.

.

.

.

.

.

.

You're So My Universe

.

Main cast : OH Sehun - Luhan feat ChanBaek

.

Other cast : bermunculan sesuai kebutuhan

.

Genre : Drama

.

Rate : M / NC / Dirty talk

...

"Haruskah kau juga mengatur percintaanku ?" itu jelas suara jengah seorang Oh Sehun yang sudah melewati waktu lima belas menitnya di pagi hari dengan berdebat dengan sang ayah. Oh Minho laki-laki dengan wajah tampan diusia tuanya itu tetap mempertahankan keputusan yang telah mutlak bagi putra tunggal keluarganya. Namun Sehun terlalu jengah untuk ini semua dirinya sudah memasuki usia yang matang untuk sekedar berpikir tentang kehidupan rumah tangganya nanti. Yang jelas tanpa adanya campur tangan kedua orang tuanya yang begitu protectif. Daripada memperpanjang debat yang tak akan selesai pada jam makan siang sekalipun Sehun lebih memilih bangkit dari kursi meja makannya dengan langkah besertakan membawa aura dinginnya yang menguar kesegala penjuru ruangan.

"Hanya sampai tahap bertunangan !"

TAP!

Sehun berhenti dilangkah kelimanya mencerna kalimat apa yang baru meluncur dari sang ayah. Sejenak menimang untuk memutar badannya dan kembali duduk di sana. Sampai suara lembut itu terdengar. Suara sang ibu yang senantiasa berada di samping Oh Minho. "Sehun..cobalah sampai tahap pertungan setelahnya keputusan ada ditanganmu. Eomma ataupun aboji tak akan memaksamu lebih jauh" terdengar begitu halus dalam gendang telinga. Dan itu tentu menyita sedikit pehatiannya pada pembicaraan selanjutnya. Sehun membalikkan tubuhnya berjalan kembali pada posisinya sebelum pergi meminta banyak penjelasan dari setiap kata dari sang ibu.

"Eomma" Sehun mulai bersuara berniat memberi pembelaan pada dirinya sendiri. Namun sayang tatapan mematikan yang diberikan dari pria yang menyandang status ayahnya itu membuatnya mengurungkan segala niatnya. Sehun memang begitu kejam bahkan mengerikan untuk ukuran seorang mafia usia muda tapi jika sudah menyangkut keputusan orang tuanya dia membuang jauh segala sikap menakutkannya itu.

"Baiklah aku mengaku kalah. Tapi ingat hanya sampai pertunangan tidak lebih dari itu!" senyum dari sang ibu tidak mampu terelakkan mengingat sudah berapa lamanya mereka berdebat dengan putra tunggal kesayangannya.

Apa yang menjadi bahan berdebatan mereka sedari tadi hanyalah sebuah rencana pertunangan yang jelas saja itu sebagai alat kemajuan bisnis sang ayah. Ah licik memang jika dilihat dengan mengorbankan sang anak sebagai alatnya. Sehun tak mau memikirkan terlalu jauh karena bagi dirinya sejauh apapun kedua orang tuanya mengatur hidupnya mereka takkan bertindak bodoh untuk kehidupan sang putra. Dirinya.

Yang Sehun tangkap dari pembicaraan yang berujung pada perdebatan tersebut hanya dirinya yang akan di tunangkan dengan seorang anak tunggal dari pengusaha sukses Korea-Japan Byun Hyemin. Sehun tidak terlalu bahkan sangat tidak berminat pada rencana yang baginya begitu konyol. Siapa yang tak mengenal Byun Hyemin sang pengusaha sukses tersebut termasuk Oh Sehun dirinya juga pernah sekali bekerja untuk keluarga orang terhomat tersebut. Hanya saja dirinya terlalu mencintai kedua orang yang sialnya telah menghadirkan dirinya pada dunia ini.

Apa yang lebih membuatmu naik darah saat situasi tak perpihak pada kepadamu dan berlangsung di hari yang sama hanya di waktu yang berbeda ? setidaknya itulah yang dirasakan si arogan Oh Sehun dengan wajahnya yang sudah memerah layaknya kepiting rebus Oh Sehun mencoba menahan segala emosi yang kini mulai memuncak pada dirinya. Sudah satu jam ini sejak satu pesan masuk dalam telepon genggamnya dengan menampilkan kontak sang ayah.

Makan malam dirumah hari ini

Jelas saja Sehun bukanlah laki-laki bodoh yang tak akan tahu topik pembahasan apa yang akan tersaji diatas meja makan keluarganya nanti. Sehun memang bisa dengan gampang membunuh setiap lawannya dengan cara yang begitu sadis tapi siapa sangka dibalik sikapnya yang begitu menakutkan Sehun hanyalah seorang anak ayam dalam keluarganya. Dirinya yang hangat dan layaknya seekor anak ayam yang akan terus bermanja-manja dengan yang sang induk sama saja dengan dirinya. Pikirannya melayang membayangkan betapa menyeramkannya makan malamnya nanti. Sungguh dirinya tak pernah mengerti sebagimana jalan pikiran dari kedua orang tuanya terutama sang ayah. Yang pasti setelah ini dia akan mendapatkan tekanan untuk terus mendekati calon tunangannya dan dia benar-benar muak. Sehun yang kini berada diatas ranjang king size nya kamar utama dikediamannya hanya memandang kearah kaca jendela yang terbuka. Ini bukan kediaman sang tuan besar Oh Minho. Ini istananya sendiri hasil dari segala jerih payahnya. Sedikit bersyukur bahwa dirinya kini dapat menghirup udara segar tanpa adanya pekerjaan yang dapat mengganggu lebih jauh pikirannya.

Sementara ditempat lain sesosok yang begitu mungil masih bergumul dengan tebalnya selimut tidurnya harus mengerang akibat mendengar pekikan tajam, dari para sahabatnya yang datang tanpa undangan dari dirinya. Tak perlu bertanya apa yang akan membawa dua sosok gadis mungil-mungil ini berada dalam flat sederhananya. "Lu bangun,aku bersumpah akan menyeretmu saat ini" oke ! jika Kyungsoo sudah mulai bersuara maka disinilah Luhan yang mati-matian menyingkirkan jauh rasa kantuknya.

HHOOAAMM..

Mata indah dengan binar rusa disertai bulu mata lentik itu masih terpejam meskipun tubuhnya sudah terduduk ditengah ranjang tidurnya. "Satu.." sontak itungan dari bibir berbentuk hati milik Kyungsoo membuatnya tergelagap dengan sendirinya "Iya Kyung, aku bangun" Luhan segera bangkit dari posisinya dan sedikit berlari kearah Xiumin yang sedari tadi hanya terdiam memperhatian kelakuan dua sahabatnya yang memang selalu seperti itu. "Saeingil chukkae Minnieya" Luhan memeluk erat Xiumin dan menghujaninya dengan ciuman disetiap inci wajahnya. Xiumin tersenyum begitu manisnya dia merasa begitu bahagia karena Tuhan memberikannya orang-orang yang begitu mencintainya. "Gomawo Luhannie" dan Luhan mengerti setelah ini dirinya maupun kedua temannya akan berarkhir dengan malam yang begitu panjang.

...

Byun Baekhyun sosok gadis mungil yang dianugerahi dua manik puppy yang membuatnya lebih terlihat seperti gadis usia utjuh tahun dibandingkan dengan gadis dengan usia matang dua puluh dua tahun lainnya. Dia begitu menggemaskan. Dan dialah satu-satu tuan putri dalam mansion megah sang tuan Byun yang begitu kaya raya. Baekhyun masih terdiam dalam keheningan bilik kamar yang bernuansakan kehangatan tersebut. Pikirannya melayang pada jam makan paginya dengan sang ayah. Tak akan jauh berbeda dari keluarga Oh topik pembicaraan sarapan pada keluarga Byun pun membahas topik yang sama persis. Ya rencana pertunangan dirinya dengan anak tunggal dari keluarga Oh. Baekhyun tahu Oh Sehun bukanlah laki-laki yang memiliki wajah pas-pasan, laki-laki itu sangatlah tampan walau dengan tatapan elangnya. Tak dapat dipungkiri pula bahwasanya Baekhyun bisa saja jatuh dalam pesona seorang Oh Sehun. Namun mengingat kembali siapa Oh Sehun membuatnya sedikit bergidik ngeri tentang kehidupan percintaannya. Tuan-tuan besar mana yang tak mengenal bagaimana kekejaman seorang Oh Sehun dalam menghancurkan atau bahkan membunuh lawan-lawannya dalam waktu yang singkat. Bahkan pamannya dulu pernah meminta Sehun menghabisi lawan perusahaannya yang bertindak curang dalam lelang saham. Dan tentu saja Sehun menyelesaikannya dengan cepat dan bersih.

Ayolah Baekhyun hanyalah seorang gadis biasa yang masih berlindung dibawah kuasa sang ayah dan jika harus dengan Oh Sehun haruskah dirinya lari dari sini lalu pergi mencari kebahagian yang jauh lebih baik dibandingkan harus bersanding dengan si arogan Oh Sehun itu pikirnya.

Baekhyun sendiri harus di buat bimbang dengan keputusan sepihak yang dibuat oleh sang ayah. Dia ingin pergi dan tak ingin menghadiri makan malam itu. Tapi apalah daya seorang Byun Baekhyun begitu menghormati seseorang yang menyandang status sebagai ayahnya tersebut. Menelusur pada alam pikir seandainya disini ditempat yang sama mereka berpijak ada sang eomma yang akan dengan senang hati mendengar segala keluh kesahnya termasuk dalam hal ini.

Dua puluh dua tahun sudah Baekhyun hanya hidup bersama dengan sang ayah. Dirinya bahkan belum pernah melihat bagaimana rupa malaikat cantik yang telah berjuang melahirkan dirinya ke dunia ini. Ibunya merenggang nyawa saat melahirkan dirinya kala itu. Namun dibalik semua itu, segala kesedihannya Baekhyun memiliki sang ayah yang membesarkannya dengan penuh cinta dan kasih sayang tanpa mengurangi rasa kekurangan dari ketidak hadiran sang ibu dalam hidupnya setidaknya itulah yang dirasakan sang tuan putri tapi kembali pada kenyataan bahwa laki-laki yang telah membesarkannya penuh cinta itu telah meninggalkan banyak luka bagi dua orang yang entah sampai saat ini belum ia ketahui keberadaannya.

...

Inilah hari dimana menjadi hari yang paling bahagia bagi sahabat tercintanya, Xiumin yang tengah mencapai usia dua puluh enam tahunnya saat ini hanya perbedaan dua tahun namun tak membuatnya terlihat jauh lebih tua. Luhan maupun Xiumin tetaplah memiliki wajah yang begitu cantik dan begitu menggemaskannya diusianya yang sekarang. Tapi seperti biasa ditahun-tahun sebelumnya Luhan hanya akan meratapi segala nasib buruk yang terjadi pada dirinya dua puluh dua tahun silam. Selalu seperti ini jika sudah menyangkut perayaan ulang tahun Luhan hanya akan terus berpura-pura tersenyum bahagia, walau dalam hatinya dia menjerit begitu sakit atas penghianatan yang dulu terjadi. "Lu tersenyumlah hm?" Kyungsoo dengan suara lembutnya membuat Luhan sedikit kembali pada kenyataan pahit yang harus tetap dia jalani.

Kini mereka berada pada salah satu bilik ruangan yang sudah sengaja Chen siapkan untuk perayaan hari jadi kekasihnya. "Setidaknya tersenyumlah dan aku akan mengganggap itu sebagai kado yang kau berikan tahun ini" kini Xiumin mulai menimpali ucapan Kyungsoo. Semua yang ada disana tahu betul bagaimana kerasnya kehidupan seorang Xi Luhan dan bagimana sensitifnya dia mengenai ulang tahun. Kecuali laki-laki jangkung dengan telinga dobby yang tak pernah mengerti kemana arah pembicaraan serta tatapan para temannya. Pada akhirnya gadis dengan binar mata rusa yang menakjubkan itupun tersenyum dengan begitu tulus hingga satu bulir air matanya meluncur dengan bebasnya dari sana. Setidaknya dia harus terlihat bahagia dan baik-baik saja untuk saat ini ? ya setidaknya untuk malam ini, setelahnya ? entahlah Luhan sendiri tak begitu mengerti bagimana dengan akhir dari yang begitu mengerikan ini.

Jika diruang sana tempat dimana yang menjadi saksi bisu kembalinya masa lalu Luhan ke permukaan bumi. Maka disinilah ketegangan yang terjadi diantara dua keluarga yang memutuskan untuk saling mengenalkan putra-putri tunggal kebanggaan mereka masing-masing. Baik Oh Sehun ataupun Baekhyun mereka hanya diam tertunduk menikmati hidangan yang tersaji dihadapan mereka memainkan pisau dan garpu sebagai penari diatas piring saji memainkannya dengan begitu hikmat sebisa mungkin menghiraukan apapun yang dibicarakan oleh ketiga orang satu generasi tersebut. Hingga gendang telinga mereka berdua harus di usik oleh suara yang terdengar begitu mengganggu. "Setidaknya dua minggu sudah cukup bagi mereka untuk saling mengenal" itu suara tuan besar Oh Minho yang tak lain laki-laki dengan menyandang status ayah bagi seorang Oh Sehun. Jelas itu membuat tarian diatas piring saji terhenti digantikan dengan tatapan penuh tanya yang jelas mengarah pada dirinya.

Baik Sehun maupun Baekhyun tak mau membuka suara untuk sekedar bertanya apa? Keduanya hanya menggunakan tatapan sebagai isyaratnya. "Baiklah dua minggu lagi dan mereka akan bertunangan"

"huh?"

"Dua minggu Oh Sehun. Gunakan waktu sebaik mungkin untuk memikat hati si cantik Baekhyun" Sehun hanya membuang muka setelah mendengar ucapan terakhir dari sang ayah yang justru akan bertambah panjang jika dirinya terus mendebat. Sehun sudah tidak tahan lebih lama lagi berada disini dan memutuskan untuk beranjak dari tempat duduknya, sedikit membungkukkan badan sebagai tanda hormatnya. "Aku selesai, silahkan lanjutkan pembicaraan kalian. Saya permisi" jangan lupakan betapa angkuh dan dinginnya setiap kata yang terucap dari bibir tipis Oh Sehun. Meskipun beberapakali dia mendengarkan bagimana ayah ataupun sang eomma menyeruakan namanya agar dia kembali mendudukkan diri dan terlebih untuk mendengarkan perbincangan yang tak berguna disana, hingga akhirnya.

BLAMM

Tertutupnya pintu megah itu telah menjadi akhir dari rasa muak besertakan dengan rasa bersalah yang secara perlahan menguasai diri Oh Sehun. Sehun merogoh ponselnya yang sedari tadi bersarang pada kantong celana kain hitamnya. Mencoba menghubungi sahabatnya Park Chanyeol dan sedikit berharap laki-laki dengan telinga peri itu mau memberinya sedikit hiburan yang dapat membuatnya sedikit nafas setidaknya hingga fajar mendatang.

"Kau dimana ?"

"..."

"Aku kesana"

"..."

"Aku akan membelinya tenang aja"

"..."

"Oke aku tutup"

Sehun mengembalikkan ponselnya dan mulai menjalankan mobil kesayangan untuk meninggalkan halaman rumah yang membuatnya begitu sesak. Dan lebih memilih untuk berkumpul bersama dengan sahabatnya. Dari hal yang Chanyeol katakan tadi bahwa hari ini mereka berkumpul untuk merayakan ulang tahun Xiumin mau tak mau Sehun harus menepikan mobilnya untuk sekedar menyiapkan kado yang akan ia berikan nanti pada kekasih sahabatnya tersebut.

Sehun bersyukur setidaknya berkat bantuan dari pelayan toko ini dirinya tak perlu berlama-lama untuk menemukan sebuah kado yang cocok. Sebuat stilleto berwarna peach dengan sebuah pita kecil diujung kepala membuatnya begitu cantik meskipun tak meninggalkan kesan sederhana.

...

Sepuluh menit waktu yang ditempuh Sehun dari toko hingga dia berada di parkiran yang tersedia di club milik Chen. Sehun langsung bergegas untuk mencari dimana keberadaan para sahabatnya tersebut. Sedikit Sehun bisa bernafas karena Chanyeol telah memberikan satu buah pesan yang menunjukkan tempat dimana mereka berada.

CLEKK

Sehun memasuki ruangan itu dengan rasa ragu, takut-takut jika dirinya salah ruangan mengingat minimnya penerangan pada lorong club ini. Namun kembali pada kenyataan bahwa dirinya kini malah di jamu dengan rentangan tangan menandakan sebuah pelukan dari si hitam sexy anggap saja sambutan selamat datang bagi dirinya. "Kau lama sekali albino" menelusuri gerak-gerik Sehun yang sedikit mencurigakan terutama dari raut wajahnya yang sedikit nampak mencuatkan sebuah emosi terpendam. Membuat Kai kembali bertanya "Kau ada masalah?" dan tentu saja itu mendapat gelengan kepala dari Oh Sehun. "Mana Xiumin ?" Alibi Oh Sehun saja agar sahabatnya yang satu ini tidak bertanya lebih jauh lagi dan sedikit menciptakan pikiran agar Kai segera pergi dari hadapannya. Terdengar jahat memang namun itulah Oh Sehun dengan segala kejahatan dan kekejamannya.

Sehun melenggang pergi dari hahadapan Kai yang masih menyimpan banyak tanya dalam pikirnya. Memutuskan untuk mencari sendiri keberadaan Xiumin dibawah cahaya yang begitu remang membuatnya sedikit kesusahan meskipun isi dari ruangan ini tak lebih dari sepuluh manusia, ya karena Xiumin hanya mengundang beberapa teman yang memang begitu dekat dengan dirinya maupun Chen. "Sehun !" suara yang begitu menggemaskan Xiumin memaksa menerobos gendang telinga Sehun membuat sang empu reflek menoleh ke arah suara tadi. Dengan mata yang disuguhi keberadaan tiga gadis disana, Xiumin dan teman-temannya. Sehun menghampiri ketiganya, membuat sang tuan putri dari pesta ini mau tak mau harus bangkit dari posisinya. "Saengil chukkae Minnieya" Sehun mencium kedua pipi gembul itu dan jelas saja dirinya harus mendapat tatapan setajam pisau dari Chen yang diberikan secara suka rela padanya. "Oh ya ini untukmu" Sehun memberikan bingkisan yang sedari tadi ia bawa sebagi kado untuk Xiumin. Dan tentu saja gadis itu akan menerimanya dengan suka cita "Gomawo Sehunnie" Sehun hanya bergumam sebagai jawabannya, mengingat Xiumin sedang tidak sendiri disana membuatnya mau tak mau juga harus menyapa satu lagi gadis dengan mata bulat sempurna layaknya burung hantu tersebut. "Hai Soo" dan Kyungsoo hanya membalas dengan satu anggukan bersertakan senyum manis pada bibir berbentuk hati tersebut.

Hingga pada akhir mata elang milik Sehun yang tadinya terpusat pada Kyungsoo dan Xiumin harus terjebak pada seseorang yang tengah terdiam disana tepat dibelakang Xiumin dan Kyungsoo yang tengah berdiri dihadapannya. Sehun akui mata itu begitu indah walau sendu jauh kebih mendominasi. Tak butuh waktu lama lagi bagi Sehun untuk mengenali siapa gerangan yang terduduk dengan wajah muramnya. "Kyung aku ke kamar mandi sebentar" Luhan berdiri dan memberi suara kepada Kyungsoo dengan suaranya yang begitu lirih, beruntung Kyungsoo masih dapat mendengar suaranya. "Perlu ku temani ?" tawar Kyungsoo, dan luhan hanya menggeleng sebagai tanpa penolakan untuk sahabatnya. Ini bukan saat dirinya harus memberitahukan betapa menyedihkan hidupnya.

Luhan yang berada di depan kaca kamar mandi yang tersedia hanya memperhatikan betapa miris dirinya serta kehidupan yang harus ia jalani. Luhan tertunduk dimenit berikut terlihat punggung sempit itu mulai bergetar dengan begitu hebatnya, Luhan tak mampu lagi untuk menahannya selalu seperti ini setiap tahunnya. Apa yang yang sejak tadi ia tahan kini meluap seketika, saat tak ada yang berada disisihnya. Memangnya siapa yang akan ada disisihnya jika seperti ini. Itu hanya pikirannya.

Namun nyatanya di balik pintu luar kamar mandi yang sedikit terbuka itu menampil sosok yang tengah bersandar pada pinggiran tembok. Wajahnya yang dingin dengan tatapan yang begitu tajam sosok laki-laki yang tak lain Oh Sehun itu tetap tak mengedarkan pandangannya, matanya terus menatap tubuh mungil yang kini tengah bergetar di depan kaca itu.

Luhan menyelesaikan tangisnya setelah hampir setengah jam, menyusap air mata yang masih tersisa pada wajah cantik yang ia miliki, ia hanya ingin pergi bergegas pulang dan beristirahat di flatnya. Sebelum ia menangkap sosok yang tetap memperhatikan dirinya yang kini harus ada dihadapannya. "Si-siapa kau ?" Luhan terbata untuk sekedar bertanya dan jangan lupakan suara serak akibat tangisannya.

Sehun hanya tersenyum bahwasanya seseorang yang sedari tadi awasi kini sedang ada dihadapannya, Sehun menampilkan sebuah smirk andalannya kemudian selangkah mendekati tubuh Luhan yang seakan terpaku dengan bumi.

Lembut setidaknya rasa itu yang dia rasakan ketika bibirnya terasa basah, awalnya Luhan hanya membulatkan mata indahnya. Dia merasa terkejut dengan perlakuan tiba-tiba dari pria yang tak pernah dia kenal sebelumnya. Namun seiring berjalannya waktu Luhan memejamkan matanya untuk menikmati ciuman yang diberikan Oh Sehun secara tiba-tiba, mereka saling melumat dengan Luhan yang terus dibuat dengan lemas akibat perlakuan Oh Sehun yang terlihat terburu namun tak mengesampingkan sisi lembutnya. Sebelumnya Luhan ragu untuk sekedar mengalungkan tangannya pada leher Sehun. Namun jika dia tetap bersikeras dengan egonya Luhan yakin beberapa menit berikutnya dia akan terjatuh tak berdaya pada dinginnya lantai kamar mandi ini. Sehun masih menyempatkan diri untuk sekedar tersenyum dengan lembut ditengah ciuman mereka. Sehun melepaskan tautan bibir mereka hingga menyisakan saliva antara keduanya menggantung pada dagu runcing si gadis yang nampak terengah dengan aktifas mereka beberapa detik yang lalu. Sehun mengusap bibir mungil yang tengah merekah itu dengan begitu deduktif, kemudian bersuara begitu lembut pada dan telinga Luhan. "Bersamaku malam ini dan lupakan segala rasa sedihmu"

Setelahnya Luhan hanya mengikuti kemana langkah kaki seorang laki-laki yang tengah menggenggam erat tangannya. Secara bersamaan Luhan merasakan kehangatan dari sana.

Disinilah mereka berdua berakhir, satu kamar yang memang sengaja disewa Oh Sehun yang akan menghabiskan malamnya dengan gadis yang hanya ia ketahui namanya tersebut. Luhan hanya mendudukkan dirinya pada pinggiran ranjang king size yang tersedia disana. Bilang saja Luhan adalah wanita jalang yang setiap malamnya rela mengangkan pahanya untuk lelaki berhidung belang diluar sana. Namun disini dirinya hanya seperti gadis dengan usia belasan tahun yang begitu polos. Entah apa yang membuatnya seperti ini tapi begitu mengingat bagaimana laki-laki tadi memperlakukannya yang begitu lembut mau tak mau membuat hatinya menghangat.

"Kenapa diam ?" suara berat Sehun terdengar mengintrogasi dirinya yang hanya terdiam sedari masuk kamar tersebut. "Ah tidak" Luhan mengelak dengan cepat, menampilkan senyum termanisnya mengambaikan rasa yang tengah berkecamukdlam hatinya.

Sehun melangkah mendekati Luhan hingga mencondongkan tubuhnya hingga saat ini mereka dapat menatap kedua manik satu sama lain. Dan Sehun kembali bersuara "Anggap saja sekarang kau bekerja untukku" sebenarnya maksud dari Sehun bukanlah seperti itu, dirinya membawa Luhan pergi dari sana hanyalah ingin memberikan sedikit ruang bernafas bagi Luhan.

Sehun lebih mendekatkan wajahnya dan mengikis jarak yang tersisa antara dirinya dengan Luhan yang masih terdiam.

Chuup~

Awalnya Sehun hanya ingin mengecup bibir ranum itu, namun nyatanya Luhan merespon dengan menekan tengkuk laki-laki yang belum ia ketahui namanya tersebut agar berbuat lebih pada bibirnya. Tentu saja itu membuat Sehun menyeringai dia tak berpikir bahwa Luhan akan berbuat jauh. "Ngghh" satu lenguhan lolos dari bibir Luhan yang tengah dieksplor lidah panas Sehun. Tak hanya sampai disitu jari lentik Luhan bahkan telah melepas penuh kancing kemeja Sehun. Perlahan Sehun membaringkan tubuh luhan dengan sangat hati-hati hingga satu bulir air mata kembali membasahi pipi Luhan maupun Sehun. Membuat sang laki-laki terpaksa membuka matanya hingga mata itu bertemu dengan begitu intensnya. "Bolehkah aku menyentuhmu ?" jalang mana yang tidak tersentuh dengan pertanyaan seperti itu sekalipun dia hidup dalam dunia gelap ini begitu lama. Mendapat anggukan dari sang gadis membuat Sehun yang terkesan tidak sabar langsung menyambar bibir yang sudh basah itu kemudian meraupnya dengan begitu lembut namun menuntut. Tangannya tak berhenti untuk sekedar meremas bongkahan yang bersembunyi pada dress ketat tersebut. "Ahh" Luhan kembali mendesah saat ciuman Sehun perlahan turun pada ceruk leher jenjangnya. Tangan sebelah yang masih terbebas Sehun gunakan untuk menurunkan resleting dress yang ada pada punggung Luhan.

Ciuman Sehun semakin lama semakin menurun hingga menangkup bongkahan yang sedari tadi ia tatap lapar. Melepaskan ikatan bra yang begitu mengganggu baginya Sehun melahap dengan rakus payudara yang tengah menengang tersebut memainkan lidah panasnya pada nipple yang merah muda dan cokelat yang berpadu itu. Tatapan Sehun kembali pada mata Luhan yang terlihat menikmati setiap sentuhan yang tengah ia berikan pada tubuhnya. Memilin, menekan,meraup, atau bahkan hanya sekedar menjilat Sehun melakukannya dengan begitu lembut perlahan Sehun kembali mengecupi setiap inci tubuhnya menurun dan semakin turun. Hingga matanya menatap g-string yang masih menutupi area privat Luhan.

Mengecupnya dengan lembut kemudian menurunkan dengan sekali sentak. Sehun telah berhasil membuat Luhan telanjang bulat tanpa adanya sehelai benang yang menempel pada tubuhnya. Namun layaknya gadis dengan usinya remaja Luhan yang ini lebih menyembunyikan wajah merona pada kedua tangannya. "Hey kau malu ?" Sehun yang tengah disibukkan melepas celana kainnya harus dibuat takjub dengan kelakuan gadis yang tengan merona malu dihadapannya tersebut, dengan cepat Sehun menciumnya begitu dalam memainkan lidahnya pada bibir Luhan yang perlahan terbuka mengijinkannya berbuat lebih. Sedangkan tangannya telah membelai halus paha dalam Luhan, menyentuh area itu. "Ahh.." Luhan kembali mendesah saat satu jari Sehun berhasil masuk dan bergerak dalam lubang vaginanya, merasa Luhan yang begitu pasrah Sehun kembali menambahkan jari kedua dan ketiganya di waktu yang tepat.

"Ahh.. ahh more.." Hingga Luhan mendesah tanpa dia pikir bahwa dia tak mengetahui nama dari laki-laki panas yang sedang memuaskannya saat ini. Selang beberapa waktu akhirnya Luhan mendapatkan masa orgasme pertamanya. Merasa gadisnya sudah begitu siap Sehun sedikit mengocok kejatanannya dan bersiap memasuki lubang panas yang tersedia di hadapannya.

"Aahh.." Sehun berhasil memasukkan ereksinya hingga terbenam dalam. Luhan mengerang frustasi disetiap sentakan yang dilakukan Sehun ini benar-benar membuatnya gila secara mendadak. Hingga membuatnya ikut bergerak berlawanan arah untuk menciptakan sensasi yang akan jauh lebih menyenangkan.

Sekali atau dua kali mereka mencapai puncak senggamanya, namun Sehun tak menyerah berhenti sampai disitu. Sehun terus membuatnya Luhan terus menghentak vagina Luhan dengan begitu dalam dan makin lama semakin cepat , hingga kejatannya yang melesak dalam kini berkedut gelisah yang pada akhirnya menyemburkan cairan cintanya untuk kesekian kalinya.

...

Luhan yang tertidur lelap setelah kegiatan panas mereka pasti akan berpikir bahwa laki-laki yang telah menggagahinya telah pergi meninggalkan segebok uang bayaran dan meninggalkannya begitu saja. Matanya mengerjap untuk beberapa saat menyesuaikan sinar cahaya yang menerpa retinanya. Hatinya tiba-tiba menghangat saat merasakan bahwa ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Luhan berbalik untuk sekedar memastikan. Dan betapa terkejutnya saat harus dihadapkan dengan wajah tampan laki-laki yang tengah memejamkan mata itu. Kulit seputih porselen itu perlahan Luhan usap dengan begitu lembut. Membuat sang empu bergumam "Kau sudah bangun ?" dan Luhan hanya mengangguk sebagai jawaban. Tangan Sehun masih melingkar disana lalu mendorong tubuh polos Luhan agar lebih merapat dalam pelukannya. "Tidurlah lagi kau pasti lelah" titah Sehun tetapi Luhan hanya terdiam tak menjawab atau menuruti keinginannya, matanya masih terpaku pada wajah dengan perpaduan rahang tegas itu. "Terima kasih banyak tuan" Luhan mulai bersuara dengan begitu pelan. "Panggil aku Sehun. Oh Sehun" dan Sehun memberitahukan jati dirinya. "Xi Luhan. Terima kasih telah membuatku melupakan apapun yang terjadi beberapa jam yang lalu Sehunnie" setelah ucapan Luhan selesai dengan begitu lembut Sehun mengecium ujung kepalanya. Begitupun Luhan yang memberitahukan apa yang sejak tadi ia pendam dalam lubuk hatinya yang begitu hangat. Hingga hanya denting jam yang masih mendominasi dalam ruang tersebut, hingga keduanya terlena untuk terlelap bersama dalam hangatnya sebuah pelukan.

.

.

.

.

.

.

.

TOBECONTINUED

.

.

.

.

Yuhuu balik lagi wkwk :v

.

Maapkeun diriku yang nista ini, buat eNCe harap maklum imajinasi gw hanya sebatas itu

.

Btw matur suwun (terima kasih) buat respon kalian di chap awal, semoga aja chapter ini gk ngecewain kalian

.

Buat typo (s) masihlah bertebaran *sungkem*

.

Sudah mulai keliatan belum konflik-konflik yang bakal bermunculan ? kalo belum mari kita analisa bersama wkwk :v

.

Repiuw seiklhasnya ya readers deul *kedip jijik*

.

See you next Chap

.

SeLudeer94 – 06/01/18