampu?" kesal Luhan.
~hurt~
"Kenapa kau masih membiarkan oemma mu memberika bekal pada Sehun lagi, Kim Luhan?" kesal Baekhyun ketika dua namja manis itu sedang menghabiskan makan siang keduanya di taman tempat biasa.
"Mau bagaimana lagi Baekie... Oemma tidak tahu kalau Sehun sudah membuang bekalnya kemarin. Aku tidak mau membuat oemma sedih." jawab Luhan lesu.
"Tapi apa kau tidak melihat bagaimana ekspresinya tadi?" geram Baekhyun mengingat betapa angkuhnya Oh Sehun meminta bekal miliknya pada Luhan dan berlalu begitu saja tanpa ucapan terima kasih. Oh ingatkan Baekhyun untuk tidak boleh mengupati orang karena saat ini baekhyun ingin sekali mengupati Sehun!
Luhan hanya menghela nafas lesu, pusing sekali memikirkan Oh Sehun dan segala kelakuannya!
"Astaga, Lu!" seru Baekhyun heboh seraya menarik pergelangan tangan kanan Luhan.
"Tandamu..."
Luhan menoleh melihat punggung tangannya dan terkejut melihat tanda mate nya sudah terlihat lebih jelas.
"Tanda ini memang semakin jelas, namun aku tak terlalu memperhatikannya." jawab Luhan.
"Astaga Lu! Kau harus tau, tandamu berubah sedikit gelap! Apa kau tahu artinya?" tanya Baekhyun heboh. Luhan menggeleng pelan.
"Kau sudah bertemu mate mu dan melakukan kontak fisik dengannya!" seru Baekhyun heboh.
Luhan mengernyit heran, membuat Baekhyun sadar kalau hal ini terlalu awam bagi sahabatnya.
"Bagini! Tanda di tangan omega akan semakin gelap warnanya saat melakukan kontak fisik dengan mate nya meskipun kita belum terikat. Tanda ku juga seperti ini dulunya saat Channie menciumku pertama kali!" jelas Baekhyun dengan pipi merona.
"Tapi tidak ada yang menciumku, Baek!" sanggah Luhan.
"Kontak fisik bukan berarti berciuman Luhan! Berpelukan juga masuk kontak fisik! Astaga! Apa kau kemaren sudah memeluk seorang namja alpha dan kau tidak sadar kalau ia lah alphamu?" heboh Baekhyun, namun Luhan menggeleng lagi dengan ekspresi bingung menggemaskannya.
"Kau selalu memeluk ku setiap hari, Baek!"
"Aku Omega Kim Luhan!" rutuk Baekhyun sebal.
"Pikirkan siapa alpha yg pernah memelukmu atau melakukan kontak fisik denganmu!" tambah Baekhyun.
Dan seketika wajah Luhan memucat. Astaga...!! Ini pasti tidak mungkin!
Luhan segera bangkit dari duduknya dan tiba-tiba berlari meninggalkan Baekhyun yang melongo melihatnya.
~hurt~
Jaejoong memasuki ruang staff setelah berganti shift dengan rekannya didapur. Namja cantik itu tersenyum mendapati boss mereka tengah duduk termenung di sofa dengan wajah lelah.
"Hei Hyunnie! Kau ada masalah? Wajahmu lelah sekali." sapa Jaejoong sambil duduk di samping Hyunjoong. Namja beta itu tersenyum tampan pada Jaejoong, namun tak bisa menutupi rasa lelahnya.
"Sedikit Joongie.." ujar Hyunjoong pelan.
"Kau boleh ceritakan padaku.." tawar si cantik. Hyunjoong tersenyum lembut pada namja yang diam-diam ia puja.
"Ada seorang konglomerat kaya yang berniat membeli restorant ini dengan harga mahal pada pemilik tanah. Dan aku tidak bisa memperpanjang kontrak untuk setahun kedepan." jawab Hyunjoong lemah. Jaejoong tertegun sejenak mendengarnya.
"Apakah itu artinya kau harus menutup reastoran ini?" tanya Jaejoong lirih. Ia jadi ikut sedih, karena bagaimana pun di restoran inilah ia mencari makan dan biaya sekolah putranya.
"Sebenarnya aku tidak perlu menutup restoran kita. Kita hanya perlu mencari tempat baru. Namun itu tidak lah gampang, kau tahu? Kita perlu memperhitungkan segalanya." jelas Hyunjoong lembut ketika melihat raut wajah Jaejoong yang berubah sendu.
"Pasti kau bisa Hyunie! Aku tidak pernah bertemu orang yang sangat pintar selain dirimu, kau adalah boss kami yang hebat!" ujar Jaejoong memberi semangat, membuat namja tampan itu terkekeh melihatnya.
"Hmmm.. Yang penting kalian jangan khawatir! Aku akan mengusahakan yang terbaik untuk restoran ini dan seluruh karyawannya." janji Hyunjoong. Jaejoong tersenyum lembut pada namja tampan itu.
"Maaf boss! Ada sekolompok namja yang memaksa kita mengosongkan restoran hari ini juga!" seru seorang staff yang tiba-tiba datang dengan nafas yang tersengal-sengal.
Hyunjoong langsung bangkit di ikuti Jaejoong di belakang. Mereka turun kebawah, dan suasana terlihat mencekam dengan banyaknya orang-orang yang terlihat seperti preman.
Namun langkah Jaejoong langsung terhenti saat matanya tepat berpandangan dengan sepasang mata tajam musang yang terlihat dingin dan dikelilingi oleh para anak buahnya. Seketika bayangan masa lalu pahit itu terputar kembali seperti kaset.
"Jung...Yunho..."
Tbc
Huwaaaa... maafkan rin kalau pendek dan ngebosenin! rin lagi buntu soalnya...TT
belom lagi typo bergentayangan dimana-mana...
Oh iya... rin mau ngucapin "SELAMAT YA PACAR-PACARKUH!! URI EXO JJANG!". Terharu banget liat mereka dapat daesang m4ma walau pun banyak sekali intrik!!
Oke deh, plis reviewnya ya readers.. muah muah muah
XOXO
