Title : Love You Forever

Author : Raichi Lee SangJin ELF

Rated : T

Pairing : TaoRis/KrisTao (main pair)

Genre : Romance, drama, little humor, and adventure maybe ^^

DISC : para cast hanyalah milik tuhan YME, orang tua, dan SM Ent. Saya hanya pinjam mereka untuk membuat fantasy saya menjadi terwujud di FF ini.

Summary : Percayakah pada kata 'cinta sejati'? Mungkin kau tidak akan percaya. Namun, ini benar terjadi. Wu Yi Fan dan Huang Zi Tao. Keduanya adalah ahli sejarah, juga peneliti sejarah. Keduanya berkompetensi menemukan makam dari kisah yang ditulis di buku perpustakaan di Kota terlarang di China. Keduanya terlibat cinta layaknya cinta di cerita itu. IT'S YAOI! KRISTAO/TAORIS IS HERE! DON'T LIKE DON'T READ!

Let's check it out, Chingudeul and Yeorebeun~!

Warning : BL/ BoysLove/Shonen Ai. Miss typo(s), alur terlalu dipaksakan, gaje, bikin mual, EYD yang ngasal. I told you before, if you hate YAOI or IF You HATE me, better if you don't read my fanfic, okay?

Author's note :

Ini sebenarnya fanfic remake dari Romeo and Romeo from Chinese, tp d rubah lgi ^^

Nah, mari kita langsung saja mulai FFnya ^^

tolong tetap beri saya review anda *bow*

.

.

Oke, tanpa banyak bacot, mari kita langsung saja.

.

.

.

.

DON'T LIKE, DON'T READ!

.

.

I TOLD YOU BEFORE!

.

.

IF YOU HATE YAOI, BETTER IF U NOT READ MY FIC!

.

.

RAICHI

Pagi ini, Tao dan Kris sedang berkeliling hutan itu. Untungnya tuan Feng bersedia membimbing. Mereka harus menemukan kuburan yang menuju pegunungan di hutan itu.

Tao terus memfoto keadaan sekitar, sambil melukis rute perjalanan.

"Tuan-tuan, ayo istirahat sebentar." Ajak Feng. Tao dan Kris mengangguk. Jarak gunung itu agak jauh juga dari rumah Feng. Karenanya, cukup lelah juga.

Tao sedang menikmati roti yang dia bawa juga menikmati segelas susu hangatnya. Cuaca tidak dingin, tetapi karena hujan kemarin, tetap saja hawa dinginnya masih ada.

Setelah agak lama, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Chanyeol dan Baekhyun tidak bisa ikut mengantar dikarenakan tidak disuruh oleh Tao dan Kris. Mereka bilang, biar saja ini jadi pekerjaan mereka.

Dan akhirnya, dengan terpaksa Chanyeol menerimanya walau cemas pada sosok Tao yang di anggap didinya. Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi? Bisa dimarahi dengan boss mereka yang ada di Canada.

Memikirkannya saja, Chanyeol sudah pusing.

Waktu terus berjalan, hingga akhirnya ternyata pagi yang mereka jalani sudah menjelang sore, untungnya matahari masih terang dan cahayanya dengan ramah terus menembus hutan lebat ini.

Gunung yang mereka capai sudah dekat. Tao menjerit senang Karena gunung yang digambarkan di buku persis sama dengan yang ada sekarang.

"Oke, kita akan mulai saja langsung. Aku tidak mau pulang sebelum mendapatkan makamnya!" ucap Tao yang keras kepala. Kris menggeleng pelan. Sementara Feng tersenyum kecil.

Tao menelusuri sekitar gunung ini, Kris juga ikut menelusurinya.

TAO POV

Aku menelusuri pegunungan itu. Hari sudah mulai gelap, sedangkan kami belum mendapatkan apa-apa.

Takut memang, tapi…aku akan tunjukkan dengan si wajah tua pirang sok tampan itu kalau aku ini hebat! Kalau aku tak hebat, kenapa aku bisa di akui di Kanada, bukan? Aku bukan bocah! Dasar pirang tua sok tampan!

Aku terus menyinari daerah yang sedang dia telusuri disekitar pegunungan. Aku membuka buku itu perlahan dan membuka-buka halamannya.

"Pintu digunung.." bisik Tao. itu adalah petunjuk, kan?

Mungkin saja, maksud dari kata pintu gunung itu adalah sebuah pintu rahasia sini kan? Dan, itu menyambung pada sebuah ruangan mungkin?

"Pintu gunung…" bisikku.

Krek..!

Mataku menoleh, dan mendapati sesuatu. Semacam tombol. Jantungku berdebar kuat. Apa ini tombol menuju pintu gunung itu? Aku langsung membelak senang. Aku berdebar dan langsung tersenyum riang.

"Harus aku beritahu dengan Tuan Feng dan K-" aku terdiam sejenak. Tidak. Tidak!

Bodoh kau Tao! kenapa kau harus berbagi kalau kau bisa mendapatkannya untuk dirimu sendiri?

Aku bisa saja mengatakan tak menemukan apapun, mengajak mereka pulang ke Kanada. Lalu, 2 hari, aku akan kesini lagi dan mengungkapnya sendiri. Kalau memang iya, aku akan kembali lagi dari Kota dengan membawa tim penambang, bukankah itu sangat hebat? Idemu memang hebat, Tao..

Tapi…

Tidak! Tunggu dulu! Itu tidak praktis.

Pikir Tao..pikir cara lain yang lebih praktis.

END OF TAO'S POV

Tao terlihat masih berpikir. Namun, pikirannya buntu dan hari sudah gelap sekali. Tao yang cemas memutuskan untuk menyudahi pemikirannya. Tao memberi tanda batu putih kecil yang diletakkan didekat area yang mirip tombol rahasia itu, lalu kembali.

Tao mendekati Tuan Feng dan Kris yang tadinya terlihat berdiskusi. Tao tidak tahu apa yang mereka diskusikan, tapi Tao tidak terlalu perduli.

"Bagaimana tuan-tuan? Apa kita akan bermalam dulu disini?" tanya Feng yang sudah menyalakan senter. Tao mengangguk.

"Hum, aku setuju." Ucap Tao cukup riang. Kris mengangguk.

"Baiklah, aku juga setuju. Untunglah aku membawa tenda." Ucap Kris yang melirik tasnya.

Mereka bertiga mulai memasang tenda. Tao memang suka menyiapkan barang-barang, mungkin berguna, dan memang sekarang berguna.

Tao membawa tenda mini yang hanya muat 2 orang saja, dan Tao berniat untung tidur sendirian. Tao juga membawa selimut, garam, serta roti, dan beberapa tofu yang sudah disiapkan dengan istri tuan Feng.

Mereka semua membangun tenda masing-masing, namun tuan Feng yang paling sederhana. Tao melirik Kris yang sepertinya sudah selesai dengan tenda miliknya yang juga seukuran dengan Tao. Kris terlihat sedang menabur garam di sekitar tendanya. Setelah selesai, Kris dan tuan Feng berniat untuk memasak makanan yang simple saja.

Feng ternyata membawa beberapa butir telur, wajan kecil, dan mentega kecil. Tao cukup kaget ternyata Feng membawa Ice Box. Didalamnya, ada selada, roti gandum yang jumlahnya sepertinya cukup untuk makan malam dan sarapan untuk mereka, mentega, dan telur. Box Ice itu tidak terlalu besar, jadi cukup muat di tas miliknya.

Kris sepertinya juga matang memikirkannya. Dia membawa peralatan lengkap. Seperti membawa kotak P3K, kotak obat, makanan instan, alat penerangan seperti lampu charger, senter, dan juga sesuatu yang Tao kurang jelas apa itu.

Feng dan Kris terlihat sedang menyiapkan api unggun untuk mulai memasak. Setelah selesai semuanya, mereka mulai duduk.

Tuan Feng dengan baik hati memasakkan makan malam untuk mereka. Tao juga menyarankan untuk Tofu pemberian istri tuan Feng dimasak untuk mereka makan. Dan Tuan Feng juga Kris setuju, karena, Tofu yang masih alami sebenarnya sangat baik untuk tubuh.

Mereka makan sambil sesekali berdiskusi.

Tao terlihat masih diam sambil matanya sesekali melirik tempatnya menemukan petunjuk yang dia ingin ungkap sendiri. Tao cukup keras kepala, egois dan sedikit ingin menang sendiri.

Tao tidak mau membaginya dengan Kris yang sudah menghinanya bocah pendek bermata panda.

HELLOW…~?! Tao terkenal tampan di tempatnya. Entah di China atau di Kanada. Dia pendek? Apa menurutmu 181 cm adalah pendek? Apa menurutmu kantung matanya adalah jelek? Hell, kantung mata ini justru membuatnya semakin tampan. Buktinya saja, banyak wanita yang menginginkannya.

Percaya diri sekali? Tapi itulah Tao.

Kris saja yang terlalu menjulang. Dasar wajah tua. Menyebalkan. Tua. Tua. Tua. Tua. Tua. Tu-

"Hey bocah, jangan melamun. Apa yang kau lihat? Sana makan!" ucap Kris dengan nada menyebalkan seperti biasanya.

Sialan.

"Wajah tua tiang listrik, kau saja yang makan. Aku tidak memiliki perut karet sepertimu." Balas Tao lalu melahap kembali makanannya. Tuan Feng menggeleng kecil sambil terus melanjutkan makan malamnya.

.

.

.

.

Api unggun sudah dimatikan. Hanya bara-bara kecil yang nyaris matilah yang tersisa. Menyebabkan kehangatan kecil yang menjalar ke arah tenda mereka.

Didalam tenda, Tao masih gelisah. Tao begitu gelisah hingga tak bisa tidur. Bagaimana ini?

Bagaimana kalau dia cek sendiri sekarang? Tao langsung membatalkannya. Ini sudah malam…

Hutan..gelap.. oho~ tidak!

Tapi..kalau dia tidak cek, dia tidak akan tahu, kan? Daripada menyesal…harus dia cek sekarang.

Cek..

Tidak..

Cek..

Tidak..

Cek..

"Yang terjadi, terjadilah!" ucap Tao nekad dan disusul dengan keyakinan daripada menyesal. Tao bangun dan langsung mengambil jaket tebalnya. Tao juga memakai syal. Tao mengambil buku tersebut, juga senter.

Tao membuka tendanya perlahan. Aman. Tao sedikit mengigil ketakutan karena gelap sekali diluar. Aish..Huang Zi Tao, beranilah! Ini demi karirmu dan demi mengalahkan si wajah Tua menjulang itu.

Tao keluar perlahan dari tendanya dan mulai menjauh dari tempat mereka berkemah. Tao mulai berjalan menuju tempatnya memberikan tanda tadi.

.

.

.

.

Tao terlihat berjalan pelan sambil menyinari sekitarnya. Tao berusaha menguatkan diri sendiri karena suara-suara burung hantu, hewan malam dan lainnya seolah akan meremukkan dirinya. Dasar menyebalkan! Kenapa hutan tidak diisi dengan sesuatu yang lucu, dan sesuatu yang imut-imut? Seperti..dipenuhi dengan music doraemon, mungkin? Bukan dengan suara burung hantu menyebalkan.

Sungguh pemikiran yang polos, Tao. Kalau hutan seperti itu, hutan tidak akan dipakai untuk tema horror.

"Ah..ini dia.." ucap Tao pelan yang menatap tanda yang dia temukan. "Putar batu berwarna hitam kecil pada pintu..3 kali ke arah kanan..ah.. aku bisa melaku-"

"Sedang apa kau disini?"

"GYAAAAAAAAAAAA….! HANTUUUUUUU…!"

DUAK!

Sungguh hebat kau, Tao. Karena reflek kaget, Tao berbalik dan memukul kepala yang bersangkutan dengan senter yang dia bawa. Kekuatan penuh pula.

Sedangkan yang dipukul?

"YA! Apa kau gila?! Oh..APPO…!" Tao sadar, Tao menyinari sesuatu atau mungkin seseorang (malang) yang dia pukul.

HEI! Ini si wajah tu- ah! Maksudnya Kris!

"Yak! Kau yang datang seperti hantu! Apa kau gila?! Bagaimana kalau aku jantungan?!" tanya Tao dengan nada tidak menyenangkan. Kris berdiri dan mengahadapi Tao. Tangan Kris masih menyentuh kepalanya yang malang karena dipukul dengan senter yang cukup besar itu.

"Ya! Buktinya kau tidak jantungan atau terluka, justru aku yang jadi korban disini!" balas Kris. Tao menatap kesal.

"Ah sudahlah!" ucap Tao tidak perduli pada kepala malang yang bersangkutan karena sudah menjadi korban 'ciuman manis' dari senter Tao yang cukup besar dan agak berat itu. Bisa dibayangkan betapa sakit kepalamu bila terkena hantaman senter yang dipukul dengan kekuatan penuh tangan Tao yang dilatih dengan Wushu, kan?. Kris menatap Tao.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Kris yang masih mengusap kepala tersayang. Tao memutar sesuatu yang mirip batu dengan bentuk mirip segitiga kecil itu. dan..voila!

GREEEEKKKK….!sesuatu seperti pintu itu terbuka. Tao langsung menatap senang.

"KYAAAAA! Aku berhasil menemukannya! kyaaaa! Mama~! Tao berhasil~! KYAAAAA! Aku berhasil!" ucap Tao riang. Kris menatap Tao dengan pandangan aneh.

"Hey bocah, jadi maksudmu, kau menemukan tempat Romeo and Romeo itu? disini? kau yakin?" tanya Kris. Tao diam sejenak.

"Aku mengikuti petunjuk dibuku ini. Aku yakin, ini akan mengantar ke tempat makam itu." ucap Tao yakin sambil menatap Kris. Untungnya bulan bersinar cukup terang. Tao menatap lorong gelap didepannya. Cih! Kenapa harus gelap sih?! Menyebalkan!

"Ya! Bocah pendek, Bagaimana kalau buku ini tipuan, huh?" tanya Kris pada Tao sambil berdecak pinggang. Tao diam sejenak.

"Karena itulah kita disini, Tua jelek. Kita harus mengungkap rahasia makam itu. kita tidak akan tahu sebelum mencobanya, dasar tiang listrik jelek wajah tua!" balas Tao sengit. Keduanya diam sejenak.

"Mau bertaruh?" tanya Kris. Tao menatap Kris.

"Bertaruh?"

"Ya. Kalau kau salah, kau harus menarikan tarian Girlband! Kau harus mengcover lagu Gee milik SNSD." ucap Kris sengit. Tao mendesis kesal.

"Baik, aku terima tantanganmu TUA. Kalau aku benar, maka kau harus mengcover dance Sistar19 yang berjudul Gone not Around Any Longer!" ucap Tao sengit.

Diam sejenak.

"Aku terima tantanganmu, bocah panda pendek kantung mata." Ucap Kris pada akhirnya.

"Baiklah, kau harus berhati-hati pria tua tiang listrik kelebihan zat tinggi."

Dasar dua orang ini -_-

.

.

.

.

TBC

.

.

Review, please ^^

Please no flame, no bash and please no silent readers ^^