Awalnya semua berjalan baik-baik saja. Aku yang melakukan tugasku sebagai idol bersama 6 member lainnya dimana aku sebagai anggota termudanya. Bahkan terlalu sempurna kurasa hingga aku dapat di juluki emas.

Tak ada yang tak bisa kulakukan, hal itu karena sifatku yang memang tak ingin kalah membuatku hebat dalam segala bidang. Mungkin tak apa jika aku harus menyombongkan diri karena kenyataannya aku memang lebih baik dari para hyungku. kupikir

Empat tahun bukanlah waktu yang sedikit untuk menandakan puncak dari keberhasilan grup kami, tinggal bersama membuat kedekatan kami menjadi layaknya sebuah keluarga. Kasih sayang terus membanjiriku tiap harinya. Mereka memperlakukannku persis seperti seorang adik sendiri, perasaan nyaman yang terus menyelimutiku membuat diriku tumbuh menjadi jeon jungkook yang sempurna.

Setidaknya semua itu kurasakan sebelum mahluk pecicilan dalam tubuhku mulai bertanya tentang sensasi aneh yang membuatnya tak nyaman . benar mahluk itu ialah hatiku yang belum lama ini menjadi begitu tak waras jika ku dekatkan dengan salah satu hyungku.

Kim Taehyung.

.

Sebelum itu, Apa yang kalian pikirkan tentang Kim Taehyung selama ini!

Seseorang yang konyol kah?

Bagaiman dengan kekanakan?

atau si bodoh bangsat yang tampan, mungkin?

Jika memang benar seperti itu, kusarankan sebaikanya untuk lupakan, karena Kim Taehyung yang ku tahu ialah lelaki yang tampan juga imut dalam satu garis, humoris namun berwibawa dalam satu kesatuan, sekaligus misterius namun juga menarik dalam satu waktu.

Ia adalah karya terhebat Tuhan dimataku, tertulang dalam baik setiap puisi, dalam goresan setiap lukisan, juga dalam setiap relief dan ingatan. Taehyung terlalu sempurna jika hanya di gambarkan dengan kata, bahkan walau seribu kata sekalipun. Apa aku terdengar berlebihan? Entahlah karena hanya ketika aku melihat matanya seakan waktu ingin ku berhentikan. Taehyung memiliki mata yang indah. Hitam bagai malam yang dingin namun berbinar layaknya mentari yang hangat, hidung mancung juga bibir lelaki itu yang menjadikannya seakan semakin tak nyata. Jangan lupakan rambut yang menutupi mata pria itu yang belum lama ini berganti warna menjadi silver, haruskah ku deskripsikan lagi tentang betapa menawan dan mempesonanya seorang Kim Taehyung.

Lalu bagaimana menjelaskan perilakunya selama ini, jika benar begitu bukankah artinya semua kekonyolan yang ia lakukan hanya sebuah kebohongan?

Mungkin? atau juga tidak.

Bagaimana mengatakannya, emm ...seolah-olah ketika itu, Tuhan memang sudah berencana untuk menciptakannya lahir sebagai seorang entertainer.

.

Hatiku yang kini tengah merengek gelisah mengaharapkan keharusan dari sebuah jawaban. Sebenarnya mahluk lain yang lebih pintar dari hatiku tahu jawabannya hanya saja ia takut membuat bagian yang rapuh dalam dadaku ini akan tersakiti. Yah, perasaanku tahu alasan yang menjadikan jantungku berpacu begitu gila layaknya bom yang siap meledak kapan saja dan lagi-lagi hanya apabila semua itu adalah tentang Kim Taehyung.

Cinta.

Satu kata sederhana yang dapat menghapus ratusan tanya namun menghadirkan beribu pilu.

Aku sadar akan semua ini. Perasaan menggelitik yang tak biasa membuncah kegirangan dalam diriku. Apalagi kalau bukan perasaan menjijikan itu. Aku menyukai kim taehyung bukan bahkan mencintainnya yang pada kenyataannya kami berdua ialah seorang lelaki. Seorang idol yang biar bagaimanapun tak akan pernah pantas jika disandingkan.

Aku menyangkal. Ku jelaskan pada hati jeon jungkook bahwa ini hanya perasaan nyaman antara hyung dengan adiknya. Tidak lebih dan takkan pernah namun, logikaku yang kemudian membatah seakan-akan ia tengah membela hatiku. Ia tanya tentang bagaimana menjelaskan hyungku yang lainnya mengapa perasaan nyaman yang ku katakan sebelumnya bisa terasa berbeda jika memang itu hanya sebatas kakak dengan adiknya?

.

.

'Jeon' panggilannya untukku. Mulannya aku baik-baik saja dengan panggilan itu karena pada nyatanya memang tak ada yang aneh akan tetapi, ketika aku mulai mengakui perasaan menjijikan ini entah mengapa aku ingin sebuah alasan hanya karena satu panggilan sederhana, berharap ada makna dari setiap perilaku yang ditunjukkannya padaku.

Aku dikenal sebagai jeon jungkook yang introvert. Ku akui aku memang bukan tipe orang yang banyak bicara bukan karena aku tak suka namun, karena aku tak tahu bagaimana cara memulainya. Dimana semua itu berbeda lagi-lagi hanya ketika aku berhadapan dengan taehyung.

" Hyung" panggilku ragu

" Hmm" balasnya hanya dengan berguman kecil yang terdengar samar tanpa berbalik menghadapku. Ku lihat sepertinya ia sedang sibuk dengan ponsel ditangannya. Aku bersyukur akan hal itu karena mungkin jika ia menatapku sekarang, aku tak akan sanggup untuk kembali berkata.

" mengapa, Jeon? " tanyaku kemudian. Taehyung berbalik pelan menatapku meninggalkan atensi pada ponsel yang sebelumnya lebih menarik bagi lelaki itu. Taehyung terdiam sepersekian detik sebelum balik bertanya.

"apanya?" raut wajah pria itu terlihat bingung di buktikan dari alis yang saling bertaut mendekat menimbulkan dua kerutan pada sisi tengahnya. "panggilan untukku, mengapa Jeon?. Kenapa bukan jungkook atau mungkin kookie seperti yang lain?" pasti terdengar sangat bodoh karena kulihat kedua sudut bibirnya tertarik keatas walau samar. Menggelikan memang. Benar kata orang penyesalan selalu datang di akhir.

" hanya ...tapi Bukankah terdengar lebih seksi, Jeon?" taehyung menjawab dengan menekan kata Jeon diakhir kalimatnya. Tololnya aku, harusnya aku tahu sejak awal bahwa lelaki bodoh itu memang tak pernah serius. Aku yang beberapa menit yang lalu mendambakan sebuah makna yang dalam dari sebuah panggilan yang sekarang kuyakin tanpa arti baginya. Kini malah menambah bahan gurauan lelaki brengsek itu.

"tunggu atau jangan-jangan kau ingin ku panggil,Sayang mungkin?" sudah kuduga, lelaki sialan ini pasti tak akan berhenti sebelum melihatku marah bahkan menangis. Aku tak menjawabnya seperti sebelumnya. Menatap jerah padanya sebelum berbalik dan beranjak pergi namun, bukan kim taehyung namanya bila ia belum mendapatkan yang ia inginkan.

"ahh, aku tahu sekarang panggilan apa yang cocok untukmu, Bunny!" taehyung berkata setengah berbisik ditelinga kiriku sambil mengikuti dari belakang kemudian terbahak ketika melihatku berhenti dan berbalik kesal. Sebenarnya aku tidak benar-benar kesal hanya saja aku sedikit terkejut dan malu secara bersamaan. Tapi, sepertinya taehyung mengartikannya sebagai marah.

Taehyung semakin menggodaku, mencolek-colekkan telunjuknya pada tengkukku dengan bibir yang ia kerucutkan. Menatapku gemas, apa aku terdengar terlalu percaya diri? Namun, yang ku tahu mata tak pernah bohong dan aku melihat itu dimatanya dan juga ku rasa itu wajar. Karena aku memang menggemaskan.

.

.

Aku dan taehyung menjadi semakin dekat, bagai perangko yang tak terpisahkan. Setidaknya Begitulah para hyungku katakan pada kami. Aku juga merasakan perubahan itu, walau sebenarnya tidak beda jauh dari biasanya namun, tetap saja berbeda karena taehyung yang semakin menempel padaku, lelaki bangsat itu terlalu sering menatapku, bukan tatapan biasanya kata jin hyung, salah satu hyungku dimana ia adalah yang paling tua dari kami semua.. namun tatapan intens yang sulit dibaca. Ya tipikal kim taehyung sekali bodoh namun, misterius.

Semakin sering menggenggam tanganku bahkan memelukku, sebenarnya semua itu baik-baik saja jika ia melakukannya sesekali seperti member lainnya sebagai tanda sebuah kasih sayang ataupun setidaknya lagi jika ia hanya melakukannya di dorm, tempat tinggal kami. Namun taehyung bertingkah di hampir setiap keadaan, ketika konser ataupun fanmeeting, lelaki itu tidak segan-segan menunjukan semua perlakuan itu di depan media.

Jika kalian menanyai pendapatku, maka dengan jujur akan ku katakan bahwa aku menyukai perubahan itu. Manusia siapa yang tak suka jika orang yang dicintainnya terus berada di dekatnya. Dan begitu pula yang ku alami.

akan tetapi, Aku terus memperlihatkan wajah dingin seperti biasa. Kesal namun tidak menolak, meperlihatkan gestur biasa saja pada semua afeksi yang taehyung berikan, menjawab dengan jelas pada kedua mataku bahwa yang di lakukannya bukanlah hal spesial karena aku takut jika suatu waktu aku terlihat senang maka ia akan tahu bahwa seorang jeon jungkook menyukai seorang kim taehyung yang dengan jelas –jelas bahwa lelaki itu pasti akan merasa jijik.

.

Semua jadwal untuk hari ini sudah kami lakukan. BTS, begitulah kami disebut. Boy grup yang sepanjang tahun ini terus menuaikan prestasi gemilang hingga ke belahan dunia lain. Maka, kesalahan setetespun selalu dianggap serius oleh manegemen kami. Dituntut agar selalu sempurna, 'manusia tak luput dari dosa' omong kosong karena perkataan itu tidak berlaku dalam kehidupan kami dan juga karena itu BTS dapat berada pada titik sekarang.

Taehyung memasuki kamarku tanpa permisi, menjatuhkan dirinya pada tempat tidur kesayanganku. Aku yang tengah duduk di kursi meja kerjaku tahu bahwa yang datang pastilah kim taehyung walau tak lagi harus membalikkan badan, selain karena lelaki tampan itu memang lebih banyak menghabiskan waktunya denganku juga karena bau badannya yang sudah ku hafal.

"Bulan datang dengan angkuh menggeser matahari yang jelas lebih terang darinnya. Menaklukan malam dengan arogannya padahal ia tak memancarkan cahaya miliknya" taehyung berkata lirih penuh makna. Entah apa yang lelaki itu tengah pikirkan sekarang. Karena bertingkah tak seperti biasanya.

"kalau sudah tahu sekarang malam, mengapa masih kemari?" suaraku terdengar ketus, tipikal jeon jungkook yang biasannya. Jadi jika dipikirkan pasti tidak terdengar aneh namun, karena kim taehyung yang tidak membalas dengan wajar layaknya malam-malam biasanya membuatku merasa bersalah karena berkata.

"lalu bagaimana dengan bintang yang dengan bodohnya mau memberikan cahayanya pada mahluk sombong itu padahal ia tahu bahwa ia begitu kecil di mata bulan sehingga tak akan pernah bisa lebih dari seorang pemberi" taehyung masih melanjuti perkataanya, lelaki tampan ini berbicara dengan tatapan kosong menghadap atap kamarku.

"karena bintang tak ingin sendirian tanpa bulan, di kegelapan malam?" aku masuk dalam pembicaraan taehyung, menjawab asal dengan nada bertanya. Karena takut bila tidak nyambung dengan pemikiran taehyung saat ini. Lelaki itu terdengar lemah sekarang, mungkin ia pernah seperti ini di suatu tempat sebelumnya entahlah yang jelas ini pertama kalinya ia menunjukkan betapa bukan kim taehyungnya dirinya malam ini. Menjadikanku tak tega untuk sekedar melontarkan canda.

"bintangkan banyak, kenapa harus takut. Dasar bodoh !"

Benar kata taehyung, aku yang bodoh karena beberapa menit yang lalu hanyut dalam akting gila lelaki sialan itu, harus berapa kali lagi aku menjadi tolol dihadapan pria satu ini, jatuh pada jurang yang sama begitulah kalimat yang tepat untukku tiap kali berhadapan dengan taehyung.

"keluar!" suara yang kupaksa terdengar tenang, menahan emosi yang tak lama lagi akan meledak.

Taehyung tertawa. Tentu saja baginya kamar jeon jungkook ialah kamar pelepas penat apabila dapat membuat kesal pemiliknya.

Ia berjalan mendekatiku yang tengah duduk di sudut ruangan, sepertinya ia akan memeluku terlihat dari kedua tangannya yang baru saja akan jatuh melingkar di leherku namun, terlepas kembali karena teriakan jimin, dari luar.

"taehyungah. PD-nim memanggilmu" jimin berkata cepat sambil tersengal mengambil napas, sepertinya lelaki itu baru saja berlari.

Taehyung mengiyakan perkataan jimin, kemudian mengusak rambutku manja sebelum benar-benar beranjak pergi.

Tak sampai sepuluh menit dari kepergian Taehyung, aku mendengar seseorang membuka kasar pintu kamarku. Aku baru saja akan berbalik memarahi siapa saja yang masuk tanpa permisi juga tak sopan di tengah malam seperti ini, namun tidak sampai sedetik otakku memproses kejadian malam itu karena, dengan tak warasnya seseorang mendaratkan bibirnya di ceruk leherku tanpa sebuah persetujuan.

Tanpa melihat wajahpun aku tahu siapa pemlik rambut silver dau bau permen mint dibelakangku, menyesap rakus tanpa kesan kasar ataupun menyakiti seakan bagian leherku adalah es krim terlezat yang didapatinya sehingga tak ingin dibagi dengan siapapun. Benar ia adalah lelaki yang baru saja beranjak 10 menit yang lalu.

Kim Taehyung.

Jantungku berpacu dengan beranjak untuk tidur dengan tiba-tibanya, hanya perasaan ku yag terus berteriak gelisah, mencoba memahami situasi saat ini, tanpa sadar aku menahan napasku sejak tadi.

"bernapas"

Satu kata yang terdengar dingin ia lontarkan Ketika saliva si bangsat sudah membasahi setiap sudut bagian leherku. brengsek bukan, namun cukup untuk Mengembalikan setengah kewarasan ketika udara berhasil kembali ku hirup sama rakusnnya menelan kasar ludah ku sebelum Kuberanikan diri untuk berbalik menghadap taehyung.

"ada apa?" sialan, hanya dua kata itu yang dapat kulontarkan yang begitu bertolak belakang dengan keadaan saat ini, bukannya marah aku malah terdengar mengkhwatirkannya dan nyatanya memang seperti itu. Ditambah posisiku yang berbalik tadi malah menguntungkan dirinnya untuk mencumbui bagian depan leherku dengan nyaman dimana daguku menancap pada temporal kanan milik taehyung.

Anehnya, taehyung sudah melakukannya kurang lebih selama sepuluh menit namun, ia sama sekali tak menjawab pertannyaanku dan aku tak juga menghentikan aksinya. Baru ketika aku sudah tak sanggup untuk menahan nafsu yang membuncah karena menggila tak tahan untuk meminta lebih pasalnnya taehyung tak melakukan lebih dari sekedar mencumbui bagian leherku. Bangsat bukan, membangunkan jalang yang sudah susah payah ku nina bobokan selama ini dengan sentuhan konyol yang gila.

"Tae-" tanganku sudah siap akan mendorong lelaki ini namun, taehyung cepat sedetik dariku. Ia menghentikannya menjadikan ucapanku terpotong.

"maaf"

Aku melihat nya tertunduk sebelum mengusap kepalaku lembut, suaranya sangat lirih namun masih bisa ku dengar. Tapi bukan itu yang menjadi masalahnya, karena bersamaan dengan semua itu aku mendapati sepasang mata yang menangis.

Mata indah yang berubah kelam milik seseorang yang jeon jungkook sukai,

KIM TAEHYUNG.

Tbc.

maaf yah kalau mengecewakan.. :(