.
.
.
.
.
.
.
You're So My Universe
.
Main cast : OH Sehun - Luhan feat ChanBaek
.
Other cast : bermunculan sesuai kebutuhan
Genre : Drama
.
Rate : M / NC / Dirty talk
...
Ting !
Terbukanya lift menampilkan seseorang berwajah dinginnya dengan ekspresi seperti sedang menahan sebuah amarah yang membuncah. Sosok itu tak lain adalah Oh Sehun dengan segala aura gelapnya. Tak jarang orang-orang yang berlalu lalang memicingkan matanya untuk memastikan keadaan putra tunggal dari orang yang paling berpengaruh tersebut.
Pasalnya sudah lebih dari satu jam ia berada di dalam gedung pencakar langit itu yang tak lain perusahaan milik ayah kandungnya hanya untuk sekedar berdebat sengit.
OoO
"Ayolah Oh yang manja kau hanya tinggal menjemput,menemani dan mengantarkannya dengan selamat"
"Sekali tidak tetaplah tidak !" Sehun mulai menaikkan suaranya dan langsung memenuhi penjuru ruangan sang direktur itu jauh lebih mencekam dari sebelumnya.
Pasalnya ini sudah masuk pada waktu satu jam mereka berdebat hanya untuk memaksa Sehun agar mau mengantarkan calon tunangannya pergi mencari sesuatu pada sebuah butik yang terletak di daerah Gangnam. Bukan alasan apa yang membuat Sehun tak mau mengabulkan permintaan sang ayah anya saja dirinya terlalu sibuk belakangan ini hingga membuatnya tak mau melewatkan sedikit saja waktunya terbuang dengan sia-sia.
"Anggap saja ini kesempatanmu untuk mengetahui sisi buruk dari putri tunggal si Byun Hyemin itu dan setelahnya kau bisa menjadikannya sebuah alasan untuk menghentikan pertunanganmu" tampak Oh Minho memberikan sebuah ide yang dinilai cukup briliant tersebut. Sedikit menimang apapun yang diucapkan ayahnya.
"Baiklah aku akan menemaninya hari ini" Sehun menyerah dengan kemauan ayahnya. Jujur saja dia tak pernah berfikir bahwa sang ayah akan memberikan ide yang cukup gila ini kepadanya. Terutama ini akan menyangkut kelangsungan hidup perusahaannya sendiri.
Sehun yang tak mau terlalu berfikir terlalu jauh dan segera meninggalkan ruangan yang sedikit berbeda dari hari biasanya itu dan memutuskan untuk segera menjemput gadis yang entah berada dimana keberadaannya.
OoO
Sehun masih setia dengan konsentrasinya yang mengemudikan mobilnya hingga tak begitu lama kuda besi tersebut memasuki ruang halaman milik keluarga Byun Hyemin dimana dia memang harus menjemput Byun Baekhyun yang tak lain calon tunangannya sendiri.
"Haaahh~~" Sehun menghembuskan nafas jengahnya begitu keluar dari mobilnya. Ia tahu hari ini takkan berakhir begitu saja.
Ini tak seperti apa yang ada dalam pikiran manusia sedingin Oh Sehun yang terus berfikir bahwa dirinya akan berakhir menunggu Baekhyun berjam-jam hanya untuk sekedar memilih baju yang akan ia gunakan pergi bersama belum lagi dengan memoles wajah yang memang diakui Sehun terlihat cantik. Ah membayangkannya saja Sehun bisa gila. Tapi yang terjadi saat ini benar-benar jauh dari segala angannya.
Adalah Byun Baekhyun yang sudah bersiap di depan mansion megahnya dengan dress selututnya yang begitu pas pada tubuh mungil itu. Baekhyun memberikan senyum terbaiknya untuk sekedar menyambut kedatangan dari seorang Oh Sehun si wajah datar.
"Kau sudah datang" Baekhyun yang mencoba untuk sekedar basa-basi hanya mendapatkan sebuah tatapan tajam dari seseorang yang dia harapkan dapat menjadi lawan bicaranya.
"Kalo kau masih mau berdiam diri disana aku akan pergi" Sehun sedikit menggertak Baekhyun agar gadis itu lebih cepat bergegas dan pergi dari sini.
Dalam perjalanannya Sehun maupun Baekhyun tak ada yang mau untuk sekedar memulai sebuah dialog diantara keduanya. Sehun hanya melirik menggunakan sudut mata elangnya. Memandang bagaimana seorang Byun Baekhyun yang hanya terdiam menikmati perjalanan mereka melalui kaca mobil. Mengamati apa saja yang ada pada gadis itu, entah apa yang dicari dari sana. Dirinya hanya sekedar memastikan apa yang dibicarakan oleh sang ayah dimana dirinya harus mencari letak keburukan dari seorang Byun Baekhyun yang terlihat begitu tenang duduk di sebelahnya.
"Se-" ucapan Baekhyun berhenti ketika mata elang itu kembali menyerangnya, rasanya dia ingin mendorong paksa pintu mobil tersebut agar terbuka dan dirinya bisa segera meloncat dari posisinya saat ini.
"Apa ?" suara dingin Sehun lebih mendominasi disetiap kata yang terucap ketika gadis cantik bermata puppy tersebut memberikan sebuah pertanyaan. Bukannya apa jujur saja Sehun ingin pergi ketempat dimana kedua orang tuanya tak akan bisa menemukan dirinya dan harus memaksa dirinya tetap bertunangan dengan gadis bernama Byun Baekhyun tersebut.
"Mm, apa kau sudah memiliki seorang kekasih ?" entahlah Baekhyun sendiri tidak terlalu menyadari apa yang barusan iya tanyakan pada Sehun. Dia hanya ingin mengetahui dan berniat menjadikannya sebagai alasan untuk membatalkan rencana acara pertunangannya. Sebenarnya benar terlihat diantara keduanya, Sehun maupun Baekhyun tak pernah menginginkan rencana gila tersebut hanya saja untuk sekedar memberontak pun mereka terlalu menyayangi orang yang sialnya orang tua kandungnya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu ?"jujur saja Sehun sedikit terperangah dengan pertanyaan Baekhyun hanya saja dia tidak mengambilnya dengan begitu pusing. "Tidak aku hanya bertanya, bukankah kau menolak rencana pertunangan ini ?" sebuah kejutan yang didapat Oh Sehun dihari yang masih terbilang pagi ini, bagaimana bisa gadis yang berada disampingnya ini mengetahui bahwa dirinya menolak mentah-mentah rencana yang melibatkan dirinya sendiri.
"Sehun"
"Ya, aku memang sudah memiliki kekasih. Lalu kau mau apa jika aku mengiyakan bahwa aku menolak rencana bodoh itu" sebenarnya Baekhyun merasa lega dengan apa yang dilontarkan Sehun sebagai jawaban dari pertanyaan gilanya tadi. Tapi entah mengapa hatinya sedikit merasakan nyeri bahwa mendengar Sehun telah memiliki seorang tambatan hati. Dan yang jelas itu bukan dirinya. Baekhyun mencoba memberikan sebuah senyuman manis yang dia memiliki, mencoba menghiraukan nyeri dalam ulu hatinya yang entah berasal dari mana. Dalam pikirannya dia ingin pergi tapi hati kecilnya menjerit menginginkan dirinya tetap dalam situasi saat ini. Bertahan dalam rencana gila milik ayahnya.
Baekhyun tersadar dari angannya saat mobil yang dikendarai Sehun berhenti disalah satu butik di daerah Gangnam.
...
Sementara di dalam butik tersebut terdapat tiga dara yang begitu memukau dangan kecantikan dan pesona yang dimiliki oleh masing-masing individunya. Dialah Xiumin sang pemilik butik dengan pipi bakpaonya, di susul Xi Luhan bermata rusa dan yang terakhir si Kyungsoo gadis bermata burung hantu itu. Mereka sengaja berkumpul di butik milik Xiumin yang ia dapatkan dari sang kekasih di hari ulang tahunnya beberapa hari yang lalu.
"Kau benar-benar gila Lu"
HAHAHA~~
"Hey aku hanya meninggalkannya tidak lebih" Luhan mengelak dari segala tuduhan yang diberikan kedua sahabatnya pada dirinya. Ya meskipun itu benar terjadi.Tepatnya dua hari yang lalu Luhan mendapatkan satu klien ranjangnya yang harus ia puaskan. Laki-laki itu masuk dalam kategori Luhan namun disaat moodnya yang berantakan Luhan lebih memilih untuk meninggalkan laki-laki yang sudah menahan libidonya sejak saling memangut bibir bersamanya. Bisa dikatakan bahwa Luhan saat itu mencampakkan laki-laki malang tersebut. Tapi dirinya tak mau ambil pusing dalam hal itu toh dirinya telah mengantongi bayaran untuk malam itu. Jahat ? Memang.
Tring.. Tring !
Suara lonceng yang sengaja digantung Xiumin diatas pintu utama butiknya menandakan bahwa adanya pengunjung yang menyempatkan diri untuk berkunjung pada butik kecilnya yang terkesan sederhana namun elegan tersebut. Sekedar untuk melihat lihat ataupun membeli gaun-gaun rancangannya Xiumin tidak terlalu peduli. Dan dari itu perhatian dari ketiga gadis yang sempat mengadu canda tawanya harus terhenti atas kedatangan pengunjung tersebut. Adalah Xiumin yang pertama kali menyambut mereka anggap saja sebagai penunjukkan manners yang baik pada pelanggan barunya.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya ada yang bisa saya bantu ?" Xiumin menundukkan badannya seranya menampilkan sebuah senyum selamat datang kepada dua pelanggannya yang tak lain seorang Oh Sehun dan Byun Baekhyun. Sejujurnya Xiumin ingin menarik paksa Sehun dari gadis yang ada di sampingnya dan menanyakan banyak hal yang begitu mengganjal terutama kedatangannya dengan gadis yang ia tak tau identitasnya tersebut.
"Ehhem" Luhan berdehem untuk mengurai keterkejutannya sendiri sebenarnya disini dia lah yang terlalu terkejut dengan ini semua.
"Iya Lu ?" Kyugsoo menanggapinya dengan cepat dan mendapatkan mata berkaca dari seorang Xi Luhan.
"Kau masih ingin disini atau pulang ?" Luhan tak ingin tetap berada disini untuk saat ini. Ini terlalu cepat bagi dirinya. Matanya tak mau beranjak dari pemandangan yang disungguhkan padanya saat ini.
"Kenapa bertanya seperti itu ? Kau sakit ?" Kyungsoo mengecek dahi Luhan yang berasa hanyalah suhu yang normal-normal saja dan dia rasa bahwa Luhan baik-baik saja.
"Kalo begitu aku kedalam saja, kau bantu Minnie" barulah Luhan melenggang pergi dari tempatnya berada. Dan jelas ia mendapat sebuah tatapan yang tak asing dari seseorang yang berdiri tak jauh tempatnya tadi.
Seorang Sehun yang mendapatkan apa yang dia cari satu minggu ini. Gadis yang ia selamatkan malam itu yang malah berakhir pada malam panas mereka. Dan saat mata mereka bertemu, mata elang Sehun mendapatkan hal yang sama dengan apa yang ia dapatkan kala itu bahkan Sehun rasa kali ini jauh lebih sendu. Seperti tatapan terluka pada seseorang, satu yang dapat Sehun tangkap dari tatapan gadis mata rusa itu. Mata sendu itu terus mengarah pada sosok gadis yang sedari tadi ada disampingnya. Byun Baekhyun.
Ruangan itu hanya berukuran dua kali tiga meter, terlihat kecil bahkan terlalu kecil untuk sekedar dikatakan ruang pribadi. Tapi disinilah Luhan dengan segala dukanya berada ruangan mini yang disediakan Xiumin dalam butiknya. Setidaknya tempat ini dapat ia jadikan tempat mengadu pada udara ruang hampa ini. Hampa ? ya jelas saja terasa hampa bagaimana tidak selama kurun waktu satu minggu ini seakan semua kenangan buruknya muncul ke permukaan tanpa ia inginkan setelah lebih dari lima tahun ditelan oleh kejamnya dunia.
Flashback
Matahari negeri yang terkenal dengan gingsengnya itu terus saja menyengat kulit manusia-manusia yang tak ingin menghalau panasnya. Sudah tiga tahun lamanya Luhan sang gadis rusa itu menampaki langkahnya berada di negeri orang. Hari terakhirnya harus menggunakan seragam Senior High School berjaskan almamater.
Namun dihari yang sama dirinya harus dikejutkan dengan kabar dari sang ibu yang mengetahui dengan pasti kabar dari suami yang telah meninggalkan dirinya yang tak lain Byun Hyemin. Ayah Luhan.
Yang nyatanya berpijak dan menghirup udara pada negara dan kota yang sama dengan dirinya Korea Selatan-Seoul.Satu yang mampu membuat Luhan terkejut dari segala kabar yang diberikan oleh ibunya. Wanita itu Kim Taeyeon, wanita yang hadir ditengah kebahagian keluarga kecilnya tersebut telah merenggang nyawa setelah proses melahirkan buah hasil dari ayahnya.
Jika saat itu Luhan boleh menempatkan sebuah pilihan, maka dirinya akan memohon pada sang ibu agar mau berbagi kasih sayang dengan wanita itu. Memiliki dua ibu di dunia bukanlah hal yang menyeramkan bukan ? dan yang jauh lebih menyenangkan jika saat itu dia memiliki adik bayi dari ibu keduanya.
Namun takdirlah yang berkata saat keputusan sang ibu lah yang menjawab semuanya.Tepat setelah upacara kelulusannya Luhan memutuskan untuk mengunjungi makam wanita yang telah berhasil merebut hati ayahnya tersebut.
Luhan tak berniat untuk sekedar mendekat pada gundukan tanah yang ia yakini sebagi tempat peristirahatan terakhir wanita bernama Kim Taeyeon tersebut. Dirinya hanya mampu terpaku pada bumi saat dengan jelas matanya menangkap dua punggung bergetar disana. Tepat di sebelah makam itu.
Seorang laki-laki dengan usia yang telah memasuki setengah abad yang ia yakini bahwa dialah Byun Hyemin dengan gadis yang usianya mungkin tak jauh terpaut dengan dirinya.Mata Luhan lurus menatap punggung itu dengan binar terluka.
Iaterluka
Ia tersakiti
Ia juga ingin dipeluk oleh orang yang sama
Ia juga ingin merasakan bagaimana rasanya disayangi oleh orang yang sama
"Appa" Satu kata itu lolos dari bibir tipisnya yang bergetar akibat tangis yang tak lagi mampu ia bendung. Waktu enam belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Luhan bahkan lupa bagaimana rasanya dipeluk oleh laki-laki itu. Dan pada hari ini, saat ini dirinya harus dipertemukan meskipun dalam bentuk hanya dirinya yang tahu dia harus kembali mengingat rasa sakitnya.
Sepasang mata puppy, hidung bangir mungil dan juga pipi gembil dengan semburat merah akibat tangis.
Byun Baekhyun
Luhan mengingatnya dengan begitu baik nama yang tertera pada name tag gadis itu yang memang masih menggunakan seragam sekolahnya saat kedua orang itu beranjak pergi dari sana.
"Apa kabar anda nyonya Byun ?" suara itu tidak jauh lebih rendah dari sekedar sebuah bisikan. Lidahnya terasa kelu untuk sekedar mengucapkan sebuah kata. Menyapa sosok wanita yang kini sudah menyatu dengan tanah.
"Aku Xi Luhan, apa kau mengingat ? jika kau berfikir aku anak pertama dari Byun Hyemin dengan wanita China Xiao Zemin maka itu benar" Luhan menyelipkan setiap senyumnya pada setiap kata yang ia ucapkan.
"Aku sedikitpun tak pernah membecimu sampai saat ini, andai saja dulu Appa tidak beranjak pergi dari sana mungkin saat ini aku sudah menjadi seorang kaka dari gadis yang baru saja mengunjungimu"
"Aku menyayangimu layaknya aku menyayangi eomma. Kau tak perlu merasa bersalah terhadapku ataupun eomma. Aku memaafkanmu eommanim, bolehkah aku memanggilmu juga dengan sebutan eomma ? Adik bayi yang dulu kau kandung benar-benar tumbuh menjadi gadis yang begitu cantik sepertimu kala itu. Byun Baekhyun ? Bolehkah aku menjaga dirinya layaknya seorang kakak yang menjaga adiknya ? Dan bohong jika dia bukan adikku meskipun kita lahir dari dari rahim wanita cantik yang berbeda" Luhan bermonolog dengan sendiri mengabaikan gelapnya langit saat ini. Dia hanya ingin mengutarakan segala apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
"Aku pulang lebih dulu eomma, aku janji akan sering berkunjung ke sini eommanim" bagaikan sebuah kalimat penutup hari itu. Luhan pergi bersama dengan sebuah janji pada Tuhan dan juga wanita yang secara tidak langsung sebenarnya merusak kebahagiaannya namun dia tidak sampai hati untuk sekedar membenci wanita itu karena pada kenyataannya dia menyayangi semua orang telah hadir pada kehidupannya.
Flashback end
Dan setiap apa yang ditemukan oleh matanya hingga setiap kata yang ia ucapkan kala itu masih begitu segar dalam ingatannya meskipun waktu sudah berjalan terlampau jauh.
Gadis itu ? Janjinya ?
Gadis itu yang dulu ia janjikan pada Tuhan dan juga Kim Taeyeon yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri berada di depan matanya untuk beberapa menit yang lalu. Tapi entah mengapa Luhan merasakan sebuah kesedihan,keraguan hingga rasa sakit yang tiba-tiba menyerang dalam dirinya. Hingga ia hanya mampu kembali pada alam sadarnya yang menyisakan dirinya pada sebuah bilik ruangan itu.
"Lu"
"Luhan !"
"Huh ?" Luhan merutuki dirinya sendiri yang tak menghiraukan panggilan gadis bermata bulat itu pada dirinya.
Jujur saja Luhan tak mau terlihat begitu menyedihkan dihadapan para sahabatnya hanya saja dirinya terlalu bodoh untuk menutupi segala rasa pedih yang sudah mendarah daging pada dirinya. Dan dengan cepat ia menggunakan punggung tangannya untuk sekedar menghapus lelehan air mata yang menurutnya begitu sialan ini.
"Kau sudah selesai dengan Minseok ?" mungkin Luhan bisa saja menipu Kyungsoo dengan menghapus secara paksa setiap bekas air matanya namun tidak dengan suara seraknya.
"Minseok masih mengobrol bersama Sehun dan temannya" Kyungsoo mendudukkan dirinya tepat disebelah Luhan yang berada pada sofa dengan warna merah mencolok tersebut.
"Apa yang membuatmu menangis hm ?" Kyungsoo bertanya dengan penuh kehati-hatian disetiap katanya ia tahu bahwa Luhan takkan dengan mudah membagi segala rasa sedihnya meskipun pertemanan mereka terbilang cukup lama. Luhan hanya mampu berdiam dengan seribu bahasa yang tersimpan begitu rapi, hanya saja Luhan berniat untuk menyimpannya seorang diri.
"Tidak ada Kyung, aku hanya lelah" bohong jika Luhan dirinya lelah. Padahal jika dilihat kondisinya sangatlah begitu baik.
"Baik kalau begitu, ayo kita pulang" senyuman merekah dari keduanya menjadi penutup bagi hari yang begiu melelahkan batin Luhan dan akan menjadi awalah bagi kehidupan yang akan berlanjut untuk kedepannya.
...
Jika pagi selalu bertemakan dengan sinar sang penerang bumi yang selalu menampilkan diri dari ufuk timur beriringan dengan sebuah nyanyian kicau burung maka itu tidak akan berlaku pada hari ini. Matahari mungkin terlalu malas untuk sekedar menampakkan sinarnya hingga yang tersisa hanya gelapnya awan yang jauh lebih pekat dari biasanya. Tetesan air langit sudah turun semalam hingga saat ini belum ada tanda-tanda mereka akan mereda hingga membuat setiap orang malas untuk sekedar menyikap nyamannya selimut yang membungkus tubuh mereka.
Namun lihatlah gadis dengan mata rusa indah itu ketika semua orang lebih memilih memejamkan mata kembali dirinya malah berkutat dengan alat-alat dapur yang sejujurnya tidak terlalu ia mengerti.
Entah ini benar atau salah Luhan sendiri tidak terlalu mengerti bagaimana cara kerja otaknya belakangan ini. Bukankah dirinya hanya tinggal melakukannya ? bukan memikirkan hal apa yang terjadi nanti. Dengan segera Luhan menyelesaikan acara paginya lalu bergegas untuk membersihkan diri.
Masih dengan celana pendek dan juga kaos berwarna putih yang terlihat casual melekat pada tubuhnya Luhan merias diri dengan make up setipis mungkin. Anggap saja sebagai syarat seorang wanita. Namun ditengah acaranya benda persegi dengan ketebalan hanya beberapa inci itu bergetar menampilkan contac name Xiumin.
"Halo"
"Lu aku sudah dibawah cepatlah keluar"
"Baiklah"
Luhan bukanlah gadis dengan kepercayaan diri yag sempurna meskipun dia seorang wanita panggilan tapi sifat sesungguhnya hanyalah seorang gadis yang masih memiliki rasa yang cukup tinggi. Setelah mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya dengan teratur Luhan meyakinkan dirinya untuk keluar dari flat sederhananya tersebut.
Jalanan Seoul saat ini cukup terlihat sepi yang diakibatkan oleh hujan deras yang tak berhenti sejak semalam, hingga membuat mobil yang ditumpangi dua gadis manis yang hanya sesekali bertukar cerita ini melaju pada kecepatan yang normal. Hingga suatu yang pemandangan itu menyita perhatian sang pengemudi yang tak lain Xiumin memelankan laju kendaraannya hingga berhenti tepat di belakang satu mobil yang terlihat rusak parah seperti terkena lemparan batu ataupun benda keras.
"Ada apa ya Lu ?" Xiumin mengernyit kebingungan dengan keadaan yang ada dihadapan mereka.
"Apa mungkin kita terjebak dalam tawuran ?"
Untuk sekedar mendengar ucapannya Luhan juga diilanda sebuah rasa takut jika apa yang ucapkan barusan benar terjadi padanya dan Xiumin.
"Apa perlu kita keluar ?" Xiumin menawarkan sebuah tawaran yang sebenarnya tidak terlalu baik untuk situasi saat ini. Hujan masihlah cukup lebat untuk sekedar ditembus oleh keduanya terlebih mereka hanyalah seorang perempuan, tapi salahnya jika untuk sekedar memastikan apa yang terjadi. Dan masa bodoh untuk pakaian basah mereka nanti.
Keduanya keluar dari mobil dengan cukup hati-hati, berjalan sepelan mungkin untuk menghindari segala hal apapun yang dapat membahayakan diri mereka sendiri ditambah lagi gangguan jarak pandang mereka yang tidak mendukung akibat jatuhnya air langit. Namun mereka tak ada rasa gentar untuk sekedar berlari kembali memasuki mobil mereka. Keadaan apa yang ada disajikan khusus untuk mereka disana mampu membuat keduanya menjatuhkan rahang mereka hingga menyentuh kerasnya lantai aspal.
Jika lebih diteliti setidaknya ada empat mobil yang ada disana dengan keadaan yang ironis menurut Luhan, ada sekitar sembilan orang yang tergetak tak bernyawa dengan genangan darah yang hampir menyerupai laut merah. Pegangan tangan dari Luhan maupun Xiumin seketika mengerat secara otomatis, mereka bertukar pandangan bukan hanya terkejut rasanya mereka sekarang berada tidak pada bumi yang beberapa menit lalu mereka tempati.
Sekedar meyakinkan diri mereka masing-masing Luhan tetap menggenggam erat tangan Xiumin yang entah sejak kapan mulai terasa basah selain dari basahnya air hujan sepertinya juga akibat keringat ketakutan. Berjalan dengan keyakinan yang sudah berada pada ambang batas sesekali mereka harus melangkahkan kaki agak lebar untuk menghindari genangan darah.
"Aaarrghh"
Suara erangan tersebuat nyaring menyapa gendang telinga Luhan maupun Xiumin yang tengah mati-matian menahan rasa takut. Mata mereka membulat ketika mendengarnya sekali lagi. Hanya ada satu mobil dengan keadaan yang tak bisa dikatakan baik karena hancurnya kaca belakang seperti bekas tembakan tapi mereka harus benar-benar harus memastikan bahwa yang mereka dengar bukanlah berasal dari alam bawah sadar mereka. Satu hal yang membuat mereka meyakini hal itu nyata pintu kemudi itu terbuka dengan lebar dalam artian otak mereka bahwa masihlah ada satu nyawa yang bisa mereka selamatkan dari tragedi gila ini. Satu hal pula yang perlu mereka sukuri bahwa mereka tidak perlu bersusah payah untuk sekedar mendobrak pintu tersebut.
Sedikit berlari Luhan membawa Xiumin mendekati pintu mobil tersebut. Dan betapa terkejutnya Luhan saat apa yang ada di hadapannya bukanlah sebauh khayalan ataupun bayangan. Itu nyata ada di depan matanya saat ini. Xiumin yang sedari tadi hanya mengikuti kemana Luhan menariknya hanya membungkam bibirnya sendiri agar suaranya menghilang dari permukaan bumi.
Kulit putih pucat yang menghiasi indah wajahnya kini penuh dengan memar. Beberapa darah sebagai penghias bagian pelipis seta sudut bibir tipisnya. Namun dari semua keadaan itu mata Luhan seakan tak mau beranjak dari pemandangan yang ada di hadapannya selain pada luka yang berada pada dada bidangnya. Sebuah luka yang mungkin di akibatkan sebuah benda kecil namun dapat melenyapkan nyawa itu mungkin tengah bersarang disana melihat darah segar terus keluar dari lubang yang diakibatkan.
Dan dengan jelas bahwa itu sebauh luka tembak yang entah berasal dari bidik pistol siapa, yang Luhan tahu laki-laki itu, laki-laki yang ada di hadapannya pernah menjadi seorang penolong dalam hidupnya beberapa hari yang lalu. Namun ingatan Luhan tidak buruk untuk sekedar mengetahui ataupun mengingat dengan pasti siapa laki-laki itu.
"Sse-"
"Sehun. Oh Sehun"
.
.
.
.
.
.
.
TOBECONTINUED
.
.
.
.
Yehet update juga ngehehe :v
.
Ngaret ya ? hooh maapkeun diriku *sungkem*
.
.
Maap kan kalo ga puas sama chap ini karena jujur buat dapet feel serem-ngerinya susah banget T_T
.
Btw buat nebus kecewanya kalian di chap ini aku ngadain QnA buat kalian semua apapun pertanyaan kalian insyallah aku jawab
.
Repiuw seiklhasnya pemirsa *pasang puppy eyes*
.
See you next Chap
.
SeLudeer-19/01/2018
