"Kita sudah sampai, nona.." ucap seorang pria paruh baya yang berada di kursi kemudi mobil sedan mewah itu.

Seorang gadis cantik membuka matanya dan menoleh sejenak keluar jendela.

"Ini sekolah Anda. Jadwal hari ini hanya sekedar berkeliling dan melihat-lihat, nona!" lanjut pria itu lagi dengan nada tenang.

"Hmm.. Aku tahu! Kau tidak usah ikut ke dalam! Aku hanya sebentar!" titah gadis cantik itu lalu membuka pintu tanpa bantuan si pria paruh baya yang merupakan supir pribadinya.

"Selamat bersenang-senang, Nona Kang!"

~Hurt~

Denting tuts piano mengalun lembut, mendendangkan intrumen berjudul 'River Flows In You'. Instrumen yang sangat lembut dan manis, serta terdengar sangat bermakna. Seperti di setiap nada yang terdengar, terdapat arti yang begitu dalam.

Luhan tertegun,bersembunyi dibalik pintu ruang musik. Niat hati ingin masuk dan menginterogasi Oh Sehun, namun yang ada ia malah kehilangan nyalinya. Oh Sehun dengan segala hal yang ia punya, sekarang tengah memainkan instrumen indah itu menggunakan piano sekolah. Mau tidak mau Luhan harus mengakui betapa nyaris sempurna nya seorang Oh Sehun, jika sikap nya sedikit lebih baik.

Luhan menoleh pada punggung tangan kanannya. Tanda mate yang ia miliki semakin jelas. Bahkan entah kenapa, jantung Luhan berdebar begitu keras setiap mengusap tanda itu. Dan satu hal yang baru ia sadari membuat Luhan takut menghadapi nasalah yang akan datang. Sungguh Luhan tidak ingin apa yang ia bayangkan terjadi. Tidak mungkin Sehun adalah alpha yang ditakdirkan untuknya!

"Apa yang kau lakukan disana, sampah?" ujar Sehun tiba-tiba membuat Luhan terperanjat kaget.

Bagaimana ia tidak kaget, kalau saat ini Oh Sehun tiba-tiba sudah berada disampingnya dan menatap lekat dirinya! Bukankah tadi namja itu sedang bermain piano didalam sana? Sejak kapan ia selesai dan sekarang berada disampingnya?

"Yak! Kau mengejutkanku!" kesal Luhan tanpa sadar mengerucutkan bibirnya, tanda ia kesal. Sementara Oh Sehun hanya menatap datar omega dihadapannya itu.

Perlukah Sehun menjawab betapa wanginya tubuh Luhan sekarang hingga ia bisa mencium aroma si mungil dari seberang gedung sana?

Keduanya tiba-tiba diam dan suasana hening. Memang letak ruang musik yang berada di lantai paling atas membuat sangat sedikit siswa berkeliaran disini, kecuali yang memiliki jadwal klub musik. Namun, keadaan ini malah membuat Luhan seakan tercekik. Ia harus memastikan kecurigaannya, dan pergi sesegera mungkin dari sini.

"Hm.. Sehun sii... aku..."

"Minggir! Aku mau pergi, Sampah!" rutuk Sehun kurang ajar. Luhan menahan amarah dalam hatinya. Sehun dan mulut kotornya yang tak pernah berbicara baik padanya memang menyebalkan.

"Tunggu! Ada yang mau ku pastikan!" tahan Luhan. Sehun mengernyitkan kening, namun seketika terperangah begitu Luhan menyentuh telapak tangan kanannya.

"Yak..! APA YANG KAU LAKUKAN!" bentak Sehun marah, namun terlambat.

Luhan tertegun ditempatnya. Tubuhnya seketika membeku, dan jantungnya berdebar kuat. Benarkah apa yang ia lihat? Tanda yg ada pada tangan sehun sangat mirip dengan dirinya. Apakah itu berarti...

"Kau..."

Luhan tak dapat melanjutkan perkataannya. Ia terlalu shock mendapatkan kenyataan.

"Apa istimewanya? Kau tidak perlu terkejut seperti itu!" ujar Sehun santai sambil melipat lengannya arogan. Ia menyeringai pada si mungil, membuat omega itu menggigil entah kenapa.

"Ku tegaskan padamu, sampah! Sekali pun tanda ini ada padamu, aku tidak akan pernah memilihmu! Kau tahu, aku tidak berminat pada kasta rendah menjijikan sepertj kalian!" lanjut Sehun dengan lidah berbisanya. Air mata Luhan entah kenapa menetes begitu saja, ia menundukan kepalanya. Tidak mau menatap wajah tampan Sehun yang tengah menatap tajam dirinya.

"Jadi jangan bermimpi untuk bisa berdiri bersamaku, bodoh!" ejek Sehun kejam.

Luhan menghela nafas kasar, lalu mengangkat wajahnya. Mengumpulkan keberanian miliknya untuk menatap mata tajam Sehun saat ini.

"Aku juga tidak mau memiliki alpha seperti mu, Sehun sii! Baguslah jika seperti ini dari awal, karena kita bisa membuat kesepakatan!" ujar Luhan dengan suara sedikit serak. Hatinya entah kenapa pilu menerima kenyataan. Pupus sudah khayalannya memiliki alpha yg kelak bisa melindungi dan mencintainya seumur hidup.

"Oh ya? Kesepakatan apa?" jawab namja itu remeh. Dan Luhan bersumpah menahan niatnya untuk menendang Sehun saat ini juga!

"Kita tidak akan menjalin ikatan! Selama-lamanya tidak akan pernah! Dan aku akan menghapus tanda mate milikmu ini, jika suatu saat aku menemukan orang yang tulus mencintaiku!" tegas Luhan dengan nada tenangnya, walau entah kenapa hatinya berkecamuk sekarang.

"Memang kau siapa? Berani sekali kau?" sinis Sehun dengan senyum menyeringai miliknya.

Jantung Luhan berdebar aneh, nafasnya makin tercekat saat Sehun tiba-tiba mendekat dan mengurungnya di antara dinding dan tubuh kekar milik namja bermulut pedas itu.

"Aku memang tidak akan pernah bisa menerimamu sebagai mate ku! Tapi apa kau pikir aku cukup bodoh untuk melepaskanmu begitu saja?" desis Sehun tepat ditelinga Luhan, dan Luhan bersumpah saat ini kedua kalinya melemas seketika. Aroma tubuh Sehum ternyata sangat memabukan, mengingatkan ia pada kejadian beberapa hari lalu, saat Sehun menggendongnya.

"Sadarlah, Omega bodoh! Kau pikir untuk apa kalian ada? Tentu saja untuk menjadi budak seks bagi kami!" desis Sehun lagi yang membuat Luhan terbelalak. Mata doe miliknya menatap tak percaya pada Sehun.

"Apa yang kau katakan, bajingan!" desis Luhan marah. Namun Sehun hanya tersenyum remeh dengan wajah yang begitu dekat dengan wajahnya. Bahkan Luhan bisa mencium aroma mint dari mulut alpha itu.

"Perlukah aku mengulangnya? Kau akan menjadi BUDAK SEKS MILIKKU!"

PLAAAK...!!!

Sehun terperangah, merasakan pipinya memanas. Apa baru saja ia ditampar? Oleh Luhan?

"Kau dan mulut sialanmu yang kurang ajar! Kau pikir kau siapa? Tuhan?" bentak Luhan marah.

"Kau menamparku.." lirih Sehun tak percaya.

"Memang kenapa? Anggap saja itu cara untuk membersihkan jalan pikiranmu yang kotor dan tak berperasaan hingmmhp..."

Benda kenyal itu tiba-tiba memagut bibir Luhan. Menghentikan perkataan si mungil yang terbelalak sembari memukul-mukul dada Oh Sehun yang sedang melumat bibirnya.

"Hmmph... lepmm..lepas...Sialanmmh..."

"Akh.."

Luhan mengernyit perih saat gigi tajam alpha itu malah menggigit bibirnya lalu mengulum kasar hingga lelehan saliva menetes dari sudut bibir Luhan. Kaki Luhan melemas, dan ia hanya bisa mencengkram kemeja depan Sehun agar bisa seimbang.

Sehun sangat buas memakan bibirnya, hingga tidak peduli pada Luhan yang sudah memukul-mukul dadanya karena kehabisan nafas.

"Ugh... Se..mm .. hun.."

Wajah Luhan yang memerah membuat Sehun mau tak mau melepas bibir menggoda itu dari kulumannya, dan secepat kilat menahan pergelangan tangan Luhan yang ingin menamparnya, dan juga menahan kaki si mungil yang ingin menendangnya. Membuat Luhan sadar bahwa kekuatan miliknya tidak sebanding dengan alpha dihadapannya.

"Kau..hah..hah...BAJIANGAN!" bentak Luhan marah. Wajahnya memerah sampai ke telinga, namun hal itu hanya ditanggapi dengan seringaian oleh Sehun.

"Dan Selamat karena bajingan ini adalah pemilikmu, Omega!" sahut Sehun kejam, lalu kembali menyerang bibir menggoda itu. Luhan kembali meronta, namun apa daya. Sang Dominan menunjukan taringnya karena Luhan yang telah berani menantangnya.

~hurt~

Hyunjung merasakan aura mencekam diruang kerja kecil miliknya sendiri. Padahal biasanya, suasana restoran ini hangat dan menyenangkan. Namun entah kenapa, hanya karena keberadaan seorang Jung Yunho merubah itu semua.

Ia merasa tengah duduk dihadapan seorang raja sekarang. Karena siapa yang tidak mengenal alpha kuat ini? Hampir 40 persen seluruh kegiatan ekonomi di korea berada dibawah bendera MJ Group. Dan yg paling mengherankan lagi adalah ada kepentingan apa sampai sang 'Raja' menjajakan kaki di restoran kecil milik Hyunjung ini?

Suara ketukan pada daun pintu mengalihkan perhatian Hyunjung pada Sora, yeoja yang merupakan salah satu staff nya. Gadis manis itu masuk membawa dua cangkir kopi dan langsung menghidangkannya di atas meja. Tanpa pikir panjang yeoja itu pamit, karena merasa tidak nyaman dengan suasana tegang di ruangan boss nya.

"Silahkan diminum, tuan Jung! Walaupun restoran kecil, tapi kopi kami terkenal didaerah ini." ramah Hyunjung. Namun Yunho hanya melirik kopi itu dengan dingin, tanpa niatan untuk meminumnya.

"Tidak perlu berbasa-basi. Ada beberapa hal yang ingin ku bicarakan denganmu!" ujar Yunho tenang seraya menyandarkan punggungnya lebih santai.

"Benarkah? Wah..pasti penting sekali sampai orang seperti anda sampai menemuiku sendiri." jawab Hyunjung sedikit berkelakar, namun tidak ditanggapi Yunho.

"Kau tahu, aku sudah membeli tanah beserta bangunan kompleks toko daerah ini. Dan aku ingin semuanya menyingkir secepatnya dari milikku!" kata Yunho tenang namun tegas. Mata tajamnya menatap lurus pada beta dihadapannya.

"Saya tahu! Tapi untuk mencari lokasi baru bukan hal yg gampang tuan. Kami perlu observasi terlebih dahulu. Dan saya meminta waktu pada tuan Jung sedikit saja, untuk mengurus kepindahan kami." jelas Hyunjung mencoba bernegosiasi. Yunho menatap datar sejenak padanya.

"Kau tidak perlu pindah sebenarnya." ujar Yunho ringan. Hyunjung mengernyit heran.

"Maksud anda?"

"Kau tidak perlu menutup tempat usahamu, karena aku sedikit berminat pada restoran mu ini." jawab Yunho yang seketika mendatangkan ekspresi cerah di wajah Hyunjung. Demi apa! Seorang Jung Yunho tertarik pada restorannya? Apakah itu berarti ia ingin berinvestasi di restoran ini?

"Maksud anda,.. Anda ingin menanam saham anda untuk restoran kecil kami?" tanya Hyunjung memastikan.

"Yah... Kurang lebih seperti itu. Sedikit suntikan dana dariku bisa membuat restoran ini lebih besar dan bisa melayani para tamu kalangan atas." jawab Yunho santai dengan tampang datarnya.

"Benarkah begitu? Saya sangat senang tuan! Tapi kenapa anda tiba-tiba berniat bekerja sama dengan restoran kecil kami?"

Suasana hening sejenak. Hyunjung merasa salah bicara karena kini Yunho melirik tajam dirinya.

"Apapun yg aku lakukan pada uang ku bukan urusan mu, Hyunjung sii!" tegas Yunho yang membuat nafas Hyunjung tercekat.

"Maaf! Bukan maksud saya begitu tuan! Saya hanya..."

"Cukup kau panggilkan Kim Jaejoong ke hadapanku sekarang!" titah Yunho bak raja.

Hyunjung sangat heran mendengarnya. Ada hal apa sampai Jung Yunho memanggil Jaejoong, dan yang terpenting adalah kenapa konglomerat itu ingin bertemu Jaejoong? Beribu tanya dikepalanya, namun ia tetap mengangkat ganggang telfon kantor yang tersambung keruang staff.

"Joongie...! Bisakah kau keruanganku sebentar?"

~hurt~

Suasana dapur restoran kecil itu kelihatan sibuk. Para koki dan staff bolak balik meracik menu dan menyajikannya ke piring saji. Walaupun restoran kecil, namun yang mengunjunginya sangat banyak. Apalagi menjelang makan siang seperti sekarang ini.

Belum lagi peristiwa datangnya tamu 'istimewa' yg mendadak muncul, membuat semua orang mendadak menjadi tegang.

"Ada apa ya? Kenapa seorang 'Jung Yunho' tiba-tiba muncul di restoran kita?" ujar Shindong sambil memotong lobak di hadapannya.

"Entahlah! Orang seperti dia pasti punya urusan yang sangat penting dengan boss, sampai harus datang kesini secara langsung!" imbuh Eunhyuk yang sedang menyandar santai di samping shindong.

"Bahkan sedari tadi mereka belum keluar dari ruangan itu! Oppa tahu? Aku bahkan harus melewati penggeledahan para pengawal Jung Yunho hanya untuk mengantarkan minuman ke ruangan boss!" seru Bora ikut menimbrung. Gadis itu duduk di salah satu bangku plastik yg memang tersedia untuk staff yg ingin rehat sebentar.

"Apa pun itu, ku harap tidak ada hal buruk yg terjadi!" ujar Eunhyuk.

"Aw..!!"

Semua perhatian tiba-tiba tertuju pada namja cantik yg meringis kesakitan sambil memegangin jari telunjuk kirinya yang berdarah. Sontak saja Bora yang paling dekat segera menyambar tisu dapur didekat.

"Joongie Oppa/hyung!"

Jaejoong meringis ngilu karena ujung jarinya yang tergores. Bora langsung menyeka darah yg menetas dari jari namja cantik itu, sementara Eunhyuk segera menuju kotak obat yg sengaja tersedia di dapur untuk keadaan tak terduga seperti ini.

"Cepatlah Hyukie!!" seru Shindong mulai panik, ia tak tahan melihat darah ngomong-ngomong.

Eunhyuk segera membawa kotak itu dan meletakan nya di atas meja pantri dapur.

"Akh..." rintih Jaejoong saat Bora membimbing jarinya menuju kran air yg mengalir.

"Tahan oppa! Kalau tidak di cuci bisa infeksi!" ujar Bora tenang. Jaejoong hanya mengangguk patuh walau jelas di wajahnya kalau luka ini lumayan perih.

"Makanya kalau sedang memegang pisau jangan melamun Jongie! Aku hampir pingsan melihat darahmu!" omel Shindong yang hanya ditanggapi diam oleh si cantik.

Eunhyuk menyerahkan obat merah dan luka pada Bora, dan gadis itu meneteskan obat tersebut dan memasang penutup luka du jari lentik itu.

"Terimakasih.." lirih Jaejoong pelan. Wajahnya entah kenapa memucat. Hal itu membuat teman-temannya merasa aneh.

kriing...kriiing...kriing...

telfon dapur berdering tepat di dekat Jaejoong berdiri. Namja cantik itu mengangkat ganggang telfon tersebut sebelum menjawabnya.

"Ya boss..."

"Jongie...! Bisakah keruanganku sebentar?"

Jantungnya seketika berdebar keras mendengar permintaan Hyunjung dari ruangannya. Karena Jaejoong tahu siapa sekarang yg juga berada dalam ruangan itu!

"Jongie?"

Jaejoong menghela nafas pendek sejenak lalu menjawab.

"Ok... Aku akan kesana sekarang!"

Di letakannya ganggang telfon ketempat semula. Dan ia mendapati Bora, Eunhyuk dan Shindong memandang lekat dirinya. Walau sulit ia mencoba tersenyum.

"Aku harus keruangan boss..." ujar Jaejoong seraya tersenyum.

"Kau yakin baik-baik saja Jongie?" tanya Shindong khawatir.

"Kalau kau lelah, biar aku yg menggantikanmu ke ruangan boss, Hyung!" tawar Eunhyuk yg juga sama khawatirnya. Namun Jaejoong menggeleng pelan lalu memasang senyum manis di wajahnya.

"Jariku hanya sedikit tergores pisau! Aku masih bisa berjalan dan bekerja Hyukie!" tolak Jaejoong halus.

"Kau yakin?" sangsi Shindong dan si namja cantik mengangguk semangat.

"Jjaa..."

Jaejoong melangkah pelan keluar dapur meninggalkan teman-temannya yang memandangnya khawatir.

"Jae oppa sedikit aneh, wajahnya pucat..." lirih Bora yang diangguki Eunhyuk.

~hurt~

Jaejoong menghela nafas panjang sebelum mengetuk pintu ruangan Hyunjung. Jantungnya berdebar dengan tidak nyaman sekarang, nyaris membuatnya sesak nafas, namun cepat atau lambat hal ini pasti harus ia hadapi.

Tok tok tok

Setelah mengetuk ia membuka pintu itu pelan dan melangkah masuk, dan saat itu juga matanya bertemu dengan mata musang itu. Mata yang dulu selalu membawa kedamaian untuknya, namun sekarang membawa rasa benci yg sedalam-dalamnya.

"Anda memanggil saya, Boss?" tanya Jaejoong sopan seraya mrngalihkan pandangan matanya pada Hyunjung.

"Wajahmu pucat, Jongie! Kau sakit?" seru Hyunjung spontan begitu melihat wajah pucat Jaejoong. Hingga ia tak sadar seberapa tajam manik musang itu memandang padanya dengan tajam.

"Aku baik-baik saja boss! Ada perlu apa anda memanggilku?" jawab namja cantik itu lembut pada Hyunjung.

"Ah... tuan jung bilang ia ingin berbicara sebentar denganmu. Aku tak menyangka kalian saling mengenal, Jongie." jawab Hyunjung seraya tersenyum sopan pada Yunho yang diam mengamati di tempatnya.

"Baiklah... Aku tinggal kalian sebentar!" ujar Namja tampan itu seraya bangkit dari sofa yang ia duduki.

Blam..!!

Suasana hening seketika. Jaejoong terus diam dan menundukan kepalanya, memasang ekspresi datar tanpa mau kembali memandan 'mantan' kekasihnya. Sementara mata Yunho sejak tadi tak lepas memandang namja cantik paling yg paling ia inginkan didunia ini dengan tatapan tajamnya.

5 menit berlalu namun tak ada yg mau membuka mulut untuk bicara, hingga akhirnya Jaejoong muak dan memilih ingin keluar. Ia sudah memegang gagang pintu tepat saat suara berat itu menahan gerakannya.

"Kau keluar, kedai kecil ini ku ratakan detik ini juga!" ancam Yunho dingin.

Jantung Jaejoong serasa berdebum kuat hingga genggaman tangannya menggigil.

Tap...tap...tap...

Suara langkah kaki dibelakangnya terdengar begitu nyaring di telinga namja cantik itu, tzsss begitu sepasang lengan kokoh memeluk pinggang sempitnya, mendekapnya begitu kuat.

"Lepaskan aku!" lirih Jaejoong dingin. Namun Yunho hanya diam, ia semakin mendekap tubuh mungil yg dulu selalu membuatnya tenang, bahkan sekarang.

"Lepaskan Aku!!" lirih Jaejoong mulai muak. Ia mencoba melepas lengan kuat itu, namun dekapan itu tak mudah di lepas.

"LEPASKAN AKU BAJINGAN!" bentak Jaejoong muak seraya memukul-mukul lengan itu.

"Aku merindukanmu..." lirih Yunho sebelum melepaskan lengannya.

Jaejoong termangu sejenak, air matanya ingin mengalir namun ia tahan sekuat hati.

Jaejoong membalik tubuhnya hingga sekarang keduanya berhadapan dengan jarak yg cukup dekat. Ia menatap Yunho yg memandangnya lekat.

"Katakan padaku apa maumu?" ujar Jaejoong dingin. Tak ada senyum manis di wajah cantiknya sekarang, bahkan wajah pucatnya seakan memberi kesan seperti mayat diwajahnya.

"Aku merindukanmu!" jawab Yunho sama. Namja tampan itu kembali ingin memeluk si cantik, tapi Jaejoong memilih mundur hingga punggungnya menabrak pintu.

Yunho tertegun melihat ekspresi namja cantiknyaBukan ekspresi marah yg ia dapatkan dari wajah pucat itu. Melainkan raut wajah terluka dalam, dan hal itu seakan menyadarkannya. Bahwa reaksi Jaejoong tak sama lagi seperti dulu! Dan semua itu adalah kesalahannya!

"Apa mau mu, tuan? Maafkan ucapan tak sopan saya, tapi sikap Anda membuat saya risih!" ujar Jaejoong lirih, namja itu menatap lelah pada manik musang Yunho.

Lidah Yunho kelu seketika. Ia ingin mengatakan semua yg ia pikirkan, namun mulutnya tak mau bersuara. Jaejoong yg seperti ini seakan membuat seluruh saraf nya lumpuh.

"Jika tak ada yg mau anda bicarakan, saya mohon diri!" ujar Jaejoong pelan.

Dan untuk sekian kali nya Yunho hanya tertegun di tempatnya. Jaejoong benar-benar sudah keluar dari ruangan itu, meninggalkan Yunho yg terpaku di tempatnya.

Yunho merasa tertampar, hingga ia tadi sadar...

Bahwa aroma mate nya tidak lagi sama...

TBC...!

Anyeong readers kesayangan...!!! Maaf banget ya kalo rin telat banget update... hiks...!!

lagi sibuk banget ma kerjaan yg numpuk mulu kagak pernah berkurang!! But... rin usahakan update secepatnya deh...(kayak banyak banget yg nungguin ff lu rin!!! wkwkw)

nah... udah pada ketemu nih yunjae dan lulu dah tahu sehun itu alpha nya!! gimana menurut readers semuanya?? hehehe...

rin bakalan berusaha lebih baik lagi..!!

So... plis reviuw agen yeaw...!!

thank you readers...!!! mmmuuaaach...!!!!